Edisi 33 – “Berbuat baik bagi orang lain” – Rahasia Menemukan Jalan yang benar – Seri Renungan Pagi

By Febrian 30 Oktober 2026 04:18 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan yang lalu kita sudah mempelajari bersama mengenaiPengabulan Doa. Sedangkan kali ini kita akan mempelajari mengenai berbuat baik bagi orang lain.
Matius 7:12-14
12 Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah inti Taurat dan Nabi-nabi.
13 Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya.
14 Betapa sempitnya pintu dan sesaknya jalan yang menuju kepada kehidupan. Hanya sedikit orang yang mendapatinya.
I. Pengantar
Masuk dalam bagian akhir dari Khotbah di bukit, Tuhan Yesus menyampaikan suatu pesan yang termasuk dalam “Etika Kerajaan” (The Kingdom Ethics). Jika kita ketahui ajaran Hukum Taurat adalah “perlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukanmu” alias “gigi ganti gigi, mata ganti mata dst”, Tuhan Yesus mengajarkan suatu Etika Kerajaan Allah yang berbeda yaitu “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka“.
Ajaran turun temurun yang telah kita ketahui sejak kecil, adalah bahwa kita wajib membalas perbuatan baik seseorang dengan berbuat baik juga kepada orang tersebut. Juga sebaliknya jangan berbuat kejahatan, karena itu akan kembali kepada kita (hukum karma). Akan tetapi seperti yang juga kita telah pelajari, ajaran Tuhan Yesus sangat anti mainstream dengan hal-hal tersebut. Bukan bertentangan, namun justru jauh lebih dalam daripada ajaran sebelumnya, yaitu berbuat baik jika mau orang lain berbuat baik kepada kita, dan balaslah perbuatan baik orang dengan berbuat baik kepada orang lain, serta jangan membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan kebaikan. Tidak ada hukum apapun di dunia ini yang bertentangan dengan hal tersebut.
II. Memilih Jalan Kehidupan
1. Melewati gerbang sempit dan jalan yang jalan sempit dan sulit ditemukan
Mari kita pelajari dari teks Yunani asli Matius 7:12-14 menurut versi Society of Bible Literatur Greek New Testament:
12 Πάντα οὖν ὅσα ἐὰν θέλητε ἵνα ποιῶσιν ὑμῖν οἱ ἄνθρωποι, οὕτως καὶ ὑμεῖς ποιεῖτε αὐτοῖς· οὗτος γάρ ἐστιν ὁ νόμος καὶ οἱ προφῆται.
= Panta oun hosa ean thelēte hina poiōsin hymin hoi anthrōpoi, houtōs kai hymeis poieite autois; houtos gar estin ho nomos kai hoi prophētai.
= Jadi, apa pun yang kamu ingin orang lain lakukan kepadamu, lakukanlah hal yang sama kepada mereka. Sebab inilah inti dari Taurat dan Kitab Para Nabi.13 Εἰσέλθατε διὰ τῆς στενῆς πύλης· ὅτι πλατεῖα ἡ πύλη καὶ εὐρύχωρος ἡ ὁδὸς ἡ ἀπάγουσα εἰς τὴν ἀπώλειαν, καὶ πολλοί εἰσιν οἱ εἰσερχόμενοι δι’ αὐτῆς·
= Eiselthate dia tēs stenēs pylēs; hoti plateia hē pylē kai eurychōros hē hodos hē apagousa eis tēn apōleian, kai polloi eisin hoi eiserchomenoi di’ autēs;
= Masuklah lewat gerbang yang sempit. Sebab gerbang menuju kebinasaan itu lebar dan jalannya lapang, dan banyak orang yang melaluinya.14 ὅτι στενὴ ἡ πύλη καὶ τεθλιμμένη ἡ ὁδὸς ἡ ἀπάγουσα εἰς τὴν ζωήν, καὶ ὀλίγοι εἰσὶν οἱ εὑρίσκοντες αὐτήν.
= hoti stenē hē pylē kai tethlimmenē hē hodos hē apagousa eis tēn zōēn, kai oligoi eisin hoi heuriskontes autēn.
= Tetapi gerbang menuju kehidupan itu sempit, dan jalannya sesak serta sulit. Hanya sedikit orang yang menemukannya.
Saya teringat saat masih di bangku sekolah beberapa dekade lalu, saya memiliki hobby hiking, trekking dan mountain climbing, hingga bergabung dalam tim pecinta alam. Seringkali dalam perjalanan menuju puncak gunung, kami terpaksa harus melewati jalan setapak yang sangat sempit hanya cukup untuk satu orang saja. Terkadang malahan harus melewati jalan setapak dengan sisi kiri jurang dan sisi kanan adalah tebing tinggi yang mudah longsor. Jalan tersebut bertambah sulit lagi, jika berair, licin dan penuh batu-batuan. Kesulitan itu semua harus kami lewati terus tanpa mengeluh, bahkan seringkali kami bernyanyi bersama, sambil tetap fokus pada tujuan yaitu melihat sunrise di puncak gunung.
Sebetulnya kehidupan kita juga seperti itu, ada kalanya bagaikan kita sedang berjalan di jalan setapak sempit yang berbahaya, berair dan berbatu, namun harus terus kita jalani tanpa mengeluh, hanya bersyukur dan memohon kekuatan kepada Tuhan. Mengalami kerugian, kehilangan pekerjaan, dikhianati orang yang kita percayai, sakit penyakit berat, dan lain sebagainya yang rasanya menyesakkan dada dan begitu sulit dilalui. Jika hidup seperti itu dijalani dengan mengeluh, protes dan dendam, akan terasa jauh lebih menyedihkan lagi. Seperti tim pendakian kami yang bernyanyi menghilangkan kesusahan kami, demian hidup kita, Pujilah Tuhan di kala susah. Percayalah bahwa ada kuasa dalam pujian yang kita panjatkan kepada Tuhan. Ucapan syukur atas keadaan yang paling menyedihkan sekalipun, dengan berserah, bahwa segalanya adalah milik Tuhan yang bisa memberi buat kita dan bisa mengambilnya lagi. Pujian yang diucapkan di dalam keadaan yang sulit merupakan level yang sangat tinggi dalam kehidupan.
Sebagai orang Kristen, kita dituntut senantiasa menyangkal diri, memikul salib dan mengiring Tuhan Yesus ke mana pun ia mengarahkan kita. Ada saatnya kita diajar untuk berbuat kebaikan kepada orang yang telah menyakiti kita, bahkan menyebabkan hidup kita terasa ‘hancur’. Penyangkalan diri merupakan suatu perbuatan yang menyadari bahwa tubuh dan roh harus terpisah, seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan berikut:
Matius 26:41 [TB2-LAI©2023]
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah.”
Untuk dapat berbuat kebaikan bagi sesama di dalam keadaan yang serba baik, serba kecukupan, badan sehat, rasanya jauh lebih mudah dilakukan dibandingkan jika harus melakukannya dalam keadaan yang serba sulit, sedang sakit, habis ditipu orang, dijahati orang dsb. Orang mungkin akan menyatakan dirinya tidak sanggup berbuat baik kepada orang lain, karena merasa sebetulnya ialah yang seharusnya menerima kebaikan dan pertolongan dari orang lain.
2. Praktik Nyata Memasuki Gerbang Sempit dan Melewati Jalan Sesak Serta Sulit
Secara keseluruhan Matius 7:12-14, berisi ajaran Tuhan Yesus untuk berbuat kebaikan sama seperti kita ingin orang lain juga berbuat baik kepada kita, dan dikatakan-Nya bahwa orang yang berbuat itu, sangat sedikit jumlahnya. Namun, setelah kita mendengar firman Tuhan ini, diharapkan kita bisa mempraktikkan kehendak Tuhan Yesus untuk dapat berbuat baik bagi sesama dalam keadaan baik atau tidak baik. Mari kita lakukan beberapa hal berikut ini:
1. Memberi salam
Salam dalam adat istiadat Israel kuno, yang paling sering diwakili oleh kata shalom (שָׁלוֹם), bukanlah sapaan basa-basi, melainkan pernyataan teologis dan sosial yang mendalam. Secara harfiah, shalom berarti keutuhan atau kelengkapan, sehingga mengucapkannya berarti mendoakan kesejahteraan total, kesehatan, keamanan, dan keharmonisan relasi orang lain dengan Tuhan. Praktik salam ini diwujudkan melalui gestur fisik seperti ciuman (neshiqah), membungkuk, atau menyediakan air untuk mencuci kaki tamu, yang semuanya diatur oleh etiket sosial dan hierarki yang ketat.
Dalam budaya tersebut, salam sangat memperhatikan status sosial, di mana orang yang lebih muda wajib menyapa lebih dahulu. Tuhan Yesus juga menetapkan salam damai sebagai berkat yang nyata saat memasuki suatu rumah (Matius 10:12). Ucapan Shalom yang diucapkan Yesus setelah kebangkitan bukan lagi sekadar sapaan biasa, melainkan pemberian damai sejati dari Mesias (Yohanes 20:19).
Adat istiadat asli di negara mana pun di dunia, mengajar seseorang untuk senantiasa memberi salam satu sama lain jika bertemu. Jika kita ingin orang lain menyapamu dengan ramah, tersenyumlah terlebih dahulu, berikan salam yang hangat dan tidak berpura-pura. Artinya, jika orang yang kita sapa itu tidak membalas kebaikan kita, atau malah buang muka, jangan jadi kesal atau mengutukinya. Itu menyalahi ajaran Tuhan Yesus. Berikan salam yang lahir dari ketulusan, yaitu dengan motivasi mengasihi tanpa syarat. Setiap masuk ke suatu tempat, bertemu dengan orang lain berikan wajah sukacita dan ucapkan salam, sambil tersenyum. Hal sesederhana itu, jika diterima oleh orang yang mungkin sedang susah, akan dapat mengubah suasana hatinya. Berarti kita sudah membawa berkat bagi orang itu. Harapannya, orang itu akan kembali bersukacita dan membagikan juga sukacita tersebut kepada orang lain berikutnya.
Akan tetapi, kenyataannya tidak semudah itu memberi salam kepada semua orang. Seiring dengan banyaknya orang jahat yang menjadi penipu atau hipnotis, orang menjadi takut menerima salam dari orang yang tidak dikenalnya. Kebanyakan orang hanya akan memberi salam dan menerima salam dari orang yang sangat dekat dengannya. Bahkan ironisnya teman sudah lama tidak berjumpa pun akan dicurigai waktu ia memberi salam.
Jadi untuk memberi salam kepada orang lain, kita perlu hati yang tulus dan penuh kasih, serta memohon berkat Tuhan. Hal itu penting karena sebetulnya memberi salam itu bukan sekedar omongan tanpa makna, namun menyalurkan berkat Tuhan buat orang lain, melalui doa yang terkandung dalam Salam itu. Di saat memberi salam kepada orang lain dengan hati yang penuh ketulusan dalam kasih Kristus, kita sesungguhnya sedang memancarkan Terang Kasih Kristus bagi orang tersebut. Jadi itu adalah salah satu tugas kita dalam menjalankan Amanat Agung Tuhan.
2. Menolong orang lain (Pay it forward)
Jika kita saat ini berada dalam keadaan serba baik, hidup berkecukupan, memiliki badan sehat, hati bersukacita, maka sadarlah bahwa itu semua itu semata-mata adalah Anugerah Tuhan. Keadaan itu bukan otomatis terjadi dengan sendirinya atau terwujud karena hasil jerih payah kita. Pahamilah Allah bekerja setiap saat untuk memberikan kita keberhasilan dan untuk itu wajib kita ucapkan syukur atasnya. Allah yang memberi anugerah itu secara gratis, berkehendak bahwa kita juga membagi kebaikan-Nya tersebut juga bagi orang lain, sebagai wujud ucapan syukur kita.
Akan tetapi, tidak semua orang mengalami keadaan yang seperti itu. Jutaan manusia di dunia saat ini berada dalam keadaan yang sangat sulit, dalam penderitaan karena berbagai penyebab. Jika kita berada dalam keadaan yang baik saat ini, bersyukurlah dan ingatlah bahwa kita punya tugas untuk bantu meringankan orang lain yang sedang dalam keadaan sulit dan perlu pertolongan.
Prinsip hidup Pay it Forward adalah keinginan hati membagikan berkat, sukacita dan damai sejahtera yang telah kita terima dari Tuhan, bagi setiap orang lain yang membutuhkan. Itu sebetulnya merupakan tugas dari setiap anak Tuhan. Kita yang telah ditebus dengan darah Kristus di Kayu Salib, tidak boleh hanya menikmati keselamatan dan berkat Tuhan, namun harus bekerja demi meringankan beban orang lain dan membawa mereka kepada Kristus. Setiap anak Tuhan wajib memperhatikan orang lain yang sedang dalam keadaan kurang beruntung. Meringankan penderitaan orang yang sedang dalam kesusahan, menderita sakit penyakit, dirundung kemalangan, tertimpa musibah, terjerat persoalan, dan lain sebagainya, hendaknya senantiasa menjadi gaya hidup sepanjang hidup kita.
Mungkin membaca statement saya di atas, ada pembaca yang mengatakan, “”Biar orang lain saja yang melakukannya, itu tidak relevan dengan saya.” atau “Wah itu terlalu berat buat saya. Nanti saja kalau saya sudah siap” atau “Saya sibuk sekali tidak punya waktu untuk itu”, dsb. Mari sadari terlebih dahulu, bahwa Allah yang memberi, maka Allah juga sanggup mengambil semua dari kita lagi. Sehingga kita menyadari pula bahwa segala harta benda, tenaga, tubuh kita, waktu kita, sesungguhnya adalah milik Allah yang wajib kita gunakan sebesar-besarnya kepentingan Tuhan, bukan kepentingan kita. Jika kita sudah sadar akan hal itu, maka kita juga sepatutnya akan memiliki hati untuk berbuat pay it forward.
Ingatlah kisah Zakheus Pemungut Cukai dalam Lukas 19:1-10. Ia adalah Pemungut Cukai yang notabene dibenci orang karena mengambil pajak atau cukai dengan jumlah yang tidak benar, sehingga merugikan mereka. Dalam kisah itu, Allah menjamah hati Zakheus hingga ia merasa sudah diberi kesempatan kedua oleh-Nya. Sebagai ungkapan rasa syukurnya ia berkata: “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Perhatikan jawaban Tuhan Yesus terhadap perkataannya itu: “Hari ini telah terjadi keselamatan pada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab, Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.“
Dari sikap hati Zakheus itu kita ketahui bahwa orang bisa memberi tanpa pamrih dan rela berkorban, jika ia telah menyadari hidupnya berdosa, namun Allah memberinya kesempatan kedua, untuk hidup lebih baik lagi. Mari kita sadari bahwa hidup kita yang tadinya berdosa telah disucikan dengan darah Kristus, oleh karena itu sekarang kesempatan diberikan kepada kita untuk melakukan perbuatan yang benar di hadapan Allah, yaitu berbuat baik kepada orang lain.
Jika kita sulit terjun langsung berbuat baik untuk orang lain, minimal kita bisa dengan tulus menyisihkan sebagian dari harta kita untuk membantu orang yang berada dalam keadaan tidak baik. Sangat banyak Organisasi, Komunitas dan Yayasan Kemanusiaan lokal maupun internasional, yang tujuannya tulus membantu orang-orang yang berada dalam keadaan sulit. Organisasi kemanusiaan yang dikelola dengan baik sangat memerlukan uluran tangan dari banyak pihak, mengingat semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan di berbagai tempat di dunia. Setiap dari kita dapat mulai berpartisipasi untuk mendukung gerakan kemanusiaan bersama organisasi seperti itu. Buka search engine di HP anda untuk segera mencari Yayasan Kemanusiaan di mana anda bisa berpartisipasi. Perbuatan seperti itulah yang dikehendaki Allah dalam kita sebagai anak-Nya.
Namun, jika kita pun belum memiliki kemampuan untuk menolong orang seperti itu, maka itu bukan berarti kita diam saja dan tidak menolong orang. Bahkan sesungguhnya orang yang sedang dalam kesulitan pun, tetap memiliki kemampuan untuk bisa menolong orang. Salah satu cara adalah menjadi Pendoa Syafaat yang mendoakan orang lain yang juga mungkin sama kesulitannya dengan kita. Kita dapat merasakan kesulitan yang mereka rasakan sehingga selain kita berdoa untuk masalah kita, kita juga berdoa untuk orang lain tersebut. Allah Bapa di surga tidak akan tinggal diam melihat ketulusan hati seseorang seperti itu. Itulah salah satu wujud “pintu sempit” yang dimaksud Tuhan Yesus, di mana pintu itu sangat sulit ditemukan orang.
3. Membalas Kejahatan dengan Kebaikan
Dapat kita bayangkan betapa sulit dan beratnya mengampuni orang yang telah merugikan kita, apalagi yang mungkin telah mengambil suatu hal yang sangat berharga bagi kita dan keluarga kita. Bagaimana beratnya pergumulan jiwa untuk tidak membalas perbuatan jahat orang tersebut, melainkan mengasihinya. Sehingga mungkin perbuatan membalas kejahatan dengan kebaikan, menempati ‘level tertinggi’ dari makna “melewati jalan sesak untuk memasuki gerbang sempit menuju Kehidupan”. Perbuatan itu telah nyata dilakukan beberapa orang, dan suah pernah saya tulis dalam Seri Renungan Pagi yaitu dalam Edisi 27 (<– silakan di klik).
Ingatlah perbuatan Rasul Paulus dan Silas memuji Tuhan walaupun tersiksa di dalam penjara (Kis 16:19-40). Kuasa Surga turun atas mereka hingga berbuahkan Kepala Penjara dan seluruh keluarganya bertobat, menerima Tuhan Yesus serta dibaptis. Hingga akhirnya, Paulus dan Silas ‘dimuliakan’ oleh Allah hingga pembesar-pembesar kota datang minta maaf lalu membawa kedua rasul itu ke luar. Saya percaya itu juga bisa terjadi pada siapa saja yang menyangkali dirinya dan memuji Allah dalam keadaannya yang sulit. Sangkali diri dengan memohon kuasa dari Roh Kudus untuk memaafkan, mengampuni dan melupakan kejahatan orang kepada kita. Hiduplah memandang kepada Kristus saja, bukan kepada masalah kita. Lihatlah Kristus yang berjalan di depan kita, bukan masalah di belakang kita.
Berbuatlah baik sekalipun keadaan kita belum baik-baik saja. Lakukanlah sekarang bukan nanti, tunggu semua baik. Naikkan pujian dan penyembahan dalam keadaan apapun.
Mari kita perhatikan firman Tuhan Yesus berikut ini:
Lukas 6:27-36
27 “Tetapi, kepada kamu yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuh-musuhmu, berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu, 28 berkatilah mereka yang mengutuk kamu, berdoalah bagi mereka yang berbuat jahat terhadap kamu. 29 Siapa yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga pipimu yang lain. Siapa yang mengambil jubahmu, biarkanlah juga ia mengambil bajumu. 30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu. Janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
31 Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 32 Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang berdosa pun berbuat demikian. 34 Jikalau kamu membei pinjaman kepada orang, dan berharap akan menerima kembali, apakah jasamu? Orang berdosa pun memberi pinjaman kepada orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
35 Tetapi, kamu, kasihilah musuh-musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan apa pun. Upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Maha Tinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang jahat. 36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”
Ajaran Tuhan Yesus tersebut terdengar sangat “Anti Mainstream” di tengah dunia yang prinsipnya: “Aku harus jadi yang pertama”; “Semua untuk aku”; “Aku baik jika orang baik sama aku, tapi aku lebih jahat jika orang jahat sama aku”; “Tidak ada tempat buat yang lemah, yang kuat berkuasa”; “Aku adalah tuhan bagi diriku sendiri”, dsb.
Bagaimana bisa kita disuruh mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita? Bahkan Tuhan Yesus menyuruh kita memberkati mereka yang mengutuki kita, dan berdoa bagi mereka yang berbuat jahat terhadap kita. Ini kan tidak masuk akal untuk dilakukan seseorang. Betul, jika orang tersebut belum dilahirkan kembali dalam air dan roh.
Yohanes 3:5-8
5 Jawab Yesus: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan secara jasmani, bersifat jasmani, dan apa yang dilahirkan dari Roh, bersifat rohani. 7 Janganlah heran karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”
Inilah kunci yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang mengasihi musuh dan berbuat baik bagi orang yang membenci kita: “Dilahirkan dari air dan Roh“. Setelah kita bertobat, percaya kepada Kristus, kita dibaptis dengan air di Gereja, setelah itu Roh Kudus akan membaptis dengan api-Nya. Itulah syarat kelahiran baru dalam Tuhan. Setiap orang tidak akan sanggup mengasihi musuh-musuhnya apalagi berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat baginya, jika tidak dilahirkan kembali. Lahir kembali artinya kita diberi ‘tubuh’ yang baru, di mana keinginan hati kita bukan lagi keinginan duniawi, melainkan melaksanakan seluruh kehendak Allah. Bagaimana kita tahu kita sudah dipenuhi oleh Roh Kudus dan menjadi ciptaan yang baru, atau belum? Perhatikan semua dari buahnya:
Galatia 5:16-26
16 Maksudku, hiduplah oleh Roh, dan kamu tidak akan menuruti keinginan daging. 17 Sebab, keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, karena keduanya bertentangan, sehingga kamu tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. 18 Namun, jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.
19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu:
- percabulan,
- kecemaran,
- hawa nafsu,
- 20 penyembahan berhala,
- sihir,
- perseteruan,
- perselisihan,
- iri hati,
- kemarahan,
- kepentingan diri sendiri,
- percekcokan,
- perpecahan,
- 21 kedengkian,
- bermabuk-mabukan,
- pesta pora dan sebagainya.
Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu, seperti yang telah kubuat dahulu, bahwa siapa saja yang melakukan hal-hal yang demikian, tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
22 Namun, buah Roh ialah
- kasih,
- sukacita,
- damai sejahtera,
- kesabaran,
- kemurahan,
- kebaikan,
- kesetiaan,
- 23 kelemahlembutan, dan
- penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
24 Mereka yang menjadi milik Kristus Yesus, telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, 26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.
Jadi kesimpulan secara keseluruhan, seseorang dapat berjalan di jalan yang sesak dan sulit, untuk memasuki gerbang yang sempit, wajib dilahirkan kembali dalam air dan Roh. Dengan hidup di dalam pimpinan Roh Kudus, maka seseorang baru akan sanggup menemukan dan melewati jalan tersebut. Itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus di dalam hidup kita.
Apa yang perlu kita lakukan untuk menuju ke sana? Saat ini hentikan seluruh aktivitas Anda, duduklah diam di hadapan Allah, katakan doa sebagai berikut:
Tuhan Yesus Kristus, saya sekarang datang di hadapan takhta-Mu yang Agung dan Mulia.
Saya datang membawa seluruh hidup saya dengan segala kesalahan dan dosa yang telah saya perbuat selama ini. Saya bersujud dan memohon agar Tuhan berkenan mengampuni segala kesalahan dan dosa saya tersebut. Bersama ini saya mengakui Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya pribadi dan satu satunya Raja dalam kehidupan saya.
Mohon Tuhan berkenan membasuh saya dengan darah-Mu, agar segala dosa saya dihapuskan dan saya dapat dilahirkan kembali serta berkenan kepada-Mu. Ajarlah saya untuk membagikan kebaikan yang telah Tuhan anugerahkan kepada saya ini, bagi orang lain yang membutuhkannya.
Dalam Nama Tuhan Yesus saya berdoa.
Amin.
