Edisi 27 – “Menyingkap Rahasia Doa Yang Berkenan Kepada Allah (Uncovering the Secret of Prayer That Pleases God)” – Seri Renungan Pagi

By Febrian 17 Oktober 2026 4:48 am
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan sebelumnya kita telah membahas tentang cara memberi sedekah yang berkenan kepada Allah. Pagi ini kita akan membahas topik yang sangat terkenal di seluruh dunia, yaitu “Doa Bapa Kami”. Kiranya kita mendapat hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tesebut. Tuhan Yesus memberkati.
I. Pengantar
Masih rangkaian khotbah Tuhan Yesus di bukit, Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya sebagai pedoman dalam berdoa kepada Allah (Matius 6:5–15). Pengajaran ini membimbing para murid untuk berdoa dengan sikap dan isi yang benar di hadapan Bapa di surga. Sebelumnya Tuhan Yesus mengajarkan sikap buruk yang dilakukan oleh orang munafik yang berdoa untuk dipamer-pamerkan di depan umum. Namun, sebaliknya Tuhan Yesus mengajar murid-Nya untuk berdoa secara sembunyi dan di tempat yang tersembunyi agar hanya Allah yang mendengar doa kita.
Berikut adalah Doa Bapa Kami yang diajar Tuhan Yesus (diglot dengan KJV)
Doa Bapa Kami
Matius 6:9-13 [TB2-LAI©2023] dan [KJV 1769]Bapa Kami yang di surga, (Our Father which art in Heaven)
dikuduskalah nama-Mu, (Hallowed be thy name)
datanglah kerajaan-Mu, (Thy kingdom come)
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. (Thy will be done in earth as it is in heaven)
Berilah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya (Give us this day our daily bread)
dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; (And forgive us our debts as we forgive our debtors)
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.
[Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
(And lead us not to temptations, but deliver us from evil: For Thine is Kingdom, and power and glory, for ever. Amen)
Tuhan Yesus memberi ajaran berupa Doa Bapa Kami yang berisi pengakuan kita akan kekudusan nama Allah, permohonan agar Tuhan menggenapi kehendak-Nya di bumi seperti di surga, permohonan agar hidup kita dipelihara-Nya, mohon pengampunan atas kesalahan/utang/dosa kita, karena kita sudah terlebih dahulu mengampuni orang lain, serta permohonan agar kita terhindar dari pencobaan dan dilindungi dari segala kejahatan.
Melalui renungan ini, kita akan mempelajari setiap bagian doa tersebut agar semakin memahami kehendak Tuhan Yesus dan menerapkan pengajaran-Nya dalam kehidupan doa sehari-hari.
II. Ajaran tentang Berdoa
Matius 6:5-15 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
[TB-LAI©1974]
1. Aturan dasar dalam berdoa
Tuhan Yesus dalam rangkaian khotbah di Bukit, juga mengingatkan para murid untuk melihat kepada contoh buruk orang-orang yang suka memamerkan doa mereka kepada orang lain agar mendapat pujian:
Berdoa itu adalah sarana komunikasi yang diizinkan Allah bagi manusia untuk mengatakan sesuatu kepada TUHAN, Allah penciptanya. Hubungan itu sifatnya pribadi dan harus dengan sikap yang ditujukan kepada Allah secara hormat dan dalam kesucian. Khususnya motivasi berdoa itu yang harus kita periksa terlebih dahulu sebelum berkata-kata kepada Allah:
a. Doa adalah hubungan pribadi dengan Allah
Matius 6:5-6 [TB2-LAI©2023]
5 “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. 6 Namun, jika engkau berdoa. masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Tuhan Yesus sangat tidak senang terhadap orang-orang yang berpura-pura berdoa, padahal motivasinya hanya untuk menempatkan diri seolah-olah lebih suci daripada orang lain. Sesungguhnya doa adalah hubungan pribadi dengan Allah. Di dalam doa kita kepada Allah, Ia berkenan membuka ‘jalur komunikasi’ langsung antara bumi dan surga. Jadi bayangkan betapa kurang ajarnya kita, jika Allah sedang berkenan mendengar doa kita dari surga, tapi kita malahan tidak fokus pada-Nya. Sadari hal ini dan perbaiki sikap kita di kala kita berdoa.
Ingatlah bahwa Allah di surga dan kita di bumi. Allah itu Raja Surga dan seluruh Alam Semesta ini, dan Ia berkenan mendengar kita, jadi jangan sembarangan dalam berdoa. Berdoalah dalam sikap yang benar dan bersungguh-sungguh kepada Allah, dengan motivasi yang benar. Jangan pernah sekalipun menganggap Allah sebagai pihak yang bisa kita perintah apalagi protes jika doa tidak dikabulkan. Bayangkan anda menghadap atasan kita di kantor dan ia berkenan mendengarkan kita, lalu kita mohon sesuatu dan ditolak. Apa kita berani marah-marah dan protes? Mari bersama-sama introspeksi diri dan perbaiki sikap kita dalam berdoa.
Sebagaimana diajar Tuhan Yesus, bahwa doa itu harus dilakukan di tempat yang tersembunyi, maka kita pun harus berdoa di tempat yang tersembunyi, dengan tujuan yaitu membuktikan pada Tuhan, bahwa hati kita murni berkata-kata kepada Allah saja.
Doa yang diucapkan tersembunyi hanya kepada Allah saja, maknanya adalah mengkhususkan Allah sebagai pusat kehidupan kita. Semasa berdoa itu kita retreat dari segala kesibukan kita dan melupakan semua hal yang ada di sekeliling kita, segala urusan duniawi kita. Fokus 100% kepada Allah. Sekalipun sebetulnya secara fisik kita berada di depan orang lain, tapi atur hati dan pikiran kita fokus kepada Allah saja.
Bagaimana dengan doa yang diucapkan oleh Pendeta di depan jemaatnya, itu kan tidak tersembunyi? Bukan demikian konteksnya. Tersembunyi dalam konteks doa Pendeta itu maknanya bahwa doanya diucapkan tetap adalah hubungan pribadi dengan Allah, di mana Ia sedang memimpin jemaatnya berdoa bersama-sama kepada Tuhan. Jemaatnya mendengar doa itu dan mengaminkan. Ini juga serupa dengan kondisi orang yang sedang bekerja dan tidak bisa meninggalkan tempat umum, tidak mungkin berdoa di tempat tersembunyi. Juga orang yang sedang mengemudi, tidak mungkin memejamkan mata. Juga dokter yang sedang melakukan operasi. Dan masih banyak lagi kondisi-kondisi lain yang menyebabkan tidak mungkin seseorang berdoa sendirian di tempat tersembunyi.
Mari kita kembali sejenak mengingat ajaran Tuhan Yesus dalam firman Tuhan di atas, yaitu konteksnya adalah bahwa doa tidak boleh diucapkan di tempat umum dengan tujuan mendapat pujian dari orang lain. Berdoa secara tersembunyi dan tidak disaksikan orang lain, merupakan suatu simbol dari berdoa dengan motivasi yang benar di hadapan Allah, yaitu murni hanya untuk dilihat oleh TUHAN, Allah Semesta Alam, pencipta dan pemilik hidupnya.
Namun, jika kondisi dan keadaan mendukung, maka di waktu yang tepat kita wajib menyediakan waktu pribadi bagi Tuhan di tempat tersembunyi, dalam keintiman dengan-Nya secara pribadi.
b. Jangan bertele-tele dalam berdoa
Matius 6:7-8 [TB2-LAI©2023]
7 Lagi pula, ketika kamu berdoa, janganlah bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan. 8 Jadi, janganlah seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
Selanjutnya, Tuhan Yesus melarang murid-murid-Nya berdoa seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, yaitu dengan mengucapkan banyak kata dengan harapan bahwa doa mereka akan dikabulkan. Sesungguhnya, sebelum kita mengucapkan doa, Allah sudah mengetahui segala keperluan kita. Oleh karena itu, Allah berkenan mendengar permohonan yang disampaikan dalam doa, sesuai dengan iman orang yang berdoa.
Jadi bagaimana harus berdoa seperti apa yang benar menurut Tuhan Yesus?
2. Doa Bapa Kami
Tuhan Yesus adalah Guru teladan, bukan hanya bisa melarang, namun Ia juga memberi contoh nyata dalam berdoa.
Itu adalah doa yang paling terkenal di seluruh dunia yang diajarkan langsung oleh Tuhan Yesus: Doa Bapa Kami (The Lord’s Prayer).
Berikut adalah penjelasan masing-masing bagian dari Doa Bapa Kami:
a. Menyadari Allah Maha Kudus berada di surga dan kita di bumi
Matius 6:9
9b Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,
Lukas 11:2b
2b Bapa, dikuduskanlah nama-Mu;
Banyak orang tidak sadar bahwa di saat ia berdoa itu, ia sedang menghadap TUHAN, Allah Raja Penguasa Surga dan Alam Semesta Raya. Berdoanya pun asal mengucap permintaan dengan tidak menundukan diri, bahkan berdoa dalam keadaan kesal dan protes, seolah ia punya hak untuk itu.
Pengkhotbah 5:1
Janganlah terburu-buru membuka mulutmu, dan janganlah hatimu tergesa-gesa mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di surga dan engkau di bumi; Sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit saja.
Mari dalam kesempatan ini, sadari posisi kita bagaikan debu tanah di hadapan Tuhan, yang telah dibentuk dengan tangan-Nya sendiri jadi manusia yang sangat disayangi-Nya. Kemudian dalam dosa, kita ditebus darah oleh Anak Domba Allah yaitu Tuhan Yesus Kristus Allah Bapa kita.
Kehendak Tuhan adalah bahwa kita tetap dapat bersatu di dalam kemuliaan-Nya selamanya.
Mungkin di antara para pembaca ada yang bertanya, apakah “dikuduskanlah nama-Mu” bermakna manusia menguduskan Allah?
Memang terasa janggal dalam telinga orang Indonesia istilah “dikuduskanlah”, yang dapat dipahami seolah-olah seorang manusia dapat membuat sesuatu atau seseorang yang sebelumnya belum kudus menjadi kudus.
Terkait dengan “kekudusan” Matius 6:9 dalam bahasa aslinya adalah berikut: ἁγιασθήτω τὸ ὄνομά σου dibaca: hagiasthētō to onoma sou.
Arti kata demi kata:
ἁγιασθήτω (hagiasthētō) berarti “hendaklah dikuduskan”, “diperlakukan sebagai kudus”, atau “dihormati sebagai kudus”. Sedangkan τὸ ὄνομά (to onoma) berarti “nama itu”. Serta σου (sou) berarti “milik-Mu” atau “nama-Mu”.
Sebagai catatan bahwa kata hagiasthētō adalah kata pasifm sehingga makna Doa tersebut seharusnya bukan “kami menjadikan nama-Mu kudus”, melainkan: “Hendaklah nama-Mu diperlakukan sebagai kudus.” Bentuk pasifnya sendiri tidak menyebut siapa pelakunya; konteks kalimatnya lah yang membantu menentukan makna yang terkandung.
Ungkapan seperti di atas akan lebih mudah dipahami jika dibaca dalam latar belakang pemikiran Yahudi, bukan hanya menurut penggunaan kata “menguduskan” seperti dalam percakapan bahasa Indonesia. Dalam Perjanjian Lama, nama Allah berkaitan dengan kehormatan, reputasi, dan bagaimana Allah dikenal oleh manusia. Nama Allah dapat dipermalukan ketika umat-Nya tidak bertindak sesuai kehendak-Nya. Namun, sebaliknya nama Allah diakui kekudusannya di saat umat-Nya mengakui kedaulatan Allah dan hidup dalam kekudusan.
b. Kerajaan Allah datang dan terjadilah kehendak Allah di bumi seperti di surga
Matius 6:10
10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.
Lukas 11:2c
2c datanglah Kerajaan-Mu.
“Datanglah kerajaan-Mu” (ἐλθέτω ἡ βασιλεία σου =Elthetō hē basileia sou) adalah permohonan kedua dalam Doa Bapa Kami. Makna terdalam Elthetō jauh melampaui sekadar meminta agar Allah memerintah, yaitu menegaskan permohonan dengan penuh harap. Sedangkan Basilea (Kerajaan) tidak berarti wilayah geografis melainkan pemerintahan, kedaulatan, dan tindakan Allah yang aktif memerintah dunia. Jadi doa ini merupakan seruan agar Allah tetap memegang kendali atas hidup umat manusia, gereja, serta mengendalikan seluruh sejarah umat manusia. Tujuannya agar surga menjelma di bumi, berupa transformasi dunia yang menjadi lebih baik bagaikan di surga.
Para teolog terkemuka dunia mengatakan bahwa doa ini hidup dalam dua masa yaitu “sudah terjadi” dan “belum terjadi”. Kerajaan Allah “sudah terjadi” dalam diri Tuhan Yesus semenjak hadir-Nya di bumi, beserta seluruh pelayanan-Nya (Matius 12:28; Lukas 11:20). Sedangkan “belum terjadi”, maknanya bahwa kesempurnaan kedatangan Kerajaan Allah belum terjadi hingga suatu hari kelak, pada saat Kristus datang kembali sebagai Raja (Wahyu 11:15). Dengan demikian makna terdalamnya adalah permohonan agar Allah berkenan menjadi Raja, kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di sorga, dan agar Kristus semakin nyata dalam hidup keseharian kita.
c. Memohon kebutuhan hidup yang secukupnya
Matius 11:11
11 Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
Lukas 11:3
3 Berilah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
Doa ini diajar Tuhan Yesus sebagai ungkapan hati umat yang menyadari bahwa Allah sudah mengetahui segala kebutuhan hidup kita, namun pentingnya menekankan sikap hati kita untuk hidup dalam kesederhanaan dan kerendahhatian. Injil Matius menulis “hari ini” (sēmeron) sementara Lukas menulis “setiap hari” (to kath’ hēmeran), artinya keduanya menunjukkan bahwa permohonan ini bukanlah doa sekali saja, tetapi terus-menerus diucapkan setiap hari sebagai pengakuan bahwa hidup kita bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Permohonan ini juga secara langsung membentuk kesederhanaan pikiran, yaitu orang yang tidak dikuasai ketamakan, tidak haus akan uang dan harta, serta tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidupnya, melainkan belajar merasa cukup dengan apa yang Allah berikan hari ini. Hal ini ditegaskan juga dalam 1 Timotius 6:8 bahwa “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” dan 1 Timotius 6:10 “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan”. Mari kita terapkan dalam pikiran kita, bahwa prinsip kesederhanaan ini harus menjadi gaya hidup kita jika hendak berkenan di hadapan Tuhan.
d. Mohon ampun atas segala kesalahan
Matius 6:12,14,15
12 dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.
15 Namun, jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu Juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Lukas 11:4a
4a dan ampunilah dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami;
Sekedar intermezzo, jika kita melihat film di bioskop atau televisi, sangat banyak tema film yang didasari pada pembalasan dendam. Orang yang waktu kecil orangutanya dibunuh, akhirnya menjadi pembunuh keji demi membalaskan dendam orangtuanya. Demikian nantinya keturunan orang yang dibunuh oleh orang yang membalas dendam itu, akan kembali membalas dendam waktu ia besar nantinya. Terus menerus berputar dan berputar dalam tema pembalasan dendam saja. Bisa jadi tema film itu, juga terjadi dalam dunia nyata, yaitu hati yang tidak bisa mengampuni orang lain.
Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan, bahwa Allah Bapa di surga, tidak akan mengampuni orang yang hatinya kotor karena tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Sebab sesungguhnya seperti orang yang bersalah itu, demikianlah kita bersalah di hadapan Allah. Kita dulunya juga kotor dan penuh lumpur dosa, namun TUHAN, adalah Allah Maha Kasih yang dengan rendah hati berkenan mengampuni dosa orang yang bersalah kepada-Nya dengan mengirimkan Anak-Nya Yang Tunggal Tuhan kita Yesus Kristus ke dalam dunia, untuk mati di kayu salib dan mencurahkan darah-Nya. Dengan itulah kita beroleh jalan keselamatan untuk dapat memanggil-Nya Bapa.
Markus 11:24-25
24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. 25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”
Memohon ampun jauh lebih mudah daripada mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Padahal mohon ampun saja itu sudah sulitnya setengah mati. Bayangkan kita melakukan suatu kesalahan yang merugikan orang lain, tapi kita takut harus menanggung konsekuensi akibat dari perbuatan itu. Pasti kita akan memutar otak terlebih dahulu bagaimana untuk menghindari risiko mengganti rugi atau menerima hukuman. Jarang sekali ada orang yang begitu salah, ia akan langsung minta maaf tanpa terlebih dahulu memutar otak membela diri. Apalagi kita menjadi pihak yang dirugikan, pasti kita akan mati-matian menuntut dan berjuang agar kita mendapat ganti rugi atau membalas dendam, sebelum menerima permohonan maaf.
Ada suatu kejadian pada tahun 1993 di mana seorang ibu, namanya Mary Johnson-Roy, menerima kabar bahwa Laramiun Byrd (20) anak satu-satunya, ditembak mati oleh seorang remaja bernama Oshea Israel dalam sebuah pesta di Minneapolis, Amerika Serikat. Setelah pergumulan sekian lamanya, tahun 2005 ia memutuskan untuk mengampuni Oshea di penjara dan akhirnya menjalin hubungan indah yang tidak masuk di akal. Mary menyatakan telah mengampuni Oshea Israel karena Alkitab memerintahkan orang Kristen untuk mengampuni.
Di Indonesia sendiri juga ada kisah pembunuhan terkenal yaitu Ade Sara yang dibunuh oleh mantan pacarnya dan dibuang di tol. Bagi kedua orang tuanya, Ibu Elizabeth Diana dan Bapak Suroto, tragedi ini bukan sekadar kehilangan seorang anak. Mereka kehilangan anak tunggal yang mereka kasihi, dengan cara yang sangat menyakitkan. Namun, menurut pemberitaan Merdeka.com pada 14 Maret 2014, Ibunda dari Ade Sara, yaitu Ibu Elizabeth Diana memutuskan mengampuni kedua pelaku di saat menaburkan bunga di makam putrinya.
Suatu ketika Ibu Elizabeth berdoa meminta kekuatan kepada Tuhan, di mana dalam doanya, ia menyampaikan kepada putrinya bahwa ia dan suaminya telah mengampuni kedua pelaku. Ia mengakui kehilangan tersebut sangat berat dan menyakitkan, namun Ia mengungkapkan bahwa tanpa berpegang pada ajaran agamanya, ia merasa bisa kehilangan kendali dalam menghadapi tragedi itu.
Doa Bapa Kami inilah, sumber penegasan seseorang untuk mempraktikkan kasih yang sempurna seperti yang diajarkan Tuhan Yesus pada murid-murid-Nya. Bagi kita sekarang, praktikkan untuk memohon ampunan Allah secara benar, yaitu dengan tulus hati, sebagaimana kita juga sudah tulus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sebagaimana kita tahu mengampuni orang, adalah level kerendahhatian paling tinggi.
Berikut adalah ayat-ayat yang terkait dengan pengampunan:
Matius 18:21-22
21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” 22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Lukas 6:37
“Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.”
Matius 5:23-24
23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Efesus 4:31-32
31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. 32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Kolose 3:12-13
12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
Roma 12:17-21
17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! 19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
Amsal 25:21-22
21 Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. 22 Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu.
1 Tesalonika 5:15
15Perhatikanlah supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.
e. Mohon dihindarkan dari cobaan dan dilepaskan dari kuasa jahat
Matius 6:13
13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.
[Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
Lukas 11:4b
4b dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”
Selanjutnya Tuhan Yesus mengajar dalam doa-Nya bahwa setiap orang wajib untuk memohon dilepaskan dari segala pencobaan dan yang jahat. Mengapa kita bisa yakin memohon kepada Tuhan Yesus untuk dilepaskan dari pencobaan dan yang jahat? Karena Tuhan adalah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.
Apa itu “pencobaan” (πειρασμόν = peirasmón = ujian, pengujian, atau godaan) dan apa itu “yang jahat” (τοῦ πονηροῦ = tou ponērou = si jahat = iblis/setan) ?
“Pencobaan” adalah suatu keadaan di mana seseorang yang mencoba berjalan dalam kebenaran diperhadapkan pada kondisi yang menguji atau menggodanya untuk meninggalkan jalan kebenaran itu. Contoh Pencobaan: seseorang yang menerapkan integritas dalam pekerjaannya, digoda untuk korupsi di saat ia sedang menghadapi masalah finansial keluarganya.
Berikut adalah ayat-ayat yang terkait dengan pencobaan:
Yakobus 1:12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
Yakobus 1:14
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
1 Korintus 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Sedangkan “Yang Jahat” atau “Si Jahat” adalah wujud kuasa kegelapan yang adalah iblis. Berikut adalah ayat-ayat yang terkait dengan pencobaan:
Yohanes 17:15
Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.
2 Tesalonika 3:3
Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.
1 Yohanes 5:18
Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.
2 Timotius 4:18
Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.
Efesus 6:11
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;
Efesus 6:16
dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,
Matius 26:41
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.
Allah melindungi orang percaya dari kuasa si jahat, menguatkan mereka agar tetap teguh dalam iman, memperlengkapi mereka untuk melawan tipu muslihat Iblis, dan menolong mereka agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Perlindungan Allah bukan berarti orang percaya diambil dari dunia atau tidak pernah menghadapi kejahatan, melainkan dipelihara agar tetap setia kepada-Nya hingga memperoleh keselamatan dalam Kerajaan-Nya.
3. Keyakinan hati pada waktu berdoa
Dalam berdoa, Tuhan Yesus mengajarkan untuk tidak ragu dalam berdoa karena Bapa di surga, adalah Allah Yang Maha Baik. Ia tidak pernah menolak orang yang berdoa kepada-Nya.
5 Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya,
7 bagaimana mungkin ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. 8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, tetapi karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.
9 Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 10 Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; setiap orang yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.
11 Bapa manakah di antara kamu, jika anak- nya minta ikan, akan memberinya ular sebagai ganti ikan? 12 Atau, jika ia minta telur, akan memberinya kalajengking? 13 Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Lukas 11:5–13 mengajarkan tiga hal penting tentang doa.
- Berdoalah dengan tekun (ayat 5–8). Perumpamaan tentang sahabat yang meminta roti pada tengah malam mengajarkan agar kita tidak malu atau mudah menyerah ketika meminta pertolongan kepada Allah.
- Berdoalah dengan penuh kepercayaan (ayat 9–10). Perintah “Mintalah, carilah, ketuklah” menegaskan bahwa kita harus berani datang kepada Allah dan terus berdoa, bukan karena Allah enggan menolong, melainkan karena kita percaya kepada-Nya.
- Percayalah kepada kebaikan Bapa (ayat 11–13). Jika manusia yang berdosa saja tahu memberikan pemberian yang baik kepada anaknya, terlebih lagi Bapa di surga. Secara khusus, Yesus menegaskan bahwa Bapa memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
Kita harus berdoa dengan tekun dan penuh kepercayaan karena Allah adalah Bapa yang baik. Namun, ini bukan jaminan bahwa setiap permintaan akan dikabulkan persis seperti yang kita inginkan.
Ayat-ayat pendukung dengan tema berdoa harus dengan yakin:
Markus 11:24
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
Yakobus 1:6
Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1 Yohanes 5:14
Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
Matius 21:22
Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.
Ibrani 11:6
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Filipi 4:6
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
III. Renungan
Pertanyaan Renungan: Doa Bapa Kami (Matius 6:9–13)
- Apakah saya sungguh-sungguh menghormati kekudusan nama Allah melalui perkataan dan perbuatan saya?
- Apakah saya mengutamakan Kerajaan Allah dan kehendak-Nya daripada keinginan pribadi saya?
- Apakah saya percaya bahwa Allah memelihara kebutuhan hidup saya, atau saya lebih banyak dikuasai kekhawatiran?
- Apakah saya bersedia mengampuni orang yang bersalah kepada saya, sebagaimana saya memohon pengampunan Allah?
- Apakah saya berjaga-jaga dan berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan yang dapat membawa saya kepada dosa?
- Apakah saya sungguh-sungguh memohon agar Allah melindungi saya dari si jahat dan menolong saya tetap setia kepada-Nya?
- Apakah saya berdoa dengan tekun dan yakin kepada kebaikan Bapa di surga, sekalipun jawaban-Nya tidak sesuai dengan keinginan saya?
IV. Doa
Tuhan Yesus kami bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan kami segala yang kami perlukan. Kami bersyukur Tuhan mengajarkan kami berdoa sesuai dengan kehendak Allah Bapa di surga. Ajar kami ya Tuhan agar bisa mengamalkan kehendak Tuhan dalam kehidupan kami sehari-hari. Terima kasih Tuhan. Dalam Nama Yesus kami berdoa. Amin.
“Janganlah hendaknya kamu kuatir
tentang apa pun juga,
tetapi nyatakanlah dalam segala hal
keinginanmu kepada Allah
dalam doa dan permohonan
dengan ucapan syukur.”
Filipi 4:6 (TB)
Amin.
