Labor & Purpose – Ps. Landong Siringo – IFGF Bekasi

By Febrian 11 Oktober 2026
Labor & Purpose
Ps. Landong Siringo – IFGF Bekasi
Kejadian 37 tentang Yusuf
Yusuf harus mengalami berbagai dinamika kehidupannya. Semuanya itu harus dijalaninya (Labor), demi Menggenapi rancangan Allah yang besar di kemudian hari (Purpose).
Ada ilustrasi:
Ada 2 orang yang bersahabat di tahun 1960an. Namanya Bp. Joan Chen di US dan Bp. Yan di Hong Kong. Hubungan mereka dilakukan hanya lewat surat menyurat. Persahabatan mereka yang terpisah oleh lautan dan surat menyurat akhirnya suatu saat lost contact.
Bertahun-tahun kemudian Bp. Yan pindah ke Amerika, karena penasaran maka ia searching nama via internet dan ternyata nama Joan Chen ada lebih dari 100 nama. “Sahabat di seberang lautan” akhirnya diketemukan setelah sekian lamanya.
Kisah Yusuf agak berbeda dengan kisah Bp. Yan.
1. Understanding your impact, not only Intention
Kejadian 37:1-4
Yakub lebih mengasihi Yusuf dan sekaligus menjadikannhs jadi dibenci oleh saudara-saudaranya. Yakub pilih kasih.
Intensi vs Respons
Cara Yakub mengasihi Yusuf yang pilih kasih (Intensi), tidak sadar menghasilkan kecemburuan (Intensi). Yusuf sendiri juga mengatakan banyak ucapan yang menceritakan mimpinya (Intensi), tidak sadar membuat saudaranya semakin benci kepadanya (Respons).
Niat mungkin baik, tapi tidak bijaksana yang tidak sadar membuat orang jadi kecewa terhadap kita. Orang lain jadi salah arti dengan maksud kita.
Understanding your impact, not only Intention = berkacalah apa dampak dari perbuatan kita, bukan hanya berfikir mau bikin apa.
Motivasi dari perbuatan
Ada suatu kisah di Timur Tengah, adat Patriarchat sangat kental dan dijalankan secara patuh. Di daerah Suriah ada demo masyarakat kepada Pemerintah.
Hukuman seorang ibu menyetir di jalan raya. Ia ditangkap dan dihukum. Ibu-ibu berdemonstrasi, protes bahwa bukan menentang pemerintah, tapi cuma ibu-ibu yang kerepotan harus mengantar anak sekolah, berbelanja dsb, harus naik kendaraan umum dsb.
Kisah kedua, Hakim Alm. Frank Caprio di US, seorang Kakek usia 90 tahun, ditangkap dan sidang tilang. Waktu ditanya apa alasannya melanggar lampu merah, Bapak tua itu menjawab bahwa ia harus buru-buru ke RS mengantar anaknya cuci darah. Ia tidak pikir panjang lagi untuk menunggu lampu merah.
Waktu ditanya berapa usia anaknya, kakek itu menjawab ternyata 65 tahun. Hakim Frank Caprio menangis. Ia akhirnya membebaskan sang ayah itu. Betapa hebatnya sang ayah di usia berapapun, apapun dilakukan demi anaknya.
Catat ini: Kita tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, tapi juga harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
2. Memahami orang lain dari sudut pandangnya
Kejadian 37:5-8
Apa yang Yusuf katakan tidak dengan niat buruk. Tetapi perkataan Yusuf diterima kakak-kakaknya dengan sakit hati.
Kadangkala sekarang kita membaca media sosial. Jika ada orang yang publish berita atau status dirinya, namun ada saja netizen yang menjadi Haters. Sakit hati pemilik akun tersebut. Perkataan yang diucapkan mungkin dikatakan atau ditulis tanpa niat buruk, tetapi dampaknya menyakitkan buat orang lain.
Ada seorang buku judulnya “How to ein friends and influence people”.
Jangan berpikir bagaimana orang bisa memahami saya, sebaliknya katakan “Bagaimana saya bisa memahami orang itu.”
Tidak penting orang lain memahami kita, yang penting kita bisa paham orang lain.
Coba ingat wajah dan nama orang. Jika bertanya tentang apa yang ia sedang kerjakan saat ini, ingatlah itu. Rekam dan jangan lupakan. Suatu kali jangan bertanya seolah belum pernah bertanya. Itu menyakitkan.
Kisah Yusuf menggambarkan hanya ingin bercerita, tapi karena tidak bijak, maka ia mengakibatkan sakit hati di kakak-kakaknya.
Dalam berhubungan dengan sesama, perlu kita memiliki “Empati” dan “Perkataan yang membangun”. Saling mengasihi itu bukan hanya di dalam hati, melainkan harus dalam perbuatan.
Centre for Creative Leaders (CCF) berkesimpulan:
Empati dari rekan kerja berdampak langsung terhadap kinerja yang baik.
Riset CCF dilakukan terhadap 6700 orang Manager di seluruh dunia: perusahaan lebih sukses dan berhasil karena pimpinan memiliki Empati yang dirasakan anak buahnya.
Belajar Memahami dan Mendengar
Seolah-olah itu pekerjaan mudah, tapi ternyata sulit. Mendengar itu jauh lebih sulit daripada berbicara. Mendengar artinya memahami apa kondisi atau apa yang sedang dialami seseorang.
Yakobus 1:19-20 (TB)
19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Understanding Situations
Yusuf menceritakan mimpinya tentang matahari dan bulan bintang sujud kepadanya. Ayah Yakub menegur dirinya. Yusuf dibenci kakak-kakaknya semakin.
Penting menjadi bijaksana:
Tidak penting menyampaikan semua yang kita pikirkan, tetapi penting memikirkan apa dampak dari perkataan kita.
Pahami apa dampak perkataan kita, bukan hanya mau bicara apa. Tidak semua situasi harus dijawab. Bisa dengan diam.
Amin.
