Edisi 14 – Sehati Sepikir dalam Tuhan – Seri Renungan Pagi

By Febrian 22 September 2026 04:23 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan yang lalu kita sudah membahas tentang “Memberitakan Kasih Setia Tuhan“, sedangkan saat ini kita akan merenungkan nasihat rasul Paulus untuk Sehati Sepikir dalam Tuhan di dalam pelayanan. Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.


Sehati Sepikir dalam Tuhan
(Rangkaian Nasihat-nasihat Terakhir Rasul Paulus)

Terkait dengan Rangkaian Nasihat-nasihat Terakhir Rasul Paulus, berikut adalah pembagian episode renungan kita ke depannya, yaitu terbagi dalam beberapa part sebagai berikut:

Filipi 4:2-9 [TB2-LAI©2023]

Nasihat-nasihat terakhir

  1. [Part 1] Filipi 4:2-3 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, yang setia: Tolonglah mereka. Sebab, mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama Klemens dan kawan-kawan sekerjaku yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. 
  2. [Part 2] Filipi 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
  3. [Part 3] Filipi 4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!
  4. [Part 4] Filipi 4:6 Janganlah khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
  5. [Part 5] Filipi 4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
  6. [Part 6] Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
  7. [Part 7] Filipi 4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

I. Pengantar

Penamaan perikop Filipi 4:2-19 sebagai Nasihat-Nasihat Terakhir merujuk pada bagian penutup surat Filipi sebelum salam perpisahan. Latar belakang penulisan perikop ini berkaitan dengan kondisi internal jemaat Filipi dan hubungan Paulus dengan mereka. Meskipun jemaat Filipi merupakan mitra pelayanan yang setia, mereka menghadapi tantangan berupa perpecahan internal, kelelahan rohani, dan tekanan situasi luar. Sebagai penutup pesan utama, Paulus memberikan petunjuk mengenai kesatuan hati, sukacita, doa untuk mengatasi kecemasan, serta cara menjaga pikiran tetap kudus.

Paulus menulis surat ini saat berada dalam tahanan rumah di Roma, sebagaimana ditandai oleh sebutan pengawal istana dan istana Kaisar. Surat ini ditulis sekitar tahun 60 sampai 62 Masehi. Pada masa penulisan surat Filipi, usia Paulus diperkirakan berkisar antara 55 hingga 57 tahun. Surat ini ditulis bukan di tengah perjalanan pelayanan keliling Paulus. Paulus mendirikan jemaat di Filipi pada Perjalanan Misi Kedua. Namun, surat ini ditulis setelah seluruh rangkaian perjalanan misinya selesai, yaitu pada masa pemenjaraannya di Roma setelah penangkapannya di Yerusalem.


II. Sehati dan sepikir dalam Tuhan

Filipi 4:2-3

Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, yang setia: Tolonglah mereka. Sebab, mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama Klemens dan kawan-kawan sekerjaku yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. 

1. Euodia dan Sintikhe

Dalam ayat pertama di pasal ini Paulus mengatakan, bahwa ia telah menasihati Euodia dan Sintikhe supaya sehati dan sepikir di dalam Tuhan. Dikatakan juga Paulus meminta kepada Sunsugos (rekan sekerja dalam pelayanan Paulus) untuk menolong Euodia dan Sintikhe, mengingat mereka telah berjuang bersama Paulus, Klemens dan rekan sekerjanya yang lain. Paulus menambahkan bahwa mereka semua telah tercatat dalam kitab kehidupan.

Nama Euodia dan Sintikhe hanya sekali saja disebut yaitu hanya di ayat ini, dalam seluruh Alkitab. Menurut studi Alkitab, Euodia (Εὐοδία) dan Sintikhe (Συντύχη) adalah dua tokoh anggota perempuan dari gereja di Filipi, dan menurut teks Filipi 4:2-3, diduga mereka terlibat dalam sebuah percekcokan. Rasul Paulus memberi nasihat kepada mereka mengingat keretakan internal dalam pelayanan akan secara serius memengaruhi gereja. Paulus mendorong rekan-rekan pelayanan yang lain membantu mereka agar kembali “sehati sepikir dalam Tuhan”.

2. Tantangan dalam pelayanan

Pengalaman pribadi saya pada suatu waktu di mana kami bergabung dalam Gereja lokal, yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal kami. Gereja itu berumur 3-4 tahun, pelayanan jemaat berjalan dengan baik dan jemaat Gereja semakin banyak. Namun, suatu ketika terjadi gesekan hebat di dalam internal pengurus Gereja, yang berujung pada perpecahan. Pihak pertama menuduh pihak kedua menggelapkan uang Gereja demi kepentingan pribadinya, namun disangkal oleh pihak kedua bahwa semuanya itu adalah fitnah tidak berdasar. Pihak kedua balik menuduh alasan fitnah itu ingin mendiskreditkan pihak mereka dengan tujuan ingin menguasai uang kas Gereja. Konflik itu semakin intens dan mengarah pada tuntutan hukum.

Karena pihak pertama adalah pemilik gedung Gereja tempat kami berbakti, akhirnya pihak kedua memutuskan untuk meninggalkan Gereja itu dengan cara baik-baik, agar tidak memalukan jika berita terbawa ke luar Gereja. Sebetulnya pihak kedua bersama keluarga besarnya adalah pendiri Gereja itu, jadi sejumlah 75% dari total anggota gereja itu pindah ke Gedung baru yang jauh lebih besar, megah dan berada di lokasi yang strategis. Dalam kurun waktu 5 tahun, jumlah jemaatnya bertambah berlipat kali ganda. Sebaliknya, kami dengar Gereja awal yang masih sempat dijalankan, akhirnya lama kelamaan ditutup, karena jemaatnya habis.

Ternyata terjadi juga peristiwa dan berita seputar perpecahan atau konflik internal jemaat serta pengurus gereja di Indonesia:
(Tidak menyebut nama Gereja)

  • Dualisme Kepemimpinan Gereja di Surabaya

    Salah satu konflik gereja terbesar dan berlarut-larut terjadi di Sinode sebuah Gereja di Surabaya, yang melibatkan perselisihan kepemimpinan di tingkat sinode dan kepengurusan pimpinan. Konflik internal yang telah berlangsung bertahun-tahun ini memicu gugatan hukum serta pembagian kubu jemaat, sebelum akhirnya berhasil diselesaikan secara damai.

  • Kericuhan Internal Jemaat di Jawa Barat

    Perselisihan antarkelompok jemaat terjadi di sebuah Gereja di Jawa Barat. Konflik ini dipicu oleh persoalan penataan pelayan gereja dan kepengurusan internal mengenai penonaktifan serta pergantian pendeta. Suasana ibadah sempat terganggu akibat percekcokan dan aksi saling dorong antarjemaat, sehingga pihak kepolisian turun tangan untuk mengamankan lokasi.

  • Perusakan dan Keributan Antorkelompok Jemaat di Jakarta Timur

    Dua kelompok jemaat dari gereja yang sama di kawasan Jakarta Timur, terlibat percekcokan hingga berujung pada aksi saling rusak fasilitas gereja seperti pintu, kaca, dan papan nama. Perselisihan ini dilatarbelakangi oleh konflik internal terkait hak guna dan jadwal penggunaan gedung gereja.

  • Dualisme Sinode Gereja di Jakarta Timur

    Sinode sebuah Gereja sempat mengalami perpecahan kepemimpinan yang cukup panjang hingga memicu munculnya dua kubu kepengurusan. Setelah melalui proses mediasi oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), perpecahan ini diselesaikan secara damai dengan kesepakatan pembentukan dua sinode terpisah yang sama-sama diakui.

  • Dualisme Kepengurusan Yayasan Pendidikan Gereja di Medan

    Kisruh internal terjadi pada kepengurusan yayasan pendidikan di bawah naungan sebuah gereja di Medan. Konflik ini melibatkan dugaan pemalsuan dokumen dan penerbitan akta notaris ganda, yang kemudian berlanjut ke jalur hukum dan kepolisian akibat adanya dua klaim kepengurusan yang sah.

Di dunia juga terjadi kasus perpecahan Gereja, seperti di bawah ini:

  • Perpecahan Besar Gereja Methodis Amerika Serikat

    Perpecahan terbesar dalam sejarah modern denominasi Methodis terjadi di Amerika Serikat akibat perbedaan pandangan teologis yang tajam. Lebih dari 7.600 gereja lokal memilih untuk memisahkan diri dan memisahkan aset properti mereka. Peristiwa ini memicu ratusan gugatan hukum terkait kepemilikan gedung gereja dan hak tata kelola. Contoh terbarunya terjadi ketika pimpinan wilayah Methodis menggugat sebuah jemaat di Dallas karena mengubah dokumen kepengurusan secara sepihak untuk melepaskan diri dari hierarki denominasi.

  • Sengketa Kepemimpinan dan Pemilu Penatua di Virginia, Amerika Serikat

    Gereja megachurch terkenal yang dipimpin oleh seorang pendeta ternama mengalami krisis internal intens. Kelompok jemaat menuduh kepemimpinan gereja melakukan manipulasi hak suara dalam pemilihan penatua serta menyebarkan kampanye informasi salah. Konflik ini berlanjut menjadi gugatan hukum sipil oleh mantan jemaat atas tuduhan pencabutan hak pilih jemaat.

  • Skisma Gereja Ortodoks Rusia dan Konstantinopel (Ukraina / Global)

    Terjadi perpecahan besar dalam tubuh Gereja Ortodoks Timur ketika Patriarkat Ekumenis Konstantinopel memberikan kemandirian (otokefali) kepada Gereja Ortodoks Ukraina. Patriarkat Moskow (Rusia) menolak keras keputusan ini dan memutuskan hubungan komuni penuh, yang berdampak pada pembagian kubu jemaat dan perebutan gedung-gedung gereja di wilayah Ukraina dan Eropa Timur.

  • Perebutan Gedung Gereja Katolik Koptik dan Ortodoks Koptik (Mesir)

    Di beberapa wilayah Mesir dan diaspora, konflik internal antar-kelompok jemaat lokal kerap terjadi akibat perselisihan kepemownership properti dan perpindahan garis kepemimpinan gereja. Sering kali perselisihan kepemimpinan di tingkat paroki lokal memicu keterlibatan polisi dan pengadilan sipil untuk mengamankan aset gereja.

  • Perpecahan Besar Gereja Skotlandia (The Great Disruption 1843 – Skotlandia)

    Secara historis, salah satu perpecahan paling terkenal terjadi di Skotlandia ketika lebih dari 450 pendeta mengundurkan diri secara massal dari Gereja Skotlandia untuk mendirikan Free Church of Scotland. Konflik ini dipicu oleh perselisihan hak pimpinan gereja versus campur tangan pemerintah dalam menentukan pendeta lokal, yang berujung pada terpecahnya jemaat di seluruh pelosok negeri.

Analisis dari para teolog terkemuka dunia memperlihatkan bahwa fenomena perpecahan gereja atau jemaat bukan sekadar konflik sosial biasa, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor teologis, kelembagaan, dan sifat dasar manusia.

Secara garis besar, analisis para teolog dibagi ke dalam beberapa sudut pandang utama:

  1. Penyebab Utama: Pergeseran dari Heresi ke SkismaTeolog seperti Santo Agustinus dan Thomas Aquinas membedakan antara heresi (penyesatan doktrin) dan skisma (perpecahan hubungan persekutuan/komunitas). Dalam analisis teolog abad ke-20 dan modern (seperti Miroslav Volf dan Stanley Hauerwas), mayoritas perpecahan jemaat lokal saat ini bukan disebabkan oleh perbedaan doktrin dasar (seperti iman kepada Kristus), melainkan akibat benturan prioritas sekunder, kekuasaan, dan ego. Ketika opini pribadi atau pilihan gaya hidup diangkat menjadi syarat utama persekutuan, maka perpecahan tidak terhindarkan.
  2. Akar Masalah Eklesiologi (Konsep Dasar Gereja) – Teolog seperti Avery Dulles dan Karl Rahner menyoroti bahwa perpecahan sering kali dipicu oleh ketidaksepakatan mengenai struktur otoritas. Pertama, mengenai otoritas sentral versus kemerdekaan lokal: ketika institusi terlalu menekankan kontrol hierarki, hal itu dapat memicu resistensi. Sebaliknya, ketika jemaat terlalu menekankan otonomi individu atau kelompok tanpa ikatan komitmen bersama, jemaat menjadi rentan terpecah-pecah. Kedua, mengenai pola konsumerisme keagamaan: teolog kontemporer mencermati bahwa gereja modern kerap kali diadopsi dengan mentalitas pasar. Jemaat bertindak sebagai konsumen yang mencari kepuasan pribadi (gaya musik, figur pemimpin, status sosial). Jika keinginan ini tidak terpenuhi, mereka cenderung membuat faksi atau memisahkan diri.
  3. Dampak Budaya dan Suku (Etnofiletisme) – Dalam sejarah eklesiologi, dikenal istilah Etnofiletisme (perpecahan gereja berdasarkan garis identitas nasional, etnis, atau budaya). Teolog seperti Wolfhart Pannenberg menilai bahwa ketika identitas kesukuan, budaya, atau afiliasi politik dimasukkan ke dalam panggung gereja melebihi identitas rohani, gereja secara perlahan akan kehilangan daya rekatnya dan pecah mengikuti alur garis politik atau sosial masyarakat sekitar.
  4. Akar Psikologis dan Dosa Kepemimpinan – Yohanes Krisostomus dan para Bapa Gereja telah lama mencatat bahwa salah satu dorongan terbesar perpecahan adalah kesombongan dan perebutan pengaruh (ambitio). Teolog praktis modern menegaskan bahwa kegagalan komunikasi, ketidaktransparanan tata kelola keuangan, serta karakter pemimpin yang otoriter sering kali menjadi pemantik utama perpecahan jemaat di tingkat lokal.
  5. Pandangan Solutif: “Unity in Diversity” (Kesatuan dalam Keberagaman) – Para teolog seperti Dietrich Bonhoeffer (dalam bukunya Life Together) serta Leslie Newbigin menekankan bahwa kesatuan jemaat bukanlah penyeragaman (uniformity). Perpecahan terjadi ketika jemaat menuntut semua orang untuk menjadi identik. Kesatuan yang sejati bertumpu pada Kristus yang mengikat perbedaan-perbedaan karakter dan latar belakang menjadi satu tubuh.

3. Pesan Tuhan Yesus mengenai perpecahan Jemaat

Tuhan Yesus Kristus pernah menyampaikan secara langsung mengenai pentingnya kesatuan dan bahaya perpecahan, baik melalui pengajaran perumpamaan maupun dalam doa syafaat-Nya sebelum Ia disalibkan.

Beberapa catatan penting mengenai hal tersebut meliputi:

  • Peringatan tentang Rumah yang Terpecah (Matius 12:25 dan Markus 3:24-25)

    Yesus menyatakan secara tegas bahwa suatu kerajaan atau rumah tangga yang terpecah-pecah melawan dirinya sendiri tidak akan dapat bertahan. Prinsip ini disampaikan-Nya ketika orang-orang Farisi menuduh-Nya mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Yesus memperingatkan bahwa perpecahan dari dalam akan membawa keruntuhan.

  • Doa Syafaat untuk Kesatuan Murid-Murid (Yohanes 17:11, 21-23)

    Menjelang hari penderitaan-Nya, Yesus memanjatkan doa yang sangat mendalam kepada Bapa-Nya agar semua pengikut-Nya senantiasa menjadi satu. Ia menekankan bahwa kesatuan di antara orang percaya (sebagaimana Bapa dan Anak adalah satu) menjadi tanda utama yang dipakai oleh dunia untuk mengenali kasih Allah dan kebenaran perutusan-Nya.

  • Hukum Kasih sebagai Pengikat Utama (Yohanes 13:34-35)

    Yesus memberikan perintah baru agar para murid saling mengasihi sama seperti Ia telah mengasihi mereka. Melalui kasih inilah semua orang akan tahu bahwa mereka adalah murid-murid-Nya, yang secara langsung mencegah timbulnya perpecahan dan perselisihan di dalam persekutuan.


II. Namaku Tercantum dalam Kitab Kehidupan

Filipi 4:3b …..mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama Klemens dan kawan-kawan sekerjaku yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. 

Paulus mengatakan bahwa Euodia, Sintikhe, Klemens dan kawan-kawan sekerjaku yang lain namanya tercantum dalam kitab kehidupan. Apa maksudnya ‘tercantum dalam kitab kehidupan’ itu? Apakah itu hanya kata-kata penghiburan saja, demi menyemangati teman-temannya?

Istilah “kitab kehidupan” βίβλος τῆς ζωῆς (biblos tēs zōēs) yang disampaikan Rasul Paulus bukanlah sekadar kata-kata penghiburan atau hiperbola sentimental untuk menyemangati rekan-rekan pelayanannya. Dalam konteks Alkitab dan latar belakang sejarah, frasa ini memiliki bobot teologis dan yuridis yang sangat kuat.

Berikut adalah analisis mendalam mengenai maksud frasa tersebut:

1. Latar Belakang Kewarganegaraan dan Konteks Kota Filipi

Filipi adalah sebuah kota koloni Roma (Colonia Iulia Augusta Philippensis). Warga kota Filipi sangat bangga dengan status kewarganegaraan Roma mereka. Di kota-kota Yunani-Roma pada zaman itu, pemerintah daerah menyimpan sebuah daftar resmi (poletai atau citizenship roll) yang mencatat nama-nama seluruh warga negara yang sah dan berhak atas perlindungan hukum, hak istimewa, serta jaminan perlindungan kota. Jika seseorang melakukan kejahatan berat atau meninggal, namanya akan dihapus dari daftar tersebut.

Paulus memakai gambaran kebudayaan yang sangat dikenal oleh jemaat Filipi ini untuk menjelaskan kewarganegaraan surgawi. Di Filipi 3:20, Paulus menulis bahwa kewarganegaraan kita adalah di dalam surga. Maka, ketika ia menyebut “kitab kehidupan” di Filipi 4:3, ia sedang menegaskan bahwa meskipun status kewarganegaraan bumi atau kedudukan mereka di mata manusia bisa terancam, nama-nama mereka terdaftar secara sah dan kekal dalam daftar kewarganegaraan Kerajaan Allah.

2. Akar Teologis dalam Tradisi Alkitab

Konsep “kitab kehidupan” atau daftar nama yang dicatat Allah bukanlah hal baru yang diciptakan Paulus, melainkan memiliki akar yang sangat dalam di sepanjang Alkitab:

Perjanjian Lama: Musa pernah menyebut tentang kitab yang ditulis Allah ketika ia bersyafaat untuk bangsa Israel (Keluaran 32:32-33). Pemazmur menyebutnya sebagai “kitab kehidupan” di mana nama orang-orang benar dicatat (Mazmur 69:29), dan Nabi Daniel menulis tentang keselamatan bagi mereka yang terdaftar dalam Kitab itu (Daniel 12:1).

Pengajaran Yesus: Tuhan Yesus sendiri menegaskan realitas pencatatan ini ketika para murid bersukacita karena dapat menguasai roh-roh jahat. Yesus berkata bahwa mereka harus bersukacita karena nama mereka ada terdaftar di surga (Lukas 10:20).

Kitab Wahyu: Frasa ini muncul berulang kali di Kitab Wahyu sebagai daftar nama orang-orang yang ditebus oleh darah Anak Domba (Wahyu 3:5, 13:8, 20:12, 21:27).

Dengan demikian, bagi Paulus, kitab kehidupan adalah realitas keselamatan yang nyata, yaitu penetapan keselamatan dan jaminan bagian dalam persekutuan kekal bersama Allah.

3. Maksud Penegasan Paulus kepada Euodia, Sintikhe, dan Klemens

Ketika Paulus menyebut nama Euodia, Sintikhe, dan Klemens tercantum dalam kitab kehidupan, ada beberapa tujuan teologis dan praktis yang ingin disampaikan:

Bukan Sekadar Retorika atau Penghiburan: Paulus tidak sedang berbohong atau sekadar memberi pujian kosong. Ia memandang mereka sebagai orang-orang yang telah bertobat, menerima Injil, dan memberikan bukti nyata dari iman mereka melalui perjuangan bersama dalam pelayanan pemberitaan Injil.

Dasar untuk Rekonsiliasi: Penyebutan ini sangat relevan dengan perselisihan antara Euodia dan Sintikhe. Paulus mengingatkan bahwa meskipun saat ini mereka sedang berselisih paham di dunia, mereka berdua sama-sama orang yang telah diselamatkan dan nama mereka tercantum di kitab yang sama. Perbedaan pendapat sementara tidak boleh menghancurkan ikatan kekal yang telah Allah tetapkan.

Kepastian di Tengah Penderitaan: Jemaat di Filipi sedang menghadapi tekanan dan penganiayaan. Paulus mengingatkan bahwa penderitaan dan pemenjaraan yang mereka alami di bumi tidak mengubahkan jaminan keselamatan mereka di hadapan Allah.

Pernyataan Paulus mengenai “kitab kehidupan” adalah penegasan doktrin keselamatan dan jaminan kekal. Hal itu menjadi pengingat bagi Euodia, Sintikhe, dan seluruh jemaat bahwa identitas tertinggi mereka adalah sebagai warga Kerajaan Surga, yang seharusnya mengalahkan segala bentuk perselisihan pribadi dan penderitaan lahiriah.

Jadi secara keseluruhan, kebenaran ini mengajar kita sebagai orang percaya di zaman sekarang, untuk mengalihkan fokus hidup dari sekedar mengejar kehormatan, harta, dan penyelesaian konflik duniawi yang fana, menuju mengejar persekutuan kekal bersama Bapa di surga.

Firman Tuhan menegaskan dalam Wahyu 21:27, Namun, tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kejijikan atau dusta, melainkan hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga kesatuan, hidup dalam ketaatan, serta bersukacita bukan karena pencapaian duniawi kita, melainkan karena nama kita tercantum dan dipelihara oleh Allah di dalam kitab kehidupan-Nya.


III. Renungan

  1. Menurut Anda konflik yang terjadi di Gereja itu terjadi karena apa? Bagaimana pandangan Anda tentang Gereja yang seharusnya?
  2. Bagaimana seharusnya kita sebagai pengurus Gereja atau mungkin jemaat biasa, berperan dalam menghindari terjadinya konflik dalam Gereja?
  3. Apakah fokus pelayanan saya selama ini benar-benar didorong oleh ketulusan untuk memuliakan Tuhan, atau tanpa disadari masih terselip keinginan untuk mencari pengakuan, kedudukan, serta pemuasan ego pribadi?
  4. Ketika terjadi perbedaan pendapat atau konflik di dalam gereja, apakah saya lebih mengutamakan dorongan untuk memenangkan argumen pribadi, atau bersedia merendahkan hati demi menjaga kesatuan Tubuh Kristus?
  5. Sejauh mana kesadaran bahwa nama saya tercantum dalam kitab kehidupan memengaruhi cara saya mengasihi, mengampuni, dan melayani sesama jemaat setiap hari
  6. Jika kelak saya berdiri di hadapan Bapa di surga, apakah pelayanan yang saya kerjakan di dunia ini dikenal-Nya sebagai buah ketulusan iman, atau sekadar kesibukan organisasi tanpa kasih?

IV. Doa

Selamat pagi Tuhan Yesus. Terima kasih atas firman yang demikian dahsyat mengingatkan kami untuk sehati dan sepikir di dalam pelayanan. Tuhan, kami mohon ampunan-Mu atas segala dosa dan kesalahan kami jika selama ini kami masih berusaha untuk mementingkan kepentingan kami sendiri dalam pelayanan kepada-Mu. Sekiranya masih ada dosa dan kesalaha kami yang lain, kami mohon ampun. Tuhan berkatilah kami dalam sehari ini dan seterusnya, untuk dapat kami bagikan lagi kepada orang lain. Terima kasih Tuhan.  Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


Sebab itu terimalah seorang akan yang lain,
sama seperti Kristus juga telah menerima kita,
untuk kemuliaan Allah

Roma 15:7

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *