Edisi 26 – “Memberi Sedekah” – Seri Renungan Pagi

By Febrian 16 Oktober 2026 04:00 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Pada kesempatan yang lalu telah kita bahas mengenai Menjadi Sempurna Sama Seperti Bapamu Yang di Surga Sempurna, maka hari ini kita akan mempelajari firman yang mengajar kita untuk Memberi Sedekah. Kiranya kita bisa memperoleh hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
I. Pengantar
a. Arti kata Sedekah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata “Sedekah” adalah sebagai berikut:
sedekah/se·de·kah/ n 1 pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi; derma; 2 selamatan; kenduri: sedekah arwah; sedekah kubur; 3 makanan (bunga-bunga dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus (roh penunggu dan sebagainya);
bersedekah/ber·se·de·kah/ v 1 memberi sedekah; berderma; 2 berkenduri; berselamatan;
menyedekahi/me·nye·de·kahi/ v 1 memberi sedekah kepada; menderma: tiap hari Jumat Ibu selalu – para pengemis; 2 mengadakan selamatan untuk: uang itu disediakan untuk – anaknya;
menyedekahkan/me·nye·de·kah·kan/ v memberi sesuatu sebagai sedekah; mendermakan
b. Latar belakang
Pada zaman Tuhan Yesus, sedekah merupakan perbuatan terpuji dalam masyarakat Yahudi sehingga orang yang dikenal dermawan dapat memperoleh kehormatan sosial. Keadaan ini membuka peluang bagi seseorang untuk menjadikan sedekah sebagai sarana mencari pujian. Dalam Matius 6:1–2, Tuhan Yesus menegur orang-orang yang melakukan kesalehan supaya dilihat dan dipuji manusia. Gambaran meniup terompet sebelum memberi sedekah kemungkinan merupakan kiasan untuk tindakan memamerkan kemurahan hati, meskipun belum ada bukti sejarah yang memastikan bahwa kebiasaan tersebut benar-benar dilakukan secara harfiah. Inti teguran Tuhan Yesus adalah bahwa sedekah seharusnya dilakukan karena kasih kepada sesama dan ketaatan kepada Allah, bukan untuk memperoleh pengakuan dan kehormatan dari manusia.
II. Aturan Memberi Sedekah
Matius 6:1-4
1 “Ingatlah, jangan kamu mengamalkan kesalehanmu di depan umum supaya dilihat orang, karena jika melakukan demikian, kamu tidak memperoleh upah dari Bapamu yang di surga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang diakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. 3 Namun, jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Singkatnya seperti ini:
- Jangan mengamalkan kesalehan di depan umum supaya dilihat orang –> tidak dapat upah dari Bapa di surga.
- Jika memberi sedekah untuk diekspose = ingin dipuji orang lain –> sudah dapat upahnya (di puji orang).
- Kalau mau memberi –> Tangan kanan memberi – Tangan kiri tidak tahu = Jika mau memberi kepada seseorang jangan sampai orang itu tahu kita yang memberi –> Bapa di surga saja yang melihat dan akan membalas.
Dalam ayat bacaan di atas, Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar tidak bersedekah dengan tujuan supaya dilihat dan dipuji manusia. Untuk memahami peringatan ini, perlu kita perhatikan sejenak bagaimana kebiasaan masyarakat Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. Bagaimana pula kedudukan sedekah dalam kehidupan keagamaan, serta kemungkinan adanya dorongan untuk memperoleh kehormatan melalui perbuatan baik yang dilakukan tersebut.
Namun, perlu dibedakan antara bukti sejarah yang dapat diverifikasi dan cerita ilustrasi. Tidak semua gambaran dalam Matius 6:1–2 dapat dibuktikan sebagai kebiasaan yang benar-benar dilakukan secara luas pada zaman itu.
1. Sedekah Merupakan Perbuatan Terhormat dalam Masyarakat Yahudi
Dalam kehidupan masyarakat Yahudi, memberi kepada orang miskin merupakan bagian penting dari kewajiban keagamaan. Sedekah dipandang sebagai perbuatan baik yang mencerminkan ketaatan kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama.
Salah satu sumber Yahudi kuno yang relevan adalah Kitab Sirakh, yang berasal dari sekitar abad kedua sebelum Masehi. Kitab ini memberikan nasihat mengenai kehidupan yang benar, kemurahan hati, dan kehormatan. Meskipun tidak secara langsung menceritakan seseorang yang memamerkan sedekah, tulisan tersebut membantu menjelaskan kedudukan perbuatan baik dalam kehidupan masyarakat Yahudi.
Dalam masyarakat yang menghormati kemurahan hati, seseorang yang dikenal suka memberi dapat memperoleh nama baik dan penghargaan sosial. Keadaan ini membuka kemungkinan bahwa sedekah tidak hanya dilakukan karena kasih kepada orang miskin, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperoleh kehormatan.
Hal ini merupakan latar belakang sosial yang relevan untuk memahami teguran Tuhan Yesus. Akan tetapi, latar belakang tersebut tidak membuktikan bahwa setiap orang kaya yang memberikan sedekah memiliki motivasi mencari pujian.
2. Kebiasaan Memberi Sedekah di Depan Umum Supaya Dilihat Orang
Dalam Matius 6:1, Tuhan Yesus memperingatkan agar murid-murid-Nya tidak melakukan kewajiban keagamaan dengan tujuan supaya dilihat orang. Perbuatan baik yang dilakukan di depan umum memang tidak selalu salah. Seseorang bisa saja memberikan bantuan secara terbuka karena memang diperlukan, misalnya ketika menyerahkan bantuan kepada suatu kelompok atau mendukung pelayanan sosial. Namun yang dilarang Tuhan Yesus adalah ketika seseorang sengaja menjadikan perbuatan baik itu sebagai sarana agar orang lain memperhatikan dirinya. Motivasi hati itulah yang keliru dan menjadikan sedekah itu tidak berarti di mata Allah.
Dalam Matius 6:2, “janganlah engkau mencanangkan hal itu“, Tuhan Yesus menggunakan istilah σαλπισης = salpizo = kamu akan meniup sangkakala/terompet. Ungkapan tentang meniup terompet sebelum memberikan sedekah sering dipahami sebagai gambaran tindakan untuk menarik perhatian khalayak ramai. Namun, memang tidak terdapat bukti sejarah yang cukup untuk memastikan bahwa orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus mempunyai kebiasaan umum meniup terompet secara harfiah setiap kali seseorang hendak memberikan sedekah.
Saya pernah menyaksikan suatu Gereja yang sengaja mengikatkan spanduk yang bertuliskan nama Gerejanya dengan huruf yang besar-besar di beberapa truk yang berisi sembako, obat, mainan dan barang lainnya. Truk itu menuju tempat penampungan pengungsi di suatu daerah yang terdampak bencana alam. Pada saat tiba, diadakanlah suatu seremoni serah terima bantuan itu dan disaksikan seluruh penduduk desa dan beberapa pejabat daerah dan aparat setempat. Dengan jelas disampaikan Nama Gereja, Nama Gembalanya, tujuannya dsb.
Apakah tindakan seperti itu salah atau keliru? Belum tentu! Sedekah bantuan tersebut bisa jadi merupakan bukti ketulusan dari jemaat dan pengurus Gereja terkait. Namun, apakah motivasi dibalik seremoni serah terima pemberian yang dilakukan di depan umum itu? Perlu diteliti lebih dalam lagi, mengingat larangan Tuhan Yesus tidak bolleh ada motivasi menerima pujian dari orang lain (Matius 6:2), serta aturan harus memberi sedekah secara tersembunyi (Matius 6:3-4).
Terkait hal tersebut, itu adalah hak dan kebijakan setiap Gereja, di mana saya tidak dalam posisi yang berhak menyimpulkan tindakan mereka salah atau benar. Dalam renungan ini perbuatan itu hanya dibandingkan dengan perintah Tuhan Yesus dalam Matius 6.
3. Perbedaan antara Ingin Dilihat dan Ingin Dipuji
Jika kita perhatikan dua perilaku dalam Matius 6:1–2, terlihat berbeda namun itu adalah suatu perbuatan yang berkesinambungan:
- Level Pertama, seseorang melakukan perbuatan baik supaya dilihat orang. Perhatiannya tertuju pada penampilan kesalehan di hadapan masyarakat. Ia ingin orang lain menyaksikan bahwa dirinya melakukan sesuatu yang baik. Harapannya semua orang yang melihat itu akan lebih menghormatinya.
- Level Kedua, seseorang mengumumkan perbuatan baik supaya memperoleh pujian. Ia bukan hanya ingin orang melihat tindakannya, tetapi juga ingin mendapatkan penghargaan, pengakuan, dan kehormatan karena tindakan tersebut.
Dalam praktiknya, kedua perilaku ini bisa saja dilakukan bersamaan. Seseorang dapat sengaja memberikan sedekah di tempat ramai, kemudian menceritakan pemberiannya kepada orang lain agar semakin banyak orang memujinya. Dasar motivasinya serupa: Ingin mendapat pujian dan hormat dari manusia.
Itulah yang Tuhan Yesus larang, yaitu bukan masalah memberi sedekah di muka umum dan/atau memberitakannya, namun adanya kesombongan yang lahir dari tinggi hati di balik perbuatannya.
5. Motivasi melakukan sedekah yang dikehendaki Allah
Teguran Tuhan Yesus dalam Matius 6:1–4 perlu dipahami bersama-sama dengan Matius 5:16. Dalam Matius 5:16, Tuhan Yesus mengajarkan agar terang para murid bercahaya di depan orang sehingga mereka melihat perbuatan baik mereka dan memuliakan Bapa di surga. Sebaliknya, dalam Matius 6:1–2, Tuhan Yesus memperingatkan agar perbuatan benar tidak dilakukan untuk mendapatkan pengakuan manusia. Kedua ajaran ini tidak bertentangan, namun terdapat perbedaan pada motivasi perbuatan baik tersebut:
-
- Matius 5:16, perbuatan baik –> untuk memuliakan Allah.
- Matius 6:1–2, perbuatan baik –> untuk memuliakan diri sendiri.
Jadi kesimpulannya, adalah bahwa Tuhan Yesus mengajarkan bahwa semua perbuatan baik yang dilakukan bagi orang lain boleh diketahui orang banyak, hanya jika tujuannya agar semua orang yang melihat memuliakan TUHAN, Allah Semesta Alam. Namun, alangkah baiknya jika pemberian itu diberikan secara sembunyi-sembunyi agar motivasi tulus di hati kita, hanya dilihat oleh Allah saja.
IV. Renungan
- Apakah Anda pernah memberi sedekah kepada orang miskin, panti asuhan, teman yang sakit atau kesusahan, atau bantuan-bantuan lainnya? Bagaimana perasaan Anda sewaktu ucapan terima kasih diberikan pada pihak yang menerima? Apakah Anda merasa memang orang itu menerima sedekah itu dari Anda? Sebaliknya apakah Anda terseinggung jika yang menerima diam saja dan tidak ucapkan terima kasih?
- Bagaimana Anda menyisihkan penghasilan setiap bulannya untuk sebagian diberikan sebagai sedekah? Apakah itu sama dengan Persepuluhan, atau khusus pemberian sedekah? Jelaskan secara detail pandangan Anda mengenai itu!
- Bagaimana Anda memandang orang yang miskin atau dalam kesulitan, apakah itu kehendak Allah, atau itu kesalahannya sendiri? Bagaimana pandangan Anda mengenai ajaran bahwa “Orang Kristen pasti diberkati kekayaan dan kelimpahan harta oleh Allah, kalau tidak demikian, berarti ada yang keliru dalam hidup nya” ?
- Apakah Anda sudah menemukan sikap hati yang benar dalam memberi sedekah, menurut firman Tuhan di atas?
V. Doa
Selamat Pagi Tuhan Yesus. Terima kasih banyak Tuhan sudah menjadikan hari yang baru buat kami. Baru saja Tuhan mengajar kami untuk memberi sedekah sesuai kehendak-Mu. Mohon ampun kalau selama ini kami belum pernah memberi sedekah, atau kami pernah memberi sedekah, tetapi dengan sikap hati yang kurang benar. Kiranya Tuhan mengizinkan Roh Kudus-Mu untuk menerangi hati kami dengan kebenaran akan firman Tuhan ini. Terima Kasih banyak Tuhan Yesus. Dalam Nama-Mu kami berdoa. Amin.
“Siapa memberi kepada orang miskin
tak akan berkekurangan,
tetapi orang yang menutup matanya
akan sangat dikutuki.”
Amsal 28:27 (TB)
Amin.
