Edisi 25 – Menjadi Sempurna Sama Seperti Bapamu Yang di Surga Sempurna – Seri Renungan Pagi

By Febrian 14 Oktober 2026 04:17 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Pada kesempatan yang lalu telah kita bahas mengenai larangan untuk tidak bersumpah demi apapun juga, maka hari ini kita akan mempelajari firman yang mengajar kita untuk Menjadi Sempurna Sama Seperti Bapamu Yang di Surga Sempurna. Kiranya kita bisa memperoleh hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
I. Pengantar
Tuhan Yesus telah mengajar untuk mengasihi tanpa syarat terhadap sesama manusia, sebagai berikut:
Matius 5:38-48 [TB2-LAI©2023]
38 Kamu telah mendengar yang difirmankan: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. a 39 Namun, Aku berkata kepadamu: Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu 40 Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 41 Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. 42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam darimu.
43 Kamu telah mendengar yang difirmankan: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. b 44 Namun, Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, sebab Ia menerbitkan matahari-Nya bagi orang yang jahat maupun orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar maupun orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apa lebihnya perbuatanmu? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? 48 Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.“
Lukas 6:29-30
27 “Tetapi, kepada kamu yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuh-musuhmu, berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu, 28 berkatilah mereka yang mengutuk kamu, berdoalah bagi mereka yang berbuat jahat terhadap kamu. 29 Siapa yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain. Siapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. 30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu. Janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
31 Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu perbuatlah juga demikian kepada mereka 32 Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Sebab, orang berdosa pun mengasihi orang yang menga- sihi mereka. 33 Jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang berdosa pun berbuat demikian. 34 Jikalau kamu memberi pinjaman kepada orang, dan berharap akan menerima kembali, apakah jasamu? Orang berdosa pun memberi pinjaman kepada orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
35 Tetapi, kamu, kasihilah musuh-musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan apa pun. Upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Maha Tinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang jahat. 36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.‘”
Firman Tuhan Yesus tersebut, menyempurnakan hukum taurat yang diucapkan jauh sebelumnya:
Ulangan 19:21
21 Janganlah engkau memandang dengan belas kasihan, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.
Imamat 19:18
18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah TUHAN.
Ulangan 19:21
21 Janganlah engkau memandang dengan belas kasihan, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.
Firman Tuhan tersebut diucapkan kepada bangsa Israel masa lampau, untuk memberi efek jera pada orang yang terus menerus berbuat kejahatan walaupun telah berulangkali diberi peringatan. Namun, Tuhan Yesus secara tegas melarang kita untuk tidak melawan atau membalas orang yang berbuat jahat kepada kita. Justru sebaliknya kalau ada orang yang mau menampar pipi kanan, berilah juga kepadanya pipi kiri. c Maksudnya, jagalah hati jangan memiliki dendam, melainkan memandang orang yang berbuat jahat itu sebagai objek kasih Allah yang masih belum mengenal-Nya. Tugas kita hanya memandang kepada Allah yang berjanji akan melindungi dan menjaga kita. Dengan tidak membalas perbuatan jahat orang tersebut, maka kita memberi kesempatan bagi Allah yang akan membalas perbuatannya.
Jadi kita diajar untuk menerapkan firman Tuhan Yesus,
“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.“
III. The Unconditional Love
1. Jangan membalas orang yang berbuat jahat
Tuhan Yesus mengajar kita tentang “Unconditional Love” bagi orang yang berbuat jahat hendak mengadukan kita karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubah kita. Mungkin di zaman sekarang, ada orang yang sengaja menciptakan kasus aduan palsu untuk menyerobot rumah atau tanah milik kita. Dalam hal itu Tuhan Yesus melihat hati kita, apakah kita merasa memiliki benda-benda yang ada di ‘tangan’ kita, atau sadar bahwa seluruh harta benda yang kita ‘miliki’, sesungguhnya adalah milik Allah dan tidak boleh membuat kita terikat padanya.
Jujur, pasti jika mengalami keadaan sungguhan, akan sangat sulit menjalaninya. Namun, Tuhan berfirman:
Ulangan 32:35
32 Dendam dan pembalasan adalah hak-Ku, pada waktu kaki mereka goyah. Sebab hari bencana mereka sudah dekat, apa yang disediakan bagi mereka segera datang. 36 Sungguh, TUHAN memberi keadilan kepada umat-Nya, dan berbelas kasihan kepada hamba-hamba-Nya, apabila dilihat-Nya kekuatan mereka lenyap dan yang terikat ataupun yang bebas sudah tiada.
Jangan sekalipun pernah membalas kejahatan orang yang berbuat jahat pada kita, karena sesungguhnya kita tidak mempunyai hak untuk membalas. Itu adalah haknya Tuhan semata. Kita hanya perlu mendoakan orang yang menjahati kita, mendoakan agar matanya yang buta dicelikkan Tuhan, supaya akhirnya bertobat dan berbalik dari jalannya yang jahat.
Kemudian, bagaimana dengan harta kita yang diambil, apakah dengan mudah bisa kita relakan? Ingatlah bahwa segala harta benda kita itu miliknya Allah, semuanya itu dititipkan pada kita. Allah yang memberi Allah juga yang mengambil. Namun, Allah berjanji, jika kita hanya fokus pada Allah dan segala kehendak-Nya maka Ia juga pasti memelihara kita, seperti dalam janji-Nya berikut ini:
Matius 6:32
32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, padahal Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Karena itu, janganlah khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
Kunci Sukses Tidak Membalas Orang yang Berbuat Jahat
Sadari hal berikut:
-
- Pembalasan adalah haknya Tuhan, bukan hak kita.
- Seluruh harta kita adalah milik Allah. Ia pasti mencukupi kebutuhan kita.
- Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
2. Pay It Forward
Pay it forward = Membayar kebaikan orang bagi kita, bukan kepada yang berbuat baik kepada kita, tetapi berbuat baik bagi orang lain yang membutuhkan.
Tuhan Yesus mengajar melakukan sesuatu tanpa pamrih dan rela berkorban, bagi orang lain yang meminta sesuatu pada kita. Misalnya, kita diminta berjalan bersama seseorang sejauh satu mil, maka berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Dalam hal kita tidak diuntungkan bahkan malah dirugikan, jangan pikirkan itu sebagai suatu kerugian, melainkan sebagai pelayanan kepada Allah.
Demikian pula halnya kepada orang yang meminta atau meminjam sesuatu kepada kita, hendaknya kita memiliki kemurahan hati untuk memberikannya dengan sukarela, walaupun itu dirasa berat dan merugikan. Allah Bapa di surga melihat perbuatan kita itu. Tuhan Yesus mengajar kita untuk mau memiliki ‘empati’ bagi orang lain yang meminta bantuan pertolongan kita.
Jika kita perhatikan lebih dalam lagi ajaran Tuhan Yesus di atas, berbuat kebaikan itu bukan hanya untuk membantu orang yang kita kenal, misalnya keluarga atau sahabat, melainkan kepada siapa saja. Untuk menolong saudara atau sahabat, pasti tidak akan kita tunda-tunda, langsung kita lakukan, namun untuk orang lain yang tidak dekat, atau bahkan orang yang tidak kita kenal, seringkali masih sulit bagi kita untuk membantu dengan ikhlas.
Mari kita pelajari lagi kisah “Orang Samaria yang murah hati” dalam Lukas 10:25-37:
Tuhan Yesus menceritakan tentang seorang yang dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan hampir mati di pinggir jalan. Seorang imam dan seorang Lewi melewati seberang jalan dari orang itu, tetapi mereka tidak menolongnya. Kemudian, seorang Samaria lewat di situ dan melihat orang itu serta merasa kasihan. Ia merawat luka-lukanya serta membawanya ke penginapan. Ia juga membayar biaya perawatannya, serta berjanji akan membayar hingga sembuh.
Melalui kisah ini, Tuhan Yesus mengajar kita, bahwa mengasihi sesama itu harus dengan tindakan nyata, tanpa membeda-bedakan siapa mereka. Tokoh Orang Samaria dipilih Tuhan Yesus dalam perumpamaan-Nya, karena pada zaman itu, orang Yahudi dan orang Samaria memiliki hubungan yang tidak baik. Orang Yahudi umumnya memandang rendah orang Samaria. Dengan menjadikan orang Samaria sebagai tokoh yang menolong korban perampokan, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kebaikan dan kasih tidak dibatasi oleh suku, agama, atau kelompok tertentu. Orang yang benar-benar mengasihi sesama bukanlah orang yang hanya mengetahui hukum Tuhan, melainkan orang yang mau menunjukkan belas kasihan melalui tindakan nyata, bahkan kepada orang yang berbeda kelompok dengannya.
Sadarilah juga bahwa sesungguhnya kita ini sama dengan orang yang dirampok di jalan itu, terluka dan terancam maut. Hidup kita dalam lumpur dosa yang membawa kita kepada api kekal. Tuhan Yesus turun ke dunia mengosongkan diri-Nya sama dengan manusia, yang bagaikan orang Samaria itu yang dihina dihindari orang. Namun Ia justru dengan rela dan penuh kasih mengangkat kita yang tergeletak tidak berdaya dari jalanan, menyelamatkan kita untuk dipulihkan dari luka yang mengancam kepada kematian.
Di saat ini kita sudah dipulihkan dari segala dosa dan kejahatan yang membawa maut, jadi marilah kita sadar bahwa kita adalah orang yang harus membalas kebaikan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mau kita membalas kebaikan-Nya dengan taat pada segala firman Allah, serta memiliki kerelaan hati menolong orang dalam kesulitan. Tidak hanya menolong orang yang membutuhkan pertolongan, bahkan Ia mau kita mengasihi dan mendoakan orang yang berbuat jahat kepada kita.
Itulah yang dimaksud Tuhan Yesus, kita harus menjadi sempurna, sama seperti Bapa yang di surga adalah sempurna.
Yakobus 2:8-9
8 Tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik. 9 Namun, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata bahwa kamu melakukan pelanggaran.
Kunci Sukses Pay It Forward
Sadari hal berikut:
-
- Kita tadinya orang yang terkapar di jalan hampir mati tapi ditolong Tuhan Yesus
- Kita wajib membalas kebaikan hati Allah dengan taat kepada firman-Nya
- Pay it forward = membalas kebaikan Allah dengan berbuat baik kepada sesama kita
III. Renungan
- Apakah Anda paham arti “menjadi sempurna seperti bapa-Mu yang di surga adalah sempurna”, yang dimaksud dalam renungan hari ini?
- Mengapa dikatakan Anda wajib memiliki hati yang rela berkorban untuk orang lain yang tidak Anda kenal? Bagaimana cara untuk dapat melakukan itu?
- Sebutkan sedikitnya 5 perbuatan baik berupa pertolongan orang yang telah Anda terima dari orang lain baru-baru ini! Gambarkan perasaan Anda setelah mengalami pertolongannya? Apa tekad anda dalam rangka berterima kasih dan membalas kebaikannya?
- Jelaskan makna dari Pay It Forward? Berikan contoh nyata dalam keseharian Anda!
IV. Doa
Selamat Pagi Tuhan Yesus. Kami mengucap syukur atas kebaikan-Mu sepanjang pagi malam tadi. Kalau pagi ini kami diberi kesempatan lagi untuk menjalani hidup, kami akan mempraktikkan firman-Mu ini. Terima Kasih banyak Tuhan atas segalanya. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
sama seperti Bapamu murah hati.”
(TB2 LAI©2023)
Amin.
