
Edisi 12 – Bersukacitalah, hari ini kudus bagi Allah – Seri Renungan Pagi
Bersukacitalah, hari ini kudus bagi Allah
(Sukacita dari TUHAN, itulah perlindunganmu)
Nehemia 8:9-12 [TB2-LAI©2023]
10 Lalu Nehemia, kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar umat itu, berkata kepada mereka semuanya, “Hari ini kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan berdukacita dan menangis.” Sebab seluruh umat menangis ketika mendengar perkataan Taurat itu. 11 Lalu ia berkata kepada mereka, “Pergilah, makanlah makanan yang enak-enak dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita dari TUHAN itulah perlindunganmu!” 12 Orang-orang Lewi menyuruh seluruh umat supaya diam dengan berkata, “Tenanglah, karena hari ini kudus. Janganlah bersusah hati!“ 13 Lalu seluruh umat pergi untuk makan dan minum, membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala firman yang dijelaskan kepada mereka.
I. Pengantar
Nehemia bin Hakahlya adalah seorang Juru Minuman raja Artahsasta, raja Persia. Pada sekitar tahun 445 SM, Nehemia mengetahui keadaan Yerusalem yang terbakar dan rusak. Ia sangat bersedih melihat hal itu dan ia berdoa kepada Allah. Nehemia memohon kepada raja dan Allah melunakkan hati raja hingga berkenan memberikan kemudahan baginya, sehingga dapat membangun kembali Yerusalem.
Suatu ketika tiba bulan ketujuh dan bangsa Israel sudah mulai menempati kota-kotanya kembali, seluruh rakyat serempak berkumpul di lapangan depan Pintu Gerbang Air. Mereka rindu mendengarkan Taurat Musa yang akan dibacakan oleh Imam Ezra.
II. Hari ini kudus bagi Tuhan
Seluruh umat itu berdiri ketika Imam Ezra mulai membacakan bagian-bagian kitab Taurat dari pagi hingga siang. Imam Ezra juga memberi penjelasan tentang segala yang dibacakan itu hingga seluruh umat menjadi mengerti seutuhnya yang disampaikan Allah bagi mereka.
Setelah mendengar dan mengerti kitab Taurat yang dibacakan itu, Umat Israel menjadi berdukacita karena mereka menyadari betapa besar dosa dan pelanggaran yang telah mereka lakukan terhadap Tuhan. Selama bertahun-tahun, banyak dari mereka yang lupa atau bahkan tidak tahu tentang perintah Tuhan, mengingat lamanya mereka hidup dalam masa pembuangan di negeri asing. Jadi ketika kitab Taurat dibacakan dengan jelas dan diterangkan maknanya, hati mereka menjadi sangat sedih. Mereka melihat perbedaan yang sangat jauh antara kehidupan mereka yang penuh kesalahan dengan perintah Tuhan yang seharusnya mereka patuhi. Tangisan itu adalah bentuk penyesalan yang sungguh-sungguh karena mereka sadar bahwa segala penderitaan yang dialami bangsa Israel selama ini adalah akibat dari kesalahan dan ketidaktaatan mereka sendiri.
Seorang Teolog bernama Matthew Henry dalam karyanya Tafsiran Matthew Henry, Kitab Nehemia, 2010, menjelaskan bahwa air mata umat Israel saat itu adalah tanda kesadaran, sebab firman Tuhan menunjukkan keadaan hati mereka yang sebenarnya. Mereka menangis karena merasa sangat bersalah telah meninggalkan Tuhan. Kesedihan ini pada akhirnya menjadi jalan bagi mereka untuk memohon ampun dan memperbaiki diri. Pelajaran penting dari peristiwa ini adalah pesan Tuhan memiliki kemampuan untuk menegur dan menyadarkan manusia dari kesalahan, agar manusia tidak terus hidup dalam keburukan melainkan kembali berjalan di jalan yang benar.
Bangsa Israel yang larut dalam kesedihan mendalam sejenak lupa bahwa hari itu adalah Kudus bagi Tuhan. Bangsa Israel disuruh berhenti menangis dan diminta untuk bersukaria karena hari itu adalah hari yang suci bagi Tuhan. Hari itu adalah waktu khusus di mana mereka seharusnya merayakan kebaikan Tuhan dengan penuh kegembiraan, bukan dengan kesedihan. Para pemimpin mereka mengingatkan bahwa meskipun mereka sadar akan kesalahan masa lalu, kesedihan itu tidak boleh terus-menerus menguasai hati. Tuhan tidak hanya ingin umatnya menyesali kesalahan, tetapi Dia juga ingin mereka merasakan kedamaian karena pengampunan yang Dia berikan. Mereka diminta untuk makan makanan yang enak, minum minuman yang manis, dan berbagi dengan orang-orang yang kekurangan, sebagai wujud ucapan syukur. Kegembiraan yang berasal dari Tuhan itulah yang akan menjadi benteng dan kekuatan mereka untuk menjalani hidup yang lebih baik ke depannya.
Selain itu, mereka disuruh bersukaria karena mereka pada akhirnya bisa mengerti pesan dari Tuhan yang dibacakan kepada mereka. Pemahaman yang benar tentang perkataan Tuhan seharusnya membawa harapan baru dan bukan keputusasaan. Mengenai hal ini, kembali Matthew Henry dalam karyanya Tafsiran Matthew Henry, Kitab Nehemia, 2010, menjelaskan bahwa air mata penyesalan memang baik, tetapi hal itu tidak boleh menghalangi kegembiraan dalam merayakan kebaikan Tuhan. Kesedihan yang berlebihan justru dapat melemahkan semangat, sedangkan kegembiraan yang berasal dari Tuhan akan memberikan kekuatan bagi mereka untuk mematuhi perintah selanjutnya dengan hati yang tulus. Kegembiraan itu muncul dari keyakinan bahwa Tuhan telah mengampuni mereka, sehingga perayaan tersebut menjadi tanda awal kehidupan baru yang sepenuhnya bersandar pada kasih dan kebaikan Tuhan.
III. Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita dari TUHAN itulah perlindungan kita
Hari itu bukan hari untuk menghukum diri, tetapi untuk mengingat karya Allah. Nehemia 8 terjadi pada hari pertama bulan ketujuh (Nehemia 8:2). Ini bukan hari biasa. Dalam Taurat, hari pertama bulan ketujuh adalah hari kudus yang ditandai dengan perhentian dan tiupan sangkakala (Imamat 23:23–25). Karena itu mereka berkata, “Hari ini kudus bagi TUHAN, Allahmu. Jangan berdukacita dan menangis!”

Perhatikan alasannya: “hari ini kudus bagi TUHAN.” Artinya, pusat perhatian mereka tidak boleh berhenti pada, “Betapa buruknya kami.” Tetapi harus bergerak kepada, “Betapa kudusnya Allah, dan betapa besar anugerah-Nya kepada kita.” Ada pergeseran fokus berfikir, dari fokus kepada dosa mereka, menjadi fokus kepada Allah.
“Sukacita dari TUHAN itulah perlindunganmu!” — ini sangat penting. Kata yang diterjemahkan “perlindungan” dalam beberapa terjemahan juga berkaitan dengan kekuatan atau tempat perlindungan. Jadi mereka tidak disuruh bersukacita karena dosa mereka tidak serius, namun justru sebaliknya karena Allah bukan hanya Hakim yang menunjukkan dosa, tetapi juga Allah tempat perlindungan mereka. Hal ini sangat penting secara kerohanian, yaitu bahwa Taurat membuat mereka menangis karena mereka melihat dosa, namun di sisi lain juga membawa mereka kembali mengenal Allah. Jadi ketika seseorang kembali kepada Allah, hasil akhir bukan kesedihan atau keputusasaan, melainkan ketenangan, damai dan sukacita.
Ada hal yang menarik dalam Nehemia 8:11, yaitu mereka kemudian disuruh makan dan berbagi makanan dengan yang tidak mendapat apa-apa. Ini indah sekali. Respons terhadap perjumpaan dengan Firman bukan isolasi dan penghukuman diri. Mereka justru diminta makan, minum, bersukacita, dan berbagi dengan orang yang tidak punya. Dengan kata lain, sukacita mereka menjadi sesuatu setara dalam suatu persekutuan atau komunitas. Mereka tidak boleh lagi berkata, “Aku berdosa, jadi aku harus menyiksa diriku.” Tetapi mengatakan, “Aku telah disadarkan oleh Firman Tuhan, dan karena hari ini adalah hari kudus, mari kita bersukacita di hadapan-Nya dan membagikan sukacita itu kepada orang lain.”
Ditulis dalam Nehemia 8:15-16 ternyata setelah mereka mendengar Taurat, mereka baru sadar bahwa mereka seharusnya merayakan Hari Raya Pondok Daun, lalu mereka bergegas melakukannya (Nehemia 8:17-19).
Jadi Firman Tuhan menghasilkan sesuatu: mereka mendengar, mereka menangis, mereka dihibur, mereka bersukacita, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Itulah mungkin salah satu pesan utama Nehemia 8. Kesedihan karena dosa ada tempatnya, tetapi kesedihan bukan tujuan akhir pertobatan. Tujuan akhirnya adalah kembali kepada Allah.
IV. Renungan
Pertobatan Kristen yang sehat bisa memiliki dua hal sekaligus: kesedihan karena dosa dan sukacita karena anugerah.
- Saat Anda membaca Alkitab, apakah Anda benar-benar mau mendengarkan apa yang Tuhan ingin sampaikan? Pernahkah Anda merasa ditegur melalui Firman Tuhan karena menyadari ada sikap, perkataan, atau perbuatan Anda yang tidak benar?
- Ketika Anda sadar bahwa Anda sudah berbuat dosa, apa yang biasanya Anda lakukan? Apakah Anda mau mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh menyesal di hadapan Tuhan, atau Anda cenderung mencari alasan, menyalahkan orang lain, atau terus terjebak dalam rasa bersalah?
- Setelah Anda mengakui dosa dan meminta ampun kepada Tuhan, apakah Anda sungguh percaya bahwa Tuhan mengampuni Anda? Adakah kesalahan yang masih terus membuat Anda merasa tidak layak di hadapan Tuhan, meskipun Anda sudah datang kepada-Nya?
- Bangsa Israel awalnya menangis karena menyadari dosa mereka, tetapi kemudian mereka diajak untuk bersukacita karena Tuhan. Setelah menyadari kesalahan dan menerima pengampunan Tuhan, apa yang dapat membuat Anda bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan?
- Setelah mengalami kasih dan pengampunan Tuhan, bagaimana Anda dapat membagikan kabar baik itu kepada orang-orang di sekitar Anda? Adakah seseorang yang membutuhkan pengharapan, perhatian, atau sukacita yang Tuhan sudah berikan kepada Anda?
V. Doa
Tuhan Allah Bapa di Surga yang kami panggil dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Pada kesempatan ini, kami hadir di hadirat-Mu hendak menyatakan penyesalan akan dosa dan kesalahan kami. Mohon dibukakan pintu maaf bagi kami Ya Allah Yang Maha Kasih. Segala perbuatan kami tidak akan kami ulangi. Kiranya Tuhan berkenan menyucikan kembali kehidupan kami, agar kami layak di hadapan-Mu.
Kami bersyukur Ya Allah, karena perkenan-Mu kami bisa dilepaskan dari segala beban dosa yang mengikat kami selama ini. Kami sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus yang mati buat kami di kayu salib. Kiranya kabar sukacita ini dapat kami beritakan juga bagi orang lain yang belum pernah mendengarnya.
Terima kasih Ya Allah, mohon berkatmu. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Haleluya!
Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya!
Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!
Mazmur 150:1
Amin.
