Edisi 28 – “Penyingkapan kesalahan berpuasa yang banyak dilakukan orang (Uncovering common mistakes people make while fasting)” – Seri Renungan Pagi

By Febrian 22 Oktober 2026 3:20 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus. Seperti yang telah kita ketahui dalam kesempatan sebelumnya kita telah membahas mengenai pengajaran berdoa yang langsung diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami. Sedangkan dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai penyingkapan kesalahan berpuasa yang banyak dilakukan orang. Semoga kita bisa memperoleh hikmat dan pengetahuan, untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
I. Pengantar
Matius 6:16–18 [TB2-LAI©2023]
16 “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka Sudah mendapat upahnya.
17 Namun, apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamų dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Dari ayat bacaan di atas, dapat kita lihat Tuhan Yesus melarang murid-Nya berpuasa dengan menunjukkannya kepada orang lain, melainkan justru sebaliknya harus hanya Allah Bapa saja yang tahu kita sedang berpuasa. Maknanya persis seperti pengajaran tentang berdoa, hal berpuasa ini juga bersifat pribadi kita dengan Allah secara langsung.
II. Berpuasa dalam Perjanjian Lama
Berpuasa itu sesungguhnya telah dilakukan sejak beribu-ribu tahun lalu, sebagai ungakapan kesungguhan dalam berdoa.
Mari kita bersama mempelajari latar belakang berpuasa yang dilaksankan oleh bangsa Israel:
Hukum Taurat dan Catatan Sejarah
- Keluaran 24:18, Keluaran 34:28 dan Ulangan 9:9, 18 — Musa berada di gunung tidak makan roti dan tidak minum air selama empat puluh hari empat puluh malam.
- Imamat 16:29–31, Bilangan 29:7 dan Imamat 23:26–32— Ketetapan merendahkan diri pada Hari Pendamaian, yang secara tradisional dipahami mencakup puasa.
- Hakim-hakim 20:26 — Bangsa Israel berpuasa dan memohon petunjuk TUHAN.
- 1 Samuel 1:7–8 — Hana tidak makan karena kesedihan hatinya.
- 1 Samuel 7:5–6 — Bangsa Israel berpuasa, mengaku dosa, dan mencari TUHAN.
- 1 Samuel 14:24–46 — Saul melarang tentaranya makan sampai petang.
- 1 Samuel 20:34 — Yonatan tidak makan karena dukacita dan kemarahannya.
- 1 Samuel 28:20 — Saul tidak makan sepanjang hari dan malam.
- 1 Samuel 31:13 — Penduduk Yabesh-Gilead berpuasa tujuh hari setelah menguburkan Saul.
- 2 Samuel 1:11–12 — Daud dan orang-orangnya berkabung dan berpuasa atas kematian Saul dan Yonatan.
- 2 Samuel 3:35 — Daud menolak makan sampai matahari terbenam.
- 2 Samuel 12:16–23 — Daud berpuasa dan memohon kepada Allah demi anaknya yang sakit.
- 1 Raja-raja 13:8–22 — Larangan makan dan minum yang diberikan kepada seorang abdi Allah dalam menjalankan tugasnya.
- 1 Raja-raja 19:7–8 — Elia berjalan selama empat puluh hari dengan kekuatan dari makanan yang diberikan kepadanya.
- 1 Raja-raja 21:9–12 — Izebel mengumumkan puasa untuk menjebak Nabot.
- 1 Raja-raja 21:27–29 — Ahab merendahkan diri setelah mendengar hukuman Allah.
- 2 Raja-raja 6:24–30 — Kelaparan dan penderitaan di Samaria; konteksnya bukan perintah puasa.
- 1 Tawarikh 10:12 — Penduduk Yabesh-Gilead berpuasa tujuh hari.
- 2 Tawarikh 20:3–4 — Yosafat mengumumkan puasa dan mencari pertolongan TUHAN.
- Ezra 8:21–23 — Ezra mengumumkan puasa untuk memohon perlindungan Allah dalam perjalanan.
- Ezra 9:5–6 — Ezra berdoa sambil merendahkan diri karena dosa bangsa Israel.
- Ezra 10:6 — Ezra berkabung dan tidak makan atau minum.
- Nehemia 1:4 — Nehemia berkabung, berpuasa, dan berdoa.
- Nehemia 9:1–3 — Bangsa Israel berpuasa, mengaku dosa, dan menyembah TUHAN.
- Ester 4:1–3 — Orang Yahudi berpuasa, menangis, dan berkabung ketika menghadapi ancaman pemusnahan.
- Ester 4:15–17 — Ester meminta orang Yahudi berpuasa selama tiga hari tiga malam.
- Ester 9:31 — Puasa dan ratapan berkaitan dengan peristiwa pembebasan orang Yahudi.
Kitab Puisi dan Kitab Para Nabi
- Mazmur 35:13 — Daud merendahkan diri dengan berpuasa ketika mendoakan orang lain.
- Mazmur 69:11–12 — Puasa menjadi bagian dari dukacita dan penghinaan yang dialami pemazmur.
- Mazmur 102:4–5 — Penderitaan pemazmur digambarkan melalui hilangnya selera makan.
- Mazmur 109:24 — Pemazmur menggambarkan tubuhnya melemah karena berpuasa.
- Yesaya 58:1–14 — Teguran terhadap puasa yang hanya bersifat lahiriah dan penjelasan mengenai puasa yang dikehendaki Allah.
- Yeremia 14:11–12 — TUHAN menyatakan bahwa puasa bangsa itu tidak membuat-Nya berkenan mendengar mereka.
- Yeremia 36:6–9 — Pembacaan firman TUHAN pada hari puasa.
- Daniel 6:18 — Raja Darius tidak makan dan tidak tidur karena cemas terhadap Daniel.
- Daniel 9:3–19 — Daniel mencari Allah melalui doa, permohonan, puasa, kain kabung, dan abu.
- Daniel 10:2–3 — Daniel berkabung selama tiga minggu dan membatasi makanannya.
- Yoel 1:13–14 — Panggilan kepada para imam untuk berkabung dan menguduskan puasa.
- Yoel 2:12–17 — Seruan untuk kembali kepada TUHAN dengan berpuasa, menangis, dan berkabung.
- Yunus 3:5–10 — Penduduk Niniwe berpuasa dan bertobat setelah mendengar pemberitaan Nabi Yunus.
- Zakharia 7:3–7 — Pertanyaan tentang puasa dan maknanya di hadapan TUHAN.
- Zakharia 8:18–19 — Puasa pada bulan-bulan tertentu akan menjadi sukacita dan kegembiraan.
1. Ketetapan Khusus TUHAN Mengenai Sabat Yang Disertai Berpuasa
Imamat 16:29–31 [TB2-LAI©2023]
29 Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selamanya bagi kamu: pada bulan ketujuh, tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan tidak melakukan pekerjaan apapun, baik warga asli maupun pendatang yang tinggal di tengah-tengahmu. 30 Sebab, pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk menahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN. 31 Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu , dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Inilah ketetapan untuk selamanya.
Imamat 23:26–35 [TB2-LAI©2023]
26 TUHAN berfirman kepada Musa, 27 “Akan tetapi, tanggal sepuluh bulan ketujuh itu adalah hari Pendamaian. Kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan merendahkan diri dengan berpuasa serta mempersembahkan kurban oleh api bagi TUHAN. 28 Pada hari itu juga janganlah kamu melakukan pekerjaan apapun. Itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan TUHAN, Allahmu. 29 Sesungguhnya, setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri dengan berpuasa, harus dilenyapkan dari antara orang sebangsanya.
30 Setiap orang yang melakukan pekerjaan apa pun pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya. 34 Janganlah kamu melakukan pekerjaan apa pun. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun di segala tepat kediamanmu. 35 Itulah Sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu dari matahari terbenam sampai matahari terbenam kamu harus merayakan Sabatmu.”
Jadi telah jelas, Puasa bukanlah praktik yang baru muncul pada zaman Tuhan Yesus, yaitu ketetapan hari Pendamaian yang ditetapkan TUHAN sendiri dari zaman dahulu dan sudah dilaksanakan secara turun temurun. Namun, Tuhan Yesus melihat bahwa pada praktiknya, ada orang-orang yang melaksanakan puasa dengan niat memamerkan perbuatan itu kepada orang lain, dengan harapan dipuji.
Selain puasa terkait dengan hari Pendamaian tersebut, terdapat pula berbagai puasa yang dilakukan sesuai keadaan. Seperti diceritakan dalam 1 Samuel 7:6, bangsa Israel berpuasa sebagai bagian dari pertobatan dan kembalinya mereka kepada Tuhan. Dalam Nehemia 1:4, Nabi Nehemia berpuasa dan berdoa ketika mendengar keadaan Yerusalem yang menyedihkan. Dalam Ester 4:16, puasa dilakukan ketika bangsa Yahudi menghadapi ancaman pemusnahan. Dalam Ezra 8:21–23, puasa dilakukan untuk memohon perlindungan Tuhan dalam perjalanan yang berbahaya.
Dari berbagai peristiwa tersebut di atas, kita ketahui bahwa puasa bukan ritual untuk menahan diri dari makanan, melainkan ungkapan dukacita, pertobatan, permohonan pertolongan, dan pernyataan penundukan kepada Tuhan. Seseorang berhenti total dari seluruh pekerjaan mengejar kebutuhan jasmaninya, demi mengakui bahwa hidupnya bergantung kepada Tuhan. Itulah makna berpuasa yang sesungguhnya.
2. Para nabi telah memperingatkan tentang puasa yang salah
Hal berpuasa yang dibahas Tuhan Yesus dalam Matius 6:16–18 di atas, sebetulnya bukan hal yang baru sekali itu diperingatkan TUHAN. Jauh sebelum kelahiran Tuhan Yesus, para nabi telah memperingatkan bangsa Israel bahwa dengan menjalankan ritual keagamaan, tidak otomatis seseorang menjadi benar di hadapan Tuhan.
Dalam Yesaya 58:3–7, bangsa Israel mempertanyakan mengapa mereka telah berpuasa dan merendahkan diri, namun Tuhan seolah-olah tidak memperhatikan mereka. Melalui Nabi Yesaya, Tuhan membongkar ketidaksesuaian antara ibadah mereka dan kehidupan sehari-hari. Mereka berpuasa, tetapi tetap melakukan kehendaknya sendiri, memperlakukan pekerja dengan tidak adil, bertengkar, dan melakukan kejahatan. Tuhan justru menghendaki agar mereka melepaskan belenggu ketidakadilan, memperhatikan orang yang tertindas, memberi makan orang lapar, dan menolong orang miskin.
Perilaku serupa terjadi dalam Zakharia 7:3–10. Setelah bangsa Israel menjalani masa pembuangan, mereka mempertanyakan apakah kebiasaan berpuasa pada bulan-bulan tertentu masih perlu diteruskan. Jawaban Tuhan melalui Nabi Zakharia bukan sekadar menentukan apakah ritual itu harus dipertahankan. Tuhan mempertanyakan untuk siapa sebenarnya mereka berpuasa. Tuhan kemudian mengingatkan mereka tentang keadilan, kesetiaan, belas kasihan, dan larangan menindas orang yang lemah.
Jadi dari penjelasan di atas, kita ketahui bahwa praktik puasa yang tidak benar sudah lama menjadi perhatian Tuhan, yaitu di mana seseorang menjalankan ritual keagamaan dengan taat, namun motivasinya keliru, atau perilaku kesehariannya jahat.
III. Berpuasa Menurut Tuhan Yesus Kristus
1. Ajaran Tuhan Yesus tentang sedekah, doa, dan puasa
Seperti kita ketahui dalam Khotbah-Nya di bukit, kita telah membahas ajaran Tuhan Yesus dalam Matius 6:1–18 tentang memberi sedekah, berdoa, dan sekarang tentang berpuasa. Dalam ketiga pengajaran itu, Tuhan Yesus sama-sama memperingatkan murid-murid-Nya agar tidak melakukan kegiatan keagamaan demi memperoleh pujian manusia.
Dalam Matius 6:1–4, seseorang dapat memberi sedekah demi memperoleh pengakuan. Dalam Matius 6:5–15, seseorang dapat berdoa untuk mempertontonkan kesalehannya. Dalam Matius 6:16–18 kali ini, seseorang bisa berpuasa dengan tujuan membuat orang lain kagum akan kesalehannya.
Perhatikanlah bahwa pada dasarnya ketiga kegiatan tersebut sebetulnya baik. Memberi sedekah adalah tindakan yang baik. Berdoa merupakan bagian penting dari kehidupan rohani setiap orang. Berpuasa pun memiliki arti yang sangat penting dalam hubungan kita dengan Allah. Namun, persoalannya terletak pada motivasi seseorang bersedekah, berdoa atau berpuasa. Seseorang bisa saja berbuat baik dengan tujuan yang tidak benar, misalnya ingin dihormati, ingin imbal jasa, atau tujuan lainnya.
Karena itu, peringatan Tuhan Yesus bukan hanya berlaku bagi orang yang berpuasa saja. Peringatan ini berlaku bagi siapa pun yang menjadikan agama sebagai panggung untuk membangun penilaian positif tentang dirinya sendiri.
2. Kemunafikan yang ditentang Tuhan Yesus
Tuhan Yesus menggambarkan orang-orang yang munafik dengan sengaja memperlihatkan wajah muram supaya orang lain mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa. Dalam bahasa Yunani, kata σκυθρωποί = skythrōpoi, dipakai untuk menggambarkan tindakan mereka membuat penampilan tampak tidak menarik atau tidak terurus, sengaja memberi kesan sedang menjalani penderitaan keagamaan. Inilah bahaya yang tersembunyi dalam kegiatan keagamaan. Seseorang dapat memulai dengan niat mencari Tuhan, tetapi kemudian menikmati perhatian manusia yang muncul karena kegiatan tersebut. Tanpa disadari, pusat perhatiannya berpindah. Ia tidak lagi terutama memikirkan Tuhan yang hendak dicari, melainkan orang-orang yang diharapkan akan memperhatikan dirinya.
Kemunafikan dalam ayat ini bukan berarti orang itu sama sekali tidak berpuasa atau tidak memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Bisa saja ia benar-benar menahan lapar. Bisa saja ia sungguh-sungguh berdoa. Bisa saja ia memang menjalankan disiplin keagamaan secara teratur. Namun, Tuhan Yesus mengatakan mereka munafik, alias memiliki kepalsuan. Di satu sisi, ia menjalankan kegiatan keagamaan yang ditujukan kepada Tuhan. Di sisi lain, ia sengaja mengatur penampilannya agar memperoleh pengakuan manusia. Inilah kemunafikan yang berbahaya: tindakan lahiriahnya dapat benar, tetapi tujuan hatinya telah menyimpang.
Kita bahkan dapat melangkah lebih jauh. Seseorang mungkin memulai pelayanan dengan tulus, kemudian merasa senang ketika dipuji. Pada tahap berikutnya, ia mulai mengulangi tindakan tertentu karena ingin kembali mendapat pujian itu. Akhirnya, sesuatu yang semula dilakukan untuk Tuhan perlahan-lahan menjadi sarana membangun harga diri. Perubahan seperti ini bisa saja terjadi dengan perlahan di dalam diri seseorang, yaitu ia mungkin tetap menggunakan bahasa rohani, tetap berdoa, dan tetap melayani, namun tanpa disadarinya, kebutuhan untuk dianggap saleh telah menguasai dirinya.
3. Orang Munafik Tidak Akan Menerima Upah Dari Tuhan
Tuhan Yesus kemudian melanjutkan bahwa orang seperti itu “sudah mendapat upahnya”. Apakah upah yang dimaksud? Dalam konteks ayat ini, mereka telah memperoleh sesuatu yang memang mereka cari: perhatian dan pengakuan manusia.
Bayangkan seseorang yang sedang berpuasa, berharap orang lain berkata, “Luar biasa, hebat anda sangat rohani. Tidak banyak orang yang sanggup melakukan pengorbanan seperti itu.” Ketika pujian tersebut diterimanya, tujuan tersembunyi itu sudah tercapai. Ia mungkin bangga atas pengakuan tersebut, namun, menurut Tuhan Yesus hanya pujian manusia itu sajalah “upah” yang diterimanya.
Jika kita ingat konteks berpuasa yang dimaksud dalam Hukum Taurat, yaitu bertujuan untuk memohon penahiran diri dari segala dosa di hari Sabat, maka sesungguhnya Upah yang dinanti-nantikan seseorang adalah pengudusan atas segala dosa yang diperbuatnya.
Imamat 16:30
30 Sebab, pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk menahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN.
Jadi jelas di sini, bahwa jika seseorang berdoa berpuasa namun motivasinya untuk dipuji orang lain, maka penahiran dosa oleh TUHAN sebagai upah, tidak akan terjadi.
4. Berpuasa Yang Dikehendaki Allah
Tuhan Yesus mengajarkan agar puasa dijalani secara wajar, tanpa sengaja menampilkan wajah muram atau penderitaan untuk menarik perhatian dan memperoleh pujian manusia. Pengajaran ini tidak berarti kita harus berpura-pura bahagia atau menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, sebab persoalannya terletak pada motivasi hati.
Yesaya 58:6-12
6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.
Firman Tuhan di atas telah sangat jelas bahwa Allah mau setiap orang memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap penderitaan sesamanya. Berpuasa itu bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk kemuliaan Tuhan. Di saat seseorang membebaskan penderitaan sesamanya, memberikan apa yang disenanginya buat orang lain, memuaskan hati orang yang tertindas, maka janji Tuhan bahwa terangnya akan terbit dalam gelap dan menyinari setiap orang yang berada dalam kegelapan.
Sesungguhnya ini adalah prinsip penginjilan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu kita harus menjadi Garam dan Terang dunia. Di kala kita berpuasa, justru kita malah harus giat ‘menyinarkan’ terang Kristus yang ada di dalam diri kita. Dengan demikian semua orang akan bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Raja segala raja.
IV. Renungan
Sesudah mempelajari Matius 6:16–18, kita perlu membiarkan firman Tuhan memeriksa kehidupan kita secara pribadi. Pertanyaan-pertanyaan berikut tidak dimaksudkan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk menolong kita melihat keadaan hati sendiri.
- Apabila tidak seorang pun mengetahui bahwa saya sedang berpuasa, apakah saya tetap bersedia melakukannya?
- Apakah saya pernah menggunakan pengorbanan keagamaan untuk membuat diri sendiri merasa lebih saleh daripada orang lain?
- Apakah saya berharap Tuhan memenuhi permintaan saya karena merasa telah memberikan pengorbanan tertentu?
- Apakah saya lebih mudah menahan lapar daripada menahan amarah, kesombongan, keinginan membalas, atau kebiasaan merendahkan sesama?
- Apakah puasa saya mendorong saya untuk lebih mengasihi Tuhan dan memperhatikan orang yang membutuhkan pertolongan?
- Apakah saya mampu tetap rendah hati ketika tidak memperoleh pujian atas kegiatan rohani yang saya lakukan?
- Sesudah puasa selesai, perubahan apa yang sungguh-sungguh perlu saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu menyenangkan. Namun, kejujuran di hadapan Tuhan lebih bermanfaat daripada mempertahankan gambaran diri sebagai orang yang selalu benar.
Kita tidak perlu menjadikan pemeriksaan diri sebagai sarana untuk terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Tujuannya adalah mengenali bagian kehidupan yang perlu diperbaiki dan kemudian mengambil langkah yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
V. Doa
Tuhan Yesus, pada hari ini kami diajar mengenai berpuasa yang dikehendaki Allah. Semoga Roh Kudus-Mu berkenan memperbaiki cara berpikir kami yang keliru selama ini dengan motivasi untuk mengasihi sesama kami yang membutuhkan pertolongan. Terima Kasih Tuhan. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini:
Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,
karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa
Matius 9:13
Amin.
