Edisi 17 – Ucapan Bahagia (Beatitudes) – Seri Renungan Pagi

by Febrian 27 September 2026 04:10 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan sebelumnya kita telah diajar tentang bagaimana menjadi warga kerajaan Surga. Sekarang kita akan membahas mengenai ajaran Tuhan Yesus tentang siapa saja orang yang disebut-Nya berbahagia (Beatitudes). Kiranya kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.


Matius 5 ; Lukas 6 [TB-LAI©1974] <– Klik di sini untuk membaca seluruh pasal.


I. Pengantar

Tuhan Yesus Kristus membuka rangkaian khotbah di bukit, dengan “Ucapan Bahagia” (Beatitudes) yang sangat terkenal di kalangan orang beriman. Kalau kita melihat gereja mula-mula, ucapan bahagia  ternyata tidak diperlakukan sebagai kata-kata indah untuk penghiburan saja. Sejak abad-abad pertama, gereja membacanya sebagai gambaran tentang manusia yang sedang dibentuk menjadi murid Kristus.

Yang menarik, penekanannya berkembang: dari kemiskinan dan penderitaan komunitas Kristen, menuju kerendahan hati dan kebajikan, kemudian menjadi semacam peta perjalanan rohani menuju keserupaan dengan Kristus.


II. Ucapan Bahagia

Ucapan bahagia dari Tuhan Yesus, ditulis di dalam dua kitab Injil:

Matius 5:3-12 [TB2-LAI©2023]

3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga. 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7 Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan. 8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 10 Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku orang mencela dan menganiaya kamu, serta menujukan segala fitnah kepadamu. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Lukas 6:20-26 [TB2-LAI©2023]

20 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah. 21 Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. 22 Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. 23 Bersukacitalah pada waktu itu dan melompat-lompatlah, karena sesungguhnya, upahmu besar di surga. Sebab, demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. 24 Namun, celakalah kamu, hai Kamu yang kaya, karena kamu telah memperoleh penghiburanmu. 25 Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. 26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; sebab, demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Jika kita mempelajari pola penyampaian firman dari Tuhan Yesus seperti yang telah disampaikan-Nya sebelum-sebelumnya, maka dapat kita amati bahwa sesungguhnya “ucapan bahagia” ini adalah merupakan bentuk persiapan atau pembekalan (equipping) serta penghiburan bagi pengikut-pengikut-Nya. Ini diucapkan Tuhan Yesus karena Ia telah mengetahui bahwa suatu hari mereka yang setia kepada-Nya akan mengalami kondisi dan keadaan yang tidak menyenangkan karena Nama-Nya. 

Mari kita pelajari satu per satu makna di balik firman Tuhan Yesus tersebut:

a. Orang yang miskin di hadapan Tuhan

Matius 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ πτωχοί τῷ πνεύματι, ὅτι αὐτῶν ἐστὶν ἡ βασιλεία τῶν οὐρανῶν = Makarioi hoi ptochoi tō pneumati, hoti autōn estin hē basileia tōn ouranōn = Sungguh tenang dan beruntunglah orang-orang yang jiwanya merasa sangat miskin dan tidak berdaya di dalam roh, karena merekalah yang memiliki seluruh kekuasaan dan pemerintahan surga.

Penjelasan: Pada zaman dahulu, orang-orang sering kali mengukur kedekatan dengan Tuhan melalui kekayaan materi atau status sosial yang tinggi. Namun, Tuhan Yesus justru membalikkan pandangan tersebut dengan menggunakan kata πτωχοί = ptochoi = miskin papa, yaitu gambaran seorang pengemis yang benar-benar tidak punya apa-apa dan hidup sepenuhnya dari belas kasihan orang lain.

Miskin di hadapan Allah

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang miskin di dalam roh atau miskin di hadapan Tuhan adalah mereka yang sadar bahwa dirinya penuh dengan kekurangan dan tidak memiliki kebaikan apa pun untuk dibanggakan di hadapan Allah. Mereka melepaskan segala rasa sombong, rasa pintar, atau rasa mampu diri, lalu bersandar sepenuhnya kepada pertolongan Tuhan. Orang yang memiliki kerendahan hati seperti ini dijanjikan bagian penuh dalam pemerintahan Allah yang kekal.

Tuhan Yesus sesungguhnya dalam rangka mengingatkan para murid untuk senantiasa ‘mengosongkan’ diri mereka pada masa pemberitaan Injil di masa yang akan datang, sehingga Kekayaan dan Kelimpahan dari Kerajaan Surga lah yang akan memperlengkapi mereka sepanjang pelayanan mereka. Mereka diajar untuk tidak memusingkan kebutuhan diri mereka karena itu sudah diatur oleh Allah bagi mereka.

b. Orang yang berdukacita

Matius 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ πενθοῦντες, ὅτι αὐτοὶ παρακληθήσονται = Makarioi hoi penthountes, hoti autoi paraklēthēsontai = Sebetulnya orang-orang yang sedang meratapi kesedihan yang mendalam akan disebut beruntung atau berbahagia, karena mereka akan dipanggil untuk dikuatkan dan menerima penghiburan sejati.

Penjelasan: Dukacita yang dimaksud di sini, bukan sekadar kesedihan karena kehilangan barang atau kegagalan biasa dalam hidup, melainkan kesedihan yang mendalam melihat kenyataan hidup yang rusak akibat keburukan dan kejahatan di dunia ini, termasuk kesedihan atas kelemahan diri sendiri. Di tengah dunia yang sering kali keras dan penuh penderitaan, orang yang peduli dan merasa sedih melihat keadaan sesamanya tidak tinggal diam dalam keputusasaan. Tuhan menjanjikan bahwa mereka akan dikunjungi oleh penghiburan ilahi yang memulihkan hati mereka yang remuk redam.

Di balik itu semua, sesungguhnya pesan Tuhan Yesus adalah memperlengkapi para murid yang karena Nama-Nya, akan menderita sengsara di masa yang akan datang. Tuhan Yesus menguatkan mereka bahwa mereka akan dihiburkan langsung oleh Roh Kudus Allah dalam keadaan apapun yang mereka alami. 

c. Orang yang lemah lembut

Matius 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ πραεῖς, ὅτι αὐτοὶ κληρονομήσουσιν τὴν γῆν = Makarioi hoi praeis, hoti autoi klēronomēsousin tēn gēn = Orang-orang yang lemah lembut, sabar, tidak kasar dan tidak suka membalas, akan disebut beruntung atau berbahagia, karena akan mewarisi bumi atau tanah tempat tinggal mereka.

Penjelasan: Sikap lemah lembut sering kali dianggap sebelah mata oleh masyarakat umum karena dianggap sebagai tanda kelemahan atau ketidakberdayaan. Padahal, kata πραεῖς = praeis = lemah lembut dalam bahasa aslinya menggambarkan sebuah kekuatan besar yang dikendalikan dengan penuh kesadaran dan penguasaan diri. Ibaratnya ahli bela diri yang meredam kekuatannya di depan orang yang berlagak jadi preman atau sok jagoan, ia tidak menjawab atau membalas kekasaran dari mereka.

Pada masa itu, orang-orang kuat dan penguasa dunia menindas sesama dengan kekerasan dan senjata untuk merebut wilayah. Namun, dengan tegas, Tuhan Yesus berfirman bahwa justru orang-orang penyabar, tidak suka kekerasan, dan hidup damai lah yang pada akhirnya akan menikmati dan memiliki bumi ini dalam ketenteraman sejati dari Tuhan.

Dalam konteks penderitaan oleh karena Nama Yesus di masa depan mereka, para murid dikuatkan dengan perkataan ini, yaitu di kala mereka dibawa ke hadapan para pemuka agama atau penguasa yang mengadili, mereka diajar untuk tidak menjawab atau membela diri, karena sesungguhnya Tuhan sendiri yang akan bertindak. 

d. Orang yang lapar dan haus akan kebenaran

Matius 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ πεινῶντες καὶ διψῶντες τὴν δικαιοσύνην, ὅτι αὐτοὶ χορτασθήσονται = Makarioi hoi peinōntes kai dipsōntes tēn dikaiosynēn, hoti autoi chortasthēsontai = Sebetulnya sungguh beruntunglah orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran Allah, sebab mereka akan dipuaskan-Nya.

Penjelasan: Rasa lapar dan haus adalah kebutuhan biologis yang paling mendasar dan mendesak; jika seseorang tidak makan atau minum dalam waktu lama, nyawanya bisa terancam.

Dalam konteksnya, Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menggambarkan betapa sangat beruntungnya seseorang yang merasa haus dan lapar terhadap kebenaran Allah. Orang seperti ini tidak mencari kepuasan dunia yang bersifat fana, melainkan senantiasa rindu mencari kehendak Allah dalam hidupnya. Janji Tuhan sangat pasti, yaitu bahwa orang-orang seperti itu akan dipuaskan dengan diizinkan senantiasa berada di hadirat Allah dan mendengar Roh Kudus berbicara pada mereka.

e. Orang yang berbelas kasihan

Matius 5:7 Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ ἐλεήμονες, ὅτι αὐτοὶ ἐλεηθήσονται = Makarioi hoi eleēmones, hoti autoi eleēthēsontai = Sungguh beruntunglah orang-orang yang berhati penuh belas kasihan kepada sesama, sebab mereka juga akan menerima belas kasihan dari Allah.

Penjelasan: Dari dulu hingga kini hukum yang berlaku adalah: siapa kuat, dia menang, sementara hukum yang lain: tiada ampun bagi orang yang bersalah. Namun, Tuhan Yesus mengajar suatu standar hukum Surgawi yang berbeda, yaitu hukum kasih. Orang yang bersalah, diberitahu akan kesalahan mereka dan diberi kesempatan untuk bertobat dan berbalik dari kesalahan mereka. Jika mereka berbalik dan berubah dari jalan mereka yang salah selama ini, maka mereka akan diampuni dan beroleh keselamatan.

Tuhan Yesus mengajar semua orang untuk memiliki hati yang penuh pengampunan dan memiliki kepedulian terhadap orang lain. Mereka harus suka menolong orang, mengampuni orang yang bersalah, serta senantiasa rindu untuk meringankan beban sesama. Hukum Allah yang berlaku di sini: barangsiapa yang murah hati dalam mengasihani orang lain, ia pun akan dituai dengan belas kasihan yang berlimpah dari Allah.

Amsal 19:17 Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

Akan tetapi di sisi lain, jika orang yang diberi kesempatan itu menolak kasih Allah, maka hukuman sudah menantinya. Kemurahan hati Allah bukan menunjukkan Ia itu lemah, hukum tabur tuai itu tetap berlaku, siapa yang bersalah pasti dihukum, namun sesungguhnya bukan kebinasaan orang fasik yang dikehendaki Allah, melainkan pertobatan mereka.

2 Petrus 3:9

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

f. Orang yang suci hatinya

Matius 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ καθαροὶ τῇ καρδίᾳ, ὅτι αὐτοὶ τὸν θεὸν ὄψονται = Makarioi hoi katharoi tē kardia, hoti autoi ton theon opsontai = Sungguh beruntunglah orang-orang yang hatinya bersih dan murni tanpa niat tersembunyi yang jahat, sebab mereka akan melihat Allah secara langsung.

Penjelasan: Banyak orang pada zaman Tuhan Yesus, memperhatikan kebersihan fisik, aturan cuci tangan, dan kesucian ritual luar sesuai adat istiadat, tetapi sebetulnya hati dan batin mereka penuh dengan kelicikan serta kebusukan. Tuhan Yesus menegaskan bahwa yang paling utama di mata Allah adalah kebersihan bagian dalam manusia, yaitu hati yang murni tanpa kemunafikan.

Orang yang berhati suci dan tulus, tidak memiliki niat jahat di balik kata-katanya yang manis. Justru dengan memiliki kejernihan batin tersebut, mereka memiliki kepekaan rohani untuk merasakan dan mengalami kehadiran Allah di dalam hidup mereka. Kehendak Allah dengan mudah mereka pahami dan laksanakan.

Istilah “melihat Allah” mengandung dua arti, yaitu harfiah melihat Allah dengan mata yang ada di kepala kita, langsung memandang Allah seperti Musa di Gunung Sinai, atau melihat Allah dengan kesucian iman di hati kita. 

Ibrani 11:7 Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan –dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

Karena kesucian imannya, maka Nuh bisa “melihat Allah” dan segala kehendak-Nya. Ia percaya penuh, bahwa Allah sedang menyelamatkan keluarganya dari bencana besar. Kesucian iman Nuh menyebabkan ia melakukan pekerjaan yang ‘tidak masuk akal’ yaitu membangung bahtera sangat besar di atas bukit. Namun berbahagialah Nuh, karena kesucian imannya itulah ia diselamatkan. Demikian pula kita, wajib memiliki iman yang tulus dan suci seperti itu, sehingga kita bisa melihat Allah dalam kehidupan kita.   

g. Orang yang membawa damai

Matius 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ εἰρηνοποιοί, ὅτι αὐτοὶ υἱοὶ θεοῦ κληθήσονται = Makarioi hoi eirēnopoioi, hoti autoi huioi theou klēthēsontai = Sungguh beruntunglah orang-orang yang secara aktif mendamaikan pihak-pihak yang berselisih, sebab mereka akan disebut anak-anak Allah.

Penjelasan: Setiap orang mungkin pernah melihat atau mengalami pertengkaran, perpecahan, kebencian, dan permusuhan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun antar-kelompok. Firman Tuhan Yesus dalam konteksnya, berbicara tentang orang yang berani turun tangan meredakan kemarahan, menjembatani perbedaan, dan membawa suasana rukun di tempat yang penuh ketegangan. Sifat suka mendamaikan ini adalah sifat dasar dari Allah sendiri yang mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Oleh karena itu, orang yang hidupnya selalu membawa damai layak disebut sebagai anak-anak Allah karena mereka mencerminkan karakter Bapa di surga.

h. Orang yang dianiaya karena Nama Yesus

Matius 5:10-12 Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku orang mencela dan menganiaya kamu, serta menujukan segala fitnah kepadamu. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

Dari tulisan aslinya: Μακάριοι οἱ δεδιωγμένοι ἕνεκεν δικαιοσύνης, ὅτι αὐτῶν ἐστὶν ἡ βασιλεία τῶν οὐρανῶν Μακάριοι ἐστε ὅταν ὀνειδίσωσιν ὑμᾶς καὶ διώξωσιν καὶ εἴπωσιν πᾶν πονηρὸν καθ᾽ ὑμῶν ψευδόμενοι ἕνεκεν ἐμοῦ. Χαίρετε καὶ ἀγαλλιᾶσθε, ὅτι ὁ μισθὸς ὑμῶν πολὺς ἐν τοῖς οὐρανοῖς· οὕτως γὰρ ἐδίωξαν τους προφήτας τους προ ὑμῶν = Makarioi hoi dediōgmenoi heneken dikaiosynēs, hoti autōn estin hē basileia tōn ouranōn Makarioi este hotan oneidisōsin hymas kai diōxōsin kai eipōsin pan pōnēron kath’ hymōn pseudomenoi heneken emou. Chairete kai agalliaste, hoti ho misthos hymōn polys en tois ouranois; houtoutos gar ediōxan tous prophētas tous pro hymōn = Sungguh beruntunglah orang-orang yang mengalami penganiayaan dan penindasan demi memperjuangkan kebenaran, sebab merekalah yang memiliki Kerajaan Surga. Sungguh beruntunglah kamu ketika orang-orang menghina, menganiaya, dan menyebarkan berbagai kebohongan serta fitnah keji terhadap kamu semata-mata karena kamu adalah pengikut-Ku. Bersukacitalah dan bergembiralah dengan luar biasa, sebab balasan yang disediakan bagimu sangatlah besar di surga; karena dengan cara yang sama pula para nabi pendahulu kalian telah dianiaya.

Penjelasan: Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid agar tidak terkejut atau tawar hati ketika menghadapi kenyataan bahwa mengikut-Nya berarti siap menerima penderitaan, fitnah, caci maki, dan penganiayaan semata-mata karena nama-Nya, sebab terang hidup mereka menelanjangi perbuatan orang-orang yang berada dalam kegelapan. Meskipun pada masa-masa awal kekristenan para pengikut-Nya sering menjadi sasaran kebencian dan disingkirkan dari masyarakat bukan karena berbuat kesalahan, penderitaan tersebut bukanlah akhir dari segalanya. Allah yang adil justru menyediakan upah yang sangat besar di surga dan memberikan sukacita serta kegembiraan yang luar biasa kepada setiap orang yang rela menderita bagi-Nya, menyamakan kedudukan mereka dengan para nabi pendahulu yang telah terlebih dahulu mengalami penganiayaan.


III. Kesimpulan

Ucapan bahagia yang disampaikan oleh Tuhan Yesus adalah sebuah bentuk persiapan mental dan rohani yang sangat mendalam bagi para pengikut-Nya untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan penderitaan. Tuhan Yesus sengaja memberikan pembekalan ini agar para murid tidak terkejut, putus asa, atau goyah ketika mereka nantinya harus mengalami penolakan, caci maki, penganiayaan, bahkan kematian demi kesetiaan kepada Nama-Nya.

Melalui rangkaian pengajaran ini, Tuhan Yesus membentuk karakter dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengikut Dia. Mulai dari kerendahan hati yang total di hadapan Allah, kepedulian yang mendalam terhadap penderitaan sesama, ketulusan hati yang tidak bermuka dua, hingga keberanian untuk tetap hidup benar dan menjadi pembawa damai di tengah dunia yang keras. Semua sifat dan sikap tersebut bukanlah sekadar peraturan moral biasa, melainkan cerminan dari tabiat Allah sendiri yang ditanamkan di dalam diri orang percaya.

Pada akhirnya, Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa penderitaan dan penganiayaan yang dialami oleh umat pilihan bukanlah akhir dari segalanya atau tanda bahwa Allah meninggalkan mereka. Sebaliknya, penderitaan tersebut adalah bukti nyata dari kesetiaan iman yang kokoh, yang menempatkan mereka dalam satu barisan mulia bersama para nabi Allah di masa lampau. Dengan jaminan upah yang besar di surga serta kepemilikan penuh atas Kerajaan Allah, para pengikut-Nya dipanggil untuk menjalani setiap ujian hidup dengan keteguhan hati, sukacita yang melimpah, dan pengharapan yang tidak pernah mengecewakan.


IV. Renungan

  1. Bagaimanakah cara kita memandang ukuran kebahagiaan selama ini, apakah selalu diukur dari kemapanan materi, jabatan tinggi, dan pujian orang lain, ataukah kita pernah merenungkan kebahagiaan sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus?
  2. Ketika kita merasa tidak punya apa-apa, diremehkan, atau berada dalam posisi yang paling lemah dalam hidup, sanggupkah kita percaya bahwa Allah tetap memandang kita berharga dan memiliki bagian penuh di dalam kerajaan-Nya?
  3. Mengapa sering kali kita merasa sulit sekali untuk bersabar, memilih mengampuni, atau merendahkan diri ketika disakiti, padahal Tuhan Yesus justru memanggil kita untuk memiliki kelembutan hati dan menjadi pembawa damai di tengah lingkungan yang penuh perselisihan?
  4. Sudahkah kejujuran dan hidup yang benar di hadapan Allah menjadi kerinduan yang paling mendesak dalam hidup kita sehari-hari, separah rasa lapar dan haus yang mencari makanan serta minuman untuk bertahan hidup?
  5. Jika suatu saat kita harus menghadapi penolakan, caci maki, atau penderitaan semata-mata karena kita setia hidup benar dan membawa nama Tuhan Yesus, apakah iman kita akan tetap bertahan, atau justru kita akan mundur dan meninggalkan Dia?

V. Doa

Tuhan Yesus yang saya cintai. Terima kasih banyak atas firman-Mu hari ini. Sungguh ini menyadarkan saya akan konsekuensi mengiring-Mu. Tidak sama dengan ajaran dunia yang menggoda saya dengan kenikmatan semu, ajaran-Mu malah mengajarkan saya untuk siap menghadapi segala kesusahan dan penderitaan. Terima kasih ya Tuhan Yesus, saya akan menjaga firman ini dengan kesungguhan hati dan akan melaksanakan dalam kehidupan saya. Dalam Nama Tuhan Yesus saya berdoa. Amin.


Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji,
ia akan mendapat upah

1Kor 3:14

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *