Edisi 3 – Allah memberkati umat-Nya berlimpah-limpah – Seri Renungan Pagi

By Febrian 07 September 2026 03:50 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam Kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Bagaimana Allah memperhatikan kebutuhan dari setiap umat yang mengasihi dan ingin selalu mendekat dengan-Nya, bahkan dengan berkelimpahan. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.


Allah memberkati umat-Nya berlimpah-limpah
(Pelajaran kisah Lima Roti dan Dua Ikan)

Silakan klik link berikut untuk membaca ayat: Matius 14:13-21 ; Markus 6:30-44; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:1-13

Ini mungkin termasuk kisah yang sangat terkenal dalam Alkitab, bahkan sudah kita sering dengar semenjak Sekolah Minggu. Akan tetapi ada baiknya kita bersama-sama merenungkan firman Tuhan ini lebih dalam lagi mengenai apa karya Tuhan yang dapat kita ambil pelajaran darinya.

Empat kitab Injil mencatat kejadian yang sama dari berbagai sudut pandang penulis. Jadi, jika ditulis dalam semua kitab Injil, berarti kejadian ini mempunyai posisi yang sangat penting dalam menyampaikan pesan Allah bagi para pembacanya.


1. Latar Belakang

Matius 14:13a (TB)  Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 

Markus 6:31-32 (TB)

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi . 

Kejadian sebelumnya: Matius 14:1-12; Markus 6:14-29; Lukas 9:7-9

Tuhan Yesus mendengar berita kematian Yohanes Pembaptis yang diberitakan oleh para muridnya, dan ingin menyendiri. Mungkin turut berdukacita atas kematian saudara sepupunya yang adalah pembuka jalan bagi diri-Nya dalam pelayanan di bumi. Selain itu orang banyak itu terus datang silih berganti, hingga makan pun Tuhan Yesus dan para murid-Nya tidak sempat. Jadi sudah saatnya untuk menyingkir sejenak mencari tempat untuk beristirahat dan makan sebentar saja.

Matius 14:13b Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.

Markus 6:33 (TB)  Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 

Lukas 9:11a (TB)  Akan tetapi orang banyak mengetahuinya, lalu mengikuti Dia.

Namun, rencana Tuhan ingin menyendiri kelihatannya tidak dapat terlaksana, mengingat banyak orang datang terus mengikuti Tuhan Yesus dengan mengambil jalan darat.

Matius 14:14  Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. 

Markus 6:34 (TB)  Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. 

Sebagian besar dari mereka ingin mencari kesembuhan bagi mereka sendiri atau orang yang mereka bawa kepada-Nya. Bahkan dikatakan mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Di sinilah Tuhan Yesus Kristus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan, sehingga Ia akhirnya menyembuhkan mereka dan mengajar mereka banyak hal tentang kebenaran Allah.


2. Tuhan Yesus mengetahui segala kebutuhan umat-Nya

Matius 14:15 (TB) Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”

Markus 6:35-36 (TB) Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”

Lukas 9:12 (TB) Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang sunyi.”

Diketahui bahwa sepanjang hari orang banyak itu mengantri untuk mendapatkan giliran mendapatkan kesembuhan, juga mendengarkan Firman Allah. Sudah dapat dipastikan mereka pasti juga lapar, haus dan kelelahan juga. Waktu itu hari sudah mulai malam, sedangkan lokasi mereka saat itu diketahui sunyi dan jauh dari mana-mana. Mereka harus makan dan minum agar kuat berjalan pulang nantinya.

Yohanes 6:5-6 (TB) Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.

Penulis Injil Yohanes  mencatat, ternyata berbeda dengan Tuhan Yesus sudah tahu apa yang bakal terjadi di tempat itu dan sudah pula memiliki suatu rencana akan kondisi tersebut. Namun, Ia sengaja bertanya kepada Filipus, dengan tujuan untuk mencobainya. Mencobai di sini, maknanya adalah mengetahui seberapa besar kasih Filipus kepada sesamanya yang membutuhkan pertolongan.

Di sinilah terlihat bahwa Allah dalam Tuhan Yesus Kristus Sang Gembala Agung kita, begitu care terhadap umat-Nya. Ia sudah terlebih dahulu memikirkan pemenuhan segala kebutuhan mereka tanpa perlu diingatkan. Hati-Nya yang penuh dengan belas kasihan selalu peka akan kebutuhan setiap umat yang mengasihi-Nya.

Yeremia 17:7-8 (TB)

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Tuhan Yesus mengetahui segala kebutuhan kita, bahkan yang tidak pernah terucap dalam doa sekalipun. Ia bukan hanya mengetahui, namun Ia  bahkan telah mempersiapkan segala pemenuhan kebutuhan tersebut jauh sebelum kita membutuhkannya.

Orang banyak itu datang kepada Tuhan Yesus dengan penuh kerinduan untuk diselamatkan, mereka tidak dikecewakan dan mereka tidak hanya mendapat kesembuhan, namun kebutuhan dasar mereka juga sudah disiapkan-Nya.


3. Menjadi pengikut Tuhan Yesus belum tentu mengenal kehendak-Nya

Matius 14:15 (TB) Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”

Markus 6:35-36 (TB) Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”

Lukas 9:12 (TB) Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang sunyi.”

Duabelas murid Tuhan Yesus, hingga waktu itu terbilang sudah cukup lama mengiringi ke mana pun ia pergi. Mereka senantiasa bersama Tuhan Yesus ke mana pun pelayanan-Nya dilakukan. Setiap khotbah-Nya pasti juga mereka dengarkan, bahkan setiap Mukjizat yang dilakukan-Nya juga pasti mereka lihat dan saksikan.

Pada saat hari sudah mulai malam, dengan didorong oleh belas kasihan, mereka seharusnya memberi orang banyak itu makan. Namun sebaliknya, Karena mereka sadar bahwa mereka tidak siap akan hal itu. Di satu sisi uang mereka terbatas, di sisi lain mereka berada di tempat yang sunyi dan jauh dari mana-mana. Inilah situasi yang menyebabkan mereka serba salah dan mengambil keputusan untuk ‘melepas tanggung jawab’, memberi orang banyak itu makan.

Matius 14:17 (TB) Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” 

Markus 6:38b (TB) Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” 

Lukas 9:13b (TB) Mereka menjawab: “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.”

Yohanes 6:7-9 (TB) Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

Sikap dan jawaban mereka itu jelas menggambarkan bahwa sesungguhnya mereka masih sama dengan orang kebanyakan yang berfikir memakai logika manusia yang terbatas pada hukum alam, hukum fisika, dsb yang membatasi segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Mereka ternyata belum sepenuhnya paham, bahwa Pencipta Langit dan Bumi, Alam Semesta beserta seluruh isinya, sedang berdiri di sebelah mereka. Itulah Sang Guru Agung yang senantiasa mereka iringi ke mana pun mereka berada.

Ini terjadi pula pada kebanyakan dari kita. Segala masalah, persoalan, hambatan, musibah, sakit penyakit, dsb yang menjadi kendala dalam hidup kita, membuat kita hanya fokus kepada hal-hal itu. Kita tidak sadar bahwa ada Allah yang tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun. Tuhan Yesus Kristus selalu siap mendengarkan seru doa kita.

Mari kita renungkan secara mendalam, berapa lama kita sudah Mengiring Tuhan Yesus sebagai anak-Nya? Bagaimana tingkat pengenalan kita akan kehendak-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya, sehingga bisa membuat kita percaya dan beriman sepenuhnya, dalam menghadapi segala situasi dalam hidup kita?


4. Tuhan Yesus mengingatkan akan kasih dan tanggung-jawab bagi sesama

Matius 14:16 (TB) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.”

Markus 6:37a (TB) Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” 

Lukas 9:13a (TB) Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!

Yohanes 6:5-6 (TB) Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.

Dari sikap Tuhan Yesus tersebut dapat kita ambil beberapa pelajaran, yaitu Ia mau setiap murid mempunyai hati yang berbelaskasihan dan ber-empati kepada sesamanya, serta tahu harus berharap dan memohon pertolongan kepada siapa dalam situasi yang sulit. Jadi dari ayat di atas, kita ketahui apa kehendak Tuhan Yesus di dalam para murid-Nya.

Hal ini pula yang sebetulnya Tuhan inginkan kita miliki dalam hati kita, yaitu hati yang penuh kasih terhadap sesama kita, bukan hanya teori atau perkataan belaka, melainkan siap melakukan suatu tindakan nyata demi menolong orang yang sedang dalam kondisi yang kurang beruntung.

Mari kita renungkan bersama, dalam satu hari kemarin, beberapa banyak hidup kita sudah menjadi berkat buat orang lain? Berapa kali dalam sehari kita berdoa buat orang lain, baik yang dekat dengan kita, atau yang tidak terlalu dekat. Mendoakan sesama juga bukan hal kecil, itu adalah hal yang berdampak besar, jika kita lakukan dengan penuh kesungguhan kepada Allah. Namun, setelah berdoa, kita juga wajib bertindak dalam aktivitas nyata menolong sesama kita yang sedang sudah, sedang sakit, atau tertimpa kemalangan lain.

Mulailah dari hal kecil dan dari lingkungan terdekat kita dulu. Lakukan itu dengan penuh kesungguhan dan konsistensi yang baik, hingga berdampak bagi orang yang kita layani. Kemudian lanjutkan ke lingkungan dan komunitas yang lebih luas lagi.

Matius 5:15-16 (TB): “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Filipi 4:5 (TB): “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!”

Dengan kita berbuat kebaikan bagi sesama kita, maka orang yang imannya mulai lemah, kembali dikuatkan. Orang yang belum kenal Tuhan Yesus dapat diperkenalkan kepada-Nya dengan perbuatan kita yang menjadi terang di tengah-tengah kegelapan. Namun, ada satu hal yang perlu diingat, bahwa kebaikan hati harus diketahui semua orang, tidaklah berarti ‘pamer kebaikan’. Berbuat ‘pamer kebaikan’ itu adalah perbuatan sia-sia dan menyesatkan, perbuatan itu dikatakan munafik. Hendaknya kita melakukan semua kebaikan kita dengan tujuan agar Kristus yang ada di dalam kita dapat disaksikan oleh orang lain, bukan untuk kemuliaan diri sendiri.


5. Tuhan Yesus sanggup pakai apapun untuk mendatangkan kebaikan bagi kita

Matius 14:18 Yesus berkata: Bawalah ke mari kepada-Ku. Lalu (1) disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah (2) diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus (3)menengadah ke langit dan (4)mengucap berkat, lalu (5)memecah-mecahkan roti itu dan (6)memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu (7)murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan (8)mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan (9) roti yang sisa, dua belas bakul penuh14:21(10) Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Markus 6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa! Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Lalu (1) Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Dan setelah (2) Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, (3) Ia menengadah ke langit dan (4) mengucap berkat, lalu (5) memecah-mecahkan roti itu dan (6) memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya (7) dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan (8) mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan (9) potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. (10) Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

Lukas 9:14 Sebab di situ ada (10) kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: (1) Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Dan setelah (2) Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, (3) Ia menengadah ke langit, (4) mengucap berkat, lalu (5) memecah-mecahkan roti itu dan (6) memberikannya kepada murid-murid-Nya(7) supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan (8) mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan (9) potongan-potongan roti yang sisa sebanyak dua belas bakul.

Yohanes 6:10 Kata Yesus: (1) Suruhlah orang-orang itu duduk. Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, (10) kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu (2) Yesus mengambil roti itu, (3) & (4) mengucap syukur dan (5), (6) & (7) membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan (8) setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang. Maka merekapun mengumpulkannya, dan (9) mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Dari ayat-ayat bacaan di keempat Injil di atas, dapat kita bagi beberapa hal penting sebagai berikut:

(1) Tuhan Yesus menyuruh mereka duduk berkelompok-kelompok

a. Allah Membawa Ketertiban

2 Timotius 1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita
bukan roh ketakutan,
melainkan roh yang membangkitkan
kekuatan,
kasih dan
ketertiban.

Seperti kita ketahui, bahwa orang banyak itu datang dari Kapernaum sudah berjalan sangat jauh menuju Betsaida (sekitar 10 KM jalan darat) dan mereka masih harus mengantri untuk mendapatkan kesembuhan bagi mereka sendiri serta mungkin bagi anggota keluarganya. Bisa jadi sewaktu bertemu dengan Tuhan Yesus dan para murid, mereka semua berdesak-desakan dan suasana bisa saja menjadi kacau balau.

Tuhan Yesus dengan penuh kasih, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, memberitakan firman Tuhan bagi mereka semua. Dan ketika hari mulai malam, Tuhan Yesus mengetahui bahwa mereka ini sudah lelah dan lapar. Hal ini bisa jadi akan berpotensi mendatangkan kekacauan yang berbahaya. Dengan penuh Kasih Tuhan Yesus menyuruh orang banyak itu duduk dan dibentuk menjadi kelompok 50 orang, (terbentuk sekitar 100 kelompok dari 5.000 orang), sehingga semuanya seketika itu menjadi tertib. Kondisi ini menyebabkan keadaan lebih terkendali dan mereka semua dapat beristirahat untuk sementara waktu, untuk memulihkan kembali kekuatan mereka. Jadi demikianlah Allah memberikan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Timotius 1:7).

Tuhan Yesus bukanlah Allah yang bekerja ‘satu arah’ yaitu khotbah saja atau perintah saja, tetapi Ia juga menyembuhkan orang, dan sekaligus memperhatikan kebutuhan mereka untuk dapat beristirahat dan makan agar kuat kembali untuk pulang. 

b. Allah membentuk cikal bakal Komunitas Orang Percaya

Yeremia 17:22 Janganlah membawa barang-barang dari rumahmu ke luar pada hari Sabat dan janganlah lakukan sesuatu pekerjaan, tetapi kuduskanlah hari Sabat seperti yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu.

Jika saya diizinkan menempatkan situasi ini menjadi suatu pelajaran rohani, maka di sana sesungguhnya Tuhan Yesus sedang mengajarkan pada mereka suatu bentuk cikal bakal Komunitas Orang Percaya, yang menjadi gambaran Gereja mula-mula. Suatu kelompok berjumlah kurang lebih 100 orang, duduk berkumpul bersama dengan suatu tujuan yang sama untuk beristirahat dan menerima berkat dari Tuhan. Inilah Gambaran Sabatikal bersama Tuhan, bukan?

(2) Tuhan Yesus mengambil lima roti dan dua ikan itu

a. Persembahan Ibu dan Anak

Saya ingat sewaktu kecil setiap kali saya diajak bepergian oleh orangtua saya, pasti ibu saya tidak pernah lupa membawa bekal nasi, abon, telur rebus, minum. Itu ‘perbekalan standar’ yang pasti dibawa. Itu serupa dengan sang ibu dari anak kecil yang membawa 5 roti dan dua ikan itu, ia menyiapkan bekal itu hanya untuk anaknya makan. Lantas bagaimana mungkin sang Ibu mau memberikan bekal anak itu untuk orang lain? Anak itu terus akan makan apa? Bayangkan posisis kita jadi sang Ibu, apa mau menyerahkannya? Sulit bukan?
Tetapi kenyataan yang terjadi, bahwa Sang ibu merelakan bekal bagi anaknya untuk diberikan bagi orang banyak. Ini juga suatu hal yang unik yang harus kita perhatikan, yaitu adanya suatu ‘Pengorbanan’ dari Sang Ibu dan si Anak yang tidak disebut namanya. Ini bisa jadi diperhitungkan sebagai Persembahan kepada Allah dari Sang Ibu dan Anak itu.

Mazmur 4:5 Persembahkanlah korban yang benar dan percayalah kepada TUHAN.

Coba ingat peristiwa Janda di Sarfat (tanah Sidon adalah tanah musuh Israel) dalam 1 Raja-raja 17:7-24Janda miskin yang rela memberikan segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli kepada Nabi Elia. Karena imannya, Janda itu mempersembahkan segala miliknya yaitu tepung dan minyak, hingga akhirnya ia diperkenankan Allah menerima dua kali mukjizat-Nya, yaitu diselamatkan dari kelaparan, dan anaknya disembuhkan dari kematian. 

Pemberian yang dilakukan dengan rela hati dan penuh iman, entah itu langsung bagi Allah atau demi sesama kita, pasti akan diperhitungkan sebagai suatu persembahan dan ibadah yang berbau harum di hadapan-Nya.

b. Sikap Hati dalam Memberi Persembahan

Jika dapat kita hubungkan dengan peristiwa itu dengan kehidupan Gereja zaman sekarang, maka pengorbanan ini yang mungkin sudah mulai terkikis. Semakin banyak orang yang datang ke Gereja dengan tujuan ‘mendapat berkat’, tidak lagi mau datang kepada Tuhan ‘mempersembahkan korban’. Kalaupun ada persembahan di Gereja, bagaimana sikap hati kita dalam memberikan persembahan?
Mari saya ajak kita perhatikan dan renungkan diri kita sendiri, pada saat memasukkan uang ke amplop persembahan atau mungkin zaman ini dengan scanning QR Code untuk persembahan. Bagaimana sikap hati kita, apakah ada ‘rasa berkorban’ atau hanya sekedar memberi dari ‘kelebihan uang’ kita, atau jangan-jangan untuk ‘pamer’ bahwa kita sudah memberi persembahan. Coba bayangkan bagaiman hati Tuhan melihat sikap kita dalam memberi itu.

Matius 12:41Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

Pelajaran yang Tuhan Yesus ajarkan di atas, adalah bahwa setiap orang yang layak di hadapan Allah, adalah orang yang memberikan segala persembahan bagi Allah dengan segenap hatinya, bukan ‘sekedar’ memberikan sisa uang dari kelimpahan miliknya. 

Hendaknya kita belajar dari raja Daud untuk berkata kepada Allah pada saat kita memberikan persembahan kepada-Nya:

1 Tawarikh 29:17 Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita.

(3) Tuhan Yesus menengadah ke langit

Dari kecil waktu di Sekolah Minggu saya mendengar kisah lima roti dan dua ikan ini dengan penuh perhatian. Senang sekali mendengar mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan. Namun setelah saya dewasa, ternyata kisah ini sungguh luar biasa dalam maknanya. 

Perhatikan sekali lagi percakapan Tuhan Yesus dengan Filipus:

Yohanes 6:5-6 (TB) …. Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.

Menengadah ke langit itu artinya Tuhan Yesus mengangkat tangannya yang memegang roti dan ikan, memandang ke arah atas ke langit biru di atas-Nya. Inilah hal yang sudah direncanakan Tuhan Yesus bagi orang banyak yang datang kepada-Nya. Tuhan Yesus berseru kepada Allah Bapa-Nya yang di Surga, yang senantiasa mendengarkan seru doanya. Inilah sikap yang Tuhan Yesus mau mereka dan kita teladani, yaitu dalam menghadapi masalah, persoalan, pergumulan, kesulitan, sakit-penyakit dsb, angkat tangan, menengadah ke langit kepada Allah, bawalah segala apa yang kita miliki kepada Allah, dan berserulah kepada-Nya dengan penuh harap akan pertolongan-Nya.

(4) Tuhan Yesus mengucap syukur dan berkat

Doa berkat atas makanan yang umum diucapkan orang Yahudi adalah seperti ini: 

בָּרוּךְ אַתָּה ה’ אֱלֹהֵינוּ מֶלֶךְ הָעוֹלָם, הַמּוֹצִיא לֶחֶם מִן הָאָרֶץ = Barukh attah, Adonai Eloheynu, Melekh-ha’olam, haMotzi lechem min ha’aretz.

(Blessed are you, Lord our God, King of the universe, who brings forth bread from the earth = Terpujilah Engkau, Tuhan Allah kami, Raja alam semesta, yang mengeluarkan roti dari bumi)

Seperti itulah mungkin doa yang diucapkan Tuhan Yesus atas roti dan ikan yang ada di tangan-Nya. Ucapan syukur dipanjatkan kepada Allah atas segala berkat yang akan sudah diterima. Ucapan syukur Tuhan Yesus itu menggambarkan iman-Nya yang diajarkan bagi setiap orang. Perhatikan sekali lagi, bahwa doa ini diucapkan-Nya sebelum roti itu dibagikan, jadi iman itu wajib kita miliki dalam doa kita, sekalipun belum tampak jawaban atas doa tersebut.

Tuhan Yesus telah berkali-kali mengajar orang sewaktu menyembuhkan orang, mengusir setan, meredakan badai dsb, untuk memiliki iman yang teguh. Sekali ini iman-Nya wajib dibuktikan karena disaksikan oleh 5.000 orang lebih. Menurut saya, ini adalah ujian Iman yang sangat berat yang harus dijalani. Jika roti itu hanya terbagi sebanyak 10-12 orang, apa yang terjadi? Gempar bukan? 

Jadi apakah karena Tuhan Yesus Anak Allah makanya Ia memiliki keyakinan yang teguh untuk mengadakan mukjizat itu? Sekali-kali tidak, sesungguhnya Ia mau mengajar setiap orang untuk mengimani perkataan-Nya ini:

Matius 17:20-21 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)”

Matius 21:21 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.

Markus 9:23 Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!

Markus 11:22-23 Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.

Dari ayat bacaan di atas, beriman itu bukanlah suatu ajakan, melainkan suatu PERINTAH. Beriman bukan pilihan, itu kewajiban. Setiap orang yang mau mengiring Tuhan Yesus, wajib hidup seperti Ia hidup, termasuk iman-Nya. 

(5) Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti dan ikan

Setelah Persekutuan, Mengambil Roti dan Ikan, Berseru kepada Allah di Surga, Mengucap Doa Berkat, barulah tiba saatnya untuk Praktik nyata dari iman, yaitu BERTINDAK. Setiap doa, keyakinan tapi tinggal diam, tidak akan berbuahkan apa-apa. 

Sebelum penjelasan ke arah itu, saya ingat suatu ketika pernah bertemu dengan orang yang berkeluh kesah mengenai ‘kesialan’ yang dialaminya. Orang itu complain bahwa Tuhan tidak fair, bahwa kehidupannya selalu dirundung kesialan, padahal sudah berdoa dan tidak pernah berbuat kejahatan. Saya memandang orang tersebut dengan penuh iba dan karena tergerak oleh belas kasihan, sehingga saya ajak ia berdoa untuk masalahnya. Kami berdua berdoa bergantian menyampaikan segala pergumulannya yang berat itu kepada Allah. Setelah berdoa, saya membacakan ayat firman Tuhan Yakobus 2:26

Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Orang itu bertanya, lalu apa hubungannya dengan masalah yang sedang dihadapinya. Saya katakan, bahwa ayat tersebut ditulis oleh Yakobus, pemimpin jemaat di Yerusalem yang juga dikenal sebagai adik dari Tuhan Yesus, anak Yusuf dan Maria. Surat ini ditujukan kepada “kedua belas suku di perantauan”, yaitu orang-orang Kristen Yahudi mula-mula yang tersebar karena menghadapi tekanan dan penganiayaan. Jemaat pada masa itu mengalami kejenuhan, keletihan, dan tekanan hidup yang berat. Akibatnya, sebagian dari mereka mulai bersikap egois dan tidak peduli pada masalah orang lain. Ada orang dalam jemaat itu yang berkata bahwa mereka punya iman, tetapi ketika melihat saudara seiman yang kelaparan atau kekurangan pakaian, mereka hanya berkata, Selamat jalan dan kenakanlah kain panas serta makanlah sampai kenyang, tanpa memberikan bantuan nyata (Yakobus 2:15-16).

Yakobus melihat gejala bahaya di mana iman berubah menjadi teori atau doktrin di kepala saja, bahkan setara dengan pengetahuan tentang Tuhan yang dimiliki oleh setan-setan (mereka juga percaya Tuhan tetapi gemetar). Oleh karena itu melalui analogi sederhana, bahwa tubuh fisik akan terbujur kaku dan mati jika ditinggalkan oleh rohnya, Yakobus menegaskan bahwa iman sejati pasti akan berbuah perbuatan kasih dan ketaatan. Tanpa tindakan nyata, pengakuan iman itu kosong dan mati. Jadi, intinya adalah bahwa setiap orang tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan mengasihi Allah dan sesama dengan perbuatan nyata.

Jadi inti pesan Tuhan kepada orang yang sedang dalam masalah itu, adalah untuk mulai menjalankan imannya dengan mendoakan dan memikirkan orang lain yang juga mempunyai masalah, tidak lagi hanya mendoakan dan bersusah hati memikirkan dirinya sendiri. Itulah bukti nyata dari iman yang sejati seperti yang diajarkan Tuhan. Orang itu ternyata tersentuh hatinya dan mengatakan, bahwa selama ini ia telah salah jalan, pikirannya memang terpusat hanya pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi peduli pada orang-orang di sekelilingnya yang sebetulnya juga memerlukan pertolongannya. Hatinya kembali gembira dan bebannya seperti terlepas, walaupun mungkin masalahnya masih tetap ada. Ia bertekad untuk mengalihkan mata hatinya dari dirinya sendiri, menjadi ‘melihat’ kepada orang lain.

Demikianlah sesungguhnya Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti dan ikan itu dengan pernuh iman dan percaya bahwa Allah Bapa-Nya lah yang akan mengambil alih kejadian berikutnya. Ia mengajar kita semua untuk bertindak dulu saja, jangan memikirkan kejadian setelahnya. Itu urusan Allah, di luar kuasa kita. Tugas kita hanya beriman bahwa Tuhan pasti bertindak. Mari pandang orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan, karena inilah pembuktian kita bahwa iman kita telah menjadi perbuatan, sehingga Allah dimuliakan dalam kita.

(6) Tuhan Yesus memberikan roti dan ikan kepada murid-murid-Nya (7) untuk dibagikan kepada orang banyak.

Sekarang mari kita coba melakukan simulasi keadaan waktu itu: Para murid melihat Tuhan Yesus membawa roti dan ikan di tangan-Nya, kemudian diberkati dan dibagikan kepada mereka. Setelah dibagikan dari tangan para murid, roti dan ikan itu dipecah dan dibagikan kepada kelompok-kelompok itu. Di sinilah misteri terbesar yang sudah saya pertanyakan sejak dari zaman Sekolah Minggu: bagaimana roti dan ikan itu setiap dipotong dibagikan, kemudian roti dan ikan itu utuh kembali, dipotong dibagikan potongan yang dibagikan ukurannya kembali seperti sebelum dipecah, dan seterusnya? Hahaha… itu misteri yang mungkin nanti di Surga kita baru bisa diberi tahu kebenarannya.

Akan tetapi pada intinya, roti dan ikan yang dipecah dan dibagikan Tuhan Yesus, tidak ditahan oleh para murid Tuhan Yesus melainkan terus dibagikan kepada orang banyak, dan orang banyak itu juga langsung membagikan lagi kepada orang lain. Inilah inti keberhasilan dari mukjizat Allah, setiap orang ikut serta dan mematuhi aturan yang ditetapkan sebelumnya. Jika kita boleh mengaitkan ini sebagai fungsi pekabaran Injil, maka ini adalah mekanisme ‘Perjalanan Berkat’ dari Tuhan Yesus mengalir kepada setiap orang sebagai suatu ‘rantai yang tidak terputus’. Setiap orang yang telah mendapatkan Kabar Baik Allah, mengalami jamahan-Nya dan diubahkan, wajib segera menyampaikan lagi kepada orang lain, tidak ditahan

Banyak orang yang bertobat menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat-Nya dan diubahkan menjadi murid-Nya. Kehidupnya diperbaiki dan diberkati Allah sedemikian rupa hingga berkelimpahan. Namun ironisnya, setelah hidup dalam kelimpahan berkat, itu semua hanya dinikmatinya sendiri dan mulai lupa bahwa berkat Allah tidak boleh ditahan. Berkat Allah berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, serta berkat jasmani lain, tidak boleh ditahan untuk diri sendiri. Harus dibagikan, sehingga Buah Roh seperti dalam Galatia 5:22-23 itu dapat dinikmati oleh Allah dan sesama kita.

(8) (9) & (10) Tuhan Yesus memberi makan lebih dari 5.000 orang sampai kenyang dan sisa 12 bakul

Orang banyak yang datang kepada Tuhan Yesus tidak ditelantarkan-Nya, melainkan diberi kesembuhan, kekuatan, sukacita, dibekali firman Tuhan, bahkan tidak pulang dengan perut lapar, melainkan mereka bisa makan kenyang. Itu semua dilakukan Tuhan Yesus dengan mengandalkan kekuatan dan kuasa dari Allah Bapa yang senantiasa menyertai-Nya. Inilah juga yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus bagi seluruh murid-Nya dari segala masa di seluruh dunia, yaitu semua orang dapat melakukan juga apa yang ia juga lakukan, asal percaya kepada Tuhan dengan segenap hati dan tidak mengandalkan logika dan kekuatan sendiri.  

Amsal 3:5-10 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;  itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu. Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,  maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

Raja Salomo menuliskan Amsal yang mengajar setiap orang untuk percaya kepada TUHAN dengan segenap hati, mengakui pekerjaan-Nya, tidak menganggap diri sendiri bijak, takut akan Allah, serta menjauhi kejahatan, maka tubuh akan disehatkan, tulang-tulang disegarkan.

Ia juga mengajar untuk memuliakan TUHAN dengan harta yang dimiliki, serta memprioritaskan Allah dengan segala penghasilan yang diperoleh. Janji Allah melimpahkan berkat sampai berlimpah limpah. 

6. Kesimpulan

Dari seluruh pelajaran yang kita peroleh hari ini, wajib kita ingat hal-hal berikut ini:

    1. Tuhan Yesus selalu menerima setiap orang yang datang dan tidak satu pun yang ditolak-Nya. Matius 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
    2. Tuhan Yesus melihat hati setiap orang dan mengasihi mereka bagaikan Gembala Agung. Markus 6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. 
    3. Tuhan Yesus memberikan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. 2 Timotius 1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
    4. Tuhan Yesus melihat hati yang memberi persembahan dengan tulus ikhlas. Amsal 11:25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.
    5. Tuhan Yesus mau setiap orang beriman dan mewujudkannya dengan perbuatan nyata. Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku;
atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku,
ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, 
bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.
Sebab Aku pergi kepada Bapa;

dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku,
Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”
Yohanes 14:11-14

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *