Edisi 35 – “Melakukan firman Tuhan yang diberitakan dalam Khotbah di Bukit” – Seri Renungan Pagi

By Febrian 05 November 2026 04:20 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan sebelumnya telah kita bahas mengenai Peringatan Tentang Nabi Palsu. Hari ini kita akan menerima pesan akhir Tuhan Yesus untuk melakukan seluruh firman-Nya dalam seluruh rangkaian Khotbah di Bukit. Semoga kita bisa mendapat hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.


Pesan Akhir dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit

“Mendengar dan melakukan firman Tuhan”

Matius 7:24-29

24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

28 Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, 29 sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Lukas 6:46-49

Dua macam dasar

46 “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? 47 Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya, akan kunyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan: 48 ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. 49 Tetapi siapa saja yang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”


I. Pengantar

Masih dalam rangkaian Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang membangun rumah dengan dasar yang berbeda. Orang pertama membangun rumah di atas batu, sedangkan orang kedua membangun rumah di atas pasir. Ketika hujan turun, banjir datang, dan angin melanda, rumah pertama tetap berdiri, sedangkan rumah kedua roboh.

Perumpamaan ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian Khotbah di Bukit yang tercatat dalam Matius 5 sampai 7. Sebuah penelitian akademik yang diterbitkan dalam jurnal Verbum et Ecclesia pada tahun 2023 juga menjelaskan bahwa Matius 7:24-27 merupakan bagian penutup khotbah tersebut. Penelitian itu menyoroti penekanan Tuhan Yesus pada tindakan melakukan ajaran-Nya, bukan hanya mendengarkannya. (Sumber penelitian).

Apabila kita memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, ada hubungan yang sangat erat antara pengajaran Tuhan Yesus mengenai orang yang melakukan kehendak Bapa (Matius 7:21-23) dengan perumpamaan dua macam dasar ini. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pengakuan iman, perkataan rohani, bahkan berbagai kegiatan pelayanan harus disertai ketaatan untuk melakukan kehendak Allah.

Sekarang Tuhan Yesus menggunakan gambaran sebuah rumah untuk menjelaskan akibat dari dua sikap manusia terhadap firman-Nya. Keduanya mendengar perkataan Tuhan Yesus, tetapi hanya satu yang melakukannya. Perbedaan inilah yang menentukan kekuatan dasar kehidupan mereka.


II. Ringkasan Khotbah di Bukit

Dalam Khotbah di Bukit (Matius 5–7), Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya manusia hidup di hadapan Allah sebagai warga Kerajaan Surga. Pengajaran-Nya mencakup sikap hati, hubungan dengan sesama, kehidupan ibadah, penggunaan harta, cara menghadapi kekhawatiran, serta ketaatan melakukan kehendak Allah.

Berikut ini rangkuman pokok-pokok pengajaran dalam seluruh Khotbah di Bukit, disusun menurut urutan penyampaiannya dalam Injil Matius. Dimulai dari Ucapan Bahagia hingga Penutup (Edisi ini):

  1. Ucapan Bahagia (Beatitudes) – Tuhan Yesus menyebut berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, membawa damai, serta dianiaya karena kebenaran. Arahnya bahwa setiap orang harus melakukan pemberitaan Injil dengan kerelaan hati. (Matius 5:3-12; Lukas 6:20-23).
  2. Menjadi garam dunia dan terang dunia – Tuhan Yesus mengajar para pengikut-Nya agar melakukan firman Tuhan dengan memberi pengaruh yang baik bagi dunia, bagaikan garam dan terang dunia. Perbuatan baik mereka harus dapat dilihat orang sehingga orang memuliakan Bapa di surga. (Matius 5:13-16; Markus 9:50, Lukas 8:16, Lukas 14:34-35).
  3. Memahami hukum Taurat dan melakukannya dengan benar – Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi. Ia mengajarkan bahwa kebenaran hidup para pengikut-Nya harus melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. (Matius 5:17-20; Lukas 16:17).
  4. Mengendalikan kemarahan dan berdamai dengan sesama – Tuhan Yesus mengajar kita untuk melakukan kehendak Allah yaitu agar kita tidak memelihara kemarahan dan tidak menghina orang lain. Ia juga mengajarkan agar kita segera berdamai dengan saudara yang memiliki perselisihan dengan kita. (Matius 5:21-26; Lukas 12:58-59).
  5. Allah membenci percabulan, perzinaan dan perceraian – Tuhan Yesus memperingatkan agar manusia tidak melakukan percabulan dan melakukan perzinaan karena hawa nafsu yang menguasai pikirannya. Tuhan melarang siapapun melakukan perceraian dan menjaga kekudusan pernikahan. (Matius 5:27-32).
  6. Dilarang bersumpah  – Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak menggunakan sumpah untuk meyakinkan orang lain. Perkataan kita harus dapat dipercaya, sehingga ya berarti ya dan tidak berarti tidak. (Matius 5:33-37).
  7. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan – Tuhan Yesus mengajar kita untuk melakukan kehendak Allah dengan tidak membalas perlakuan orang yang jahat. Ia memberikan contoh untuk melakukan tindakan yang benar terhadap orang yang menampar, menuntut, atau orang yang memaksa kita melakukan sesuatu. (Matius 5:38-42; Lukas 6:29-30).
  8. Pengajaran Tentang Memberi Sedekah – Dalam memberi sedekah, kita tidak boleh melakukannya untuk memperoleh pujian atau penghormatan dari orang lain. Tuhan menghendaki ketulusan hati dalam setiap perbuatan baik. (Matius 6:1-4).
  9. Doa Bapa Kami – Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak berdoa untuk dipuji orang dan tidak melakukan pengulangan perkataan seperti orang yang tidak mengenal Allah. Tuhan Yesus sendiri memberikan ajaran Doa Bapa Kami sebagai doa yang sempurna. (Matius 6:5-15; bagian paralel: Lukas 11:1-4).
  10. Berpuasa yang benar – Ketika melakukan kegiatan berpuasa, kita tidak boleh menunjukkan kesedihan atau mengubah penampilan agar orang lain mengetahui bahwa kita sedang melakukan puasa. Orang yang melakukan puasa harus memiliki sikap hati yang senantiasa tertuju kepada Allah. (Matius 6:16-18).
  11. Mengumpulkan harta di surga – Tuhan Yesus mengingatkan agar kita tidak menjadikan harta dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Ia mengajarkan bahwa di mana harta kita berada, di situ juga hati kita berada. (Matius 6:19-24; Lukas 11:34-36; Lukas 16:13).
  12. Mengutamakan Kerajaan Allah dan tidak dikuasai kekhawatiran – Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak mencemaskan makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan hidup lainnya. Kita harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, sebab Bapa di surga mengetahui apa yang kita perlukan. (Matius 6:25-34; bagian paralel: Lukas 12:22-31).
  13. Tidak menghakimi orang lain dengan sikap munafik – Tuhan Yesus memperingatkan agar kita tidak melakukan penghakiman terhadap orang lain. Sebelum memperhatikan kesalahan orang lain, kita harus terlebih dahulu melakukan self-checking kesalahan diri sendiri. (Matius 7:1-5; Lukas 6:37-42).
  14. Menjaga Hal-hal yang kudus dan Berharga –  Tuhan Yesus mengingatkan agar kita tidak melakukan kebodohan dengan memberikan apa yang kudus kepada anjing atau melemparkan mutiara kepada babi. Pengajaran ini mengingatkan kita untuk mempertimbangkan sikap dan kesiapan orang yang menerima sesuatu yang kudus. (Matius 7:6).
  15. Pengabulan Doa – Tuhan Yesus mengajarkan agar kita terus meminta, mencari, dan mengetuk. Ia menjelaskan bahwa Bapa di surga memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Matius 7:7-11; Lukas 11:9-13).
  16. Berbuat baik bagi orang lain – Tuhan Yesus mengajarkan agar kita melakukan kepada orang lain segala sesuatu yang kita harapkan mereka lakukan kepada kita. Jalan yang lebar dan jalan yang sempit, mana yang kita pilih? Lebar menuju neraka, sempit menuju hidup kekal. (Matius 7:12-14; Lukas 6:23-45).
  17. Penutup – Menjadi pelaku firman Tuhan – Tuhan Yesus mengumpamakan orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya seperti orang bijaksana yang membangun rumah di atas batu. Sebaliknya, orang yang mendengar tetapi tidak melakukannya seperti orang yang membangun rumah di atas pasir. (Matius 7:24-29; Lukas 6:47-49).

Seluruh pengajaran tersebut merupakan bagian dari firman Tuhan Yesus yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang bijaksana tidak berhenti pada pemahaman atau hafalan ayat-ayat Alkitab. Ia berusaha melakukan apa yang telah diajarkan Tuhan Yesus.

Perlu diperhatikan bahwa rangkaian Khotbah di Bukit dicatat secara lengkap dalam Matius 5–7. Injil Lukas mencatat sejumlah pengajaran yang sejajar dalam Lukas 6:20-49, yang dikenal sebagai Khotbah di Dataran. Beberapa pengajaran lainnya juga dicatat dalam bagian Injil Lukas yang berbeda. Ayat-ayat paralel tersebut membantu kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan prinsip-prinsip yang sama dalam berbagai kesempatan. Tidak semua bagian yang memiliki kesamaan isi harus dianggap disampaikan pada kesempatan yang sama.

Semua pengajaran tersebut merupakan bagian dari firman Tuhan Yesus yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang bijaksana tidak berhenti pada pemahaman atau hafalan ayat-ayat Alkitab. Ia berusaha menjalankan apa yang telah diajarkan Tuhan Yesus.


III. Penutup – Pesan Akhir Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit

1. Orang Bijaksana yang Membangun Rumah di Atas Batu

Tuhan Yesus memulai perumpamaan-Nya dengan menggambarkan seorang yang bijaksana. Orang ini mendengar perkataan Tuhan Yesus dan melakukannya. Ia kemudian diumpamakan seperti seseorang yang mendirikan rumah di atas batu (pondasi). Kebetulan saya sendiri pernah menempuh pendidikan di bidang teknik sipil struktur bangunan, jadi saya coba jelaskan betapa pentingnya pondasi bagi suatu bangunan. Dalam dunia konstruksi, pembangunan sebuah gedung tidak dimulai dengan mendirikan tiang, memasang balok, atau membangun dinding. Jauh sebelum pekerjaan struktur dimulai, para insinyur harus melakukan serangkaian perencanaan dan pemeriksaan terhadap kondisi tanah tempat bangunan itu akan didirikan.

Lukas 6:48

ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.

Sungguh benar yang difirmankan Tuhan Yesus, tahap awal pembangunan sebuah bangunan, adalah Pembuatan Pondasi. Dalam rangka membuat pondasi itu, dilakukan aktivitas penyelidikan tanah (soil investigation) terlebi dahulu. Melalui pengeboran tanah dan pengujian laboratorium, para ahli berusaha mengetahui jenis tanah, kepadatan, kedalaman lapisan tanah keras, daya dukung tanah, serta kemungkinan terjadinya penurunan tanah (settlement). Informasi ini sangat penting karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda dalam menopang beban bangunan. 

Berdasarkan hasil penyelidikan tersebut, insinyur sipil kemudian merancang jenis dan dimensi pondasi yang sesuai. Apakah cukup menggunakan pondasi dangkal seperti pondasi telapak (footing), atau harus menggunakan pondasi dalam seperti tiang pancang (pile foundation) yang menyalurkan beban bangunan ke lapisan tanah yang lebih kuat. Intinya beban bangunan harus dapat disalurkan dan ditahan oleh batu atau lapisan tanah keras di bawahnya. Ini sangat penting, sehingga seluruh proses ini membutuhkan perhitungan yang sangat cermat. Kesalahan dalam menentukan jenis pondasi dapat berakibat serius. Bangunan mungkin terlihat megah, menggunakan beton berkualitas tinggi, baja yang kuat, serta memiliki arsitektur yang indah. Namun, apabila pondasinya tidak mampu menopang beban bangunan, retakan dapat muncul, struktur mengalami penurunan, bahkan bangunan dapat mengalami keruntuhan.

Pondasi sebagai dasar bangunan
Pondasi sebagai dasar bangunan

Dalam kondisi idealnya, jika kondisi tanah telah diperiksa dengan baik dan pondasi telah dirancang secara tepat sesuai aturan yang berlaku, maka struktur bangunan di atasnya mempunyai dasar yang kuat untuk berdiri dan bertahan menghadapi berbagai kondisi alam.

Perhatikan bahwa Tuhan Yesus menyebut dua tindakan yang saling berkaitan, yaitu mendengar dan melakukan firman-Nya. Mendengar berarti menerima pengajaran-Nya, sedangkan melakukan berarti menerapkan pengajaran tersebut dalam kehidupan nyata. Sesuai firman Tuhan, rumah yang dibangun di atas batu menggambarkan kehidupan seseorang yang memiliki dasar ketaatan terhadap perkataan-Nya. Ia membangun kehidupannya melalui keputusan, perkataan, dan perbuatan yang sesuai dengan ajaran-Nya. Tubuh kita adalah Bait Allah, jika didirikan di atas pondasi iman yang kuat, maka pasti akan tahan menghadapi segala bahaya yang mungkin akan datang.

Menariknya, dalam catatan paralel di Lukas 6:46-49, terdapat keterangan tambahan bahwa orang bijaksana itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasar rumahnya di atas batu. Orang bijaksana itu melakukan firman Tuhan dalam kesungguhan dan penuh ketekunan. Setiap saat mengalahkan ego dan kemarahan, menolak hawa nafsu jahat, meninggalkan kebiasaan berdosa, mengampuni orang yang menyakiti, serta rajin melayani Tuhan dengan penuh sukacita. Itulah sebagian dari wujud nyata orang bijaksana yang meletakkan pondasi Bait Allah-nya di atas tanah keras. Di saat badai persoalan, masalah, penyakit, fitnah, kejahatan, persekusi dsb, menimpa, maka kita tidak akan goyah, karena pondasi kita berdiri di atas dasar yang kokoh yaitu iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

2. Orang Bodoh yang Membangun Rumah di Atas Pasir

Rumah di atas pasir
House of sands – Emma McEvoy

Sekarang kita perhatikan ilustrasi orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir. Seperti kita ketahui, bahwa pasir adalah butiran yang tidak saling mengikat satu sama lainnya. Artinya jika terkena goncangan, terendam air, tertiup angin, pasir itu pasti akan berubah susunan atau posisi. Bayangkan jika pondasi diletakkan di atas timbunan pasir. Mau dipadatkan seperti apapun, sifat pasir tetap tidak mengikat, jadi pasti akan runtuh. 

Sebetulnya orang bodoh ini, juga mendengar firman dari Tuhan Yesus, tetapi tidak melakukannya. “Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan”, begitu dikatakan orang, tentang orang yang model begini. Firman Tuhan yang mungkin sudah didengarnya pada waktu kebaktian, atau saat teduh pribadi sesaat didengarnya lalu sebentar juga lupa lagi. Kenapa bisa begitu? Karena orang tersebut tidak menyadari firman itu adalah Roh Yang Berkuasa. Allah sendiri bekerja seiring firman itu diberitakan. Itu bukan perkataan manusia, melainkan firman dari TUHAN, Allah Semesta Alam Pencipta Langit dan Bumi.

Di sinilah letak permasalahnya, seseorang bisa rajin mendengarkan khotbah, membaca Alkitab, mengikuti berbagai kegiatan gereja, bahkan memahami banyak ayat Alkitab, tetapi kehidupannya tetap tidak menunjukkan ketaatan terhadap ajaran Tuhan Yesus. Contohnya, seseorang mengetahui bahwa Tuhan Yesus mengajarkan pengampunan, tetapi ia terus menyimpan kebencian terhadap orang lain. Ia mengetahui bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kejujuran, tetapi dalam pekerjaannya ia masih melakukan penipuan. Ia mengetahui bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kasih, tetapi ia tetap memperlakukan orang lain dengan kasar dan tidak adil.

Hal-hal seperti itulah yang perlu kita hindari dalam keseharian, yaitu jangan sampai kita merasa sudah menjadi orang Kristen yang baik karena sudah rajin beribadah dan memahami banyak pengajaran Alkitab, sementara tidak sadar perilaku sehari-hari kita masih jauh dari kehendak Tuhan.

Dalam Matius 7:21-23, Tuhan Yesus memperingatkan bahwa akan banyak orang yang berteriak, “Tuhan, Tuhan!”, bahkan sudah melayani Tuhan dengan tanda-tanda ajaib, namun menurut Tuhan Yesus, Ia tidak mengenal mereka. Seperti sudah saya share dalam renungan edisi sebelumnya, yaitu bahaya nabi palsu yang menyesatkan, demikianlah orang-orang yang dimaksud Tuhan Yesus itu.

Itulah gambaran rumah yang dibangun di atas pasir. Dari luar, sebuah rumah mungkin tampak bagus dan kokoh. Namun, ketika dasar bangunannya tidak kuat, rumah itu tidak mampu bertahan menghadapi badai.

3. Badai Menguji Kekuatan Dasar Rumah

Badai
Badai mengancam

Bangunan gedung yang didirikan pada keadaan dan cuaca yang baik dan normal, bisa dipastikan tidak terlihat ada masalah. Namun, Tuhan Yesus kemudian menggambarkan datangnya tiga peristiwa alam, yaitu hujan, banjir, dan angin. Ketiga hal tersebut melanda kedua rumah yang dibangun oleh dua orang tadi. 

Perhatikan bahwa kemudian rumah yang dibangun di atas batu dan pasir keduanya mengalami hujan, banjir, dan angin, yang dalam kehidupan nyata ini bisa berupa masalah keluarga, kesulitan ekonomi, penyakit, kehilangan orang yang dikasihi, penganiayaan, dan berbagai persoalan lainnya. Jadi, ketaatan seseorang kepada Tuhan tidak mutlak menjadikan orang itu bebas dari semua hal tersebut. Namun, orang bijaksana yang mendirikan rumahnya dengan pondasi di atas tanah keras – yaitu rajin dan tekun melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh – pasti akan memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai badai dalam kehidupannya.

 

4. Ilustrasi benih yang ditabur

Benih yang ditaburDalam perumpamaan tentang seorang penabur (Matius 13:1–23), Tuhan Yesus menggambarkan seorang penabur yang keluar untuk menaburkan benih. Ketika benih-benih itu jatuh ke berbagai tempat, hasilnya berbeda-beda. Sebagian jatuh di pinggir jalan sehingga dimakan burung. Sebagian jatuh di tanah berbatu yang tidak memiliki cukup tanah untuk menumbuhkan akar. Benih itu segera tumbuh, tetapi kemudian layu karena tidak berakar kuat. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri. Benih itu tumbuh, tetapi terhimpit oleh semak sehingga tidak menghasilkan buah. Namun, sebagian benih jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang tiga puluh kali lipat.

Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa benih yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda bergantung pada tanah tempat benih itu ditaburkan. Benih yang jatuh di tanah yang baik dapat tumbuh dan menghasilkan buah yang berlimpah, sedangkan benih yang jatuh di tempat lain tidak mencapai tujuan yang diharapkan. Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana manusia menerima firman Allah. Setiap orang memiliki kesempatan untuk mendengar firman yang sama, tetapi tidak semuanya memberikan respons yang sama terhadap firman tersebut.

Benih yang jatuh di tanah yang baik menggambarkan orang yang mendengar firman Tuhan, memahaminya, dan menerimanya dengan hati yang sungguh-sungguh. Firman itu tidak berhenti sebagai pengetahuan atau sekadar sesuatu yang menyenangkan untuk didengar, tetapi bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupannya. Ia tetap berpegang pada firman Tuhan, sekalipun menghadapi kesulitan, godaan, dan berbagai tantangan hidup. Buah yang dihasilkan terlihat melalui perubahan sikap, perkataan, dan perbuatannya yang semakin sesuai dengan kehendak Allah. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang dalam menerima firman bukanlah seberapa banyak ia mendengarnya, melainkan seberapa nyata firman itu menghasilkan buah dalam kehidupannya.

5. Sangkal diri, pikul salib dan ikut Tuhan Yesus

Tuhan Yesus Kristus mati di kayu salib
Pikul salib

Dalam Matius 16:24–26, Tuhan Yesus menyampaikan kepada murid-murid-Nya bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Dia. Menyangkal diri berarti tidak lagi menjadikan keinginan, ambisi, kepentingan, dan kehendak pribadi sebagai pusat kehidupan. Memikul salib berarti bersedia menanggung konsekuensi dan penderitaan yang mungkin timbul karena memilih untuk taat kepada Tuhan, sekalipun pilihan itu tidak mudah dan harus dibayar dengan pengorbanan. Sementara itu, mengikut Tuhan Yesus berarti menjadikan Dia sebagai pemimpin dan teladan dalam seluruh aspek kehidupan, serta bersedia mengikuti kehendak-Nya.

Perkataan Tuhan Yesus ini mengajarkan bahwa menjadi pengikut-Nya bukan sekadar mengaku percaya, rajin beribadah, atau menikmati berkat-berkat-Nya. Mengikut Tuhan Yesus menuntut penyerahan diri dan kesediaan untuk menempatkan kehendak Allah di atas kepentingan pribadi. Ada kalanya kita harus melepaskan sesuatu yang kita sukai, mengorbankan kenyamanan, bahkan menghadapi penolakan karena mempertahankan kebenaran firman Tuhan. Tuhan Yesus juga mengingatkan bahwa manusia dapat memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya. Karena itu, keberhasilan hidup yang sesungguhnya bukan diukur dari banyaknya harta, kedudukan, atau kesenangan yang berhasil kita peroleh, melainkan dari kesetiaan kita mengikut Tuhan Yesus sampai akhir.


III. Renungan

  1. Tuhan Yesus menggambarkan dua orang yang sama-sama mendengar perkataan-Nya, tetapi hanya satu yang melakukannya. Selama ini, apakah kita sudah menerapkan firman Tuhan yang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari?
  2. Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus mengajarkan tentang pengampunan, kejujuran, kasih kepada musuh, dan ketulusan hati. Dari semua pengajaran tersebut, bagian manakah yang paling sulit kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari?
  3. Apakah selama ini kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan khotbah dan mempelajari Alkitab, tetapi masih kurang berusaha menerapkan ajarannya dalam keluarga, pekerjaan, dan hubungan dengan sesama?
  4. Ketika menghadapi masalah berat, apakah kita tetap berpegang pada firman Tuhan atau justru mengambil keputusan yang bertentangan dengan ajaran-Nya karena mengikuti keinginan dan kepentingan pribadi?
  5. Apabila kehidupan kita diibaratkan sebuah rumah, apakah kita sudah membangunnya di atas batu melalui ketaatan kepada perkataan Tuhan Yesus, atau masih membangunnya di atas pasir dengan hanya menjadi pendengar firman?

IV. Doa

Tuhan Yesus, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajarkan pentingnya membangun kehidupan di atas dasar yang kuat. Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih banyak mendengar firman-Mu daripada melakukannya. Tolonglah kami melalui Roh Kudus agar memiliki hati yang taat, mampu menjalankan setiap ajaran-Mu, dan tetap setia kepada-Mu ketika menghadapi berbagai kesulitan kehidupan. Bimbinglah kami agar kehidupan kami senantiasa berkenan di hadapan Allah Bapa. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman
dan bukan hanya pendengar saja;
sebab jika tidak demikian
kamu menipu diri sendiri.

Yakobus 1:22 (TB)

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *