
Edisi 2 tentang “Sejarah Pekabaran Injil: Dari Lisan Menjadi Tulisan” Seri Kitab Injil
By Febrian 17 Agustus 2026 04:51 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Setelah kita mempelajari Sejarah Awal Pekabaran Injil, maka sekarang kita akan membahas mengenai transisi pekabaran Injil dari pemberitaan dengan cara lisan menjadi pemberitaan dengan media tulisan. Kiranya kita bisa mendapat hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.
Sejarah Pekabaran Injil: Dari Lisan Menjadi Tulisan
I. PENDAHULUAN
Pada edisi sebelumnya, kita telah menyaksikan bagaimana Kabar Baik tentang Yesus Kristus bergerak dari Yerusalem ke Yudea, Samaria, hingga ke berbagai wilayah Kekaisaran Romawi. Kita juga telah mulai melihat sekilas bahwa Injil tidak serta-merta ditulis. Ada masa ketika Kabar Baik terutama diberitakan secara lisan.
Para rasul dan murid-murid Tuhan memberitakan Injil dengan penuh kuasa. Mereka bersaksi tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Pemberitaan itu disampaikan secara lisan, dari kota ke kota, dari orang ke orang.
Namun, perjalanan Injil tidak berhenti di situ. Seiring waktu, muncul kebutuhan untuk menuliskan kesaksian para rasul. Para saksi mata mulai meninggalkan dunia ini. Jemaat-jemaat baru bertumbuh di berbagai tempat. Ajaran-ajaran lain mulai bermunculan.
Maka, oleh hikmat Allah, muncullah tulisan-tulisan yang berisi Kabar Baik Keselamatan. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar catatan sejarah. Tulisan-tulisan itu adalah anugerah Allah bagi setiap orang di dunia ini.
Sekarang, mari kita perdalam pemahaman kita. Bagaimana sebenarnya proses dari pemberitaan lisan menuju tulisan itu terjadi? Mengapa para rasul tidak langsung menulis? Dan kapan tulisan-tulisan pertama tentang Yesus mulai muncul? Mari kita telusuri bersama.
II. MENGAPA INJIL TIDAK SEGERA DITULIS DALAM PEKABARAN INJIL?
A. Pekabaran Injil pada Masa Abad Pertama
Sebelum membahas lebih lanjut, mari berhenti sejenak sambil menutup mata kita. Bayangkan kita hidup di masa Abad Pertama dunia, di sebuah kota kecil di tepi Laut Tengah. Belum ada Listrik. Belum ada teknologi maju, seperti televisi, radio, kulkas, kereta api dsb. Apalagi ponsel dan internet. Kira-kira di waktu itu, bagaimana seseorang bisa memperoleh informasi mengenai kejadian di lain tempat? Belum ada koran atau media apapun.
Berita atau catatan sejarah memang sudah ada pada zaman itu. Berbagai bukti sejarah membuktikan bahwa memang sudah banyak sekali tulisan yang ditemukan berabad-abad sebelumnya baik dalam bentuk pahatan prasasti, gulungan perkamen dsb. Namun untuk daerah tempat para rasul berada, sepertinya budaya penyampaian Berita masih umum dengan cara mendengarnya dari orang lain, atau dari mulut ke mulut. Bisa dari sahabat, dari tetangga yang bercerita di pasar, bisa dari orang yang baru saja datang dari luar daerah, yang singgah di warung kopi. Bisa juga dari para peziarah agama yang datang ke Bait Allah.
Banyak sekali cara penyampaian Kabar Baik Allah di suatu daerah, namun hingga bertahun-tahun setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus dan Peristiwa Pentakosta, semuanya itu masih hanya disampaikan secara lisan. Segala pengalaman indah dan menakjubkan yang dialami oleh para rasul dan pengikut Tuhan Yesus, begitu berkesan dan ingin segera disampaikan kepada orang lain agar mereka juga bisa merasakan apa yang sedang dirasakannya selama ini. Roh Kudus yang mengurapi mereka memberi kekuatan dan kuasa agar dengan berani mereka menyampaikan Kabar Baik Injil itu walaupun mengalami berbagai hambatan.
Berikut adalah beberapa peristiwa yang menunjukkan keberanian mereka dalam memberitakan Injil:
-
-
-
Kisah Para Rasul 4:13 — keberanian Petrus dan Yohanes terlihat jelas ketika mereka diperiksa oleh para pemimpin Yahudi. Mereka disebut sebagai orang biasa yang tidak terpelajar, tetapi para pemimpin itu mengenali bahwa mereka pernah bersama Tuhan Yesus.
-
Kisah Para Rasul 4:18–20 — setelah diperintahkan untuk tidak lagi berbicara dalam nama Tuhan Yesus, Petrus dan Yohanes menolak berhenti memberitakan apa yang telah mereka lihat dan dengar.
-
Kisah Para Rasul 4:33 — para rasul memberikan kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dengan kuasa yang besar.
-
Kisah Para Rasul 5:40–42 — setelah dicambuk dan kembali mendapat larangan, para rasul tetap mengajar dan memberitakan Injil tentang Tuhan Yesus setiap hari, di Bait Allah dan dari rumah ke rumah.
-
Kisah Para Rasul 8:4 — orang-orang percaya yang tercerai-berai karena penganiayaan pergi ke berbagai tempat dan memberitakan Injil.
-
Kisah Para Rasul 9:27–29 — Paulus memberitakan Tuhan Yesus dengan berani di Damsyik dan Yerusalem meskipun menghadapi ancaman.
-
Kisah Para Rasul 13:46 — Paulus dan Barnabas dengan berani menyatakan bahwa mereka akan membawa berita keselamatan kepada bangsa-bangsa lain.
-
Kisah Para Rasul 14:3 — mereka tinggal cukup lama dan berbicara dengan berani dalam Tuhan, sementara Tuhan menguatkan kesaksian mereka dengan tanda-tanda dan mukjizat.
-
Kisah Para Rasul 28:31 — bahkan menjelang akhir Kisah Para Rasul, Paulus tetap memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus dengan terus terang dan tanpa rintangan.
-
-
B. Para Rasul sebagai Saksi Mata
Pemberitaan tersebut memiliki satu kekuatan yang sangat penting: para rasul dan sejumlah pengikut Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai saksi atas peristiwa yang mereka beritakan. Mereka bukan sekadar menyampaikan cerita yang mereka dengar dari orang lain. Mereka memberitakan apa yang menurut kesaksian mereka sendiri telah mereka lihat dan dengar.
Kisah Para Rasul mencatat bahwa para rasul memberikan kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dengan kuasa yang besar (Kisah Para Rasul 4:33). Ketika Petrus dan Yohanes diperiksa oleh para pemimpin Yahudi, keberanian mereka begitu nyata sehingga para pemimpin itu mengenali bahwa keduanya pernah bersama Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 4:13).
Kesaksian seperti ini memungkinkan orang mendengar berita Injil langsung dari orang yang mengaku mengetahui atau mengalami peristiwa tersebut. Namun, kesaksian lisan tidak berarti bahwa setiap orang pada masa itu menerima semua cerita tanpa pertimbangan. Kesaksian tetap dapat didengar, dibandingkan, dan dinilai oleh orang-orang yang menerimanya.
Pemberitaan para rasul juga tidak berlangsung hanya dengan keberanian manusia. Ketika jemaat menghadapi ancaman, mereka berdoa agar diberikan keberanian untuk memberitakan Firman. Setelah berdoa, mereka dipenuhi Roh Kudus dan memberitakan Firman Allah dengan berani (Kisah Para Rasul 4:29–31). Paulus dan Barnabas juga berbicara dengan berani mengenai keselamatan (Kisah Para Rasul 13:46) dan tetap memberitakan Injil meskipun menghadapi penolakan (Kisah Para Rasul 14:3).
C. Mengapa Tidak Langsung Ditulis?
Di sinilah muncul pertanyaan yang telah kita singgung di edisi sebelumnya: jika masyarakat abad pertama sudah mengenal tulisan, mengapa berita tentang Tuhan Yesus tidak langsung dituangkan ke dalam bentuk Injil tertulis?
Kita tidak mempunyai sumber sejarah yang memberikan jawaban pasti mengenai hal tersebut. Tidak ada catatan dari masa itu yang menjelaskan secara langsung kapan atau mengapa para pengikut Tuhan Yesus memutuskan untuk menyusun kisah pelayanan-Nya dalam bentuk Injil. Karena itu, kita tidak dapat menunjuk satu alasan tertentu sebagai fakta sejarah.
Yang dapat kita lihat dari sumber-sumber yang ada adalah bahwa pemberitaan lisan dan penggunaan tulisan berlangsung bersama. Para rasul masih dapat memberikan kesaksian secara langsung kepada jemaat-jemaat yang mereka kunjungi. Pada saat yang sama, komunitas Kristen semakin berkembang dan tersebar ke berbagai wilayah. Dalam keadaan seperti itu, tulisan menjadi semakin berguna untuk menyampaikan pengajaran kepada jemaat yang tidak dapat bertemu langsung dengan para rasul.
Surat-surat Rasul Paulus merupakan bukti bahwa komunitas Kristen sejak masa awal sudah menggunakan tulisan sebagai sarana komunikasi. Paulus menulis kepada jemaat-jemaat yang berada jauh darinya untuk memberikan pengajaran, nasihat, dan koreksi. Dalam Roma 16:22, seorang bernama Tertius bahkan menyebut dirinya sebagai orang yang menulis surat tersebut.
Dengan demikian, munculnya Injil tertulis bukanlah perpindahan dari masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal tulisan menuju masyarakat yang baru mengenal tulisan. Tulisan sudah tersedia sejak awal. Yang terjadi adalah bahwa kesaksian tentang Tuhan Yesus, yang sejak awal diberitakan secara lisan, pada suatu tahap juga mulai dituangkan ke dalam berbagai bentuk tulisan.
D. Ketika Kesaksian Mulai Dituangkan ke Dalam Injil
Kita tidak mengetahui secara terperinci bagaimana setiap Injil mulai disusun. Namun, ada beberapa petunjuk penting dari sumber-sumber awal Kekristenan.
Seperti yang telah kita singgung di edisi sebelumnya, Papias—seorang pemimpin gereja yang hidup pada awal abad kedua—kemudian dikutip oleh Eusebius, Uskup Kaisarea, mengenai hubungan Markus dengan Rasul Petrus. Papias mengatakan bahwa Markus menuliskan dengan teliti apa yang diingatnya dari pemberitaan Petrus. Kesaksian ini menunjukkan adanya hubungan antara pemberitaan Rasul Petrus dan Injil Markus, meskipun kita tidak mengetahui secara rinci kapan dan dalam keadaan bagaimana Injil tersebut mulai disusun.
Injil Lukas memberikan gambaran yang lebih langsung mengenai proses pengumpulan bahan. Pada awal kitabnya, Lukas menyebut bahwa sudah ada banyak orang yang berusaha menyusun laporan mengenai peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Ia juga menyebut orang-orang yang sejak semula menjadi saksi mata dan pelayan Firman. Setelah itu, Lukas mengatakan bahwa ia sendiri telah menyelidiki segala sesuatu dengan saksama dan menyusunnya secara teratur (Lukas 1:1–4).
Pernyataan Lukas memperlihatkan bahwa sebelum Injilnya ditulis, berita mengenai kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus sudah beredar melalui kesaksian para saksi mata dan melalui berbagai laporan yang telah disusun. Dengan demikian, Injil tertulis dapat dipahami sebagai tahap berikutnya dalam perjalanan kesaksian yang sudah lebih dahulu diberitakan.
Hubungan antara pengajaran lisan dan tulisan juga terlihat dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Ia mengingatkan mereka untuk berpegang pada ajaran yang telah mereka terima, baik secara lisan maupun secara tertulis (2 Tesalonika 2:15). Ini menunjukkan bahwa dalam komunitas Kristen mula-mula, kedua bentuk penyampaian tersebut dapat berjalan bersama.
E. Lisan dan Tulisan dalam Penyebaran Injil
Lisan dan tulisan memiliki keunggulan masing-masing. Melalui pemberitaan lisan, seorang rasul atau saksi dapat berbicara langsung kepada orang-orang yang ditemuinya. Mereka dapat menjawab pertanyaan, menjelaskan ajaran, dan memberikan kesaksian mengenai apa yang mereka ketahui.
Melalui tulisan, pengajaran tersebut dapat dikirim ke tempat yang jauh, dibaca kembali, disalin, dan diteruskan kepada orang-orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan para rasul. Karena para rasul dan para saksi mata pada akhirnya akan meninggal, tulisan menjadi sarana penting untuk mempertahankan dan menyebarkan kesaksian kepada generasi berikutnya.
Karena itu, kita tidak perlu melihat lisan dan tulisan sebagai dua cara yang saling bertentangan. Pada masa awal, pemberitaan lisan menjadi sarana utama penyebaran Injil, sementara tulisan semakin berperan dalam mempertahankan dan memperluas kesaksian tersebut.
Sejarah tidak memberikan kepada kita seluruh tahapan proses tersebut. Kita tidak mengetahui secara pasti mengapa masing-masing Injil ditulis pada waktu tertentu. Namun, bukti yang tersedia menunjukkan satu hal penting: Injil tidak lahir karena masyarakat baru mengenal tulisan. Tulisan sudah dikenal. Injil tertulis muncul di tengah tradisi pemberitaan lisan yang telah lebih dahulu berkembang.
Dengan demikian, perjalanan penyebaran Injil dapat dilihat sebagai sebuah proses: para saksi memberitakan apa yang mereka lihat dan dengar, para pengikut Tuhan Yesus meneruskan pemberitaan tersebut ke berbagai tempat, dan kemudian kesaksian serta pengajaran itu juga dituangkan ke dalam tulisan. Di sepanjang proses tersebut, menurut kesaksian Kisah Para Rasul, para pengikut Tuhan Yesus terus memberitakan Injil dengan keberanian dan kuasa Roh Kudus.
III. LAHIRNYA EMPAT INJIL
A. Injil Markus: Yang Paling Awal
Berdasarkan penelitian para ahli Perjanjian Baru, Injil Markus umumnya dianggap sebagai Injil kanonik yang paling awal ditulis, sekitar tahun 65–70 Masehi. Ini berarti Injil Markus ditulis kira-kira 35–40 tahun setelah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Sebagaimana telah kita bahas di edisi sebelumnya dan kita singgung kembali di sini, tradisi gereja kuno yang dicatat oleh Eusebius menghubungkan Injil Markus dengan Rasul Petrus. Menurut tradisi tersebut, Markus menjadi pengikut dan penerjemah Petrus, lalu atas permintaan orang-orang yang telah mendengar pemberitaan Petrus, Markus menuliskan apa yang telah diajarkan.
Hal ini penting karena menunjukkan bahwa Injil Markus bukanlah karya fiksi atau karangan yang muncul jauh setelah peristiwa. Injil Markus lahir dari kesaksian seorang saksi mata—Rasul Petrus—yang memberitakan Injil di Roma. Markus kemudian menuliskannya agar orang-orang yang tidak sempat mendengar Petrus secara langsung tetap dapat menerima kesaksian tersebut.
B. Injil Matius dan Lukas
Setelah Injil Markus beredar, muncul pula Injil Matius dan Injil Lukas. Para ahli umumnya memperkirakan kedua Injil ini ditulis sekitar tahun 70–90 Masehi, meskipun tanggal pastinya tetap diperdebatkan.
Injil Matius tampaknya ditulis terutama untuk pembaca dari latar belakang Yahudi. Injil ini menekankan bahwa Yesus adalah penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Injil ini juga memuat banyak ajaran Tuhan Yesus, termasuk Khotbah di Bukit yang terkenal (Matius 5–7).
Injil Lukas, sebagaimana telah kita lihat dari pembukaannya, ditulis dengan pendekatan yang berbeda. Lukas menyatakan bahwa ia telah menyelidiki segala sesuatu dengan saksama dan menyusunnya secara teratur. Lukas menulis untuk pembaca dari latar belakang Yunani-Romawi, dan ia menekankan bahwa keselamatan dari Allah terbuka bagi semua orang, bukan hanya bagi bangsa Yahudi.
Menariknya, Matius dan Lukas memiliki banyak kesamaan dengan Markus, tetapi juga memiliki bahan-bahan yang unik yang tidak terdapat dalam Markus. Hal ini menunjukkan bahwa Matius dan Lukas menggunakan Markus sebagai salah satu sumber, tetapi mereka juga memiliki akses kepada sumber-sumber lain yang sekarang tidak kita miliki lagi.
C. Injil Yohanes: Yang Terakhir
Injil Yohanes umumnya dianggap sebagai Injil yang paling belakangan ditulis, sekitar tahun 90-an Masehi. Injil ini sangat berbeda dari ketiga Injil lainnya dalam gaya, struktur, dan isinya.
Yohanes tidak menceritakan banyak peristiwa yang sama dengan Matius, Markus, dan Lukas (yang disebut Injil Sinoptik). Sebaliknya, Yohanes memuat banyak percakapan panjang dan ajaran teologis yang mendalam tentang siapa Yesus. Yohanes juga menekankan bahwa Yesus adalah Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:14), dan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman kepada-Nya.
Tradisi gereja menghubungkan Injil Yohanes dengan Rasul Yohanes, salah satu dari kedua belas rasul. Namun, identitas penulis Injil Yohanes tetap menjadi bahan diskusi dalam studi Perjanjian Baru. Yang jelas, Injil Yohanes memberikan kesaksian yang unik dan berharga tentang kehidupan dan pengajaran Tuhan Yesus.
D. Mengapa Ada Empat Injil?
Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita: mengapa Allah mengilhami penulisan empat Injil yang berbeda, bukan hanya satu?
Setiap Injil memiliki sudut pandang dan penekanan yang berbeda. Matius menekankan Yesus sebagai Raja dan Penggenapan Nubuat. Markus menekankan Yesus sebagai Hamba yang menderita. Lukas menekankan Yesus sebagai Anak Manusia yang membawa keselamatan bagi semua orang. Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah yang kekal.
Keempat Injil saling melengkapi. Mereka memberikan gambaran yang lebih kaya dan lebih lengkap tentang siapa Yesus Kristus dan apa yang telah Dia lakukan bagi umat manusia. Seperti kata pepatah kuno, “Empat Injil, satu Kabar Baik.”
Yang juga penting untuk diingat: keempat Injil ini tidak muncul sebagai satu buku sekaligus. Mereka lahir di lingkungan dan waktu yang berbeda, kemudian beredar melalui jaringan jemaat, dan akhirnya dikenal bersama sebagai kesaksian yang diilhami Allah tentang Yesus Kristus.
IV. PENUTUP
Demikianlah perjalanan Kabar Baik dari Yerusalem: dari pemberitaan lisan para rasul, menjadi surat-surat yang menghibur dan menguatkan, menjadi Injil yang ditulis dengan hati-hati.
Kembali ke pertanyaan yang kita singgung di edisi sebelumnya dan kita perdalam di sini: Apakah para rasul lalai karena tidak segera menulis? Sama sekali tidak. Mereka justru menaati perintah Yesus “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.“ (Markus 16:15). Penulisan adalah bagian dari proses pemberitaan itu sendiri.
Kita telah melihat bahwa pemberitaan lisan adalah sarana utama para rasul dalam menyebarkan Kabar Baik. Kita juga telah melihat bahwa tulisan sudah dikenal pada masa itu dan mulai digunakan seiring dengan berkembangnya jemaat. Empat Injil lahir dalam kurun waktu sekitar 65–90 Masehi, masing-masing dengan sudut pandang dan penekanan yang unik, tetapi semuanya memberitakan satu Kabar Baik yang sama: Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat.
Namun, satu pertanyaan masih tersisa: Bagaimana kita bisa tahu bahwa tulisan-tulisan yang kita baca sekarang adalah sama dengan yang asli? Bagaimana naskah-naskah kuno itu disalin, disebarkan, dan akhirnya sampai ke tangan kita?
Jawabannya terletak pada ribuan naskah kuno yang ditemukan para arkeolog dan para ahli sejarah. Penemuan-penemuan seperti Papirus Chester Beatty, Kodeks Sinaitikus, dan Naskah-Naskah Laut Mati telah memberikan bukti yang sangat kuat tentang keandalan teks Alkitab.
Kita akan melanjutkan perjalanan ini pada edisi berikutnya: “Dari Naskah ke Kanon: Bagaimana Alkitab Terbentuk dan Dipercaya”. Kita akan melihat bagaimana naskah-naskah kuno ditemukan, bagaimana para ahli membandingkannya, dan bagaimana kita dapat memiliki keyakinan bahwa Alkitab yang kita pegang hari ini adalah Firman Allah yang dapat dipercaya.
Kiranya Tuhan Yesus memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pemberitaan firman hari ini. Tuhan Yesus memberkati.
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2 Timotius 4:2
Amin.
