Maleakhi 2 part 2 “Rahasia hidup dalam kesetiaan dalam perkawinan – The secret to living in faithfulness in marriage” Seri Nabi Kecil

By Febrian 11 Juli 2026 03:12 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan yang lalu, kita telah membahas mengenai Yehuda berkianat dan menajiskan perjanjian (covenant) dengan Allah. Sekarang kita akan merenungkan firman Tuhan mengenai Sikap tegas Allah terhadap umat yang tidak setia terhadap perkawinan.

Maleakhi 2 <– Klik di sini untuk membaca ayat

2. Sikap tegas Allah terhadap umat yang tidak setia terhadap perkawinan [Part 2] 

Maleakhi 2:13-16

13 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu.

Suami yang tidak setia
Suami yang tidak setia

Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

Dari ayat bacaan di atas dapat kita ketahui bahwa bangsa Israel tidak menyadari bahwa perbuatan mereka yang tidak setia terhadap istri mereka itu adalah perbuatan yang  membuat Allah murka. Jadi mereka bertanya, Oleh karena apa?“. Pertanyaan mereka itu adalah wujud dari sudah terbiasanya mereka berbuat kejahatan, termasuk perselingkuhan dan perzinahan lain. Orang yang biasa berbuat dosa dan kejahatan, tidak lagi mereasa janggal atau tidak merasa ada yang keliru.

Berikut adalah pesan Allah bagi kita terkait firman Tuhan di atas:

1. Allah menjadi saksi tentang kesetiaan suami maupun istri dalam pernikahan

Seorang istri diciptakan Allah untuk suaminya, demikian pula suami diciptakan Allah untuk suaminya harus setia dan mengasihi istrinya yang disebut Allah sebagai “teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

Dua ungkapan ini sangat kaya makna dalam bahasa Ibrani.

a. “Teman sekutumu”

Kata Ibrani: חֲבֶרְתְּךָ (ḥăḇertekā)

Teman setia sepanjang jalan
Teman setia sepanjang jalan

Berasal dari akar kata yang berarti: sahabat, rekan, teman dekat, pasangan, seseorang yang berjalan bersama. Maknanya bukan sekadar “teman biasa”, melainkan seorang pendamping hidup. Ini menunjukkan bahwa seorang istri adalah: sahabat terdekat suami, rekan seperjalanan, mitra dalam kehidupan, seseorang yang berbagi suka dan duka.

  • Pengkhotbah 4:9–12 Berdua lebih baik daripada seorang diri…” Menunjukkan konsep pasangan sebagai rekan yang saling menolong.
  • Kejadian 2:18 Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia“. “Penolong yang sepadan” bermakna istri adalah pasangan yang mendukung, mengangkat, memuliakan, menyeimbangkan suaminya dengan kualitas dan level yang setara dalam pengetahuan, hikmat, martabat. Seorang istri turut dalam kesusahan dan kebahagiaan suaminya.  
  • Amsal 31:11–12 Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.” Hubungan yang saling mempercayai dibangun atas kepercayaan dan saling mendukung. Seorang istri bagaikan mitra dengan suaminya, bukan saling bersaing minta dihormati.

b. “Isteri seperjanjianmu”

Kata Ibrani:
אֵשֶׁת בְּרִיתֶךָ (’ēšet berītekā)

Secara harfiah berarti: “istri dari perjanjianmu.”

Kata berit (בְּרִית) berarti: perjanjian, covenant, ikatan yang mengikat secara rohani, perjanjian yang disahkan di hadapan Allah.

Marriage Covenant
Marriage Covenant

Dalam Alkitab, berit adalah kata yang sama yang dipakai untuk: Perjanjian Allah dengan Abraham (Kejadian 15), Perjanjian Sinai (Keluaran 24), Perjanjian Daud (2 Samuel 7), Perjanjian Baru (Yeremia 31; Lukas 22:20). Artinya dengan memakai kata yang sama, Maleakhi mengajarkan bahwa pernikahan bukan sekadar kontrak sosial atau kesepakatan manusia, melainkan perjanjian yang sakral di hadapan Allah.

Makna secara keseluruhan:

  1. Teman sekutumu → berbicara tentang hubungan.

  2. Istri seperjanjianmu → berbicara tentang komitmen.

Artinya, seorang istri bukan hanya pasangan romantis, ibu dari anak-anak, atau pengelola rumah, tetapi juga sahabat hidup, mitra pelayanan, orang yang terikat dalam perjanjian kudus dengan suaminya di hadapan Allah.


2. Allah membentuk lembaga pernikahan demi keturunan Ilahi

Keturunan Ilahi
Keturunan Ilahi

Maleakhi 2:15

Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

  • Kejadian 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Allah menciptakan suami dan istri bukan hanya berjalan bersama sepanjang hidupnya, melainkan di hadapan Allah mereka itu satu daging. Satu daging maknanya berarti jika pasangannya sakit, ia juga ikut merasakan. Ibaratnya tangan kanan memegang palu kemudian tidak sengaja memukul jari kirinya pada saat memegang paku di dinding. Sakit yang dirasakan tangan kanan sama dengan yang dirasakan oleh tangan kirinya. Semua dirasakan bersama-sama.   
  • Amsal 2:16–17 supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya, yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya;” Ayat ini menggambarkan seorang wanita yang pikirannya mesum dan licik untuk menjerat pria lemah yang mudah tergoda. Fokusnya ayat itu ada pada wanita yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya, sangat dekat dengan Maleakhi 2:14 karena menghubungkan pasangan hidup masa muda dengan perjanjian Allah. Maknanya seorang pasangan di dalam Tuhan wajib mengingat perjanjian mereka dengan Allah. Seorang yang takut akan Allah sangat menghormati perjanjiannya tersebut. 

Efesus 5:25-33

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiridan isteri hendaklah menghormati suaminya.

  • Ibrani 13:4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. Firman ini memerintahkan setiap pria dan wajita yang sudah terikat dalam janji pernikahan, untuk menghormati lembaga pernikahan dengan tidak mencemarkan dirinya dengan perzinahan. Perlu ditegaskan, bahwa perzinahan itu tidak selalu harus dilakukan berpasangan dengan orang lain, melainkan dosa percabulan yang berada dalam pikiran dan perbuatan sendirian pun membawa dosa dan kejahatan masuk ke dalam pernikahan.   

Karena itu, ketika seorang suami yang tidak setia mengkhianati istrinya, menurut konteks Maleakhi 2:15, ia bukan hanya melukai pasangannya, tetapi juga melanggar perjanjian yang disaksikan oleh Allah. 

Salah satu tujuan Allah menciptakan lembaga pernikahan antara suami dan istri yang setia dan takut akan Dia, adalah bahwa berikutnya akan lahir keturunan yang juga takut akan Allah dan akan disebut Keturunan Ilahi. Artinya seorang anak yang lahir atas dasar permohonan doa orangtuanya yang takut akan Allah, maka benih yang dikandung dalam kandungan istrinya adalah benih yang suci dan kudus dari Allah. Diharapkan anak yang dilahirkan itu dibesarkan dalam lingkungan yang saling mendasihi serta diajar mengasihi Allah, akan bertumbuh besar menjadi orang yang dipakai Allah dalam ladang-Nya untuk menjadi hamba Allah demi menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus. 


3. Allah membenci perceraian 

Maleakhi 2:16

Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel-juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

Perceraian adalah salah satu persoalan besar yang dihadapi manusia sepanjang sejarah. Hampir tidak ada bangsa dan budaya yang terbebas dari masalah perceraian. Di balik setiap angka perceraian, terdapat kisah manusia yang terluka, keluarga yang berubah, anak-anak yang terdampak, dan janji pernikahan yang tidak lagi dijalankan.

Melalui Maleakhi 2:13–16, Tuhan berbicara dengan sangat keras kepada bangsa Yehuda yang telah mengkhianati perjanjian mereka. Mereka datang membawa persembahan kepada Tuhan, bahkan menangis di mezbah, tetapi Tuhan tidak berkenan kepada mereka. Mengapa? Karena kehidupan ibadah mereka tidak sejalan dengan kehidupan mereka. Mereka tetap beribadah kepada Allah, tetapi mereka tidak setia kepada pasangan yang telah Tuhan percayakan.

Tuhan berkata bahwa Dia menjadi saksi antara seorang suami dan istri masa mudanya. Istri disebut sebagai “teman sekutumu dan istri seperjanjianmu.” Artinya, pernikahan bukan hanya hubungan antara dua manusia, tetapi sebuah perjanjian yang disaksikan oleh Allah sendiri.

Karena itu, ketika seseorang mengkhianati pasangan hidupnya, masalahnya bukan hanya masalah keluarga, tetapi juga masalah rohani di hadapan Allah.

a. Perceraian di dunia modern: sebuah realitas yang tidak bisa diabaikan

Perceraian menjadi fenomena yang nyata dalam masyarakat modern. Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perceraian mencapai 516.344 perkara pada tahun 2022. Pada tahun 2023 angka tersebut menurun menjadi 463.654 perkara, dan sekitar 394.608 perkara pada tahun 2024.

Walaupun terjadi penurunan setelah tahun 2022, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa setiap tahun ratusan ribu keluarga mengalami perpisahan. Ini berarti setiap hari ada banyak rumah tangga yang mengalami luka, konflik, kehilangan, dan perubahan besar dalam kehidupan mereka.

Data ini menunjukkan bahwa perceraian bukan masalah kecil yang hanya terjadi pada sebagian orang. Perceraian telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi keluarga di zaman ini.

Namun, angka statistik hanyalah gambaran luar. Di balik setiap angka terdapat manusia nyata: seorang suami, seorang istri, anak-anak, orang tua, dan keluarga besar yang mengalami dampaknya.

b. Faktor penyebab utama 

Berdasarkan data perceraian di Indonesia, penyebab terbesar bukanlah selalu perselingkuhan, tetapi perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus. Pada tahun 2024, faktor perselisihan dan pertengkaran menjadi penyebab terbesar dengan jumlah sekitar 251 ribu perkara.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak pernikahan tidak hancur hanya karena satu kejadian besar, tetapi karena masalah kecil yang terus dibiarkan tanpa penyelesaian.

Ketika komunikasi rusak, pasangan mulai tidak lagi mendengar satu sama lain. Ketika penghargaan hilang, pasangan mulai merasa tidak dihargai. Ketika konflik tidak diselesaikan dengan kasih dan kerendahan hati, jarak emosional mulai terbentuk.

Penyebab besar lainnya adalah masalah ekonomi. Kesulitan keuangan, hutang, perbedaan cara mengatur uang, atau ketidakjujuran dalam masalah ekonomi dapat menjadi sumber konflik yang berat dalam rumah tangga.

Faktor lain yang menyebabkan perceraian adalah meninggalkan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga, judi, mabuk, dan perselingkuhan.

Dalam Maleakhi 2:16, Tuhan menghubungkan perceraian dengan tindakan kekerasan dan pengkhianatan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah melihat akar persoalan, yaitu hati manusia yang tidak lagi menjaga kasih, kesetiaan, dan tanggung jawab.

c. Mengapa orang di zaman modern ini sangat mudah bercerai? 

Salah satu penyebabnya adalah perubahan cara pandang terhadap pernikahan. Banyak orang modern melihat pernikahan terutama sebagai tempat mencari kebahagiaan pribadi. Ketika pasangan tidak lagi memenuhi harapan, sebagian orang merasa bahwa meninggalkan pernikahan adalah solusi.

Padahal dalam pandangan Alkitab, pernikahan bukan hanya tentang apa yang seseorang dapatkan, tetapi juga tentang apa yang seseorang berikan. Pernikahan adalah tempat seseorang belajar mengasihi, mengampuni, melayani, dan bertumbuh.

Budaya individualisme juga menjadi salah satu penyebab. Banyak orang lebih mudah berkata, “Saya tidak bahagia,” daripada bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki hubungan ini?”

Pernikahan membutuhkan dua orang yang mau berubah. Banyak hubungan tidak hancur karena masalah terlalu besar, tetapi karena dua orang sama-sama tidak mau merendahkan hati.

Selain itu, banyak orang memasuki pernikahan dengan gambaran yang tidak realistis. Mereka mengira cinta akan selalu terasa seperti masa pacaran. Mereka tidak siap menghadapi kenyataan bahwa pernikahan juga berisi tekanan, perbedaan karakter, masalah ekonomi, sakit penyakit, dan proses pendewasaan.

d. Hubungan pacaran dengan perceraian

Lamanya pacaran bukan faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah pernikahan.

Ada pasangan yang berpacaran bertahun-tahun tetapi akhirnya bercerai. Ada juga pasangan yang masa perkenalannya tidak terlalu lama tetapi memiliki rumah tangga yang kuat.

Masalah yang lebih penting adalah apakah pasangan benar-benar mengenal karakter satu sama lain.

Banyak orang mengenal pasangan hanya ketika keadaan menyenangkan. Mereka belum melihat bagaimana pasangannya menghadapi tekanan, kegagalan, kemarahan, uang, konflik, dan penderitaan.

Persiapan pernikahan sering kali lebih banyak dilakukan untuk acara pernikahan daripada kehidupan setelah pernikahan. Orang mempersiapkan gedung, pakaian, undangan, dan pesta, tetapi kurang mempersiapkan hati untuk belajar mengampuni, berkomunikasi, mengendalikan ego, dan hidup sebagai satu daging.

Pernikahan yang kuat bukan dibangun oleh pasangan yang sempurna, tetapi oleh pasangan yang mau terus belajar menjadi lebih baik.

e. Pandangan Alkitab tentang perceraian

Dalam Alkitab, pernikahan bukan sekadar perjanjian manusia, tetapi rancangan Allah.

Kejadian 2:24 berkata:

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Sejak awal penciptaan, Allah merancang pernikahan sebagai kesatuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Yesus kemudian menegaskan dalam Matius 19:6:

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Yesus menunjukkan bahwa manusia tidak boleh memandang pernikahan sebagai hubungan yang dapat dibuang dengan mudah.

Namun Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah memahami kelemahan manusia. Dalam Matius 19:8, Yesus berkata bahwa Musa mengizinkan perceraian karena ketegaran hati manusia.

Artinya, perceraian bukanlah rancangan awal Allah, tetapi muncul karena dosa manusia, kekerasan hati, dan kegagalan menjalankan kasih serta kesetiaan.

f. Marriage is a Covenant not Agreement

Kontrak biasanya dibuat berdasarkan keuntungan kedua pihak. Jika seseorang merasa tidak mendapatkan keuntungan, kontrak dapat dihentikan.

Namun perjanjian memiliki makna yang berbeda. Perjanjian berbicara tentang kesetiaan dan komitmen.

Dalam Maleakhi 2:14, Allah menyebut istri sebagai “istri seperjanjianmu.”

Artinya, seorang istri bukan hanya seseorang yang tinggal bersama suaminya. Ia adalah sahabat hidup, teman seperjalanan, dan pasangan yang diikat dalam janji di hadapan Allah.

Karena itu, pengkhianatan terhadap pasangan adalah sesuatu yang sangat serius di mata Tuhan.

g. Sikap Gereja terhadap perceraian

Sikap Gereja terhadap pernikahan dan perceraian:

    • Pernikahan itu memiliki dua tanggung jawab yang harus berjalan bersama: menjaga kebenaran dan menunjukkan kasih. 
    • Gereja tidak boleh menganggap perceraian sebagai sesuatu yang ringan, karena Alkitab sangat serius mengenai pernikahan.
    • Gereja juga tidak boleh menjadi tempat yang hanya menghakimi orang yang mengalami perceraian. Banyak orang mengalami perceraian karena menjadi korban pengkhianatan, kekerasan, atau keadaan yang sangat sulit.
    • Gereja dipanggil untuk memberikan pendampingan, konseling, pemulihan, dan pertolongan rohani.
    • Gereja juga memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan pasangan sebelum menikah. Pendidikan pra-nikah sangat penting agar pasangan memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta, tetapi tentang komitmen seumur hidup.

Pendapat para teolog terkemuka dunia

Revd. John Robert Walmsley Stott, seorang teolog, pendeta Anglikan, dan penulis Kristen Injili, dalam bukunya The Message of the Sermon on the Mount: The Message of Matthew 5–7 (1978), menekankan bahwa pernikahan Kristen adalah hubungan perjanjian yang mencerminkan kesetiaan Allah. Dalam buku tersebut, Stott membahas ajaran Yesus mengenai perceraian dalam Matius 5:31–32 dan menjelaskan bahwa Yesus menolak pandangan yang menganggap perceraian sebagai sesuatu yang mudah dilakukan. Menurut Stott, pernikahan memiliki nilai moral dan spiritual yang serius karena merupakan bagian dari rancangan Allah. Pernikahan bukan hanya hubungan berdasarkan perasaan manusia, tetapi sebuah komitmen yang mencerminkan karakter Allah yang setia terhadap perjanjian-Nya.

Dietrich Bonhoeffer DTh, dalam kumpulan tulisannya Letters and Papers from Prison (1951), yang diterbitkan setelah kematiannya berdasarkan surat-surat dan catatan yang ia tulis selama masa penahanannya pada tahun 1943–1945, menekankan bahwa dalam pernikahan Kristen, dasar utama bukan hanya cinta manusia, tetapi komitmen kepada Allah.
Pemikiran Bonhoeffer mengenai “pernikahan dan kasih” bahwa cinta manusia sering kali berubah-ubah, tetapi komitmen kepada Allah memampukan seseorang untuk belajar mengasihi dengan setia. Pernikahan bukan hanya terjadi karena dua orang memiliki perasaan cinta, tetapi menjadi tempat di mana dua orang belajar menjalankan kasih yang dewasa, bertanggung jawab, dan penuh pengorbanan di hadapan Tuhan.

Rev. Dr. Timothy James Keller, dalam bukunya The Meaning of Marriage: Facing the Complexities of Commitment with the Wisdom of God (2011), menjelaskan bahwa salah satu penyebab kegagalan banyak pernikahan modern adalah karena manusia memiliki harapan yang terlalu besar kepada pasangan. Keller menjelaskan bahwa manusia sering menjadikan pasangan sebagai sumber utama kebahagiaan, keamanan, dan pemenuhan hidup, padahal hanya Allah yang mampu memenuhi kebutuhan terdalam manusia. Ketika seseorang menjadikan pasangan sebagai pengganti Allah, hubungan pernikahan akan mengalami tekanan yang terlalu besar karena tidak ada manusia yang mampu memenuhi seluruh harapan manusia lainnya secara sempurna.

Pope John Paul II, Dr. Karol Józef Wojtyła, seorang teolog Katolik, filsuf, dan pemimpin Gereja Katolik Roma, melalui rangkaian pengajarannya yang dikenal sebagai Theology of the Body (1979–1984), menjelaskan bahwa pernikahan adalah pemberian diri yang total antara seorang pria dan seorang wanita. Ajaran ini disampaikan dalam 129 pengajaran pada audiensi umum selama masa kepausannya dan kemudian dikumpulkan menjadi karya yang dikenal sebagai Man and Woman He Created Them: A Theology of the Body (2006, edisi kompilasi dan terjemahan bahasa Inggris dari pengajaran tahun 1979–1984).

Paus Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki makna sebagai pemberian diri dalam kasih. Karena itu, pernikahan bukan hanya hubungan fisik atau ikatan sosial, tetapi panggilan untuk memberikan diri secara utuh, setia, dan penuh kasih. Perceraian bertentangan dengan makna terdalam dari pernikahan karena menghancurkan kesatuan dan pemberian diri yang telah dijanjikan di hadapan Allah.

Keempat pemikiran dari para tokoh tersebut memiliki satu kesamaan utama, yaitu bahwa pernikahan tidak boleh dipandang hanya sebagai hubungan yang dibangun berdasarkan perasaan, kenyamanan, atau kepentingan pribadi. Pernikahan adalah sebuah komitmen yang membutuhkan kesetiaan, pengorbanan, pengampunan, dan tanggung jawab di hadapan Allah. Hal ini sejalan dengan pesan Maleakhi 2:14–16 bahwa Allah sendiri menjadi saksi dalam pernikahan dan memanggil manusia untuk menjaga dirinya serta tidak berkhianat terhadap pasangan yang telah menjadi bagian dari perjanjian hidupnya.


4. Ajaran Kristus mengenai perkawinan 

Efesus 5:25

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”

Kristus menjadi contoh bagaimana seorang suami harus mengasihi istrinya.

Kasih Kristus bukan kasih yang hanya muncul ketika keadaan menyenangkan. Kasih Kristus adalah kasih yang rela berkorban, sabar, setia, dan tetap bertahan.

Seorang suami dipanggil untuk mengasihi istrinya dengan cara:

  1. Memberikan perhatian.
  2. Melindungi.
  3. Mendukung.
  4. Mengampuni.
  5. Tidak berlaku kasar.
  6. Mendahulukan kebaikan keluarga.

Kolose 3:19

“Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.”

Kasih dalam pernikahan harus terlihat melalui tindakan nyata.


 

Kesimpulan

Melalui Maleakhi 2:13–16, Tuhan menegur umat Yehuda karena mereka menganggap ringan perjanjian pernikahan. Mereka tetap datang beribadah, mempersembahkan korban, bahkan menangis di hadapan mezbah, tetapi hati mereka penuh dengan ketidaksetiaan terhadap pasangan hidup mereka. Allah menolak persembahan mereka karena mereka telah mengkhianati istri masa muda mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang benar dan kesetiaan dalam keluarga.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa pernikahan bukanlah sekadar ikatan antara dua manusia, melainkan sebuah perjanjian kudus yang disaksikan oleh Allah sendiri. Seorang istri bukan hanya pasangan hidup, tetapi juga teman seperjalanan, sahabat, penolong yang sepadan, dan istri seperjanjian yang harus dikasihi, dihormati, dan dijaga kesetiaannya. Demikian pula seorang suami dipanggil untuk mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat, yaitu dengan kasih yang rela berkorban, setia, memelihara, dan membangun.

Allah juga menyatakan bahwa tujuan pernikahan bukan hanya untuk kebahagiaan suami dan istri, tetapi agar lahir keturunan yang mengenal, mengasihi, dan takut akan Tuhan. Oleh karena itu, suami dan istri harus menjaga kekudusan pernikahan, menjauhkan diri dari segala bentuk perzinahan, baik dalam perbuatan, perkataan, maupun pikiran, serta hidup saling mengasihi dan menghormati sebagai satu daging di hadapan Allah.

Marilah kita menjaga hati dan hidup kita agar tetap setia kepada pasangan yang telah Tuhan percayakan. Kesetiaan kepada pasangan adalah wujud ketaatan kepada Allah yang menjadi saksi atas perjanjian pernikahan kita. Ketika rumah tangga dibangun di atas kasih, kesetiaan, kekudusan, dan takut akan Tuhan, maka keluarga tersebut akan menjadi kesaksian yang memuliakan nama Tuhan dan menjadi tempat lahirnya generasi yang mengasihi serta melayani Dia sepanjang hidupnya.

Kiranya Tuhan yesus memberikan kita hikmat dan pengetahuan-Nya, agar kita dapat memahami dan mengerti firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Ibrani 13:4

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *