Edisi 19 – Kunci Sukses Berhasil Menjadi Garam dan Terang Dunia (The Key to Successfully Becoming the Salt and Light of the World) – Seri Renungan Pagi

By Febrian 01 Oktober 2026 04:25 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Edisi Sebelumnya, telah kita bahasa mengenai bagaimana Allah mengajar kita cara-cara untuk mengalahkan hasrat dosa yang ingin menguasai kita. Dalam kesempatan hari ini, kita bersama akan merenungkan firman Tuhan mengenai kunci sukses berhasil menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
I. Pengantar
Dalam Khotbah Ucapan Bahagia Tuhan Yesus di bukit (Matius 5:10-12 dan Lukas 6:20-26), para murid diajar memahami kiat-kiat menderita di dalam Tuhan. Namun, Tuhan Yesus juga memberitahu mereka sadar tetap harus berbahagia, karena sekalipun mereka menderita, tersedia upah besar di Surga bagi mereka yang berhasil menyelesaikan seluruh tugasnya di dunia ini.
Setelah itu semua selesai disampaikan-Nya, Tuhan Yesus melanjutkan, bahwa mereka semua adalah garam dunia yang tidak boleh tawar, sekaligus juga adalah terang dunia yang bercahaya di depan semua orang, supaya setiap orang melihat perbuatan mereka yang baik dan memuliakan Bapa di Surga.
Matius 5:13-16 [TB2-LAI©2023]
13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin disembunyikan. 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga memberi terang kepada semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”
Saya rasa sebagian besar dari kita, sudah sering sekali mendengar dan dan merenungkan Matius 5:13-16 di atas. Namun, dalam kesempatan ini, saya membantu sebagian dari kita yang mungkin belum memahami latar belakang sejarah, yang terkait Garam dan Terang, berdasarkan firman Tuhan dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta referensi lainnya.
II. Kamu adalah garam dunia
a. Latar Belakang
Para ahli teologi kuno dan modern sepakat bahwa pemakaian istilah “garam” (מֶלַח = melakh dalam Ibrani, ἅλας = hals dalam Yunani) di dalam Alkitab, memiliki makna teologis yang sangat kaya dan beragam. Di dunia Timur Tengah Kuno (Ancient Near East), garam bukan sekadar bumbu dapur, melainkan adalah suatu instrumen hukum, instrumen kultus keagamaan, serta juga adalah simbol diplomatik. [1, 2, 3]
Berikut adalah klasifikasi penggunaan garam di dalam Alkitab berdasarkan pandangan dan analisis para ahli teologi:
1. Simbol Persekutuan Meja dan Kesetiaan Mutlak (Table Fellowship)
Para ahli teologi seperti Aristoteles (dalam tinjauan sejarah budaya) dan para pakar bahasa Semit menjelaskan bahwa di Mesopotamia kuno terdapat ungkapan tabat X lehemum 1 = to eat the salt of another person = makan garam milik orang lain yang maknanya adalah mengikat perjanjian damai. [1]
-
- Pandangan Teologis: Ketika dua pihak makan garam bersama dari satu wadah, mereka sedang berjanji untuk tidak saling menyakiti.
- Aplikasi Alkitab: Dalam Kisah Para Rasul 1:4, kata Yunani yang diterjemahkan “makan bersama-sama dengan mereka” adalah συναλιζόμενος = sunalizomenos, yang akar kata harfiahnya berarti “berkumpul untuk makan garam bersama”. Para teolog melihat ini sebagai cara Tuhan Yesus mengikat persekutuan yang intim dan tak terpisahkan dengan para murid sebelum Ia naik ke surga. [1, 2, 3]
2. “Perjanjian Garam” (Berit Melakh): Ketidakberubahan Janji Allah
Dalam Bilangan 18:19 (perjanjian keimaman suku Lewi) dan 2 Tawarikh 13:5 (perjanjian takhta Daud), Alkitab memakai istilah “Perjanjian Garam”.
Bilangan 18:19
19 Segala persembahan khusus dari persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu dan kepada anak-anakmu ke- laki-laki dan perempuan yang bersamamu, sebagai suatu ketetapan untuk selama-lama. Itulah suatu perjanjian garam di hadapan TUHAN bagimu dan keturunanmu untuk selama-lamanya.”
2 Tawarikh 13:5
5 Tidakkah kamu tahu bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam?
Diketahui terdapat analisis theolog Rabbi Shlomo Yitzchaki (rabi dan cendekiawan Yahudi abad pertengahan asal Prancis yang hidup dari tahun 1040 hingga 1105), yaitu Garam dipilih karena sifat kimianya yang tidak bisa membusuk atau rusak oleh waktu. Kontras dengan daging atau sayur yang bisa membusuk, garam tetaplah garam. [1, 2] Sehingga jika dikaitkan dengan hal itu, maka makna dari suatu Perjanjian Garam, adalah lambang janji Allah bagi manusia yang sifatnya kekal (perpetual), tidak dapat dibatalkan (irrevocable), tidak korup (incorruptible), dan berlaku turun-temurun (covenant). [1, 2, 3]
3. Syarat Kemurnian Ibadah dan Penahan Api (Sacrificial Purifier)
Tuhan memberi ketentuan dalam Imamat 2:13 yang mewajibkan setiap korban sajian harus dibubuhi garam. Demikian pula Keluaran 30:35 mencatat ramuan ukupan/dupa kudus harus dibubuhi garam. [1, 2, 3]
Imamat 2:13
13 Setiap kurban sajianmu harus kaububuhi garam. Jangan kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari kurban sajianmu. Bubuhilah garam pada setiap kurbanmu.
Keluaran 30:35
35 Semuanya itu harus kaubuat menjadi dupa, suatu campuran wawangian, olahan seorang ahli rempah. Dupa itu, yang diberi garam, adalah murni dan kudus.
Diketahui terdapat hasil analisis theolog modern, bahwa Garam berfungsi sebagai antiseptik/desinfektan yang berfungsi membersihkan dan mencegah pembusukan luka. Selain itu, secara teknis di mezbah kuno, garam berfungsi sebagai fire retardant (penahan api) yang membuat daging korban terbakar lebih lambat, lebih merata, dan mengurangi asap kotor. [1, 2, 3]
Jika dipandang dari sudut Teologis, maka kehadiran garam menandakan bahwa ibadah kepada Allah harus bersih dari motivasi yang membusuk (menghasilkan kemurnian hati). Ketika Tuhan Yesus berfirman, bahwa murid-murid akan “digarami dengan api” (Markus 9:49), teolog mengaitkannya dengan pemurnian karakter melalui penderitaan. [1, 2, 3]
4. Bahan Pengawet Sosial dari Pembusukan Moral (Preservative)
Ketika mengulas Matius 5:13 (“Kamu adalah garam dunia”), para teolog seperti John Stott (Pendeta Evangelical Anglicanism dari Inggris dan Pemimpin gerakan Injili sedunia) serta komunitas teolog aliran Reformed, berpendapat bahwa fungsi utama garam di zaman kuno adalah sebagai pengawet daging karena belum ada teknologi pendingin. [1, 2] Jadi jika dikaitkan dengan pandangan Teologis, maka digambarkan dunia yang tidak menyembah Tuhan, sebetulnya sedang mengalami “pembusukan” moral. Jadi dengan mengatakan “Kamu adalah garam”, Tuhan Yesus memperlengkapi murid-Nya agar nantinya berperan aktif menahan pembusukan moral, ketidakadilan, dan kejahatan sosial tersebut, melalui teladan dan kebaikan hidup mereka. [1, 2, 3]
5. Simbol Penghukuman dan Kutukan Kemandulan (Desolation Curse)
Jika diamati dari sudut pandang yang berbeda, garam juga digunakan Allah sebagai “sarana” penghukuman dalam kejadian di Perjanjian Lama. Beberapa kejadian tersebut, antara lain adalah peristiwa Istri Lot yang menjadi tiang garam (Kejadian 19:24-26) dan Abimelekh menaburi kota Sikhem dengan garam setelah menghancurkannya (Hakim-hakim 9:45). [1, 2, 3]
Berdasarkan pengamatan beberapa Teolog dari Studi Timur Tengah Kuno, ada suatu perbuatan menaburkan garam di atas tanah musuh, sebagai ritual kutukan (חֵרֶם = Ḥērem) dalam bahasa Ibrani atau simbol hal yang terlarang untuk dilanggar (ح ر م = ḥ-r-m = Haram) dalam bahasa Arab. Perbuatan itu bertujuan agar tanah tersebut menjadi asin, mandul, dan tidak bisa menumbuhkan benih kehidupan lagi. [1, 2]
Sedangkan jika ditinjau dari pandangan Teologis, maka Garam menjadi lambang dari puncak murka Allah terhadap perbuatan dosa orang yang sudah bebal (seperti Sodom dan Gomora). Jika orang percaya sudah kehilangan fungsi rohaninya (menjadi hambar), mereka akan kehilangan perlindungan ilahi serta akan mengalami “kemandulan rohani” di mana seseorang rajin beribadah atau mendengar firman tetapi hidupnya tidak mengalami pertumbuhan maupun berdampak bagi orang lain. Hal ini akan berakhir pada penghakiman untuk dibuang ke luar. [1, 2, 3]
b. Makna Rohani “Kamu adalah garam dunia”
Berbagai penggunaan garam dalam Alkitab menunjukkan bahwa garam tidak memiliki satu makna simbolis yang berdiri sendiri. Garam berkaitan dengan perjanjian, kesetiaan, kemurnian, ibadah, pengawetan, dan dalam konteks tertentu juga penghukuman. Karena itu, ketika Tuhan Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya, “Kamu adalah garam dunia” (Matius 5:13), perkataan tersebut perlu dipahami dalam konteks kehidupan nyata para murid di tengah masyarakat.
Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa murid-murid harus menjadi seperti garam, melainkan “kamu adalah garam dunia.” Pernyataan ini menunjukkan identitas sekaligus fungsi. Para murid ditempatkan di tengah dunia dengan suatu peran yang harus nyata melalui kehidupan mereka.
Jika berbagai fungsi garam dalam latar belakang di atas dirangkum, setidaknya terdapat beberapa makna rohani yang dapat dipahami dari perkataan tersebut.
1. Garam menunjukkan kehidupan yang setia kepada Allah
Garam yang berkaitan dengan perjanjian dalam Perjanjian Lama mengingatkan bahwa hubungan dengan Allah bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kesetiaan terhadap perjanjian-Nya. Perjanjian garam digunakan dalam konteks ketetapan yang diberikan Allah dan dinyatakan berlaku untuk selama-lamanya.
Dalam pengertian ini, menjadi garam dunia berarti hidup dengan kesetiaan kepada Allah di tengah lingkungan yang tidak selalu memiliki nilai yang sama. Murid Tuhan tidak dipanggil untuk mengikuti perubahan nilai dunia setiap kali keadaan berubah, tetapi tetap berpegang pada kehendak Allah.
Kesetiaan tersebut tidak terutama ditunjukkan melalui perkataan yang keras, melainkan melalui kehidupan yang konsisten. Ketika kejujuran tetap dipertahankan meskipun kebohongan lebih menguntungkan, ketika seseorang tetap mengampuni meskipun mempunyai alasan untuk membalas, dan ketika kebenaran tetap dilakukan meskipun tidak mendapat penghargaan, pada saat itulah kehidupan seorang murid memberikan pengaruh kepada lingkungannya.
2. Garam menunjukkan kehidupan yang membawa kemurnian
Dalam ibadah Israel, garam digunakan bersama korban sajian dan disebut sebagai “garam perjanjian Allah.” Hal tersebut menunjukkan bahwa garam memiliki hubungan dengan persembahan yang diberikan kepada Allah.
Dalam kehidupan orang percaya, hal ini dapat menjadi gambaran bahwa kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah harus dijalani dengan hati yang benar. Menjadi garam dunia bukan berarti tampil sebagai orang yang merasa lebih suci daripada orang lain, melainkan menghadirkan kehidupan yang memiliki integritas.
Kemurnian tersebut terlihat ketika kehidupan pribadi dan kehidupan di hadapan orang lain tidak berjalan dalam dua standar yang berbeda. Perkataan, keputusan, pekerjaan, penggunaan uang, hubungan dengan sesama, dan kehidupan keluarga seharusnya menunjukkan karakter yang sama.
Dengan demikian, pengaruh seorang murid tidak hanya berasal dari apa yang dikatakannya tentang Tuhan, tetapi juga dari kehidupan yang dapat dilihat oleh orang-orang di sekitarnya.
3. Garam menunjukkan pengaruh yang mencegah pembusukan
Salah satu penggunaan garam yang dikenal luas pada zaman dahulu adalah membantu mengawetkan bahan makanan. Dalam konteks Matius 5:13, gambaran tersebut dapat dipakai untuk memahami bagaimana murid-murid Tuhan berada di tengah dunia yang mengalami berbagai bentuk kerusakan moral.
Murid Kristus tidak dipanggil untuk menarik diri dari masyarakat. Justru kehidupan mereka harus hadir di tengah masyarakat dan memberikan pengaruh yang berbeda.
Ketika kebohongan dianggap biasa, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kejujuran. Ketika keserakahan dianggap wajar, orang percaya dipanggil untuk belajar mencukupkan diri dan berbagi. Ketika kebencian mudah disebarkan, orang percaya dipanggil untuk membawa perdamaian. Ketika ketidakadilan dibiarkan, orang percaya dipanggil untuk tetap berlaku benar.
Garam tidak mengubah makanan menjadi garam. Garam memberikan pengaruh terhadap sesuatu yang bersentuhan dengannya. Demikian pula kehidupan orang percaya seharusnya memberikan pengaruh nyata terhadap lingkungan tempat ia berada.
4. Garam menunjukkan kehidupan yang memberikan rasa
Garam juga memberikan rasa pada makanan. Tanpa garam, makanan tertentu terasa hambar. Gambaran ini dapat diterapkan pada kehadiran orang percaya yang seharusnya membawa sesuatu yang baik bagi kehidupan orang lain.
Kehadiran seorang murid Kristus seharusnya tidak membuat kehidupan orang lain semakin pahit, penuh kebencian, atau kehilangan pengharapan. Sebaliknya, melalui kasih, kebaikan, pengampunan, pertolongan, kejujuran, dan perkataan yang membangun, kehidupan seorang percaya dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.
Hal ini sejalan dengan perkataan Tuhan Yesus beberapa ayat kemudian:
Matius 5:16
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Garam dan terang memiliki fungsi yang berbeda, tetapi keduanya menunjukkan prinsip yang sama: iman tidak dimaksudkan untuk berhenti sebagai sesuatu yang hanya tersimpan di dalam diri. Iman harus terlihat melalui kehidupan.
5. Garam harus tetap memiliki rasa
Pada akhirnya, Tuhan Yesus memberikan peringatan yang sangat serius:
Matius 5:13
“Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
Peringatan ini menunjukkan bahwa identitas sebagai garam harus disertai dengan fungsi. Seseorang dapat menyebut dirinya murid Tuhan, tetapi apabila kehidupannya tidak lagi menunjukkan kesetiaan, kebenaran, kasih, dan kekudusan, maka pengakuan tersebut tidak menghasilkan pengaruh yang seharusnya.
Karena itu, inti perkataan “Kamu adalah garam dunia” bukan sekadar ajakan untuk menjadi orang baik. Tuhan Yesus sedang menunjukkan bahwa murid-murid-Nya mempunyai identitas dan tanggung jawab di tengah dunia. Mereka dipanggil untuk hidup setia kepada Allah, menjaga kemurnian hidup, memberikan pengaruh yang baik, dan menjadi berkat bagi lingkungan di sekitarnya.
Dengan demikian, berbagai gambaran tentang garam dalam Alkitab yang telah dibahas pada bagian sebelumnya menemukan titik pertemuannya dalam kehidupan murid Kristus: garam harus hadir, bersentuhan, dan memberikan pengaruh. Garam yang tetap berada di dalam wadah tidak menjalankan fungsinya. Demikian pula iman yang hanya disimpan sebagai pengakuan pribadi tanpa terlihat dalam kehidupan sehari-hari tidak menjalankan fungsi yang dimaksudkan Tuhan Yesus.
“Kamu adalah garam dunia” berarti bahwa kehidupan orang percaya seharusnya mempunyai pengaruh nyata di tengah dunia—bukan dengan menjadi sama dengan dunia, melainkan dengan tetap mempertahankan karakter yang dikehendaki Allah ketika hidup di dalam dunia.
III. Kamu adalah terang dunia
a. Latar Belakang
Kata “Kamu adalah terang dunia” yang digunakan Tuhan Yesus dalam Matius 5:14-16 dicatat dalam bahasa Yunani sebagai: ὑμεῖς ἐστε τὸ φῶς τοῦ κόσμου = Hymeis este to phōs tou kosmou = kamu itu lampu dari dunia. Jadi secara tata bahasa, perkataan tersebut merupakan pernyataan mengenai identitas murid-murid, bukan berupa perintah agar mereka berusaha menjadi terang. Penjelasan selanjutnya mengenai “Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin disembunyikan” dan “pelita yang harus diletakkan di atas kaki pelita“, menunjukkan bahwa “terang” itu harus terlihat dari mana-mana dengan tujuan untuk memberi manfaat bagi semua orang.
b. Makna Rohani “Kamu adalah terang dunia”
Berikut adalah makna dari firman Tuhan tersebut:
1. “Terang” itu adalah Tuhan Yesus sendiri
Yohanes 8:12
Yesus berkata lagi kepada mereka, “Akulah terang dunia. Siapa yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan.”
Orang yang “hidup dalam kegelapan”, maksudnya adalah orang yang tidak tahu perbuatannya itu benar atau salah, karena mereka tidak punya standar baik atau buruk, berdosa atau tidak berdosa. Hidup mereka asal hidup saja, mungkin yang ada dalam pikiran mereka hanya mencari keuntungan, mengejar hawa nafsu, menyembah “sesuatu” demi investasi mencari keuntungan atau jaminan setelah kematian. Herannya kehidupan seperti itu, masih dijalani juga oleh orang yang menamakan dirinya “Kristen”. Mereka sudah lama jadi “orang Kristen”, sudah ke gereja dari zaman Sekolah Minggu, hingga kini sudah melayani Tuhan, namun kehidupan keseharian mereka sama sekali tidak mencerminkan bahwa di dalam hidup mereka terdapat “terang” Kristus.
Seorang yang sudah sedari mudanya telah menjadi hamba Tuhan, bahkan puncaknya ia menjadi ketua Majelis Gereja. Dalam kariernya pun ia sangat cemerlang hingga menjadi pemimpin suatu perusahaan berskala International. Namun, suatu ketika tersiarlah kabar bahwa ia tertangkap tangan oleh pihak berwajib. Bagaimana itu bisa terjadi? Ternyata orang tersebut “memisahkan” kehidupannya sebagai hamba Tuhan, dengan kehidupannya sebagai pribadi dalam kesehariannya. Sebagai Hamba Tuhan, hidupnya sangat berpengaruh dan berprestasi, namun di dalam kesehariannya ia masih mempergunakan cara-cara “duniawi” yang gelap.
Dalam bentuk lain, ada juga kasus seorang guru Sekolah Minggu yang juga pelayan musik gereja, sangat giat melayani Tuhan dan terlihat sangat rohani. Namun, gegerlah satu gereja karena tiba-tiba ia menyatakan akan segera meninggalkan Gereja dan seluruh pelayanannya, bahkan juga meninggalkan kekristenan. Ternyata ia selama ini telah menjalin hubungan yang melampaui batas, dengan seorang wanita dari agama lain hingga hamil di luar nikah. Ia kemudian dipaksa dengan ancaman oleh pihak keluarga sang gadis, untuk segera menikahinya secara adat dan agama mereka. Tragis bukan? Itulah kehidupan yang sebetulnya berada dalam kegelapan, namun “terbungkus” oleh selubung kekristenan.
Jika kita kembali membaca dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus sendiri juga berada di lingkungan yang “gelap”. Buktinya waktu Ia menyatakan bahwa dirinya adalah “Terang dunia”, langsung orang-orang Farisi menentang-Nya, dan mengatakan kesaksian-Nya itu tidak benar. Dunia waktu itu masih sangat gelap, Tuhan Yesus yang adalah “Sumber Terang” itu sendiri, tidak bisa mereka lihat. Mengapa? Mereka tidak mengenal Dia ataupun Allah Bapa.
Jadi renungan bagi diri kita sendiri saat ini, apakah hidup kita betul-betul telah berada di dalam terang Kristus, atau sebetulnya masih ada selubung yang menutupi mata kita, sehingga “seolah-olah” kita sudah mengenal-Nya, namun sesungguhnya dalam kehidupan keseharian kita masih hidup dalam gelap?
2. Terang sebagai gambaran keselamatan dan kehadiran Allah
Yesaya 60:1-2
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab, sesungguhnya kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.”
Nabi Yesaya baru saja menceritakan perjanjian Allah dengan umat-Nya yang akan memberikan pemulihan atas dosa-dosa mereka. Yesaya 60:1-2 adalah perintah Allah bagi umat-Nya untuk bangkit dan menjadi bangsa yang penuh kemuliaan Allah, sehingga semua bangsa lain dapat melihat “terang” yang berada dalam diri mereka. Bangsa Israel yang selama ini terpuruk dan terhina karena dosa-dosanya, akan kembali dimuliakan Allah bahkan membawa bangsa-bangsa lain datang kepada Allah untuk memuliakan-Nya.
Itu juga janji bagi kita untuk dapat menjadi “terang” yang bercahaya dan membawa keselamatan bagi orang-orang yang masih hidup di dalam kegelapan. Perbuatan mereka yang “gelap” akan ditelanjangi karena adanya “terang” Kristus di dalam kehidupan kita. Jangan pernah memisahkan kehidupan keseharian kita dengan kehidupan pelayanan kita. Dalam kehidupan bergereja, mauupun dalam karier, dalam masa pendidikan, dalam bisnis atau apapun juga yang kita geluti selama ini, semuanya harus berdasarkan firman Allah saja. Standar yang kita pergunakan hanya satu, yaitu firman Allah, dengan berkata “ya” di atas ya, dan “tidak” di atas tidak.
Matius 5:37
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.
Itulah arti dari firman Tuhan Yesus, “tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” Bahwa setiap orang akan melihat bahwa ada terang kemuliaan Allah bersinar di atas kita.
3. Terang harus terlihat dan memberikan manfaat
Tuhan Yesus menggunakan dua gambaran “terang” yang memberi manfaat dalam Matius 5:14-15, yaitu kedua gambaran tersebut mempunyai prinsip yang sama. Terang memang memiliki sifat untuk terlihat dan menerangi. Kehidupan murid Tuhan Yesus tidak boleh disembunyikan dari lingkungan tempat mereka hidup, serta sehingga identitas sebagai murid-Nya harus terlihat melalui kehidupan nyata. Tentunya perbuatan dan kehidupan mereka wajib menjadi teladan bagi semua orang.
Efesus 5:8-13
8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan saja apa yang mereka lakukan sembunyi-sembunyi, sudah memalukan. 13 Tetapi, segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi tampak, sebab semua yang tampak adalah terang.
Efesus 2:10
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Matius 5:16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.
Jadi setiap orang yang sudah menyerahkan dirinya bagi Kristus, ia tidak boleh lagi hidup dengan standar duniawi, melainkan hidupnya selalu “bercahaya” dan dapat dilihat semua orang, sehingga mereka memuliakan Allah Bapa di Surga.
IV. Makna Keseluruhan “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia”
Perkataan Tuhan Yesus, “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia” merupakan dua gambaran yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama. Keduanya menunjukkan bahwa kehidupan murid Tuhan Yesus tidak dimaksudkan untuk dijalani secara tertutup dan terpisah dari kehidupan masyarakat. Murid-murid-Nya ditempatkan di tengah dunia supaya kehidupan mereka memberikan pengaruh yang nyata.
Garam bekerja ketika bersentuhan dengan sesuatu di sekitarnya. Garam memberikan rasa dan, dalam penggunaan tertentu, membantu menghambat pembusukan. Demikian pula kehidupan seorang murid Tuhan Yesus harus memberikan pengaruh melalui kesetiaan, kejujuran, kasih, kebaikan, dan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah.
Terang memiliki sifat yang berbeda. Terang membuat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat menjadi tampak. Terang menerangi jalan, menyingkapkan apa yang tersembunyi, dan memungkinkan orang melihat dengan jelas. Karena itu, kehidupan murid Tuhan Yesus juga harus terlihat melalui perbuatan yang baik sehingga orang lain dapat melihat kehidupan yang berbeda dan pada akhirnya memuliakan Allah.
1. Garam berbicara tentang pengaruh, terang berbicara tentang kesaksian
Garam dan terang sama-sama berbicara tentang kehidupan yang memberikan pengaruh, tetapi melalui cara yang berbeda. Garam bekerja dengan memberikan pengaruh terhadap sesuatu yang bersentuhan dengannya, sedangkan terang bekerja dengan membuat sesuatu dapat dilihat. Karena itu, seorang murid Tuhan Yesus tidak cukup hanya memiliki iman yang benar di dalam hati. Iman tersebut harus menghasilkan kehidupan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain dan dapat dilihat melalui perbuatannya. Kesetiaan kepada Allah terlihat dalam cara seseorang bekerja, menggunakan uang, memperlakukan keluarga, berbicara kepada orang lain, menghadapi konflik, mengambil keputusan, dan menggunakan kekuasaan atau kepercayaan yang diberikan kepadanya. Di situlah iman menjadi nyata.
2. Garam dan terang menunjukkan bahwa identitas harus menghasilkan fungsi
Tuhan Yesus tidak mengatakan, “Berusahalah menjadi garam” atau “Berusahalah menjadi terang.” Ia mengatakan, “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia.” Pernyataan tersebut berbicara mengenai identitas murid-murid-Nya sekaligus tanggung jawab yang mengikuti identitas tersebut.
Identitas sebagai murid Tuhan Yesus tidak berhenti pada pengakuan bahwa seseorang adalah orang percaya. Identitas tersebut harus terlihat melalui fungsi kehidupan. Garam yang tidak memberikan rasa kehilangan fungsinya. Terang yang disembunyikan tidak menerangi orang lain. Demikian pula seseorang dapat memiliki pengetahuan Alkitab, aktif mengikuti kegiatan gereja, bahkan memegang tanggung jawab pelayanan, tetapi semua itu belum dengan sendirinya membuktikan bahwa kehidupan tersebut telah menjalankan fungsi sebagai garam dan terang. Yang menentukan adalah apakah firman Tuhan benar-benar membentuk kehidupan sehari-harinya.
3. Garam dan terang tidak dipanggil untuk menjadi sama dengan dunia
Garam tidak kehilangan sifatnya agar dapat bercampur dengan makanan. Terang tidak menjadi gelap agar dapat berada di tengah kegelapan. Demikian pula murid Tuhan Yesus dipanggil untuk hidup di tengah dunia tanpa mengikuti nilai-nilai yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang menarik diri dari masyarakat, tetapi juga bukan kehidupan yang mengikuti semua kebiasaan masyarakat tanpa mengujinya berdasarkan firman Allah. Murid Tuhan Yesus tetap bekerja, belajar, berbisnis, berkeluarga, bermasyarakat, dan menjalankan berbagai tanggung jawab kehidupan, tetapi seluruhnya dilakukan berdasarkan standar yang berasal dari Allah. Karena itu, ukuran keberhasilan kehidupan seorang percaya bukan hanya seberapa tinggi kedudukannya, seberapa banyak hartanya, seberapa besar pelayanannya, atau seberapa banyak orang mengenalnya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kehidupannya tetap memiliki rasa dan tetap bercahaya ketika berada di tengah dunia.
4. Garam dan terang harus dimulai dari kehidupan pribadi
Pengaruh rohani tidak dapat dibangun hanya melalui perkataan. Kehidupan yang menjadi garam dan terang harus terlebih dahulu mengalami perubahan di dalam diri sendiri.
Kejujuran harus dimulai ketika tidak ada orang yang melihat. Kekudusan harus dijaga ketika kesempatan untuk berbuat dosa terbuka. Pengampunan harus diberikan ketika hati masih terluka. Kebenaran harus tetap dilakukan ketika kebohongan memberikan keuntungan. Kesetiaan kepada Allah harus tetap dipertahankan ketika tidak ada penghargaan dari manusia. Dengan demikian, kehidupan sebagai garam dan terang bukan terutama tentang bagaimana seseorang terlihat di hadapan manusia, melainkan tentang bagaimana ia hidup di hadapan Allah. Apa yang terlihat oleh manusia seharusnya merupakan buah dari kehidupan yang terlebih dahulu benar di hadapan Allah.
5. Tujuan akhirnya adalah supaya Allah dimuliakan
Tuhan Yesus memberikan tujuan yang sangat jelas bagi kehidupan yang menjadi terang:
Matius 5:16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
Perbuatan baik seorang murid Tuhan Yesus bukan dimaksudkan untuk membangun kemuliaan dirinya sendiri. Tujuan akhirnya adalah supaya orang lain melihat perbuatan tersebut dan memuliakan Allah. Di sinilah terdapat bahaya yang perlu diperhatikan. Seseorang dapat melakukan pelayanan yang besar, melakukan banyak perbuatan baik, dan dikenal sebagai orang yang rohani, tetapi jika semua itu akhirnya membawa kemuliaan kepada dirinya sendiri, maka tujuan yang diajarkan Tuhan Yesus telah bergeser.
Garam tidak mencari perhatian terhadap dirinya sendiri. Terang juga tidak menerangi supaya dirinya dipuji. Keduanya menjalankan fungsi bagi sesuatu yang berada di sekitarnya. Demikian pula kehidupan murid Tuhan Yesus seharusnya membawa perhatian kepada Allah melalui kehidupan yang benar.
6. Garam dan terang merupakan panggilan untuk menjalani kehidupan yang konsisten
Pada akhirnya, menjadi garam dan terang berarti tidak memisahkan kehidupan rohani dari kehidupan sehari-hari. Tidak ada bagian kehidupan yang boleh dikeluarkan dari pemerintahan Allah.
Di gereja, di rumah, di tempat kerja, dalam bisnis, dalam pendidikan, dalam pergaulan, ketika menggunakan media sosial, ketika menghadapi orang yang tidak disukai, bahkan ketika tidak seorang pun melihat, standar kehidupan tetap sama: firman Allah. Dengan demikian, garam menggambarkan kehidupan yang memberikan pengaruh, mempertahankan kesetiaan, dan membawa kebaikan di tengah dunia. Terang menggambarkan kehidupan yang terlihat, menunjukkan kebenaran, dan menuntun orang lain untuk melihat kemuliaan Allah.
Garam dan terang akhirnya membawa kita kepada satu pertanyaan yang sangat pribadi: apakah kehidupan kita benar-benar berfungsi sebagaimana identitas yang Tuhan Yesus berikan? Bukan sekadar apakah kita mengaku sebagai murid-Nya, tetapi apakah kehadiran kita membawa pengaruh yang baik dan apakah kehidupan kita membuat orang lain dapat melihat karakter Kristus.
Jika garam harus memberikan rasa dan terang harus bercahaya, maka kehidupan orang percaya tidak boleh berhenti pada pengetahuan tentang firman Tuhan. Firman tersebut harus masuk ke dalam hati, membentuk karakter, mengarahkan keputusan, terlihat dalam perbuatan, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Kamu adalah garam dunia” berarti kehidupan kita harus memberikan pengaruh yang baik di tengah dunia. “Kamu adalah terang dunia” berarti kehidupan kita harus terlihat sehingga orang lain dapat melihat perbuatan yang baik dan memuliakan Allah. Keduanya bertemu pada satu panggilan: hidup benar di hadapan Allah dan menghadirkan pengaruh kehidupan itu di tengah dunia.
V. Renungan
1. Jelaskan arti “kamu adalah garam dunia” dan “kamu adalah terang dunia”. Mengapa Tuhan Yesus tidak mengatakan “berusahalah menjadi Garam dan Terang dunia, melainkan kamu adalah garam dan terang dunia? Apa juga yang dimaksud dengan memiliki Identitas harus disertai fungsi?
2. Dalam kehidupan saya saat ini bagaimana caranya memberikan rasa dan pengaruh yang baik bagaikan garam?
3. Bagaimana penerapan dalam keseharian yaitu kehidupan yang benar-benar mencerminkan terang Kristus? Masihkah ada bagian kehidupan yang Anda sembunyikan dan jalani dengan standar yang berbeda dari firman Tuhan?
4. Jelaskan bagaimana kehidupan yang sebetulnya jauh dari terang, alias hidup dalam kegelapan, namun “berselubung” seolah-olah menunjukkan hidup di dalam terang Kristus?
5. Setelah mengetahui bahwa menjadi garam dan terang bukan hanya tentang mengetahui firman Tuhan, tetapi tentang menjalankannya, apa rencana Anda untuk mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar terang Anda bercahaya di depan semua orang?
VI. Doa
Tuhan Yesus Kristus yang Maha Baik, terima kasih buat kehidupan saya di saat ini. Mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah saya buat. Kiranya Tuhan berkenan menguduskan saya agar layak untuk menghadap hadirat-Mu saat ini.
Tuhan terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan saya bahwa saya adalah Garam dunia dan juga Terang bagi dunia. Mohon pimpinan dari Roh Kudus-Mu dalam kehidupan saya, agar senantiasa sanggup memahami cara-cara untuk dapat memuliakan Allah.
Atas perkenan-Mu kami berdoa di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.
“Biarlah terangmu bercahaya di depan orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik
dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Mazmur 50:23
Amin.
