Edisi 30 – “Jangan Menghakimi” – Seri Renungan Pagi

by Febrian 27 Oktober 2026 04:15 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan yang lalu kita telah membahas mengenai Harta di Surga. Kali ini kita akan membahas mengenai jangan menghakimi. Semoga kita bisa mendapat hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Matius 7:1-5
1 “Janganlah menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
2 Mengapa engkau melihat serpihan katu di mata saudaramu, sedangkan balik di dalam matamu tidak engkau ketahui? 3 Mengapa engkau melihat serpihak katu di mata saudaramu, sedangkan balik di dalam matamu tidak engkau ketahui?
4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu?
5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, setelah itu engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.”
Lukas 6:37-38
37 “Janganlah menghakimi, dan kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum. Ampunilah dan kamu akan diampuni.
38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
39 Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?
40 Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah selesai pendidikannya akan sama dengan gurunya.
41 Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? 42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, setelah itu engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.”
I. Pengantar
Seperti kita ketahui bersama Tuhan Yesus masih melanjutkan khotbah-Nya di bukit untuk para pengikut-Nya. Kali ini Tuhan Yesus melarang mereka untuk menghakimi siapapun. Siapapun yang menghakimi sesamanya akan dihakimi dengan ukuran yang dipakainya.
Semenjak kecil, setiap orang mungkin sudah terbiasa untuk berkompetisi. Jika melihat ada peluang yang akan dapat diraih, seseorang akan berjuang sekuat tenaga untuk mencapainya. Namun, pada kenyataannya perjuangan itu tidak selalu mulus. Ada kalanya ada pihak luar yang mengganggu atau bahkan menghalangi, maka otomatis akan masuk ke mode “defensif”, yaitu menyerang balik jika diserang duluan. Contoh anak-anak yang sedang bermain bersama teman-temannya.
Awalnya mereka terlihat riang gembira, namun beberapa waktu kemudian ada seorang anak yang menangis sambil memukul temannya. Itulah mekanisme defensif, di kala ada anak lain yang menyakitinya ia akan berusaha supaya anak lain itu merasakan hal yang sama yang ia alami. Mekanisme itu berlangsung terus menerus hingga imprint di pikiran seseorang hingga dewasa. Kejadian yang terus berkembang hingga berakibat terjadi suatu evolusi psikologis, di mana mekanismenya tidak lagi defensif bertahan, melainkan berubah menjadi “agresif”, atau “pertahanan terbaik adalah Menyerang”.
Dari situlah lahirnya sifat seseorang suka menghakimi. “Menghakimi sesama” yang dimaksud Tuhan Yesus dalam ayat bacaan di atas, sebetulnya adalah tindakan agresif seseorang yang berusaha menyingkirkan penghalang di hadapannya, sebelum penghalang itu muncul. Terkadang jadinya aneh, misalnya ada seseorang yang menegur baju temannya kusut, padahal sebetulnya orang lain di sekitarnya melihat, bahwa bajunya lah yang paling lusuh dibanding semua orang.
Tuhan Yesus melalui khotbah-Nya sangat menentang orang yang munafik, yaitu orang yang menghakimi atau melihat kesalahan sesamanya, padahal kesalahannya sendiri juga masih banyak. Demikianlah Tuhan Yesus mengajar semua orang untuk menyerahkan semua penghakiman kepada Allah saja, itu bukan haknya manusia.
II. Menghakimi Sesama
1. Tegurlah Dengan Kasih Jangan Menghakimi
Dalam ayat bacaan di atas, Tuhan Yesus mengingatkan murid dan pengikut-Nya untuk berhati-hati dalam menilai orang lain, mengukurkan sesuatu pada orang lain serta melarang seseorang menghakimi sesamanya manusia. Tuhan Yesus menggambarkan orang yang menghakimi sesamanya itu bagaikan orang buta yang menuntun orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam lubang. Namun, Tuhan Yesus mengatakan orang yang belajar, bisa mengajar seseorang suatu hari di kala ia sudah lulus dari seluruh pendidikannya.
Apa yang salah dengan menghakimi? Mengapa Tuhan Yesus melarang menghakimi?
Tuhan Yesus melihat bahwa sesungguhnya umat manusia ini bagaikan orang buta yang belum bisa dengan utuh melihat “kebenaran” yang sesungguhnya. Terkadang bahkan ada orang yang mau memberitahu orang lain tentang kekurangannya, namun sebetulnya dirinya masih jauh lebih buruk daripada dirinya. Bukankah hal ini sering kita lihat di dalam masyarakat kita, bahkan di dalam diri pemimpin-pemimpin kita?
Jadi bagaimana jika kita dalam posisi melihat seseorang berbuat kesalahan? Apakah harus kita diamkan saja?
Amsal 25:12
Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.
Jadi jangan keliru, teguran itu malah perlu diberikan kepada orang yang salah jalan. Namun, perhatikan dulu diri kita sendiri, apakah kita sudah masuk dalam kriteria “orang bijak” di atas? Atau jangan-jangan kita masuk kategori “orang munafik” seperti yang dikecam Tuhan Yesus.
Imamat 19:17-18
17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu. Engkau harus berterus terang menegur sesamamu dan dan tidak mendatangkan dosa atas dirimu karena dia. 18 Janganlah engkau menuntut balas dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah TUHAN.
Ditegaskan lagi langsung oleh Tuhan, bahwa jika ada orang yang menurut kita melakukan kesalahan terhadap kita, jangan membenci, menuntut balas, apalagi mendendam. Orang yang bersalah itu tetap harus ditegur, namun Tuhan mengingatkan jangan sampai mendatangkan dosa atas diri kita sendiri. Bisa jadi karena emosi kita jadi murka atau bahkan melakukan pembalasan, itulah yang dilarang Tuhan. Mungkin betul kita dalam posisi yang disakiti, dirugikan, namun Tuhan mengingatkan, bahwa cara menegurnya harus didasari dengan mengasihi orang tersebut.
2. Menghakimi Akan Dihakimi
Coba kita ingat sedikit kisah Ayub dalam Ayub 2:11, di mana ia dikunjungi sahabat-sahabatnya yaitu Elifas, Bildad dan Zofar serta belakangan ada juga Elihu. Di mana awalnya mereka bertiga datang untuk belasungkawa dan menghibur Ayub. Mereka turut prihatin, bahkan menangis dan meratap bersama, hingga duduk diam selama 7 hari 7 malam.
Akan tetapi sikap para sahabat Ayub berubah menjadi seolah menghakimi Ayub (Ayub 4:1 – 37:24). Dalam Ayub 3 tindakan mereka itu sebetulnya adalah respons terhadap perkataan Ayub yang mengutuk hari kelahirannya serta mempertanyakan mengapa ia harus dilahirkan jika harus menderita seperti itu. Mendengar keluhan Ayub, teman-temannya merasa “terpanggil” untuk membela Tuhan dan meluruskan teologi mereka. Mereka terjebak dalam pemikiran Teologi Retribusi (Sebab-Akibat) yang kaku: Orang benar pasti diberkati, orang fasik pasti dihukum. Melihat penderitaan Ayub yang begitu hebat, mereka menyimpulkan bahwa Ayub pasti telah melakukan dosa besar yang tersembunyi dan sekarang sedang dihukum oleh Allah.
Tuhan kemudian menjawab Ayub dalam firman-Nya yang mengingatkan Ayub akan kedaulatan-Nya atas Alam Semesta, juga termasuk kehidupannya sendiri juga. Hingga akhirnya Ayub mengakui kedaulatan Allah dan mencabut semua perkataannya, serta menyesal. Allah membenarkan Ayub dan menyatakan murka-Nya terhadap Elifas dan teman-temannya, karena tidak berkata benar tentang diri-Nya (Ayub 42:7), sehingga Allah bersiap menghukum mereka karena hal itu. Namun, ada akhirnya Allah menempatkan diri Ayub lebih tinggi daripada mereka yang telah menghakiminya, dengan cara Ayub harus memohonkan pengampunan bagi mereka supaya selamat.
Ada pula kisah Alkitab tentang menghakimi [1 Samuel 1:6-7]. Kisah ini bercerita tentang seorang perempuan yang mandul bernama Hana istri dari Elkana orang Efraim. Hati Hana hancur karena terus-menerus dicemooh oleh istri lain suaminya yang bernama Penina. Pada saat Hana berdoa dengan sangat khusyuk di bait Allah sambil menangis dan berkomat-kamit tanpa suara, Imam Eli langsung menghakimi dan berkata, “Berapa lama lagi engkau masih mabuk? Singkirkanlah anggurmu!” [1 Samuel 1:12-14]. Hana menjelaskan bahwa ia seorang perempuan yang tertekan dan sedang berdoa kepada Tuhan. Imam Eli berbalik memberkati Hana, hingga akhirnya Tuhan menjawab doa Hana dengan mengaruniakan seorang anak laki-laki yaitu Nabi Samuel [1 Samuel 1:15-20].
Jadi ingatlah di saat kita berada dalam situasi yang sama, yaitu di kala kita melihat kesalahan dilakukan oleh orang lain, jangan melakukan kesalahan yang sama dengan mereka di atas. Jagalah hati, mulut dan bibir kita sebelum berkata-kata, karena bisa jadi perkataan kita akan membuat Tuhan murka dan menghukum kita karena menghakimi sesama kita. Setiap saat kendalikan diri kita, sadari bahwa kita masih banyak salah di hadapan Allah, mohon ampunan-Nya dan jika doakan orang yang kita lihat melakukan kesalahan itu.
Berikut adalah kumpulan ayat yang menyatakan bahwa Allah saja lah hakim yang boleh menghakimi dan membalas:
Roma 12:19
19Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”
Ibrani 10:30
30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: ‘Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.‘ Dan lagi: ‘Tuhan akan menghakimi umat-Nya.’”
Yakobus 4:12
12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi sesamamu manusia?
Yesaya 33:22
22 Sebab TUHANlah Hakim kita, TUHANlah panglima kita; TUHANlah Raja kita; Dia akan menyelamatkan kita.
3. Sadari Bahwa Setiap Orang Sama Di Hadapan Allah
Adalah sangat keliru, jika seseorang merasa berhak menghakimi orang lain, karena mengira bahwa ia lebih hebat atau lebih baik. Sesungguhnya kita semua sama di hadapan Allah. Tuhan Yesus mengatakan orang buta tidak bisa menuntun orang buta lainnya. Artinya di mata Tuhan semua orang sama dan harus bergantung pada-Nya kalau mau bertahan hidup.
Dengan kesadaran bahwa setiap orang pada hakikatnya sama di hadapan Allah, maka setiap orang entah besar – kecil, tua – muda, laki-laki – perempuan, miskin – kaya, orang besar – orang kecil, dsb, kita tidak akan berani menghakimi siapapun juga. Allah sangat tidak berkenan kepada orang yang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, hingga berani menghakimi orang lain. Hanya dia lah yang berhak menjadi Hakim, karena Ia lebih tinggi daripada manusia ciptaan-Nya.
Mazmur 50:6
Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim.
Kita ini adalah manusia yang tidak bisa melihat dengan jelas segala kesalahan yang kita perbuat. Jadi jika kita melihat orang lain berbuat kesalahan. Atau bahkan melakukan kejahatan terhadap kita, maka kita tetap tidak berhak untuk menjadi hakim. Ingat jika kita mengukur kesalahan seseorang, dan menimpakan hukuman baginya, maka suatu hari kelak Allah akan memakai ukuran itu juga pada kita.
4. Bagaimana Dengan Profesi Sebagai Hakim di Pengadilan?
Orang Kristen tentu saja boleh bekerja sebagai hakim di pengadilan dunia. Alkitab tidak melarang profesi hakim, melainkan sangat menghormati dan mendukung penegakan hukum demi ketertiban masyarakat. Jadi berikut adalah penjelasan mengenai mengapa orang Kristen boleh bekerja sebagai hakim di pengadilan:
Larangan Tuhan Yesus mengenai sikap menghakimi dalam Matius 7:1 sering kali disalahartikan sebagai larangan total terhadap profesi hakim di pengadilan dunia. Padahal, Tuhan Yesus sedang menegur sikap hati individu yang munafik, sok suci, dan gemar menjatuhkan sesama dalam hubungan sehari-hari. Konteks khotbah tersebut sama sekali bukan bertujuan untuk membubarkan sistem peradilan pidana atau perdata yang sah secara hukum negara.
Alkitab justru memandang sistem hukum dan profesi penegak keadilan sebagai bagian dari tatanan yang dikehendaki Allah untuk menjaga ketertiban dunia. Dalam Roma 13:1-4, Rasul Paulus menegaskan bahwa pemerintah dan instansi hukum di dalamnya merupakan hamba-hamba Allah yang ditetapkan untuk mendatangkan kebaikan bagi masyarakat serta menjalankan hukuman atas mereka yang berbuat jahat. Oleh karena itu, menjalankan profesi sebagai hakim di pengadilan formal adalah sebuah bentuk partisipasi dalam menegakkan keadilan moral di bumi.
Sejarah Alkitab bahkan mencatat bahwa posisi hakim adalah jabatan terhormat yang diinisiasi langsung oleh Allah. Pada zaman Perjanjian Lama, melalui Ulangan 16:18, Musa diperintahkan untuk mengangkat hakim-hakim yang jujur di setiap suku guna menegakkan hukum dengan adil. Allah juga membangkitkan tokoh-tokoh iman besar seperti Debora, Gideon, hingga Nabi Samuel untuk memimpin sebagai hakim atas bangsa Israel pada masanya.
Meskipun profesi ini diperbolehkan, Alkitab memberikan standar moral dan tanggung jawab yang sangat berat bagi seorang hakim Kristen. Dalam 2 Tawarikh 19:6-7, Raja Yosafat mengingatkan para hakim bahwa mereka tidak menghakimi untuk manusia melainkan untuk Tuhan yang menyertai mereka. Seorang hakim Kristen dituntut untuk bekerja dengan penuh rasa takut akan Tuhan, mutlak menolak suap, membuang kecurangan, serta tidak boleh memandang bulu dalam mengambil keputusan, sebab mereka sadar bahwa kelak mereka pun harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah sebagai Hakim Agung yang sejati.
III. Renungan
- Apakah saya lebih sering berfokus pada kesalahan kecil orang lain daripada dosa besar diri sendiri?
(Bahan refleksi: Analogi selumbar di mata orang lain dan balok di mata sendiri dalam Matius 7:3-4). - Siapkah saya dihakimi oleh Tuhan dengan standar dan tingkat kekerasan yang sama seperti saat saya menghakimi sesama?
(Bahan refleksi: Peringatan Yesus tentang ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita dalam Matius 7:2). - Apakah motivasi saya saat menegur atau membicarakan kesalahan orang lain adalah untuk memulihkan mereka dengan kasih, atau justru untuk membuat diri saya merasa lebih benar?
(Bahan refleksi: Konsep mengeluarkan balok terlebih dahulu agar bisa melihat dengan jelas untuk menolong sesama dalam Matius 7:5). - Dalam area kehidupan mana saya sering terjebak menjadi “hakim yang munafik” dengan menuntut orang lain sempurna, sementara saya memaklumi pelanggaran yang saya lakukan sendiri?
(Bahan refleksi: Teguran Yesus tentang kemunafikan dalam Matius 7:5). - Bagaimana saya bisa melatih diri untuk menahan diri dari membuat asumsi atau kesimpulan sepihak terhadap motif hati orang lain hari ini?
(Bahan refleksi: Menyadari keterbatasan manusia dalam melihat hati, yang merupakan hak mutlak Tuhan).
IV. Doa
Selamat pagi Tuhan Yesus. Terima kasih sudah mengajar kami tentang hal menghakimi. Kami tidak mau jadi orang munafik Tuhan, semoga hidup kami semakin baik dengan menjalankan firman Tuhan ini. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!
Tetapi lebih baik kamu memutus hal ini:
Janganlah kamu meletakkan batu sandungan
atau rintangan bagi saudaramu.
Roma 14:13
Amin.
