MATIUS

Daftar Isi

PASAL 1

Pendahuluan: Silsilah dan Kelahiran Yesus

Matius pasal 1 adalah pintu masuk Injil yang menekankan identitas Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Pasal ini terdiri dari dua bagian utama: silsilah Yesus (ayat 1–17) dan kisah kelahiran-Nya dari perawan Maria (ayat 18–25). Penulis menulis untuk pembaca Yahudi, sehingga ia menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dan Abraham, serta lahir secara ajaib dari Roh Kudus.

Silsilah Yesus Kristus (Matius 1:1–17)

Matius memulai dengan “silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” Ini bukan sekadar daftar nama, tetapi pernyataan teologis. Yesus adalah pewaris takhta Daud (kerajaan) dan keturunan Abraham (berkat bagi semua bangsa). Silsilah dibagi menjadi tiga periode, masing-masing empat belas keturunan: dari Abraham hingga Daud, dari Daud hingga pembuangan ke Babel, dan dari pembuangan hingga Kristus.

Ada beberapa nama perempuan yang disebutkan (Tamar, Rahab, Rut, Batsyeba), yang menunjukkan bahwa rencana Allah melibatkan orang-orang dari latar belakang yang tidak terduga. Ini juga menegaskan bahwa Yesus lahir dalam sejarah nyata, bukan mitos. Jumlah empat belas mungkin mengingatkan pada angka Daud (nilai numerik huruf Ibrani) dan menekankan keteraturan ilahi dalam sejarah.

Kelahiran Yesus dari Perawan Maria (Matius 1:18–25)

Bagian ini beralih dari silsilah ke peristiwa kelahiran. Maria bertunangan dengan Yusuf, tetapi sebelum mereka hidup bersama, ia mengandung dari Roh Kudus. Yusuf, yang adalah orang benar, tidak ingin mencemarkan nama Maria secara terbuka, sehingga ia bermaksud menceraikannya secara diam-diam. Namun, dalam mimpi, malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan meyakinkannya.

Malaikat berkata: “Jangan takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki, dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Nama Yesus (Yehoshua) berarti “Tuhan menyelamatkan.” Ini menegaskan misi utama Yesus: bukan pembebasan politik, tetapi pembebasan dari dosa.

Penggenapan Nubuat Yesaya (Matius 1:22–23)

Matius menekankan bahwa semua ini terjadi untuk menggenapi firman Tuhan melalui nabi Yesaya: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14). Imanuel berarti “Allah menyertai kita.” Ini adalah puncak teologis pasal ini: Yesus adalah Allah yang hadir di tengah umat-Nya, bukan sekadar utusan biasa.

Tanggapan Yusuf dan Makna Penamaan (Matius 1:24–25)

Yusuf bangun dari tidurnya dan melakukan seperti yang diperintahkan malaikat: ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anak laki-laki. Ia menamakan anak itu Yesus. Tindakan Yusuf menunjukkan ketaatan yang rendah hati dan menjadi teladan iman. Penamaan Yesus oleh Yusuf secara resmi memberi-Nya identitas dalam garis keturunan Daud, sekaligus menggenapi mandat ilahi.

Kesimpulan: Dasar Injil Matius

Matius 1 meletakkan dasar bagi seluruh Injil: Yesus adalah Kristus, Anak Daud, Anak Abraham, dan Imanuel—Allah yang menyertai kita. Silsilah membuktikan legalitas klaim-Nya atas takhta Daud, sedangkan kelahiran dari perawan membuktikan keilahian-Nya. Pasal ini mengundang pembaca untuk melihat Yesus bukan sebagai tokoh sejarah biasa, tetapi sebagai Juruselamat yang dijanjikan dan Tuhan yang hadir.

PASAL 2

Pendahuluan: Masa Kecil Yesus dan Ancaman Herodes

Matius pasal 2 melanjutkan narasi kelahiran Yesus dengan fokus pada peristiwa setelah kelahiran-Nya di Betlehem. Pasal ini mencatat kunjungan orang-orang majus dari Timur, pelarian ke Mesir, pembantaian anak-anak di Betlehem, dan kepulangan keluarga Yesus ke Nazaret. Setiap peristiwa menegaskan bahwa Yesus adalah Raja yang dijanjikan, tetapi juga menunjukkan penolakan dan penderitaan yang akan menyertai misi-Nya.

Kunjungan Orang Majus (Matius 2:1–12)

Orang-orang majus datang dari Timur ke Yerusalem setelah melihat bintang-Nya. Mereka bertanya, “Di manakah Dia yang lahir sebagai Raja orang Yahudi?” Pertanyaan ini mengganggu Herodes dan seluruh kota. Herodes, yang adalah raja boneka Romawi, merasa terancam oleh kelahiran raja yang sah. Ia mengumpulkan para imam kepala dan ahli Taurat untuk menanyakan tempat kelahiran Mesias, dan mereka menjawab: Betlehem di tanah Yehuda, sesuai nubuat Mikha 5:1.

Herodes diam-diam memanggil orang majus dan meminta mereka mencari anak itu, dengan dalih ingin menyembah-Nya. Bintang itu menuntun mereka ke Betlehem dan berhenti di atas tempat Yesus berada. Mereka bersukacita dan menyembah Dia, lalu mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Emas melambangkan kekuasaan kerajaan, kemenyan untuk keimamatan, dan mur untuk penguburan—menunjuk pada identitas dan penderitaan Yesus. Setelah diperingatkan dalam mimpi, mereka pulang melalui jalan lain.

Pelarian ke Mesir (Matius 2:13–15)

Setelah orang majus pergi, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibunya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf segera taat dan berangkat pada malam itu juga. Mereka tinggal di Mesir sampai kematian Herodes.

Matius melihat ini sebagai penggenapan nubuat Hosea 11:1: “Dari Mesir Aku memanggil Anak-Ku.” Ayat ini awalnya merujuk pada Israel yang keluar dari Mesir, tetapi Matius menerapkannya secara tipologis kepada Yesus, yang mewakili Israel yang setia dan menjalani kembali sejarah bangsa-Nya.

Pembantaian Anak-anak di Betlehem (Matius 2:16–18)

Ketika Herodes menyadari bahwa ia telah diperdaya oleh orang majus, ia menjadi sangat marah. Ia memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki di Betlehem dan sekitarnya yang berusia dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ia ketahui dari orang majus. Peristiwa ini menggenapi nubuat Yeremia 31:15: “Terdengar suara di Rama, tangisan dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Pembantaian ini menunjukkan keganasan kuasa duniawi yang menolak Kerajaan Allah, tetapi juga menegaskan bahwa Yesus terhindar untuk menjalankan misi-Nya. Ratapan Rahel menjadi simbol penderitaan Israel yang mendalam, namun di balik itu ada pengharapan karena Allah tetap memelihara Anak-Nya.

Kembali dari Mesir dan Pindah ke Nazaret (Matius 2:19–23)

Setelah Herodes mati, malaikat Tuhan kembali muncul kepada Yusuf di Mesir dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibunya dan pergilah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati.” Yusuf bangun dan membawa keluarga itu kembali ke Israel. Namun, ketika ia mendengar bahwa Arkhelaus (putra Herodes) memerintah di Yudea, ia takut ke sana. Karena diperingatkan dalam mimpi, ia pergi ke wilayah Galilea dan tinggal di kota Nazaret.

Matius mencatat bahwa ini menggenapi firman para nabi: “Ia akan disebut orang Nazaret.” Istilah ini bukan kutipan langsung dari Perjanjian Lama, tetapi mungkin merujuk pada penghinaan bahwa Yesus berasal dari kota kecil yang tidak terkenal (Yohanes 1:46) atau permainan kata dengan kata Ibrani “netzer” (tunas) yang mengacu pada nubuat Mesias dari Yesaya 11:1. Ini menunjukkan bahwa Yesus datang dalam kerendahan dan kehinaan, namun justru di situlah rencana Allah dinyatakan.

Kesimpulan: Yesus sebagai Raja yang Direndahkan

Matius 2 menggambarkan Yesus sebagai Raja sejati yang diakui oleh orang-orang bukan Yahudi (orang majus), tetapi ditolak oleh penguasa Yahudi. Pelarian ke Mesir dan pindah ke Nazaret menegaskan bahwa hidup Yesus sejak kecil sudah dipenuhi dengan penggenapan nubuat dan penderitaan. Pasal ini mengajarkan bahwa Kerajaan Allah tidak datang dengan kemegahan duniawi, tetapi melalui perlindungan ilahi, penderitaan, dan kesetiaan yang rendah hati.

PASAL 3

Pendahuluan: Yohanes Pembaptis dan Awal Pelayanan Yesus

Matius pasal 3 menandai peralihan dari masa kanak-kanak Yesus ke permulaan pelayanan publik-Nya. Pasal ini memperkenalkan Yohanes Pembaptis sebagai pelopor yang mempersiapkan jalan bagi Mesias. Inti pasal ini adalah pemberitaan pertobatan, baptisan Yohanes, dan baptisan Yesus yang diikuti dengan pernyataan ilahi dari surga.

Pemberitaan Yohanes Pembaptis (Matius 3:1–6)

Yohanes tampil di padang gurun Yudea dengan seruan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Ia adalah tokoh yang dinubuatkan oleh Yesaya (40:3) sebagai “suara yang berseru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan.” Penampilannya sederhana—jubah bulu unta, ikat pinggang kulit, makanan belalang dan madu hutan—menggambarkan gaya hidup nabi zaman dahulu, seperti Elia.

Orang-orang dari Yerusalem, seluruh Yudea, dan daerah sekitar Yordan datang kepadanya untuk mengaku dosa dan dibaptis di sungai Yordan. Baptisan Yohanes adalah tindakan simbolis pertobatan dan pembersihan rohani, sebagai persiapan menyambut kedatangan Mesias yang akan datang.

Peringatan kepada Orang Farisi dan Saduki (Matius 3:7–10)

Ketika Yohanes melihat banyak orang Farisi dan Saduki datang untuk dibaptis, ia menegur mereka dengan keras: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?” Ia menuntut agar mereka menghasilkan “buah yang sesuai dengan pertobatan.”

Yohanes memperingatkan agar jangan mengandalkan keturunan Abraham sebagai jaminan keselamatan. “Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini,” katanya. Kapak sudah terletak pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Ini menunjukkan bahwa pertobatan harus nyata, bukan sekadar ritual.

Kedatangan Mesias yang Lebih Besar (Matius 3:11–12)

Yohanes membedakan baptisannya dengan baptisan Mesias yang akan datang: “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa daripadaku. Aku tidak layak melepas kasut-Nya. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”

Baptisan Roh Kudus menunjuk pada pekerjaan pembersihan dan pemberdayaan yang lebih dalam, sementara “api” melambangkan penghakiman. Yohanes menggunakan kiasan tentang pengirikan: Mesias akan membersihkan lantai pengirikan, mengumpulkan gandum ke dalam lumbung, tetapi membakar sekam dengan api yang tidak terpadamkan. Ini menegaskan bahwa kedatangan Yesus membawa pemisahan antara orang yang bertobat dan yang tidak.

Baptisan Yesus (Matius 3:13–15)

Yesus datang dari Galilea ke sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes. Yohanes menolak, merasa tidak layak, dan berkata: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Namun Yesus menjawab: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kebenaran.”

Yesus tidak perlu bertobat karena Ia tidak berdosa. Baptisan-Nya adalah tindakan identifikasi dengan umat manusia berdosa dan persetujuan terhadap jalan Allah. Ini adalah momen penggenapan misi ilahi—Yesus memulai pelayanan-Nya dengan merendahkan diri dan menaati kehendak Bapa.

Pernyataan Allah dan Kedatangan Roh Kudus (Matius 3:16–17)

Segera setelah Yesus dibaptis dan keluar dari air, langit terbuka dan Roh Allah turun seperti burung merpati ke atas-Nya. Kemudian terdengar suara dari surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Ini adalah pernyataan Trinitas yang jelas: Bapa bersuara, Roh turun, dan Putra dibaptis. Suara itu menggemakan Mazmur 2:7 (“Anak-Ku”) dan Yesaya 42:1 (“yang Kukasihi, yang berkenan kepada-Ku”). Ini menegaskan bahwa Yesus bukan sekadar nabi atau guru, tetapi Anak Allah yang diurapi untuk memulai pekerjaan keselamatan. Baptisan Yesus menjadi titik awal resmi pelayanan publik-Nya.

Kesimpulan: Persiapan dan Pengurapan

Matius 3 menekankan bahwa kedatangan Kerajaan Sorga membutuhkan persiapan hati melalui pertobatan. Yohanes Pembaptis adalah perintis yang setia, sedangkan Yesus adalah tokoh utama yang diurapi oleh Roh dan dinyatakan oleh Bapa. Pasal ini mengajarkan bahwa pelayanan Yesus dimulai dengan kerendahan hati, ketaatan, dan pengakuan ilahi, yang menjadi dasar bagi seluruh karya-Nya di bumi.

PASAL 4

Pendahuluan: Pencobaan dan Awal Pelayanan di Galilea

Matius pasal 4 mencatat dua peristiwa penting: pencobaan Yesus di padang gurun dan awal pelayanan-Nya di Galilea. Pasal ini menunjukkan bahwa Yesus, sebagai Mesias, menghadapi ujian yang sama seperti Israel di padang gurun, tetapi Ia menang. Setelah itu, Ia memulai pemberitaan Kerajaan Sorga dan memanggil murid-murid pertama.

Pencobaan di Padang Gurun (Matius 4:1–11)

Setelah dibaptis, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis. Ia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, lalu lapar. Iblis datang dan mencobai-Nya dengan tiga godaan yang berhubungan dengan identitas dan misi-Nya.

Godaan pertama: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah batu-batu ini menjadi roti.” Yesus menjawab dengan Ulangan 8:3: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Ia menolak menggunakan kuasa-Nya untuk memenuhi kebutuhan pribadi di luar kehendak Bapa.

Godaan kedua: Iblis membawa-Nya ke puncak Bait Suci dan berkata, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah,” dengan mengutip Mazmur 91:11–12 tentang perlindungan malaikat. Yesus menjawab dengan Ulangan 6:16: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu.” Ia tidak akan meminta tanda spektakuler untuk membuktikan kuasa-Nya.

Godaan ketiga: Iblis menunjukkan semua kerajaan dunia dan kemegahannya, lalu berkata, “Semua ini akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Yesus menjawab dengan Ulangan 6:13: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Iblis pergi, dan malaikat datang melayani Yesus. Kemenangan ini menegaskan bahwa Yesus taat sepenuhnya kepada Bapa.

Yesus Kembali ke Galilea dan Mulai Berkhotbah (Matius 4:12–17)

Setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus kembali ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan tinggal di Kapernaum, sebuah kota di tepi Danau Galilea, di wilayah Zebulon dan Naftali. Matius melihat ini sebagai penggenapan nubuat Yesaya 9:1–2: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, seberang sungai Yordan, Galilea daerah bangsa-bangsa lain—bangsa yang duduk dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar.”

Sejak saat itu, Yesus mulai memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Pesan ini sama dengan Yohanes Pembaptis, tetapi Yesus adalah Raja yang memulai pemerintahan-Nya melalui firman dan perbuatan. Pelayanan di Galilea menjadi pusat dari sebagian besar karya Yesus.

Memanggil Murid-murid Pertama (Matius 4:18–22)

Saat berjalan di tepi Danau Galilea, Yesus melihat dua bersaudara: Simon yang disebut Petrus dan Andreas, yang sedang menebarkan jala di danau. Ia berkata, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka segera meninggalkan jala dan mengikuti Dia.

Kemudian Ia melihat dua bersaudara lain: Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes, bersama ayah mereka di perahu, sedang membereskan jala. Yesus memanggil mereka, dan mereka segera meninggalkan perahu dan ayah mereka, lalu mengikuti Dia. Respons langsung ini menunjukkan otoritas Yesus dan kesiapan hati para murid untuk meninggalkan segalanya demi Kerajaan Allah.

Pelayanan Pengajaran, Pemberitaan, dan Penyembuhan (Matius 4:23–25)

Yesus berkeliling ke seluruh Galilea, mengajar di rumah-rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan, dan menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Berita tentang Dia tersebar ke seluruh Siria, dan orang-orang membawa kepada-Nya semua orang yang menderita berbagai penyakit dan penderitaan: orang-orang yang dirasuk setan, sakit ayan, dan lumpuh. Ia menyembuhkan mereka semua.

Kemasyhuran Yesus menarik banyak orang dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea, dan dari seberang sungai Yordan. Ini menandai awal dari gerakan besar yang melampaui batas-batas etnis dan geografis, menunjukkan bahwa Kerajaan Sorga terbuka bagi semua orang.

Kesimpulan: Ketaatan, Panggilan, dan Kuasa

Matius 4 mengajarkan bahwa Yesus adalah Mesias yang taat, menang atas pencobaan dengan firman Allah. Pelayanan-Nya dimulai dengan panggilan yang sederhana namun penuh otoritas, dan disertai dengan kuasa penyembuhan yang menandakan kedatangan Kerajaan. Pasal ini menjadi fondasi bagi seluruh pelayanan Yesus yang akan diuraikan dalam pasal-pasal berikutnya.

PASAL 5

Pendahuluan: Khotbah di Bukit dan Ucapan Bahagia

Matius pasal 5 memulai Khotbah di Bukit, yang merupakan khotbah paling terkenal dari Yesus. Pasal ini berisi Ucapan Bahagia (Beatitudes) dan ajaran tentang garam dan terang, serta penegasan bahwa Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat, bukan menghapuskannya. Yesus mengajar dengan otoritas ilahi, membalikkan nilai-nilai dunia dan memperdalam tuntutan moral orang percaya.

Ucapan Bahagia (Matius 5:3–12)

Yesus memulai dengan delapan pernyataan “Berbahagialah” yang menggambarkan karakter warga Kerajaan Sorga. Setiap ucapan berisi janji penghiburan dan berkat bagi mereka yang hidup dalam kerendahan hati dan kesetiaan kepada Allah.

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Ini bukan kemiskinan materi, tetapi pengakuan akan ketergantungan total pada Allah. “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Dukacita karena dosa dan penderitaan dunia akan diganti dengan penghiburan ilahi.

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Kelembutan bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang terkendali. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Kerinduan yang mendalam untuk keadilan dan kekudusan Allah akan digenapi.

“Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan menerima kemurahan.” “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Hati yang murni adalah hati yang tidak terbagi dan setia. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

“Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Dan “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan difitnah.” Penderitaan karena Kristus adalah tanda partisipasi dalam Kerajaan dan mendatangkan upah besar di sorga.

Garam dan Terang Dunia (Matius 5:13–16)

Yesus memanggil murid-murid-Nya sebagai “garam dunia.” Garam memberi rasa dan mencegah kebusukan, tetapi jika garam menjadi tawar, ia tidak berguna dan dibuang. Demikian pula, orang percaya harus mempengaruhi dunia dengan kasih dan kebenaran, tetapi jika kehilangan komitmen kepada Allah, mereka kehilangan fungsi mereka.

Yesus juga menyebut mereka “terang dunia.” Sebuah kota di atas bukit tidak dapat tersembunyi; pelita tidak diletakkan di bawah gantang, tetapi di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di rumah. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga.” Ini menekankan bahwa kesaksian hidup nyata lebih penting daripada pengakuan verbal saja.

Yesus Menggenapi Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi (Matius 5:17–20)

Yesus menegaskan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Ia tidak membatalkan Perjanjian Lama, tetapi menggenapi semua tuntutan dan nubuatannya. Seluruh hukum dan nabi bergantung pada-Nya.

Ia menambahkan bahwa selama langit dan bumi belum lenyap, satu pun huruf atau tanda terkecil dari hukum tidak akan ditiadakan. Karena itu, siapa yang melanggar salah satu perintah terkecil dan mengajar orang demikian akan disebut terkecil di dalam Kerajaan Sorga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya akan disebut besar. Yesus menuntut kebenaran yang melampaui kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang Farisi—yaitu kebenaran yang berasal dari iman dan hati yang diperbarui.

Ajaran tentang Pembunuhan dan Kemarahan (Matius 5:21–26)

Yesus memperdalam hukum Taurat dengan berkata: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyangmu: Jangan membunuh; … tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.” Kemarahan tanpa alasan sudah setara dengan pembunuhan di hadapan Allah. Begitu pula menghina saudara dengan sebutan “Raka” atau “Engkau bodoh” akan membawa penghakiman.

Karena itu, jika membawa persembahan ke mezbah dan teringat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan saudara, tinggalkan persembahan itu, berdamai dulu dengan saudara, lalu kembali mempersembahkan. Yesus juga menekankan pentingnya menyelesaikan sengketa dengan cepat, sebelum berhadapan dengan hakim, agar tidak berakhir di penjara. Ini mengajarkan bahwa hubungan vertikal dengan Allah terkait erat dengan hubungan horizontal dengan sesama.

Ajaran tentang Perzinahan dan Perceraian (Matius 5:27–32)

Yesus melanjutkan: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata: Setiap orang yang memandang perempuan dengan menginginkannya sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Dosa dimulai dari hati, bukan hanya tindakan lahiriah. Karena itu, jika mata atau tangan menjadi batu sandungan, lebih baik mematikannya daripada seluruh tubuh masuk neraka—ini adalah bahasa hiperbolik untuk menekankan keseriusan dosa.

Mengenai perceraian, Yesus mengajarkan bahwa siapa yang menceraikan istrinya, kecuali karena perzinahan, menyebabkan istri berbuat zinah, dan siapa yang menikah dengan perempuan yang diceraikan juga berbuat zinah. Ini melindungi kesucian pernikahan dan menolak perceraian sembarangan yang umum pada zaman itu.

Ajaran tentang Sumpah dan Kejujuran (Matius 5:33–37)

Yesus mengajar agar tidak bersumpah sama sekali, baik demi langit, bumi, Yerusalem, atau kepala sendiri, karena semua itu milik Allah. “Janganlah sekali-kali kamu bersumpah, melainkan hendaklah perkataanmu: ya, jika ya; tidak, jika tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Kejujuran yang sederhana dan dapat dipercaya adalah standar Kerajaan, tanpa perlu sumpah tambahan untuk meyakinkan.

Ajaran tentang Pembalasan dan Kasih kepada Musuh (Matius 5:38–48)

Yesus menggantikan hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi” dengan prinsip tidak melawan orang yang berbuat jahat. “Jika seseorang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu; jika ia ingin menggugat dan mengambil kemejamu, serahkanlah juga jubahmu.” Ini bukan pasifisme, tetapi ketidakbergantungan pada keadilan diri sendiri dan kesiapan untuk menderita demi kasih.

Lebih lanjut, Ia memerintahkan untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya, supaya menjadi anak-anak Bapa di sorga yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan baik, dan menurunkan hujan bagi orang benar dan tidak benar. Jika hanya mengasihi orang yang mengasihi, tidak ada keistimewaan; bahkan pemungut cukai pun berbuat demikian. Karena itu, “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Kesempurnaan di sini berarti kasih yang menyeluruh tanpa syarat.

Kesimpulan: Hidup dalam Kebenaran Kerajaan

Matius 5 menetapkan standar moral dan rohani yang tinggi bagi warga Kerajaan Sorga. Ajaran Yesus bukanlah peraturan baru yang berat, tetapi pembentukan karakter yang radikal: rendah hati, murni hati, pembawa damai, dan pengasih. Semua ini berakar pada pengenalan akan Allah sebagai Bapa dan respons iman yang menghasilkan perbuatan nyata.

PASAL 6

Pendahuluan: Ibadah yang Tulus dan Kepercayaan kepada Bapa

Matius pasal 6 melanjutkan Khotbah di Bukit dengan fokus pada praktik ibadah yang benar dan sikap hati terhadap harta benda. Yesus mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah tidak boleh dilakukan untuk dilihat orang, tetapi sebagai ungkapan iman yang tulus kepada Bapa yang melihat secara tersembunyi. Pasal ini juga berisi Doa Bapa Kami dan peringatan tentang kekhawatiran akan kebutuhan hidup.

Memberi Sedekah dengan Tersembunyi (Matius 6:1–4)

Yesus memperingatkan agar tidak melakukan kewajiban agama di hadapan orang dengan maksud dilihat mereka. Jika demikian, kita tidak mendapat upah dari Bapa di sorga. Ketika memberi sedekah, jangan membuat pengumuman seperti orang munafik yang bersukacita di rumah-ibadat dan di jalan. Sebaliknya, berilah secara tersembunyi, sehingga tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya dengan terang.

Berdoa dengan Hati yang Sederhana (Matius 6:5–15)

Yesus mengajarkan agar jangan berdoa seperti orang munafik yang suka berdiri di rumah-ibadat dan di sudut-sudut jalan untuk dilihat orang. Berdoalah dalam kamar tertutup, kepada Bapa yang melihat secara tersembunyi. Juga jangan mengulangi kata-kata yang hampa seperti orang yang tidak mengenal Allah, karena Bapa tahu apa yang kita perlukan sebelum kita meminta.

Kemudian Yesus memberikan contoh Doa Bapa Kami: “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Doa ini menekankan pemuliaan Allah, penyerahan diri, permohonan kebutuhan jasmani dan rohani, serta pengampunan timbal balik. Yesus menegaskan bahwa jika kita mengampuni orang lain, Bapa juga akan mengampuni kita; tetapi jika tidak, Bapa tidak akan mengampuni kita.

Berpuasa dengan Sikap yang Benar (Matius 6:16–18)

Yesus mengajar tentang puasa: jangan bermuka muram seperti orang munafik yang membuat wajah kusut supaya orang tahu bahwa mereka berpuasa. Sebaliknya, ketika berpuasa, minyakilah kepala dan basuhlah mukamu, supaya puasamu tidak diketahui orang, tetapi hanya oleh Bapa yang melihat secara tersembunyi. Bapa akan membalasnya dengan terang.

Harta di Sorga dan Mata sebagai Pelita Tubuh (Matius 6:19–23)

Yesus memerintahkan: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di mana ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga, di mana ngengat dan karat tidak merusak dan pencuri tidak membongkar serta mencuri. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Ia juga mengibaratkan mata sebagai pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Jika terang yang ada padamu adalah kegelapan, betapa besarnya kegelapan itu! Ini menekankan pentingnya fokus rohani yang murni terhadap Allah, bukan terhadap hal-hal duniawi.

Tidak Dapat Mengabdi kepada Dua Tuan (Matius 6:24)

Yesus menyatakan dengan tegas: “Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena ia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang satu dan tidak peduli kepada yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Mamon adalah kekayaan atau materi yang dijadikan tuhan. Pilihan ini bersifat eksklusif: Allah atau harta, tidak bisa dua-duanya.

Jangan Khawatir tentang Kebutuhan Hidup (Matius 6:25–34)

Yesus mengajar agar jangan khawatir tentang hidup: apa yang akan dimakan atau diminum, atau tentang tubuh dan pakaian. Bukankah hidup lebih penting daripada makanan, dan tubuh daripada pakaian? Lihatlah burung-burung di udara: mereka tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan dalam lumbung, tetapi Bapa di sorga memberi mereka makan. Apakah kamu tidak lebih berharga daripada mereka?

Ia juga meminta perhatikan bunga bakung di padang: mereka tidak bekerja dan tidak menenun, tetapi Salomo dengan segala kemegahannya tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jika Allah memberi pakaian demikian kepada rumput di padang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, Ia terlebih lagi akan memberi pakaian kepada kita, hai orang yang kurang percaya!

Karena itu, jangan khawatir dengan berkata, “Apa yang akan kami makan?” atau “Apa yang akan kami minum?” atau “Apa yang akan kami pakai?” Semua itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Bapa di sorga tahu bahwa kita memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah khawatir tentang hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Cukuplah bagi hari itu kesusahannya sendiri.

Kesimpulan: Prioritas dan Kepercayaan kepada Bapa

Matius 6 mengajarkan bahwa ibadah sejati lahir dari hati yang tulus, bukan dari pujian manusia. Memberi, berdoa, dan berpuasa harus dilakukan untuk Allah, bukan untuk dilihat orang. Selain itu, orang percaya tidak boleh terikat pada harta duniawi atau diliputi kekhawatiran, karena Bapa di sorga mengetahui kebutuhan kita dan sanggup memelihara kita. Prioritas utama adalah Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan semua yang lain akan disediakan menurut kehendak-Nya.

PASAL 7

Pendahuluan: Penutup Khotbah di Bukit

Matius pasal 7 merupakan bagian penutup dari Khotbah di Bukit. Pasal ini berisi ajaran tentang penghakiman yang bijaksana, kesungguhan dalam berdoa, jalan yang sempit, buah sebagai tanda pengenal, dan peringatan tentang dasar kehidupan. Yesus menutup khotbah-Nya dengan teguran terhadap kemunafikan dan seruan untuk membangun hidup di atas batu karang, yaitu firman-Nya.

Jangan Menghakimi dengan Sembarangan (Matius 7:1–6)

Yesus berkata: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi; dan dengan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, kamu akan diukur.” Ini bukan larangan untuk menilai kebenaran secara objektif, tetapi peringatan terhadap sikap menghakimi yang sombong dan munafik. Orang percaya harus melihat balok di mata sendiri sebelum mencoba menghilangkan selumbar di mata saudara.

Yesus juga mengingatkan untuk tidak memberikan barang kudus kepada anjing dan tidak melemparkan mutiaramu kepada babi, karena mereka akan menginjak-injaknya dan menyerangmu. Ini berarti ada saatnya kita harus membedakan kepada siapa kita menyampaikan kebenaran, terutama kepada mereka yang terus-menerus menolak dengan keras.

Minta, Cari, dan Ketuk (Matius 7:7–11)

Yesus mendorong murid-murid untuk berdoa dengan tekun: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima; dan yang mencari, mendapat; dan yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.”

Ia menggambarkan dengan perumpamaan: siapa di antara kamu yang memberi batu kepada anak yang meminta roti, atau ular kepada anak yang meminta ikan? Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu di sorga yang akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Ini adalah jaminan bahwa Allah mendengar dan menjawab doa dengan penuh kasih.

Hukum Emas (Matius 7:12)

Yesus merangkum seluruh ajaran moral Perjanjian Lama dengan satu prinsip: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Inilah yang disebut “Hukum Emas”—sebuah ukuran kasih aktif yang menjadi dasar semua hubungan antar manusia.

Jalan yang Sempit dan Dua Macam Pintu (Matius 7:13–14)

Yesus memperingatkan: “Masuklah melalui pintu yang sesak, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya. Tetapi sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Ini menekankan bahwa mengikut Kristus bukanlah pilihan yang populer atau mudah. Dibutuhkan komitmen serius dan pengorbanan, tetapi hasilnya adalah kehidupan kekal.

Nabi-nabi Palsu dan Buah Mereka (Matius 7:15–20)

Yesus mengingatkan agar waspada terhadap nabi-nabi palsu yang datang dengan menyamar seperti domba, tetapi batinnya adalah serigala yang buas. Mereka dikenali dari buahnya: apakah buah anggur dapat dipetik dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikian setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Pohon yang tidak menghasilkan buah baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Dari buahnyalah, mereka dikenal.

Bukan Sekadar Kata-kata, tetapi Perbuatan (Matius 7:21–23)

Yesus menegaskan bahwa tidak semua orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa di sorga. Pada hari penghakiman, banyak orang akan berkata: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu?” Tetapi Yesus akan menjawab: “Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Ini menunjukkan bahwa hubungan pribadi dengan Kristus dan ketaatan yang sungguh-sungguh lebih penting daripada aktivitas rohani yang spektakuler.

Dua Macam Dasar: Batu Karang dan Pasir (Matius 7:24–27)

Yesus mengakhiri khotbah-Nya dengan perumpamaan tentang dua orang pembangun. Setiap orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya adalah seperti orang bijak yang membangun rumah di atas batu karang. Ketika hujan turun, banjir datang, dan angin melanda, rumah itu tidak rubuh karena didirikan di atas batu karang. Sebaliknya, orang yang mendengar perkataan-Nya tetapi tidak melakukannya adalah seperti orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir. Ketika badai datang, rumah itu rubuh dengan hebat.

Otoritas Yesus dan Reaksi Orang Banyak (Matius 7:28–29)

Setelah Yesus mengakhiri khotbah-Nya, orang banyak takjub akan pengajaran-Nya, karena Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Yesus tidak merujuk pada tradisi rabi, tetapi berbicara dengan wewenang ilahi langsung. Hal ini meninggalkan kesan yang mendalam dan menjadi dasar bagi otoritas pengajaran-Nya dalam seluruh Injil.

Kesimpulan: Hidup yang Dibangun di atas Firman

Matius 7 menutup Khotbah di Bukit dengan panggilan untuk hidup yang konsisten dan bertanggung jawab. Jangan menghakimi, berdoalah dengan percaya, pilih jalan yang sempit, waspadalah terhadap nabi palsu, dan yang terpenting, lakukanlah firman Tuhan. Hanya dengan mendengar dan melakukan ajaran Yesus, hidup kita akan memiliki dasar yang kokoh, mampu bertahan dalam segala badai kehidupan.

PASAL 8

Pendahuluan: Mujizat sebagai Tanda Kuasa Kerajaan

Matius pasal 8 memulai rangkaian mujizat Yesus yang menunjukkan otoritas-Nya atas penyakit, alam, dan roh-roh jahat. Pasal ini mencatat penyembuhan orang kusta, perwira di Kapernaum, ibu mertua Petrus, dan banyak orang lain, serta kuasa-Nya atas angin dan laut. Mujizat-mujizat ini bukan sekadar perbuatan ajaib, tetapi tanda bahwa Kerajaan Sorga telah datang dan Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.

Penyembuhan Orang Kusta (Matius 8:1–4)

Ketika Yesus turun dari bukit, banyak orang mengikuti Dia. Seorang kusta datang dan sujud menyembah-Nya, berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Yesus mengulurkan tangan, menjamahnya, dan berkata: “Aku mau, jadilah tahir.” Seketika itu juga penyakit kusta hilang. Yesus memerintahkan dia untuk jangan mengatakan kepada siapa pun, tetapi pergi mempersembahkan diri kepada imam dan mempersembahkan persembahan yang diperintahkan Musa sebagai kesaksian. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak melanggar hukum Taurat, tetapi menggenapinya, dan penyembuhan ini adalah tanda kemurahan Allah.

Iman Perwira di Kapernaum (Matius 8:5–13)

Yesus masuk ke Kapernaum dan seorang perwira Romawi datang meminta tolong: “Tuan, hambaku terbaring lumpuh dan menderita kesakitan.” Yesus menawarkan untuk datang dan menyembuhkannya, tetapi perwira itu menjawab: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh. Karena aku sendiri adalah orang di bawah wewenang, dan aku memiliki prajurit di bawahku; jika aku berkata kepada yang satu: Pergi, maka ia pergi, dan kepada yang lain: Datang, maka ia datang.”

Yesus heran mendengar iman yang begitu besar dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada siapapun di antara orang Israel.” Ia menambahkan bahwa banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk bersama Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak kerajaan akan dilemparkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah, dan jadilah seperti yang engkau percaya.” Dan pada saat itu hambanya sembuh.

Menyembuhkan Ibu Mertua Petrus dan Banyak Orang Sakit (Matius 8:14–17)

Yesus masuk ke rumah Petrus dan melihat ibu mertua Petrus terbaring demam. Ia menjamah tangannya, dan demam pun hilang; perempuan itu bangun dan melayani Dia. Menjelang malam, banyak orang yang dirasuk setan dibawa kepada-Nya, dan Ia mengusir roh-roh itu dengan firman, serta menyembuhkan semua orang yang sakit. Matius melihat ini sebagai penggenapan nubuat Yesaya 53:4: “Dialah yang mengambil kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Hamba yang menderita yang memikul beban umat manusia.

Mengikut Yesus dengan Siap Sedia (Matius 8:18–22)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi Dia, Ia memerintahkan murid-murid untuk bertolak ke seberang danau. Seorang ahli Taurat datang dan berkata: “Guru, aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi.” Yesus menjawab: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Ini mengajarkan bahwa mengikut Yesus tidak menjanjikan kenyamanan duniawi.

Murid lain berkata: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Yesus menjawab: “Ikutlah Aku, dan biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Ini adalah panggilan untuk prioritas mutlak atas Kerajaan Allah, bahkan melebihi kewajiban keluarga yang paling sakral sekalipun. Mengikut Kristus membutuhkan kesediaan untuk melepaskan segala sesuatu.

Meredakan Angin Ribut (Matius 8:23–27)

Yesus naik ke perahu dan murid-murid mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong datanglah badai besar di danau, sehingga gelombang menutupi perahu, tetapi Yesus sedang tidur. Murid-murid datang dan membangunkan Dia: “Tuhan, tolonglah, kita binasa!” Yesus berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, hai orang yang kurang percaya?” Lalu Ia bangkit dan menghardik angin dan danau, dan sekonyong-konyong menjadi tenang.

Orang-orang heran dan berkata: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” Mujizat ini menunjukkan kuasa Yesus atas alam semesta, yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Ini memperkuat identitas-Nya sebagai Anak Allah dan penguasa atas ciptaan.

Mengusir Setan di Daerah Gadara (Matius 8:28–34)

Yesus tiba di seberang danau, di daerah Gadara. Dua orang yang dirasuk setan keluar dari kuburan dan menemui-Nya. Mereka sangat keras, sehingga tidak ada orang yang berani lewat di jalan itu. Mereka berteriak: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau datang ke sini untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

Tidak jauh dari sana ada sekawanan babi yang sedang makan. Setan-setan meminta: “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pergi ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata: “Pergilah!” Maka keluarlah setan-setan itu dan masuk ke dalam babi-babi, dan seluruh kawanan itu menceburkan diri dari tepi jurang ke dalam danau dan mati. Para penjaga melarikan diri dan menceritakan hal itu di kota. Seluruh kota keluar menemui Yesus, tetapi mereka memohon agar Ia pergi dari daerah mereka. Ini menunjukkan penolakan terhadap Yesus, sekaligus kuasa-Nya atas roh-roh jahat yang mutlak.

Kesimpulan: Kuasa dan Penolakan

Matius 8 mendemonstrasikan otoritas Yesus yang menyeluruh: atas penyakit, alam, dosa, dan kuasa kegelapan. Mujizat-mujizat ini adalah bukti kehadiran Kerajaan Sorga. Namun, pasal ini juga mencatat dua jenis respons: iman yang besar (perwira) dan penolakan (orang Gadara). Ini mengingatkan bahwa melihat kuasa Yesus tidak otomatis menghasilkan iman; yang dibutuhkan adalah hati yang merespons dengan percaya dan taat.

PASAL 9

Pendahuluan: Kuasa Mengampuni dan Menyembuhkan

Matius pasal 9 melanjutkan rangkaian mujizat Yesus dengan penekanan pada otoritas-Nya untuk mengampuni dosa. Pasal ini mencatat penyembuhan orang lumpuh, panggilan Matius, pertanyaan tentang puasa, kebangkitan anak perempuan kepala rumah ibadat, penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan, dua orang buta, dan orang bisu yang kerasukan setan. Mujizat-mujizat ini menunjukkan bahwa Yesus datang untuk membawa keselamatan dan pemulihan secara utuh.

Penyembuhan Orang Lumpuh dan Pengampunan Dosa (Matius 9:1–8)

Yesus naik ke perahu dan kembali ke kota-Nya sendiri (Kapernaum). Beberapa orang membawa seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidur. Ketika Yesus melihat iman mereka, Ia berkata kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Ahli-ahli Taurat menganggap ini sebagai penghujatan, karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa.

Yesus mengetahui pikiran mereka dan berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa Anak Manusia berkuasa di bumi untuk mengampuni dosa.” Lalu Ia berkata kepada orang lumpuh itu: “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun dan pulang. Orang banyak takut dan memuliakan Allah yang memberikan kuasa demikian kepada manusia.

Panggilan Matius dan Perjamuan dengan Orang Berdosa (Matius 9:9–13)

Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pungutan cukai, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Matius bangkit dan mengikuti Dia. Kemudian Yesus makan bersama orang-orang berdosa dan pemungut cukai di rumah Matius. Orang Farisi bertanya kepada murid-murid: “Mengapa guru kalian makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus mendengar dan menjawab: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Ini menegaskan bahwa misi Yesus adalah menjangkau mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka.

Pertanyaan tentang Puasa (Matius 9:14–17)

Murid-murid Yohanes Pembaptis datang dan bertanya: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Yesus menjawab dengan perumpamaan: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berkabung selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia melanjutkan dengan perumpamaan kain baru pada jubah tua dan anggur baru dalam kantong kulit tua. “Tidak seorang pun menambalkan jubah tua dengan kain baru, karena tambalan itu akan mencabik jubah itu. Dan anggur baru tidak ditaruh dalam kantong kulit tua, karena kantong itu akan pecah. Anggur baru harus ditaruh dalam kantong kulit baru.” Ini mengajarkan bahwa ajaran Yesus membawa pembaruan yang tidak bisa diikat dengan bentuk-bentuk lama yang kaku.

Kebangkitan Anak Perempuan Yairus dan Penyembuhan Perempuan Sakit Pendarahan (Matius 9:18–26)

Ketika Yesus berbicara, seorang kepala rumah ibadat bernama Yairus datang dan menyembah Dia, berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkan tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Yesus bangkit dan mengikutinya, bersama murid-murid.

Di tengah jalan, seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan mendekat dari belakang dan menjamah ujung jubah Yesus. Ia berpikir: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Yesus berpaling dan berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Dan perempuan itu sembuh pada saat itu juga.

Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat, melihat peniup seruling dan orang banyak ribut, lalu berkata: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak diusir, Yesus masuk, memegang tangan anak itu, dan bangkitlah ia. Berita ini tersebar ke seluruh daerah.

Menyembuhkan Dua Orang Buta (Matius 9:27–31)

Yesus pergi dari sana dan dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Yesus masuk ke dalam rumah, dan orang buta itu datang kepada-Nya. Ia bertanya: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya, Tuhan.” Lalu Ia menjamah mata mereka dan berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka terbukalah mata mereka. Yesus memperingatkan mereka dengan keras agar jangan memberi tahu siapa pun, tetapi mereka pergi dan memasyhurkan Dia di seluruh daerah.

Menyembuhkan Orang Bisu yang Kerasukan Setan (Matius 9:32–34)

Ketika mereka keluar, seorang bisu yang kerasukan setan dibawa kepada Yesus. Setan diusir, dan orang bisu itu dapat berbicara. Orang banyak heran dan berkata: “Hal yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” Ini adalah tuduhan yang akan muncul kembali dan menjadi puncak penolakan terhadap Yesus.

Belas Kasihan Yesus dan Seruan untuk Menuai (Matius 9:35–38)

Yesus berkeliling ke semua kota dan desa, mengajar di rumah-rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan, dan menyembuhkan setiap penyakit dan kelemahan. Ketika melihat orang banyak, Ia tergerak oleh belas kasihan, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Yesus berkata kepada murid-murid: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Ini adalah seruan untuk berdoa bagi panggilan pelayanan, sekaligus pengenalan bahwa pekerjaan Kerajaan membutuhkan lebih banyak orang yang rela melayani.

Kesimpulan: Kuasa, Pengampunan, dan Belas Kasihan

Matius 9 mengungkapkan Yesus sebagai Tabib yang penuh kuasa dan belas kasihan. Ia mengampuni dosa, menyembuhkan penyakit, membangkitkan orang mati, dan memanggil orang berdosa. Pasal ini juga menunjukkan perlawanan dari orang Farisi dan kebutuhan akan pekerja tuaian. Yesus datang untuk memulihkan manusia secara utuh, dan Ia mengajak murid-murid untuk ikut serta dalam misi-Nya.

PASAL 10

Pendahuluan: Pengutusan Dua Belas Rasul

Matius pasal 10 berisi pengutusan keduabelas rasul oleh Yesus untuk melaksanakan misi pemberitaan dan penyembuhan. Pasal ini merupakan instruksi lengkap tentang pelayanan mereka, mulai dari tujuan, sikap, perbekalan, hingga tantangan yang akan dihadapi. Yesus juga memberikan peringatan tentang penganiayaan dan janji perlindungan Allah. Pasal ini menjadi landasan bagi pemahaman tentang panggilan dan tanggung jawab dalam pelayanan Kerajaan.

Daftar Keduabelas Rasul (Matius 10:1–4)

Yesus memanggil keduabelas murid-Nya dan memberikan kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan segala penyakit. Nama-nama mereka adalah: Simon (disebut Petrus) dan Andreas saudaranya; Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya; Filipus dan Bartolomeus; Tomas dan Matius pemungut cukai; Yakobus anak Alfeus dan Tadeus; Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot yang kemudian mengkhianati Dia. Daftar ini menunjukkan variasi latar belakang, tetapi semua dipersatukan dalam panggilan untuk mengikut Kristus.

Misi Pertama: Kepada Domba-domba Israel (Matius 10:5–8)

Yesus menginstruksikan mereka: “Janganlah kamu pergi ke daerah bangsa-bangsa lain, dan janganlah masuk ke kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari kaum Israel.” Ini adalah misi awal yang terbatas pada orang Israel, karena Yesus datang terutama untuk “domba-domba yang hilang dari kaum Israel.” Mereka harus memberitakan: “Kerajaan Sorga sudah dekat,” menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, dan mengusir setan. Semua ini diberikan dengan cuma-cuma, karena mereka telah menerimanya dengan cuma-cuma.

Bekal dalam Perjalanan (Matius 10:9–15)

Yesus memberi perintah tentang perbekalan: jangan membawa emas, perak, uang tembaga dalam ikat pinggang; jangan membawa bekal perjalanan, jubah dua helai, atau tongkat. Sebab seorang pekerja layak mendapat upahnya. Mereka harus mencari orang yang layak di setiap kota dan tinggal di situ sampai mereka berangkat. Jika sebuah rumah layak diterima, berkat damai akan turun; jika tidak, damai itu kembali kepada mereka. Jika suatu kota tidak menerima mereka, mereka harus mengibaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan; pada hari penghakiman, kota Sodom dan Gomora akan lebih ringan hukumannya daripada kota itu.

Penganiayaan yang Akan Datang (Matius 10:16–25)

Yesus memperingatkan: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala; karena itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Mereka akan diseret ke hadapan pengadilan dan disesah di rumah-ibadat, dan akan dihadapkan kepada gubernur dan raja sebagai kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa. Namun, ketika itu terjadi, jangan khawatir tentang apa yang harus dikatakan, karena Roh Bapa akan berbicara melalui mereka.

Yang satu akan menyerahkan yang lain kepada kematian; anak-anak akan melawan orang tua dan membunuh mereka. Semua orang akan membenci mereka karena nama Yesus, tetapi siapa yang bertahan sampai akhir akan selamat. Jika mereka menganiaya Yesus, mereka juga akan menganiaya murid-murid-Nya. Karena itu, jangan takut, karena tidak ada sesuatu yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan apa yang didengar dalam kegelapan harus diberitakan di atas rumah.

Takut kepada Allah, Bukan kepada Manusia (Matius 10:26–33)

Yesus mengajar agar jangan takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi tidak dapat membunuh jiwa. Sebaliknya, takutlah kepada Allah yang dapat membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bahkan burung pipit dijual dua ekor satu uang, tetapi tidak seekor pun jatuh ke bumi di luar kehendak Bapa. Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Yesus di depan manusia, ia juga akan diakui di hadapan Bapa di sorga. Tetapi siapa yang menyangkal Dia di depan manusia, ia juga akan disangkal di hadapan Bapa di sorga. Ini adalah panggilan untuk kesetiaan yang tegas dalam pengakuan iman.

Pedang dan Perpecahan (Matius 10:34–39)

Yesus berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Ia datang untuk memisahkan orang, bahkan dalam keluarga: anak melawan bapak, anak perempuan melawan ibu, dan menantu perempuan melawan ibu mertua. “Musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Barangsiapa mengasihi ayah atau ibu lebih daripada Yesus, ia tidak layak bagi-Nya; demikian juga dengan anak, saudara, atau nyawa sendiri. Siapa yang mempertahankan nyawanya akan kehilangan, tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Yesus akan memperolehnya.

Upah bagi Pelayanan (Matius 10:40–42)

Yesus menutup dengan janji upah: “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” Orang yang menerima nabi karena nabi itu akan menerima upah nabi; yang menerima orang benar akan menerima upah orang benar. Bahkan secangkir air dingin yang diberikan kepada salah seorang yang kecil karena ia murid Yesus, ia tidak akan kehilangan upahnya. Ini menunjukkan bahwa pelayanan sekecil apa pun yang dilakukan untuk Kristus akan dihargai oleh Allah.

Kesimpulan: Panggilan untuk Melayani dan Bertahan

Matius 10 mengajarkan bahwa pelayanan dalam Kerajaan Allah adalah panggilan yang penuh tantangan. Para rasul diutus dengan kuasa, tetapi juga dengan keterbatasan dan risiko penganiayaan. Namun, Yesus memberi jaminan perlindungan, bimbingan Roh Kudus, dan upah kekal. Pasal ini menantang setiap murid untuk mengutamakan Kristus di atas segalanya, setia dalam pemberitaan, dan percaya pada pemeliharaan Bapa.

PASAL 11

Pendahuluan: Yohanes Pembaptis dan Penolakan terhadap Yesus

Matius pasal 11 mencatat pertanyaan Yohanes Pembaptis dari penjara, kesaksian Yesus tentang Yohanes, kecaman terhadap kota-kota yang tidak bertobat, dan seruan untuk datang kepada Yesus. Pasal ini menyoroti ketegangan antara pewartaan Kerajaan dan respons manusia yang sering kali menolak atau ragu-ragu. Yesus menegaskan identitas-Nya sebagai Mesias dan mengundang semua orang yang letih lesu untuk menerima kelegaan dari-Nya.

Pertanyaan Yohanes Pembaptis (Matius 11:1–6)

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid, Ia pergi mengajar dan memberitakan Injil di kota-kota mereka. Sementara itu, Yohanes Pembaptis yang dipenjarakan mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu mengirim murid-muridnya untuk bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Yesus menjawab: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak Aku.” Jawaban ini mengacu pada nubuat Yesaya (35:5–6, 61:1) sebagai bukti bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.

Kesaksian Yesus tentang Yohanes (Matius 11:7–19)

Setelah murid-murid Yohanes pergi, Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin? Atau melihat orang yang berpakaian halus? Mereka yang berpakaian halus ada di istana raja. Jadi untuk apa kamu pergi? Melihat nabi? Benar, bahkan lebih dari pada nabi. Inilah orang yang tentangnya ada tertulis: ‘Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, yang akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.'”

Yohanes adalah nabi terbesar yang pernah lahir dari perempuan, tetapi yang terkecil di dalam Kerajaan Sorga lebih besar daripadanya. Sejak zaman Yohanes sampai sekarang, Kerajaan Sorga diserbu dan orang-orang yang menguasainya mencoba merebutnya. Yohanes adalah Elia yang akan datang. Yesus mengecam generasi itu yang tidak merespons: mereka seperti anak-anak yang bermain di pasar, meniup seruling tetapi tidak menari, meratap tetapi tidak menangis. Yohanes datang dengan berpantang, dan mereka berkata: “Ia kerasukan setan.” Anak Manusia datang dengan makan dan minum, dan mereka berkata: “Lihat, Ia pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Namun, hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.

Kecaman terhadap Kota-kota yang Tidak Bertobat (Matius 11:20–24)

Yesus mulai mengecam kota-kota yang paling banyak menerima mujizat-Nya, karena mereka tidak bertobat: “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau, Betsaida! Karena jika mujizat-mujizat yang terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, mereka sudah bertobat dengan memakai kain kabung dan abu. Tetapi Aku berkata kepadamu: pada hari penghakiman, Tirus dan Sidon akan lebih ringan hukumannya daripada kamu.”

Dan engkau Kapernaum, yang ditinggikan sampai ke langit, akan diturunkan sampai ke dunia orang mati. Karena jika mujizat-mujizat yang terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Sodom, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Pada hari penghakiman, tanah Sodom akan lebih ringan hukumannya daripada kamu.” Ini menunjukkan bahwa kesempatan besar membawa tanggung jawab besar; penolakan terhadap terang mendatangkan hukuman yang lebih berat.

Pujian kepada Bapa dan Seruan untuk Datang kepada Yesus (Matius 11:25–30)

Yesus berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena Engkau menyembunyikan hal-hal ini dari orang yang bijak dan pandai, tetapi menyatakannya kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.”

Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Nya oleh Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Kemudian Yesus mengundang: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Ini adalah undangan yang penuh kasih kepada semua yang merasa tertekan oleh dosa dan tuntutan hidup, untuk menemukan penghiburan dan pemulihan dalam persekutuan dengan Kristus.

Kesimpulan: Antara Penolakan dan Keterbukaan

Matius 11 menggambarkan kontras antara penolakan yang keras dari kota-kota yang melihat mujizat dan kerendahan hati orang-orang kecil yang menerima pewahyuan. Yohanes Pembaptis sendiri mengalami keraguan, tetapi Yesus menegaskan perannya yang mulia. Di tengah ketidakpercayaan, Yesus membuka pintu lebar-lebar bagi semua yang mau datang kepada-Nya untuk mendapatkan kelegaan. Pasal ini mengajak kita untuk tidak menjadi keras hati, tetapi merendahkan diri dan menerima undangan kasih dari Sang Mesias.

PASAL 12

Pendahuluan: Konflik dengan Orang Farisi dan Penggenapan Nubuat

Matius pasal 12 mencatat serangkaian konflik antara Yesus dan orang-orang Farisi mengenai hukum Sabat, serta tuduhan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Pasal ini juga memuat peringatan tentang dosa menghujat Roh Kudus, tanda Yunus, dan pernyataan bahwa hubungan sejati dengan Yesus didasarkan pada melakukan kehendak Bapa. Pasal ini semakin mempertegas penolakan dari para pemimpin agama dan pembentukan komunitas murid yang baru.

Konflik tentang Sabat: Memetik Bulir Gandum (Matius 12:1–8)

Pada suatu hari Sabat, Yesus dan murid-murid-Nya berjalan melewati ladang gandum. Murid-murid lapar dan memetik bulir gandum untuk dimakan. Orang Farisi melihat dan berkata: “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”

Yesus menjawab dengan mengingatkan apa yang dilakukan Daud ketika ia dan pengikutnya lapar: mereka masuk ke dalam rumah Allah dan makan roti sajian yang hanya boleh dimakan oleh imam. Ia juga menunjuk pada para imam yang melanggar aturan Sabat di Bait Allah tetapi tidak bersalah. Ia berkata: “Di sini ada yang lebih besar dari pada Bait Allah. Jika kamu tahu arti firman: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, maka kamu tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Sebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Dengan ini, Yesus menegaskan otoritas-Nya atas hukum Sabat dan menekankan belas kasihan di atas ritual.

Konflik tentang Sabat: Penyembuhan Orang yang Mati Tangannya (Matius 12:9–14)

Yesus pergi ke rumah ibadat, dan di sana ada seorang yang mati tangannya. Orang Farisi bertanya kepada-Nya: “Bolehkah menyembuhkan pada hari Sabat?” Mereka bermaksud untuk menuduh-Nya. Yesus menjawab: “Siapakah dari antara kamu yang jika seekor dombanya jatuh ke dalam lubang pada hari Sabat, tidak akan menangkapnya dan mengeluarkannya? Bukankah manusia jauh lebih berharga daripada domba? Karena itu, boleh berbuat baik pada hari Sabat.”

Lalu Yesus berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Ia mengulurkannya, dan tangannya sembuh seperti tangan yang lain. Orang Farisi keluar dan merundingkan bagaimana mereka dapat membunuh Yesus. Ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Yesus semakin memuncak, meskipun Ia melakukan perbuatan baik.

Yesus Hamba yang Lemah Lembut (Matius 12:15–21)

Mengetahui rencana orang Farisi, Yesus pergi dari situ, dan banyak orang mengikuti-Nya. Ia menyembuhkan mereka semua, tetapi melarang mereka untuk memberitahukan siapa Dia. Ini menggenapi nubuat Yesaya 42:1–4: “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh Roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memberitakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan bertengkar dan tidak akan berteriak, dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan keadilan itu menang. Dan pada nama-Nya bangsa-bangsa akan berharap.” Ini menggambarkan Yesus sebagai hamba yang rendah hati, penuh belas kasihan, dan membawa keadilan bagi semua bangsa.

Tuduhan Beelzebul dan Jawaban Yesus (Matius 12:22–37)

Seorang yang kerasukan setan, buta, dan bisu dibawa kepada Yesus. Ia menyembuhkan orang itu sehingga ia dapat berbicara dan melihat. Orang banyak heran dan bertanya: “Mungkinkah Dia ini Anak Daud?” Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.”

Yesus mengetahui pikiran mereka dan berkata: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah akan binasa. Jika Iblis mengusir Iblis, ia terpecah-belah dan kerajaannya tidak akan bertahan. Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapa pengikut-pengikutmu mengusir setan? Sebab itu mereka akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

Ia melanjutkan dengan perumpamaan tentang orang kuat yang dijaga perlengkapannya, tetapi jika ada yang lebih kuat datang mengalahkannya, ia akan merampas perlengkapannya. “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku; siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Yesus juga memperingatkan tentang dosa menghujat Roh Kudus: segala dosa dan penghujatan akan diampuni, tetapi penghujatan terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Ini adalah peringatan serius terhadap penolakan yang sengaja terhadap pekerjaan Roh Kudus yang menyatakan Yesus.

Tanda Yunus dan Peringatan tentang Angkatan Jahat (Matius 12:38–45)

Beberapa ahli Taurat dan Farisi meminta tanda dari Yesus. Ia menjawab: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi tidak akan diberikan kepada mereka tanda, selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan raksasa tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam perut bumi tiga hari tiga malam.”

Yesus menyatakan bahwa orang Niniwe akan bangkit pada hari penghakiman dan menghukum angkatan ini, karena mereka bertobat pada pemberitaan Yunus, dan sekarang ada yang lebih besar dari Yunus. Juga ratu dari Selatan akan bangkit dan menghukum mereka, karena ia datang untuk mendengar hikmat Salomo, dan sekarang ada yang lebih besar dari Salomo. Ia menambahkan perumpamaan tentang roh jahat yang keluar dan kembali dengan tujuh roh lain yang lebih jahat, sehingga keadaan akhir orang itu lebih buruk dari yang semula. Ini menggambarkan bahaya pembersihan moral tanpa pertobatan sejati dan pengisian oleh Roh Allah.

Ibu dan Saudara-saudara Yesus (Matius 12:46–50)

Ketika Yesus berbicara, ibu dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan ingin berbicara dengan-Nya. Ada yang berkata: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, ingin berbicara dengan Engkau.” Yesus menjawab: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu Ia menunjuk ke arah murid-murid-Nya dan berkata: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku.” Ini menegaskan bahwa hubungan rohani berdasarkan ketaatan kepada kehendak Allah lebih utama daripada ikatan darah.

Kesimpulan: Penolakan dan Pembentukan Keluarga Kerajaan

Matius 12 menunjukkan puncak ketegangan antara Yesus dan pemimpin agama. Konflik tentang Sabat, tuduhan Beelzebul, dan permintaan tanda menandakan penolakan yang semakin mengeras. Namun, Yesus tetap membuka jalan bagi siapa pun yang mau melakukan kehendak Bapa, membentuk keluarga rohani yang baru. Pasal ini mengingatkan bahwa otoritas Yesus tidak terbatas, dan respons kita terhadap-Nya menentukan nasib kekal kita.

PASAL 13

Pendahuluan: Perumpamaan tentang Kerajaan Sorga

Matius pasal 13 merupakan kumpulan perumpamaan Yesus yang mengajarkan tentang hakikat Kerajaan Sorga. Yesus menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan kebenaran rohani kepada orang banyak, sementara kepada murid-murid-Nya Ia menjelaskan maknanya secara terperinci. Pasal ini memuat tujuh perumpamaan yang menggambarkan pertumbuhan, nilai, dan pemisahan akhir dalam Kerajaan Allah.

Perumpamaan Penabur (Matius 13:1–9, 18–23)

Yesus duduk di tepi danau, dan orang banyak datang mengelilingi-Nya. Ia naik ke perahu dan mengajar mereka dengan perumpamaan tentang seorang penabur yang pergi menabur benih. Sebagian benih jatuh di pinggir jalan dan dimakan burung; sebagian jatuh di tanah berbatu, tumbuh sebentar tetapi layu karena tidak berakar; sebagian jatuh di tengah semak duri yang menghimpitnya; dan sebagian jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, atau tiga puluh kali lipat.

Murid-murid bertanya mengapa Ia berbicara dalam perumpamaan. Yesus menjawab bahwa kepada mereka diberikan rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada orang banyak tidak. Ia mengutip Yesaya 6:9–10 tentang hati yang keras. Kemudian Ia menjelaskan perumpamaan itu: benih adalah firman Kerajaan. Benih di pinggir jalan adalah orang yang mendengar tetapi tidak memahaminya, sehingga si jahat mencuri firman itu. Benih di tanah berbatu adalah orang yang menerima firman dengan sukacita tetapi tidak berakar, sehingga ketika penganiayaan datang, ia murtad. Benih di tengah semak duri adalah orang yang mendengar firman, tetapi kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu. Benih di tanah baik adalah orang yang mendengar firman, memahaminya, dan menghasilkan buah dengan tekun.

Perumpamaan Lalang di Antara Gandum (Matius 13:24–30, 36–43)

Yesus menceritakan perumpamaan lain: Kerajaan Sorga diumpamakan seperti orang yang menabur benih baik di ladangnya. Pada malam hari, musuhnya menabur lalang di antara gandum. Ketika gandum tumbuh, lalang juga tampak. Para hamba bertanya apakah mereka harus mencabut lalang, tetapi tuan ladang berkata: “Jangan, karena mungkin kamu ikut mencabut gandum. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai musim menuai. Pada waktu itu, aku akan berkata kepada para penuai: kumpulkanlah dahulu lalang dan ikatlah untuk dibakar, tetapi gandum kumpulkanlah ke dalam lumbungku.”

Penjelasan perumpamaan ini diberikan kepada murid-murid: Penabur adalah Anak Manusia, ladang adalah dunia, benih baik adalah anak-anak Kerajaan, lalang adalah anak-anak si jahat, musuh adalah Iblis, musim menuai adalah akhir zaman, dan penuai adalah malaikat. Pada akhir zaman, malaikat akan memisahkan orang jahat dari antara orang benar, dan orang jahat akan dilemparkan ke dalam dapur api, sedangkan orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa.

Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi (Matius 13:31–33)

Yesus memberikan dua perumpamaan singkat tentang pertumbuhan Kerajaan. Perumpamaan biji sesawi: Kerajaan Sorga seperti biji sesawi yang kecil, tetapi ketika tumbuh menjadi pohon yang besar, sehingga burung-burung datang dan bersarang di cabang-cabangnya. Ini menggambarkan permulaan Kerajaan yang kecil namun akhirnya meluas dan memberi perlindungan kepada banyak orang.

Perumpamaan ragi: Kerajaan Sorga seperti ragi yang dicampurkan seorang perempuan ke dalam tiga sukat tepung sampai seluruh adonan mengembang. Ini menunjukkan bahwa pengaruh Kerajaan bekerja secara tersembunyi namun pasti, mengubah seluruh aspek kehidupan dari dalam.

Penjelasan tentang Pemakaian Perumpamaan (Matius 13:34–35)

Matius mencatat bahwa Yesus mengajarkan semua ini dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka. Ini menggenapi nubuat pemazmur: “Aku akan membuka mulut-Ku dalam perumpamaan, Aku akan menceritakan hal-hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mazmur 78:2). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Guru bijaksana yang menyampaikan kebenaran dengan cara yang menantang pendengar untuk merenung dan bertanya.

Perumpamaan Harta Terpendam dan Mutiara yang Sangat Berharga (Matius 13:44–46)

Kerajaan Sorga diumpamakan seperti harta terpendam di ladang yang ditemukan orang; ia menjual segala miliknya dan membeli ladang itu. Dan seperti pedagang yang mencari mutiara indah; setelah menemukan satu mutiara yang sangat berharga, ia menjual semua miliknya dan membeli mutiara itu. Kedua perumpamaan ini menekankan nilai Kerajaan yang sedemikian besar sehingga layak untuk mengorbankan segala sesuatu demi mendapatkannya.

Perumpamaan Pukat (Matius 13:47–50)

Kerajaan Sorga juga diumpamakan seperti pukat yang ditebarkan ke laut dan menangkap berbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat ditarik ke pantai, dan nelayan duduk memilih ikan yang baik ke dalam wadah, sedangkan ikan yang tidak baik dibuang. Demikianlah pada akhir zaman: malaikat akan memisahkan orang jahat dari antara orang benar, dan orang jahat akan dilemparkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.

Perumpamaan tentang Pemilik Rumah dan Penutup (Matius 13:51–52)

Yesus bertanya kepada murid-murid: “Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menjadi murid Kerajaan Sorga itu sama dengan tuan rumah yang mengeluarkan dari perbendaharaannya hal-hal baru dan lama.” Ini mengajarkan bahwa murid-murid yang memahami Kerajaan harus mampu menyampaikan ajaran lama (Perjanjian Lama) dan baru (Injil) dengan bijaksana.

Penolakan di Nazaret (Matius 13:53–58)

Setelah selesai dengan perumpamaan-perumpamaan, Yesus pergi ke kota asal-Nya, Nazaret. Ia mengajar di rumah ibadat, dan orang-orang heran akan hikmat dan kuasa-Nya. Tetapi mereka tersinggung dan berkata: “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada di antara kita?” Mereka menolak-Nya karena keakraban dan kebanggaan mereka.

Yesus berkata: “Seorang nabi tidak dihormati di tempat asalnya dan di rumahnya.” Karena ketidakpercayaan mereka, Ia tidak banyak mengadakan mujizat di sana. Ini menunjukkan bahwa iman adalah syarat untuk mengalami kuasa Allah secara maksimal.

Kesimpulan: Kerajaan yang Tumbuh dan Memisahkan

Matius 13 mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga memiliki permulaan yang kecil, tumbuh secara tersembunyi namun pasti, dan pada akhirnya akan terjadi pemisahan antara orang benar dan orang jahat. Perumpamaan-perumpamaan ini mengundang pendengar untuk merespons dengan iman, menghargai Kerajaan sebagai harta yang tak ternilai, dan hidup sebagai benih yang berbuah di tanah yang baik.

PASAL 14

Pendahuluan: Penolakan dan Kuasa Yesus atas Alam

Matius pasal 14 mencatat kematian Yohanes Pembaptis sebagai gambaran penolakan terhadap utusan Allah, diikuti oleh dua mujizat besar: memberi makan lima ribu orang dan berjalan di atas air. Pasal ini menunjukkan bahwa meskipun Yesus berduka atas kematian Yohanes, Ia tetap melayani orang banyak dengan penuh belas kasihan, dan menyatakan kuasa-Nya atas kebutuhan fisik serta hukum alam.

Kematian Yohanes Pembaptis (Matius 14:1–12)

Pada waktu itu, Herodes raja wilayah mendengar kabar tentang Yesus. Ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati, dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja padanya.” Herodes sebelumnya telah menangkap Yohanes, membelenggu, dan memenjarakannya karena Yohanes menegurnya karena mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya.

Herodes ingin membunuh Yohanes, tetapi takut kepada orang banyak yang menganggap Yohanes sebagai nabi. Pada perayaan ulang tahun Herodes, putri Herodias menari di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga ia bersumpah akan memberikan apa pun yang dimintanya. Atas dorongan ibunya, gadis itu meminta kepala Yohanes Pembaptis di atas talam. Herodes sedih, tetapi karena sumpahnya di hadapan para tamu, ia memerintahkan agar permintaan itu dikabulkan. Yohanes dipenggal, dan kepalanya diberikan kepada gadis itu, lalu ia membawanya kepada ibunya. Murid-murid Yohanes mengambil mayatnya dan menguburkannya, lalu pergi memberitahu Yesus.

Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang (Matius 14:13–21)

Ketika Yesus mendengar berita kematian Yohanes, Ia menyingkir dengan perahu ke tempat yang sunyi, tetapi orang banyak mendengar dan mengikuti-Nya dengan berjalan kaki dari kota-kota. Yesus turun dan melihat orang banyak; Ia tergerak oleh belas kasihan dan menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara mereka.

Menjelang malam, murid-murid meminta Yesus menyuruh orang banyak pergi untuk membeli makanan. Yesus menjawab: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Murid-murid berkata: “Di sini kita tidak punya apa-apa, kecuali lima roti dan dua ikan.” Yesus meminta membawa roti dan ikan itu kepada-Nya, lalu menyuruh orang banyak duduk di rumput. Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, memecah-mecahkan roti, dan memberikannya kepada murid-murid, yang kemudian memberikannya kepada orang banyak. Semua makan sampai kenyang, dan sisa potongan yang dikumpulkan dua belas bakul penuh. Yang makan kira-kira lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak.

Yesus Berjalan di Atas Air (Matius 14:22–33)

Segera sesudah itu, Yesus memerintahkan murid-murid naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang danau, sementara Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak pergi, Ia naik ke bukit untuk berdoa sendirian. Menjelang malam, perahu sudah berada di tengah danau, terombang-ambing oleh gelombang karena angin sakal.

Pada waktu dinihari, Yesus datang kepada mereka berjalan di atas air. Murid-murid melihat-Nya dan ketakutan, mengira itu hantu. Yesus segera berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Petrus menjawab: “Tuhan, jika Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Yesus berkata: “Datanglah!” Petrus turun dan berjalan di atas air menuju Yesus, tetapi ketika melihat angin kencang, ia takut dan mulai tenggelam. Ia berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus segera mengulurkan tangan dan memegang dia, berkata: “Hai engkau yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Setelah mereka naik ke perahu, angin pun reda. Murid-murid sujud menyembah Yesus dan berkata: “Sungguh, Engkau adalah Anak Allah!”

Penyembuhan di Genesaret (Matius 14:34–36)

Yesus dan murid-murid tiba di Genesaret. Orang-orang di situ mengenal Yesus, lalu menyuruh berita itu ke seluruh daerah sekitarnya, dan semua orang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon agar boleh menjamah ujung jubah-Nya saja, dan semua yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Ini menunjukkan bahwa iman yang sederhana sekalipun dapat mengalami kuasa penyembuhan dari Yesus.

Kesimpulan: Kuasa dan Belas Kasihan di Tengah Penolakan

Matius 14 menyajikan kontras antara penolakan dunia yang membunuh Yohanes dan kuasa ilahi Yesus yang memelihara dan menyelamatkan. Mujizat memberi makan dan berjalan di atas air menegaskan identitas Yesus sebagai Anak Allah dan Penguasa atas ciptaan. Pasal ini mengundang kita untuk percaya kepada Yesus di tengah badai kehidupan, dan tidak takut karena Dia selalu menyertai kita.

PASAL 15

Pendahuluan: Tradisi Manusia versus Perintah Allah

Matius pasal 15 mencatat konflik Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat tentang tradisi dan hukum Allah. Yesus menegaskan bahwa tradisi manusia tidak boleh mengalahkan perintah Allah, dan Ia mengajarkan bahwa yang menajiskan seseorang bukanlah apa yang masuk ke dalam mulut, tetapi apa yang keluar dari hati. Pasal ini juga mencatat iman seorang perempuan Kanaan dan mujizat memberi makan empat ribu orang.

Konflik tentang Tradisi Nenek Moyang (Matius 15:1–9)

Orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem datang kepada Yesus dan bertanya: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Yesus menjawab: “Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadatmu? Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan siapa yang mengutuki ayah atau ibunya harus dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Siapa yang berkata kepada ayah atau ibunya: apa yang dapat kauperoleh dari padaku telah menjadi persembahan kepada Allah, ia tidak perlu lagi menghormati ayah atau ibunya. Dengan demikian kamu membatalkan firman Allah demi tradisimu.”

Yesus menegaskan bahwa mereka adalah orang munafik, sesuai dengan nubuat Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia.” Ini menunjukkan bahwa ketaatan lahiriah tanpa hati yang tulus tidak berkenan kepada Allah.

Ajaran tentang Kenajisan (Matius 15:10–20)

Yesus memanggil orang banyak dan berkata: “Dengarlah dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Murid-murid kemudian memberi tahu bahwa orang Farisi tersinggung dengan pernyataan itu. Yesus menjawab: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku di sorga akan dicabut. Biarkanlah mereka, mereka adalah orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam lobang.”

Petrus meminta penjelasan lebih lanjut, dan Yesus menjelaskan: “Apa yang masuk ke dalam mulut masuk ke dalam perut dan dibuang ke tempat kakus, tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati, dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat. Itulah yang menajiskan orang, sedangkan makan dengan tangan tidak basuh tidak menajiskan.”

Iman Perempuan Kanaan (Matius 15:21–28)

Yesus pergi ke daerah Tirus dan Sidon. Seorang perempuan Kanaan dari daerah itu datang dan berteriak: “Kasihanilah aku, Tuhan, Anak Daud! Anakku kerasukan setan dan sangat menderita.” Yesus tidak menjawab sepatah kata pun, sehingga murid-murid meminta-Nya menyuruh perempuan itu pergi. Yesus berkata: “Aku diutus hanya untuk domba-domba yang hilang dari kaum Israel.”

Perempuan itu datang dan sujud menyembah-Nya, berkata: “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan, tetapi anjing-anjing juga makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Yesus berkata: “Hai ibu, besar imanmu, jadilah kepadamu seperti yang engkau kehendaki.” Dan pada saat itu anaknya sembuh. Ini menunjukkan bahwa iman yang rendah hati dan tekun beroleh perhatian, bahkan dari pihak yang dianggap tidak layak.

Yesus Menyembuhkan Banyak Orang (Matius 15:29–31)

Yesus kembali ke tepi Danau Galilea, naik ke bukit, dan duduk di sana. Orang banyak datang membawa orang lumpuh, buta, bisu, dan berbagai penyakit, lalu meletakkan mereka di kaki Yesus, dan Ia menyembuhkan mereka semua. Orang banyak heran melihat orang bisu berbicara, orang lumpuh sembuh, dan orang buta melihat, lalu mereka memuliakan Allah Israel.

Memberi Makan Empat Ribu Orang (Matius 15:32–39)

Yesus memanggil murid-murid dan berkata: “Aku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena mereka sudah tiga hari mengikuti Aku dan tidak punya makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dalam keadaan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Murid-murid bertanya dari mana mereka dapat memperoleh roti cukup di padang gurun. Yesus bertanya berapa roti yang ada, dan mereka menjawab: “Tujuh roti dan beberapa ikan kecil.”

Yesus menyuruh orang banyak duduk di tanah, mengambil tujuh roti dan ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada murid-murid, yang lalu memberikannya kepada orang banyak. Semua makan sampai kenyang, dan sisa potongan yang dikumpulkan tujuh bakul penuh. Yang makan ada empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Setelah itu, Yesus menyuruh orang banyak pulang, lalu naik perahu dan pergi ke daerah Magadan.

Kesimpulan: Hati yang Tulus dan Iman yang Tekun

Matius 15 mengajarkan bahwa hubungan dengan Allah tidak ditentukan oleh tradisi lahiriah, tetapi oleh kemurnian hati dan ketaatan kepada perintah Allah. Iman perempuan Kanaan menjadi teladan bahwa penghargaan kepada Yesus tidak terbatas pada bangsa Israel. Mujizat-mujizat penyembuhan dan pemberian makan kembali menegaskan bahwa Yesus adalah sumber pemeliharaan dan pemulihan bagi semua orang yang datang dengan iman.

PASAL 16

Pendahuluan: Pengakuan Petrus dan Permulaan Pemberitahuan Penderitaan

Matius pasal 16 merupakan titik balik dalam Injil Matius. Pasal ini mencatat penolakan Yesus terhadap permintaan tanda dari orang Farisi dan Saduki, peringatan tentang ragi mereka, pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, dan pemberitahuan pertama tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Pasal ini juga mengajarkan tentang biaya mengikut Kristus.

Permintaan Tanda dan Peringatan tentang Ragi (Matius 16:1–12)

Orang Farisi dan Saduki datang untuk mencobai Yesus dan meminta tanda dari sorga. Yesus menjawab: “Pada petang hari kamu berkata: hari akan cerah, karena langit merah. Dan pada pagi hari: hari ini akan buruk, karena langit merah dan suram. Rupa langit kamu tahu membedakannya, tetapi tanda-tanda zaman tidak dapat kamu bedakan.” Ia menolak memberikan tanda selain tanda Yunus, lalu meninggalkan mereka.

Ketika murid-murid tiba di seberang danau, mereka lupa membawa roti. Yesus berkata: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.” Murid-murid berpikir itu karena mereka tidak membawa roti. Yesus menegur mereka: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa kamu berbincang-bincang tentang roti? Belum juga kamu mengerti? Ingatkah kamu akan lima roti untuk lima ribu orang dan berapa bakul yang kamu kumpulkan? Atau tujuh roti untuk empat ribu orang dan berapa bakul yang kamu kumpulkan? Mengapa kamu tidak mengerti bahwa Aku tidak berbicara tentang roti?” Lalu mereka mengerti bahwa maksud-Nya bukan ragi roti, tetapi ajaran orang Farisi dan Saduki.

Pengakuan Petrus: Yesus adalah Mesias (Matius 16:13–20)

Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi dan bertanya kepada murid-murid: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Mereka menjawab: “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang nabi.” Yesus bertanya lagi: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku?” Simon Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”

Yesus berkata kepadanya: “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, karena bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, tetapi Bapa-Ku di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus (batu karang), dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga; apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga, dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di sorga.” Lalu Yesus melarang murid-murid memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia adalah Mesias.

Pemberitahuan Pertama tentang Penderitaan dan Kematian Yesus (Matius 16:21–23)

Sejak waktu itu, Yesus mulai menjelaskan kepada murid-murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita banyak hal dari para tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dan pada hari ketiga dibangkitkan. Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.”

Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis, hai penggoda! Engkau adalah batu sandungan bagi-Ku, karena engkau tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Teguran ini menunjukkan bahwa pikiran manusia sering menolak jalan salib, tetapi Yesus dengan tegas menegaskan bahwa penderitaan adalah kehendak Bapa.

Memikul Salib dan Mengikut Yesus (Matius 16:24–28)

Yesus berkata kepada murid-murid: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Atau apa yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Ia menambahkan: “Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya bersama malaikat-malaikat-Nya, dan pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sungguh, di antara orang yang berdiri di sini, ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang dalam Kerajaan-Nya.” Pernyataan ini mengacu pada transfigurasi dan kuasa Kerajaan yang akan segera dinyatakan.

Kesimpulan: Pengakuan, Salib, dan Kemuliaan

Matius 16 mengajarkan bahwa mengenali Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah adalah dasar iman yang benar. Namun, pengakuan itu harus diikuti dengan pemahaman bahwa jalan Mesias adalah melalui penderitaan dan kematian. Mengikut Yesus berarti menyangkal diri, memikul salib, dan menempatkan Kerajaan Allah di atas segalanya. Pasal ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati hanya diperoleh melalui ketaatan dan pengorbanan.

PASAL 17

Pendahuluan: Kemuliaan, Iman, dan Kerendahan Hati

Matius pasal 17 mencatat peristiwa transfigurasi Yesus di gunung, penyembuhan seorang anak yang kerasukan setan, dan pengajaran tentang iman yang seperti biji sesawi. Pasal ini juga memuat pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus dan mukjizat membayar bea Bait Allah. Pasal ini menegaskan kemuliaan Yesus sebagai Anak Allah, namun juga menekankan kerendahan hati dan kuasa iman dalam pelayanan.

Transfigurasi Yesus (Matius 17:1–8)

Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung yang tinggi. Di hadapan mereka, Ia berubah rupa: wajah-Nya bersinar seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Musa dan Elia tampak dan berbicara dengan Yesus. Petrus berkata: “Tuhan, betapa senangnya kami di sini. Jika Engkau mau, aku akan mendirikan tiga kemah: satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.”

Ketika ia masih berbicara, awan terang menaungi mereka, dan suara dari dalam awan berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia.” Murid-murid jatuh tersungkur dan sangat ketakutan. Yesus datang dan menjamah mereka, berkata: “Berdirilah, jangan takut.” Ketika mereka mengangkat mata, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus sendirian. Peristiwa ini menggenapi janji Yesus bahwa beberapa murid akan melihat Kerajaan-Nya datang dengan kuasa, dan menjadi penguatan bagi iman mereka menjelang penderitaan-Nya.

Pertanyaan tentang Elia (Matius 17:9–13)

Ketika turun dari gunung, Yesus berpesan: “Jangan katakan penglihatan itu kepada siapa pun, sampai Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.” Murid-murid bertanya: “Mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang lebih dahulu?” Yesus menjawab: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan mereka berbuat kepadanya apa yang mereka kehendaki. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Lalu murid-murid mengerti bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Penyembuhan Anak yang Kerasukan Setan (Matius 17:14–21)

Ketika Yesus dan murid-murid kembali kepada orang banyak, seorang laki-laki berlutut di hadapan-Nya dan berkata: “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita, sering jatuh ke dalam api dan air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Yesus menjawab: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan bejat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Bawalah anak itu ke mari.”

Yesus menghardik setan itu, dan setan itu keluar, dan anak itu sembuh pada saat itu juga. Murid-murid bertanya mengapa mereka tidak dapat mengusir setan itu. Yesus berkata: “Karena imanmu terlalu kecil. Aku berkata kepadamu: jika kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi, kamu dapat berkata kepada gunung ini: pindahlah dari sini ke sana, dan gunung itu akan pindah; tidak ada yang mustahil bagimu. Tetapi jenis setan ini hanya dapat diusir dengan doa dan puasa.”

Pemberitahuan Kedua tentang Kematian dan Kebangkitan (Matius 17:22–23)

Ketika Yesus dan murid-murid berkumpul di Galilea, Yesus berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Murid-murid menjadi sangat sedih mendengar perkataan itu. Ini adalah pemberitahuan kedua yang semakin memperjelas jalan salib yang harus ditempuh Yesus.

Membayar Bea Bait Allah (Matius 17:24–27)

Yesus dan murid-murid tiba di Kapernaum. Pemungut bea Bait Allah datang kepada Petrus dan bertanya: “Apakah gurumu tidak membayar bea?” Petrus menjawab: “Ya, memang.” Ketika Petrus masuk ke rumah, Yesus mendahuluinya dan bertanya: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapa raja-raja dunia memungut bea dan pajak? Dari anak-anaknya atau dari orang asing?” Petrus menjawab: “Dari orang asing.” Yesus berkata: “Jadi anak-anaknya bebas. Tetapi supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah ke danau, lemparkan kailmu, dan ambillah ikan pertama yang naik; bukalah mulutnya, dan engkau akan menemukan uang sekeping. Ambillah itu dan berikanlah kepada mereka, untuk Aku dan untuk engkau.” Mukjizat ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang bebas dari kewajiban duniawi, tetapi Ia tetap merendahkan diri untuk menghormati otoritas yang sah.

Kesimpulan: Kemuliaan, Iman, dan Ketaatan

Matius 17 mengajarkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang mulia, terbukti dalam transfigurasi, dan Ia memiliki kuasa atas roh-roh jahat. Namun, kemuliaan itu tidak terpisah dari jalan salib. Iman yang kecil sekalipun dapat melakukan hal-hal besar jika bersandar pada kuasa Allah. Pasal ini mendorong kita untuk percaya, berdoa, dan mengikuti Yesus dengan kerendahan hati, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele seperti membayar pajak.

PASAL 18

Pendahuluan: Kerendahan Hati, Pengampunan, dan Pemulihan

Matius pasal 18 berisi ajaran Yesus tentang hubungan antarumat dalam Kerajaan Sorga. Pasal ini menekankan pentingnya kerendahan hati seperti anak kecil, peringatan tentang dosa dan batu sandungan, tanggung jawab untuk menegur sesama, serta pengampunan tanpa batas. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan dibangun di atas kasih, kerendahan hati, dan pengampunan yang melimpah.

Siapa yang Terbesar dalam Kerajaan Sorga (Matius 18:1–5)

Murid-murid datang kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Karena itu, siapa yang merendahkan diri seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Kerendahan hati dan ketergantungan adalah kunci untuk menjadi besar di hadapan Allah.

Peringatan tentang Batu Sandungan (Matius 18:6–9)

Yesus memperingatkan: “Siapa yang menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya dan ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Celakalah dunia karena penyesatan; penyesatan harus terjadi, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Karena itu, jika tangan atau kakimu menyesatkan engkau, potonglah dan buanglah, karena lebih baik hidup dengan cacat daripada seluruh tubuh masuk neraka. Demikian pula jika matamu menyesatkan, cungkillah dan buanglah. Ini adalah bahasa hiperbolik untuk menekankan keseriusan menghindari dosa dan melindungi orang lain dari kejatuhan.

Perumpamaan Domba yang Hilang (Matius 18:10–14)

Yesus mengingatkan agar jangan menghina salah satu dari anak-anak kecil ini, karena malaikat mereka selalu memandang wajah Bapa di sorga. Ia melanjutkan dengan perumpamaan: jika seseorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor tersesat, bukankah ia akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang tersesat? Jika ia menemukannya, ia lebih bersukacita atas domba yang satu itu daripada atas yang sembilan puluh sembilan yang tidak tersesat. Demikian juga Bapa di sorga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak kecil ini binasa. Ini menunjukkan kasih Allah yang mencari yang hilang dan sukacita atas pemulihan.

Tata Cara Menegur Sesama (Matius 18:15–20)

Yesus memberikan petunjuk tentang penanganan dosa dalam komunitas: “Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan, bawalah satu atau dua orang lagi, supaya setiap perkataan atas keterangan dua atau tiga saksi terbukti. Jika ia tidak mendengarkan mereka, sampaikanlah kepada jemaat. Dan jika ia tidak mendengarkan jemaat, hendaklah ia bagimu seperti orang yang tidak mengenal Allah dan pemungut cukai.”

Yesus menambahkan: “Aku berkata kepadamu: apa yang kamu ikat di dunia akan terikat di sorga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat tentang apa pun yang mereka minta, itu akan dikaruniakan oleh Bapa-Ku di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Perumpamaan tentang Pengampunan yang Tak Terbatas (Matius 18:21–35)

Petrus bertanya: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab: “Bukan sampai tujuh kali, tetapi sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Seorang hamba berutang sepuluh ribu talenta (jumlah yang sangat besar). Karena tidak mampu membayar, raja memerintahkan untuk menjual dia dan keluarganya. Hamba itu sujud dan memohon: “Sabarlah terhadap aku, aku akan membayar semuanya.” Raja tergerak oleh belas kasihan dan menghapuskan utangnya.

Namun hamba itu keluar dan bertemu dengan sesama hamba yang berutang seratus dinar (jumlah kecil). Ia menangkap dan mencekiknya, menuntut pembayaran. Sesama hamba itu memohon: “Sabarlah terhadap aku, aku akan membayar.” Tetapi ia tidak mau, dan memasukkannya ke dalam penjara. Raja mendengar hal itu, memanggil hamba itu, dan berkata: “Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani sesama hambamu seperti aku telah mengasihani engkau?” Maka raja menyerahkan dia kepada algojo sampai ia melunasi seluruh utangnya. Yesus menyimpulkan: “Bapa-Ku di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, jika kamu tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Kesimpulan: Hidup dalam Komunitas yang Mengampuni

Matius 18 mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga dibangun di atas kerendahan hati, kepedulian terhadap yang lemah, dan pengampunan yang berlimpah. Murid-murid dipanggil untuk saling menegur dengan kasih, menjaga kemurnian komunitas, dan memberikan pengampunan tanpa batas, sebagaimana Allah telah mengampuni mereka. Pasal ini adalah pedoman praktis untuk hidup sebagai keluarga Allah yang saling mengasihi dan memulihkan.

PASAL 19

Pendahuluan: Pernikahan, Kekayaan, dan Mengikut Yesus

Matius pasal 19 mencatat ajaran Yesus tentang pernikahan dan perceraian, berkat atas anak-anak, serta pertemuan dengan seorang muda yang kaya. Pasal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Sorga menuntut komitmen yang radikal, baik dalam pernikahan, penerimaan terhadap yang lemah, maupun dalam sikap terhadap harta benda. Yesus mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia.

Ajaran tentang Perceraian (Matius 19:1–12)

Yesus pergi ke daerah Yudea, dan orang banyak mengikuti-Nya, lalu Ia menyembuhkan mereka di situ. Orang Farisi datang untuk mencobai-Nya dan bertanya: “Apakah diperbolehkan menceraikan istri dengan alasan apa pun?” Yesus menjawab: “Tidakkah kamu baca, bahwa sejak semula Pencipta menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, dan keduanya menjadi satu daging? Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Orang Farisi bertanya mengapa Musa memperbolehkan surat cerai. Yesus berkata: “Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Aku berkata kepadamu: Siapa yang menceraikan istrinya, kecuali karena perzinahan, lalu menikah dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Murid-murid berkata: “Jika demikian hubungan antara laki-laki dan perempuan, lebih baik tidak kawin.” Yesus menjawab bahwa tidak semua orang dapat menerima perkataan itu, tetapi hanya mereka yang dikaruniai. Ada orang yang tidak kawin karena lahir, karena dikebiri orang, dan karena memilih Kerajaan Sorga. “Siapa yang sanggup menerimanya, hendaklah ia menerimanya.”

Yesus Memberkati Anak-anak (Matius 19:13–15)

Anak-anak dibawa kepada Yesus supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Murid-murid menegur orang-orang itu, tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan pergi dari situ. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Sorga terbuka bagi mereka yang rendah hati dan bergantung seperti anak kecil.

Orang Muda yang Kaya (Matius 19:16–30)

Seorang muda datang kepada Yesus dan bertanya: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab: “Mengapa engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Orang muda itu berkata: “Semuanya telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”

Yesus berkata: “Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, lalu datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar itu, orang muda itu pergi dengan sedih, sebab hartanya banyak. Yesus berkata kepada murid-murid: “Aku berkata kepadamu, sungguh sukar bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Murid-murid terkejut dan bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Petrus berkata: “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau; jadi apa yang akan kami peroleh?” Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia duduk di takhta kemuliaan-Nya, kamu yang telah mengikut Aku akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi dua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumah, saudara, atau ladang, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.”

Kesimpulan: Anugerah dan Pengorbanan

Matius 19 mengajarkan bahwa pernikahan adalah institusi ilahi yang sakral, dan perceraian hanya diizinkan dalam kasus perzinahan. Kerajaan Sorga diterima dengan kerendahan hati seperti anak kecil. Orang muda yang kaya menunjukkan bahwa keterikatan pada harta dapat menghalangi seseorang untuk mengikut Yesus sepenuhnya, tetapi keselamatan tetap mungkin oleh anugerah Allah. Pasal ini mengundang kita untuk melepaskan segala sesuatu yang menghalangi kita untuk mengikuti Kristus dan mempercayai pemeliharaan-Nya.

PASAL 20

Pendahuluan: Anugerah, Pelayanan, dan Pemulihan

Matius pasal 20 berisi perumpamaan tentang pekerja-pekerja kebun anggur yang menunjukkan anugerah Allah yang tidak bergantung pada usaha manusia. Pasal ini juga mencatat pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus, permintaan Yakobus dan Yohanes untuk duduk di sisi-Nya, dan penyembuhan dua orang buta di Yerikho. Yesus mengajarkan bahwa dalam Kerajaan, ukuran terbesar adalah menjadi pelayan, dan anugerah Allah diberikan dengan bebas kepada semua.

Perumpamaan Pekerja-pekerja Kebun Anggur (Matius 20:1–16)

Yesus menceritakan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga yang diumpamakan seperti seorang tuan rumah yang pergi pagi-pagi untuk mencari pekerja di kebun anggurnya. Ia setuju membayar satu dinar sehari dan menyuruh mereka bekerja. Pada pukul sembilan, dua belas, tiga sore, dan lima sore, ia pergi lagi dan mempekerjakan orang lain, dengan janji akan membayar dengan adil.

Ketika petang tiba, tuan kebun menyuruh mandornya membayar semua pekerja, mulai dari yang terakhir hingga yang pertama. Mereka yang masuk pada pukul lima menerima satu dinar, dan mereka yang masuk pagi-pagi mengira akan menerima lebih banyak, tetapi mereka juga menerima satu dinar. Mereka menggerutu dan berkata: “Mereka yang masuk terakhir hanya bekerja satu jam, tetapi engkau menyamakan mereka dengan kami yang bekerja sepanjang hari.” Tuan menjawab: “Sahabat, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat satu dinar? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir sama seperti kepadamu. Tidak bolehkah aku berbuat dengan milikku menurut kehendakku? Mata-Mu jahat karena aku baik?” Yesus menutup: “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.”

Pemberitahuan Ketiga tentang Kematian dan Kebangkitan (Matius 20:17–19)

Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus memanggil kedua belas murid secara pribadi dan berkata: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain untuk diolok-olokkan, didera, dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Ini adalah pemberitahuan yang paling rinci tentang penderitaan yang akan datang, menunjukkan bahwa Yesus benar-benar sadar akan jalan salib yang harus ditempuh.

Permintaan Yakobus dan Yohanes (Matius 20:20–28)

Ibu Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus dengan kedua anaknya, sujud menyembah, dan meminta agar kedua putranya boleh duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam Kerajaan-Nya. Yesus menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang akan Kuminum?” Mereka menjawab: “Kami dapat.” Yesus berkata: “Memang cawan-Ku akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan atau kiri-Ku bukan Aku yang memberi, melainkan Bapa-Ku yang mempersiapkannya.”

Sepuluh murid lain menjadi marah mendengarnya, tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Kamu tahu bahwa penguasa bangsa-bangsa memerintah dengan keras dan pembesar-pembesar menjalankan kuasa atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi yang teratas, hendaklah ia menjadi hamba. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Penyembuhan Dua Orang Buta di Yerikho (Matius 20:29–34)

Ketika Yesus keluar dari Yerikho, dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar bahwa Yesus lewat. Mereka berteriak: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Orang banyak menegur mereka agar diam, tetapi mereka semakin keras berteriak. Yesus berhenti, memanggil mereka, dan bertanya: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Mereka menjawab: “Tuhan, supaya mata kami dibuka.” Yesus tergerak oleh belas kasihan, menjamah mata mereka, dan seketika itu juga mereka dapat melihat, lalu mereka mengikuti Dia. Ini menunjukkan bahwa Yesus mendengar seruan iman yang tekun dan memberi pemulihan kepada mereka yang percaya.

Kesimpulan: Anugerah, Pelayanan, dan Kerendahan Hati

Matius 20 mengajarkan bahwa dalam Kerajaan Allah, anugerah diberikan tanpa memandang usaha atau waktu, dan semua orang dipanggil untuk menerima kebaikan Allah dengan rendah hati. Yesus menegaskan bahwa kebesaran sejati diukur dari pelayanan, dan Ia sendiri adalah teladan utama yang datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya. Pasal ini mengundang kita untuk tidak iri terhadap anugerah Allah bagi orang lain, melainkan bersyukur dan melayani dengan kasih.

PASAL 21

Pendahuluan: Yesus Diperhadapkan sebagai Raja dan Hakim

Matius pasal 21 mencatat peristiwa-peristiwa penting pada minggu terakhir Yesus di Yerusalem: masuk secara triumfal ke Yerusalem, penyucian Bait Allah, pengutukan pohon ara, dan serangkaian perdebatan dengan para pemimpin agama. Pasal ini menegaskan bahwa Yesus adalah Raja yang datang dengan kerendahan hati, namun juga memiliki otoritas untuk menghakimi dan membersihkan.

Yesus Masuk ke Yerusalem (Matius 21:1–11)

Yesus dan murid-murid mendekati Yerusalem, tiba di Betfage di Bukit Zaitun. Yesus mengutus dua murid untuk mengambil seekor keledai betina dan anaknya yang tertambat. Jika ada yang bertanya, katakan: “Tuhan memerlukannya.” Hal itu terjadi untuk menggenapi nubuat Zakharia 9:9: “Katakanlah kepada putri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, lemah lembut, mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”

Murid-murid membawa keledai itu, meletakkan jubah mereka di atasnya, dan Yesus naik ke atasnya. Orang banyak membentangkan jubah mereka di jalan, memotong ranting-ranting dan menyebarkannya. Mereka berseru: “Hosana bagi Anak Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang mahatinggi!” Seluruh kota gempar, dan orang bertanya: “Siapa Dia ini?” Orang banyak menjawab: “Inilah Yesus, nabi dari Nazaret di Galilea.”

Yesus Menyucikan Bait Allah (Matius 21:12–17)

Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan berkata: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Orang buta dan lumpuh datang kepada-Nya di Bait Allah, dan Ia menyembuhkan mereka. Anak-anak berseru: “Hosana bagi Anak Daud!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menjadi marah, tetapi Yesus menjawab: “Pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan pujian?” Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke Betania untuk bermalam.

Mengutuk Pohon Ara (Matius 21:18–22)

Pagi-pagi, Yesus lapar dan melihat pohon ara di pinggir jalan. Ia mendekatinya tetapi tidak menemukan apa-apa selain daun. Ia berkata: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Seketika itu pohon ara itu menjadi kering. Murid-murid heran dan bertanya bagaimana pohon itu bisa kering seketika. Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu: jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu dapat melakukan seperti yang Kuperbuat. Bahkan jika kamu berkata kepada gunung ini: terangkatlah dan tercampaklah ke dalam laut, hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan percaya, kamu akan menerimanya.” Peristiwa ini melambangkan penghakiman atas Israel yang tidak menghasilkan buah iman, sekaligus mengajarkan kuasa doa yang disertai iman.

Pertanyaan tentang Otoritas Yesus (Matius 21:23–27)

Yesus mengajar di Bait Allah, dan imam-imam kepala serta tua-tua bangsa datang bertanya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” Yesus menjawab: “Aku juga akan bertanya satu hal kepadamu; jika kamu menjawabnya, Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa apa Aku melakukannya. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?” Mereka berunding dan berpikir: jika dari sorga, Dia akan bertanya mengapa kami tidak percaya; jika dari manusia, kami takut pada orang banyak, karena mereka menganggap Yohanes nabi. Maka mereka menjawab: “Kami tidak tahu.” Yesus pun berkata: “Aku juga tidak akan mengatakan kepadamu dengan kuasa apa Aku melakukannya.”

Perumpamaan tentang Dua Anak (Matius 21:28–32)

Yesus melanjutkan: “Seorang mempunyai dua anak. Ia pergi kepada anak pertama dan berkata: Anakku, pergilah dan bekerjalah hari ini di kebun anggur. Anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi juga. Lalu ayah pergi kepada anak kedua dan berkata demikian. Anak itu menjawab: Aku mau, tetapi ia tidak pergi. Siapa di antara keduanya yang melakukan kehendak ayahnya?” Mereka menjawab: “Yang pertama.” Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: pemungut cukai dan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang menunjukkan jalan kebenaran, dan kamu tidak percaya kepadanya, tetapi pemungut cukai dan pelacur percaya. Dan meskipun kamu melihatnya, kamu tidak menyesal dan percaya kepadanya.”

Perumpamaan Penggarap Kebun Anggur (Matius 21:33–46)

Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang menanam kebun anggur, membuat pagar, dan menyewakannya kepada penggarap, lalu pergi ke negeri lain. Ketika musim petik tiba, ia mengirim hamba-hambanya untuk menerima hasilnya, tetapi penggarap menangkap, memukul, dan membunuh mereka. Ia mengirim lebih banyak hamba, tetapi diperlakukan sama. Akhirnya ia mengirim anaknya, dengan berpikir mereka akan menghormati anaknya. Tetapi penggarap berkata: “Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisan itu menjadi milik kita.” Mereka menangkapnya dan membunuhnya.

Yesus bertanya: “Apakah yang akan dilakukan tuan kebun itu? Ia akan membinasakan penggarap-penggarap itu dan menyewakan kebunnya kepada penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya pada waktunya.” Ia mengutip Mazmur 118:22–23: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Imam-imam kepala dan orang Farisi mengerti bahwa perumpamaan itu ditujukan terhadap mereka, dan mereka ingin menangkap Yesus, tetapi takut kepada orang banyak yang menganggap-Nya nabi.

Kesimpulan: Raja yang Ditolak, tetapi Berkuasa

Matius 21 menggambarkan Yesus sebagai Raja yang datang dengan lemah lembut, namun bertindak dengan otoritas ilahi. Ia disambut dengan pujian, tetapi juga ditolak oleh para pemimpin agama. Perumpamaan-perumpamaan mengungkapkan bahwa Kerajaan Allah akan diberikan kepada bangsa yang menghasilkan buah, dan penolakan terhadap Yesus membawa penghakiman. Pasal ini menantang kita untuk menerima Yesus sebagai Raja dan menghasilkan buah yang setimpal dengan pertobatan.

PASAL 22

Pendahuluan: Perumpamaan dan Jebakan Para Pemimpin

Matius pasal 22 berisi rangkaian perumpamaan dan perdebatan Yesus dengan orang Farisi, Herodian, dan Saduki. Yesus mengajarkan tentang pesta pernikahan, pembayaran pajak kepada Kaisar, kebangkitan orang mati, dan hukum yang terutama. Pasal ini menunjukkan hikmat ilahi Yesus yang mengalahkan segala jebakan lawan-Nya, sekaligus menegaskan bahwa Kerajaan Sorga terbuka bagi semua, tetapi hanya mereka yang berpakaian layak yang dapat masuk.

Perumpamaan tentang Pesta Pernikahan (Matius 22:1–14)

Yesus menceritakan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga seperti seorang raja yang mengadakan pesta pernikahan untuk anaknya. Ia mengirim hamba-hambanya untuk memanggil para undangan, tetapi mereka menolak datang. Ia mengirim hamba lain dengan pesan: “Segala sesuatu telah siap, datanglah ke pesta.” Namun mereka tidak peduli; satu pergi ke ladang, yang lain ke usahanya, dan yang lain menangkap dan membunuh hamba-hamba itu.

Raja marah, mengirim pasukannya untuk membunuh para pembunuh itu dan membakar kota mereka. Kemudian ia berkata kepada hambanya: “Pesta sudah siap, tetapi orang-orang yang diundang tidak layak. Karena itu pergilah ke persimpangan jalan, dan undanglah semua orang yang kamu jumpai.” Mereka mengumpulkan semua orang, baik jahat maupun baik, dan ruangan itu penuh. Raja melihat seorang yang tidak berpakaian pesta, dan bertanya: “Sahabat, bagaimana engkau masuk ke sini tanpa pakaian pesta?” Orang itu diam. Maka raja berkata: “Ikatlah kaki dan tangannya, dan campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap.” Yesus menutup: “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Pertanyaan tentang Pajak kepada Kaisar (Matius 22:15–22)

Orang Farisi pergi dan merundingkan bagaimana mereka dapat menjebak Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka mengirim murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian, yang berkata: “Guru, kami tahu Engkau jujur dan mengajar jalan Allah dengan benar, dan tidak takut kepada siapa pun. Katakanlah kepada kami: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Yesus mengetahui kejahatan mereka dan berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku uang pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar. Ia bertanya: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab: “Kaisar.” Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Mereka heran dan meninggalkan Dia.

Pertanyaan tentang Kebangkitan (Matius 22:23–33)

Pada hari itu, orang Saduki, yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan, datang kepada Yesus dan mengajukan pertanyaan: “Guru, Musa berkata: jika seorang mati tanpa anak, saudaranya harus mengawini istrinya dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya. Ada tujuh saudara; yang pertama kawin dan mati tanpa keturunan, lalu yang kedua dan seterusnya sampai yang ketujuh. Akhirnya perempuan itu juga mati. Pada hari kebangkitan, siapakah dari ketujuh orang itu yang menjadi suaminya? Sebab mereka semua pernah kawin dengan dia.”

Yesus menjawab: “Kamu sesat, karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Pada hari kebangkitan, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, tetapi hidup seperti malaikat di sorga. Dan tentang kebangkitan orang mati, tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah kepadamu: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub? Ia bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup.” Orang banyak takjub akan pengajaran-Nya.

Hukum yang Terutama (Matius 22:34–40)

Orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membungkam orang Saduki, dan mereka berkumpul bersama. Seorang ahli Taurat bertanya untuk mencobai-Nya: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua sama dengan itu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Pertanyaan tentang Mesias, Anak Daud (Matius 22:41–46)

Sementara orang Farisi berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka: “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Mereka menjawab: “Anak Daud.” Yesus berkata: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuhannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuhanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu? Jadi jika Daud menyebut Dia Tuhannya, bagaimana mungkin Ia menjadi anaknya?” Tidak ada seorang pun yang dapat menjawab, dan sejak itu tidak ada yang berani bertanya lagi kepada-Nya.

Kesimpulan: Hikmat dan Otoritas Yesus

Matius 22 menunjukkan bahwa Yesus memiliki hikmat yang melampaui para pemimpin agama. Perumpamaan pesta pernikahan mengingatkan bahwa undangan Kerajaan harus diterima dengan kesiapan hidup yang layak. Jawaban Yesus tentang pajak, kebangkitan, dan hukum utama menunjukkan bahwa Kerajaan Allah tidak bertentangan dengan tatanan dunia, tetapi melampauinya. Pasal ini mengajak kita untuk mengakui otoritas Yesus dalam segala aspek kehidupan.

PASAL 23

Pendahuluan: Peringatan terhadap Kemunafikan

Matius pasal 23 adalah kecaman Yesus yang keras terhadap ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Pasal ini berisi tujuh “celaka” yang mengungkapkan kemunafikan, kesombongan, dan penyesatan para pemimpin agama. Yesus menyerukan kerendahan hati dan ketulusan, serta meratapi nasib Yerusalem yang menolak-Nya. Pasal ini adalah peringatan serius tentang bahaya agama tanpa hati.

Nasihat untuk Tidak Meniru Orang Farisi (Matius 23:1–12)

Yesus berkata kepada orang banyak dan murid-murid: “Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi telah duduk di kursi Musa. Karena itu, turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakukannya. Mereka mengenakan beban berat yang sulit dipikul dan meletakkannya di bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan mereka dilakukan agar dilihat orang; mereka memakai tali-tali doa yang lebar dan jumbai yang panjang, dan suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di rumah ibadat, serta suka diberi hormat di pasar dan disebut Rabi.”

Yesus memperingatkan: “Janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Gurumu, yaitu Kristus, dan kamu semua adalah saudara. Jangan memanggil siapa pun bapa di bumi, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Jangan pula disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Kristus. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.”

Tujuh Celaka bagi Ahli Taurat dan Orang Farisi (Matius 23:13–36)

Yesus menyampaikan tujuh kecaman yang dimulai dengan “Celakalah kamu, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, hai orang-orang munafik!”

Celaka pertama: “Kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di hadapan orang; kamu sendiri tidak masuk dan orang yang hendak masuk kamu halangi.”

Celaka kedua: “Kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan untuk menjadikan satu orang penganut agama, dan setelah ia menjadi penganut, kamu menjadikan dia dua kali lebih layak untuk neraka daripada kamu.”

Celaka ketiga: “Kamu membutakan penuntun; kamu berkata: jika seseorang bersumpah demi Bait Allah, itu tidak sah, tetapi jika demi emas Bait, ia terikat. Hai orang-orang bodoh dan buta! Manakah yang lebih penting, emas atau Bait yang menguduskan emas? Juga jika bersumpah demi mezbah, tidak sah, tetapi jika demi persembahan di atasnya, ia terikat. Manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskannya? Karena itu, siapa yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan segala yang ada di atasnya; dan siapa yang bersumpah demi Bait, ia bersumpah demi Bait dan demi Dia yang diam di dalamnya; dan siapa yang bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan demi Dia yang duduk di atasnya.”

Celaka keempat: “Kamu membayar persepuluhan dari daun mint, adas manis, dan jintan, tetapi kamu mengabaikan hal-hal yang lebih penting dalam Taurat: keadilan, belas kasihan, dan iman. Yang satu harus dilakukan dan yang lain tidak diabaikan. Kamu pemandu buta, yang menyaring nyamuk tetapi menelan unta.”

Celaka kelima: “Kamu membersihkan bagian luar cawan dan pinggan, tetapi bagian dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Mula-mula bersihkanlah bagian dalam, supaya bagian luar juga bersih.”

Celaka keenam: “Kamu seperti kuburan yang bercat putih, yang di luar tampak indah, tetapi di dalam penuh tulang-tulang dan segala kenajisan. Di luar kamu tampak benar di mata orang, tetapi di dalam kamu penuh kemunafikan dan kejahatan.”

Celaka ketujuh: “Kamu membangun makam nabi-nabi dan menghiasi kuburan orang-orang benar, dan berkata: jika kami hidup pada zaman nenek moyang kami, kami tidak akan ikut menumpahkan darah nabi-nabi. Dengan demikian kamu mengaku diri sebagai keturunan pembunuh nabi-nabi. Penuhilah takaran nenek moyangmu! Hai ular-ular beludak, bagaimana kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang bijaksana, dan ahli-ahli Taurat; separuh dari mereka akan kamu bunuh dan salibkan, dan separuh lagi akan kamu sesah di rumah-ibadat dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya menimpa kamu semua darah orang benar yang tertumpah di bumi, mulai dari darah Habel yang benar sampai kepada darah Zakharia yang kamu bunuh di antara mezbah dan Bait Suci.”

Ratapan atas Yerusalem (Matius 23:37–39)

Yesus mengakhiri dengan ratapan yang menyayat hati: “Yerusalem, Yerusalem, yang membunuh nabi-nabi dan melempari orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah, rumahmu akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Sebab Aku berkata kepadamu: mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, sampai kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Kesimpulan: Agama Hati dan Kerendahan

Matius 23 mengajarkan bahwa Allah menolak segala bentuk kemunafikan dan kesombongan agama. Ibadah yang sejati melibatkan keadilan, belas kasihan, dan iman, bukan sekadar ritual lahiriah. Yesus menantang para pemimpin untuk bertobat dan merendahkan diri, dan ratapan-Nya atas Yerusalem menunjukkan kasih-Nya yang mendalam meskipun ditolak. Pasal ini memanggil kita untuk hidup dengan tulus di hadapan Allah dan sesama.

PASAL 24

Pendahuluan: Nubuat tentang Penghancuran dan Kedatangan Anak Manusia

Matius pasal 24 berisi khotbah Yesus di Bukit Zaitun tentang tanda-tanda akhir zaman, penghancuran Bait Allah, dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Pasal ini dikenal sebagai “Khotbah di Bukit Zaitun” dan menjawab pertanyaan murid-murid tentang kapan peristiwa itu akan terjadi. Yesus memberikan peringatan tentang penyesatan, penganiayaan, dan pentingnya kesiapsiagaan.

Penghancuran Bait Allah dan Tanda-tanda Awal (Matius 24:1–14)

Yesus keluar dari Bait Allah, dan murid-murid menunjukkan kepada-Nya bangunan-bangunan Bait yang megah. Yesus berkata: “Kamu melihat semua itu? Aku berkata kepadamu: tidak akan ada satu batu pun yang akan ditinggalkan di atas batu yang lain; semuanya akan dirobohkan.” Di Bukit Zaitun, murid-murid bertanya: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”

Yesus menjawab: “Waspadalah, supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu. Banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar tentang perang dan kabar-kabar tentang perang; tetapi janganlah kamu gelisah, karena semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan; akan terjadi kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Semua itu adalah permulaan penderitaan.”

Yesus melanjutkan: “Pada waktu itu kamu akan diserahkan dan dibunuh, dan kamu akan dibenci semua bangsa karena nama-Ku. Banyak orang akan murtad dan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Karena kejahatan makin bertambah, kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah kesudahan itu akan datang.”

Kekejian yang Membinasakan dan Penghancuran Besar (Matius 24:15–28)

Yesus memperingatkan: “Apabila kamu melihat kekejian yang membinasakan berdiri di tempat kudus, menurut firman nabi Daniel—pembaca hendaklah memperhatikannya—maka orang-orang yang di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan. Orang yang di atas perahu jangan turun untuk mengambil barang dari rumahnya, dan orang di ladang jangan kembali untuk mengambil jubahnya. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusui pada masa itu! Berdoalah agar pelarianmu tidak terjadi pada musim dingin atau pada hari Sabat, karena pada waktu itu akan terjadi penderitaan besar, yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang, dan tidak akan terjadi lagi.”

Yesus menambahkan: “Jika hari-hari itu tidak dipersingkat, tidak seorang pun yang selamat, tetapi karena orang-orang pilihan, hari-hari itu akan dipersingkat. Pada waktu itu, jika ada orang berkata: Lihat, Kristus ada di sini, atau di sana, janganlah kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang besar untuk menyesatkan, jika mungkin, orang-orang pilihan. Aku sudah mengatakannya kepadamu sebelumnya. Jadi jika mereka berkata: Lihat, Dia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi; atau: Lihat, Dia ada di ruang dalam, janganlah kamu percaya. Sebab seperti kilat memancar dari timur dan menyinari barat, demikian pula kedatangan Anak Manusia. Di mana pun ada bangkai, di situ burung-burung nazar berkumpul.”

Kedatangan Anak Manusia dan Penghakiman (Matius 24:29–35)

Yesus menggambarkan kedatangan-Nya dengan kuasa dan kemuliaan besar: “Segera sesudah penderitaan masa itu, matahari akan menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, bintang-bintang berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit, dan semua bangsa di bumi akan meratap; mereka akan melihat Anak Manusia datang di atas awan-awan di langit dengan kekuasaan dan kemuliaan besar. Ia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dengan sangkakala yang nyaring, dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru, dari ujung langit yang satu ke ujung yang lain.”

Yesus memberikan perumpamaan tentang pohon ara: “Jika rantingnya melembut dan daunnya keluar, kamu tahu musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, di depan pintu. Aku berkata kepadamu: Angkatan ini tidak akan berlalu sebelum semuanya ini terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Nasihat untuk Berjaga-jaga dan Setia (Matius 24:36–51)

Yesus menegaskan: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri. Sebab seperti pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab seperti orang-orang pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu sampai air bah datang dan menghanyutkan mereka, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”

Ia melanjutkan: “Pada waktu itu, dua orang akan berada di ladang; yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan. Dua orang perempuan akan berada di tempat penggilingan; yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan. Karena itu, berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah: jika tuan rumah tahu pada waktu malam pencuri akan datang, ia pasti berjaga dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Yesus menutup dengan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat: “Siapa hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya ketika tuannya datang. Aku berkata kepadamu: tuannya akan mengangkat dia menjadi pengawas atas seluruh miliknya. Tetapi jika hamba itu jahat dan berkata: tuanku lambat datang, lalu mulai memukul teman-temannya, dan makan minum bersama pemabuk, maka tuannya akan datang pada hari yang tidak disangkakannya dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Kesimpulan: Kesiapsiagaan dan Kesetiaan Menantikan Kedatangan-Nya

Matius 24 mengajarkan bahwa kedatangan Yesus yang kedua adalah kepastian, tetapi waktu tepatnya tidak diketahui. Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kesiapsiagaan, berjaga-jaga, dan setia melaksanakan tugas yang dipercayakan. Peristiwa-peristiwa di akhir zaman adalah peringatan agar kita tidak terlena, tetapi tetap berpegang pada firman Tuhan dan menantikan kemuliaan-Nya dengan iman yang teguh.

PASAL 25

Pendahuluan: Kesiapsiagaan dan Penghakiman Terakhir

Matius pasal 25 adalah bagian akhir dari khotbah Yesus di Bukit Zaitun. Pasal ini berisi tiga perumpamaan tentang kesiapsiagaan menghadapi kedatangan Kerajaan Sorga: perumpamaan tentang sepuluh gadis, perumpamaan tentang talenta, dan gambaran tentang penghakiman terakhir. Yesus menekankan pentingnya hidup yang setia, produktif, dan penuh kasih dalam menantikan hari Tuhan.

Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis (Matius 25:1–13)

Yesus menceritakan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga yang diumpamakan seperti sepuluh gadis yang membawa pelita untuk menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis bodoh membawa pelita tetapi tidak membawa minyak cadangan, sedangkan yang bijaksana membawa minyak dalam bejana.

Mempelai laki-laki datang terlambat, dan mereka semua tertidur. Pada tengah malam, ada seruan: “Mempelai datang! Sambutlah dia!” Gadis-gadis itu bangun dan membereskan pelita mereka. Yang bodoh berkata kepada yang bijaksana: “Berikanlah kami sedikit minyakmu, karena pelita kami hampir padam.” Tetapi yang bijaksana menjawab: “Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untukmu. Lebih baik pergilah kepada penjual dan belilah.” Ketika mereka pergi membeli, mempelai laki-laki datang, dan mereka yang sudah siap masuk bersama dia ke ruang perjamuan, lalu pintu ditutup. Kemudian gadis-gadis yang lain datang dan berkata: “Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!” Tetapi ia menjawab: “Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu.” Yesus menutup: “Karena itu, berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu hari maupun saatnya.”

Perumpamaan tentang Talenta (Matius 25:14–30)

Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang akan bepergian dan memanggil hamba-hambanya untuk mempercayakan harta miliknya. Kepada yang pertama ia berikan lima talenta, kepada yang kedua dua talenta, dan kepada yang ketiga satu talenta, masing-masing menurut kemampuannya. Lalu ia pergi.

Hamba yang menerima lima talenta segera mengusahakannya dan mendapat laba lima talenta. Demikian juga yang menerima dua talenta mendapat laba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta pergi menggali lubang di tanah dan menyembunyikan uang tuannya. Setelah lama, tuan itu kembali dan mengadakan perhitungan. Hamba pertama dan kedua mendapat pujian: “Baik sekali, hai hamba yang baik dan setia, engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab atas perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanku.”

Hamba ketiga datang dan berkata: “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah orang yang keras: menuai di tempat yang tidak bertabur dan memungut dari tempat yang tidak ditabur. Karena takut, aku pergi menyembunyikan talenta itu di dalam tanah. Inilah milik tuan.” Tuan itu menjawab: “Hai hamba yang jahat dan malas, engkau tahu bahwa aku menuai di tempat yang tidak bertabur? Karena itu, engkau seharusnya menaruh uangku di bank, supaya pada waktu aku kembali aku menerimanya dengan bunga. Ambillah talenta itu dari padanya, dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi yang tidak mempunyai, apa pun yang ada padanya akan diambil. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap; di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Penghakiman Terakhir: Domba dan Kambing (Matius 25:31–46)

Yesus menggambarkan saat Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dengan semua malaikat, lalu Ia duduk di atas takhta kemuliaan-Nya. Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka satu dari yang lain, seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Domba ditempatkan di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri.

Raja akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan: “Marilah, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku adalah orang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu mengunjungi Aku; ketika Aku di penjara, kamu datang kepada-Ku.” Orang-orang benar akan bertanya: “Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan memberi Engkau makan, atau haus dan memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing dan memberi tumpangan, atau telanjang dan memberi pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau di penjara dan mengunjungi Engkau?” Raja akan menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Kemudian Ia akan berkata kepada mereka yang di sebelah kiri: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu yang terkutuk, ke dalam api yang kekal yang telah disediakan bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku orang asing, kamu tidak memberi tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi pakaian; ketika Aku sakit dan di penjara, kamu tidak mengunjungi Aku.” Mereka akan bertanya: “Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, haus, atau telanjang, dan tidak melayani Engkau?” Raja akan menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya untuk Aku.” Mereka akan pergi ke siksaan kekal, tetapi orang benar ke hidup kekal.

Kesimpulan: Kesiapsiagaan, Produktivitas, dan Kasih

Matius 25 mengajarkan bahwa menantikan Kerajaan Sorga bukanlah sikap pasif, tetapi membutuhkan kesiapsiagaan rohani (perumpamaan gadis), pengelolaan karunia dengan setia (perumpamaan talenta), dan perwujudan kasih kepada sesama (penghakiman domba dan kambing). Yesus menegaskan bahwa pelayanan kepada yang lemah dan menderita adalah pelayanan kepada-Nya sendiri. Pasal ini mengundang kita untuk hidup dengan iman yang aktif dan kasih yang nyata, karena penghakiman terakhir akan mengungkapkan kesetiaan kita.

PASAL 26

Pendahuluan: Jalan Menuju Salib

Matius pasal 26 memulai narasi penderitaan Yesus. Pasal ini mencatat konspirasi untuk membunuh Yesus, pengurapan-Nya di Betania, Perjamuan Malam Terakhir, penegasan Yudas sebagai pengkhianat, penetapan Perjamuan Kudus, doa di Getsemani, penangkapan Yesus, dan penyangkalan Petrus. Pasal ini menunjukkan ketaatan Yesus yang sempurna kepada kehendak Bapa dan kesiapan-Nya untuk meminum cawan penderitaan.

Konspirasi untuk Membunuh Yesus (Matius 26:1–5)

Setelah Yesus menyelesaikan semua pengajaran-Nya, Ia berkata kepada murid-murid: “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, dan Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.” Pada waktu itu, imam-imam kepala dan tua-tua bangsa berkumpul di istana Kayafas, dan mereka merundingkan cara untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan membunuh-Nya. Mereka berkata: “Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.”

Pengurapan Yesus di Betania (Matius 26:6–13)

Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta. Seorang perempuan datang dengan sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal, dan menuangkannya ke atas kepala Yesus. Murid-murid menjadi marah dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Minyak ini dapat dijual dengan harga tinggi dan uangnya diberikan kepada orang miskin.”

Yesus mengetahui hal itu dan berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Ia telah melakukan suatu perbuatan baik terhadap Aku. Karena orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada. Ia menuangkan minyak ini ke tubuh-Ku untuk menguburkan Aku. Aku berkata kepadamu: di mana pun Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan diingat untuk mengingat dia.”

Yudas Setuju untuk Mengkhianati Yesus (Matius 26:14–16)

Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid, pergi kepada imam-imam kepala dan berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, dan aku akan menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Sejak itu, Yudas mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.

Perjamuan Malam Terakhir dan Penetapan Perjamuan Kudus (Matius 26:17–30)

Pada hari pertama Paskah, murid-murid bertanya di mana mereka harus mempersiapkan perjamuan Paskah. Yesus mengutus mereka ke seorang tertentu di kota itu, dan mereka mempersiapkannya. Pada malam hari, Yesus duduk makan bersama kedua belas murid. Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid sangat sedih dan bertanya: “Tuhan, apakah aku ini?” Yesus menjawab: “Orang yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang tertulis tentang Dia, tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu jika ia tidak dilahirkan.” Yudas bertanya: “Rabi, apakah aku ini?” Yesus menjawab: “Engkau telah mengatakannya.”

Selagi mereka makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada murid-murid, berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Ia mengambil cawan, mengucap syukur, memberikannya kepada mereka, dan berkata: “Minumlah, kamu semua, inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Aku berkata kepadamu: mulai sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.” Setelah menyanyikan nyanyian pujian, mereka pergi ke Bukit Zaitun.

Petrus Akan Menyangkal Yesus (Matius 26:31–35)

Yesus berkata: “Pada malam ini kamu semua akan kecewa karena Aku; sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala, dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab: “Sekalipun semua orang kecewa karena Engkau, aku sekali-kali tidak akan kecewa.” Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, pada malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali.” Petrus bersikeras: “Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau.” Semua murid lain juga berkata demikian.

Doa di Getsemani (Matius 26:36–46)

Yesus pergi ke suatu tempat yang bernama Getsemani dan berkata kepada murid-murid: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus, dan Ia mulai bersedih hati dan sangat terharu. Ia berkata: “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati; tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Yesus maju sedikit, sujud, dan berdoa: “Ya Bapa-Ku, jika mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Ia kembali kepada murid-murid dan mendapati mereka tidur. Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu dapat berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Ia pergi lagi untuk kedua kalinya dan berdoa: “Ya Bapa-Ku, jika cawan ini tidak dapat lalu tanpa Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu.” Ia kembali dan mendapati mereka tidur lagi. Ia meninggalkan mereka dan pergi berdoa untuk ketiga kalinya, mengucapkan doa yang sama. Lalu Ia berkata: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, dan Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

Penangkapan Yesus (Matius 26:47–56)

Sementara Yesus masih berbicara, Yudas, salah seorang dari kedua belas murid, datang dengan sejumlah orang yang membawa pedang dan pentung, yang diutus oleh imam-imam kepala dan tua-tua. Yudas memberi tanda: “Orang yang kucium, itulah Dia; tangkaplah Dia.” Ia segera mendekati Yesus dan mencium-Nya. Yesus berkata kepadanya: “Sahabat, untuk itukah engkau datang?” Lalu orang-orang itu memegang Yesus dan menangkap-Nya.

Salah seorang yang bersama Yesus menghunus pedangnya dan memukul hamba imam besar, memotong telinganya. Yesus berkata: “Masukkan pedangmu kembali ke tempatnya, karena semua orang yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang. Atau kaukira, bahwa Aku tidak dapat memanggil Bapa-Ku untuk mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat? Tetapi jika begitu, bagaimanakah Kitab Suci akan digenapi, yang mengatakan bahwa harus terjadi demikian?” Pada waktu itu Yesus berkata kepada orang banyak: “Aku duduk mengajar di Bait Allah setiap hari, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi semuanya ini terjadi supaya digenapi yang tertulis dalam kitab para nabi.” Lalu semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Yesus di Hadapan Mahkamah Agama (Matius 26:57–68)

Yesus dibawa kepada Kayafas, imam besar, di mana ahli-ahli Taurat dan tua-tua berkumpul. Petrus mengikuti dari jauh sampai ke halaman istana imam besar. Imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus untuk membunuh-Nya, tetapi tidak menemukannya, sekalipun banyak saksi palsu maju. Akhirnya dua orang maju dan berkata: “Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari.”

Imam besar berdiri dan bertanya: “Tidakkah Engkau memberi jawaban atas tuduhan-tuduhan mereka terhadap Engkau?” Yesus tetap diam. Imam besar berkata: “Aku bersumpah kepadamu demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah?” Yesus menjawab: “Engkau telah mengatakannya. Tetapi Aku berkata kepadamu: mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Imam besar merobek jubahnya dan berkata: “Ia menghujat! Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang kamu telah mendengar hujat-Nya. Bagaimana pendapatmu?” Mereka menjawab: “Ia harus dihukum mati.” Mereka meludahi muka-Nya dan memukul Dia, dan berkata: “Coba nubuatkan, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?”

Penyangkalan Petrus (Matius 26:69–75)

Petrus duduk di luar di halaman, dan seorang hamba perempuan datang kepadanya dan berkata: “Engkau juga bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.” Petrus menyangkal di depan semua orang: “Aku tidak tahu apa yang engkau maksud.” Ketika ia pergi ke pintu gerbang, hamba lain melihatnya dan berkata: “Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret.” Petrus menyangkal dengan sumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Tidak lama kemudian, orang-orang yang berdiri di situ berkata kepada Petrus: “Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, karena logatmu memperlihatkan itu.” Petrus mulai mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu!” Pada saat itu, ayam berkokok. Petrus teringat akan perkataan Yesus: “Sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali.” Ia pergi ke luar dan menangis dengan sangat.

Kesimpulan: Ketaatan dan Kelemahan Manusia

Matius 26 menunjukkan ketaatan Yesus yang sempurna kepada Bapa di tengah penderitaan yang luar biasa. Ia siap meminum cawan penghakiman demi keselamatan umat manusia. Di sisi lain, pasal ini juga mengungkapkan kelemahan murid-murid: Yudas mengkhianati, Petrus menyangkal, dan semua melarikan diri. Namun, kasih dan pengorbanan Yesus tetap menjadi terang yang menerangi jalan salib, mengingatkan kita bahwa keselamatan hanya mungkin melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

PASAL 27

Pendahuluan: Penyaliban dan Kematian Yesus

Matius pasal 27 mencatat peristiwa penyaliban Yesus secara rinci: penyerahan-Nya kepada Pilatus, kematian Yudas, persidangan di hadapan Pilatus, ejekan para serdadu, penyaliban, kematian, dan penguburan-Nya. Pasal ini menunjukkan penderitaan fisik dan rohani yang luar biasa, tetapi juga mengungkapkan keadilan dan kasih Allah melalui kematian Anak-Nya.

Yesus Diserahkan kepada Pilatus (Matius 27:1–2)

Pagi-pagi, semua imam kepala dan tua-tua bangsa merundingkan rencana untuk membunuh Yesus. Mereka membelenggu Dia, membawa-Nya, dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri Romawi.

Kematian Yudas (Matius 27:3–10)

Ketika Yudas, yang menyerahkan Yesus, melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, ia menyesal. Ia mengembalikan tiga puluh uang perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tidak bersalah.” Mereka menjawab: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri.” Yudas melemparkan uang itu ke dalam Bait Allah, lalu pergi dan menggantung diri. Imam-imam kepala mengambil uang itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, karena itu harga darah.” Mereka membeli tanah pekuburan dari tukang periuk untuk tempat penguburan orang asing. Itulah sebabnya tanah itu disebut “Tanah Darah” sampai sekarang, menggenapi nubuat Yeremia.

Persidangan di Hadapan Pilatus (Matius 27:11–26)

Yesus berdiri di hadapan gubernur, dan Pilatus bertanya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Yesus menjawab: “Engkau sendiri mengatakannya.” Ketika imam-imam kepala dan tua-tua menuduh-Nya, Yesus tidak menjawab. Pilatus heran dan bertanya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau?” Yesus tidak menjawab satu perkataan pun.

Pada setiap perayaan Paskah, gubernur biasa membebaskan seorang tahanan yang dipilih oleh rakyat. Pada waktu itu ada seorang tahanan terkenal bernama Barabas. Pilatus bertanya: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” Ia tahu bahwa mereka menyerahkan Yesus karena iri hati. Sementara itu, istrinya mengirim pesan: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, karena aku telah sangat menderita dalam mimpi karena Dia.”

Imam-imam kepala dan tua-tua menghasut orang banyak untuk meminta Barabas dan membunuh Yesus. Pilatus bertanya: “Jika aku membebaskan Barabas bagimu, apa yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua menjawab: “Salibkan Dia!” Pilatus berkata: “Tetapi kejahatan apa yang telah dilakukan-Nya?” Mereka berseru lebih keras: “Salibkan Dia!” Pilatus melihat bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa, malah timbul keributan, maka ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak, berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusanmu sendiri!” Seluruh rakyat menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Lalu Pilatus membebaskan Barabas, dan setelah menyesah Yesus, ia menyerahkan-Nya untuk disalibkan.

Yesus Diolok-olok oleh Serdadu (Matius 27:27–31)

Prajurit-prajurit gubernur membawa Yesus ke gedung pengadilan dan mengumpulkan seluruh pasukan di sekitar-Nya. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu, membuat mahkota dari duri dan menaruhnya di kepala-Nya, lalu memberi-Nya sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olok-Nya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya, mengambil buluh itu dan memukulkan-Nya ke kepala. Setelah mengolok-olok, mereka menanggalkan jubah itu, mengenakan pakaian-Nya kembali, dan membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Penyaliban Yesus (Matius 27:32–44)

Dalam perjalanan, mereka memaksa seorang dari Kirene bernama Simon untuk memikul salib Yesus. Mereka tiba di tempat yang disebut Golgota, artinya “Tempat Tengkorak.” Mereka memberi Yesus minum anggur yang dicampur empedu, tetapi setelah merasanya, Ia tidak mau meminumnya. Setelah menyalibkan Dia, mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi, lalu mereka duduk dan menjaga Dia di situ. Mereka memasang tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah Yesus, Raja orang Yahudi.”

Bersama Yesus disalibkan dua penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri. Orang-orang yang lewat menghujat Dia dan menggelengkan kepala, berkata: “Engkau yang hendak merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu sendiri, jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib!” Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua juga mengolok-olok Dia, berkata: “Orang lain diselamatkan-Nya, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat diselamatkan. Ia Raja Israel? Turunlah sekarang dari salib, maka kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh kepercayaan kepada Allah; biarlah Allah melepaskan-Nya sekarang, jika Allah mengasihi-Nya. Sebab Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Para penyamun yang disalibkan bersama Dia juga mencela Dia.

Kematian Yesus dan Peristiwa Ajaib (Matius 27:45–54)

Mulai dari jam dua belas siang, kegelapan meliputi seluruh daerah sampai jam tiga petang. Kira-kira jam tiga, Yesus berseru dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Mendengar itu, sebagian orang berkata: “Ia memanggil Elia.” Salah seorang segera mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, dan memberikannya kepada Yesus untuk diminum. Tetapi yang lain berkata: “Biarkan, kita lihat apakah Elia datang menyelamatkan Dia.” Yesus berseru lagi dengan suara nyaring, lalu menyerahkan nyawa-Nya.

Pada saat itu, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah; bumi bergoncang, batu-batu terbelah, kuburan-kuburan terbuka, dan banyak orang kudus yang telah mati bangkit. Mereka keluar dari kuburan sesudah kebangkitan Yesus, masuk ke kota kudus, dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika melihat gempa bumi dan peristiwa-peristiwa itu, dan berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!”

Kesaksian Perempuan-perempuan (Matius 27:55–56)

Banyak perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia berdiri di situ dan melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.

Penguburan Yesus (Matius 27:57–61)

Menjelang malam, seorang kaya bernama Yusuf dari Arimatea, yang juga seorang murid Yesus, pergi kepada Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan agar mayat itu diserahkan. Yusuf mengambil mayat itu, membungkusnya dengan kain lenan yang bersih, dan membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digali di dalam bukit batu. Ia menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur dan pergi. Maria Magdalena dan Maria yang lain ada di situ, duduk di hadapan kubur itu.

Penjagaan Kubur (Matius 27:62–66)

Keesokan harinya, yaitu setelah hari persiapan, imam-imam kepala dan orang Farisi pergi bersama-sama kepada Pilatus dan berkata: “Tuan, kami teringat bahwa si penyesat itu berkata ketika masih hidup: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu, perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari ketiga, supaya murid-murid-Nya jangan datang mencuri mayat-Nya dan berkata kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati.” Pilatus berkata: “Pergilah, jagalah sebaik-baiknya.” Mereka pergi dan menjadikan kubur itu aman dengan menutup batu dan menempatkan penjaga.

Kesimpulan: Kematian yang Membawa Kemenangan

Matius 27 menggenapi semua nubuat tentang Mesias yang menderita. Yesus mati dengan cara yang paling hina, namun kematian-Nya disertai dengan tanda-tanda ajaib yang menunjukkan keilahian-Nya dan kuasa penghakiman. Kubur yang dijaga ketat tidak dapat menahan-Nya, dan pasal ini menjadi jembatan menuju kebangkitan yang akan dinyatakan dalam pasal berikutnya. Kematian Yesus adalah pengorbanan yang sempurna untuk pengampunan dosa bagi semua orang yang percaya.

PASAL 28

Pendahuluan: Kebangkitan dan Amanat Agung

Matius pasal 28 adalah puncak dari seluruh Injil. Pasal ini mencatat kebangkitan Yesus dari antara orang mati, penampakan-Nya kepada para perempuan, laporan penjaga tentang peristiwa itu, dan Amanat Agung yang diberikan kepada murid-murid. Kebangkitan Yesus menegaskan identitas-Nya sebagai Anak Allah dan menjadi dasar iman Kristen, serta memberdayakan gereja untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa.

Kebangkitan Yesus dan Penampakan kepada Para Perempuan (Matius 28:1–10)

Setelah hari Sabat berlalu, pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi sekali, Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi ke kubur untuk melihatnya. Terjadilah gempa bumi yang besar, karena seorang malaikat Tuhan turun dari langit, menggulingkan batu itu dan duduk di atasnya. Wajahnya seperti kilat dan pakaiannya putih seperti salju. Penjaga-penjaga itu ketakutan dan menjadi seperti orang mati.

Malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut, karena aku tahu bahwa kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia dibaringkan. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya: Ia telah bangkit dari antara orang mati, dan Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.” Mereka segera pergi dari kubur dengan takut dan sukacita yang besar, dan berlari untuk memberitahukannya kepada murid-murid.

Tiba-tiba Yesus bertemu dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekat dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Yesus berkata: “Jangan takut. Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sana mereka akan melihat Aku.”

Laporan Penjaga Kubur (Matius 28:11–15)

Ketika perempuan-perempuan itu pergi, beberapa penjaga pergi ke kota dan memberitahukan kepada imam-imam kepala segala yang terjadi. Imam-imam kepala berkumpul dengan tua-tua, lalu memberi sejumlah besar uang kepada prajurit-prajurit itu, dan berkata: “Katakanlah: murid-murid-Nya datang pada malam hari dan mencuri-Nya ketika kami tidur. Dan jika hal ini terdengar oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak akan mendapat susah.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan. Cerita ini tersebar di antara orang Yahudi sampai hari ini.

Amanat Agung (Matius 28:16–20)

Kesebelas murid pergi ke Galilea, ke gunung yang telah ditentukan Yesus. Ketika mereka melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Kesimpulan: Kuasa, Kehadiran, dan Misi

Matius 28 menutup Injil dengan kemenangan kebangkitan dan panggilan universal untuk menjangkau semua bangsa. Kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa maut telah dikalahkan, dan semua kuasa di sorga dan di bumi diberikan kepada-Nya. Amanat Agung bukan sekadar perintah, tetapi undangan untuk ikut serta dalam misi Allah, dengan jaminan bahwa Yesus senantiasa menyertai kita sampai akhir zaman. Pasal ini mengingatkan bahwa iman kita berpusat pada pribadi yang hidup, dan kita dipanggil untuk menjadi saksi-Nya di seluruh dunia.