Maleakhi 3 Tuhan tentang “Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia – Lord Jesus Christ The Saviour of the World” Seri Nabi Kecil

By Febrian – 16 Juli 2026 03:58 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Pada Edisi sebelumnya kita telah membahas tentang Rahasia memahami Kesabaran Allah terhadap orang fasik. Saat ini kita akan membahas tentang “Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia“. Kiranya Tuhan Yesus memberi kita hikmat dan pengetahuan-Nya untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Maleakhi 2 dan 3 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia

Dari ayat bacaan di atas, kita mendapat pesan sebagai berikut:

1. Umat yang menantikan Juru Selamat

Maleakhi 2:17

TUHAN datang untuk menghukum

2:17 Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata“Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?”

Dengan cara kamu menyangka:Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?” 

Rindu akan Juru Selamat
Rindu akan Juru Selamat

Jadi bangsa itu mengucapkan perkataan yang membuat TUHAN kecewa dengan menganggap-Nya senang terhadap orang jahat, atau minimal membiarkan kejahatan itu terjadi. Mungkin hal ini merupakan sikap dari umat Yehuda secara umum, di mana mereka sudah kembali dari pembuangan, kehidupan sudah mulai tertata lagi di tanah air mereka, Bait Allah sudah dibangun, perdagangan sudah hidup kembali.

Akan tetapi, sebagian dari mereka belum puas, karena pada masa itu (sekitar tahun 450–430 SM), kondisi mereka masih belum baik, dalam artian sebagai bangsa yang sudah pulih dan berdaulat. Pada kenyataannya wilayah Yehuda waktu itu, bukanlah kerajaan yang merdeka, melainkan hanya berupa provinsi kecil bernama Provinsi Yehud (Yehud Medinata), yang masih berada di bawah pemerintahan Kekaisaran Persia (Kekaisaran Akhemeniyah).

Pada masa itu bangsa Persia masih sering bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk asli, melakukan ketidakadilan di mana-mana. Walaupun Kekaisaran Persia mengizinkan pembangunan kembali Bait Allah baru di tanah Yehuda, namun mereka menyembah berhala berhala asing di mana-mana. Sebagai dampaknya, penduduk Yehuda sendiri juga banyak yang ikut-ikutan menyembah berhala, serta juga berbuat kejahatan dan ketidakadilan. Orang-orang yang hidupnya merasa tertindas, mengajukan protes kepada Tuhan atas ketidakadilan ini. Mereka menantikan keadilan di mana ada seorang Juru Selamat yang sanggup membebaskan mereka dari tangan penjajah dan orang-orang jahat tersebut.

Mengapa dikatakan ‘Allah lelah mendengar protes mereka?’ Itu sebetulnya karena Allah kecewa pada mereka yang hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia, yaitu pembalasan dendam, hukuman terhadap orang jahat, dsb. Perlu disadari, bahwa TUHAN itu adalah Allah Yang Maha Kasih, jadi sesungguhnya Ia bukannya tutup mata terhadap kejahatan, melainkan memberi kesempatan bagi mereka untuk bertobat (Silakan lihat edisi sebelumnya di sini).

Yehezkiel 33:11

Katakanlah kepada mereka:
Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlahbertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

2 Petrus 3:9

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasamelainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

2. Allah menjanjikan Juru Selamat

a. Yohanes Pembaptis diutus untuk membuka jalan bagi Sang Juru Selamat

Maleakhi 3:1a

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! 

Yohanes pembaptis
Yohanes pembaptis

Karena selaras dengan rancangan Allah terhadap dunia ini, maka perkataan umat yang rindu dibebaskan dari segala kejahatan tersebut, maka Allah berjanji mengirim utusan sebelum Ia sendiri Yang akan datang, siapa utusan itu? Utusan itu akan berjalan di depan dan meratakan jalan bagi Sang Juru Selamat yang akan datang.

Akan tetapi terkait hal itu, saya tidak akan berspekulasi, namun akan menyampaikan apa yang Tuhan Yesus sendiri firmankan:

Matius 11:10

Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.

Dalam suatu kesempatan, ada murid Yohanes Pembaptis yang diutus kepada Tuhan Yesus untuk mengonfirmasi mengenai kebenaran bahwa diri-Nya lah Sang Mesias Juru Selamat Manusia Yang Akan Datang sesuai dengan nubuat para nabi. Setelah menjawab utusan itu, maka Tuhan Yesus menjelaskan kepada para murid bahwa Yohanes Pembaptis lah utusan Allah yang dinubuatkan dalam Maleakhi 3:1. Silakan baca ayat lengkapnya Matius 11.

Terkait dengan ayat tersebut di atas, terdapat beberapa pendapat para teolog terkemuka dunia, sebagai berikut:

John Calvin (1509–1564), seorang teolog Reformator asal Prancis, dalam karyanya Commentaries on the Twelve Minor Prophets, Vol. V: Zechariah and Malachi (terjemahan Inggris oleh John Owen, Calvin Translation Society, 1849; berdasarkan karya asli abad ke-16), menjelaskan bahwa nubuat Maleakhi 3:1 berbicara mengenai Yohanes Pembaptis sebagai utusan yang mempersiapkan jalan bagi Mesias, sedangkan “Tuhan” dan “Malaikat Perjanjian” menunjuk kepada Kristus Sang Juru Selamat.

John Calvin menulis: “This passage ought doubtless to be understood of John the Baptist, for Christ himself so explains it, than whom no better interpreter can be found.” (“Bagian ini tanpa keraguan harus dipahami mengenai Yohanes Pembaptis, sebab Kristus sendiri menafsirkannya demikian, dan tidak ada penafsir yang lebih baik daripada Dia.”). Mengenai identitas Mesias Sang Juru Selamat, Calvin juga menulis: “He introduces here, not Jehovah, but the Lord, Adun; and hence he speaks distinctly of Christ, who is afterwards called the Angel or Messenger of the covenant.” (“Di sini nabi tidak memakai nama Yahweh, melainkan Tuhan/Adonai; karena itu ia berbicara secara jelas mengenai Kristus Sang Juru Selamat, yang kemudian disebut Malaikat atau Utusan Perjanjian.”).

Carl Friedrich Keil (1807–1888) dan Franz Julius Delitzsch (1813–1890), dua ahli Perjanjian Lama dan teolog Lutheran Jerman, dalam Biblical Commentary on the Old Testament: The Twelve Minor Prophets (T. & T. Clark, 1866–1874), menyatakan bahwa Maleakhi 3:1 menggambarkan kedatangan Tuhan sendiri sebagai Sang Juru Selamat, ke bait-Nya setelah didahului oleh seorang utusan yang mempersiapkan jalan.

Carl dan Franz menulis: “The Lord Himself replies that He will suddenly come to His temple, but that before His coming He will send a messenger to prepare the way for Him.” (“Tuhan sendiri menyatakan bahwa Ia akan datang dengan tiba-tiba ke bait-Nya, tetapi sebelum kedatangan-Nya sebagai Sang Juru Selamat, Ia akan mengutus seorang utusan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya.”). Mengenai identitas tokoh dalam ayat tersebut mereka juga menegaskan: “The Lord … and the angel of the covenant … are not two different persons, but one and the same.” (“Tuhan … dan Malaikat Perjanjian … bukanlah dua pribadi yang berbeda, melainkan satu pribadi yang sama.”).

Matthew Henry (1662–1714), seorang pendeta Presbiterian dan penafsir Alkitab asal Inggris, dalam An Exposition of the Old and New Testament (1708–1710), menjelaskan bahwa Maleakhi 3:1 merupakan nubuat mengenai kedatangan Kristus Sang Juru Selamat yang didahului oleh pelayanan Yohanes Pembaptis.

Matthew Henry menulis: “The Messiah is here called the Lord, and the Messenger of the covenant, because he is the Mediator of the covenant.” (“Mesias Sang Juru Selamat di sini disebut Tuhan dan Utusan Perjanjian, karena Dialah Pengantara dari perjanjian itu.”). Mengenai utusan yang mendahului Mesias, Henry menyatakan: “John Baptist was the harbinger of Christ.” (“Yohanes Pembaptis adalah pendahulu Kristus Sang Juru Selamat.”).

Dari pendapat para Teolog terkemuka tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa Allah sendiri akan turun sebagai Sang Juru Selamat ke dunia untuk memperbaharui segalanya di dalam dunia. Namun, sebelumnya TUHAN Allah Semesta Alam akan mengirimkan utusan-Nya mendahului membuka jalan bagi-Nya. Kita percaya bahwa Allah sendiri mengosongkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia yaitu Tuhan Yesus Kristus, turun ke dalam dunia yang terlebih dahulu dibukakan jalan oleh Yohanes Pembaptis.


Markus 1:2–3

Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya“,

Markus mengidentifikasi Yohanes Pembaptis sebagai utusan yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Sang Juru Selamat. Silakan baca ayat lengkapnya Markus 1.


Lukas 7:27 

Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.

Ini merupakan penegasan Tuhan Yesus Sang Juru Selamat sebagai penggenapan Maleakhi 3:1. Silakan baca lengkapnya Lukas 7.


Yohanes 1:23 

Jawabnya: ‘Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!, seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.’

Yohanes 3:28 

3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. 

Yohanes Pembaptis sendiri menyatakan identitas pelayanannya, jadi walaupun mengutip Yesaya 40:3, ayat ini menunjukkan bahwa Yohanes memahami dirinya sebagai orang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus Sang Juru Selamat. Silakan baca lengkapnya Yohanes 1 dan Yohanes 3.


b. Tuhan Yesus akan turun ke dunia sebagai Mesias Juru Selamat umat manusia

Maleakhi 3:1b

Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. 

Tuhan Yesus Juru Selamat Umat Manusia
Tuhan Yesus Juru Selamat Umat Manusia

Tuhan Yesus Yang adalah Allah Maha Kuasa Pencipta Langit dan Bumi, berkenan mengosongkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia, turun ke dalam dunia sebagai Sang Juru Selamat demi menyelamatkan ciptaan-Nya yang sangat dikasihi-Nya. 

Filipi 2:5-11

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Yohanes 3:13-15 

3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Tuhan Yesus adalah jawaban Allah terhadap kerinduan umat-Nya. Tuhan Yesus datang sebagi Juru Selamat supaya setiap orang diselamatkan dan tidak dihukum, sehingga dapat beroleh hidup yang kekal.
Dalam ayat bacaan di atas, Tuhan Yesus sendiri menjelaskan bahwa hanya Dia yang benar-benar datang dari surga sehingga hanya Dia yang dapat menyatakan jalan keselamatan kepada manusia. Persis seperti ular tembaga yang ditinggikan oleh Nabi Musa di padang gurun sehingga orang Israel yang memandangnya diselamatkan dari maut (Bilangan 21:4-9), demikian pula Tuhan Yesus harus “ditinggikan” di kayu salib. Setiap orang yang percaya kepada pengorbanan-Nya akan menerima hidup yang kekal.

Yohanes 3:16-18

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Akan tetapi setelah Tuhan Yesus turun ke dalam dunia, masih ada orang yang tidak mau percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat hidupnya, maka ia telah berada di bawah hukuman. Apa hukuman itu?

Yohanes 3:19-20

3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.

Mungkin agar lebih mudah dipahami, kita rujuk ke bahasa Yunani aslinya:

3:19 αὕτη δέ ἐστιν ἡ κρίσις, ὅτι τὸ φῶς ἐλήλυθεν εἰς τὸν κόσμον, καὶ ἠγάπησαν οἱ ἄνθρωποι μᾶλλον τὸ σκότος ἢ τὸ φῶς· ἦν γὰρ αὐτῶν πονηρὰ τὰ ἔργα.

3:19 Inilah penghakiman (dakwaan/vonis) itu: terang telah datang ke dunia, tetapi manusia lebih mencintai kegelapan daripada terang, karena perbuatan mereka jahat.

Kasih Allah kepada manusia menjadi dasar dari seluruh rancangan keselamatan. Allah tidak mengutus Anak-Nya untuk menghukum dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (Sang Juru Selamat). Keselamatan itu diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 4:12). Sebaliknya, orang yang menolak-Nya tetap berada di bawah hukuman, bukan karena Allah tidak mengasihi mereka, tetapi karena mereka menolak satu-satunya jalan keselamatan dari Sang Juru Selamat yang telah Allah sediakan (Lukas 10:16).

Tuhan Yesus juga menjelaskan bahwa kedatangan-Nya sebagai Juru Selamat bagaikan terang yang masuk ke dalam dunia yang gelap (Yohanes 1:9). Namun, banyak orang lebih menyukai kegelapan karena mereka tidak ingin dosa dan kejahatan mereka tersingkap (1 Yohanes 2:11). Orang yang terus hidup dalam dosa akan menghindari terang, sedangkan orang yang sungguh-sungguh ingin hidup benar akan datang kepada terang, yaitu kepada Tuhan Yesus, sehingga hidupnya diubahkan dan nyata bahwa segala perbuatannya dilakukan dalam kehendak Allah (Kisah Para Rasul 26:18).

Inti dari bagian ini adalah bahwa keselamatan merupakan anugerah yang lahir dari kasih Allah, diterima melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan dibuktikan dengan kehidupan yang berjalan di dalam terang, yaitu hidup yang taat, jujur, dan mencerminkan kehendak Allah (Ibrani 9:28).

Silakan baca detail lengkap ayatnya dalam Yohanes 3.


4. Tuhan Yesus memurnikan dan mentahirkan umat-Nya

Maleakhi 3:2-4

3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. 3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Sudah jelas sekarang bahwa Allah telah menjawab kerinduan bangsa Yehuda yang sedang hidup dalam penderitaan, kekecewaan, dan kemerosotan rohani. Melalui Nabi Maleakhi, Allah menyatakan bahwa Ia sendiri akan datang mengunjungi umat-Nya sebagai Sang Juru Selamat. Kedatangan itu bukan sekadar untuk menghibur atau mengangkat kembali keadaan bangsa Yehuda, melainkan untuk menggenapi rencana keselamatan yang telah dijanjikan-Nya sejak dahulu kala. Di dalam penggenapan Perjanjian Baru, janji tersebut digenapi melalui kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai Mesias dan Juru Selamat dunia.

Namun, muncul pertanyaan yang sangat penting. Apakah bangsa Yehuda benar-benar siap menyambut kedatangan Tuhan? Selama ini mereka berulang kali mempertanyakan keadilan Allah dan bahkan merindukan agar Allah segera bertindak menghakimi orang fasik (Maleakhi 2:17). Akan tetapi, mereka tidak menyadari bahwa kehidupan mereka sendiri juga telah dipenuhi berbagai dosa. Para imam telah mencemarkan mezbah TUHAN, umat hidup dalam ketidaksetiaan terhadap perjanjian Allah, dan ibadah mereka hanya menjadi rutinitas tanpa hati yang sungguh-sungguh mengasihi Allah. Karena itu, kedatangan Tuhan bukan hanya membawa penghiburan, tetapi juga membawa penyelidikan, pemurnian, dan penghakiman atas umat-Nya sendiri.

Nabi Maleakhi kemudian menjelaskan bahwa tidak seorang pun dapat menganggap rendah hari kedatangan Tuhan. Kedatangan-Nya akan menyingkapkan keadaan hati setiap orang. Mereka yang hidup dalam pertobatan akan dimurnikan, sedangkan mereka yang tetap hidup dalam pemberontakan tidak akan sanggup bertahan di hadapan kekudusan-Nya.

Gambaran “api tukang pemurni logam” menunjukkan proses yang tidak mudah. Seorang pemurni emas atau perak harus memanaskan logam pada suhu yang sangat tinggi agar semua kotoran dan campurannya terpisah dari logam yang murni. Proses ini membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu. Demikian pula Allah bekerja dalam kehidupan umat-Nya. Ia tidak sekadar menjadi Sang Juru Selamat yang mengampuni dosa, tetapi juga membentuk karakter, memurnikan iman, dan membuang segala sesuatu yang tidak berkenan kepada-Nya.

Selain itu, Maleakhi menggunakan gambaran “sabun tukang penatu“. Pada zaman itu, pakaian yang sangat kotor dicuci dengan bahan pembersih yang keras hingga noda-noda yang membandel benar-benar hilang. Gambaran ini menegaskan bahwa Allah menghendaki kekudusan, bukan hanya perubahan yang tampak di luar. Ia membersihkan hati, motivasi, pikiran, dan kehidupan umat-Nya agar benar-benar layak beribadah kepada-Nya.

Pemurnian itu pertama-tama ditujukan kepada orang Lewi, yaitu para imam yang telah gagal menjalankan tugasnya sebagai pemimpin rohani bangsa Israel. Allah tidak membinasakan mereka begitu saja, melainkan terlebih dahulu memberi kesempatan untuk dipulihkan melalui proses penyucian. Setelah para imam dipulihkan, ibadah bangsa Israel pun dapat kembali dipersembahkan dengan hati yang benar sehingga persembahan mereka kembali berkenan di hadapan TUHAN seperti pada masa-masa ketika bangsa itu hidup setia kepada-Nya.

Dalam terang Perjanjian Baru, karya pemurnian ini mencapai penggenapannya melalui Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Kedatangan-Nya bukan hanya membawa keselamatan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, tetapi juga menguduskan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Darah Tuhan Yesus Sang Juru Selamat bukan sekadar menghapus hukuman dosa, melainkan juga menjadi dasar bagi kehidupan yang terus diperbarui oleh Roh Kudus sehingga umat Allah semakin serupa dengan kehendak-Nya.

Karena itu, pesan Maleakhi tidak hanya berlaku bagi bangsa Yehuda pada zamannya. Firman ini juga menjadi peringatan bagi setiap orang percaya pada masa kini. Menyambut Tuhan bukan hanya berarti bersukacita karena menerima keselamatan, tetapi juga bersedia dibentuk, ditegur, dimurnikan, dan dikuduskan oleh-Nya setiap hari. Allah tidak mencari ibadah yang sekadar tampak indah di hadapan manusia, tetapi hati yang sungguh-sungguh mengasihi, taat, dan hidup kudus di hadapan-Nya.


5. Tuhan Yesus menjadi hakim atas orang fasik

Maleakhi 3:5

3:5 Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam.

Maleakhi 3:5 menunjukkan bahwa setelah TuhanYesus Kristus memurnikan umat-Nya, Ia tidak hanya bertindak sebagai Juru Selamat, melainkan juga akan bertindak sebagai Hakim yang adil terhadap mereka yang tetap hidup dalam dosa. Jika ayat 2-4 menekankan pemurnian bagi orang yang mau bertobat, maka ayat 5 menegaskan bahwa mereka yang terus memberontak akan menghadapi penghakiman Allah. Dengan demikian, kedatangan Tuhan membawa dua dampak yang berbeda: pemurnian bagi umat yang taat dan penghukuman bagi mereka yang menolak-Nya.

Kalimat “Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi” menunjukkan bahwa Allah sendiri yang mengambil inisiatif untuk mengadili umat-Nya. Pada zaman Nabi Maleakhi, banyak orang merasa Allah tidak peduli terhadap ketidakadilan yang terjadi. Bahkan mereka mempertanyakan, “Di manakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17). Melalui ayat ini, Allah menjawab bahwa Ia tidak tinggal diam. Pada waktu yang telah ditentukan-Nya, Ia sendiri akan datang untuk menghakimi dengan adil.

Allah juga berkata bahwa Ia akan menjadi “saksi” terhadap orang-orang berdosa. Dalam sistem hukum Israel, setiap perkara harus diteguhkan oleh dua atau tiga orang saksi (Ulangan 19:15-21). Namun dalam ayat ini Allah tidak memerlukan saksi lain, karena Ia sendiri melihat semua perbuatan manusia. Tidak ada dosa yang tersembunyi dari hadapan-Nya. Ia mengetahui bukan hanya tindakan manusia, tetapi juga motivasi hati mereka.

Daftar dosa yang disebutkan dalam ayat ini mencakup pelanggaran terhadap Allah maupun terhadap sesama. Tukang-tukang sihir menunjukkan orang-orang yang mencari kuasa rohani di luar Allah. Dalam hukum Taurat, praktik sihir, tenung, dan pemanggilan arwah dilarang keras karena merupakan bentuk pemberontakan terhadap kedaulatan Allah (Ulangan 18:10-12). Praktik-praktik ini masih dilakukan oleh sebagian bangsa Israel karena pengaruh budaya kafir di sekeliling mereka.

Orang-orang berzinah menunjukkan kerusakan moral yang telah meluas. Dalam kitab Maleakhi, dosa perzinahan juga tampak dalam bentuk ketidaksetiaan terhadap pasangan hidup. Banyak laki-laki Yehuda menceraikan istri masa mudanya untuk menikahi perempuan asing yang menyembah berhala (Maleakhi 2:14-16). Karena itu, perzinahan dalam kitab ini bukan hanya pelanggaran seksual, tetapi juga penghianatan terhadap perjanjian yang telah mereka buat di hadapan Allah.

Orang-orang yang bersumpah palsu adalah mereka yang menggunakan nama Allah untuk menguatkan perkataannya, tetapi sebenarnya sedang berbohong. Dalam hukum Taurat, bersumpah palsu merupakan pelanggaran terhadap perintah untuk tidak menyalahgunakan nama TUHAN (Imamat 19:12). Dosa ini merusak kepercayaan dalam masyarakat sekaligus menghina kekudusan nama Allah.

Allah kemudian menyoroti dosa-dosa atau kejahatan sosial, yaitu menindas orang upahan, janda, anak piatu, dan orang asing. Orang upahan adalah pekerja harian yang menggantungkan hidupnya pada upah setiap hari. Menahan atau mengurangi upah mereka merupakan tindakan yang sangat kejam karena dapat membuat mereka dan keluarganya kelaparan. Janda, anak piatu, dan orang asing merupakan kelompok yang paling rentan dalam masyarakat Israel karena mereka tidak memiliki perlindungan ekonomi maupun keluarga. Sejak zaman Musa, Allah berulang kali memerintahkan agar mereka diperlakukan dengan adil dan penuh belas kasihan (Keluaran 22:21-24; Ulangan 24:14-22). Ketika mereka ditindas, Allah sendiri membela perkara mereka.

Semua dosa tersebut disimpulkan dengan kalimat “dengan tidak takut kepada-Ku.” Inilah akar dari seluruh kejahatan yang disebutkan sebelumnya. Dalam Alkitab, “takut akan TUHAN” bukan berarti merasa ngeri kepada Allah, melainkan menghormati, menaati, dan menyadari bahwa Allah melihat setiap perbuatan manusia. Ketika rasa takut akan Allah hilang, manusia dengan mudah menyalahgunakan kuasa, menipu, berbuat tidak bermoral, dan menindas sesamanya.

Bagi orang percaya saat ini, Maleakhi 3:5 mengingatkan bahwa Allah tidak hanya memperhatikan ibadah di rumah Tuhan, tetapi juga kehidupan sehari-hari. Kekudusan tidak hanya terlihat dalam doa dan persembahan, tetapi juga dalam kejujuran, kesetiaan dalam keluarga, perlakuan terhadap karyawan, kepedulian kepada orang yang lemah, dan integritas dalam setiap perkataan. Allah dalam Tuhan Yesus Sang Juru Selamat yang memurnikan umat-Nya juga adalah Hakim yang adil, yang akan meminta pertanggungjawaban atas setiap perbuatan manusia.

Kesimpulan

Maleakhi 2:17–3:5 secara keseluruhan memperlihatkan bahwa Allah tidak pernah menutup mata terhadap kejahatan, sekalipun sering kali manusia merasa seolah-olah Allah diam. Ketika bangsa Yehuda mempertanyakan keadilan-Nya, Allah menjawab bahwa pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Ia sendiri akan datang. Kedatangan-Nya bukan hanya untuk menghukum orang fasik, tetapi juga untuk menyelamatkan, memurnikan, dan memulihkan umat yang mau kembali kepada-Nya. Di dalam penggenapan Perjanjian Baru, janji itu digenapi melalui kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai Mesias dan Juru Selamat dunia.

Bagi kita pada masa sekarang, firman ini mengingatkan bahwa iman kepada Tuhan Yesus Sang Juru Selamat bukan sekadar menerima keselamatan, tetapi juga bersedia mengalami proses pemurnian setiap hari. Tuhan ingin membersihkan hati, memperbaiki karakter, dan membentuk hidup kita agar semakin serupa dengan kehendak-Nya. Karena itu, jangan kecewa ketika Tuhan mengizinkan proses yang tidak mudah terjadi dalam hidup kita. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, demikian pula iman kita sedang dipersiapkan menjadi semakin murni dan berharga di hadapan-Nya.

Firman ini juga mengajarkan bahwa ibadah yang berkenan kepada Allah tidak berhenti di gereja. Allah melihat kejujuran kita dalam pekerjaan, kesetiaan dalam keluarga, kepedulian kepada orang yang lemah, integritas dalam perkataan, dan kasih kepada sesama. Tuhan mengenal setiap perbuatan manusia, sehingga hidup yang takut akan Tuhan harus nyata dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya dalam pengakuan di bibir.

Karena itu, marilah kita tetap percaya kepada Tuhan Yesus Sang Juru Selamat, sekalipun dunia ini masih dipenuhi ketidakadilan. Allah tidak pernah terlambat menepati janji-Nya. Ia sanggup menyelamatkan, memurnikan, menguatkan, dan pada akhirnya menegakkan keadilan dengan sempurna. Orang yang tetap setia berjalan bersama-Nya tidak perlu takut menghadapi masa depan, sebab Tuhan memegang hidupnya dan akan menyelesaikan setiap rencana-Nya dengan sempurna.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Roma 12:2

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *