Edisi 29 – “Harta di Surga” – Seri Renungan Pagi

By Febrian 24 Oktober 2026 04:23 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan yang lalu kita telah membahas firman Tuhan mengenai hal-hal yang keliru tentang melaksanakan puasa, dan kali ini kita akan membahas tentang mengumpulkan harta di surga. Kiranya kita bisa memperoleh hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.


I. Pengantar

Matius 6:19-24 <– Klik di sini untuk membaca seluruh pasal Matius 6

Masih dalam rangkaian khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengajarkan satu hal yang sangat menguasai pikiran banyak orang di seluruh dunia, di segala waktu dan di seluruh demografi yang berbeda-beda, yaitu hal mengumpulkan harta. 

Kebanyakan orang semenjak kecil dididik oleh orangtuanya untuk rajin belajar agar kemudian dapat bekerja dengan baik, hingga akhirnya memperoleh penghidupan yang baik. Bahkan ada pula orangtua yang sudah mendidik anaknya semenjak kanak-kanak untuk belajar mencari uang, sehingga pada waktu dewasanya mereka sudah mahir menjadi pengusaha, atau mewarisi usaha orangtuanya. Mayoritas manusia di bumi ini berpikir bahwa hidup di dunia ini tugas utamanya adalah mencari uang demi kesejahteraan diri dan keluarganya.

Paradigma untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, dengan tujuan “Financial Freedom” menguasai pikiran dan hati banyak orang di seluruh dunia. Orang yang seperti itu hidupnya dipenuhi ambisi untuk terus menerus memperkaya diri. Namun, Tuhan Yesus dengan tegas mengajarkan murid-murid-Nya dan kita juga di zaman sekarang ini untuk tidak mengejar harta di dunia ini, melainkan harta di surga.


II. Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada

1. Bahayanya Mengumpulkan Harta di Bumi

Matius 6:19-21

19 “Janganlah mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi, di mana ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Namun, kumpulkanlah bagimu harta di surga yang tidak dirusak oleh ngengat dan karat, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Sebab, di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.

Hal mengumpulkan harta di bumi ini berlaku di semua tempat, segala waktu, semua usia dan bagi siapapun. Orang yang “miskin” lah yang sesungguhnya terus menerus mengumpulkan harta di bumi dengan tidak berhenti-henti. Berikut ada beberapa kasus terkait mengumpulkan harta di bumi:

Kasus 1 – Saya pernah membaca suatu kasus tentang seorang pengemis yang memiliki hampir setengah miliar rupiah. Seperti diberitakan dalam iNews.id, pelaku diketahui memiliki saldo rekening sekitar Rp490 juta dalam dua rekening bank. Menurut keterangan polisi, ia telah meminta-minta selama kurang lebih 13 tahun dengan menggunakan proposal. Ia tetap menjalankan kegiatan tersebut meskipun telah mengumpulkan uang dalam jumlah besar. Polisi dan aparat setempat kemudian melakukan pembinaan dan meminta komitmen agar ia tidak lagi meminta-minta dengan menggunakan proposal. 

Kasus 2 – Ada lagi satu berita dalam ANTARA News, tentang seorang pengemis yang tetap mengemis meskipun memiliki uang ratusan juta rupiah. Suatu ketika di November 2019, Petugas Dinas Sosial Jakarta Selatan mengamankan seorang pengemis berusia 65 tahun, di kawasan sebuah Mall. Setelah dibawa ke kantor Dinas Sosial, Ia ternyata membawa uang Rp194,5 juta dalam tas ranselnya. Namun, ternyata itu bukan pertama kalinya ia seperti itu. Pada razia tahun 2017, ia juga pernah ditemukan membawa uang sekitar Rp90 juta. Setelah menjalani pembinaan sosial, ia kembali mengemis. Menurut keterangan petugas, ia tidak memiliki rumah tetap dan biasa menumpang tidur di rumah warga. Sangat mengejutkan bukan? Seorang yang bekerja di kantoran saja belum tentu memiliki uang sebanyak yang ia miliki.

Kedua kasus tersebut menggambarkan bahwa kemiskinan tidak selalu terletak pada sedikitnya harta yang dimiliki, tetapi juga dapat terletak pada cara seseorang memposisikan dirinya sendiri dan uang. Orang-orang tersebut bisa memiliki harta cukup, tetapi tetap memilih mengemis demi memperoleh lebih banyak uang. Padahal, dengan modal sebesar itu, sebetulnya ia memiliki kesempatan untuk berdagang atau menjalankan usaha yang lebih produktif dan bermartabat.

Fakta ini menunjukkan bahwa sebanyak apa pun uang yang dimiliki seseorang, belum tentu jiwanya merasa “cukup”. Jika keinginan untuk memperoleh uang terus menerus menguasai dirinya, seseorang dapat terjebak dalam kebiasaan mencari uang tanpa pernah merasa perlu mengubah kehidupannya. Dengan demikian, seseorang bisa kaya secara materi, tetapi tetap miskin dalam jiwa karena tidak pernah merasa cukup dan tidak mampu membebaskan dirinya dari ketamakan.

Sekarang kasus orang-orang yang begitu hausnya akan harta duniawi, hingga menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tidak masuk di akal:

Kasus 1 – Pada Desember 2024, perwakilan sekitar 1.500 korban investasi aplikasi Joinnoop mendatangi Bareskrim Polri untuk melaporkan dugaan penipuan dengan skema Ponzi (piramida uang), dengan total kerugian sekitar Rp80 miliar. Modusnya, perusahaan menawarkan investasi berupa power bank yang diklaim dapat disewakan di lokasi strategis seperti mal dan bandara. Para peserta diwajibkan menyetorkan dana mulai Rp8 juta hingga Rp100 juta. Pada Desember 2024, perusahaan tersebut berhenti beroperasi dan dana nasabah tidak dapat ditarik. 

Kasus 2 – Pada Maret 2025, seorang perempuan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penipuan berkedok arisan online dan investasi bodong yang merugikan ratusan korban hingga sekitar Rp60 miliar. Menurut kuasa hukum korban, uang yang dihimpun digunakan untuk berfoya-foya dan memenuhi gaya hidup mewah, sementara para korban tidak memperoleh pengembalian dana. 

Kasus 3 – Pada Mei 2025, polisi di Pasuruan menetapkan seorang wanita sebagai tersangka dalam kasus dugaan penipuan berkedok kredit murah melalui pinjaman online yang merugikan 195 warga sekitar Rp2,6 miliar. Menurut keterangan polisi, uang yang diperoleh tersangka telah habis untuk berfoya-foya dan memenuhi gaya hidup konsumtif. Tersangka juga dilaporkan tidak memiliki aset bernilai untuk mengganti kerugian para korban. 

Kasus 4 – Seorang pemain judi online di Jawa Barat mengaku awalnya hanya menyetor Rp30.000 dan sempat menang Rp1,5 juta. Kemenangan awal itu membuatnya terus bermain. Setelah berulang kali kalah, ia bahkan meminjam uang melalui aplikasi pinjaman online untuk kembali berjudi. Total kerugiannya diperkirakan mencapai Rp10 juta. Kisah ini diberitakan sebagai salah satu pengalaman korban judi online.

Kasus-kasus tersebut merupakan contoh dari pola berpikir seseorang yang fokusnya hanya pada harta duniawi, sehingga akhirnya kuasa kegelapan bekerja menghancurkan kehidupan orang-orang tersebut. Oleh karena itu, Tuhan Yesus telah mengajarkan kepada kita semua agar tidak menjadikan uang dan harta duniawi sebagai tujuan utama selama hidup di bumi, melainkan harta di surga. Harta duniawi mudah sekali rusak, hilang, atau dicuri orang, bahkan menyebabkan petaka bagi diri sendiri. Seseorang yang terlalu berfokus pada harta duniawi akan senantiasa memikirkan dan mengkhawatirkan hartanya. Dengan demikian, hati dan pikirannya akan terikat pada harta tersebut.

2. Mengumpulkan Harta di Surga

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa tindakan yang tepat adalah mengumpulkan harta di surga, yaitu dengan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Nya. Jika harta kita berada di surga, hati dan pikiran kita pun akan terarah kepada perkara-perkara surgawi. Kita akan semakin merindukan hadirat Tuhan dan hidup dalam pengharapan untuk kelak bersama-Nya di surga. Akan tetapi apa yang sebetulnya Tuhan Yesus maksudkan dengan “harta di surga“? Kan tidak ada orang yang punya akses ke surga, apalagi meletakkan hartanya di surga? Apakah ini hanya kiasan saja? Apa maknanya? 

Kita semua perlu memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga kita. Dari kebutuhan tersebut, kita berusaha keras bekerja dan berusaha mencari sumber penghasilan yang dapat memenuhinya. Namun, yang seringkali terjadi adalah “kebutuhan” hidup itu ber-transformasi menjadi “keinginan”.

Markus 10:17-27

17 Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 18 Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain Allah saja.

19 Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” 20 Kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 21 Yesus memandang dia dan mengasihinya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memiliki harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 22 Karena perkataan itu mukanya muram, lalu ia pergi dengan sedih, sebab banyak harta miliknya.

23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang memiliki banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Namun Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 25 Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

26 Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jadi, siapakah yang dapat diselamatkan?” 27 Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi tidak demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.”

Kisah ini ditulis juga dalam dua Injil lain, yaitu Matius 19:16-26 dan Lukas 18:18-27. Kisah ini menjadi perhatian khusus dari ketiga penulis kitab Injil, karena mengandung makna yang sangat penting dalam kehidupan setiap manusia, yaitu mencari harta di surga.

Perhatikan dalam kisah di atas, orang muda itu berlari-lari dan berlutut di hadapan Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa begitu mendengar Tuhan Yesus ada di dekat tempatnya, ia bergegas dengan sungguh-sungguh menemui-Nya. Ia begitu rindu mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini menggelisahkan hatinya: Segala kekayaan dan harta benda telah berhasil ia peroleh, namun satu yang belum ia miliki, yaitu kepastian hidup kekal. Orang muda yang kaya itu tahu benar, bahwa Tuhan Yesus pasti memiliki jawaban atas hal tersebut. Akan tetapi, bukannya langsung menjawab pertanyaan anak muda itu, Tuhan Yesus malah balik bertanya, “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Apa dasarnya Tuhan Yesus menjawab seperti itu?

Ketika pemuda kaya raya itu menyebut Tuhan Yesus sebagai “Guru yang baik…”, Tuhan Yesus mengarahkan pikiran anak muda itu untuk sadar bahwa kebaikan yang sempurna hanya bersumber dari Allah. Sebetulnya di balik perkataan-Nya tersebut, Tuhan Yesus berusaha menyadarkan pemuda itu bahwa ia harus mengakui terlebih dahulu bahwa diri-Nya adalah Allah, baru ia layak mendengar jawaban tentang “Hidup yang kekal”. Mungkin bisa ditafsirkan beginilah jawaban Tuhan Yesus dengan bahasa yang tersirat: “Jadi, jika kamu mau tahu kunci rahasia beroleh hidup yang kekal, maka terlebih dahulu hatimu harus mengakui bahwa Aku ini adalah Allah”. 

Tuhan Yesus bukan kebetulan berkata seperti itu, namun sesungguhnya Ia sudah mengetahui motivasi dan keberadaan pemuda kaya itu jauh sebelum ia bertanya. Jadi Tuhan Yesus mengingatkan, akan sia-sia kunci rahasia Kerajaan Allah diberitahu kepadanya, jika ia belum mau mengakui di dalam hatinya bahwa yang berbicara dengannya saat itu adalah Allah Semesta Alam Pencipta Langit dan Bumi. Tanpa kesadaran dalam hatinya seperti itu, maka segala yang akan dikatakan Tuhan Yesus pasti sulit diterima dengan mudah. 

Ternyata betul, bahwa pemuda kaya raya itu menolak perintah Tuhan Yesus tentang syarat hidup kekal yang menyempurnakan dari perbuatannya melaksanakan hukum Taurat. Orang itu belum mau mengakui bahwa Pribadi yang berdiri di hadapan-Nya adalah Allah sendiri yang turun ke dunia. Dengan berat hati ia memilih tetap menyimpan hartanya untuk dirinya sendiri, dibanding menyerahkannya bagi orang miskin. Pemuda kaya raya itu telah mencapai satu titik tidak balik atau “the point of no return”, yaitu terikat pada hartanya dan tidak bisa lepas daripadanya. Mengerikan bukan, jika dunia ini hancur, ia akan ikut di dalamnya.

Jadi agar kita lebih memahami di mana hati kita berada, coba uji dengan membaca perumpamaan Tuhan Yesus dalam Matius 13:44-45 berikut:

44 “Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi.
Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

45 Demikian pula Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara-mutiara yang indah. 46 Setelah ditemukannya satu yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Setiap orang yang hendak “Mengumpulkan Harta di Surga”, bagaikan orang yang mencari “harta terindah” dalam hidupnya. Namun, terlebih dahulu ia wajib paham betul seperti apa yang ia cari tersebut. Dari dua orang yang mencari harta di atas, mereka sudah tahu pasti seperti apa harta yang mereka cari itu, sehingga pada waktu mereka menemukan harta itu, tidak ragu lagi ia menjual seluruh harta yang telah ia miliki sebelumnya demi memiliki harta tersebut.

Orang muda yang kaya itu, sebetulnya tidak tahu seperti apa harta yang sedang dicarinya. Berbeda dengan pedagang mutiara itu, ia sebetulnya telah menemukan harta itu di depan matanya, tinggal ia ‘menjual’ seluruh harta miliknya dan memperoleh “Harta terindah” yang sesungguhnya, yaitu bersama dengan Tuhan Yesus ke mana ia pergi.  

3. Mata Sebagai Pelita Tubuh

Seiring dengan mengajar tentang larangan mencari harta di dunia ini, Tuhan Yesus juga memberitahu murid-murid-Nya apa “pintu masuk” dari segala keinginan mengumpulkan dan menimbun harta benda di bumi ini. Berikut penjelasan dari Tuhan Yesus:

Matius 6:22-24 

22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu itu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

24 Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Pelita dalam bahasa aslinya λύχνος = lampu. Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Mata” seseorang adalah lampu penerang bagi jalan hidupnya.  Jadi Tuhan Yesus menggambarkan terang gelapnya jalan hidup kita, sangat bergantung pada menyala atau tidaknya “lampu” kita. Apa makna sesungguhnya dari “lampu penerang kehidupan” tersebut?  

“Mata”, yaitu mata pancaindra tubuh kita, maupun “mata hati” yang berupa hati nurani kita, adalah “Lampu penerang” bagi seluruh kehidupan kita. Dikatakan Tuhan Yesus bahwa, jika mata kita melihat hal baik, maka seluruh hidup kita menjadi terang benderang di hadapan Allah. Namun, sebaliknya, jika mata mulai ‘melihat’ hal-hal yang buruk, maka hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, bisa berkuasa dalam hidup seseorang. Di situlah “lampu” hidup kita padam dan terjadilah kegelapan menguasai, persis seperti yang dikatakan Tuhan Yesus “.., betapa gelapnya kegelapan itu.“

Mari kita perhatikan kisah berikut ini:

Suatu hari di suatu tempat, ada seorang muda yang bekerja sebagai karyawan biasa di suatu perusahaan swasta. Ia tinggal di rumah kontrakan sederhana yang lumayan baik, hidup bersama anak dan istri dengan nyaman. Ia juga bisa mengangsur sebuah sepeda motor untuk transportasinya bekerja. Di saat itu semua terasa manis dan indah. Namun, suatu hari orang tersebut melihat iklan sebuah rumah yang ditampilkan secara indah dan menarik hati.

Timbullah keinginan orang itu untuk memiliki rumah miliknya sendiri. Tanpa berdiskusi dengan istrinya, ia langsung menghubungi pihak sales, melakukan proses pembelian dan melakukan akad kredit dengan tenor yang sangat panjang. Untuk Uang Muka-nya ia merelakan tabungan dan motor kesayangan untuk dijual secara over kredit. Istri dan anaknya kaget campur senang karena akhirnya mereka bisa memiliki rumah sendiri yang jauh lebih baik.

Berjalan seiring waktu semakin naik jabatan dan bertambah gajinya hingga ia berani membeli mobil lagi dengan cara kredit juga. Anaknya yang sudah waktunya masuk sekolah, dimasukkan ke sekolah yang ternama dan termasuk mahal. Semua berjalan dengan jauh lebih indah dari sebelumnya.  

Namun, kenyataannya dunia ini tidak selalu baik-baik saja keadaannya. Tanpa diduga-duga akibat keadaan global dunia, kondisi ekonomi negara semakin menurun, menyebabkan persaingan usaha semakin tajam hingga perusahaan tempatnya bekerja mengalami kerugian. Hingga suatu hari perusahaan terpaksa melakukan pengurangan karyawan, dan orang tersebut salah satu korbannya.

Bisa anda bayangkan bagaimana perasaan orang itu? Ia terkena serangan panik, di mana utangnya bertumpuk dan harus ia lunasi tanpa ada sumber penghasilan sedikit pun. Hingga berbulan-bulan ia menunggak pembayaran angsuran, hingga debt collector mobil menyita dan petugas eksekusi rumah datang dan menyegel rumah tempat mereka tinggal. Dengan bercucuran air mata sang istri dan anak-anak harus pergi dan kembali pulang ke kampung halaman untuk menumpang ke rumah orang tua mereka, yang sebetulnya hidup sangat sederhana.

Tragis dan menyedihkan keadaan mereka bukan? Kehidupan yang sederhana, harmonis, indah, dirusak sekejap hanya oleh hawa nafsu yang tidak dikendalikan. Pintu masuknya dari Mata. Itulah yang dimaksud Tuhan Yesus, “Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu itu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Jika kita tidak menyaring apa yang kita lihat, maka banyak hal yang buruk bisa masuk ke dalam kehidupan kita.

Ingatkah Anda akan peristiwa lahirnya dosa pertama kali di dunia ini? Mari kita perhatikan:

Kejadian 2:9; 2:16

9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan dari tanah berbagai pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya, juga pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat.

16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, firman-Nya, “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, 17 tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.“

Kejadian 3:6

6 Perempuan itu (Hawa) melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan menarik untuk dipandang. Lagi pula, pohon itu diminati karena memberi pengertian. Lalu ia memetik dari buahnya memakannya. Ia memberikannya juga kepada suaminya yang bersamanya, dan suaminya (Adam) pun memakannya. 

Kejadian itu bermula dari Hawa yang mendengar ucapan ular yang memutarbalikkan firman Tuhan. Hawa membuka komunikasi dengan ular itu dan masuklah pemahaman baru yang selama ini tidak diketahuinya, yaitu bahwa pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu buahnya baik untuk dimakan, menarik untuk dipandang, serta bisa memberi pengertian seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.

Berawal dari membuka diri mendengar ular berbicara, Hawa akhirnya mempercayai ucapannya. Ditambah dengan keinginan hati ingin memakan buah yang menarik serta bisa memberi pengertian, akhirnya Hawa tidak lagi mengindahkan larangan Tuhan dan dampaknya. Jadi, tepat pada saat Hawa mempercayai ucapan ular licik yang memperdayanya itu, terang hidupnya langsung padam saat itu juga. Akibat dari kegelapan yang melingkupinya itu, Hawa jadi salah memilih bukannya makan buah dari Pohon Kehidupan yang diizinkan Allah, malah sengaja makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang dilarang Allah.

Jadi jika disimpulkan, flownya seperti ini: Allah melarang, Iblis memancing, Hawa terpancing dan percaya, Lampunya padam, Memilih melanggar firman Allah, Ia seketika itu juga mati. 

Mata hati seseorang adalah lampu penerang hidup setiap manusia. Tuhan Yesus mengatakan bahwa seseorang harus memilih antara Allah dengan Mamon (μαμωνᾶς = mamōnâs = harta kekayaan atau uang), tidak bisa mengabdi pada dua duanya. Seseorang pasti mencintai yang satu dan membenci yang lainnya. Jadi jika “Lampu” kita menyorot kepada Mamon maka sebetulnya lampu itu sudah mati (tidak ada cahanya sama sekali). Itulah yang dikatakan Tuhan Yesus “terang yang ada padamu itu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” 

Mari kembali kepada tema larangan Tuhan Yesus mencari harta di bumi ini. Jadi seperti kita ketahui, bahwa seseorang bisa jadi tidak menyadari bahwa hidupnya sudah salah jalan dengan mengumpulkan harta duniawi dan terus menerus menimbunnya, hingga tiba di “the point of no return”, yaitu keterikatan pada hartanya. Mulailah dari sekarang kita kembali kepada “titik nol”, di mana kita sadar diri, bahwa seluruh harta benda itu sesungguhnya adalah titipan dari Allah untuk kita pergunakan, bukan kita miliki. Seluruh dunia dan alam semesta ini adalah milik Allah, tidak satu pun yang bisa dimiliki oleh siapapun.


III. Sesungguhnya Harta Kita Adalah Milik Allah

Seluruh harta manusia sepenuhnya milik TUHAN, Allah Semesta Alam. TUHAN adalah pemilik segala sesuatu, sedangkan manusia hanya menerima, mengelola, dan mempertanggungjawabkan apa yang dipercayakan kepadanya.

Dasar Firman Tuhan yang mendukung hal itu:

1. TUHAN Memiliki Seluruh Bumi dan Segala Isinya.

Raja Daud mengakui bahwa bumi dan segala isinya adalah milik TUHAN. Cakupannya bersifat menyeluruh: tanah, hasil bumi, kekayaan alam, dan segala sesuatu yang ada di dalam dunia. Uang dan harta manusia termasuk di dalamnya.

Mazmur 24:1
Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.

2. TUHAN Secara Langsung Menyatakan Bahwa Emas dan Perak Adalah Milik-Nya.

Nabi Hagai menyatakan bahwa perak dan emas adalah milik TUHAN semesta alam. Karena emas dan perak merupakan bentuk kekayaan, ayat ini secara langsung menegaskan bahwa kekayaan material berada di bawah kepemilikan TUHAN.

Hagai 2:8 
Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.

3. Kemampuan Manusia Memperoleh Kekayaan Juga Berasal Dari TUHAN.

Musa memperingatkan dalam kitab Ulangan, agar manusia tidak menganggap kekayaan sebagai hasil kekuatan dan kemampuan dirinya sendiri. TUHANlah yang memberikan kemampuan untuk memperoleh kekayaan. Artinya, manusia mungkin bekerja, berpikir, berinvestasi, dan mengambil keputusan untuk memperoleh harta. Namun, kemampuan untuk melakukannya pun bergantung pada karunia yang diterimanya. Manusia tidak dapat mengklaim bahwa seluruh kekayaannya berasal dari dirinya sendiri.

Ulangan 8:17-18
17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

4. Semua Persembahan Manusia Kepada TUHAN Sebetulnya Berasal Dari TUHAN Sendiri.

Raja Daud mengakui bahwa kekayaan dan kehormatan berasal dari TUHAN. Ketika bangsa Israel memberikan bahan-bahan untuk pembangunan Bait Allah, Daud mengakui bahwa mereka memberikan sesuatu yang sebelumnya telah diterima dari tangan TUHAN. Manusia tidak menciptakan kekayaan dari ketiadaan. Manusia mengolah, mengembangkan, dan menggunakan sumber daya serta kemampuan yang telah tersedia dalam ciptaan TUHAN.

1 Tawarikh 29:11-16
11 Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.  12 Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.

13 Sekarang, ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu. 14 Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu. 15 Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan. 16 Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya.

5. Harta Yang Diterima Harus Dipertanggungjawabkan Kepada Tuhan

Tuhan Yesus mengajarkan setiap orang harus setia dan jujur dalam mengelola harta benda yang dianugerahkan Tuhan. Dalam perumpamaan tentang talenta, digambarkan seorang tuan yang mempercayakan hartanya kepada para hambanya dan kemudian meminta pertanggungjawaban. Hal tersebut mendukung prinsip bahwa manusia bertanggung jawab kepada Allah atas cara menggunakan sumber daya yang diterimanya. Namun, perumpamaan tersebut sendiri tidak secara langsung menyatakan bahwa setiap harta manusia adalah milik TUHAN; kesimpulan kepemilikan itu dibangun bersama ayat-ayat sebelumnya.

Lukas 16:10-12
Setia dalam perkara yang kecil Nasihat
10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Matius 25:14-30
Perumpamaan tentang talenta
14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. 15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. 17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. 18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. 19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. 21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. 23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. 25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! 26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? 27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. 28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. 30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Jadi secara garis besarnya, mengapa setiap manusia harus melepaskan segala hartanya dari pikirannya, yaitu TUHAN menciptakan langit bumi dan segala isinya, jadi Ia lah satu-satunya pemilik segala-galanya, termasuk diri kita juga. Segala kekayaan alam, hasil bumi termasuk emas, perak, tanah, dan hasil bumi, merupakan bagian dari ciptaan-Nya. Manusia memiliki hak untuk mengelola dan menggunakan harta dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi kepemilikan manusia tidak bersifat mutlak di hadapan TUHAN. Manusia bertanggung jawab kepada TUHAN atas cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membagikan harta yang dipercayakan kepadanya.

Dengan demikian, menurut kerangka Alkitab, seluruh harta manusia berada di bawah kepemilikan tertinggi TUHAN, Allah Semesta Alam. Manusia bertindak sebagai pengelola yang bertanggung jawab kepada-Nya. Kuncinya ada pada sikap hati kita yang tidak mau terikat pada harta itu. Ingatlah semuanya milik Allah.


 IV. Renungan

  1. Apakah saya sungguh menyadari bahwa seluruh harta yang saya miliki adalah milik Allah dan saya hanya dipercaya untuk mengelolanya?
  2. Apakah hati saya lebih terikat pada harta dunia daripada kepada Allah, Sang Pemberi segala sesuatu?
  3. Apakah saya menggunakan harta untuk memuliakan Allah dan menolong sesama, atau terutama untuk memuaskan keinginan pribadi?
  4. Jika Allah meminta saya melepaskan harta yang sangat berharga demi menaati-Nya, apakah saya bersedia melakukannya?
  5. Jika hari ini saya harus mempertanggungjawabkan seluruh harta yang dipercayakan Allah kepada saya, apakah cara saya memperoleh, menyimpan, dan menggunakannya sudah sesuai dengan kehendak-Nya?

V. Doa

Tuhan Yesus Yang Maha Baik. Terima Kasih atas segala pemberian Tuhan bagi saya. Semua harta benda yang boleh saya miliki dan pakai akan saya pergunakan sebesar-besarnya kemuliaan Allah. Kiranya Tuhan Yesus memberikan saya hikmat untuk dapat memahami firman Tuhan hari ini. Terima Kasih Tuhan. Amin.


“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia,
dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan
sampai selama-lamanya!”

Roma 11:36 (TB)

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *