Edisi 21 – “Tuhan Yesus dan Hukum taurat (Hukum Kasih Kristus)” Part 2 – Seri Renungan Pagi

By Febrian 08 Oktober 2026 04:30 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Edisi Sebelumnya, telah kita bahasa mengenai “Tuhan Yesus dan Hukum taurat” Part 1 . Dalam kesempatan hari ini, kita bersama akan merenungkan firman Tuhan mengenai “Tuhan Yesus dan Hukum taurat” Part 2. Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.


III. Hukum Kasih Kristus

1. Ajaran untuk saling mengasihi

Dalam konteks Tuhan Yesus mengajar para murid untuk saling mengasihi, berbeda dengan sekedar “berbuat baik” pada umumnya. Terjemahan bebasnya:

ἐν τούτῳ γνώσονται πάντες ὅτι ἐμοὶ μαθηταί ἐστε, ἐὰν ἀγάπην ἔχητε ἐν ἀλλήλοις = en toutō gnōsontai pantes hoti emoi mathētai este, ean agapēn echēte en allēlois = “Dengan kasih yang kalian tunjukkan satu kepada yang lain, semua orang akan dapat mengenali bahwa kalian adalah murid-murid-Ku.”

Kasih yang Tuhan Yesus maksud itu bukan hanya untuk menjaga hubungan internal. Kasih tersebut dimaksudkan untuk menjadi kesaksian yang dapat dilihat oleh masyarakat luar. Sebab, orang pada umumnya mudah atau terbiasa mengasihi dan berbuat baik kepada orang yang memiliki makna atau peran besar bagi dirinya, seperti orangtua, saudara, sahabat, teman, rekan kerja dsb.

Kenyataannya berbeda untuk mengasihi orang yang dirasa “jauh” atau “asing” baginya, karena secara otomatis biasanya akan timbul defense mechanism (mekanisme membela diri). Secara nature-nya setiap orang akan sangat sulit mengasihi seseorang yang “jauh” atau “asing” baginya, atau orang yang tidak memiliki makna atau peran besar bagi dirinya. 

Terkait dengan latar belakang sosial pada zaman itu, Tuhan Yesus mengajarkan kasih di tengah masyarakat yang sangat memperhatikan status dan kedudukan. Masyarakat pada masa itu terbagi dalam berbagai kelompok dengan batas-batas sosial yang kuat, disertai perbedaan status, kehormatan, hubungan atasan dan bawahan, perbedaan agama, serta kesenjangan ekonomi.

Jadi, ajaran Tuhan Yesus adalah bahwa di tengah masyarakat yang banyak membedakan orang berdasarkan status, kelompok, kekuasaan, dan kepentingan, para murid harus saling mengasihi tanpa memandang status, tanpa membatasi kasih hanya kepada orang yang memiliki kesamaan dengan mereka, tanpa mencari keuntungan pribadi, dan tanpa mengharapkan balasan atas perbuatan baik yang mereka lakukan.

2. Waspada terhadap Kasih yang Palsu

Roma 12:9-10

9 Hendaklah kasih itu tulus ikhlas! Bencilah yang jahat; berpautlah pada yang baik.
10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Allah sangat mengasihi kita, sehingga Ia mengaruniakan keselamatan melalui Anak-Nya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus, sehingga Allah mau kita pun dengan tulus mengasihi sesama kita, karena seharusnya kita sadar sudah terlebih dahulu dikasihi-Nya.

Namun, tahukah Anda bahwa ada orang yang belum menyadari hal itu, sehingga melakukan “kasih yang palsu“? Seperti apa itu?

Kasih yang palsua atau mengasihi tapi berpura-pura, adalah perbuatan orang yang berbuat baik dengan motivasi terselubung di dalam hati mereka. Tampak luarnya orang memberi kepada yang lain, membantu orang yang sedang kesusahan, memberikan perhatian kepada yang dalam kesedihan dsb, namun sesungguhnya di dalam hati mereka terdapat motivasi lain.

Mari berikut ini saya beri ilustrasi untuk memudahkan pemahaman kita:

Kasus 1 – Remaja yang berbuat baik

Ada seorang remaja yang biasanya mengurung diri di kamar dengan game consolenya, tiba-tiba dari pagi di depan kitchen sink mencuci piring, menyapu rumah, merapikan barang-barang berantakan dsb. Ia sengaja menunjukkan dirinya sedang melakukan “kebaikan”, sampai ibunya memperhatikan dan bertanya kepadanya. Ujung-ujungnya ia minta uang tambahan untuk jajan. 

Amsal 16:2

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”

Remaja tersebut melakukan pekerjaan rumah yang secara lahiriah merupakan tindakan baik, tetapi tujuannya adalah mendapatkan uang tambahan dari ibunya. Kasus ini berkaitan dengan peringatan bahwa penampilan luar tidak selalu mencerminkan motivasi yang sebenarnya. Tuhan menghendaki agar kita memeriksa hati dan melakukan kebaikan dengan tulus, bukan menjadikannya sarana untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Kasus 2 – Pejabat melakukan kunjungan ke daerah

Seorang pejabat yang adalah anak Tuhan, melakukan kunjungan ke daerah terpencil dan membawa sumbangan serta konsep perbaikan demi kesejahteraan penduduk lokal di sana. Namun, bersama di dalam mobilnya ia membawa serta beberapa orang reporter berita TV untuk meliput kunjungannya, dengan imbalan kompensasi tertentu. Saya rasa Anda sudah bisa menebak tujuan sesungguhnya dari apa kunjungannya bukan? Kita lihat berikutnya contoh lain, yang sebetulnya pernah saya saksikan sendiri.

1 Tesalonika 2:5-6

5 “Karena kami tidak pernah bermulut manis, dan tidak pernah mau mencari keuntungan, seperti kamu tahu; dan Allah adalah saksi kami. 6 Kami juga tidak pernah mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain.”

Membawa konsep perbaikan dan kesejahteraan bagi penduduk daerah terpencil adalah niat yang baik. Berkunjung untuk melihat langsung kondisi masyarakat juga bukan dosa. Bahkan membawa media untuk meliput sebuah kegiatan sosial bisa memiliki alasan yang sah, seperti transparansi, dokumentasi, atau mendorong kepedulian publik. Namun, menurut firman Tuhan di atas, perbuatan baik tidak seharusnya dilakukan untuk menonjolkan diri, mencari perkenan manusia, mencari keuntungan, atau berlaku licik demi keberhasilan diri sendiri.
Karena itu, persoalan dalam kasus ini bukan semata-mata pada kunjungan, konsep perbaikan, atau kehadiran reporter, melainkan pada motivasi di baliknya. Jika kunjungan itu dilakukan dengan sengaja membawa reporter dan memberi kompensasi hanya demi citra, liputan, dan pujian publik, maka perbuatan baik tersebut tidak mencerminkan ketulusan kasih yang Yesus kehendaki.

Kasus 3 – Orang kaya memberi persembahan di Gereja

Ada satu keluarga kaya raya datang ke Gereja dengan mobilnya yang bagus, berpakaian bagus, kemudian mengikuti kebaktian dengan duduk di jajaran terdepan. Pada saatnya mereka bersama memberi persembahan maju ke depan dengan amplop tebal yang dibawanya, sengaja diperlihatkan dengan jelas waktu ia memasukkan ke kotak persembahan dekat mimbar. Rasanya aneh sih, tapi nyata saya lihat sendiri, masih ada orang seperti itu di zaman sekarang.

Matius 6:19-21

19 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Markus 12:41-44

41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda miskin dan memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Memberikan persembahan kepada Tuhan adalah perbuatan baik. Datang ke gereja dengan mobil bagus, berpakaian bagus, dan duduk di jajaran terdepan juga bukan dosa. Namun, menurut ayat-ayat bacaan di atas, yang Tuhan nilai bukanlah besar kecilnya jumlah persembahan atau mencoloknya penampilan, melainkan hati yang memberi. Karena itu, persoalan dalam kasus ini bukan semata-mata pada mobil, pakaian, tempat duduk, atau amplop yang tebal, melainkan pada motivasi di baliknya. Jika amplop tebal itu sengaja diperlihatkan dengan jelas dengan tujuan agar mendapat pujian atau pengakuan dari manusia, maka perbuatan baik tersebut tidak lagi sepenuhnya mencerminkan ketulusan kasih yang Yesus kehendaki.

Kasus 4 – Gereja Memberi Bantuan Bencana Alam

Suatu ketika dua truk penuh dengan bantuan sembako tiba ke daerah yang baru saja terkena musibah bencana alam. Di tempat penampungan pengungsi, truk tersebut diparkir di tempat yang jelas terlihat. Ternyata itu karena di sepanjang sisi truk itu diikatkan spanduk bertuliskan “bantuan dari Gereja A”. Kemudian pada waktu seremoni serah terima, dikatakan dengan alat pengeras suara oleh hamba Tuhan Gereja itu, bahwa sumbangan ini diberikan oleh Gereja A dari alamat ABC di kota Z.
Lumayan memalukan sih, namun ternyata kejadian seperti ini banyak terjadi di mana-mana. Bagaimana menurut Anda sendiri, perbuatan seperti itu apakah keliru atau lumrah saja menurut anda?

Matius 6:1-4

1 “Ingatlah, jangan kamu mengamalkan kesalehanmu di depan umum supaya dilihat orang, karena jika melakukan demikian, kamu tidak memperoleh upah dari Bapamu yang di surga. 2 Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. 3 Namun, jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Memberikan bantuan kepada korban bencana adalah perbuatan baik. Namun, menurut Matius 6:1–4, perbuatan baik tidak seharusnya dilakukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan manusia. Karena itu, persoalan dalam kasus ini bukan semata-mata pada penyebutan nama Gereja A, melainkan pada motivasi di balik penyebutan dan publikasi tersebut. Jika nama gereja ditonjolkan dengan tujuan agar mendapat pujian atau pengakuan dari manusia, maka perbuatan baik tersebut tidak lagi sepenuhnya mencerminkan ketulusan kasih yang Yesus kehendaki.

Kasus 5 – Suami Memberi Hadiah Kepada Istrinya 

Seorang suami memberikan istrinya sebuah mobil yang baru dibelinya dari sebuah showroom. Istrinya sangat senang dan mengatakan bahwa Ia mencitai dirinya lebih dari segalanya. Namun beberapa lama setelah itu, suatu ketika datang beberapa orang debt collector yang diiringi petugas yang berwajib, membawa surat penyitaan mobil itu. Kaget dan malu sang istri menelepon suaminya yang beberapa hari tidak pulang ke rumah. Ternyata telepon sengaja dimatikan. Menghilanglah sang suami setelah itu ditelan bumi. Kejadian itu seperti Sinetron bukan? Menyedihkan buat sang istri mendapat kasih yang palsu dari sang suami.

Suami tersebut membuat istrinya bahagia dengan cara yang keliru. Mungkin awalnya ia bukan sengaja berbuat jahat pada istrinya, namun karena ketidakjujurannya dengan pamer seolah memiliki harta banyak, jadi mengambil cara yang ngawur. Bukan hanya itu, kesalahan berikutnya adalah melarikan diri setelah kreditnya bermasalah. Ia menimpakan masalah besar bagi sang istri. Inilah gambaran hati yang tidak murni dan tidak bertanggung jawab, bahkan secara hukum ini bisa tergolong tindakan pidana penipuan.

Kasih yang sejati bisa tampak melalui pemberian yang menyenangkan hati, tetapi sesungguhnya perbuatan itu harus didasari dengan ketulusan, kejujuran, tanggung jawab, dan kesetiaan. Lihatlah Roma 12:9-10 di atas, di mana Allah mengingatkan bahwa kasih tidak boleh pura-puraan; kasih sejati harus nyata dalam tindakan yang jujur dan bertanggung jawab, bukan sekadar pemberian yang mengesankan.

Dari kasus-kasus tersebut intinya adalah perbuatan yang tampilannya berupa mengasihi sesama, ternyata di dorong oleh motivasi yang tidak tulus dan bertujuan untuk dirinya sendiri. Di sini kuasa kegelapan bisa saja ingin berusaha mengubah paradigma umum tentang tidak ada orang yang mengasihi dengan tulus. Namun, sebetulnya itu adalah seperti Serigala berbulu domba.

Jadi, bukti nyatanya memang ada, yaitu pelaku tidak selalu memulai dengan tindakan yang tampak jahat. Mereka dapat memulai dengan keramahan, perhatian, hadiah, bantuan, menjadi teman keluarga, menjadi mentor, bahkan membangun reputasi sebagai orang baik. Namun, belakangan hari baru terlihat aslinya.

Matius 24:12

“Karena kedurhakaan makin bertambah, kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”

Seiring dengan banyaknya kasus penipuan, kejahatan berkedok dsb, akhirnya membuat kasih banyak orang menjadi dingin. Artinya lebih banyak orang yang memasang “kuda-kuda” jika berjumpa dengan orang yang tidak mereka kenal, dibanding langsung ramah terhadap siapa saja.

Ada hubungan yang sangat kuat di antara kedua perkataan tersebut. Ketika kedurhakaan semakin bertambah, kasih manusia dapat menjadi dingin. Sebaliknya, di tengah kehidupan yang kasihnya semakin dingin, orang yang tetap menunjukkan kasih melalui perbuatannya akan menjadi sesuatu yang berbeda dan mudah dikenali.

Karena itu, ketika Tuhan Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku,” yang dimaksud bukan sekadar bahwa orang Kristen harus mempunyai perasaan kasih kepada sesamanya. Kasih itu harus menjadi nyata dalam kehidupan.

3. Kristus datang untuk memerdekakan semua orang

Memang betul tidak semua orang juga yang mendekati kita pasti memiliki maksud tersembunyi. Tidak semua juga pertolongan merupakan ‘investasi’ untuk mendapatkan keuntungan. Tidak semua orang yang memberi perhatian merupakan awal dari sebuah tipuan untuk suatu kejahatan terselubung. Tentu di antara sekian milyar manusia masih banyak juga orang yang memiliki hati mengasihi yang lain dengan tulus. Namun, masalahnya kita tidak tahu jenis apa orang luar yang berinteraksi dengan kita. Dengan demikian tanpa kita sadari, sebetulnya kita sudah dibelenggu oleh ketakutan di bawah sadar kita. Inilah tujuan utama kuasa kegelapan, yaitu membelenggu orang dalam pikiran mereka, sehingga tidak sadar bahwa Kristus sudah mati menebus dan memerdekakan dari dosa dan seluruh belenggu yang ada. 

a. Sadarlah bahwa Kristus sudah membuat kita merdeka dari segala belenggu

Galatia 5:1
1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Petrus 2:15-16
15 Sebab, inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.
16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan jangan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan, melainkan hiduplah sebagai hamba Allah.

Yohanes 8:34

34 Kata Yesus kepada mereka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35 Hamba tidak selamanya tinggal di dalam rumah, tetapi anak tinggal di dalam rumah selamanya. 36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.“

Banyak orang tidak menyadari bahwa sebetulnya mereka selama ini ‘terpenjara’ di dalam diri mereka sendiri. Punya harta banyak, tapi dihantuai rasa takut kehilangan, takut di rampok, takut ditipu, akhirnya susah tidur, minum obat tidur, akhirnya sakit.
Sebaliknya orang yang hidup pas-pasan pun banyak juga ketakutannya, takut tidak bisa bayar tagihan, uang sekolah anak, dsb. Itu bikin stress juga.

Dari masa kanak-kanak setiap orang sudah akrab dengan kondisi yang namanya ‘stress’. Stress pada masa kanak-kanak atau yang disebut “child stress” tersebut tercipta ketika takut dimarahi orangtua, takut menghadapi ujian, bullying, bertengkar dengan teman, atau kejahatan lain. Hingga masa remaja, pemuda, hingga dewasa, stress itu seperti sudah menjadi ‘sahabat’ bagi sang anak. Orangtua yang seharusnya menjadi teman sejati anak, malah tidak pernah ada karena sibuk dan stress juga.

Memasuki masa pemuda dan dewasa muda, stres sering muncul dari tuntutan untuk mulai mandiri dan menentukan masa depan, seperti mencari pekerjaan, membangun hubungan, atau menghadapi tekanan finansial. Dari perjalanan hidup yang ‘stressful’ tersebut, akhirnya terbentuklah ia menjadi seorang dewasa yang mempunyai kecenderungan untuk mudah cemas, sensitif terhadap tekanan, sulit mengelola emosi, dan cenderung menghindari masalah ketika menghadapi tekanan. Di sinilah belenggu kehidupan seseorang mulai terbentuk, hingga akhirnya belenggu itu seolah-olah menyatu dengan kehidupan sehari-harinya.

Tuhan Yesus Kristus sudah mati di kayu salib untuk menebus dan memerdekakan semua orang dari belenggu tersebut. Setiap orang harus datang kepada-Nya, mohon ampun dan bertobat di hadapan-Nya, setelah itu serahkan seluruh beban dan belenggu hidup kepada-Nya.

Kita semua betul-betul telah menjadi orang yang merdeka dan bebas dari segala belenggu kehidupan, karena beban itu sudah terlepas oleh karena darah Kristus yang tercurah di kayu salib. Merdeka itu artinya hidup bebas sebagai warga Kerajaan Surga yang dijaga oleh Allah sendiri. Bahkan Tuhan Yesus sendiri telah menjamin:

Yohanes 10:27-29

27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, 28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. 29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.

b. Kuk Hukum Taurat digantikan dengan Kuk Hukum Kasih Kristus

Filipi 3:7-11

7 Tetapi, apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap kerugian karena Kristus. 8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, 9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat. melainkan dengan kebenaran karena iman kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan iman. 10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya serta persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Rasul Paulus mengubah penilaiannya terhadap segala sesuatu yang dahulu dianggap sebagai keuntungan. Dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus, semua kebanggaan dan pencapaian itu kehilangan nilai utamanya. Paulus tidak mengandalkan kebenarannya sendiri untuk memperoleh keselamatan, melainkan kebenaran yang berasal dari Allah melalui iman. Ia ingin mengenal Kristus secara mendalam, mengalami kuasa kebangkitan-Nya, mengambil bagian dalam penderitaan-Nya, dan akhirnya mencapai kebangkitan dari antara orang mati.

Matius 11:28-30

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan. 30 Sebab, kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.  

Panggilan yang Tuhan Yesus berikan ini seharusnya membuat setiap orang melepaskan seluruh beban berat yang mengikatnya selama ini. Segala ketakutan, paranoid, trauma, dendam, kebencian, kemarahan dsb semua harus diletakkan di depan Salib Kristus. Ingatlah bahwa selama di bumi ini, pekerjaan Tuhan Yesus di mana saja adalah membebaskan orang, yaitu sakit-penyakit, kelumpuhan, kerasukan, sakit kusta, sakit pendarahan, bahkan hingga kematian. Maka kita harus sadar jika sudah percaya kepada-Nya, maka kita telah dibebaskan dari segala ikatan belenggu. Jangan lagi kita dibodohi oleh kuasa jahat yang membohongi bahwa beban kita masih ada. Hiduplah merdeka dan bersukacitalah senantiasa.

c. Penerapan Hukum Kasih Kristus dalam keseharian kita

Berikut ini adalah contoh penerapan saling mengasihi sebagai orang yang telah dimerdekakan Kristus:

Saling mengasihi dalam Keluarga inti

Ada seorang ibu yang sangat menyayangi putranya, hingga semua kegiatan anaknya dimonitor secara detail, bahkan bukan hanya dimonitor, tetapi diatur. Itu semua karena ia takut terjadi sesuatu pada diri anaknya. Saking overprotective nya, sang anak merasa terbelenggu dan hidupnya tidak merdeka. Ia mulai berontak dan beberapa kali kabur dari rumah. Sang Ibu tidak sadar bahwa anaknya sudah bertumbuh menjadi pria muda dewasa, namun masih saja ia menganggapnya sebagai anak kecilnya yang dulu. Sang Ayah baru pulang kantor dilapori bahwa anaknya kabur dari rumah, jadi marah sejadi-jadinya. Rumah tangga jadi kacau dan kehilangan sukacita.

Si Ibu sangat sedih mengapa keluarganya jadi seperti itu, dan ia berdoa. Hingga tibalah pada hari Minggu di Gereja, ia mendengar khotbah dari seorang pendeta. Pendeta itu mengatakan, bahwa Kristus menjaga semua orang, khususnya orang yang percaya pada-Nya. Tuhan Yesus juga menjaga seluruh anggota keluarga kita, jangan merasa kita lebih hebat daripada Tuhan untuk menjaga mereka. Serahkan semua pada Tuhan, karena mereka sesungguhnya adalah milik Allah, bukan milik kita. Si ibu menangis karena tersadar ia telah salah jalan selama ini. Ia harus membereskan keluarganya dari kekisruhan yang terjadi selama ini.

Firman Tuhan memang berfungsi untuk menguduskan dan memulihkan segala sesuatu. Si ibu mengadakan pertemuan keluarga, di mana ia meminta maaf kepada Suami dan Anaknya akan kesalahanya selama ini. Karena begitu sayangnya, ia merasa bahwa mereka berdua adalah miliknya yang harus dijaga sedemikian rupa. Namun ia mengaku sudah sadar, bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang jauh lebih sanggup menjaga mereka semua.
Mereka bertiga akhirnya juga tersadar akan hal itu. Kemudian anaknya minta maaf pada ibunya yang sering membuatnya sedih, suaminya juga minta maaf kurang memberi perhatian penuh pada keluarga karena kesibukan pekerjaannya. Demikianlah akhirnya Kristus memulihkan keluarga mereka dengan Kasih yang sejati.

Jadi kasih sejati itu seharusnya dimulai dari keluarga inti dulu, yaitu dengan ‘mengembalikan’ seluruh anggota keluarga kita kepada Tuhan, karena sesungguhnya mereka adalah milik Allah, bukan kita. Hati sang ibu jauh lebih rileks dan merdeka, karena ia terlepas dari beban yang selama ini membuatnya stress. Kini ia percaya penuh pada Allah yang Maha Kuasa untuk menjaga anak dan suaminya. Ia konsisten dan berubah total, yang tadinya mengatur segalanya, sekarang lebih ke arah mengingatkan dan memberi support.

Setelah beberapa waktu, kepercayaan dan iman itu membuahkan hasil, anaknya jauh lebih bersukacita dan tidak pernah berontak lagi. Mereka bertiga sering berwisata dan bersukacita bersama-sama. Demikianlah penerapan kasih sejati yang Tuhan Yesus ajarkan bagi semua murid-Nya.

Saling mengasihi dalam Keluarga besar, sahabat dan semua orang lain

Kasih sejati dari keluarga inti, seharusnya tidak diam di dalam rumah saja, namun juga harus ‘mengalir’ kepada keluarga besar, sahabat dan semua orang di luar rumah. Kasih harus kita harus terapkan ke wilayah yang lebih luas lagi.

Hal Inilah yang membuat perintah Tuhan Yesus untuk saling mengasihi sangat penting untuk dilakukan, di mana perbuatan ini bukan suatu hal yang bisa dilakukan orang dengan mudah. Ini butuh waktu dan dilakukan terus menerus. Orang yang menamakan dirinya “Kristen” harus dengan tulus saling mengasihi satu sama lain, buahnya akan terlihat juga dengan mengasihi sesama, yaitu orang yang bukan Kristen. Tentu perbuatan saling mengasihi ini, tidak mutlak hanya orang Kristen saja yang bisa melakukannya. Setiap orang dari berbagai Agama dan kepercayaan pun dapat melakukan, bahkan lebih baik daripada orang Kristen. Namun, yang terpenting di sini, adalah motivasinya apa. Apakah mengasihi itu adalah perbuatan baik yang didasari oleh kewajiban agamawi, yang sifatnya berupa ‘Investasi’ rohani? Dengan berbuat kebaikan dan saling mengasihi, maka ‘pahala’ akan bertambah. Pahala menjadi suatu poin atau score yang dikumpulkan sebagai modal mendapatkan kehidupan lebih baik di kehidupan berikutnya.

Tuhan Yesus mau setiap murid-Nya saling mengasihi sehingga dunia dapat melihat bahwa mereka itu adalah murid-Nya. Orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus harus dapat menyaksikan bagaimana murid-murid-Nya memperlakukan satu sama lain dan berkata, “Ada sesuatu yang berbeda dalam kehidupan mereka.”

Itulah sebabnya kasih bukan sekadar salah satu ajaran Tuhan Yesus. Kasih menjadi tanda yang memperlihatkan kepada dunia siapa yang sungguh-sungguh menjadi murid-Nya.


IV. Renungan

  1. Mengapa Tuhan memberikan Hukum Taurat kepada bangsa Israel? Apakah cukup bagi seseorang untuk tidak melanggar larangan-larangan dalam Hukum Taurat agar dapat disebut sebagai orang yang benar di hadapan Tuhan? 

  2. Jika seseorang tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak berzina, tetapi masih membenci, mendendam, atau merendahkan orang lain, apakah ia sudah memenuhi kehendak Tuhan? Apa yang diajarkan Yesus tentang hal ini?

  3. Mengapa Yesus tidak hanya menekankan perbuatan yang terlihat, tetapi juga kemarahan, keinginan hati, dan motivasi seseorang? Apakah ini berarti Tuhan menghendaki sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar ketaatan terhadap aturan?

  4. Jika Hukum Taurat memerintahkan kita mengasihi sesama, mengapa Yesus juga memerintahkan kita mengasihi musuh dan mendoakan orang yang menganiaya kita? Apa yang berubah ketika kasih tidak lagi dibatasi oleh perlakuan orang lain terhadap kita?

  5. Setelah memahami semua itu, apakah Hukum Kasih Kristus hanya berarti menaati lebih banyak perintah daripada Hukum Taurat, atau justru memahami dan menjalankan kehendak Tuhan secara utuh—dengan hati yang diperbarui, kasih yang tulus, dan tindakan yang mencerminkan kasih Allah? Mengapa kasih kepada Allah dan sesama menjadi inti dari seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:37–40)?


V. Doa

Selamat pagi Tuhan Yesus, terima kasih atas segala berkat dan anugerah yang sudah Tuhan berikan bagi kami selama ini. Termasuk firman-Mu yang menyadarkan kami akan Hukum Kasih yang harus kami jalani dalam keseharian kami. Mohon hikmat dan pengetahuan-Mu untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Terima Kasih Tuhan.
Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. 
Amin.


Berbahagialah orang yang tidak berjalan
menurut ajakan orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk di komplotan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Mazmur 1:1-3 [TB2-LAI©2023]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *