Edisi 22 – “Kemarahan” – Seri Renungan Pagi

By Febrian 10 Oktober 2026 04.00 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Edisi Sebelumnya, telah kita bahasa mengenai Tuhan Yesus dan Hukum taurat (Hukum Kasih Kristus) Part 2 . Dalam kesempatan hari ini, kita bersama akan merenungkan firman Tuhan mengenai “Kemarahan”. Semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
I. Pengantar
Pada saat kita membaca judul renungan tentang “Kemarahan”, mungkin yang tebersit dalam benak kita adalah “kiat-kiat supaya tidak marah-marah” atau “bahaya kemarahan bagi kesehatan”, atau bahkan “kemarahan yang membawa masuk neraka”. Namun, dalam kesempatan ini kita masih berada dalam Konteks Hukum Taurat terkait dengan Hukum Kasih Kristus, yaitu bagaimana hubungan hubungan antara Keluaran 20:13 dan Matius 5:21–26.
Kita akan mempelajari bagaimana Tuhan tidak hanya menghendaki manusia menahan tangannya agar tidak membunuh, tetapi juga menjaga hatinya agar tidak memelihara kemarahan yang merusak sesama, mulutnya agar tidak menghina, dan tindakannya agar memulihkan hubungan yang telah dirusak.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diperjelas. Tuhan Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa setiap perasaan marah pasti akan berakhir dengan pembunuhan. Ia sedang menyingkapkan hubungan moral antara sikap batin, perkataan, tindakan, dan tanggung jawab seseorang terhadap sesamanya. Kemarahan tidak selalu berkembang menjadi pembunuhan, tetapi kemarahan yang dipelihara, disertai kebencian dan penghinaan, dapat menjadi akar permusuhan yang semakin dalam.
Hal lain yang tidak kalah penting: Hukum Taurat sebenarnya sudah melarang kebencian di dalam hati. Imamat 19:17–18 melarang kebencian terhadap saudara, dendam, dan keinginan membalas; pasal yang sama juga memerintahkan umat Israel mengasihi sesama seperti diri sendiri. Jadi, Tuhan Yesus bukan sekadar mengganti hukum yang mengatur tindakan lahiriah dengan hukum baru yang mengatur hati. Ia menyingkapkan kedalaman kehendak Allah yang sudah terdapat dalam Taurat dan menuntut agar kehendak tersebut diwujudkan secara nyata.
II. Kemarahan dalam Hukum Taurat vs Hukum Kasih Kristus
1. Kemarahan membuat Tuhan murka
Matius 5:21-26
21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
22 Tetapi Aku berkata kepadamu:
- Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum;
- siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan
- siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
Perintah “Jangan membunuh” yang dikutip Tuhan Yesus dari Hukum Taurat (Keluaran 20:13) bukan berarti bahwa Allah hanya memperhatikan pembunuhan yang telah terjadi. Hukum Taurat sendiri melarang kebencian terhadap saudara, menyimpan dendam, dan membalas kejahatan; sebaliknya, umat diperintahkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri (Imamat 19:17–18). Dalam Matius 5:21–26, Tuhan Yesus menyingkapkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak cukup diukur dari tidak terjadinya pembunuhan. Kebencian, kemarahan yang berdosa, dan penghinaan terhadap saudara juga bertentangan dengan kasih yang dikehendaki Allah. Bahkan, 1 Yohanes 3:15 menyebut orang yang membenci saudaranya sebagai pembunuh.
Demikianlah Tuhan Yesus menegaskan betapa seriusnya Allah memandang perbuatan seseorang yang menyimpan kebencian. Bisa jadi seseorang mungkin tidak pernah membunuh orang lain, tetapi jika ia terus memelihara kebencian, terus menghina saudaranya, atau dengan sengaja menyakiti hatinya, ia belum hidup sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, ketika seseorang teringat bahwa saudaranya mempunyai keluhan terhadap dirinya, Tuhan Yesus memerintahkannya untuk pergi berdamai terlebih dahulu sebelum melanjutkan persembahannya (Matius 5:23–24). Ibadah kepada Allah harus dalam keadaan kudus, tidak bercacat cela, termasuk tidak boleh ada hati yang belum beres dengan saudaranya.
2. Penerapan kasih dalam Keluarga
Saya pernah membahas hal ini dalam tulisan saya tentang “Marah” adalah dosa favorit. Kemarahan sesungguhnya juga bisa dicegah, telah saya bahas juga dalam tulisan saya “Kemenangan atas dosa yang menggoda“. Jadi sesungguhnya kemarahan itu tidak terjadi sesaat, pasti terjadi suatu proses yang bisa jadi memakan waktu cukup lama. Misalnya seorang anak kecil yang ingin punya mainan, tetapi tidak dibelikan oleh ibunya, malah diancam untuk tidak merengek lagi. Ia mungkin marah dalam hatinya, tetapi tidak diungkapkan karena takut. Pada kesempatan berikutnya ketika berjalan-jalan di mall, ia merengek minta dibelikan mainan lagi, tidak diberi lagi malah dimarahi. Akhirnya di dalam hatinya tersimpan dendam yang tidak terselesaikan hingga masa dewasa.
Ketika Dewasa, perasaan itu terus terakumulasi hingga terjadilah “pembalasan dendam” sang anak, yaitu ia tidak peduli pada orangtuanya yang sudah tua. Hal itu seharusnya tidak perlu terjadi, jika terjalin hubungan kasih mesra antara orangtua dan anak, semenjak masih kanak-kanak. Seorang anak kecil pun sebetulnya bisa paham alasan ibunya dan tidak menuntut terus, jika disampaikan dengan cara-cara yang sopan dan penuh kasih. Misalnya dengan kasih ibunya bisa mengalihkan perhatiannya dengan main bersama ayah atau bahkan dengan saudara-saudaranya. Banyak orangtua yang menganggap dirinya adalah penguasa dan anaknya adalah bawahannya, sehingga tidak perlu ada sopan santun dari orangtua kepada anaknya. Inilah kekeliruan yang banyak dilakukan oleh orangtua. Jadi kunci keberhasilan mendidik anak adalah orangtua yang takut akan Tuhan, harus memiliki kasih yang tulus kepada anak-anaknya, serta mengajarkan kasih itu dalam wujud nyata dalam keseharian. Hukuman tetap perlu diberikan, tetapi bukan membuatnya sakit hati, melainkan sadar bahwa setiap perbuatan tidak benar itu menyakiti dan merugikan orang lain. Dasar segalanya harus kasih.
3. Penerapan kasih dalam dunia pekerjaan
Pekerjaan kita adalah anugerah Allah. Itu adalah berkat dari Tuhan. Jangan pernah mengeluh tentang pekerjaan kita. Ucapkan syukur jika pekerjaan kita menyenangkan, sebaliknya berdoalah dan mohonlah pertolongan Allah jika pekerjaan kita tidak menyenangkan. Jangan pernah mengeluh atau marah terkait pekerjaan kita. Ingat itu adalah Allah yang memberikan. Tentu yang saya bicarakan di sini, adalah segala pekerjaan yang baik dan tidak melanggar hukum.
Pada dasarnya setiap anak Tuhan sudah diberi berkatnya sendiri-sendiri. Lalu bagaimana dengan orang yang sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Inilah yang saya katakan di atas, berdoalah dan mohonlah pertolongan Allah dengan bersungguh-sungguh.
Filipi 4:6
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Protes, complain, marah-marah terhadap Tuhan karena belum memberi pekerjaan, tidak akan membawa keadaan jadi semakin baik, bisa-bisa semakin buruk. Perbaiki sikap kita di hadapan Allah. Rendahkan diri dan mulailah melakukan hal kecil yang mungkin bisa kita kerjakan. Misalnya jika kita sudah lulus kuliah belum dapat pekerjaan yang kita inginkan. Cobalan rendahkan diri, jangan pasang standar terlalu tinggi dan cobalah melamar pekerjaan apa saja. Jika mau mencoba berbisnis carilah pekerjaan yang mungkin sifatnya “jasa” dan tanpa modal. Kerjakan semuanya dengan ucapan syukur. Allah melihat hati kita yang baik dan tidak tutup mata. Ia adalah setia dan adil. Pasti diberi jalan keluar. Asal jangan complain, protes dan marah-marah, apalagi menganggap Tuhan tidak mau mendengar doa kita. Itu keliru.
Setelah mendapat pekerjaan, bekerja di tempat yang tidak seperti yang kita inginkan, jangan protes lagi, jangan complain lagi, apalagi ribut dengan atasan atau sesama rekan kerja. Perbanyaklah ucapan syukur dalam segala hal. Itu adalah resep ampuh meredakan kemarahan dalam hati. Anggaplah segala hal yang buruk itu adalah langkah berikutnya dalam kehidupan kita. Langkah besar di depan sedang Tuhan sediakan. Kuncinya: rendahkan diri dan ucapkan syukur, sambil bekerja giat dan selalu bersukacita.
4. Penerapan kasih dalam pelayanan di Gereja
Paradigma orang banyak bahwa Gereja adalah sekumpulan orang yang saling mengasihi satu sama lainnya. Memang sebagian besar ada betulnya. Namun, jika kita perhatikan sejarah Gereja sejak Gereja mula-mula pun, namanya perselisihan banyak sekali terjadi. Friksi dan benturan kerap terjadi di antara hamba Tuhan yang satu dengan yang lain. Mengapa bisa begitu? Ya karena mereka masih manusia fana yang memiliki daging dan segala keinginannya.
Dalam Yohanes 13:34–35, Tuhan Yesus memberikan perintah yang sangat mendasar kepada murid-murid-Nya: mereka harus saling mengasihi sebagaimana Dia telah mengasihi mereka. Tuhan Yesus bahkan menegaskan bahwa melalui kasih itulah semua orang akan mengetahui bahwa mereka adalah murid-murid-Nya. Dengan demikian, kasih bukan sekadar salah satu sifat baik yang diharapkan ada dalam kehidupan bergereja, melainkan tanda yang menunjukkan identitas para pengikut Kristus.
Namun, kasih yang dimaksudkan Tuhan Yesus bukan sekadar perasaan senang terhadap seseorang, kecocokan karakter, atau hubungan baik selama tidak terjadi perbedaan pendapat. Kasih Kristus harus tetap dinyatakan ketika seseorang menghadapi perbedaan pandangan, teguran, kekecewaan, bahkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Mengasihi orang yang sependapat dengan kita bukanlah perkara yang terlalu sulit. Tantangan sesungguhnya muncul ketika kita harus mengasihi saudara seiman yang memiliki pandangan berbeda, melakukan kesalahan, atau bahkan menyakiti hati kita.
Perselisihan dalam pelayanan dapat muncul karena berbagai hal, seperti perbedaan pemahaman, cara kerja, kepentingan, keinginan untuk diakui, atau perebutan kedudukan. Seseorang mungkin memulai pelayanan dengan motivasi yang baik, tetapi dalam perjalanan waktu, keinginan pribadi dapat mengambil alih tempat yang seharusnya ditempati oleh kehendak Tuhan. Pelayanan yang semestinya dilakukan untuk memuliakan Allah akhirnya berubah menjadi sarana untuk mencari penghargaan, mempertahankan pengaruh, atau membuktikan bahwa dirinya paling benar. Ketika hal ini terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan hati yang mulai menjauh dari semangat kasih Kristus.
Rasul Paulus menghadapi persoalan semacam ini dalam jemaat Korintus. Di antara mereka muncul kelompok-kelompok yang mengunggulkan pemimpin tertentu. Ada yang menyatakan diri sebagai golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, dan golongan Kristus (1 Korintus 1:10–13). Keadaan ini menunjukkan bahwa bahkan jemaat yang telah menerima pengajaran Injil pun dapat terpecah ketika mereka lebih mengutamakan kelompok dan tokoh tertentu daripada kesatuan di dalam Kristus. Paulus menegur mereka karena perilaku semacam itu memperlihatkan kedewasaan rohani yang belum memadai (1 Korintus 3:1–4).
Karena itu, keberhasilan pelayanan tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan, megahnya acara, besarnya jumlah jemaat, atau kemampuan seseorang berkhotbah dan memimpin. Semua itu dapat memiliki nilai yang baik, tetapi tidak boleh menggantikan karakter Kristus dalam diri orang yang melayani. Rasul Paulus menegaskan bahwa sekalipun seseorang memiliki karunia yang luar biasa, pengetahuan yang luas, dan iman yang besar, tanpa kasih semuanya tidak menghasilkan nilai rohani sebagaimana mestinya (1 Korintus 13:1–3). Karunia dan kemampuan memang diperlukan dalam pelayanan, tetapi kasih menentukan bagaimana semua itu digunakan untuk membangun sesama, bukan meninggikan diri sendiri.
Kasih dalam pelayanan juga tidak berarti membiarkan kesalahan, menghindari teguran, atau selalu menyetujui pendapat orang lain. Rasul Paulus mengajarkan agar orang percaya menyatakan kebenaran di dalam kasih (Efesus 4:15). Artinya, kebenaran harus tetap disampaikan, tetapi bukan untuk mempermalukan, membalas dendam, atau menjatuhkan orang yang bersalah. Teguran harus diberikan dengan tujuan membawa seseorang kepada pertobatan dan pemulihan. Sebaliknya, orang yang menerima teguran juga perlu memiliki kerendahan hati untuk memeriksa dirinya sendiri, sebab tidak seorang pun terbebas dari kemungkinan melakukan kesalahan.
Tuhan Yesus memberikan petunjuk yang jelas ketika seorang saudara melakukan kesalahan, yaitu dengan menemuinya secara pribadi terlebih dahulu untuk menyatakan kesalahannya (Matius 18:15). Prinsip ini mengajarkan tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan secara langsung dan dengan tujuan memperoleh kembali saudara yang bersalah, bukan menyebarkan masalahnya kepada orang lain demi mencari dukungan atau membentuk kelompok yang berlawanan. Apabila persoalan tidak dapat diselesaikan, Tuhan Yesus memberikan langkah-langkah berikutnya. Dengan demikian, kasih tidak meniadakan ketegasan, tetapi mengarahkan ketegasan itu kepada pemulihan dan kebenaran.
Rasul Paulus juga menasihati jemaat di Efesus agar membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Sebaliknya, mereka harus ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni mereka di dalam Kristus (Efesus 4:31–32). Nasihat ini sangat penting dalam kehidupan pelayanan. Perselisihan yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi kepahitan. Kepahitan yang dipelihara dapat memengaruhi cara seseorang berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan rekan pelayanan, bahkan menilai setiap tindakan orang yang pernah menyakitinya. Akibatnya, persoalan yang semula kecil dapat berkembang menjadi perpecahan yang merugikan seluruh jemaat.
Dalam hal ini, setiap pelayan Tuhan perlu mengingat bahwa Allah tidak hanya melihat pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga hati dan motivasi di balik pekerjaan tersebut. Seseorang dapat terlihat rajin melayani, aktif mengikuti kegiatan gereja, dan dikenal sebagai orang yang saleh, tetapi pada saat yang sama menyimpan iri hati, kesombongan, kebencian, atau keinginan untuk menguasai orang lain. Penampilan lahiriah tidak dapat menyembunyikan keadaan hati dari Allah (1 Samuel 16:7; Yeremia 17:10). Bahkan, pelayanan yang tampak berhasil tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan dosa dan menolak pertobatan. Allah tidak dapat dipermainkan, sebab setiap orang akan menuai apa yang ditaburnya (Galatia 6:7).
Oleh sebab itu, sebelum menilai kekurangan rekan pelayanan, setiap orang perlu terlebih dahulu memeriksa hatinya sendiri di hadapan Tuhan. Apakah pelayanan dilakukan karena kasih kepada Allah dan sesama, atau karena keinginan untuk memperoleh pengakuan? Apakah perbedaan pendapat diselesaikan dengan rendah hati, atau justru dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain? Apakah teguran diberikan demi kebaikan saudara, atau untuk melampiaskan kemarahan? Apakah pengampunan sungguh-sungguh diberikan, atau seseorang hanya berhenti membicarakan masalahnya sementara kebencian tetap dipelihara dalam hati? Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena persoalan pelayanan tidak selalu bermula dari kesalahan yang terlihat, tetapi sering kali berakar pada motivasi yang tidak diperiksa.
Kasih Kristus juga menuntut kesediaan untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Rasul Paulus menasihati agar setiap orang tidak hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain (Filipi 2:3–4). Sikap ini bukan berarti semua keputusan harus mengikuti keinginan setiap orang. Dalam pelayanan, keputusan tetap perlu dibuat berdasarkan kebenaran firman Tuhan, tanggung jawab, dan kepentingan jemaat. Namun, proses mengambil keputusan harus dilakukan dengan kerendahan hati, keterbukaan untuk mendengarkan, dan kesediaan menerima koreksi. Jabatan dalam gereja bukanlah kesempatan untuk menguasai orang lain, melainkan tanggung jawab untuk melayani dan membangun tubuh Kristus.
Pada akhirnya, penerapan kasih dalam pelayanan bukan diukur dari seberapa sering seseorang mengatakan bahwa ia mengasihi Tuhan atau sesama, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika menghadapi konflik. Kasih terlihat ketika seseorang bersedia mengakui kesalahannya, meminta maaf, memberikan pengampunan, menolak menyebarkan fitnah, menjaga perkataan, dan mencari penyelesaian yang benar tanpa kehilangan penghormatan terhadap sesamanya. Kasih juga terlihat ketika seseorang berani menegur kesalahan dengan cara yang benar dan bersedia menerima teguran tanpa dikuasai kesombongan.
Gereja tidak terdiri atas manusia yang telah sempurna, melainkan orang-orang yang terus dibentuk oleh kasih karunia Allah. Karena itu, perselisihan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan kasih, melainkan kesempatan untuk menguji apakah ajaran Kristus sungguh-sungguh diterapkan dalam kehidupan. Ketika setiap pelayan Tuhan bersedia merendahkan hati, memeriksa motivasinya, mengendalikan perkataan, mengampuni, dan mencari perdamaian berdasarkan kebenaran, pelayanan akan menjadi kesaksian yang nyata tentang Kristus. Sebaliknya, apabila orang-orang yang mengaku sebagai murid Kristus saling membenci, menjatuhkan, dan mempertahankan kepentingan pribadi, kesaksian gereja di hadapan dunia akan kehilangan kekuatannya.
Perintah Tuhan Yesus tetap menjadi dasar bagi seluruh pelayanan gereja: saling mengasihi sebagaimana Dia telah mengasihi kita. Kasih itu bukan sekadar slogan dalam khotbah atau tulisan di dinding gereja, melainkan panggilan untuk diwujudkan dalam setiap hubungan, keputusan, perkataan, dan tindakan. Dengan demikian, pelayanan bukan hanya menjadi kegiatan yang dilakukan atas nama Tuhan, tetapi sungguh-sungguh menjadi kehidupan yang memuliakan Tuhan melalui kasih yang nyata kepada sesama.
IV. Renungan
-
Mengapa Tuhan Yesus menghubungkan larangan membunuh dengan kemarahan dan perkataan yang menghina dalam Matius 5:21–22? Apa yang hendak Ia singkapkan mengenai keadaan hati manusia?
-
Jika seseorang tidak pernah membunuh, tetapi masih menyimpan kebencian, dendam, atau kebiasaan menghina saudaranya, apakah ia sudah menjalankan kehendak Allah? Bagaimana Imamat 19:17–18 membantu kita memahami persoalan ini?
-
Mengapa Tuhan Yesus menyuruh seseorang meninggalkan persembahannya dan berdamai terlebih dahulu dengan saudaranya? Apakah kegiatan ibadah dapat menggantikan tanggung jawab untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan?
-
Manakah yang lebih sulit bagi diri kita: tidak melakukan kejahatan atau mengakui bahwa kita telah menyakiti orang lain? Apakah harga diri, gengsi, dan keinginan untuk selalu merasa benar membuat kita sulit meminta maaf?
-
Setelah memahami Matius 5:21–26, tindakan nyata apa yang perlu kita lakukan untuk menghentikan kemarahan, memperbaiki hubungan yang rusak, dan mewujudkan Hukum Kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari?
V. Doa
Selamat pagi Tuhan Yesus. Terima kasih atas firman-Mu yang menyadarkan kami bahwa ketaatan kepada Allah bukan hanya tentang perbuatan yang terlihat, tetapi juga tentang hati, perkataan, dan hubungan kami dengan sesama. Ampuni kami apabila selama ini kami memelihara kemarahan, mengucapkan perkataan yang melukai, atau mempertahankan harga diri sehingga enggan meminta maaf. Berikanlah kami hati yang rendah hati, kesabaran untuk mengendalikan diri, serta keberanian untuk mengakui kesalahan dan memulai perdamaian. Ajarlah kami untuk tidak menjadikan ibadah sebagai pengganti kasih, melainkan mewujudkan kasih melalui tindakan nyata. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan,
melainkan juga dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
1 Yohanes 3:18
Amin.
