Edisi 1 “Sejarah Pekabaran Injil: Kabar Keselamatan Allah Diberitakan (Part 1)” – Seri Kitab Injil

By Febrian – 08 Agustus 2026 04:30 AM

Shalom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Tuhan Yesus. Dalam Seri Kitab Injil ini, kita akan mempelajari bagaimana peristiwa pemberitaan Kabar Baik Keselamatan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus bagi manusia, disampaikan hanya secara lisan oleh para rasul dan para murid Tuhan Yesus Kristus. Semoga hikmat dan pengetahuan dianugerahkan oleh Tuhan Yesus Kristus bagi kita, agar dapat dengan mudah memahami dan mempelajari firman Tuhan yang disampaikan.

Tuhan Yesus memberkati.


Sejarah Pekabaran Injil:
Kabar Keselamatan Allah Diberitakan (Part 1)(Bagaimana Injil Diberitakan pada Masa Gereja Mula-mula)

I. Pendahuluan

Mari kita bayangkan suatu peristiwa yang sangat terkenal dalam sejarah umat manusia, yang kita saksikan dengan mata kepala sendiri, yaitu seorang Pria yang penuh karisma, berkhotbah dengan penuh kuasa, membangkitkan orang mati, mengusir setan, menyembuhkan orang lumpuh, berjalan di atas air, menghardik badai dan topan di laut, kemudian mati di salib, bangkit pada hari ketiga, dan setelah itu naik ke Surga.

Betapa ajaibnya Dia, Tuhan Yesus Kristus, Raja di atas segala raja, Penguasa dan Pencipta Alam Semesta ini, yang rela mengosongkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia. Ia turun ke dunia sebagai bayi manusia sederhana, kemudian menderita sengsara, hingga rela mati di kayu salib dan mencurahkan darah-Nya, demi penebusan dosa seluruh umat manusia (Yesaya 53). Semua orang yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, akan mendapat penebusan dosa dan beroleh hidup yang kekal.

Yohanes 3:16

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Jika kita sungguh dapat mengalami dan menyaksikan semuanya peristiwa itu, mungkinkah kita sanggup menahan diri untuk tidak menceritakannya kepada orang lain? Dapat dipastikan kita segera pergi kepada teman dekat, saudara, atau siapa saja yang kita temui untuk menceritakan apa yang telah kita saksikan.

Namun, ternyata berbeda dengan keadaan yang dilakukan para murid dan pengikut Tuhan Yesus Kristus. Ketika Guru Agung mereka mati disalibkan, mereka justru menjadi sedih, takut, dan kehilangan arah, bagaikan domba tanpa gembala. Satu per satu mereka meninggalkan-Nya.

Markus 14:50

Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Akan tetapi keadaan berbalik setelah mereka pada akhirnya menyadari bahwa sesuai dengan perkataan-Nya, Guru Agung mereka, yaitu Tuhan Yesus Kristus, telah bangkit dan berjumpa dengan mereka.

Setelah beberapa waktu lamanya, Tuhan Yesus naik ke Surga untuk kembali kepada Allah Bapa, dan pada hari Pentakosta Roh Kudus Allah dicurahkan kepada para murid.

Roh Kudus memberi kuasa kepada mereka sehingga memiliki keberanian dan kekuatan untuk memberitakan apa yang telah mereka lihat, dengar, dan alami bersama Tuhan Yesus Kristus sebelumnya. Itulah pemberitaan Injil (Kabar Baik Allah bagi manusia) yang diberitakan secara lisan oleh para murid Tuhan Yesus yang disebut “rasul”. 

Kisah Para Rasul 1:8

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Matius 28:18-20

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di Surga dan di bumi. 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.


II. Pekabaran Injil di Yerusalem, Yudea, dan Samaria

(Kisah Para Rasul pasal 2 sampai dengan pasal 8)

Setelah itu pemberitaan Injil mulai berkembang dari Yerusalem kemudian ke Yudea dan Samaria.

1. Rasul Petrus dan para rasul di Yerusalem

Setelah Pentakosta dan pada tahun-tahun awal sekitar 30-37 M, fokus pelayanan para rasul adalah membangun komunitas pengikut Kristus di Yerusalem. Komunitas ini kemudian berkembang dan mulai meluas ke wilayah-wilayah sekitarnya.

Beberapa peristiwa besar yang dialami oleh para pengikut Kristus:

    1. Rasul Petrus berkhotbah, dan sekitar 3.000 orang memberi diri dibaptis. Jemaat mula-mula hidup dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa (Kis 2:41-42).
    2. Setelah mukjizat kesembuhan seorang lumpuh di Gerbang Indah, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes ditangkap. Meskipun demikian, jumlah orang yang percaya bertambah menjadi kira-kira 5.000 laki-laki (Kis 4:4).
    3. Ananias dan Safira berdusta mengenai hasil penjualan tanah mereka dan menyembunyikan sebagian uangnya sambil mengaku telah memberikan seluruh hasil penjualan. Keduanya kemudian mati setelah ditegur Rasul Petrus (Kis 5:1-11).
    4. Melalui para rasul terjadi banyak tanda dan mukjizat, sehingga orang-orang sakit dibawa ke Yerusalem dan banyak di antara mereka mengalami kesembuhan (Kis 5:12-16).
    5. Para rasul ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, tetapi pada malam hari malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara. Mereka kemudian kembali ke Bait Allah dan mengajar (Kis 5:17-25).
    6. Ketika para rasul kembali dibawa ke hadapan Mahkamah Agama, Gamaliel, seorang Farisi dan ahli Taurat yang dihormati, memberikan nasihat agar mereka tidak bertindak gegabah terhadap para rasul (Kis 5:26-42).

2. Rasul Stefanus dan Filipus

Kemudian suatu ketika terjadi keributan di antara jemaat Kristen, karena orang-orang miskin dan para janda dari kelompok Yahudi yang berbahasa Yunani merasa terabaikan dalam pembagian bantuan sehari-hari. Kedua belas rasul menyadari masalah itu dan kemudian mengusulkan agar jemaat memilih tujuh orang yang memiliki reputasi baik, penuh Roh Kudus, dan penuh hikmat untuk menangani pelayanan tersebut. Dengan demikian, orang-orang miskin dan para janda dapat dilayani dengan baik, sementara para rasul dapat memusatkan perhatian mereka pada doa dan pelayanan firman.

Di antara tujuh orang tersebut terdapat Stefanus dan Filipus:

a. Pelayanan dan Kematian Stefanus

Stefanus, salah satu dari tujuh orang yang dipilih jemaat, penuh iman dan Roh Kudus serta melakukan berbagai tanda dan mukjizat. Setelah terjadi perdebatan dengan beberapa orang dari kelompok tertentu, Stefanus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama dan dituduh menghujat Musa serta Allah. Dalam persidangan, wajah Stefanus tampak seperti wajah seorang malaikat. Setelah menyampaikan pembelaannya, Stefanus dirajam sampai mati. Saulus menyetujui kematiannya dan kemudian menjadi salah satu tokoh utama dalam penganiayaan terhadap jemaat. Penganiayaan tersebut menyebabkan banyak orang percaya tersebar keluar dari Yerusalem, sehingga pemberitaan Injil justru semakin meluas, termasuk ke Samaria (Kis 6-8).

b. Pelayanan Filipus 

Filipus yang dimaksud dalam Kisah Para Rasul 8 adalah Filipus sang penginjil, salah satu dari tujuh orang yang dipilih (Diaken) dalam Kisah Para Rasul 6, bukan Rasul Filipus yang termasuk dalam kedua belas rasul.

Filipus Diaken memberitakan Injil di Samaria disertai tanda-tanda mukjizat, sehingga banyak orang percaya dan dibaptis. Rasul Petrus dan Rasul Yohanes kemudian datang dari Yerusalem. Setelah mereka berdoa dan menumpangkan tangan, orang-orang Samaria menerima Roh Kudus. Selanjutnya Filipus, dipimpin oleh Roh Tuhan, memberitakan Injil kepada seorang sida-sida Etiopia yang sedang membaca kitab Nabi Yesaya. Setelah memahami pemberitaan Filipus, orang tersebut percaya dan dibaptis. Filipus kemudian memberitakan Injil di berbagai kota sampai ke Kaisarea (Kis 8:4-40).

c. Pertobatan Saulus

Kisah Para Rasul 9 menceritakan pertobatan Saulus setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik. Saulus mengalami kebutaan selama tiga hari. Tuhan kemudian mengutus Ananias untuk menemuinya. Melalui pelayanan Ananias yang sebelumnya menerima perintah Tuhan, penglihatan Saulus dipulihkan. Saulus kemudian dibaptis dan mulai memberitakan bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah. Lukas mulai menggunakan nama Paulus sebagai nama utama tokoh tersebut sejak Kisah Para Rasul 13:9.

Paulus akhirnya meninggalkan Damsyik dan pergi ke Yerusalem karena ancaman terhadap dirinya akibat pemberitaan Injil. Setibanya di Yerusalem, para murid di sana pada awalnya takut kepadanya, mengingat masa lalunya sebagai penganiaya jemaat. Namun, Barnabas justru menerima dan membelanya, serta memberi kesaksian kepada para rasul bahwa hidup Saulus telah dijamah Roh Kudus dan ia telah menjadi pemberita Injil (Kis 9:1-30).

III. Pekabaran Injil hingga ke Ujung Bumi

1. Rasul Petrus

a. Pekabaran Injil di kota Lida

Sementara itu, Rasul Petrus terus melayani di berbagai wilayah, hingga tiba di Lida (nama Ibraninya Lod, nama Yunani Λύδδα Lydda), sebuah kota kuno di wilayah dataran pantai Israel, sekitar 15 km sebelah tenggara Yope (Jaffa), yang berada di jalur penting antara wilayah pesisir dengan Yerusalem. 

Dalam Kisah Para Rasul 9:32-35, Rasul Petrus datang ke Lida ketika mengunjungi jemaat-jemaat di daerah tersebut. Di sana ia bertemu Eneas, seorang yang telah lumpuh selama delapan tahun. Rasul Petrus berkata kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Setelah itu Eneas sembuh, dan banyak penduduk Lida serta daerah Saron berbalik kepada Tuhan.

b. Pekabaran Injil di kota Yope

Yang menarik, Lida bukanlah kota yang secara khusus dikenal sebagai pusat pelayanan Rasul Petrus. Peristiwa ini justru menunjukkan pola pekabaran Injil mulai bergerak keluar dari Yerusalem menuju kota-kota dan wilayah lain. Dari Lida, berita tentang mukjizat tersebut juga berpengaruh sampai ke Yope, yang kemudian menjadi tempat penting dalam pelayanan Rasul Petrus.

Yope (Joppa), dalam bahasa Ibrani Yafo (יפו), adalah kota pelabuhan kuno di pesisir Laut Tengah. Letaknya sekitar 15 km di sebelah barat Lida. Karena memiliki pelabuhan alami, Yope sejak zaman kuno menjadi salah satu pintu utama dari wilayah pesisir menuju pedalaman Israel.

Dalam sejarah Alkitab, kota Yope sudah dikenal sejak Perjanjian Lama. Dari pelabuhan inilah Nabi Yunus berangkat dengan kapal menuju Tarsis ketika berusaha menghindari panggilan TUHAN (Yunus 1:3). Yope juga menjadi tempat masuknya kayu aras dari Libanon yang digunakan dalam pembangunan Bait Allah pada zaman Raja Salomo (2 Tawarikh 2:16). Sementara pada zaman para rasul, Yope menjadi penting dalam pelayanan Rasul Petrus. Setelah Rasul Petrus melayani di Lida dan menyembuhkan Eneas, ia dipanggil ke Yope karena seorang murid perempuan bernama Tabita (Dorkas) meninggal. Rasul Petrus datang, berdoa, kemudian berkata, “Tabita, bangkitlah!” dan Tabita hidup kembali (Kisah Para Rasul 9:36-43). Peristiwa ini menyebabkan banyak orang di Yope menjadi percaya kepada Tuhan.

Yang lebih penting lagi, Yope juga tempat Rasul Petrus menerima penglihatan tentang kain lebar yang berisi berbagai binatang (Kisah Para Rasul 10:9-16). Peristiwa itu mempersiapkan Rasul Petrus untuk pergi ke Kaisarea menemui Kornelius, seorang bukan Yahudi. Karena itu, secara naratif Yope menjadi salah satu titik penting dalam perubahan besar misi gereja: dari pelayanan yang terutama berpusat pada orang Yahudi menuju penerimaan bangsa-bangsa bukan Yahudi ke dalam umat Allah.

Secara geografis, Lida juga penting karena letaknya relatif dekat dengan Yope. Karena itu, Lida-Yope dapat dilihat sebagai salah satu kawasan awal tempat Injil semakin meluas di luar Yerusalem, sebelum pelayanan Rasul Petrus kemudian semakin jelas diarahkan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi melalui peristiwa di Kaisarea dan rumah Kornelius (Kisah Para Rasul 10).

2. Rasul Paulus

a. Pekabaran Injil di kota Antiokhia

Pemberitaan Injil kemudian berkembang sampai ke Antiokhia. Jemaat di Yerusalem mengutus Barnabas ke sana untuk membina jemaat. Barnabas kemudian mencari Saulus di Tarsus dan membawanya ke Antiokhia. Selama kira-kira satu tahun mereka mengajar banyak orang. Di Antiokhia-lah para murid untuk pertama kalinya disebut “orang Kristen” (Kis 11:19-26).

Antiokhia Siria merupakan salah satu kota penting di dunia Romawi dan terletak pada posisi strategis yang menghubungkan wilayah Mediterania dengan Siria dan Mesopotamia. Masyarakatnya yang beragam menjadikan Antiokhia sebagai salah satu lingkungan penting bagi perkembangan gereja yang terdiri dari orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain.

Antiokhia kemudian berkembang menjadi salah satu pusat penting pekabaran Injil dan menjadi pangkalan bagi pelayanan misi Rasul Paulus dan Barnabas. Dari kota inilah mereka diutus untuk melakukan perjalanan misi ke Siprus dan Asia Kecil (Kis 13:1-4). Dengan demikian, Antiokhia memiliki peranan penting dalam perubahan gereja dari komunitas yang terutama berpusat di Yerusalem menjadi gerakan yang semakin luas menjangkau berbagai bangsa di wilayah Kekaisaran Romawi.

b. Perjalanan Misi Pertama Rasul Paulus (sekitar 46-48 M)

Misi pemberitaan Injil kemudian berkembang secara lebih teratur kepada berbagai bangsa dan budaya di wilayah Kekaisaran Romawi di sekitar Laut Tengah.

Rute Pelayanan: Antiokhia Siria –> Pulau Siprus (Salamina dan Pafos) –> Perga di Pamfilia –> Antiokhia Pisidia –> Ikonium –> Listra –> Derbe –> kembali ke Antiokhia Siria. Peristiwa Penting: Paulus dan Barnabas menghadapi Bar-Yesus/Elimas di Siprus, mengalami penolakan dari sebagian orang Yahudi di Antiokhia Pisidia, dan di Listra Paulus menyembuhkan seorang lumpuh sehingga penduduk setempat mengira Barnabas sebagai Zeus dan Paulus sebagai Hermes (Kis 13-14).

c. Sidang Yerusalem (sekitar 49 M – Kisah Para Rasul 15)

Para rasul dan penatua berkumpul di Yerusalem untuk membahas apakah orang-orang bukan Yahudi yang percaya kepada Kristus harus disunat dan diwajibkan menaati seluruh hukum Taurat Musa. Setelah mendengar kesaksian Rasul Petrus, Barnabas, Paulus, dan Yakobus, mereka memutuskan untuk tidak membebankan sunat dan seluruh hukum Taurat kepada orang-orang bukan Yahudi. Mereka tetap meminta agar orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik, dan dari percabulan (Kis 15:1-29).

d. Perjalanan Misi Kedua Rasul Paulus (sekitar 49-52 M)

Rute Pelayanan: Antiokhia Siria –> Derbe –> Listra –> wilayah Frigia dan Galatia –> Troas –> Filipi –> Tesalonika –> Berea –> Athena –> Korintus –> Efesus –> Kaisarea –> Yerusalem –> Antiokhia. Peristiwa Penting: Dalam penglihatan malam, Paulus mendapat panggilan untuk menyeberang ke Makedonia. Di Filipi, Lidia dan kepala penjara beserta keluarganya menjadi percaya. Di Athena Paulus berkhotbah di Areopagus. Di Korintus ia tinggal cukup lama dan membangun jemaat. Dalam perjalanan ini Paulus juga mulai menghasilkan surat-surat yang termasuk di antara tulisan Kristen paling awal yang masih kita miliki.

e. Perjalanan Misi Ketiga Rasul Paulus (sekitar 53-57 M)

Rute Pelayanan: Antiokhia Siria –> Galatia dan Frigia –> Efesus –> Makedonia –> Yunani/Akhaya –> Troas –> Miletus –> Tirus –> Kaisarea –> Yerusalem. Peristiwa Penting: Efesus menjadi salah satu pusat pelayanan Paulus yang sangat penting. Pemberitaan Injil menimbulkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat dan bahkan memengaruhi kepentingan ekonomi para pengrajin benda-benda yang berkaitan dengan pemujaan dewi Artemis (Kis 19).

f. Perjalanan ke Roma sebagai Tahanan (sekitar 58-60 M)

Paulus ditangkap di Yerusalem setelah terjadi kerusuhan di Bait Allah. Ia kemudian diperiksa oleh gubernur Feliks, gubernur Festus, dan Raja Agripa. Sebagai warga negara Romawi, Paulus menggunakan haknya untuk naik banding kepada Kaisar. Rute Pelayaran: Kaisarea –> Kreta –> terdampar di Pulau Malta –> Roma. Di Roma, Paulus tinggal sebagai tahanan rumah dan tetap memberitakan Kerajaan Allah serta mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus dengan leluasa (Kis 21-28).

Kitab Kisah Para Rasul berhenti pada masa Paulus berada di Roma. Kitab ini tidak mencatat secara langsung kematian Paulus. Tradisi gereja awal kemudian menghubungkan kematian Paulus dengan Roma pada masa pemerintahan Kaisar Nero, tetapi tanggal tepatnya tidak dapat dipastikan dengan mutlak. Tradisi juga menyatakan bahwa sebagai warga negara Romawi, Paulus dihukum dengan pemenggalan kepala, bukan penyaliban.

3. Para Rasul Tuhan Yesus yang lain

a. Rasul Yakobus anak Zebedeus

Wilayah Pelayanan: Alkitab tidak memberikan catatan tentang perjalanan misi Yakobus yang luas. Ia merupakan salah satu dari tiga rasul yang secara khusus dekat dengan Tuhan Yesus bersama Petrus dan Yohanes.
Akhir Hidup: Yakobus menjadi rasul pertama dari kedua belas rasul yang kematiannya dicatat dalam Alkitab. Raja Herodes Agripa I membunuhnya dengan pedang sekitar tahun 44 M (Kis 12:1-2).
Refleksi: Yakobus tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan misi yang panjang, tetapi kesetiaannya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah gereja. Kesetiaan tidak selalu diukur dari panjangnya pelayanan, tetapi dari kesetiaan kepada panggilan Tuhan.
Sumber: Kisah Para Rasul 12:1-2; Eusebius, Church History 2.9.

b. Rasul Yohanes anak Zebedeus

Wilayah Pelayanan: Eusebius menyebut tradisi bahwa Yohanes melayani di Asia dan kemudian meninggal di Efesus. Tradisi gereja kemudian sangat kuat menghubungkan Yohanes dengan jemaat-jemaat di Asia Kecil, terutama Efesus.
Akhir Hidup: Tidak terdapat bukti kuat bahwa Yohanes mati sebagai martir. Tradisi gereja umumnya menyatakan bahwa ia meninggal pada usia lanjut di Efesus. Tradisi juga menghubungkan Yohanes dengan Injil Yohanes, tiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Namun, identitas penulis setiap tulisan tersebut merupakan persoalan yang masih dibahas dalam studi Perjanjian Baru.
Refleksi: Yohanes disebut sebagai “murid yang dikasihi Tuhan Yesus”. Kedekatan dengan Tuhan Yesus menjadi salah satu tema penting dalam Injil Yohanes dan mengingatkan kita bahwa pengenalan akan Tuhan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga hubungan yang dekat dengan-Nya.
Sumber: Eusebius, Church History 3.1 dan 3.31; Irenaeus, Against Heresies 3.1.1.

c. Rasul Andreas, saudara Rasul Petrus

Wilayah Pelayanan: Eusebius mencatat sebuah tradisi bahwa Skithia diberikan kepada Andreas sebagai wilayah pelayanannya. Tradisi-tradisi kemudian memperluas wilayah pelayanannya sampai ke daerah sekitar Laut Hitam dan Yunani.
Akhir Hidup: Tradisi gereja menyatakan bahwa Andreas mati martir di Patras, Yunani. Hubungannya dengan salib berbentuk X merupakan tradisi yang berkembang kemudian dan tidak memiliki kepastian historis yang sama dengan kematian Rasul Yakobus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul.
Refleksi: Andreas dikenal karena membawa orang lain kepada Tuhan Yesus. Ia pertama-tama membawa saudaranya, Simon Petrus, kepada-Nya (Yoh 1:41-42). Pelayanan yang membawa seseorang kepada Kristus dapat memiliki dampak yang sangat besar.
Sumber: Yohanes 1:35-42; Eusebius, Church History 3.1.

d. Rasul Tomas (Didimus)

Wilayah Pelayanan: Eusebius menyebut tradisi bahwa Parthia merupakan wilayah pelayanan Tomas. Tradisi gereja Siria kemudian menghubungkan Tomas dengan perkembangan kekristenan di wilayah Mesopotamia dan India Selatan. Tradisi India tersebut sangat penting bagi komunitas Kristen Mar Thoma, tetapi rincian perjalanan Tomas tidak dapat dibuktikan dengan tingkat kepastian yang sama seperti perjalanan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul.
Akhir Hidup: Tradisi gereja India menyatakan bahwa Tomas mati martir di Mylapore, India Selatan. Acts of Thomas merupakan sumber apokrif yang memuat tradisi tentang pelayanan Tomas, tetapi karya tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai catatan sejarah langsung dari zaman para rasul.
Refleksi: Tomas pernah meminta bukti tentang kebangkitan Tuhan Yesus (Yoh 20:24-29). Namun setelah berjumpa dengan Tuhan yang bangkit, ia memberikan pengakuan iman yang sangat kuat. Keraguan yang jujur dapat menjadi jalan menuju iman yang semakin matang apabila seseorang sungguh-sungguh mencari kebenaran.
Sumber: Yohanes 20:24-29; Eusebius, Church History 3.1; Acts of Thomas.

e. Rasul Bartolomeus

Identitas: Bartolomeus termasuk dalam daftar kedua belas rasul. Dalam Injil Yohanes terdapat tokoh bernama Natanael yang sering diidentifikasi oleh tradisi gereja dengan Bartolomeus, tetapi Alkitab tidak menyatakan secara langsung bahwa keduanya adalah orang yang sama.
Wilayah Pelayanan dan Akhir Hidup: Berbagai tradisi menghubungkan Bartolomeus dengan Armenia, Mesopotamia, India, atau wilayah lain. Tradisi yang paling terkenal menyatakan bahwa ia mati martir dengan cara dikuliti. Namun, rincian tersebut tidak memiliki dasar historis yang kuat seperti catatan Alkitab mengenai Rasul Yakobus anak Zebedeus.
Refleksi: Natanael, jika memang merupakan Bartolomeus, pada awalnya bertanya apakah sesuatu yang baik dapat datang dari Nazaret (Yoh 1:46). Namun ia kemudian datang dan mengenal Tuhan Yesus. Pertanyaan yang jujur dapat menjadi awal dari pencarian iman yang sungguh-sungguh.
Sumber: Matius 10:2-4; Yohanes 1:45-51; tradisi gereja awal mengenai Bartolomeus.

f. Rasul Filipus

Identitas: Rasul Filipus adalah salah satu dari kedua belas rasul. Ia harus dibedakan dari Filipus sang penginjil, salah satu dari tujuh orang yang dipilih dalam Kisah Para Rasul 6. Filipus sang penginjillah yang memberitakan Injil di Samaria dan membaptis sida-sida Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8.
Wilayah Pelayanan dan Akhir Hidup: Tradisi kemudian menghubungkan Rasul Filipus dengan Hierapolis di Asia Kecil. Namun, rincian tentang cara kematiannya tidak memiliki kepastian sejarah yang kuat. Eusebius menyebut bahwa Filipus, salah satu dari kedua belas rasul, dimakamkan di Hierapolis. Ia juga menyebut empat anak perempuan Filipus yang bernubuat, tetapi bagian ini perlu hati-hati karena Kisah Para Rasul 21:8-9 secara jelas berbicara tentang Filipus sang penginjil, salah satu dari tujuh orang, bukan secara eksplisit Rasul Filipus.
Refleksi: Filipus termasuk rasul yang tidak banyak dicatat dalam Perjanjian Baru, tetapi ia tetap menjadi bagian penting dari kelompok dua belas rasul yang diutus Tuhan Yesus.
Sumber: Matius 10:2-4; Yohanes 1:43-46; Eusebius, Church History 3.31.

g. Rasul Matius (Lewi, pemungut cukai)

Wilayah Pelayanan: Alkitab tidak memberikan catatan mengenai wilayah pelayanan Matius setelah masa pelayanan Tuhan Yesus. Tradisi gereja memberikan beberapa wilayah yang berbeda-beda. Eusebius, ketika membahas tradisi mengenai Injil Matius, menyebut bahwa Matius memberitakan kepada orang-orang Ibrani dan bahwa Injil yang dikaitkan dengannya digunakan dalam konteks komunitas Yahudi.
Akhir Hidup: Tradisi mengenai kematian Matius sangat beragam. Ada yang menempatkannya di Etiopia atau wilayah lain, tetapi tidak ada satu versi yang dapat dipastikan sebagai fakta sejarah.
Refleksi: Matius adalah contoh bahwa seseorang yang memiliki masa lalu sebagai pemungut cukai dapat dipanggil menjadi murid Tuhan Yesus dan dipakai dalam pelayanan. Panggilan Tuhan tidak ditentukan semata-mata oleh pekerjaan atau status sosial seseorang.
Sumber: Matius 9:9; 10:2-4; Eusebius, Church History 3.24.

h. Rasul Yakobus anak Alfeus

Identitas: Yakobus anak Alfeus adalah salah satu dari kedua belas rasul (Mat 10:3). Ia tidak boleh langsung disamakan dengan Yakobus saudara Tuhan atau Yakobus yang menjadi pemimpin jemaat Yerusalem. Identitas ketiga tokoh tersebut telah menjadi persoalan yang dibahas dalam tradisi dan studi Kristen.
Wilayah Pelayanan dan Akhir Hidup: Alkitab tidak memberikan informasi mengenai wilayah pelayanan atau kematian Yakobus anak Alfeus. Berbagai tradisi kemudian memberikan kisah yang berbeda-beda. Karena itu, keterangan tentang Mesir, Persia, penyaliban, atau kematian dengan gada sebaiknya dipandang sebagai tradisi, bukan fakta sejarah yang pasti.
Refleksi: Yakobus anak Alfeus hampir tidak muncul dalam kisah Injil, tetapi ia tetap dipilih menjadi salah satu dari kedua belas rasul. Ini mengingatkan kita bahwa pentingnya seseorang dalam pekerjaan Tuhan tidak selalu diukur dari seberapa sering namanya disebut.
Sumber: Matius 10:2-4; Markus 3:13-19; Lukas 6:12-16.

i. Rasul Simon orang Zelot

Wilayah Pelayanan: Alkitab hanya menyebut Simon sebagai salah satu dari kedua belas rasul dan menyebutnya “orang Zelot”. Tidak ada catatan Alkitab mengenai perjalanan misinya setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Tradisi kemudian menghubungkannya dengan Mesopotamia, Persia, dan wilayah lain, tetapi tingkat kepastiannya rendah.
Akhir Hidup: Tradisi yang berbeda memberikan kisah kematian yang berbeda-beda. Karena itu, cerita bahwa Simon digergaji di Persia bersama Yudas Tadeus sebaiknya disebut sebagai tradisi, bukan sebagai fakta sejarah yang pasti.
Refleksi: Simon berasal dari latar belakang yang berbeda dari Matius, seorang pemungut cukai. Namun keduanya menjadi bagian dari kelompok dua belas rasul. Ini memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus mempersatukan orang-orang dengan latar belakang yang sangat berbeda dalam satu panggilan.
Sumber: Matius 10:2-4; Lukas 6:15; Kisah Para Rasul 1:13.

j. Rasul Yudas Tadeus (Yudas anak Yakobus)

Identitas: Yudas Tadeus termasuk dalam kelompok kedua belas rasul. Ia dibedakan dari Yudas Iskariot. Dalam beberapa bagian Perjanjian Baru ia disebut Yudas anak Yakobus (Luk 6:16; Kis 1:13), sedangkan Injil Matius dan Markus menggunakan nama Tadeus.
Wilayah Pelayanan dan Akhir Hidup: Tradisi gereja kemudian menghubungkannya dengan pelayanan di Mesopotamia dan Persia bersama Simon orang Zelot. Kisah kematiannya juga memiliki berbagai versi. Karena itu, rincian tentang cara kematiannya sebaiknya dipandang sebagai tradisi gereja, bukan fakta sejarah yang dapat dipastikan.
Refleksi: Surat Yudas memperlihatkan pentingnya mempertahankan iman dan mewaspadai ajaran yang menyimpang. Kesetiaan terhadap kebenaran tetap menjadi tanggung jawab umat Tuhan.
Sumber: Lukas 6:16; Kisah Para Rasul 1:13; Surat Yudas; tradisi gereja mengenai pelayanan Yudas Tadeus.

k. Rasul Mattias (menggantikan Yudas Iskariot)

Wilayah Pelayanan: Mattias dipilih oleh para rasul untuk menggantikan Yudas Iskariot setelah kematian Yudas (Kis 1:15-26). Alkitab tidak mencatat perjalanan pelayanannya setelah itu. Tradisi kemudian menghubungkannya dengan Yudea, Kapadokia, dan wilayah sekitar Laut Hitam.
Akhir Hidup: Tradisi mengenai kematian Mattias berbeda-beda. Ada yang menyebut ia dirajam dan kemudian dipenggal, sedangkan tradisi lain menyebut penyaliban. Tidak ada satu versi yang dapat dipastikan secara historis.
Refleksi: Mattias mengingatkan kita bahwa setelah Yudas Iskariot jatuh, pelayanan kerasulan tetap berlanjut. Pekerjaan Tuhan tidak berhenti hanya karena seorang pelayan gagal atau meninggalkan panggilannya.
Sumber: Kisah Para Rasul 1:15-26; tradisi gereja mengenai Mattias.

l. Rasul Barnabas (bukan termasuk Dua Belas, tetapi disebut rasul dalam Kisah Para Rasul 14:14)

Wilayah Pelayanan: Barnabas adalah tokoh penting dalam gereja mula-mula. Ia memperkenalkan Saulus kepada para rasul di Yerusalem dan kemudian membawa Saulus ke Antiokhia. Bersama Paulus, ia melakukan perjalanan misi ke Siprus dan Asia Kecil. Kisah Para Rasul 14:14 menyebut Paulus dan Barnabas sebagai “rasul”, tetapi mereka bukan bagian dari kelompok Dua Belas.
Akhir Hidup: Alkitab tidak mencatat kematian Barnabas. Tradisi kemudian menyatakan bahwa ia mati martir di Siprus. Namun, sumber tradisi tersebut berasal dari masa yang lebih kemudian dan tidak dapat dipastikan sebagai fakta sejarah.
Refleksi: Barnabas memberikan kesempatan kepada Saulus ketika banyak orang masih takut kepadanya. Ia juga bekerja sama dengan Paulus dalam pelayanan. Barnabas mengingatkan kita pentingnya menjadi orang yang mampu melihat potensi seseorang dan memberikan kesempatan untuk bertumbuh.
Sumber: Kisah Para Rasul 4:36-37; 9:27; 11:22-30; 13-15; 14:14.

m. Markus (Yohanes Markus), rekan pelayanan para rasul

Wilayah Pelayanan: Markus, yang juga disebut Yohanes Markus, adalah rekan pelayanan Barnabas dan Paulus. Ia ikut dalam perjalanan misi pertama, tetapi kemudian meninggalkan rombongan di Perga (Kis 13:13). Tradisi gereja kuno yang dicatat Eusebius menghubungkan Markus dengan Rasul Petrus dan menyatakan bahwa Markus kemudian memberitakan Injil di Mesir serta mendirikan gereja di Aleksandria.
Akhir Hidup: Tradisi kemudian menyatakan bahwa Markus mati martir di Aleksandria. Namun, rincian tentang cara kematiannya berasal dari tradisi gereja dan bukan dari Kitab Kisah Para Rasul.
Refleksi: Markus pernah meninggalkan perjalanan pelayanan Paulus sehingga kemudian terjadi perselisihan antara Paulus dan Barnabas mengenai apakah Markus perlu dibawa kembali (Kis 15:36-40). Namun pada kemudian hari Paulus meminta agar Markus datang karena ia berguna bagi pelayanan (2Tim 4:11). Kegagalan seseorang tidak selalu menjadi akhir dari pelayanannya.
Sumber: Kisah Para Rasul 12:12; 13:13; 15:36-40; Kolose 4:10; 2 Timotius 4:11; Eusebius, Church History 2.15-16.

n. Lukas, rekan pelayanan Rasul Paulus dan penulis Injil Lukas serta Kisah Para Rasul

Wilayah Pelayanan: Lukas adalah rekan seperjalanan Paulus dan disebut sebagai “tabib” dalam Kolose 4:14. Bagian-bagian “kami” dalam Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa penulis kitab tersebut pernah ikut dalam beberapa perjalanan Paulus. Tradisi gereja kemudian memberikan berbagai wilayah pelayanan Lukas, tetapi Alkitab sendiri tidak memberikan rincian lengkap mengenai aktivitasnya setelah perjalanan Paulus.
Akhir Hidup: Tidak ada catatan Alkitab mengenai kematian Lukas. Tradisi kemudian menyebut bahwa ia hidup sampai usia lanjut dan meninggal secara wajar, sementara tradisi lain memberikan tempat kematian yang berbeda. Karena itu, usia dan cara kematiannya tidak dapat dipastikan.
Refleksi: Dalam pembukaan Injilnya, Lukas menjelaskan bahwa ia meneliti berbagai informasi dan menyusunnya secara teratur agar pembacanya dapat mengetahui kepastian mengenai hal-hal yang telah diajarkan (Luk 1:1-4). Ini menunjukkan pentingnya penelitian, ketelitian, dan penyampaian informasi secara bertanggung jawab dalam pemberitaan iman.
Sumber: Lukas 1:1-4; Kolose 4:14; Filemon 1:24; Kisah Para Rasul; Eusebius, Church History 3.4.


Kesimpulan Part 1

Apakah para rasul mula-mula memberitakan Injil di berbagai tempat, kemudian pada waktu tertentu mereka atau para pengikut mereka menuliskannya agar dapat diketahui lebih luas? Secara garis besar, gambaran tersebut memang mendekati proses yang terjadi. Namun, prosesnya tidak sesederhana para rasul “baru menulis ketika sedang senggang”.

Pada abad pertama, masyarakat di wilayah Mediterania masih sangat kuat menggunakan tradisi lisan. Para rasul dan para pengikut mereka memberitakan tentang kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus secara lisan kepada berbagai komunitas. Pada saat yang sama, tulisan-tulisan Kristen juga mulai muncul relatif awal, terutama surat-surat Rasul Paulus. Jadi, tidak tepat mengatakan bahwa selama 15-20 tahun pertama sama sekali tidak ada tulisan Kristen.

Yang lebih tepat adalah bahwa kitab-kitab Injil dalam bentuk yang kita kenal sekarang muncul setelah periode panjang pemberitaan dan pengajaran lisan. Injil Markus umumnya ditempatkan sekitar tahun 65-70 M oleh banyak ahli, meskipun tanggalnya tetap diperdebatkan. Jika pelayanan dan kebangkitan Tuhan Yesus ditempatkan sekitar tahun 30 M, berarti Injil Markus ditulis kira-kira 35-40 tahun kemudian.

Mengapa Injil tidak segera ditulis dalam bentuk kitab? Apakah para rasul lalai? Apakah berita tentang Tuhan Yesus mengalami perubahan selama masa tersebut? Ataukah ada alasan historis, sosial, dan teologis yang menjelaskan mengapa tradisi lisan tetap memainkan peranan penting sebelum akhirnya dituangkan dalam bentuk Injil tertulis?

Menariknya, tradisi kuno yang dicatat Eusebius mengenai Injil Markus justru menggambarkan hubungan antara pemberitaan lisan dan penulisan. Menurut Eusebius, Markus menjadi pengikut dan penerjemah/pencatat pengajaran Rasul Petrus, lalu atas permintaan orang-orang yang telah mendengar pemberitaan Petrus, Markus menuliskan apa yang telah diajarkan.

Jadi, kita tidak sedang melihat suatu masa ketika Kabar Baik “hilang” selama puluhan tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali dalam bentuk buku. Yang terjadi adalah proses bertahap: peristiwa → kesaksian para saksi → pemberitaan lisan → pengajaran dalam jemaat → penggunaan berbagai sumber dan tradisi → penulisan Injil → penyebaran dan pembacaan Injil dalam jemaat-jemaat.

Jadi dalam edisi berikutnya, kita akan mempelajari bagaimana sejarah Pekabaran Injil ke Berbagai Tempat di dunia ini.

Demikianlah para pembaca yang dikasihi Tuhan Yesus, semoga kita semua diberi berkat dan hikmat oleh Tuhan Yesus Kristus untuk dapat memahami firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati.


Yesus mendekati mereka dan berkata:
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa
di Surga dan di bumi.
Karena itu pergilah,
jadikanlah semua bangsa murid-Ku
dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu.
Dan ketahuilah,
Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman.”

Matius 28:18-20

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *