Edisi 20 – “Tuhan Yesus dan Hukum taurat” Part 1 – Seri Renungan Pagi

By Febrian 04 Oktober 2026 05:15 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Edisi Sebelumnya, telah kita bahasa mengenai bagaimana Allah mengajar kita kunci sukses berhasil menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Dalam kesempatan hari ini, kita bersama akan merenungkan firman Tuhan mengenai Bahagianya Orang Yang Kesukaannya Ialah Taurat TUHAN. Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
I. Pengantar
Dalam rangkaian Khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengajar para murid untuk menyadari pentingnya hukum Taurat dalam kehidupan seseorang. Tuhan Yesus memberitahu bahwa Ia datang samasekali bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan menggenapinya. Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa akan ada hukuman atau sanksi bagi mereka yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekecil apapun itu, apalagi mengajarkannya demikian kepada orang lain. Jadi perintah bagi semua orang adalah melaksanakan hukum taurat dengan taat dan setia.
II. Tuhan Yesus dan Hukum Taurat
Setelah meyakinkan para murid bahwa mereka adalah Garam Dunia dan Terang Dunia, maka Tuhan Yesus melanjutkan dengan peringatan untuk memberi tempat khusus pada Hukum Taurat dalam hati mereka, senantiasa melaksanakannya dalam kehidupan, serta mengajarkannya kepada orang lain. Hal-hal itu merupakan pekerjaan yang selalu dilakukan Tuhan Yesus selama di bumi, yaitu mengajar Taurat di Bait Allah kepada siapa yang mau mendengarnya.
1. Tuhan Yesus mengajar hukum Taurat di bait Suci Allah
Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa mengajar di Bait Allah merupakan bagian penting dari kegiatan Tuhan Yesus, khususnya pada masa pelayanan-Nya di Yerusalem menjelang penyaliban. Lukas 19:47 dan Lukas 21:37 menyatakan bahwa Ia mengajar di Bait Allah setiap hari, sedangkan Markus 14:49 mencatat bahwa Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia setiap hari mengajar di Bait Allah. Yohanes 18:20 juga menyatakan bahwa Ia selalu mengajar secara terbuka di sinagoge dan Bait Allah. Dalam pengajaran tersebut, Tuhan Yesus berulang kali membahas Hukum Musa, hukum Taurat, Kitab Suci, dan bagaimana hukum Allah harus dipahami dan dilakukan dengan benar, sebagaimana terlihat jelas dalam Yohanes 7:14-24, Yohanes 8:2-11, dan berbagai pengajaran-Nya dalam Matius 5-7 serta Lukas 20.
2. Tuhan Yesus bukan meniadakan, melainkan menggenapi hukum Taurat
Tuhan Yesus menegaskan kepada orang banyak, bahwa Ia datang ke dalam dunia ini, sama sekali bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya:
Matius 5:17-20
17 “Janganlah menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf terkecil atau satu titik pun tidak akan lenyap dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan diberi tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan diberi tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.
20 Aku berkata kepadamu: Jika hidupmu tidak lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Pernyataan tersebut menjadi semakin jelas apabila diperhatikan dalam keseluruhan pelayanan Tuhan Yesus. Penggenapan hukum Taurat bukan berarti Tuhan Yesus menghapus atau membatalkan hukum yang telah diberikan Allah melalui Musa. Sebaliknya, Tuhan Yesus menunjukkan maksud Allah yang sesungguhnya dan membawa hukum tersebut kepada kepenuhannya.
Hal ini terlihat dari pola pengajaran Tuhan Yesus, di mana Ia tidak hanya mengajar hukum Taurat di Bait Allah, tetapi juga menjelaskan bagaimana hukum tersebut harus dipahami dan dilakukan dalam kehidupan manusia. Dalam beberapa kesempatan bahkan Tuhan Yesus mengkritisi cara para hidup ahli Taurat dan pemahaman orang Farisi tentang hukum Allah, di mana bukan karena hukumnya yang salah, melainkan karena penerapannya bergeser dari tujuan yang seharusnya.
Contoh:
Matius 5:21-22
21 “Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.22 Namun, Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa larangan membunuh dalam Taurat sudah tidak berlaku. Ia justru menunjukkan bahwa kehendak Allah terhadap manusia jauh lebih dalam daripada sekadar tidak melakukan pembunuhan secara fisik. Dosa yang menghasilkan pembunuhan dapat berawal dari kemarahan dan kebencian yang tersimpan di dalam hati.
Karena itu, perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 5:17-20 harus dibaca bersama dengan seluruh pengajaran-Nya setelah ayat tersebut. Setelah menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi hukum Taurat, Tuhan Yesus kemudian berulang kali menggunakan pola “Kamu telah mendengar … tetapi Aku berkata kepadamu …” dalam Matius 5:21, 27, 33, 38, dan 43. Melalui pola tersebut, Tuhan Yesus memberi penjelasan lebih dalam mengenai kehendak Allah, yang menjadi dasar hukum Taurat tersebut.
3. Tuhan Yesus mau setiap orang menjalankan firman Allah dengan motivasi yang benar
Matius 5:20
20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Perlu kita perhatikan firman Tuhan Yesus mengenai “kebenaran” dalam ayat di atas, di mana sebetulnya Ia bukan menuntut murid-murid harus menjalani ritual keagamaan lebih banyak daripada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, melainkan memiliki kualitas kebenaran yang jauh lebih baik. Kualitas kebenaran yang dikehendaki Tuhan Yesus, adalah hidup benar dengan ketulusan hati dalam melaksanakan segala perintah Allah, bukan sekadar patuh secara lahiriah.
Prinsip tersebut kemudian terlihat lebih jelas dalam Matius 22:34-40, di mana saat itu ketika seorang ahli Taurat mau mencobai Tuhan Yesus, setelah mereka melihat Ia membungkam mulut orang-orang Saduki. Ia menanyakan perintah mana yang terutama dalam Taurat, berharap Tuhan Yesus terjebak dengan menunjukkan satu perintah, sehingga dapat diserang bahwa Ia merendahkan perintah yang lainnya. Namun, tidak disangka-sangka orang banyak, bukannya terjebak, Tuhan Yesus justru merangkum keseluruhan hukum tersebut menjadi firman Tuhan “Hukum Kasih Allah”:
Matius 22:37-40
37 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Dengan demikian, Tuhan Yesus sekaligus memperlihatkan, bahwa hukum Taurat tidak boleh dipahami sebagai kumpulan peraturan yang berdiri sendiri-sendiri. Seluruhnya saling berhubungan erat, yang mempunyai pusat utama, yaitu kasih manusia kepada Allah dan kasih manusia kepada sesamanya. Ini adalah kunci penting dalam memahami kata “menggenapi” dalam Matius 5:17 di atas. Pada saat itu, Tuhan Yesus menyatakan dirinya telah mewujudkan kehendak Allah secara sempurna, yang merupakan tujuan utama dari hukum Taurat.
Jadi telah jelas sekarang, bahwa terdapat perbedaan mendasar antara meniadakan hukum Taurat dan menggenapi-nya . Meniadakan Hukum Taurat berarti menganggap hukum Taurat itu sudah obsolete atau sudah tidak memiliki pengaruh sehingga tidak perlu ditaati lagi. Sedangkan Menggenapi berarti membuktikan bahwa hukum Taurat betul-betul bisa seluruhnya dilaksanakan oleh seorang manusia, persis seperti apa yang dikehendaki Allah yang membuatnya. Tuhan Yesus satu-satunya manusia yang kudus dari lahir hingga naik ke Surga, serta taat melaksanakan seluruh perintah Allah Bapa-Nya dengan dasar karena mengasihi-Nya dan mengasihi manusia ciptaan-Nya, sehingga Ia layak disebut “telah menggenapi” seluruh isi Hukum Taurat dengan sempurna.
Tuhan Yesus juga mengatakan dalam Matius 5:19, bahwa setiap pengikut-Nya harus “melakukan dan mengajarkan” perintah-perintah Allah. Pada saat yang sama Ia juga menentang praktik keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi, karena menjalankan agama secara lahiriah belaka, bukan untuk melaksanakannya sesuai inti hukum tersebut, yaitu melaksanakan kehendak Allah. Mereka menjalankan hukum Taurat dengan motivasi-motivasi untuk kepentingan diri sendiri dan bukan untuk kemuliaan Allah.
4. Hukum Taurat diteruskan disempurnakan menjadi Hukum Kasih Kristus
Lukas 16:16-17
16 Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes. Sejak itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang memasukinya dengan paksa. 17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.
Kita wajib memahami Lukas 16:16-17 lebih dalam lagi untuk dapat memahami hubungan antara Hukum Taurat dengan pengajaran Tuhan Yesus. Sekilas dalam ayat 16 seolah-olah Tuhan Yesus mengatakan bahwa Hukum Taurat berlaku “hanya” sampai zaman Yohanes Pembaptis. Kesimpulan pembaca dapat menjadi keliru jika ayat 16 dipisahkan dari ayat 17, di mana terdapat penegasan yang sangat kuat, yaitu “Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.”
Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan Hukum Taurat menjadi oblsolete ketika Yohanes Pembaptis datang, melainkan, bahwa kedatangan Yohanes Pembaptis menandai peralihan zaman dalam sejarah manusia. Pada zaman itu banyak orang yang menantikan Mesias turun dari Surga membawa keselamatan bagi mereka atas para penjajah. Sebetulnya melalui firman Tuhan di atas, mereka sedang mau disadarkan, bahwa Mesias telah hadir di tengah-tengah umat manusia dan sedang berbicara kepada mereka saat itu juga.
Seperti telah dibahas sebelumnya, kata “berlaku” dalam Lukas 6:16, bermakna era penggenapan rencana Allah telah datang, tidak ada hubungannya dengan ‘pembatalan’ hukum Taurat. Tuhan Yesus Kristus yang adalah manusia kudus, telah menggenapi seluruh hukum Taurat, dengan motivasi yang kudus yaitu karena mengasihi Allah Bapa-Nya dan mengasihi ciptaan-Nya agar tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Dengan demikian, makna firman Tuhan dalam Lukas 16:16-17 dan Matius 5:17-18 justru saling memperkuat, di mana sejak Yohanes Pembaptis, dimulai era baru menuju Hukum Kasih Kristus, yang sama sekali bukan membatalkan Hukum Taurat, melainkan menjelaskan makna sesungguhnya dan cara penerapannya.
Tuhan Yesus menyampaikan apa yang disebut-Nya sebagai “perintah baru” kepada murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia disalibkan:
Yohanes 13:34-35
34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”Silakan lihat firman Tuhan dalam hukum Taurat yang ditetapkan Allah terlebih dahulu:
Imamat 19:17-18
17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu. Engkau harus berterus terang menegur sesamamu dan tidak mendatangkan dosa atas dirimu karena dia. 18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah TUHAN.
Jadi jelas sekarang, mengapa Tuhan Yesus mengatakan “memberi perintah baru”, yaitu karena Ia sebetulnya sedang menetapkan suatu ‘standar baru’ untuk menjalankan kasih terhadap sesama kita, yaitu bukan lagi mengasihi ‘seperti diri sendiri’ seperti dalam Imamat 19:18, melainkan mengasihi itu dengan cara yang sama seperti Tuhan Yesus telah mengasihi kita.
Perhatikan bagi kita: wajib mengetahui seperti apa Tuhan Yesus mengasihi kita, itulah standar minimum kasih yang harus kita miliki.
Perintah baru Tuhan Yesus, yaitu saling mengasihi, “sama seperti Aku telah mengasihi kamu.” Jadi yang sesungguhnya terjadi di sini, adalah bahwa Hukum Taurat telah dibawa Tuhan Yesus kepada tingkat yang lebih dalam lagi, di mana kasih bukan lagi hanya diukur berdasarkan bagaimana seseorang mengasihi dirinya sendiri, tetapi berdasarkan kasih yang telah Tuhan Yesus berikan buat manusia. Sungguh berbeda dimensi pemikiran, antara manusia dengan Allah, berbeda tinggi bagaikan bumi dengan langit.
Akan tetapi jangan lupa tujuan Tuhan Yesus memberi perintah baru tersebut dengan melihat firman-Nya:
Yohanes 13:35
35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Tuhan Yesus mau setiap murid-Nya saling mengasihi, karena setiap orang di segala tempat dan segala zaman yang menyaksikan perbuatan itu, akan mengetahui bahwa orang itu adalah murid Tuhan Yesus. Mengapa demikian? Tuhan Yesus sebetulnya sedang memberitahu, bahwa zaman itu dan di masa yang akan datang sedang kehilangan kasih dalam perbuatan setiap orang.
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi
Yohanes 10:27
Amin.
