
Edisi 4 tentang “Sejarah Pekabaran Injil: Dari Naskah ke Kanon Part 1” Seri Kitab Injil
By Febrian — 19 Agustus 2026 05:31 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Setelah kita mempelajari edisi sebelumnya yaitu bagaimana mulai dilakukannya proses pekabaran injil melalui tulisan, maka sekarang kita akan membahas proses pekabaran Injil dari Naskah ke Kanon. Kiranya kita bisa mendapat hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.
Sejarah Pekabaran Injil:
Dari Naskah ke Kanon Part 1(Perjalanan menuju Alkitab Perjanjian Baru)
I. PENDAHULUAN
1. Definisi
Perlu kita perjelas dulu makna dari “Naskah” dan “Kanon” yang dimaksud di dalam judul di atas.
“Naskah” yang dimaksud di sini jangan disalah artikan sebagai naskah asli yang ditulis langsung oleh para rasul. Yang dimaksud adalah tradisi tulisan Perjanjian Baru dan salinan-salinan manuskripnya yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang berupa papirus, kodeks, serta berbagai manuskrip Yunani yang menjadi saksi terhadap teks Perjanjian Baru. Jadi alurnya adalah: tulisan awal → salinan → manuskrip yang masih bertahan → perbandingan manuskrip melalui kritik teks.
Sedangkan “kanon” adalah kumpulan kitab yang diakui oleh gereja sebagai Kitab Suci yang berotoritas. Kata “kanon” berasal dari bahasa Yunani kanōn, yang pada dasarnya berarti “ukuran”, “patokan”, atau “standar”, kemudian digunakan dalam pengertian kumpulan tulisan yang menjadi ukuran atau standar iman.
Dengan demikian judul “Dari Naskah ke Kanon” menggambarkan dua tahap yang berbeda, yaitu:
-
- Mewariskan teks tulisan-tulisan Perjanjian Baru kepada generasi berikutnya, serta menjaga keasliannya melalui proses penyalinan yang akurat.
- Melakukan pemisahan antara tulisan-tulisan yang diterima sebagai Kitab Suci dan yang tidak, di antara tulisan kitab-kitab awal dan tulisan kitab-kitab lain yang juga beredar terkemudian.
2. Tujuan
Tulisan ini bertujuan memberikan kita pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana kitab-kitab Injil diwariskan dari generasi ke generasi dengan tetap dijaga akurasinya, serta memahami bagaimana proses penetapan kitab-kitab Kanon yang ada dalam Alkitab saat ini.
II. DARI NASKAH ASLI KE SALINAN: MENJAGA KEAKURATAN TEKS
1. Tidak Ada Satu Pun Naskah Asli yang Bertahan
Sampai hari ini, tidak ada satu pun naskah asli (disebut juga autograf) yang ditulis langsung oleh Matius, Markus, Lukas, Yohanes, atau Paulus yang masih bertahan. Yang kita miliki seluruhnya adalah salinan — dan salinan dari salinan itu sendiri, yang jumlahnya mencapai ribuan.
Kenyataan ini bukanlah kelemahan, melainkan justru menjadi kekuatan tersendiri bagi kajian Perjanjian Baru. Semakin banyak salinan independen yang tersedia, semakin mudah para ahli membandingkan satu naskah dengan naskah lainnya untuk merekonstruksi bacaan yang paling mendekati teks aslinya. Perjanjian Baru, dibandingkan karya-karya kuno lain dari zaman yang sama, memiliki jumlah naskah pendukung yang jauh lebih banyak dan jarak waktu antara naskah tertua dengan penulisan aslinya yang jauh lebih dekat.
2. Beberapa Bukti Naskah Penting Perjanjian Baru
Berikut beberapa naskah kuno Perjanjian Baru yang paling sering dirujuk para ahli:
| Naskah | Perkiraan Waktu | Keterangan |
|---|---|---|
| Papirus Rylands (P52) | ± 125 M | Fragmen kecil Injil Yohanes; naskah Perjanjian Baru tertua yang diketahui hingga saat ini. |
| Papirus Chester Beatty | Abad ke-3 M | Memuat sebagian besar surat-surat Paulus dan bagian dari Injil serta Kisah Para Rasul. |
| Papirus Bodmer | Abad ke-2–3 M | Memuat sebagian besar Injil Yohanes dan Lukas dalam kondisi yang cukup lengkap. |
| Kodeks Sinaitikus | Abad ke-4 M | Salah satu kodeks tertua yang memuat seluruh Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. |
| Kodeks Vatikanus | Abad ke-4 M | Salah satu kodeks paling awal dan dianggap sangat penting oleh para ahli kritik teks. |
| Kodeks Aleksandrinus | Abad ke-5 M | Kodeks penting lain yang memuat hampir seluruh Alkitab dalam bahasa Yunani. |
3. Textual criticism (Kritik Tekstual): Teknik dan metode Membandingkan Naskah
Kritik tekstual adalah metode akademis yang digunakan untuk mempelajari salinan teks tulisan tangan lama. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan kata-kata asli yang ditulis oleh penulis ketika salinan aslinya hilang. Para sarjana menggunakannya untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh penulis seiring waktu. Ini adalah salah satu disiplin ilmu untuk membandingkan ribuan naskah kuno satu sama lain, yaitu dengan cara melakukan rekonstruksi bacaan-bacaan yang paling mendekati teks aslinya. Para ahli memeriksa perbedaan kecil (disebut varian teks) yang muncul akibat proses penyalinan manual selama berabad-abad — misalnya terjadi perbedaan ejaan, urutan kata, atau pengulangan kata yang tidak sengaja.
Dari catatan sejarah, hasil proses kritik teks tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dari varian yang ditemukan, adalah hanya perbedaan kecil saja dan tidak memengaruhi satu pun ajaran pokok iman Kristen. Sebagai contoh, bahwa tidak satu pun ditemukan suatu varian Major, yang misalnya menyatakan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus tidak terjadi, atau adanya tulisan yang mengubah inti doktrin keselamatan Kristen.
Jadi pada akhirnya, setelah melalui proses panjang kritik tekstual ribuan naskah tersebut, para ahli sampai pada kesimpulan untuk dapat menyatakan dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi, bahwa Perjanjian Baru yang kita baca hari ini, intinya adalah sama dengan apa yang ditulis oleh para penulis aslinya.
III. DARI TULISAN YANG BEREDAR MENUJU KANON
1. Proses Pembentukan dan Kanonisasi Perjanjian Baru
Pada abad pertama dan kedua, tidak hanya kitab-kitab yang sekarang menjadi Perjanjian Baru yang beredar di antara jemaat. Berbagai tulisan Kristen lain juga muncul, dibaca, disalin, dan digunakan oleh komunitas-komunitas tertentu. Sebagian berupa surat, pengajaran, kisah kesaksian dari para rasul, atau tulisan lain yang mengaku ditulis oleh orang-orang yang memiliki hubungan dengan para rasul. Di antara tulisan yang kemudian dikenal luas adalah Injil Tomas, Injil Petrus, Injil Yudas, serta sejumlah tulisan lain yang sekarang digolongkan sebagai tulisan Apokrifa Perjanjian Baru1.
Selain itu, terdapat pula tulisan dari para pemimpin gereja generasi setelah para rasul. Misalnya, 1 Clement2 yang dikaitkan dengan Clement dari Roma pada akhir abad pertama, Surat Barnabas, Didache, dan surat-surat Ignatius dari Antiokhia pada awal abad kedua. Tulisan-tulisan tersebut menunjukkan bahwa sejak masa awal, jemaat Kristen telah memiliki berbagai bahan tertulis untuk pengajaran, kehidupan gereja, dan pembinaan iman. Namun, keberadaan atau penggunaannya tidak dengan sendirinya berarti bahwa tulisan tersebut dianggap sebagai Kitab Suci.

Persoalan menjadi berkembang ketika beredar tulisan yang menggunakan nama tokoh-tokoh rasuli, di mana beberapa tulisan tersebut baru muncul pada abad kedua atau sesudahnya. Hal tersebut menyebabkan para pemimpin gereja harus mempertimbangkan apakah suatu tulisan benar-benar berasal dari zaman para rasul, apakah isinya sesuai dengan ajaran yang telah diterima oleh gereja, dan apakah tulisan tersebut digunakan secara luas oleh jemaat. Jadi, persoalan yang dihadapi gereja bukan hanya banyaknya jumlah tulisan, tetapi juga bagaimana membedakan tulisan mana yang betul-betul memiliki otoritas rasuli, dengan tulisan-tulisan yang hanya memiliki nilai pengajaran atau hanya digunakan oleh suatu komunitas tertentu.
Proses tersebut berlangsung secara bertahap. Lama-kelamaan gereja semakin jelas mengenali kelompok tulisan yang memiliki kedudukan khusus dalam kehidupan iman Kristen. Menjelang akhir abad kedua, terdapat bukti yang cukup kuat bahwa empat Injil telah memperoleh kedudukan yang sangat penting. Sekitar tahun 180 Masehi, misalnya, Irenaeus dari Lyon secara tegas berbicara mengenai empat Injil sebagai kesatuan yang diterima gereja. Pada masa yang kurang lebih sama, apa yang dikenal sebagai “Fragmen Muratorian” juga menunjukkan penerimaan terhadap empat Injil, Kisah Para Rasul, dan sebagian besar surat Paulus. Namun, dokumen tersebut tidak memuat daftar lengkap 27 kitab sebagaimana yang kita kenal sekarang.
Hal yang sama terlihat pada surat-surat Paulus. Sebagian besar surat Paulus telah beredar dan digunakan oleh jemaat sejak abad pertama, dan pada akhir abad kedua kumpulan surat tersebut telah memperoleh otoritas yang sangat kuat. Akan tetapi, penerimaan terhadap beberapa tulisan lain tidak berlangsung dengan tingkat kepastian yang sama. Surat Ibrani, misalnya, mempunyai kedudukan yang berbeda-beda di berbagai wilayah, sedangkan Surat Yakobus, Yudas, 2 Petrus, serta 2 dan 3 Yohanes masih diperdebatkan mengenai otoritas dan hubungan rasulinya. Kitab Wahyu juga diterima di sebagian gereja tetapi ditolak atau dipertanyakan di sebagian lainnya.
Keadaan tersebut masih terlihat pada awal abad keempat. Eusebius dari Kaisarea dalam Ecclesiastical History membedakan tulisan-tulisan Kristen ke dalam beberapa kelompok tulisan:
-
- Bisa diterima: Empat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus, 1 Yohanes, dan 1 Petrus.
- Masih diperdebatkan: Yakobus, Yudas, 2 Petrus, serta 2 3 Yohanes dan Kitab Wahyu.
Karena masih ada perdebatan seperti itu, kanon Perjanjian Baru tidak ditetapkan sekaligus dalam satu waktu. Prosesnya berlangsung selama beberapa generasi, melalui pengenalan, penggunaan, pengujian, dan penerimaan berbagai tulisan. Pertimbangannya antara lain hubungan tulisan tersebut dengan para rasul, kesesuaiannya dengan ajaran iman yang telah diterima gereja, penggunaannya oleh jemaat, serta penerimaannya di berbagai wilayah. Melalui proses yang panjang tersebut, akhirnya semakin luas diakui 27 kitab yang sekarang dikenal sebagai Perjanjian Baru.
Daftar lengkap 27 kitab tersebut baru secara jelas tercatat dalam Athanasius dari Aleksandria melalui Festal Letter ke-39 pada tahun 367 (Surat pastoral tahunan yang ditulis pada zaman pra-modern oleh Uskup Aleksandria untuk mengumumkan tanggal pasti Paskah dan awal puasa Prapaskah untuk tahun mendatang). Daftar itu telah memuat empat Injil, Kisah Para Rasul, 13 surat Paulus, Ibrani, Tujuh surat umum, dan Kitab Wahyu — persis 27 kitab yang terdapat dalam Perjanjian Baru sekarang. Ini betul memang adalah merupakan tonggak penting bagi sejarah Gereja, namun itu bukan berarti menyatakan bahwa pada tahun 367 M tersebut, gereja tiba-tiba “menciptakan” kanon Perjanjian Baru. Daftar kitab dalam Festal Letter tersebut lebih tepat dilihat sebagai salah satu bukti penting bahwa proses panjang pengenalan dan penerimaan terhadap kitab-kitab Perjanjian Baru, telah mencapai bentuk yang semakin jelas.
2. Tantangan Marcion

Salah satu tantangan penting yang muncul dalam proses pembentukan dan pengakuan kanon Perjanjian Baru datang dari Marcion dari Sinope, seorang tokoh Kristen yang aktif di Roma pada pertengahan abad kedua, sekitar tahun 140 M. Marcion menyusun kumpulan tulisan yang menjadi dasar bagi komunitas para pengikutnya. Kumpulan tersebut terdiri atas satu Injil yang berkaitan erat dengan Injil Lukas, tetapi dalam bentuk yang telah mengalami penyuntingan, serta sepuluh surat Paulus. Marcion tidak memasukkan surat-surat Paulus lainnya, termasuk surat-surat yang kemudian dikenal sebagai 1 Timotius, 2 Timotius, dan Titus. Ia juga menghilangkan bagian-bagian dari tulisan yang diterimanya yang dianggap tidak sesuai dengan pemahamannya tentang Injil. Rekonstruksi mengenai kumpulan tulisan Marcion terutama didasarkan pada kesaksian para penentangnya, karena karya asli Marcion tidak lagi tersedia secara utuh. 3
Dasar pemikiran Marcion adalah pemisahan yang tegas antara Allah Pencipta yang dikenal dalam Kitab Suci Israel dan Allah yang dinyatakan melalui Tuhan Yesus. Menurut pemahamannya, Allah Pencipta terutama berkaitan dengan hukum, keadilan, dan penghakiman, sedangkan Allah yang dinyatakan melalui Tuhan Yesus adalah Allah yang penuh kasih dan sebelumnya belum dikenal. Karena itu, Marcion menolak Kitab Suci Israel sebagai dasar iman komunitasnya dan menafsirkan berita tentang Tuhan Yesus berdasarkan kerangka pemikiran tersebut. Bagian-bagian yang menghubungkan Tuhan Yesus dengan Allah yang dikenal dalam Kitab Suci Israel dianggap tidak sesuai dengan Injil yang diyakininya. Irenaeus, yang menulis sekitar tahun 180 M, secara khusus menggambarkan ajaran Marcion sebagai pengembangan dari ajaran Cerdo, yang juga memisahkan Allah yang diberitakan dalam hukum dan para nabi dari Bapa Tuhan Yesus.
Atas dasar pemikiran itu, Marcion tidak hanya memilih tulisan-tulisan tertentu, tetapi juga menggunakan bentuk teks yang telah disesuaikan dengan kerangka teologinya. Injil yang digunakannya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Injil Lukas, tetapi dalam bentuk yang lebih pendek. Para penulis gereja abad kedua dan ketiga menuduh Marcion telah menghilangkan bagian-bagian yang bertentangan dengan ajarannya. Tertullian, misalnya, secara khusus menyatakan bahwa Marcion telah memotong atau mengubah Injil yang digunakannya. Namun, penelitian modern juga menunjukkan bahwa beberapa perbedaan antara teks Marcion dan bentuk Injil Lukas yang dikenal sekarang perlu diteliti dengan hati-hati, karena tidak semua perbedaan dapat dipastikan merupakan hasil penyuntingan Marcion.
Dalam kumpulan surat Paulus yang dikenal sebagai Apostolikon, Marcion menerima sepuluh surat: Galatia, 1 Korintus, 2 Korintus, Roma, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, Efesus, Kolose, Filipi, dan Filemon. Surat-surat Pastoral—1 Timotius, 2 Timotius, dan Titus—tidak termasuk di dalamnya. Beberapa surat yang diterimanya juga tampaknya memiliki bagian-bagian yang berbeda dari teks yang dikenal dalam Perjanjian Baru sekarang. Marcion menggunakan tulisan-tulisan Paulus, terutama pemahamannya terhadap hubungan antara hukum Taurat dan Injil, untuk mendukung pandangannya. Ia juga menggunakan pernyataan Rasul Paulus dalam surat Galatia tentang adanya rasul-rasul yang tidak berjalan sesuai dengan kebenaran Injil sebagai dasar untuk mempertanyakan otoritas tradisi gereja yang tidak sesuai dengan pemahamannya.
Namun, perlu berhati-hati dalam menyimpulkan bahwa setiap tulisan yang tidak terdapat dalam kumpulan Marcion pasti sengaja ditolak olehnya karena alasan tertentu. Kita tidak memiliki karya asli Marcion secara utuh, sehingga sebagian besar informasi mengenai pandangannya diperoleh melalui tulisan para penentangnya, terutama Irenaeus dan Tertullian. Oleh sebab itu, dalam beberapa kasus para ahli masih memperdebatkan apakah suatu perbedaan merupakan hasil penyuntingan Marcion, bagian dari bentuk teks yang memang sudah beredar sebelumnya, atau perkembangan teks pada masa kemudian. Hal ini terutama penting ketika membahas hubungan antara Injil Marcion dan Injil Lukas.
Dengan demikian, tantangan Marcion bukan sekadar persoalan memilih kitab mana yang diterima dan mana yang ditolak. Di balik pilihan tersebut terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: Siapakah Allah yang diberitakan oleh Tuhan Yesus dan Rasul Paulus, serta bagaimana hubungan Injil dengan Kitab Suci Israel? Bagi Marcion, perbedaan antara hukum dan Injil menunjukkan adanya perbedaan antara Allah Pencipta dan Allah yang dinyatakan melalui Tuhan Yesus. Sebaliknya, para pemimpin gereja seperti Irenaeus dan Tertullian berusaha menunjukkan bahwa pemberitaan Tuhan Yesus dan Rasul Paulus tidak dapat dipisahkan dari Allah yang menyatakan diri-Nya dalam Kitab Suci Israel. Tertullian bahkan menggunakan Injil yang diterima Marcion sendiri sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa berita tentang Tuhan Yesus berkaitan dengan Allah dan Kitab Suci Israel. (Early Christian Writings)
Gereja arus utama menolak ajaran dan kumpulan tulisan Marcion. Namun, munculnya Marcion tidak berarti bahwa sebelum dirinya gereja sama sekali belum memiliki tulisan yang dianggap berotoritas. Tulisan-tulisan para rasul dan Injil telah digunakan dalam kehidupan berbagai jemaat sebelum pertengahan abad kedua. Karena itu, Marcion tidak dapat disebut sebagai orang yang menyebabkan gereja untuk pertama kalinya memiliki kanon Perjanjian Baru. Lebih tepat dikatakan bahwa tantangan Marcion menjadi salah satu faktor yang mendorong gereja untuk semakin jelas menjelaskan tulisan mana yang diterima sebagai kesaksian yang berotoritas dan bagaimana tulisan-tulisan tersebut harus dipahami.
Dalam menghadapi Marcion dan berbagai ajaran lain yang berkembang pada abad kedua, para pemimpin gereja semakin menegaskan pentingnya kesaksian para rasul, kesesuaian suatu ajaran dengan iman yang telah diterima gereja, serta penggunaan tulisan-tulisan tersebut secara luas di antara jemaat. Gereja juga mempertahankan hubungan antara Kitab Suci Israel dan berita tentang Tuhan Yesus, berbeda dengan Marcion yang memisahkan keduanya. Sekitar tahun 180 M, Irenaeus dari Lyon memberikan kesaksian yang sangat penting mengenai empat Injil. Dalam karyanya Against Heresies, ia menggunakan keempat Injil tersebut sebagai satu kesaksian yang selaras dan menjadikannya bagian penting dari argumentasinya terhadap ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang.
Jika dinilai dari sudut pandang iman Kristen yang kemudian menjadi arus utama dan berdasarkan kesaksian Perjanjian Baru, kesimpulan Marcion mengenai adanya dua Allah yang berbeda tidak dapat diterima. Kesalahan mendasarnya adalah memisahkan Allah Pencipta yang dikenal dalam Kitab Suci Israel dari Allah yang diberitakan oleh Tuhan Yesus. Perjanjian Baru justru menghubungkan keduanya. Tuhan Yesus menggunakan dan menegaskan Kitab Suci Israel, sedangkan Rasul Paulus tetap menggunakan Kitab Suci tersebut sebagai dasar pemberitaannya. Karena itu, Injil tidak dipahami oleh gereja mula-mula sebagai berita tentang Allah yang berbeda dari Allah yang menyatakan diri-Nya dalam Kitab Suci Israel.
Namun, terdapat satu hal yang perlu dibedakan. Marcion mengangkat persoalan yang memang penting, yaitu bagaimana memahami hubungan antara hukum Taurat, Kitab Suci Israel, dan Injil Tuhan Yesus. Persoalan tersebut tidak diselesaikan dengan mengabaikannya, melainkan dengan menjelaskan hubungan antara keduanya. Marcion memilih memutus hubungan tersebut, sedangkan gereja mula-mula mempertahankan kesatuan rencana Allah dalam Kitab Suci. Irenaeus, misalnya, secara khusus menegaskan kesatuan asal dan tujuan Perjanjian Lama dan berita Injil dalam menghadapi pandangan Marcion.
Dengan demikian, Marcion mengangkat pertanyaan yang penting, tetapi memberikan jawaban yang ditolak oleh gereja karena dianggap bertentangan dengan kesaksian Kitab Suci dan iman yang telah diterima dari para rasul. Tantangan tersebut justru memaksa gereja mula-mula untuk semakin jelas menjelaskan hubungan antara Kitab Suci Israel, pemberitaan Tuhan Yesus, tulisan-tulisan para rasul, dan dasar iman Kristen.
Karena itu, Marcion tidak dapat disebut sebagai orang yang menyebabkan gereja “menciptakan” kanon Perjanjian Baru. Proses pengenalan, pembacaan, dan penggunaan tulisan-tulisan yang memiliki otoritas telah berlangsung sebelumnya. Namun, tantangan Marcion menjadi salah satu peristiwa penting yang mendorong gereja untuk semakin memperjelas batas antara tulisan yang memiliki otoritas rasuli dengan berbagai tulisan dan ajaran lain yang beredar pada masa itu. Dalam pengertian inilah, tantangan Marcion merupakan salah satu bagian penting dalam proses panjang pengakuan dan pembentukan kanon Perjanjian Baru.
3. Kriteria yang Digunakan Gereja Mula-Mula
Secara umum, gereja mula-mula menggunakan beberapa kriteria dalam mengenali kitab-kitab yang layak dianggap sebagai Kitab Suci:
-
- Kerasulan — apakah tulisan tersebut berasal dari seorang rasul atau memiliki hubungan langsung dengan kesaksian seorang rasul.
- Ortodoksi — membandingkan isi suatu tulisan dengan ajaran para rasul, terutama mengenai Allah, Tuhan Yesus, keselamatan, kebangkitan, dan kehidupan iman, serta dengan ajaran yang telah diterima dan diwariskan secara luas oleh jemaat-jemaat mula-mula.
- Penerimaan luas (katolisitas) — apakah tulisan tersebut telah diterima dan digunakan secara luas oleh jemaat-jemaat di berbagai wilayah, bukan hanya satu komunitas kecil.
- Keaslian zaman — apakah tulisan tersebut berasal dari zaman para rasul, bukan tulisan yang muncul jauh lebih kemudian. Keaslian zaman dinilai berdasarkan kedekatan tulisan dengan zaman para rasul, hubungan dengan rasul atau saksi rasuli, serta kesaksian gereja-gereja dan penulis Kristen awal mengenai penggunaannya.
4. Saksi-Saksi Bertahap Proses Kanonisasi
Berikut beberapa saksi penting yang memperlihatkan bagaimana proses pengenalan kanon Perjanjian Baru berlangsung secara bertahap, dengan tingkat kepastian historis yang berbeda-beda:
| Waktu | Saksi/Peristiwa | Keterangan |
|---|---|---|
| ± 170–200 M | Fragmen Muratori | Salah satu daftar kitab Perjanjian Baru tertua yang diketahui, meskipun penanggalannya masih diperdebatkan sebagian ahli. |
| Awal abad ke-3 M | Origenes | Mengelompokkan kitab-kitab menjadi yang diterima luas, yang diperdebatkan, dan yang ditolak. |
| ± 324 M | Eusebius (Church History 3.25) | Membagi tulisan menjadi kategori Homologoumena (diakui secara luas), Antilegomena (masih diperdebatkan), dan Notha (tidak diakui sebagai tulisan kanonik). |
| 367 M | Surat Paskah Athanasius | Daftar tertua yang diketahui persis mencantumkan 27 kitab Perjanjian Baru sebagaimana kita kenal sekarang. |
| 393, 397, 419 M | Sinode Hippo dan Konsili Kartago | Menegaskan secara regional daftar 27 kitab tersebut; menegaskan, bukan menciptakan, kanon yang sudah diterima luas. |
5. Meluruskan Satu Pandangan Masyarakat yang Keliru
Perlu ditegaskan bahwa Konsili Nicea tahun 325 M bukanlah forum yang menetapkan kanon Perjanjian Baru, meskipun anggapan tersebut cukup sering beredar di masyarakat. Konsili Nicea terutama membahas persoalan kristologi, khususnya menanggapi ajaran Arius yang menyangkal keilahian penuh Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, persoalan yang dibahas di Nicea berbeda dengan proses pengakuan kanon Perjanjian Baru.
Kanon Perjanjian Baru tidak ditetapkan melalui satu konsili dalam satu waktu. Pengakuan terhadap kitab-kitab Perjanjian Baru berlangsung melalui proses yang bertahap dan panjang, sejak abad pertama hingga abad keempat. Jemaat-jemaat mula-mula terlebih dahulu menggunakan dan mewariskan tulisan-tulisan yang dianggap memiliki otoritas rasuli. Dalam perkembangannya, gereja semakin memperjelas tulisan mana yang diterima secara luas, mana yang masih diperdebatkan, dan mana yang tidak diterima sebagai bagian dari kanon.
Peristiwa-peristiwa seperti daftar kitab dalam Fragmen Muratori, pengelompokan tulisan oleh Origenes dan Eusebius, Surat Paskah Athanasius tahun 367 M, serta keputusan regional di Hippo dan Kartago menunjukkan perkembangan proses tersebut. Karena itu, sinode dan konsili pada akhir abad keempat lebih tepat dipahami sebagai penegasan secara resmi terhadap daftar kitab yang telah memiliki penerimaan luas, bukan sebagai tindakan menciptakan kanon Perjanjian Baru dari awal.
Dengan demikian, pernyataan beberapa pihak yang mengatakan bahwa “Konsili Nicea menentukan kitab-kitab Perjanjian Baru”, ditegaskan tidak sesuai dengan bukti sejarah. Yang terjadi adalah proses panjang pengenalan, penggunaan, pengujian, dan pengakuan terhadap tulisan-tulisan yang dianggap memiliki otoritas rasuli hingga akhirnya terbentuk daftar 27 kitab yang dikenal sebagai kanon Perjanjian Baru.
PENUTUP EDISI 4
Dalam edisi ini kita telah melihat dua proses yang berbeda namun saling berkaitan. Pertama, proses transmisi naskah — bagaimana teks Perjanjian Baru diwariskan dari generasi ke generasi melalui ribuan salinan, dan bagaimana ilmu kritik teks memungkinkan kita memiliki keyakinan tinggi bahwa teks yang kita baca hari ini secara substansi sama dengan yang ditulis para penulis aslinya. Kedua, proses kanonisasi — bagaimana gereja, melalui proses yang panjang dan bertahap, mengenali dan menegaskan kitab-kitab mana yang benar-benar berasal dari kesaksian rasuli dan layak menjadi standar iman.
Penting untuk dipahami bahwa gereja tidak “menciptakan” Perjanjian Baru, melainkan mengenali otoritas yang sudah melekat pada kitab-kitab yang sejak awal berasal dari kesaksian para rasul dan diterima luas oleh jemaat-jemaat Kristen mula-mula.
2 Timotius 3:16-17
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Kiranya Tuhan Yesus memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pemberitaan firman hari ini. Tuhan Yesus memberkati.
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2 Timotius 4:2
Amin.
Bersambung ke Edisi berikutnya. Klik di sini.
Catatan penulis:
- Fokus dari bahasan dalam Edisi 4 ini, terbatas pada proses pengenalan dan penerimaan terhadap 27 kitab Perjanjian Baru, sebagai bagian dari Alkitab yang diakui resmi dan sah oleh agama Kristen Protestan. Sedangkan di Indonesia kita batasi versi terjemahan Alkitab yang kami pakai adalah ALKITAB (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) tahun 1974.
- Tulisan-tulisan seperti Injil Tomas dan Injil Petrus di atas sering disebut sebagai Apokrifa Perjanjian Baru. Perlu dibedakan dari istilah “Apokrifa” yang lebih umum dikenal masyarakat, di mana itu merujuk pada Apokrifa/Deuterokanonika Perjanjian Lama (seperti Tobit, Makabe, Kebijaksanaan Salomo dan lain-lain). Kitab-kitab tersebut diakui dan masuk dalam Alkitab Katolik dan Alkitab Ortodoks, tetapi tidak termasuk dalam Alkitab Protestan. Jadi mengingat tulisan Edisi 4 ini berfokus pada kanon Perjanjian Baru, pembahasan Apokrifa Perjanjian Lama akan kita bahas tersendiri pada kesempatan lain.
- Mungkin kita pernah mendengar tentang Dead Sea Scroll (Naskah-Naskah Laut Mati) yang ditemukan di gua-gua Qumran dekat Laut Mati Israel. Naskah-naskah tersebut adalah Naskah Perjanjian Lama yang merupakan tulisan komunitas Yahudi kuno, bukan naskah Perjanjian Baru atau Injil. Hal ini penting kita pahami perbedaannya, yaitu naskah Injil bukan berasal dari Naskah-naskah Laut Mati, melainkan dari naskah-naskah kuno para Rasul dan salinannya antara lain seperti dalam poin II.b. di atas. Penemuan Dead Sea Scroll tersebut juga sama pentingnya, karena memperlihatkan betapa telitinya tradisi penyalinan naskah suci dan cara mengawetkannya dari masa itu — sebuah budaya ketelitian yang juga mewarnai bagaimana caranya naskah-naskah Perjanjian Baru kemudian disalin dan dijaga oleh komunitas Kristen mula-mula.
