Maleakhi 4 tentang “Penyingkapan rahasia Hari TUHAN yang akan datang – The revelation of the secrets of the coming Day of the LORD” Seri Nabi Kecil (Final)
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Pada kesempatan yang lalu kita sudah membahas tentang Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia, sedangkan kali ini kita akan membahas ayat yang terakhir dari Seluruh Kitab Nabi Kecil dan bahkan seluruh dari Perjanjian Lama yaitu Maleakhi 4, tentang Hari TUHAN yang akan datang.
4:1Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.4:2Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.
4:3 Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam. 4:4Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. 4:5 Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. 4:6 Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.
Maleakhi 4 merupakan penutup seluruh kumpulan Nabi-Nabi Kecil (The Twelve) dalam Alkitab Ibrani. Kitab ini ditulis pada masa pascapembuangan, sekitar abad ke-5 SM, ketika Bait Allah Kedua sudah berdiri kembali (sekitar 515 SM), tetapi kehidupan rohani bangsa Yehuda mengalami kemerosotan. Para imam berlaku lalai, umat mempersembahkan korban yang cacat, perceraian meningkat, ketidakadilan sosial terjadi, dan banyak orang mulai meragukan keadilan Allah (Maleakhi 2:17; Maleakhi 3:13-15). Oleh sebab itu, Maleakhi menutup nubuatnya dengan pengumuman tentang “Hari TUHAN”, yaitu hari ketika Allah sendiri akan turun tangan menghakimi orang fasik dan membenarkan orang yang takut akan Dia. Tema ini bukanlah tema baru, melainkan telah menjadi pokok utama para nabi sebelumnya.
Istilah “Hari TUHAN” berasal dari bahasa Ibrani יוֹם יְהוָה (Yom YHWH), yang secara harfiah berarti “Hari milik TUHAN” atau “Hari ketika TUHAN bertindak.” Dalam Perjanjian Lama, istilah ini tidak selalu menunjuk kepada satu peristiwa tertentu. Kadang-kadang menunjuk kepada penghukuman sejarah yang terjadi di dalam kehidupan suatu bangsa, tetapi dalam banyak bagian juga menunjuk kepada penghukuman terakhir yang bersifat universal.
Nabi Amos pertama kali memperingatkan bahwa Hari TUHAN bukanlah hari kemenangan bagi orang berdosa, melainkan hari kegelapan (Amos 5:18-20).
Nabi Yesaya menghubungkannya dengan penghukuman atas seluruh bumi (Yesaya 13:6-13).
Nabi Yoel menggambarkannya sebagai hari yang besar dan sangat dahsyat (Yoel 2:1-11; 3:14).
Nabi Zefanya menekankan bahwa seluruh bumi akan dimakan habis oleh api cemburu Allah (Zefanya 1:14-18).
Karena itu, ketika Maleakhi menggunakan istilah yang sama, para pembacanya langsung menghubungkannya dengan tema besar yang sudah dikenal selama berabad-abad.
Ada beberapa hal yang perlu kita pelajari terkait dengan Hari TUHAN tersebut:
1. Hari Kedatangan TUHAN menyala seperti perapian
Maleakhi 4:1
Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.
Seperti Jerami yang terbakar
Ayat di atas menggambarkan Hari TUHAN dengan bahasa yang sangat keras. Hari itu “menyala seperti perapian”, orang fasik menjadi “jerami”, dan tidak akan tersisa “akar maupun cabang”. Gambaran seperti ini menunjukkan penghukuman yang bersifat menyeluruh. Frasa “akar dan cabang” adalah ungkapan Ibrani yang berarti pemusnahan total sehingga tidak ada lagi keturunan maupun kelangsungan hidup. Ungkapan yang hampir sama muncul dalam Yesaya 5:24, Obaja 18, dan Nahum 1:9. Dengan demikian, Maleakhi sedang menggambarkan penghukuman Allah yang sempurna terhadap kejahatan.
Apakah Maleakhi 4 sedang berbicara mengenai kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang pertama? Jika hanya membaca Maleakhi tanpa membawa penafsiran Perjanjian Baru, jawabannya belum dapat dipastikan. Dalam konteks sejarah kitab ini, nabi Maleakhi hanya menyampaikan bahwa sebelum Hari TUHAN tiba akan datang seorang utusan seperti Nabi Elia yang mempersiapkan umat untuk menghadapi kedatangan Allah. Pembaca Yahudi pada abad ke-5 SM tentu belum mengetahui bahwa sekitar empat abad kemudian akan lahir Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus Kristus. Jadi, berdasarkan konteks asli kitab Maleakhi saja, nubuat ini masih bersifat terbuka mengenai bagaimana Allah akan menggenapinya.
Namun Perjanjian Baru secara eksplisit menghubungkan sebagian nubuat Maleakhi dengan pelayanan Yohanes Pembaptis. Malaikat Gabriel berkata bahwa Yohanes akan berjalan “dalam roh dan kuasa Elia” untuk mempersiapkan umat (Lukas 1:17), yang jelas mengutip Maleakhi 4:5-6. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa Yohanes adalah Elia yang akan datang apabila orang mau menerimanya (Matius 11:14), dan sesudah peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa Elia memang sudah datang melalui pelayanan Yohanes Pembaptis (Matius 17:10-13). Dengan demikian, Perjanjian Baru memberikan dasar yang kuat bahwa nubuat mengenai “Elia” memperoleh penggenapan melalui Yohanes Pembaptis.
Meskipun demikian, Perjanjian Baru tidak pernah mengatakan bahwa seluruh isi Maleakhi 4 telah selesai digenapi pada kedatangan pertama Tuhan Yesus. Justru gambaran mengenai api penghukuman terhadap seluruh orang fasik dalam Maleakhi 4:1 tidak terjadi pada pelayanan Tuhan Yesus yang pertama. Sebaliknya, Tuhan Yesus datang membawa keselamatan, memanggil orang berdosa untuk bertobat, dan belum melaksanakan penghukuman terakhir (Yohanes 3:17; Lukas 19:10). Bahkan Yohanes Pembaptis sendiri memberitakan bahwa Mesias akan datang membawa kipas penampi, membakar sekam dengan api yang tidak terpadamkan (Matius 3:10-12), tetapi penghukuman universal tersebut belum terjadi pada abad pertama.
2. Kemenangan bagi orang yang takut akan Nama TUHAN
Maleakhi 4:2
Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.
Kemenangan umat Allah
Maleakhi berbicara mengenai “surya kebenaran” yang terbit dengan “kesembuhan pada sayapnya”. Dalam bahasa Ibrani, “surya” (שֶׁמֶשׁ, shemesh) merupakan lambang terang, kehidupan, kemenangan, dan pemulihan. Kata “sayap” (כָּנָף, kanaph) juga dapat berarti ujung sinar yang memancar. Jadi gambaran ini adalah matahari yang memancarkan sinar penyembuhan kepada umat Allah. Menariknya, Perjanjian Baru tidak pernah secara eksplisit mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah “Surya Kebenaran”. Akan tetapi, berbagai tema yang serupa muncul ketika Tuhan Yesus disebut sebagai Terang Dunia (Yohanes 8:12), Terang yang datang ke dunia (Yohanes 1:4-9), serta ketika pelayanan-Nya membawa kesembuhan dan pemulihan kepada banyak orang. Karena itu, gereja mula-mula melihat ayat ini sebagai gambaran yang sangat sesuai dengan karya Mesias.
3. Umat Allah menang atas orang fasik
Musuh dikalahkan
Maleakhi 4:3
Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam.
Ayat di atas kembali berbicara mengenai kemenangan akhir umat Allah atas orang fasik. Gambaran orang fasik menjadi abu di bawah kaki orang benar memiliki kemiripan dengan Yesaya 66:22-24, Daniel 12:2-3, dan Wahyu 20:11-15, yaitu sesudah penghukuman terakhir pada Hari TUHAN Allah. Di dalam Kitab Wahyu, penghukuman terhadap Iblis, maut, dan semua orang yang tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan baru terjadi setelah seluruh rangkaian sejarah keselamatan mencapai akhirnya. Karena itu banyak penafsir melihat bahwa bagian ini lebih cocok dengan penghukuman akhir daripada kedatangan pertama Tuhan Yesus.
Sesudah menggambarkan Hari TUHAN, ayat Maleakhi 4:4 kembali mengarahkan perhatian umat kepada Taurat Musa. Hal ini menunjukkan bahwa selama menantikan penggenapan janji Allah, umat harus tetap hidup berdasarkan firman-Nya. Menarik bahwa kitab terakhir Perjanjian Lama ditutup dengan dua tokoh besar sejarah Israel, yaitu Musa sebagai pemberi Taurat dan Elia sebagai nabi terbesar. Setelah itu tidak ada lagi nabi yang diakui di Israel selama kurang lebih empat abad sampai munculnya Yohanes Pembaptis.
4. Nabi Elia diutus menjelang datangnya hari TUHAN
Maleakhi 4:5
4:5 Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.
Elia datang sebelum hari TUHAN
Maleakhi 4:5-6 menubuatkan bahwa sebelum Hari TUHAN akan datang seorang “Elia”. Sebagian orang Yahudi memahami nubuat ini secara harfiah, sehingga mereka mengharapkan Nabi Elia benar-benar turun kembali dari surga. Sampai sekarang, pada perayaan Paskah Yahudi masih disediakan “kursi Elia” sebagai lambang pengharapan itu. Namun Perjanjian Baru menafsirkan nubuat ini secara tipologis, yaitu Yohanes Pembaptis datang bukan sebagai reinkarnasi Elia, melainkan menjalankan pelayanan dengan roh, kuasa, keberanian, dan misi yang sama seperti Nabi Elia (Lukas 1:17). Yohanes sendiri menolak bahwa dirinya adalah Elia secara harfiah (Yohanes 1:21), sehingga kedua pernyataan tersebut saling melengkapi, bukan bertentangan.
Apakah Hari TUHAN dalam Maleakhi 4 menunjuk kepada kedatangan Tuhan Yesus yang pertama atau kepada akhir zaman? Berdasarkan seluruh bukti Alkitab, jawaban yang paling kuat adalah bahwa nubuat ini memiliki pola penggenapan bertahap (prophetic fulfillment). Pengutusan “Elia” digenapi melalui Yohanes Pembaptis menjelang pelayanan Tuhan Yesus. Namun gambaran penghukuman universal, pemusnahan orang fasik, kemenangan sempurna orang benar, dan pembaruan terakhir lebih sesuai dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua sebagaimana dijelaskan dalam Matius 24-25, 2 Tesalonika 1:6–10, 2 Petrus 3:7–13, dan Wahyu 19–22. Dengan kata lain, Perjanjian Baru memahami bahwa sebagian nubuat Maleakhi mulai digenapi pada kedatangan pertama Kristus, sedangkan penyelesaiannya terjadi pada kedatangan-Nya yang kedua.
5. Allah menjaga kelangsungan generasi umat-Nya
Maleakhi 4:6
Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.
Hati Bapa kembali kepada anaknya
Allah menyoroti hati bapa dan anak karena di sanalah kelangsungan umat perjanjian dipertaruhkan. Jika hubungan antargenerasi rusak, maka pewarisan iman terputus, dan umat kehilangan alasan keberadaan mereka sebagai bangsa yang kudus.
Para orang tua (terutama bapa sebagai pemimpin rohani) harus kembali menunjukkan kasih, perhatian, dan pengajaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Mereka tidak boleh acuh atau hanya sibuk dengan urusan duniawi. Generasi muda harus kembali menghormati, mendengarkan nasihat, dan menerima warisan iman dari generasi tua. Mereka tidak boleh memberontak atau meremehkan tradisi perjanjian.
Bagi orang percaya pada masa kini, Maleakhi mengingatkan agar hidup dalam pertobatan, menghormati firman Tuhan, memelihara kesetiaan kepada-Nya, serta tetap berjaga-jaga karena Hari Tuhan pasti datang. Kedatangan itu bukan sekadar membawa penghukuman bagi kejahatan, tetapi juga menjadi hari kemenangan, pemulihan, dan pengharapan bagi setiap orang yang hidup takut akan Tuhan.
Maleakhi menutup Perjanjian Lama dengan nada yang sangat serius, tetapi juga penuh pengharapan: masih ada kesempatan untuk berbalik sebelum hari penghakiman tiba. Dan pada akhirnya, nubuat ini digenapi melalui Yohanes Pembaptis dan puncaknya dalam karya Kristus yang mendamaikan semua manusia dengan Allah Bapa.
Kiranya Tuhan Yesus Kristus memberikan hikmat dan pengertian-Nya bagi kita untuk dapat memahami seluruh pesan-Nya hari ini. Tuhan Yesus memberkati.
Ya Allah, janganlah jauhdari padaku!
Allahku, segeralah menolong aku!