
Edisi 2 “Sejarah Pekabaran Injil: Kabar Keselamatan Allah Diberitakan (Part 2)” – Seri Kitab Injil
By Febrian – 09 Agustus 2026 04:00 AM
Shalom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam edisi sebelumnya, kita telah membahas pelayanan pekabaran Injil oleh para Rasul Tuhan Yesus ke Yerusalem, ke Yudea, ke Samaria, hingga ke berbagai tempat di dunia (ujung bumi). Oleh karena itu dalam kesempatan ini, kita akan melanjutkan pembahasan pekabaran Injil tersebut, hingga mulainya penyampaian Kabar Baik Injil secara tertulis.
Semoga Tuhan Yesus Kristus memberikan kita hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami dengan jelas. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.
Sejarah Pekabaran Injil:
Kabar Keselamatan Allah Diberitakan (Part 2)(Perjalanan Pekabaran Injil dari Yerusalem ke Dunia Romawi)
Kata Pengantar dari Part 1
Pada tahun-tahun awal setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Surga, kesaksian mengenai kehidupan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan-Nya terutama disampaikan secara lisan oleh para rasul dan orang-orang yang menjadi saksi mata berbagai peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus Kristus.
Kita tidak memiliki bukti yang cukup untuk memastikan adanya Injil tertulis yang berasal dari dua dekade pertama setelah peristiwa tersebut. Beberapa tulisan Kristen yang kemudian terpelihara justru berasal dari lingkungan jemaat dan mendahului penulisan Injil, terutama surat-surat Rasul Paulus yang mulai ditulis sekitar pertengahan abad pertama.
Berdasarkan pendapat mayoritas ahli Perjanjian Baru, Injil Markus kemungkinan merupakan Injil kanonik yang paling awal dan biasanya ditempatkan sekitar tahun 65–70 M, atau kira-kira tiga hingga empat dekade setelah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, proses peralihan dari kesaksian lisan menuju penulisan Injil berlangsung secara bertahap, seiring dengan perkembangan dan penyebaran jemaat Kristen di berbagai wilayah.
III. Pekabaran Injil hingga ke Ujung Bumi (Lanjutan dari Part 1)
Berikut ini akan sekilas kita bahas perkembangan pekabaran Injil di berbagai daerah pelayanan para rasul:
1. Fenisia, Siprus, dan Antiokhia
Kisah Para Rasul 11:19-30 mencatat bahwa orang-orang percaya dari Yerusalem yang tersebar karena penganiayaan pergi sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia.
Antiokhia kemudian menjadi salah satu pusat Kekristenan yang paling penting. Di kota inilah para murid Tuhan Yesus untuk pertama kalinya disebut orang Kristen (Kisah Para Rasul 11:26). Kota ini mempunyai posisi yang sangat strategis karena merupakan kota besar dalam jaringan perdagangan dan perjalanan Kekaisaran Romawi. Dari kota inilah kemudian Rasul Paulus dan Barnabas berangkat melakukan perjalanan misi.
2. Siprus dan Asia Kecil
Sekitar pertengahan abad pertama, Rasul Paulus dan Barnabas melakukan perjalanan misi yang pertama. Mereka pergi ke Siprus dan kemudian menuju wilayah Asia Kecil, yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah Turki (Kisah Para Rasul 13-14).
| Wilayah | Peranan |
|---|---|
| Siprus | Tempat pemberitaan Injil dalam perjalanan misi pertama Rasul Paulus dan Barnabas. |
| Perga | Salah satu kota yang dikunjungi dalam perjalanan menuju wilayah pedalaman Asia Kecil. |
| Antiokhia Pisidia | Rasul Paulus memberitakan Tuhan Yesus di sinagoge dan kepada masyarakat setempat. |
| Ikonium | Terbentuk komunitas pengikut Tuhan Yesus. |
| Listra | Rasul Paulus memberitakan Injil dan mengalami penolakan serta penganiayaan. |
| Derbe | Tempat pemberitaan dan pembentukan murid-murid baru. |
Jaringan jemaat yang terbentuk di wilayah ini kemudian menjadi bagian penting dari Pekabaran Kekristenan di Asia Kecil.
3. Makedonia: Injil Masuk ke Eropa
Dalam perjalanan misi berikutnya, Rasul Paulus memasuki Makedonia. Kisah Para Rasul 16 menggambarkan bagaimana pemberitaan Injil sampai ke Filipi. Dari sana, pemberitaan Injil kemudian bergerak ke daerah Tesalonika, Berea, Athena, dan Korintus, di mana kota-kota tersebut berada dalam jaringan utama Kekaisaran Romawi, sehingga tantangan cukup berat (Kisah Para Rasul 16-18).
Di bawah ini adalah tempat-tempat yang menjadi pusat kekristenan pada pekabaran dan penulisan awal Injil:
| Kota | Keterangan |
|---|---|
| Filipi | Salah satu jemaat pertama yang didirikan Rasul Paulus di wilayah Makedonia. |
| Tesalonika | Menjadi komunitas Kristen penting di Makedonia. |
| Berea | Masyarakat menerima pemberitaan dan memeriksa Kitab Suci. |
| Athena | Rasul Paulus memberitakan Allah kepada masyarakat yang memiliki latar belakang filsafat Yunani. |
| Korintus | Menjadi salah satu pusat Kekristenan penting dan kemudian menerima beberapa surat Rasul Paulus. |
Peristiwa ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa Pekabaran Injil tidak hanya berlangsung di antara orang Yahudi. Injil mulai masuk secara sistematis ke dunia Yunani-Romawi.
4. Efesus dan Provinsi Asia
Efesus kemudian menjadi salah satu pusat pelayanan Rasul Paulus yang paling penting. Kisah Para Rasul 19:10 menyatakan bahwa selama pelayanan Rasul Paulus di Efesus, penduduk di seluruh wilayah Asia mendengar firman Tuhan.
Yang dimaksud dengan “Asia” pada saat itu bukan seluruh benua Asia seperti pengertian modern, melainkan Provinsi Asia dalam Kekaisaran Romawi (wilayah barat Turki sekarang). Dari Efesus, pemberitaan dapat bergerak melalui kota-kota lain.
5. Roma: Pusat Kekaisaran Romawi
Roma merupakan pusat politik, pemerintahan, dan kekuasaan Kekaisaran Romawi. Pada pertengahan abad pertama Masehi, kota ini menjadi salah satu kota terbesar dan paling berpengaruh di dunia Mediterania. Karena jaringan jalan, jalur laut, dan hubungan perdagangan yang luas, Roma menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan agama. Kondisi ini kemudian membuat Roma menjadi lokasi yang sangat strategis bagi perkembangan Kekristenan.
Menariknya, ketika Rasul Paulus menulis Surat kepada jemaat di Roma, sekitar tahun 56–58 Masehi, jemaat Kristen di kota tersebut sudah berdiri. Rasul Paulus bahkan menyatakan bahwa ia ingin mengunjungi mereka, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa ia tidak sedang membangun jemaat di tempat yang belum mengenal Injil. Hal ini terlihat dalam Roma 1:8–13 dan Roma 15:20–24. Dengan demikian, Rasul Paulus bukan pendiri pertama jemaat Roma.
Kita tidak mengetahui secara pasti siapa yang pertama kali membawa pemberitaan tentang Tuhan Yesus Kristus ke Roma. Kisah Para Rasul 2:10 menyebut adanya orang-orang dari Roma yang hadir di Yerusalem pada hari Pentakosta. Mereka kemungkinan termasuk orang Yahudi dan penganut agama Yahudi yang datang dari Roma. Kisah Para Rasul 2:41 mencatat bahwa pada hari itu sekitar tiga ribu orang menerima pemberitaan Rasul Petrus dan dibaptis. Ada kemungkinan bahwa sebagian dari mereka kemudian kembali ke Roma dan membawa berita tentang iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Namun, Alkitab tidak menyatakan secara langsung bahwa mereka adalah pendiri jemaat Roma.
Surat Roma juga memperlihatkan bahwa jemaat di kota tersebut sudah memiliki kehidupan yang cukup berkembang sebelum Rasul Paulus datang. Rasul Paulus menyebut iman jemaat Roma yang telah tersiar ke seluruh dunia (Roma 1:8). Ia juga menyampaikan salam kepada banyak orang yang sudah dikenalnya, termasuk Priskila dan Akwila (Roma 16:3–5). Kehadiran berbagai kelompok dan pribadi dalam jemaat tersebut menunjukkan bahwa Kekristenan di Roma tidak hanya terdiri dari satu kelompok kecil, tetapi telah berkembang menjadi komunitas yang memiliki hubungan luas dengan jemaat-jemaat lain.
Pada sekitar tahun 60 Masehi, Rasul Paulus akhirnya tiba di Roma, tetapi bukan sebagai seorang penginjil yang bebas melakukan perjalanan. Ia datang sebagai tahanan setelah mengajukan banding kepada Kaisar (Kisah Para Rasul 25:10–12). Kisah Para Rasul 28:16–31 menggambarkan kehidupan Rasul Paulus di Roma. Walaupun berada dalam tahanan, Rasul Paulus tetap memperoleh kesempatan untuk menerima orang-orang dan memberitakan Kerajaan Allah serta mengajarkan tentang Tuhan Yesus Kristus.
Kedatangan Rasul Paulus ke Roma mempunyai arti penting dalam sejarah awal Kekristenan. Dari kota yang menjadi pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi tersebut, berita tentang Tuhan Yesus Kristus kemudian semakin dikenal di berbagai wilayah. Namun, perkembangan Kekristenan di Kekaisaran Romawi tidak terjadi hanya melalui pelayanan Rasul Paulus. Para pedagang, tentara, pendatang, orang-orang Yahudi diaspora, dan anggota jemaat yang melakukan perjalanan juga turut berperan dalam membawa iman Kristen dari satu kota ke kota lainnya.
Roma dengan demikian menjadi salah satu titik penting dalam jaringan Kekristenan awal. Kekristenan yang pada mulanya berkembang terutama di Yerusalem dan wilayah sekitarnya kemudian menyebar melalui kota-kota besar seperti Antiokhia, Filipi, Tesalonika, Korintus, Efesus, dan akhirnya Roma. Dari pusat-pusat perkotaan tersebut, jaringan jemaat berkembang semakin luas mengikuti jalur komunikasi dan perdagangan Kekaisaran Romawi.
6. Mesir dan Aleksandria
Aleksandria merupakan salah satu kota terpenting di dunia Mediterania pada masa Kekaisaran Romawi. Kota ini menjadi pusat perdagangan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Letaknya yang strategis menjadikan Aleksandria sebagai penghubung penting antara Mesir, dunia Yunani, dan berbagai wilayah lain di Kekaisaran Romawi. Dalam konteks perkembangan Kekristenan, kota ini kemudian memainkan peranan yang sangat besar.
Alkitab tidak mencatat secara langsung bahwa Markus pernah pergi ke Aleksandria. Namun, tradisi gereja mula-mula menghubungkan Markus dengan kota tersebut. Menurut tradisi itu, Markus membawa pemberitaan Injil ke Aleksandria dan menjadi tokoh penting dalam pembentukan komunitas Kristen di sana. Karena itu, tradisi tersebut perlu dibedakan dari catatan sejarah yang memiliki bukti langsung.
Nama Markus sendiri beberapa kali muncul dalam Perjanjian Baru. Kisah Para Rasul 12:12 menyebut Yohanes yang juga disebut Markus sebagai seseorang yang rumahnya digunakan oleh jemaat di Yerusalem untuk berkumpul dan berdoa. Markus kemudian ikut dalam perjalanan pelayanan Rasul Paulus dan Barnabas, sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 12:25 dan Kisah Para Rasul 13:5, tetapi kemudian meninggalkan mereka di Perga (Kisah Para Rasul 12 dan 13)
Hubungan Markus dengan Rasul Petrus juga terlihat dalam 1 Petrus 5:13, ketika Rasul Petrus menyebut Markus sebagai “anakku”. Ayat ini menjadi salah satu alasan penting mengapa tradisi gereja kemudian menghubungkan Markus dengan Rasul Petrus dan dengan penyusunan Injil Markus. Namun, ayat tersebut tidak menyebut Aleksandria, sehingga tidak dapat digunakan sebagai bukti langsung bahwa Markus pernah melayani di Mesir.
Yang menarik, Alkitab memberikan bukti bahwa Aleksandria sudah mempunyai hubungan dengan gerakan Kristen pada abad pertama. Kisah Para Rasul 18:24 menyebut Apolos, seorang Yahudi yang berasal dari Aleksandria. Ia digambarkan sebagai orang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam Kitab Suci. Apolos kemudian datang ke Efesus dan mengajar tentang Tuhan Yesus. Kehadiran Apolos menunjukkan bahwa kota Aleksandria telah menghasilkan orang yang mengenal Kitab Suci dan telah menerima pengajaran tentang “Jalan Tuhan” pada masa awal perkembangan Kekristenan.
Selain itu, dalam Kisah Para Rasul 2 disebut pula Mesir dan daerah-daerah Libia dekat Kirene di antara wilayah asal orang-orang yang berada di Yerusalem pada hari Pentakosta. Peristiwa ini menunjukkan bahwa sejak masa paling awal, terdapat hubungan antara Yerusalem dan komunitas Yahudi dari Mesir serta Afrika Utara. Meskipun ayat tersebut tidak mengatakan bahwa orang-orang dari Mesir kemudian membawa Injil pulang ke Aleksandria, kemungkinan seperti itu secara historis tidak mustahil.
Pada abad kedua dan ketiga Masehi, Aleksandria kemudian berkembang menjadi salah satu pusat Kekristenan dan pemikiran Kristen terbesar di dunia kuno. Kota ini memiliki lingkungan intelektual yang kuat dan sebelumnya telah menjadi pusat penting bagi komunitas Yahudi berbahasa Yunani. Kondisi tersebut menyediakan lingkungan yang sangat mendukung perkembangan kajian Kitab Suci, filsafat, dan teologi Kristen.
Dengan demikian, sejarah Kekristenan di Aleksandria perlu dilihat dalam dua lapisan. Pertama, ada bukti Alkitab bahwa Aleksandria sudah berhubungan dengan gerakan Kristen pada abad pertama, terutama melalui tokoh seperti Apolos. Kedua, terdapat tradisi gereja yang sangat tua yang menghubungkan Markus dengan pendirian gereja di Aleksandria. Tradisi tersebut penting dalam sejarah gereja, tetapi rincian perjalanan Markus ke Aleksandria tidak dapat dipastikan dengan tingkat kepastian yang sama seperti perjalanan Rasul Paulus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul. Aleksandria kemudian berkembang menjadi salah satu pusat utama Kekristenan kuno dan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Kristen pada abad-abad berikutnya.
7. Suriah dan Mesopotamia
Selain jalur yang bergerak ke barat melalui Asia Kecil dan Yunani, Kekristenan juga berkembang ke arah timur, menuju wilayah Suriah dan Mesopotamia. Wilayah ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan pusat Kekristenan mula-mula di Yerusalem dan Antiokhia. Kisah Para Rasul 11:19 mencatat bahwa orang-orang percaya yang tersebar karena penganiayaan setelah kematian Stefanus pergi sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia.
Antiokhia kemudian menjadi salah satu pusat penting bagi perkembangan Kekristenan di wilayah Suriah. Dari kota inilah Rasul Paulus dan Barnabas diutus dalam perjalanan misi pertama mereka (Kisah Para Rasul 13:1–4). Selain itu, Kisah Para Rasul 15:40–41 mencatat perjalanan Rasul Paulus melalui Suriah dan Kilikia untuk menguatkan jemaat-jemaat. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas Kristen telah berkembang di wilayah Suriah pada pertengahan abad pertama.
Ke arah timur, perkembangan Kekristenan kemudian mencapai wilayah Mesopotamia, terutama kawasan yang berada di antara Sungai Efrat dan Sungai Tigris. Salah satu kota yang kemudian menjadi sangat penting adalah Edessa, yang terletak di wilayah Mesopotamia bagian utara. Edessa berkembang menjadi salah satu pusat utama Kekristenan berbahasa Suryani. Bahasa Suryani merupakan bentuk bahasa Aram yang kemudian menjadi bahasa penting dalam kehidupan gereja-gereja di wilayah timur.
Tradisi gereja kemudian menghubungkan perkembangan Kekristenan di wilayah Edessa dengan Rasul Tomas dan tokoh bernama Addai atau Thaddeus. Dalam tradisi tersebut, Rasul Tomas dikatakan mengutus Addai untuk memberitakan Injil di Edessa. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi kisah yang lebih luas mengenai hubungan antara gereja Edessa dengan para rasul. Namun, rincian tersebut berasal dari tradisi gereja yang berkembang kemudian dan tidak dapat dipastikan dengan tingkat kepastian yang sama seperti perjalanan Rasul Paulus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul.
Hubungan Rasul Tomas dengan wilayah timur memang memiliki dasar dalam tradisi Kristen yang sangat tua, tetapi Perjanjian Baru sendiri tidak mencatat perjalanan Rasul Tomas ke Edessa, Persia, atau India. Injil Yohanes hanya memberikan informasi mengenai Rasul Tomas dalam konteks pelayanan Tuhan Yesus Kristus, termasuk pengakuannya setelah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dalam Yohanes 20:24–29. Karena itu, ketika membahas perjalanan Rasul Tomas ke wilayah timur, penting untuk membedakan antara informasi yang terdapat dalam Alkitab dan tradisi gereja yang muncul kemudian.
Meskipun demikian, perkembangan Kekristenan di wilayah Suriah dan Mesopotamia merupakan bagian penting dari sejarah Kekristenan awal. Jalur timur ini menunjukkan bahwa penyebaran Kekristenan tidak hanya mengikuti jalur menuju Roma dan dunia Yunani-Romawi, tetapi juga bergerak ke wilayah-wilayah yang menggunakan bahasa Aram dan kemudian Suryani. Dalam perkembangan selanjutnya, komunitas-komunitas Kristen di wilayah tersebut membentuk tradisi gereja yang khas dan menjadi salah satu cabang penting Kekristenan di dunia kuno.
8. Afrika Utara
Kekristenan kemudian berkembang dengan sangat kuat di Afrika Utara, terutama di wilayah Kartago. Perjanjian Baru tidak memberikan catatan yang cukup untuk mengatakan bahwa satu rasul tertentu menginjili seluruh wilayah Afrika Utara. Kisah Para Rasul 2:10 bahkan menunjukkan bahwa orang-orang dari Mesir dan daerah-daerah Libia dekat Kirene telah berada di Yerusalem pada hari Pentakosta. Kisah Para Rasul 2:5–11 Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara wilayah Afrika Utara dan pusat Kekristenan mula-mula sejak abad pertama.
Perkembangan Kekristenan di Afrika Utara kemungkinan merupakan hasil dari berbagai jalur penyebaran, bukan hanya melalui pelayanan seorang rasul tertentu. Orang-orang yang telah menerima pemberitaan tentang Tuhan Yesus Kristus dapat membawa iman tersebut ketika melakukan perjalanan, berdagang, berpindah tempat, atau mengunjungi komunitas-komunitas lain. Pola seperti ini sangat mungkin terjadi dalam dunia Romawi yang memiliki jaringan perdagangan dan perjalanan yang luas.
Salah satu tokoh yang menunjukkan hubungan antara Afrika Utara dan perkembangan Kekristenan pada masa awal adalah Simon dari Kirene. Ia disebut dalam Injil sebagai orang yang dipaksa membantu memikul salib Tuhan Yesus Kristus. Injil Markus menyebut Simon sebagai ayah dari Aleksander dan Rufus, yang kemungkinan dikenal oleh komunitas Kristen ketika Injil Markus ditulis. Markus 15:21 Namun, Alkitab tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai perkembangan iman Simon atau keluarganya di Afrika Utara.
Pada abad kedua dan ketiga, Afrika Utara berkembang menjadi salah satu pusat Kekristenan yang sangat penting. Kartago menjadi pusat kehidupan gereja dan pemikiran Kristen di wilayah tersebut. Dari lingkungan ini kemudian muncul tokoh-tokoh besar seperti Tertullianus dan Cyprianus, yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan teologi, kehidupan gereja, dan pemikiran Kristen di dunia Latin.
Dengan demikian, perkembangan Kekristenan di Afrika Utara memperlihatkan bahwa penyebaran Injil tidak selalu dapat ditelusuri melalui perjalanan seorang rasul tertentu. Setelah masa para rasul, jaringan jemaat, perjalanan para pedagang, perpindahan penduduk, serta hubungan antarkomunitas Kristen turut berperan dalam memperluas Kekristenan. Afrika Utara kemudian menjadi salah satu wilayah yang sangat penting dalam perkembangan Kekristenan Latin pada masa gereja mula-mula.
9. India dan Tradisi Rasul Tomas
Tradisi Kristen India menghubungkan kedatangan Injil ke India dengan Rasul Tomas. Tradisi ini sangat kuat dalam Gereja Mar Thoma dan gereja-gereja yang menggunakan tradisi Siria. Namun, secara sejarah, kita perlu membedakan antara tradisi gereja dan bukti dokumenter. Bukti mengenai perjalanan Rasul Tomas ke India tidak sekuat bukti mengenai perjalanan Rasul Paulus di wilayah Mediterania.
Perjanjian Baru sendiri tidak mencatat perjalanan Rasul Tomas ke India. Injil Yohanes memberikan beberapa informasi mengenai Rasul Tomas, terutama dalam hubungannya dengan pelayanan dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Salah satu bagian yang paling dikenal adalah ketika Rasul Tomas berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus setelah kebangkitan-Nya. Yohanes 20:24–29 Namun, setelah peristiwa tersebut, Perjanjian Baru tidak memberikan catatan mengenai perjalanan Rasul Tomas ke wilayah timur.
Tradisi mengenai pelayanan Rasul Tomas di India muncul dalam sumber-sumber Kristen yang lebih kemudian. Salah satu sumber yang sering dikaitkan dengan tradisi tersebut adalah Acts of Thomas, sebuah karya Kristen berbahasa Suryani yang umumnya ditempatkan pada sekitar abad ketiga. Karya ini menceritakan perjalanan Rasul Tomas ke wilayah timur, tetapi karena ditulis beberapa generasi setelah masa para rasul, isinya perlu digunakan dengan kehati-hatian ketika merekonstruksi sejarah perjalanan Rasul Tomas.
Yang lebih mendekati kepastian secara sejarah adalah bahwa komunitas Kristen berbahasa Siria memang telah berkembang di India pada masa awal. Hubungan perdagangan antara kawasan Timur Tengah dan pantai barat India telah berlangsung sejak zaman kuno. Jalur perdagangan melalui Laut Merah, Laut Arab, dan Samudra Hindia memungkinkan terjadinya perpindahan manusia, barang, bahasa, dan gagasan ke berbagai wilayah. Dalam lingkungan seperti ini, penyebaran Kekristenan melalui para pedagang dan komunitas yang berpindah tempat merupakan kemungkinan yang masuk akal.
Karena itu, tradisi Rasul Tomas tetap memiliki arti yang sangat penting bagi sejarah dan identitas komunitas Kristen India, meskipun rincian perjalanan Rasul Tomas ke India tidak dapat dibuktikan dengan tingkat kepastian yang sama seperti perjalanan Rasul Paulus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul. Sejarah Kekristenan India pada akhirnya menunjukkan bahwa pemberitaan tentang Tuhan Yesus Kristus tidak hanya bergerak ke arah barat menuju Roma dan Afrika Utara, tetapi juga menempuh jalur perdagangan ke arah timur, hingga mencapai wilayah India.
10. Kronologi Pekabaran Injil ke berbagai daerah
Jadi secara keseluruhan, berikut ini adalah rangkuman peristiwa pekabaran Injil di berbagai daerah yang disusun secara kronologis:
| Periode | Wilayah | Tokoh atau kelompok penting | Keterangan |
|---|---|---|---|
| ± 30 M | Yerusalem | Para rasul | Pusat awal pemberitaan setelah kebangkitan Tuhan Yesus. |
| ± 30–40 M | Yudea dan Samaria | Rasul Petrus, Rasul Yohanes, Filipus | Injil mulai keluar dari Yerusalem. |
| ± 35–45 M | Fenisia, Siprus, Antiokhia | Orang-orang percaya yang tersebar | Antiokhia berkembang menjadi pusat misi. |
| ± 46–48 M | Siprus dan Asia Kecil | Rasul Paulus dan Barnabas | Perjalanan misi pertama. |
| ± 49–52 M | Makedonia dan Yunani | Rasul Paulus dan rekan-rekan | Filipi, Tesalonika, Berea, Athena, Korintus. |
| ± 52–57 M | Efesus dan Provinsi Asia | Rasul Paulus dan rekan-rekan | Efesus menjadi pusat pemberitaan yang sangat penting. |
| ± 50–60 M | Roma | Komunitas Kristen awal; kemudian Rasul Paulus | Jemaat sudah ada sebelum Rasul Paulus tiba. |
| ± 60–100 M | Mesir | Tradisi menghubungkan dengan Markus | Aleksandria kemudian menjadi pusat Kekristenan besar. |
| ± 60–100 M | Suriah dan Mesopotamia | Tradisi menghubungkan dengan Rasul Tomas dan Addai | Berkembang tradisi Kekristenan berbahasa Suryani. |
| ± 70–100 M | Asia Kecil | Rasul Yohanes dan komunitas Asia | Tujuh jemaat disebut dalam Kitab Wahyu. |
| Abad I–II | Afrika Utara | Berbagai komunitas Kristen | Kemudian berkembang kuat di Kartago. |
| Abad I–II | India | Tradisi Rasul Tomas | Tradisi sangat kuat, tetapi rincian sejarahnya masih diperdebatkan. |
Kekristenan tidak berkembang melalui satu metode saja. Pada awalnya, Kabar Baik terutama disampaikan melalui kesaksian lisan para rasul dan murid-murid Tuhan Yesus Kristus. Kemudian terbentuk jemaat-jemaat di berbagai kota. Surat-surat para rasul mulai beredar di antara jemaat-jemaat tersebut. Setelah itu, kitab-kitab Injil mulai ditulis, disalin dengan tangan, dan dibacakan di hadapan jemaat.

A. Jalur utama Pekabaran Injil dapat digambarkan sebagai berikut:
Yerusalem → Yudea dan Samaria → Antiokhia → Siprus → Asia Kecil → Makedonia → Yunani → Roma → Mediterania Barat.
B. Sementara itu, berkembang pula jalur lain:
Yerusalem → Suriah → Mesopotamia → Persia → India.
C. Dan jalur selatan:
Yerusalem → Mesir → Aleksandria → Afrika Utara.
Namun, tidak semua bagian dari jalur tersebut dapat dibuktikan dengan tingkat kepastian yang sama. Perjalanan Rasul Paulus memiliki kesaksian Perjanjian Baru yang sangat kuat. Sementara itu, hubungan Markus dengan Aleksandria dan Rasul Tomas dengan India terutama diketahui melalui tradisi gereja awal dan bukti-bukti yang berkembang kemudian.
IV. Penutup
a. Jadi, siapakah sesungguhnya yang menyebarkan Injil Kabar Baik Allah?
Kita tidak boleh membayangkan bahwa hanya kedua belas rasul yang berjalan ke seluruh dunia dan mendirikan semua gereja Kristen. Para rasul memang mempunyai peranan yang sangat penting sebagai saksi dan pemberita pertama, tetapi Pekabaran Injil di berbagai tempat dilakukan oleh banyak orang. Ada penginjil, guru, anggota keluarga, pedagang, pelancong, orang-orang yang berpindah kota, dan orang-orang biasa yang telah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebagian nama mereka bahkan tidak pernah dicatat dalam sejarah.
Seorang percaya mendengar Injil di satu kota, kemudian membawanya ke kota lain. Demikian seterusnya. Dari kota berikutnya, orang lain lagi akan membawanya lebih jauh. Seluruh perkembangan Kekristenan tidak terlepas dari pimpinan Roh Kudus yang menjamah hati setiap orang. Karena itu, Pekabaran Injil yang berjalan seiring dengan berkembangnya Kekristenan di seluruh dunia merupakan hasil dari pekerjaan jaringan manusia yang sangat luas.
Setiap orang yang menjadi pengikut Kristus, sesungguhnya adalah surat-surat Kristus yang dipimpin oleh Roh Allah, supaya dapat dibaca oleh setiap orang di muka bumi ini:
2 Korintus 3:1-8
Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu? Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus.
Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan. Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!
Pekerjaan pekabaran Injil di muka bumi, murni bukanlah pekerjaan manusia melainkan Roh Allah yang bekerja di dalam setiap pengikut Kristus. Terlalu dahsyat dan ajaib perbuatan-Nya untuk dapat dilakukan oleh seorang manusia.
Hal yang terutama di sini adalah bahwa Pekabaran Injil tidak dapat dipahami hanya sebagai penyebaran sebuah buku. Pekabaran Injil dimulai dengan kesaksian tentang anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Kesaksian tersebut kemudian tersebar melalui pemberitaan lisan, pengajaran, surat-surat, dan pada akhirnya kitab-kitab Injil. Ketika kitab-kitab tersebut mulai disalin dan dibacakan di berbagai jemaat, kesaksian yang semula diberitakan di Yerusalem mulai menjangkau wilayah Eropa di sebelah barat, Afrika di sebelah selatan, dan Asia di sebelah timur, kemudian terus menyebar ke berbagai wilayah yang jauh.
Dengan demikian, sejarah Pekabaran Injil sebenarnya merupakan penggenapan nubuat Yesaya:
Yesaya 61:1-3
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.
b. Kesimpulan
Daftar Isi
Pekabaran Injil adalah karya keselamatan Allah yang dimulai dari Yerusalem ke berbagai penjuru dunia berlangsung secara bertahap melalui kesaksian para rasul, pemberitaan lisan, pembentukan jemaat, penulisan dan penyalinan kitab-kitab, serta penyebaran oleh banyak orang percaya melalui jaringan perjalanan dan komunikasi dunia kuno. Tugas kita di zaman ini adalah meneruskan pemberitaan firman Allah Yang Hidup dengan bersaksi melalui perkataan dan perbuatan kita yang memuliakan Allah.
Kiranya Tuhan Yesus memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pemberitaan firman hari ini. Tuhan Yesus memberkati.
Beritakanlah firman,
siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,
nyatakanlah apa yang salah,
tegorlah dan nasihatilah
dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2 Timotius 4:2
Amin.
