Edisi 32 – “Pengabulan Doa” – Seri Renungan Pagi

by Febrian 29 Oktober 2026 04:35 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan sebelumnya telah kita bahas mengenai Menjaga hal yang kudus dan berharga, maka sekarang kita akan membahas mengenai “Pengabulan Doa”. Semoga kita memperoleh hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati. 


Matius 7:7-11 [TB2-LAI©2023]

7 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Lukas 11:9-13 [TB2-LAI©2023]

9 Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 10 Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; setiap orang yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu akan dibukakan. 11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberinya ular sebagai ganti ikan? 12 Atau, jika ia minta telur, akan memberinya kalajengking? 13 Jadi, jika kamu yangjahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” 

1 Yohanes 5:14-15 [TB2-LAI©2023]

14 Inilah keberanian kita untuk datang kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadanya menurut kehendak-Nya.
15 Jikalau kita tahu Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.


I. Pengantar

Apakah Bapak/Ibu Saudara/i pernah merasakan kecewa, sedih, galau, bingung, atau pasrah, karena mengalami masalah berat, sudah berdoa berkali-kali namun doa itu bagaikan mentok di langit-langit ? Bahkan, mungkin kita sudah minta didoakan oleh orangtua kita, Pendeta, Hamba Tuhan, atau teman kita. Namun, hingga saat ini rasanya Tuhan sudah lupa sama kita. Masalah kita tetap ada, persoalan kita tetap ada. Jadi, apa sebetulnya yang terjadi di sini? Apakah betul Tuhan tidak mau mendengar kita lagi? 

Masih dalam rangkaian khotbah-Nya di Bukit, Tuhan Yesus melanjutkan ajaran-Nya tentang berdoa, seperti yang telah kita bahas dalam edisi 27 – “Menyingkap Rahasia Doa Yang Berkenan Kepada Allah. Pada khotbahnya kali ini, Tuhan Yesus menyoroti pengabulan doa oleh Allah Bapa di surga. Sebagaimana orangtua yang  jahat saja tahu memberi yang baik bagi anak-anaknya, apatah lagi Allah Bapa di surga pasti memberi yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

Jadi, jika janji Tuhan seperti itu, mengapa masih banyak orang yang berdoa dan tidak dijawab? Mari terus kita ikuti renungan ini, untuk mendapatkan jawabannya.


II. Allah yang Mengabulkan Doa

1. Sikap Hati dalam Berdoa

Berdoa adalah aktivitas rohani yang sejak kecil sudah diajarkan orang tua dan guru untuk senantiasa dilakukan setiap orang. Tua-muda, laki-laki maupun perempuan, besar maupun kecil, miskin maupun kaya, orang terpandang maupun orang biasa, hamba Tuhan maupun jemaat biasa, semuanya telah ‘terbiasa’ memanjatkan doa kepada Tuhan. Doa telah menjadi bagian penting dari keseharian kita. Melalui doa, kita menyampaikan permohonan, mengungkapkan rasa syukur, mengakui dosa, menyatakan penyesalan, dan mencurahkan isi hati kepada Allah. Namun, jika kita renungkan secara mendalam, betulkah setiap perkataan yang diucapkan seseorang kepada Allah dapat disebut doa?

Yakobus 4:2-3[TB2-LAI©2023]

2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh. Kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. 3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

Orang-orang yang ditegur Rasul Yakobus berusaha memenuhi keinginannya sendiri, bahkan sampai bertengkar dan berkelahi, tetapi mereka tidak memperoleh apa yang diinginkan karena tidak berdoa kepada Allah. Mereka mengandalkan usaha dan cara sendiri tanpa membawa keinginan mereka kepada Allah. Selanjutnya, Yakobus 4:3 menjelaskan bahwa berdoa saja tidak menjamin permohonan dikabulkan. Mereka yang berdoa dengan tujuan memuaskan hawa nafsu atau kepentingan pribadi juga tidak menerima apa yang diminta. Dengan demikian, Rasul Yakobus menegur dua sikap yang keliru: mengejar keinginan tanpa berdoa dan berdoa dengan motivasi yang egois.

Kedua ayat ini mengajarkan bahwa orang percaya perlu membawa keinginannya kepada Allah dalam doa sekaligus memeriksa motivasi di balik permohonannya. Doa bukan sekadar sarana untuk memperoleh apa yang diinginkan, melainkan bagian dari hubungan manusia dengan Allah. Karena itu, ketika berdoa, kita perlu bertanya apakah permohonan kita mencerminkan kebutuhan yang wajar dan selaras dengan kehendak Allah atau hanya bertujuan memuaskan keinginan pribadi. Ayat-ayat ini tidak berarti setiap doa yang belum dikabulkan pasti salah, tetapi menegaskan bahwa kita perlu berdoa dengan motivasi yang benar dan tidak menjadikan Allah sebagai alat untuk memenuhi hawa nafsu kita.

Yesaya 59:1-3 [TB2-LAI©2023]

1 Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. 2 Akan tetapi, kejahatanmulah yang memisahkan kamu dari Allahmu, dan dosamulah yang membuat wajah-Nya tersembunyi dari kamu, sehingga Ia tidak mendengar. 3 Sebab, tanganmu cemar oleh darah nall dan jarimu oleh kejahatan; lidahmu mengucapkan dusta, mulutmu komat-kamit penuh kecurangan.

Yesaya 59:1–3 menjelaskan bahwa TUHAN memiliki kuasa untuk menyelamatkan dan kemampuan untuk mendengar seruan manusia. Masalahnya terletak pada dosa bangsa Israel yang memisahkan mereka dari Allah dan menyebabkan Allah tidak mendengarkan mereka. Ayat 3 menunjukkan bentuk kejahatan tersebut, yaitu kekerasan, perbuatan jahat, dusta, dan kecurangan. Jadi, ayat ini menegaskan bahwa dosa yang terus dilakukan dapat merusak hubungan manusia dengan Allah dan menghalangi doanya.

Dalam konteks sikap hati dalam berdoa, ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mengabaikan kejahatan dalam hidupnya sambil mengharapkan hubungan yang baik dengan Allah. Doa perlu disertai kesediaan untuk meninggalkan dosa dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, ayat ini berbicara secara khusus tentang dosa bangsa Israel dalam konteks teguran Nabi Yesaya, sehingga tidak tepat jika setiap doa yang belum dijawab langsung dianggap sebagai bukti bahwa orang tersebut sedang berbuat dosa.

Pengkhotbah 4:17-5:1 [TB2-LAI©2023]

4:17 Jagalah langkahmu ketika engkau berjalan ke Rumah Allah! Mendekat untuk mendengar lebih baik daripada mempersembahkan kurban yang dilakukan orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu mereka berbuat jahat.

5:1 Janganlah terburu-buru membuka mulutmu, dan janganlah hatimu tergesa-gesa mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di surga dan engkau di bumi. Sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit saja.

Pengkhotbah 4:17–5:1 mengajarkan pentingnya sikap hormat dan kesungguhan ketika seseorang datang menghadap Allah. Ayat 4:17 menekankan bahwa mendengarkan firman Allah lebih baik daripada mempersembahkan kurban tanpa menyadari bahwa perbuatan sendiri jahat. Ayat 5:1 mengingatkan agar manusia tidak tergesa-gesa mengucapkan perkataan di hadapan Allah. Manusia perlu menyadari kedudukan Allah yang Mahatinggi dan keterbatasan dirinya sehingga ia harus berbicara dengan hormat dan penuh pertimbangan.

Dalam konteks sikap hati ketika berdoa, bagian ini mengajarkan bahwa doa tidak boleh menjadi sekadar rangkaian kata yang diucapkan tanpa kesungguhan. Seseorang perlu datang kepada Allah dengan kerendahan hati, bersedia mendengarkan firman-Nya, dan mempertimbangkan perkataan yang disampaikannya. Banyaknya kata-kata tidak dengan sendirinya menunjukkan kesalehan atau membuat doa lebih berkenan kepada Allah. Sikap hati yang hormat dan kesediaan untuk menaati firman-Nya merupakan bagian penting dari kehidupan doa.

Karena itu, pembahasan mengenai doa tidak cukup berhenti pada tindakan mengucapkan kata-kata kepada Allah. Kita juga perlu memperhatikan maksud, isi, dan sikap hati orang yang berdoa. Seseorang dapat memohon pertolongan karena sungguh-sungguh bergantung kepada Allah. Orang lain dapat mengucapkan syukur atas berkat yang diterimanya. Ada pula orang yang datang kepada Allah dengan pengakuan dosa dan kerendahan hati. Sebaliknya, seseorang dapat berdoa untuk mencari pujian manusia, seperti yang diperingatkan Tuhan Yesus dalam Matius 6:5.

Dalam Matius 6:5–8, Tuhan Yesus mengajarkan agar murid-murid-Nya tidak berdoa untuk memperoleh pengakuan manusia dan tidak menganggap banyaknya kata-kata sebagai jaminan bahwa doa mereka akan didengar. Allah mengetahui kebutuhan manusia sebelum mereka meminta kepada-Nya (Matius 6:8). Dengan demikian, doa perlu lahir dari hubungan yang sungguh-sungguh dengan Allah, bukan dari keinginan untuk mempertontonkan kesalehan atau sekadar mengucapkan kata-kata keagamaan.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan ialah: Apakah kita berdoa karena sungguh-sungguh mencari Allah, atau karena doa telah menjadi kebiasaan tanpa kesungguhan hati? Apakah kita datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk menaati firman-Nya, atau hanya ingin agar Allah memenuhi keinginan kita?

Sikap hati sangat penting dalam kehidupan doa. Allah tidak hanya mengetahui kata-kata yang kita ucapkan, tetapi juga mengetahui isi hati dan motivasi kita. Oleh sebab itu, setiap orang percaya perlu belajar berdoa dengan tulus, penuh hormat, jujur, dan sesuai dengan kehendak Allah. Doa yang benar mengarahkan hati manusia kepada Allah dan membentuk kehidupan yang semakin taat kepada-Nya.

2. Doa yang Dikabulkan oleh Allah

Setiap orang yang memanjatkan doa tentu berharap akan menerima jawaban dari Tuhan. Jika kita melihat Matius 7 dan Lukas 11 di atas, Tuhan Yesus berfirman bahwa setiap orang yang membutuhkan sesuatu harus berdoa, meminta, mencari, dan mengetuk, Sebab, setiap orang yang meminta, menerima; setiap orang yang mencari, mendapat; yang mengetuk, baginya pintu akan dibukakan. Itu adalah jaminan dari Tuhan Yesus. Bahkan, Tuhan menambahkan bahwa tidak mungkin Allah Bapa di surga yang maha baik tidak mengabulkan permintaan seseorang.

Saya punya pengalaman 28 tahun yang lalu. Ketika itu, saya dan pasangan baru saja bertunangan. Kami merencanakan akan menikah dua tahun kemudian. Selama itu, kami mempersiapkan berbagai hal untuk pernikahan. Salah satunya adalah gedung tempat kami akan mengadakan resepsi pernikahan. Setelah melakukan survei ke berbagai tempat, kami memutuskan untuk memesan sebuah gedung serbaguna di pusat ibu kota yang sangat mudah dijangkau dari berbagai tempat. Harga dan bentuk ruangannya sudah cocok sehingga kami tinggal melakukan pemesanan. Namun, ketika kami datang ke meja sekretariat di kantor pengelola gedung tersebut, petugas di sana mengatakan bahwa gedung itu akan segera direnovasi sehingga tidak bisa dipakai. Berita itu sangat mengejutkan kami, mengingat bahwa gedung tersebut merupakan pilihan terbaik kami dari segala sisi.

Kebetulan, gedung serbaguna tersebut berada di jalan yang selalu kami lalui setiap kali saya dan pasangan pulang setelah kebaktian hari Minggu. Setiap kali melewati gedung itu, kami sengaja memperlambat kendaraan dan berdoa di dalam hati, memohon agar Tuhan mengizinkan kami menikah di situ. Waktu berlalu. Minggu demi minggu, setiap kali melewati tempat itu, kami berdoa dengan doa yang sama. Namun, setelah beberapa bulan, kami berdua mulai bertanya-tanya mengapa tidak ada tanda-tanda pembangunan renovasi gedung seperti yang dikatakan petugas sekretariat tempo hari. Kami pun berinisiatif pergi kembali ke sekretariat dan menanyakan apakah pembangunan tersebut tidak jadi dilaksanakan. Ternyata benar bahwa renovasi itu ditunda. Kami langsung menyatakan niat untuk mendaftar saat itu juga. Bulan pelaksanaan pernikahan sudah kami siapkan jauh-jauh hari, tetapi tanggalnya mengikuti waktu ruangan siap dipesan. Sungguh ajaib, tanggal yang dapat kami pesan ternyata bertepatan dengan ulang tahun pasangan saya. Kami berdua sangat gembira dan mengabari seluruh keluarga. Ternyata, semuanya senang dan siap mendukung kami.

Barangkali ada di antara kita yang mengatakan bahwa pembatalan renovasi itu hanyalah suatu kebetulan. Namun, bagi saya dan pasangan, kejadian itu merupakan anugerah yang sangat besar, apalagi karena kami sekaligus dapat merayakan hari ulang tahun pasangan saya. Kami berdua percaya bahwa doa kami dikabulkan Tuhan. Ketika berdoa, kami hanya memohon dengan penuh harap. Namun, dalam hati yang paling dalam, kami percaya bahwa Tuhan berkuasa mengubah apa pun. Doa yang diucapkan dengan penuh kesungguhan dan tanpa keraguan sangat besar kuasanya.

Mari kita baca firman Tuhan berikut ini:

Yakobus 5:13-18 [TB2-LAI©2023]

13 Kalau ada seseorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seseorang yang bergembira, baiklah ia menyanyikan pujian! 14 Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. 15 Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia. Jika ia telah berbuat dosa, dosanya itu akan diampuni. 16 Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya. 17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. 18 Lalu ia berdoa lagi dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.

Saya hendak menyoroti Yakobus 5:16b dalam bahasa aslinya dan terjemahan bebasnya: πολὺ ἰσχύει δέησις δικαίου ἐνεργουμένη = polý ischýei déisis dikaíou energouméni = Doa yang benar akan sangat ampuh ketika diwujudkan dalam tindakan. “Doa orang benar” berarti doa orang yang hidup dalam kebenaran Allah. Jika orang itu mengimani bahwa permohonannya akan dikabulkan Allah, maka doanya sangat besar kuasanya dan menghasilkan sesuatu yang nyata.

Saya dan pasangan sering bergumul dalam doa terkait berbagai hal sebelum dan sesudah menikah. Salah satunya adalah kisah yang tadi saya ceritakan, tetapi masih banyak doa lain yang kami panjatkan dalam pergumulan yang rasanya ‘tidak berujung’. Namun, Tuhan Yesus adalah Allah yang Maha Baik dan tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya. Harapan kami tidak sia-sia, dan semua berakhir dengan sukacita. Semua indah pada waktunya, seperti dikatakan dalam firman Tuhan berikut ini:

Amsal 10:28

Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.

Pengkhotbah 3:1,11

1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Karena itu, marilah kita berdoa dengan iman, menjaga kemurnian hati, dan hidup dalam ketaatan kepada firman Allah. Kita dapat menyerahkan setiap permohonan kepada-Nya dengan penuh harap, sambil percaya bahwa hikmat dan waktu Allah jauh melampaui pemahaman kita.


III. Renungan

  1. Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa Bapa di surga mendengar dan menjawab doa saya, sekalipun jawaban-Nya tidak sesuai dengan keinginan saya?
  2. Apakah saya tekun meminta, mencari, dan mengetuk dalam doa, atau mudah menyerah ketika jawaban Tuhan belum saya terima?
  3. Apakah permintaan saya dalam doa sesuai dengan kehendak Allah dan membawa kebaikan bagi kehidupan saya serta sesama?
  4. Apakah saya memahami bahwa Bapa di surga mengetahui apa yang baik bagi anak-anak-Nya, sebagaimana orang tua mengetahui cara memberikan pemberian yang baik kepada anak-anaknya?
  5. Jika saya mengharapkan Allah memberikan yang baik kepada saya, apakah saya juga memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan oleh mereka?

IV. Doa

Tuhan Yesus terima kasih atas segala berkatmu hari ini. Firman-Mu mengajar kami untuk menerima segala jawaban doa kami dengan iman. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Matius 7:7 (TB)

Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *