Edisi 12 – Matius 6:25-34 “Kekhawatiran” Seri Khotbah di Bukit

Matius 6:25-34 [TB2-LAI©2023]
Kekhawatiran25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih dari pada makanan dan tubuh itu lebih dari pada pakaian?
26Pandanglah burung-burung di udara, tidak menabur, tidak menuai dan tidak mengumpulkan dalam lumbung, namun Bapamu yang di surga memberi mereka makan. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? 27 Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 28 Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, bagaimana mereka tumbuh: mereka tidak bekerja keras dan tidak memintal. 29 Namun, Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30 Jadi jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, demikian didandani Allah, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31 Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, padahal Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Karena itu, janganlah khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
Hal kekhawatiran22 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan, dan janganlah khawatir tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. 23 Sebab, hidup itu lebih daripada makanan dan tubuh itu lebih daripada pakaian. 24 Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur, tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun Allah memberi mereka makan. Kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu!25 Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? 26 Jadi, jikalau kamu tidak sanggup melakukan hal yang sekecil itu, mengapa kamu khawatir tentang hal-hal lain? 27 Perhatikanlah bunga bakung, bagaimana mereka tumbuh: Mereka tidak bekerja keras dan tidak memintal. Namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 28 Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!
29 Jadi, janganlah mencari apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. 30 Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Padahal Bapamu tahu, bahwa kamu memerlukannya. 31Tetapi carilah Kerajaan-Nya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
32 Janganlah takut, hai Kamu kawanan kecil, karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. 33 Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat. 34 Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
I. Pengantar
Khawatir adalah suatu keadaan takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti; [KBBI] di mana hampir setiap orang pernah mengalaminya, bahkan ada orang yang tidak pernah tidak khawatir. Banyak orang yang karena sangat tersiksa oleh karena khawatir, mencari solusi dengan mencari hiburan, minuman keras, obat terlarang atau bahkan berbuat kejahatan.
Lalu, bagaimana dengan orang Kristen yang setiap hari hidup bergaul dengan Tuhan, rajin membaca firman, rajin berdoa, apakah punya jaminan pasti tidak akan merasa khawatir? Tidak juga… Selama masih hidup di dunia ini, setiap orang bisa saja mengalami kekhawatiran.
II. Kekhawatiran
1. Penyebab timbulnya kekhawatiran
Kekhawatiran biasanya bermula ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak pasti atau merasa terancam oleh sesuatu yang dianggap dapat mengganggu kehidupannya. Penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti masalah keuangan, kesehatan, pekerjaan, keluarga, masa depan, atau ketakutan kehilangan sesuatu yang berharga. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali atas keadaan tersebut, pikirannya mulai membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Kekhawatiran muncul ketika pikiran terus-menerus memusatkan perhatian pada sesuatu yang belum terjadi. Seseorang mulai bertanya-tanya: Bagaimana kalau Anda kehilangan pekerjaan? Bagaimana kalau uang Anda tidak cukup? Bagaimana kalau penyakit Anda semakin parah? Bagaimana kalau masa depan Anda tidak seperti yang diharapkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi bayangan buruk yang berulang-ulang dalam pikiran. Akibatnya, seseorang mulai mengalami ketakutan terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Jika berlangsung terus-menerus, kekhawatiran dapat menguras energi pikiran dan emosi. Seseorang menjadi sulit tidur, kehilangan konsentrasi, mudah tersinggung, bahkan mengalami gangguan kesehatan. Ketika tekanan pikiran semakin berat dan seseorang merasa tidak mampu lagi menghadapinya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi stres. Dengan demikian, kekhawatiran yang tidak terkendali dapat memengaruhi kesehatan fisik, mental, dan kualitas kehidupan seseorang.
Dalam Matius 6:25-34 dan Lukas 12:22-34, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kekhawatiran manusia sering kali berhubungan dengan kebutuhan hidup dan ketidakpastian masa depan. Tuhan Yesus tidak menyangkal bahwa manusia memiliki kebutuhan dan menghadapi persoalan nyata. Namun, Ia mengingatkan agar manusia tidak membiarkan pikirannya dikuasai oleh ketakutan terhadap hari esok. Kehidupan manusia berada dalam pemeliharaan Allah. Karena itu, manusia perlu belajar mempercayakan hidupnya kepada Allah dan menjalani setiap hari dengan iman, tanpa membebani dirinya dengan kecemasan terhadap hal-hal yang belum terjadi.
2. Jenis-jenis sumber kekhawatiran
Sumber masalah yang menyebabkan seseorang mengalami kekhawatiran sangat beragam, antara lain:
- Masalah keuangan – Penghasilan tidak mencukupi kebutuhan hidup, utang menumpuk, kehilangan pekerjaan, kebutuhan hidup meningkat, atau takut kehabisan tabungan, dapat menimbulkan kecemasan tentang kelangsungan hidup.
- Masalah kesehatan – Seseorang mungkin takut menderita penyakit berat, menghadapi operasi, mengalami penurunan kondisi fisik, atau kehilangan orang yang dicintai karena sakit.
- Masalah keluarga – kekhawatiran dapat muncul akibat konflik suami istri, anak yang bermasalah, hubungan keluarga yang tidak harmonis, perceraian, atau ketidakpastian masa depan anak. Persoalan pekerjaan dan karier, seperti takut kehilangan pekerjaan, tekanan dari atasan, target yang tidak tercapai, persaingan, dan ketidakpastian masa depan pekerjaan, juga dapat menjadi beban pikiran.
- Masalah seputar pendidikan – seseorang dapat merasa khawatir karena takut gagal dalam ujian, tidak diterima di perguruan tinggi, kesulitan menyelesaikan pendidikan, atau tidak memperoleh pekerjaan setelah lulus. Sementara itu, dalam hubungan sosial, kekhawatiran dapat timbul akibat konflik dengan orang lain, penolakan, kehilangan kepercayaan, tekanan lingkungan, atau takut terhadap penilaian orang lain.
- Masalah keamanan dan keselamatan – seperti takut mengalami kecelakaan, menjadi korban kejahatan, menghadapi bencana alam, peperangan, atau kehilangan tempat tinggal. Ada pula kekhawatiran tentang masa depan, seperti takut menghadapi hari tua, tidak memiliki persiapan hidup, atau merasa tidak mempunyai kepastian dalam menjalani kehidupan.
- Masalah traumatis masa lalu – juga dapat memengaruhi pikiran seseorang. Kegagalan, penyesalan, keputusan yang salah, kehilangan kesempatan, atau pengalaman traumatis dapat menimbulkan ketakutan bahwa peristiwa serupa akan terulang kembali.
- Masalah kehidupan spiritual – kekhawatiran dapat muncul ketika seseorang khawatir akan akhir hidupnya, takut menghadapi penghakiman Allah, merasa hidupnya kotor dan jauh dari Allah, merasa kehilangan pegangan iman, atau doa belum dijawab.
Waspadalah terhadap masalah-masalah tersebut yang dapat menjadi sumber kekhawatiran yang membahayakan. Manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan keadaan dan memastikan apa yang akan terjadi pada masa depan, jadi ketika pikiran terus-menerus dibebani oleh berbagai kemungkinan buruk, kekhawatiran dapat berkembang menjadi tekanan mental yang semakin berat.
3. Ketika Kekhawatiran Menguasai Pikiran dan Hati
Ketika kekhawatiran mulai menguasai pikiran dan hati, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Pikirannya terus-menerus dipenuhi oleh persoalan yang dihadapi dan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Ia sulit berkonsentrasi, mudah panik, sulit mengambil keputusan, dan cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif. Bahkan, persoalan kecil dapat terasa sangat besar karena pikirannya sudah dipenuhi oleh ketakutan.
Secara psikologis, kekhawatiran yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan tekanan mental yang berat. Seseorang dapat mengalami gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, mudah marah, merasa gelisah, dan kehilangan semangat menjalani kehidupan. Dalam kondisi yang lebih berat, kecemasan dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi. Ada pula orang yang merasa tidak berdaya, kehilangan harapan, dan menganggap dirinya tidak mampu lagi menghadapi persoalan hidup. Jika tidak ditangani dengan baik, keadaan ini dapat mengganggu hubungan keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sosialnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, depresi merupakan masalah kesehatan jiwa yang perlu mendapat perhatian serius. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi depresi sebesar 6,1% pada penduduk berusia 15 tahun ke atas. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat angka sebesar 1,4% pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Namun, kedua angka tersebut tidak dapat langsung dibandingkan untuk menyimpulkan bahwa depresi di Indonesia mengalami penurunan. Perbedaan metode pengukuran dan definisi yang digunakan dalam kedua survei perlu diperhitungkan.
SKI 2023 juga menemukan bahwa kelompok usia 15–24 tahun memiliki prevalensi depresi sebesar 2%, tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Fakta lain yang memprihatinkan adalah hanya sekitar 10,4% anak muda yang mengalami depresi mencari pengobatan. Data Kementerian Kesehatan yang disampaikan pada November 2026 menyebutkan bahwa sekitar 3 juta penduduk Indonesia mengalami depresi, tetapi baru 12,7% yang mendapatkan pengobatan. Data tersebut menunjukkan bahwa depresi merupakan persoalan kesehatan jiwa yang nyata di Indonesia. Jumlah penderitanya mencapai jutaan orang, sementara sebagian besar belum memperoleh penanganan. Depresi tidak boleh dianggap sekadar kesedihan, kurang bersyukur, atau lemahnya iman. Depresi merupakan gangguan kesehatan yang membutuhkan pemahaman, dukungan keluarga, dan penanganan medis yang tepat.
Dari sisi kerohanian, kekhawatiran yang tidak terkendali dapat melemahkan iman dan kepercayaan seseorang kepada Allah. Perhatiannya semakin terpusat pada masalah, sedangkan kepercayaannya kepada pemeliharaan Allah semakin berkurang. Dalam keadaan seperti ini, seseorang menjadi lebih mudah tergoda untuk mencari jalan keluar dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Allah. Misalnya, karena takut kehilangan uang, ia tergoda melakukan penipuan atau mengambil hak orang lain. Karena takut kehilangan pasangan, ia melakukan tindakan yang merusak hubungan. Karena merasa terdesak oleh keadaan, ia mungkin memilih kebohongan, kecurangan, bahkan tindakan kekerasan.
Alkitab mengingatkan bahwa Iblis dapat memanfaatkan kelemahan dan ketakutan manusia untuk mencobai serta menyesatkan pikirannya. Dalam 1 Petrus 5:8, Iblis digambarkan seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Sementara itu, Yakobus 1:14-15 menjelaskan bahwa seseorang dapat terseret dan terpikat oleh keinginannya sendiri, kemudian keinginan itu melahirkan dosa. Karena itu, penting untuk memahami bahwa kekhawatiran bukan dengan sendirinya berarti seseorang sedang dikuasai Iblis atau pasti akan melakukan kejahatan. Namun, ketakutan yang tidak dikendalikan dapat menjadi celah bagi godaan ketika seseorang mulai mengabaikan kebenaran dan memilih jalan yang salah.
Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan agar manusia tidak membiarkan kekhawatiran menguasai kehidupannya. Dalam Matius 6:33-34, Tuhan Yesus mengarahkan perhatian manusia kepada Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya serta mengajarkan agar setiap hari dijalani sesuai dengan persoalan hari itu. Orang percaya perlu menjaga pikiran dan hatinya, membangun kepercayaan kepada Allah, berdoa, serta mencari pertolongan yang tepat ketika tekanan mental menjadi berat. Dengan demikian, persoalan hidup tidak mengambil alih seluruh pikirannya dan tidak mendorongnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah.
4. Belajar dari Tokoh-tokoh Alkitab Dalam Menyikapi Kekhawatiran
Alkitab mencatat beberapa tokoh yang mengalami tekanan berat ketika menghadapi persoalan hidup. Mereka mengalami ketakutan, kesedihan, keputusasaan, bahkan merasa tidak sanggup lagi menjalani kehidupan. Namun, menarik untuk diperhatikan bagaimana masing-masing tokoh akhirnya menghadapi pergumulan tersebut.
- Nabi Elia – mengalami ketakutan setelah diancam oleh Izebel. Ia melarikan diri ke padang gurun, duduk di bawah pohon arar, dan meminta agar Tuhan mengambil nyawanya (1 Raja-raja 19:1-4). Tuhan menolong Nabi Elia dengan memberikan makanan dan istirahat. Kemudian, Tuhan berbicara kepadanya dan memberikan tugas baru untuk dilaksanakan (1 Raja-raja 19:5-18). Nabi Elia kembali menjalankan panggilannya.

Nabi Elia - Ayub – mengalami penderitaan luar biasa setelah kehilangan anak-anaknya, harta benda, dan kesehatannya. Dalam kesedihannya, ia mengutuki hari kelahirannya dan mempertanyakan penderitaan yang dialaminya (Ayub 3:1-26). Meskipun demikian, Ayub tetap membawa pergumulannya kepada Allah. Pada akhirnya, Allah menjawab Ayub dan memulihkan keadaannya (Ayub 38–42). Ayub menyadari keterbatasan pemahamannya di hadapan Allah (Ayub 42:1-6).
- Daud – berkali-kali mengalami tekanan ketika dikejar-kejar oleh Raja Saul dan menghadapi ancaman musuh. Dalam Mazmur 6:7-8, ia menggambarkan kesedihan yang membuatnya menangis sepanjang malam. Namun, Daud terus mencurahkan isi hatinya kepada Allah melalui doa. Dalam banyak mazmur, ia mengungkapkan ketakutannya sekaligus menyatakan kembali kepercayaannya kepada Allah. Salah satu contohnya terdapat dalam Mazmur 56:4-5, ketika ia menyatakan bahwa pada waktu takut, ia akan percaya kepada Allah.
- Musa – pernah merasa sangat terbebani oleh tanggung jawab memimpin bangsa Israel. Ia bahkan menyampaikan kepada Tuhan bahwa beban itu terlalu berat baginya (Bilangan 11:11-15). Allah kemudian memerintahkan Musa untuk mengumpulkan tujuh puluh tua-tua Israel agar mereka turut memikul tanggung jawab kepemimpinan (Bilangan 11:16-17). Musa menerima bantuan tersebut dan tidak harus menanggung seluruh beban seorang diri.
- Nabi Yeremia – mengalami kesedihan dan tekanan batin karena penolakan serta penderitaan dalam menjalankan tugas kenabiannya. Ia bahkan mengutuki hari kelahirannya karena beratnya penderitaan yang dialami (Yeremia 20:7-18). Meskipun demikian, Nabi Yeremia tetap menyampaikan firman Tuhan. Ia menyadari bahwa firman Tuhan menjadi seperti api yang menyala dalam hatinya sehingga tidak sanggup ia tahan (Yeremia 20:9). Ia terus menjalankan tugas kenabiannya meskipun harus menghadapi banyak penderitaan.
- Hana – mengalami kesedihan mendalam karena belum mempunyai anak dan terus-menerus mendapat perlakuan menyakitkan dari Penina. Kesedihannya begitu besar sehingga ia menangis dan tidak mau makan (1 Samuel 1:6-10). Hana kemudian mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan melalui doa dan menyerahkan pergumulannya kepada-Nya. Setelah berdoa, ia tidak lagi menunjukkan kesedihan seperti sebelumnya (1 Samuel 1:18). Pada akhirnya, Tuhan mengabulkan doanya dan memberikan seorang anak laki-laki, yaitu Samuel (1 Samuel 1:19-20).
- Rasul Paulus – mengalami tekanan yang sangat berat dalam pelayanannya. Dalam 2 Korintus 1:8-9, ia menceritakan bahwa penderitaan yang dialaminya di Asia begitu berat sehingga ia merasa tidak sanggup lagi bertahan. Namun, pengalaman tersebut mengajarkannya untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi mengandalkan Allah yang membangkitkan orang mati. Paulus tetap melanjutkan pelayanannya dengan mengandalkan pertolongan Allah.
Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa tekanan, ketakutan, kesedihan, dan keputusasaan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk orang-orang yang memiliki iman kepada Allah. Mereka tidak selalu langsung menemukan jalan keluar dari persoalannya. Ada yang mendapatkan pertolongan melalui pemulihan keadaan, ada yang menerima bantuan orang lain, dan ada pula yang memperoleh kekuatan untuk tetap menjalankan tugasnya di tengah penderitaan. Namun, mereka memiliki satu kesamaan: mereka membawa pergumulan hidupnya kepada Allah dan belajar mengandalkan pertolongan-Nya.
III. Renungan
- Coba periksa diri Anda saat ini, apakah Anda sedang membiarkan pikiran dipenuhi oleh ketakutan terhadap sesuatu yang belum terjadi, seperti masalah keuangan, kesehatan, keluarga, atau masa depan? Apakah kekhawatiran tersebut mulai mengganggu ketenangan hati, tidur, hubungan dengan orang lain, dan aktivitas sehari-hari? (Matius 6:25-27)
- Ketika menghadapi persoalan, apakah Anda lebih banyak memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi dibandingkan mengingat pemeliharaan Allah selama ini? Sejauh mana Anda sungguh-sungguh percaya bahwa Allah mengetahui kebutuhan hidup Anda? (Matius 6:31-32)
- Apakah kekhawatiran telah membuat Anda kehilangan sukacita, sulit berpikir jernih, atau bahkan tergoda mengambil jalan pintas yang bertentangan dengan firman Tuhan? Apakah Anda bersedia menyerahkan ketakutan tersebut kepada Allah dan menolak segala godaan untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang salah? (1 Petrus 5:7-9; Yakobus 1:14-15)
- Ketika menghadapi persoalan yang belum menemukan jalan keluar, apakah Anda sudah membawa semuanya kepada Allah melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur, atau justru terus-menerus memelihara kecemasan dalam pikiran? (Filipi 4:6-7)
- Apakah Anda sudah belajar menjalani kehidupan sehari demi sehari, melakukan apa yang menjadi tanggung jawab Anda hari ini, dan mempercayakan hari esok kepada Allah? Maukah Anda mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, sebagaimana diajarkan Tuhan Yesus? (Matius 6:33-34)
IV. Doa
“Serahkanlah kekhawatiranmu kepada TUHAN,
maka Ia akan memelihara engkau!
Dia tidak membiarkan
orang benar goyah.”
Mazmur 55:23
[TB2-LAI©2023]
Amin.
