Edisi 3 tentang “Sejarah Pekabaran Injil: Dari Lisan Menjadi Tulisan” Seri Kitab Injil

By Febrian — 17 Agustus 2026

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Setelah kita mempelajari Sejarah Awal Pekabaran Injil, maka sekarang kita akan membahas mengenai transisi pekabaran Injil dari pemberitaan secara lisan menjadi pemberitaan melalui tulisan — hingga akhirnya lahir empat Injil yang kita kenal sekarang. Kiranya kita bisa mendapat hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.


Sejarah Pekabaran Injil:
Dari Lisan Menjadi Tulisan(Perjalanan Berita Injil dari Tradisi Lisan menuju Media Tulisan)

I. Pendahuluan

Pada dua edisi sebelumnya (Edisi 1 dan Edisi 2), kita telah menyaksikan Pekabaran Injil bergerak dari Yerusalem ke Yudea dan Samaria, hingga ke berbagai wilayah Kekaisaran Romawi, bahkan sampai ke Mesir, Mesopotamia, dan India. Kita juga sudah mulai menyinggung sekilas bagaimana Injil akhirnya mulai dituliskan, disalin, dan dibacakan dalam jemaat-jemaat — termasuk kesaksian Ireneus sekitar tahun 180 M yang menyebut empat Injil secara eksplisit.

Pada edisi kali ini, kita akan memperdalam satu pertanyaan yang sengaja belum kita jawab tuntas sebelumnya: bagaimana proses peralihan dari kesaksian lisan para rasul menuju empat Injil tertulis itu sesungguhnya terjadi? Siapa yang menuliskannya, kapan, dan mengapa baru pada tahap tersebut?


II. Dari Kesaksian Lisan Menuju Tulisan

1. Dunia Abad Pertama: Budaya Lisan yang Kuat

Mari kita bayangkan sejenak hidup di sebuah kota kecil di tepi Laut Tengah pada abad pertama. Belum ada listrik, apalagi televisi, radio, atau internet. Berita dan catatan tertulis memang sudah dikenal manusia sejak berabad-abad sebelumnya — dalam bentuk prasasti maupun gulungan perkamen. Namun di wilayah tempat para rasul melayani, budaya penyampaian berita dari mulut ke mulut masih sangat kuat: dari sahabat, dari tetangga di pasar, dari pendatang yang singgah di warung, atau dari para peziarah yang datang ke Bait Allah.

Dalam suasana seperti itulah, selama bertahun-tahun setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus dan peristiwa Pentakosta, Kabar Baik terutama disampaikan secara lisan. Roh Kudus memberi para rasul keberanian untuk terus memberitakannya meski menghadapi berbagai ancaman dan hambatan — sebagaimana berulang kali dicatat dalam Kisah Para Rasul, misalnya ketika Petrus dan Yohanes tetap menolak untuk berhenti bersaksi meski telah diperingatkan (Kis 4:18-20), atau ketika para rasul tetap mengajar setiap hari di Bait Allah dan dari rumah ke rumah setelah dicambuk (Kis 5:40-42), hingga Paulus yang tetap mengajar dengan terus terang tanpa rintangan menjelang akhir Kisah Para Rasul (Kis 28:31).

2. Para Rasul sebagai Saksi Mata

Kekuatan utama pemberitaan lisan ini terletak pada satu hal: para rasul menyatakan diri sebagai saksi langsung atas peristiwa yang mereka beritakan, bukan sekadar meneruskan cerita orang lain. Kisah Para Rasul mencatat bahwa mereka memberikan kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dengan kuasa yang besar (Kis 4:33), sehingga ketika Petrus dan Yohanes diperiksa Mahkamah Agama, para pemimpin Yahudi mengenali bahwa keduanya pernah bersama Tuhan Yesus, meski keduanya disebut sebagai orang biasa yang tidak terpelajar (Kis 4:13).

Kesaksian seperti ini memungkinkan orang menerima Pekabaran Injil langsung dari orang yang mengaku melihat dan mengalami sendiri peristiwanya — namun bukan berarti setiap orang menerimanya tanpa pertimbangan. Kesaksian tetap dapat didengar, dibandingkan, dan dinilai. Keberanian ini pun bukan semata usaha manusia: ketika jemaat berdoa memohon keberanian, mereka dipenuhi Roh Kudus dan memberitakan Firman dengan berani (Kis 4:29-31).

3. Mengapa Ada Jeda Sebelum Dituliskan?

Kita tidak memiliki sumber sejarah yang menjelaskan secara langsung kapan atau mengapa para pengikut Tuhan Yesus akhirnya memutuskan menyusun kisah pelayanan-Nya dalam bentuk Injil tertulis. Karena itu, kita tidak dapat menunjuk satu alasan tunggal sebagai fakta sejarah yang pasti.

Yang dapat kita amati dari sumber-sumber yang ada adalah bahwa Pekabaran Injil dalam bentuk pemberitaan lisan dan penggunaan tulisan berjalan berdampingan, bukan saling menggantikan. Selama para rasul masih hidup dan dapat bersaksi langsung kepada jemaat yang mereka kunjungi, kesaksian lisan tetap menjadi sarana utama. Namun seiring jemaat semakin tersebar luas, tulisan menjadi semakin diperlukan untuk menjangkau jemaat yang tidak dapat bertemu langsung dengan para rasul.

Surat-surat Rasul Paulus adalah bukti bahwa tulisan sudah digunakan sebagai sarana komunikasi sejak masa yang sangat awal — bahkan mendahului penulisan Injil itu sendiri. Seperti tertulis dalam Roma 16:22, seorang yang bernama Tertius menyebut dirinya sebagai penulis surat tersebut, menunjukkan bahwa proses penulisan surat-surat rasuli sudah menjadi praktik yang lazim.

Dengan demikian, munculnya Pekabaran Injil dalam bentuk tertulis bukanlah peralihan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan menuju masyarakat yang baru mengenalnya. Tulisan sudah tersedia sejak awal. Yang terjadi adalah bahwa Pekabaran Injil, yang sejak semula diberitakan secara lisan, pada tahap tertentu mulai juga dituangkan ke dalam berbagai bentuk tulisan — mula-mula surat, kemudian Injil.

4. Petunjuk Awal tentang Penyusunan Injil

Ada beberapa petunjuk penting dari sumber-sumber Kekristenan awal mengenai bagaimana proses penyusunan Kitab Injil dimulai.

Papias, seorang pemimpin gereja yang hidup pada awal abad kedua, memberikan salah satu kesaksian tertua mengenai asal-usul Injil Markus. Tulisan Papias sendiri sudah hilang, tetapi sebagian isinya dikutip kemudian oleh Eusebius, Uskup Kaisarea, dalam karyanya Church History. Menurut kesaksian yang dikutip Eusebius ini, Markus menjadi ἑρμηνευτής (hermēneutēs) penerjemah/interpreter Rasul Petrus, dan menuliskan dengan teliti apa yang diingatnya dari pemberitaan Petrus — meski tidak selalu dalam urutan yang persis kronologis. Kesaksian ini memperkuat apa yang telah kita singgung di edisi-edisi sebelumnya mengenai hubungan Markus dengan Petrus, sekarang dengan sumber yang lebih spesifik.

Injil Lukas memberikan gambaran yang lebih langsung mengenai proses pengumpulan bahan. Pada awal kitabnya, Lukas menyebut bahwa sudah ada banyak orang yang berusaha menyusun laporan mengenai peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, dan bahwa ia sendiri telah menyelidiki segala sesuatu dengan saksama sebelum menyusunnya secara teratur (Lukas 1:1-4). Pernyataan ini memperlihatkan bahwa sebelum Injil Lukas ditulis, sudah terdapat kesaksian tentang Tuhan Yesus diberitakan secara lisan maupun dalam berbagai laporan yang telah disusun sebagian orang.

Hubungan antara pengajaran lisan dan tertulis ini juga terlihat dalam surat Paulus kepada jemaat Tesalonika, ketika ia mengingatkan mereka untuk berpegang pada ajaran yang telah mereka terima baik secara lisan maupun secara tertulis (2 Tesalonika 2:15) — menegaskan bahwa dalam jemaat mula-mula, kedua bentuk penyampaian ini berjalan bersama, bukan saling menggantikan.


III. Kitab Injil Mulai Ditulis dan Disebarkan 

1. Bagaimana asal mula Kitab Injil ditulis dan disebarkan?

Setelah Injil Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes ditulis, penyebarannya berlangsung dengan cara yang berbeda dari zaman sekarang. Pada masa itu belum ada mesin cetak. Tidak ada percetakan dan tidak ada produksi massal buku. Setiap salinan harus dibuat dengan tangan.

Proses Pekabaran kitab Injil, kira-kira seperti ini:

Tahap Proses
1 Sebuah Injil ditulis oleh penulisnya atau melalui seorang juru tulis.
2 Naskah tersebut diterima oleh sebuah komunitas Kristen.
3 Naskah disalin dengan tangan.
4 Salinan dibawa atau dikirim ke jemaat lain.
5 Injil dibacakan dalam pertemuan jemaat.
6 Pengajar menjelaskan isi yang telah dibacakan.
7 Jemaat mengingat dan mengajarkan kembali isinya.
8 Jemaat tersebut dapat membuat salinan baru untuk komunitas lain.

Dengan demikian, satu naskah dapat menghasilkan beberapa salinan. Masing-masing salinan kemudian dapat menghasilkan salinan berikutnya. Pekabaran ini dapat digambarkan seperti sebuah pohon yang terus bercabang.

2. Mengapa Satu Kitab Dapat Didengar Banyak Orang?

Pada masyarakat abad pertama, kemampuan membaca tidak dimiliki oleh semua orang. Karena itu, sebuah kitab tidak mungkin dimiliki secara pribadi oleh setiap orang. Satu orang yang mampu membaca harus membacakan kitab tersebut kepada seluruh jemaat yang lain. Puluhan atau bahkan lebih banyak orang mendengarkan bersamaan pada saat yang sama di suatu tempat berkumpul. Hal ini menjelaskan mengapa tingginya tingkat buta huruf bukan menjadi penghalang besar bagi Pekabaran Injil.

Alur pemberitaan Injil adalah sebagai berikut:

Naskah tertulis → dibacakan → didengar jemaat → dijelaskan → diingat → diajarkan kembali → dibawa ke tempat lain.

Dengan demikian, tulisan dan tradisi lisan tidak saling bertentangan. Keduanya bekerja bersama.

3. Surat Rasul Paulus Menunjukkan Pola tersebut

Surat-surat yang ditulis oleh Rasul Paulus memberikan bukti yang sangat jelas mengenai cara Injil mula-mula disebarkan. Dalam Kolose 4:16-18, Rasul Paulus meminta agar surat yang dibacakan di satu jemaat juga dibaca di jemaat lain. Ini menunjukkan bahwa Paulus bukan bermaksud mengirim surat yang hanya untuk dibaca oleh satu orang.

Dalam 1 Tesalonika 5:27, Rasul Paulus bahkan meminta agar suratnya dibacakan kepada seluruh saudara seiman.
Wahyu 1:3 juga memperlihatkan pola yang sama: ada orang yang membacakan, sementara orang-orang lain mendengarkan. Jadi sebetulnya sejak awal, Kekristenan sudah mempunyai pola “membaca untuk didengar bersama”.

4. Kapan Empat Injil Mulai Dikenal Bersama?

Kitab Injil Markus umumnya dipandang oleh banyak ahli Alkitab sebagai Injil yang paling awal ditulis. Injil Matius dan Injil Lukas diperkirakan ditulis dan disebarkan sekitar tahun 70–90 Masehi, sedangkan Injil Yohanes yang paling belakangan ditulis dan disebarkan, yaitu sekitar tahun 90-an Masehi. Namun, penanggalan tersebut masih menjadi bahan perdebatan akademis hingga waktu yang lama.
Yang terutama adalah, bahwa Injil tidak muncul sebagai satu buku sekaligus. Keempatnya muncul dalam lingkungan dan waktu yang berbeda, kemudian beredar melalui jaringan jemaat. Baru pada akhir abad pertama dan awal abad kedua, keempat Injil tersebut semakin dikenal di berbagai komunitas Kristen.

5. Kesaksian Ireneus Sekitar Tahun 180 M

Salah satu bukti penting mengenai penerimaan empat Injil berasal dari Ireneus, seorang uskup di Lugdunum (sekarang Lyon, Prancis), wilayah Galia Romawi. Sekitar tahun 180 M, Ireneus menulis karya yang dikenal dengan judul Against Heresies (Adversus Haereses). Dalam karya tersebut, Ireneus secara jelas menyebut empat Injil dan menghubungkannya dengan Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Kesaksian Ireneus merupakan tonggak penting dalam sejarah pembentukan dan penerimaan kanon Injil. Kesaksian Ireneus ini diperkuat oleh dokumen lain dari periode yang sama, seperti Kanon Muratorian (daftar kanon dari wilayah Roma sekitar tahun 170–200 M) dan kesaksian dari Klemens dari Aleksandria serta Tertulianus di Kartago. Pada sekitar satu setengah abad setelah pelayanan Tuhan Yesus Kristus, empat Injil tersebut telah dikenal secara luas dalam lingkungan gereja dan dipandang sebagai kumpulan kesaksian yang memiliki otoritas penting. Hal ini menunjukkan bahwa pada akhir abad kedua, identitas empat Injil telah memiliki dasar yang cukup kuat dalam tradisi gereja.

Menariknya, Ireneus tidak hanya menyebut keempat Injil tersebut secara terpisah, tetapi juga memberikan penjelasan mengenai hubungan antara keempatnya dan menegaskan bahwa gereja menerima empat Injil, bukan lebih atau kurang dari empat. Pernyataan ini penting karena menunjukkan bahwa pada masa Ireneus, pembicaraan mengenai Injil sudah tidak lagi terbatas pada satu atau dua tulisan, melainkan telah berkembang menjadi suatu kumpulan empat Injil yang memiliki kedudukan khusus dalam kehidupan gereja.


IV. LAHIRNYA EMPAT INJIL

1. Injil Markus: Yang Paling Awal

Berdasarkan pandangan mayoritas ahli Perjanjian Baru, Injil Markus umumnya dianggap sebagai Injil kanonik yang paling awal ditulis, sekitar tahun 65-70 Masehi — kira-kira 35-40 tahun setelah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Seperti telah kita bahas di bagian II.4, kesaksian Papias yang dikutip Eusebius menghubungkan Injil ini dengan Rasul Petrus: Markus menjadi pengikut dan pencatat Petrus, lalu menuliskan apa yang telah diajarkan Petrus, kemungkinan atas permintaan orang-orang yang telah mendengarnya secara lisan. Hal ini penting karena menunjukkan bahwa Injil Markus lahir dari kesaksian seorang saksi mata yang memberitakan Injil, yang kemudian dituliskan kembali agar orang-orang yang tidak sempat mendengar Petrus secara langsung tetap dapat menerima kesaksian tersebut.

Sedikit catatan terhadap Markus 16:9–20, di mana bagian ini disebut orang sebagai “penutup panjang Injil Markus”. Bagian ini memuat penampakan Tuhan Yesus setelah kebangkitan, amanat kepada para murid, dan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Markus 16:9–20 tersebut, tidak terdapat dalam beberapa manuskrip Yunani tertua dan terpenting, terutama Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus. Karena itu, banyak Alkitab modern memberi tanda kurung, catatan kaki, atau catatan tekstual yang menjelaskan bahwa bagian ini kemungkinan merupakan tambahan yang beredar dalam tradisi manuskrip kemudian. Namun, ini tidak berarti Markus 16:9–20 otomatis “palsu” atau tidak memiliki nilai historis. Sejumlah manuskrip dan penulis gereja mula-mula memuat atau mengenal bagian ini. Persoalannya adalah apakah Markus sendiri yang menulis ayat 9–20, bukan apakah isi teologisnya bertentangan dengan iman Kristen.

2. Injil Matius dan Lukas

Setelah Injil Markus beredar, muncul pula Injil Matius dan Injil Lukas. Para ahli umumnya memperkirakan kedua Injil ini ditulis sekitar tahun 70-90 Masehi, meskipun tanggal pastinya tetap diperdebatkan.

Matius sering dipahami memiliki perhatian kuat terhadap pembaca berlatar belakang Yahudi. Injil ini menekankan bahwa Yesus adalah penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama, dan memuat banyak ajaran Tuhan Yesus, termasuk Khotbah di Bukit yang terkenal (Matius 5-7).

Injil Lukas ditulis dengan pendekatan berbeda, sebagaimana telah kita lihat dari pembukaannya di bagian II.D di atas: Lukas menyelidiki segala sesuatu dengan saksama dan menyusunnya secara teratur. Ia menulis untuk kemungkinan sebagian besar pembaca yang berlatar belakang Yunani-Romawi, dengan penekanan bahwa keselamatan dari Allah terbuka bagi semua orang, bukan hanya bangsa Yahudi.

Menariknya, Matius dan Lukas memiliki banyak kesamaan dengan Markus, tetapi juga memuat bahan-bahan unik yang tidak terdapat dalam Markus. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya menggunakan Markus sebagai salah satu sumber, sekaligus memiliki akses kepada sumber-sumber lain yang sekarang tidak lagi kita miliki.

3. Injil Yohanes: Yang Terakhir

Injil Yohanes umumnya dianggap sebagai Injil yang paling belakangan ditulis, sekitar tahun 90-an Masehi. Injil ini sangat berbeda dari ketiga Injil lainnya dalam gaya, struktur, maupun isinya.

Yohanes tidak banyak menceritakan peristiwa yang sama dengan Matius, Markus, dan Lukas (yang bersama-sama disebut Injil Sinoptik). Sebaliknya, Yohanes memuat banyak percakapan panjang dan ajaran teologis mendalam tentang siapa Yesus — menekankan bahwa Yesus adalah Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:1-14), dan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman kepada-Nya.

Tradisi gereja menghubungkan Injil ini dengan Rasul Yohanes, salah satu dari kedua belas rasul. Namun, identitas penulis Injil Yohanes tetap menjadi bahan diskusi dalam studi Perjanjian Baru hingga sekarang. Yang jelas, Injil ini memberikan kesaksian yang unik dan berharga tentang kehidupan dan pengajaran Tuhan Yesus.

4. Mengapa Ada Empat Injil?

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita: mengapa Allah mengilhami penulisan empat Injil yang berbeda, bukan hanya satu?

Setiap Injil memiliki sudut pandang dan penekanan yang berbeda:

    1. Matius menekankan Yesus sebagai Raja dan penggenapan nubuat.
    2. Markus menekankan Yesus sebagai Hamba yang menderita. 
    3. Lukas menekankan Yesus sebagai Anak Manusia yang membawa keselamatan bagi semua orang. 
    4. Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah yang kekal.

Keempat Injil ini saling melengkapi, memberikan gambaran yang lebih kaya dan lebih lengkap tentang siapa Yesus Kristus dan apa yang telah Dia lakukan bagi umat manusia. 

Yang juga penting untuk diingat: keempat Injil ini tidak muncul sebagai satu buku sekaligus. Mereka lahir di lingkungan dan waktu yang berbeda-beda, kemudian beredar melalui jaringan jemaat, dan baru pada akhir abad pertama dan awal abad kedua — sebagaimana diperlihatkan kesaksian Ireneus sekitar tahun 180 M yang telah kita bahas di edisi sebelumnya — keempatnya semakin dikenal bersama sebagai satu kesatuan kesaksian yang diilhami Allah tentang Yesus Kristus.


V. PENUTUP

Demikianlah perjalanan Kabar Baik dari Yerusalem: dari pemberitaan lisan para rasul, menjadi surat-surat yang menghibur dan menguatkan, hingga menjadi Injil yang ditulis dengan hati-hati oleh Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes.

Kembali ke pertanyaan yang telah kita singgung di edisi sebelumnya: apakah para rasul lalai karena tidak segera menulis? Sama sekali tidak. Mereka justru sedang menaati perintah Yesus, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. “ (Matius 28:19-20). Penulisan Injil bukanlah penyimpangan dari tugas itu, melainkan bagian dari proses pemberitaan itu sendiri — tahap yang muncul setelah kesaksian lisan lebih dahulu tersebar luas.

Kita telah melihat bahwa pemberitaan lisan adalah sarana utama para rasul dalam menyebarkan Kabar Baik pada tahap paling awal. Kita juga telah melihat bahwa tulisan sudah dikenal sejak masa itu dan mulai semakin digunakan seiring berkembangnya jemaat. Empat Injil lahir dalam kurun waktu sekitar 65-90 Masehi, masing-masing dengan sudut pandang dan penekanan yang unik, tetapi semuanya memberitakan satu Kabar Baik yang sama: Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat.

Namun, satu pertanyaan masih tersisa: bagaimana kita bisa tahu bahwa tulisan-tulisan yang kita baca sekarang benar-benar sama dengan naskah aslinya? Bagaimana naskah-naskah kuno itu disalin, disebarkan, diseleksi menjadi kanon, dan akhirnya sampai ke tangan kita?

Jawabannya terletak pada ribuan naskah kuno yang ditemukan para arkeolog dan ahli sejarah. Untuk Perjanjian Baru, bukti-bukti penting antara lain Papirus Chester Beatty dan Kodeks Sinaitikus. Sebagai catatan, Naskah-Naskah Laut Mati (Qumran) sendiri adalah naskah Perjanjian Lama dan komunitas Yahudi kuno, bukan naskah Injil — namun penemuan itu tetap memberikan bukti penting mengenai betapa telitinya tradisi penyalinan naskah suci pada masa itu, sebuah budaya yang juga mewarnai bagaimana naskah-naskah Perjanjian Baru kemudian disalin dan dijaga.

Kita akan melanjutkan perjalanan ini pada edisi berikutnya: “Sejarah Pekabaran Injil: Dari Naskah ke Kanon”. Kita akan melihat bagaimana naskah-naskah kuno itu ditemukan, bagaimana para ahli membandingkannya, dan bagaimana kita dapat memiliki keyakinan bahwa Alkitab yang kita pegang hari ini adalah Firman Allah yang dapat dipercaya.

Kiranya Tuhan Yesus memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pemberitaan firman hari ini. Tuhan Yesus memberkati.


Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

2 Timotius 4:2

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *