Edisi 15 – (Joyous in the Lord) Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan – seri Renungan Pagi

By Febrian 22 September 2026 04:23 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan yang lalu kita sudah membahas tentang “Sehati Sepikir dalam Tuhan“, sedangkan saat ini kita akan merenungkan nasihat rasul Paulus untuk bersukacita senantiasa di dalam Tuhan. Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.


Bersukacita senantiasa dalam Tuhan
(Rangkaian Nasihat-nasihat Terakhir Rasul Paulus)

Filipi 4:4 [TB2-LAI©2023] Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!


I. Pengantar

Ketika pesan tentang sukacita itu dituliskan, keadaan di sekitar penulisnya sungguh jauh dari kata nyaman. Rasul Paulus menuliskan nasihat tersebut dari balik kurungan sebagai seorang tahanan di kota Roma, sekitar tahun 60 hingga 62 Masehi. Walaupun berada dalam belenggu rantai di bawah pengawasan ketat prajurit istana dan harus menghadapi ketidakpastian hidup serta ancaman hukuman mati, hati serta pikirannya tidak sedikit pun terkurung oleh tembok penjara. Justru dari tempat yang sangat terbatas itulah lahir ungkapan hidup yang penuh dengan rasa syukur, kedamaian, dan sukacita yang melimpah.


II. Sukacita sebagai suatu perintah Allah

1. Kekristenan mengajar bersukacita bukannya prihatin

a. Mengapa banyak yang percaya ‘Prihatin’ itu lebih baik dari ‘Bersukacita’?

Mengapa Allah sendiri memerintahkan kita manusia untuk bersukacita? Kok bukannya prihatin seperti ajaran lain di dunia?

Kehilangan sukacita

Secara umum, praktik keprihatinan atau penahanan diri di luar ajaran Kristen diwujudkan melalui beberapa bentuk tindakan utama. Pertama, terdapat latihan fisik yang ketat seperti berpuasa dalam jangka waktu panjang, membatasi porsi makan dan waktu tidur, serta menolak berbagai kenyamanan hidup sehari-hari. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk melatih ketahanan jiwa, mengendalikan hawa nafsu, dan membersihkan diri dari ikatan kebiasaan buruk. Ke dua, ada pula praktik pelepasan hal-hal materi, di mana seseorang memilih hidup bersahaja, membatasi kepemilikan harta benda, atau bahkan meninggalkan kesenangan duniawi. Hal ini dipandang sebagai langkah untuk melatih ketidakikatan hati pada kekayaan, menumbuhkan rasa empati kepada sesama yang berkekurangan, serta menjaga kemurnian pikiran agar dapat lebih terfokus pada pencarian ketenangan batin dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Istilah prihatin yang sering dikenal dalam budaya atau ajaran kepercayaan tertentu biasanya merujuk pada penderitaan yang sengaja dicari, penyiksaan diri, atau penolakan terhadap hal-hal jasmani demi memperoleh kesucian, kekuatan spiritual, atau untuk menyenangkan Tuhan. Konsep seperti ini tidak diajarkan di dalam Alkitab.

b. Alkitab mengajar untuk bersukacita bukan mengajarkan hidup dalam keprihatinan

Alkitab tidak pernah mengajar manusia untuk sengaja menderita, menyiksa tubuh, atau menganggap bahwa tubuh dan dunia fisik adalah sesuatu yang jahat. Tubuh dan segala sesuatu yang diciptakan Allah pada dasarnya adalah baik dan untuk dinikmati dengan rasa syukur. Penyesalan diri atau penderitaan yang dibuat-buat tidak memiliki kuasa untuk mengubah hati atau mendekatkan seseorang kepada Allah.

Sikap menahan diri seperti berpuasa memang ada di dalam Alkitab, namun tujuannya bukan untuk penderitaan itu sendiri atau untuk menumpuk jasa. Puasa dilakukan untuk fokus berdoa, merendahkan hati di hadapan Allah, dan memperkuat hubungan dengan-Nya, bukan sebagai tindakan prihatin yang mencari penderitaan demi kesucian spiritual. Puasa itu fokusnya pada Tuhan, bukan untuk kepentingan yang berpuasa (Baca ini: Yesaya 58:5). 

Alkitab jauh lebih banyak dan secara konsisten memerintahkan manusia untuk bersukacita dibandingkan dengan hidup prihatin dalam arti menyiksa diri atau sengaja mencari penderitaan. Perintah untuk bersukacita dan bergembira di dalam Tuhan muncul ratusan kali dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Allah menghendaki agar umat-Nya hidup dalam ucapan syukur dan kedamaian karena keselamatan serta pemeliharaan yang telah diberikan-Nya.

Sementara itu, ajaran tentang prihatin dalam arti penderitaan yang dibuat-buat atau penyiksaan tubuh sama sekali tidak pernah diperintahkan oleh Allah di dalam Alkitab. Bentuk penahanan diri yang ada di dalam Alkitab, seperti berpuasa atau menguasai diri, tujuannya bukan untuk mencari penderitaan, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memfokuskan hati kepada-Nya. Bahkan ketika Alkitab berbicara tentang masa-masa sukar, fokus utamanya bukanlah pada penderitaan itu sendiri, melainkan pada sukacita dan pengharapan yang tetap ada di dalam Tuhan di tengah masa yang sulit tersebut.

Berikut ini beberapa ayat yang mengajar kita untuk bersukacita:
[TB-LAI©1974]

No. Referensi Ayat Firman Tuhan
1 1 Tesalonika 5:16-18 Bersukacitalah senantiasa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
2 Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
3 Amsal 15:13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.
4 Amsal 15:15 Hari orang berduka itu selalu buruk, tetapi orang yang bersenang hati selalu berpesta.
5 Mazmur 30:12 Aku yang meratap telah Kautubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita.
6 Mazmur 126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
7 Mazmur 126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil membawa benih menabur, pasti pulang dengan bersorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.
8 Yohanes 16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.
9 Yohanes 16:22 Demikian juga kamu sekarang berdukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi, dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sukacitamu itu dari padamu.
10 Matius 5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
11 Roma 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
12 Roma 15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.
13 Nehemia 8:11 Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!
14 Yesaya 61:3 Untuk mengurniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak kehidupan ganti kain kabung, nyanyian pujian ganti semangat yang pudar.
15 Yeremia 31:13 Aku akan mengubah kedukaan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah duka mereka.
16 Mazmur 16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
17 Mazmur 28:7 TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.
18 Mazmur 118:24 Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!
19 Mazmur 43:4 Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, kepada Allah, sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, Ya Allahku!
20 Mazmur 97:11 Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati.
21 Habakuk 3:17-18 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kandang, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

2. Sukacita tidak harus berasal dari kondisi yang ‘baik-baik saja’ 

a. Menderita pun tetap bisa bersukacita

Saya membayangkan kondisi rasul Paulus sewaktu menulis pesan bagi jemaatnya di Filipi. Dalam keadaan yang tidak beruntung dan tidak memungkinkan ia bisa bersukacita. Namun, itulah firman Tuhan yang disampaikan Paulus bagi jemaat Filipi dan kita juga di sini. Ini bukan perkataan Paulus melainkan firman dari Allah yang diteruskan Paulus. Allah menghendaki setiap orang yang mengikut-Nya harus bersukacita, baik atau buruk keadaanya.

Paulus bukan hanya bicara tanpa bukti, ia sendiri tetap bernyanyi memuji Tuhan dalam penderitaannya:

Kisah Para Rasul 16:25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

b. Sukacita kita sumbernya dari Allah, bukan dari kondisi yang kita alami

Mungkin secara logika sukacita itu seharusnya adalah suatu keadaan yang merupakan akibat dari keadaan lain yang menguntungkan, atau keadaan yang ‘baik-baik saja’. Banyak yang bilang, tidak masuk di akal jika keadaan yang dialami sedang ‘tidak baik-baik saja’, seseorang diminta untuk bersukacita. Apalagi bersukacita “senantiasa” itu artinya bersukacita tanpa putus, terus menerus, bukan hanya satu keadaan. Jadi bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Memang sangat sulit sukacita itu bisa terwujud, jika hanya dengan kekuatan manusia belaka.

Inilah kuasa yang bisa membangkitkan sukacita sejati. Asalnya dari Surga, yaitu semata-mata hanya berasal dari kuasa Allah saja, yang memungkinkan seseorang bisa bersukacita dalam keadaan apapun dan terus menerus.

Roh Kudus memberikan sukacita bagi kita

Kita memerlukan Sang Penghibur, yaitu Roh Kudus. 

Yohanes 15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

Jadi jelas bahwa Roh Kudus adalah Roh Penghiburan yang diutus oleh Tuhan Yesus dan berasal dari Allah Bapa di Surga. Ia yang akan menjadi penghibur bagi pengikut Kristus yang memerlukan sukacita dalam segala keadaan dan terus menerus bersukacita. Roh Kudus akan memberikan pengertian bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

Yohanes 7:37-39 

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.

Roh Kudus bagaikan aliran air kehidupan yang mengalir dalam hidup seseorang yang percaya kepada Allah sebagai satu-satunya sumber sukacitanya. Roh Kudus itu bagaikan air sejuk yang mengalir di masa-masa kekeringan hidup kita. Sukacita kita asalnya dari Roh Kudus, bukan dari kondisi yang kita alami.  

Damai Sejahtera adalah suasana hati yang tidak punya kekhawatiran sedikitpun, inilah kondisi yang dialami oleh orang yang menerima Roh Kudus Allah. Tuhan Yesus berjanji pada murid-murid-Nya, bahwa mereka tidak perlu gelisah dan gentar, karena Ia akan memberikan Roh Kudus yang membawa Damai Sejahtera sejati itu. 

Yohanes 14:27

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Lukas 12:22

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. 

Secara manusiawi, setiap orang pasti memiliki sedikit atau banyak kekhawatiran dalam pikirannya. Khawatir akan hari kemarin, ia berbuat kesalahan yang akan ditanggungnya hari ini, dampaknya hari esok pun ia akan merugikan orang lain juga. Jadi sepanjang hidup seseorang bisa dikuasai oleh kekhawatiran. Ia tidak akan lepas dari pikirannya yang berputar-putar ke sana ke mari dan menyebabkan hati menjadi susah dan tidak bisa bersukacita. 

Matius 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Tuhan Yesus setiap saat menunggu semua orang yang mau datang kepada-Nya membawa segala bebannya yang berat, letakkan beban itu di depan kaki-Nya.

Matius 11:29-30 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Setelah kita letakkan beban hidup kita, jangan kita lihat lagi beban itu. Doakan dan percayalah bahwa Allah bekerja dalam segala masalah dan beban hidup kita itu. Sementara itu alihkan fokus kita bukan pada beban kita lagi, melainkan pada “kuk” yang dipasang Tuhan. Ketika Yesus mengajak orang-orang untuk memikul kuk yang dipasang-Nya, pendengar-Nya harus memahami gambaran sejarahnya. Kuk adalah kayu penarik lembu bajak sawah yang dipikul oleh dua lembu. Tuhan Yesus menawarkan diri-Nya sebagai pasangan yang berjalan di samping mereka, bagaikan lembu tua yang kuat dan berpengalaman. Tuhan Yesus tidak menuntut kita untuk memikul beban sendirian, melainkan mengajak mereka berjalan bersama dalam bimbingan-Nya. Kuk yang ditawarkan Yesus terasa enak dan ringan karena berdasarkan kasih, kelembutan, serta kerendahan hati. Itu sangat berbeda dengan beban berat yang kita pikul sebelumnya.


III. Renungan

  1. Kapan saat terakhir Anda tertawa terbahak-bahak? Apakah karena menontong komedi, tontonan lucu, atau karena baru menerima hasil yang baik?
  2. Apakah Anda ingat suatu peristiwa dalam keadaan serba susah, dalam keadaan kemalangan, menderita? Apa yang menyebabkan anda bisa pulih kembali? Atau masih dalam keadaan seperti itu?
  3. Apa menurut Anda sukacita yang sejati itu bisa Anda peroleh? Apakah menurut Anda sukacita itu harus karena kondisi yang ‘Baik-baik saja’?
  4. Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita bahwa sukacita itu tetap bisa kita dapatkan walaupun kondisi kita ‘tidak baik-baik saja’. Apakah itu mungkin? Apa yang firman Tuhan katakan untuk meraih sukacita itu?
  5. Apakah Anda sudah mengenal siapa Roh Kudus itu? Siapa Roh Kudus menurut firman Tuhan? Apa peran-Nya dalam hidup kita? 

IV. Doa

Tuhan Yesus Maha Kasih di dalam Surga. Terima kasih Tuhan atas sukacita yang Tuhan berikan bagi kami saat ini. Sukacita kami berasal dari-Mu ya Allah. Kami mungkin saat ini sedang dalam keadaan sulit dan menderita, namun Roh Kudus-Mu lah menjadi penghibur kami. Terima kasih Tuhan atas segalanya. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Filipi 3:13-14

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *