Maleakhi 1 Part 2 tentang “Murka Allah terhadap para Imam yang jahat – God’s wrath against the evil Imams” Seri Nabi Kecil

By Febrian 07 Juli 2026 04.14 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus, edisi sebelumnya telah dibahas Maleakhi 1 Part 1 tentang “Kasih Allah yang menakjubkan bagi umat-Nya”, dan pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai Murka Allah terhadap para Imam yang jahat.
Kiranya kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut.
Tuhan Yesus memberkati.

Murka Allah terhadap para Imam yang jahat

Maleakhi 1  <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Dari seluruh ayat dalam pasal tersebut, kita akan melanjutkan Part 2 ini, sebagai berikut:

2. TUHAN mengecam umat-Nya karena berbuat cemar [Part 2]

Setelah dalam edisi yang lalu kita mengetahui bahwa TUHAN mengasihi umat-Nya yang meragukan kasih-Nya, maka kali ini Ia murka akan para Imam yang menghina Nama-Nya di hadapan umat-Nya. Bisa jadi mereka lah penyebab utama bangsa Yehuda menjadi tawar hati terhadap kebaikan TUHAN selama itu. 

a. Imam yang mempersembahkan dengan sikap dan persembahan yang tidak layak

Zakharia 1:6

1:6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku.

Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!”

Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.

Itu semua dipersembahkan para imam di Bait Allah, padahal ada perintah Allah mengenai persembahan korban bagi Allah:

Imamat 22:22

Binatang yang buta atau yang patah tulang, yang luka atau yang berbisul, yang berkedal (penyakit kulit belang-belang) atau yang berkurap, semuanya itu janganlah kamu persembahkan kepada TUHAN dan binatang yang demikian janganlah kamu taruh sebagai korban api-apian bagi TUHAN ke atas mezbah.

b. Allah muak terhadap kemunafikan para Imam

Maleakhi 1:9-14

1:9 Maka sekarang: “Cobalah melunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita!” Oleh tangan kamulah terjadi hal itu, masakan Ia akan menyambut salah seorang dari padamu dengan baik? firman TUHAN semesta alam. 

Sekiranya ada di antara kamu yang mau menutup pintu, supaya jangan kamu menyalakan api di mezbah-Ku dengan percuma. Aku tidak suka kepada kamu, firman TUHAN semesta alam, dan Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu. Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam. 1:12 Tetapi kamu ini menajiskannya, karena kamu menyangka: “Meja Tuhan memang cemar dan makanan yang ada di situ boleh dihinakan!” 

Kamu berkata: “Lihat, alangkah susah payahnya!” dan kamu menyusahkan Aku, firman TUHAN semesta alam. Kamu membawa binatang yang dirampas, binatang yang timpang dan binatang yang sakit, kamu membawanya sebagai persembahan. Akan berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman TUHAN

1:14 Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa.

Dari ayat di atas dapat kita rasakan betapa muaknya Allah melihat kelakuan para imam yang mempersembahkan korban cacat dengan hati yang tidak takut akan Dia. Ini betul-betul merupakan suatu penghinaan besar bagi Allah. Bahkan jika persembahan itu diberikan kepada seorang Bupati, pasti ia akan murka dan mengamuk menerima penghinaan seperti itu, apatah lagi TUHAN, Allah Semesta Alam. 

Para imam tetap melaksanakan ibadah di Bait Allah, tetapi ibadah itu sudah kehilangan maknanya. Korban-korban tetap dipersembahkan di atas mezbah, namun TUHAN menyatakan bahwa Ia tidak lagi berkenan menerimanya. Bahkan, TUHAN berkata lebih baik pintu Bait Allah ditutup daripada ibadah terus dilakukan dengan sikap yang salah.

Mereka memandang pelayanan kepada TUHAN sebagai beban yang melelahkan. Apa yang seharusnya menjadi kehormatan dianggap sebagai pekerjaan yang menyusahkan. Akibatnya, mereka menerima dan mempersembahkan binatang yang timpang, sakit, cacat, bahkan hasil rampasan, padahal mereka sebenarnya memiliki persembahan yang lebih layak untuk diberikan kepada TUHAN.

Di tengah sikap para imam yang meremehkan kekudusan ibadah, TUHAN menegaskan bahwa nama-Nya tetap besar dan dihormati di antara bangsa-bangsa. Kemuliaan Allah tidak bergantung pada kesetiaan para imam. Meskipun mereka gagal menghormati-Nya, TUHAN tetap adalah Raja yang besar, yang layak menerima persembahan yang murni dan penghormatan yang sungguh-sungguh.

Karena itu, TUHAN mengecam mereka sebagai penipu. Mereka tampak tetap beribadah di hadapan manusia, tetapi tidak memberikan yang terbaik kepada Allah. Ibadah yang seharusnya menjadi ungkapan kasih dan hormat kepada TUHAN telah berubah menjadi kegiatan lahiriah yang kehilangan ketulusan dan kesungguhan hati.

c. Hukuman Allah atas para Imam yang membangkitkan murka-Nya

Maleakhi 2:1

2:1 Maka sekarang, kepada kamulah tertuju perintah ini, hai para imam! Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati nama-Ku, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan. Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari hari-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu. 

Maka kamu akan sadar, bahwa Kukirimkan perintah ini kepadamu, supaya perjanjian-Ku dengan Lewi tetap dipegang, firman TUHAN semesta alam. Perjanjian-Ku dengan dia pada satu pihak ialah kehidupan dan sejahtera dan itu Kuberikan kepadanya–pada pihak lain ketakutan–dan ia takut kepada-Ku dan gentar terhadap nama-Ku. Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan. 

Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam. 2:8 Tetapi kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu; kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN semesta alam. 2:9 Maka Akupun akan membuat kamu hina dan rendah bagi seluruh umat ini, oleh karena kamu tidak mengikuti jalan yang Kutunjukkan, tetapi memandang bulu dalam pengajaranmu.

Para imam masih menjalankan tugas mereka di Bait Allah, tetapi hati mereka tidak lagi menghormati TUHAN. Mereka tetap mempersembahkan korban, mengajarkan Taurat, dan memimpin ibadah, namun semuanya dilakukan tanpa rasa takut dan hormat kepada Allah. Pelayanan yang seharusnya menjadi kehormatan telah berubah menjadi rutinitas yang dijalankan sekadar memenuhi kewajiban.

Mereka tidak lagi mengajarkan firman TUHAN dengan benar. Pengajaran mereka telah menyimpang sehingga banyak orang ikut tersesat. Alih-alih menuntun umat kepada pertobatan, mereka justru menjadi penyebab orang lain menjauh dari jalan TUHAN. Dalam mengambil keputusan, mereka juga tidak berlaku adil karena memperlakukan orang secara berbeda-beda.

Keadaan ini sangat berbeda dengan teladan imam Lewi yang dahulu hidup takut akan TUHAN, mengajarkan kebenaran, hidup jujur, dan membawa banyak orang berbalik dari dosa. Para imam pada zaman Maleakhi justru meninggalkan teladan tersebut dan merusak kepercayaan yang telah dipercayakan Allah kepada mereka.

Karena itu, TUHAN menyatakan bahwa para imam tidak lagi layak dihormati oleh umat. Jabatan yang seharusnya menjadi lambang kemuliaan berubah menjadi kehinaan. Mereka yang dahulu dipanggil untuk memuliakan nama TUHAN kini justru menjadi contoh kegagalan dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin rohani.

Sesudah kembali dari pembuangan di Babel, bangsa Yehuda hidup dengan harapan yang sangat besar. Melalui pelayanan Nabi Hagai dan Nabi Zakharia, TUHAN telah membangkitkan pengharapan bahwa pembangunan kembali Bait Allah akan menjadi awal pemulihan Israel. Mereka menantikan kemuliaan TUHAN memenuhi Bait Allah, kerajaan Daud dipulihkan, bangsa-bangsa datang menyembah TUHAN, dan janji-janji pemulihan segera digenapi.

Namun kenyataan yang mereka alami jauh berbeda. Yehuda tetap menjadi provinsi kecil di bawah kekuasaan Persia, tidak memiliki raja keturunan Daud, kondisi ekonomi masih sulit, dan kemuliaan yang mereka nantikan belum juga terlihat. Kesenjangan antara pengharapan dan kenyataan ini perlahan-lahan melahirkan kekecewaan rohani yang mendalam.

Andrew E. Hill, Ph.D., seorang pakar Perjanjian Lama dan penulis komentar Malachi (Anchor Yale Bible, 1998) serta Haggai, Zechariah and Malachi (New International Biblical Commentary, 2012), menjelaskan bahwa kitab Maleakhi ditujukan kepada komunitas Yehuda pada masa pascapembuangan yang sedang mengalami kekecewaan, sikap sinis, dan apatis terhadap Allah. Menurut Hill, harapan besar akan pemulihan yang dinubuatkan oleh para nabi sebelumnya belum terwujud sebagaimana mereka bayangkan, sehingga sebagian umat mulai meragukan kasih dan keadilan Allah. Keadaan inilah yang menjadi latar belakang teguran Nabi Maleakhi kepada umat agar kembali menghormati Allah, memulihkan kesetiaan dalam ibadah, dan hidup sesuai dengan perjanjian-Nya.

Kekecewaan tersebut semakin diperparah oleh pergantian generasi. Sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh tahun telah berlalu sejak Bait Allah selesai dibangun sampai masa pelayanan Nabi Maleakhi. Generasi yang dahulu mengalami pahitnya pembuangan dan penuh semangat membangun kembali Bait Allah mulai digantikan oleh generasi baru yang tidak mengalami sendiri karya besar pemulihan itu. Mereka mewarisi tradisi keagamaan, tetapi tidak mewarisi pengalaman iman yang mendalam.

Joyce G. Baldwin, M.A. (Cantab.), dalam Haggai, Zechariah, Malachi (Tyndale Old Testament Commentaries, 1972), menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Maleakhi ibadah di Bait Allah tetap berlangsung, tetapi sikap hormat kepada Allah telah merosot. Umat dan para imam masih menjalankan ritual keagamaan, namun mereka mempersembahkan korban yang cacat dan memandang pelayanan kepada Allah sebagai beban. Menurut Baldwin, kritik Maleakhi diarahkan bukan kepada berhentinya ibadah, melainkan kepada hilangnya penghormatan, kesungguhan, dan ketaatan yang seharusnya menjadi inti penyembahan kepada Allah.

Dalam keadaan seperti itu, para imam juga gagal menjalankan tugas utamanya sebagai pengajar Taurat. Maleakhi 2:7 menggambarkan bahwa seorang imam seharusnya memelihara pengetahuan dan menjadi tempat umat mencari pengajaran. Namun kenyataannya mereka telah menyimpang dari jalan TUHAN dan justru membuat banyak orang tergelincir.

Douglas Stuart, Ph.D., dalam komentarnya tentang Maleakhi dalam The Minor Prophets: An Exegetical and Expository Commentary (Baker Book House, 1998), menjelaskan bahwa salah satu pokok teguran Nabi Maleakhi adalah kegagalan para imam menjalankan tugas mereka sebagai pengajar Taurat. Menurut Stuart, para imam telah menyimpang dari jalan Tuhan, tidak lagi memelihara pengetahuan sebagaimana dituntut dalam perjanjian Lewi, dan melalui pengajaran yang tidak setia menyebabkan banyak orang tersandung. Karena itu, kerusakan rohani umat dalam kitab Maleakhi tidak dapat dipisahkan dari kegagalan para pemimpin rohani untuk mengajarkan firman Allah dengan benar dan menjadi teladan dalam kehidupan mereka.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Yehuda yang masih lemah juga mendorong terjadinya kompromi dalam ibadah. Masyarakat lebih memilih mempersembahkan ternak yang buta, timpang, atau sakit karena ternak yang sehat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi untuk dipelihara atau dijual. Para imam mengetahui pelanggaran tersebut, tetapi mereka membiarkannya.

Pieter A. Verhoef, D.Th., dalam The Books of Haggai and Malachi (New International Commentary on the Old Testament, 1987), menjelaskan bahwa persembahan hewan yang buta, timpang, dan sakit menunjukkan sikap tidak hormat kepada Allah serta pelanggaran terhadap ketentuan Taurat mengenai korban yang tidak bercacat. Verhoef juga mencatat bahwa penggunaan hewan yang tidak bernilai mungkin berkaitan dengan pertimbangan ekonomis, tetapi tindakan tersebut tetap mencerminkan kegagalan umat memberikan yang terbaik kepada Allah.

Douglas Stuart, Ph.D., dalam komentarnya tentang Maleakhi dalam The Minor Prophets: An Exegetical and Expository Commentary (Baker Book House, 1998), menjelaskan bahwa persembahan hewan yang buta, timpang, dan sakit merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Taurat sekaligus bukti bahwa umat dan para imam tidak lagi menghormati Allah sebagaimana seharusnya. Menurut Stuart, melalui teguran Maleakhi, Allah menyingkapkan bahwa persembahan yang tidak layak mencerminkan sikap hati yang gagal memberikan hormat dan ketaatan yang pantas kepada-Nya.

Semua faktor tersebut akhirnya membentuk suatu kemerosotan rohani yang mendalam. Kekecewaan terhadap keadaan, hilangnya semangat generasi pertama, merosotnya pengajaran Taurat, dan kompromi demi kepentingan ekonomi membuat para imam kehilangan kepekaan terhadap kekudusan TUHAN. Karena penyimpangan itu berlangsung secara perlahan selama beberapa dasawarsa, mereka bahkan tidak lagi menyadari kesalahan mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka berulang kali bertanya, “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Mereka tetap menjalankan ibadah, tetapi hati mereka telah jauh dari TUHAN, sehingga pelayanan yang seharusnya memuliakan Allah justru menjadi penghinaan terhadap nama-Nya.

Berikut ini adalah pelanggaran yang dilakukan oleh para imam waktu itu dan refleksinya bagi kita di zaman sekarang:

1. Mencemarkan mezbah TUHAN dengan mempersembahkan korban yang cacat (Maleakhi 1:6-8).

Imam mempersembahkan domba cacat
Imam mempersembahkan domba cacat

Para imam menerima dan mempersembahkan binatang yang buta, timpang, dan sakit sebagai korban kepada TUHAN. Padahal Allah telah berfirman bahwa korban haruslah yang tidak bercela (Imamat 22:20-25; Ulangan 15:21). Mereka sengaja menurunkan standar kekudusan yang telah ditetapkan Allah.

Manifestasi pada zaman sekarang adalah pemimpin rohani yang tetap melayani walaupun hidupnya tidak lagi menjadi teladan. Di berbagai negara pernah terungkap kasus pendeta, imam, atau pelayan gereja yang tetap berkhotbah dan memimpin ibadah meskipun terlibat perselingkuhan, penyalahgunaan dana gereja, kekerasan seksual, atau berbagai dosa yang disembunyikan. Pelayanan dipersembahkan kepada Allah, tetapi kehidupan pribadinya justru “cacat”.

Imam yang dimaksud dalam Maleakhi 1 jika diterapkan pada masa kini, adalah penilik jemaat, pendeta, gembala sidang, penatua, maupun semua pelayan Tuhan dapat dijadikan penerapan. Alasannya bukan karena jabatannya sama dengan Imam di Perjanjian Lama, melainkan karena mereka sama-sama dipercaya untuk memimpin umat Allah dan memelihara kekudusan ibadah. Firman Tuhan mengajarkan agar seorang pelayan Tuhan hidup tidak bercacat dalam karakter dan menjadi teladan bagi jemaat (1 Timotius 3:1-7; Titus 1:6-9; 1 Petrus 5:2-3).

2. Menghina nama TUHAN dengan sikap yang tidak hormat (Maleakhi 1:6).

Imam yang tidak hormat
Imam yang tidak hormat

Allah berfirman bahwa seorang anak menghormati ayahnya dan seorang hamba menghormati tuannya. Namun para imam tidak lagi menghormati nama TUHAN, sehingga pelayanan mereka kehilangan rasa takut akan Allah.

Manifestasi pada zaman sekarang terlihat ketika seorang pemimpin rohani lebih mengejar popularitas, jabatan, jumlah pengikut, atau keuntungan pribadi daripada memuliakan Tuhan. Berbagai skandal pelayanan yang berpusat pada diri sendiri menunjukkan bahwa nama Tuhan sering kali tidak lagi menjadi yang terutama.

Tuhan Yesus mengajarkan, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan” (Matius 23:11-12). Rasul Paulus juga mengingatkan agar segala sesuatu dilakukan hanya untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).

3. Menganggap pelayanan kepada TUHAN sebagai beban (Maleakhi 1:12-13).

Para imam berkata, “Alangkah susah payahnya!” Mereka menjalankan ibadah tanpa sukacita, bahkan dengan sikap bosan dan meremehkan pelayanan di hadapan Allah.

Manifestasi pada zaman sekarang tampak ketika pelayan gereja melayani hanya sebagai rutinitas, karena kewajiban, atau demi mempertahankan jabatan. Tidak sedikit pelayan yang mengaku kehilangan kasih mula-mula sehingga pelayanan dilakukan sekadar menggugurkan tugas.

Firman Tuhan mengajarkan agar melayani dengan sukacita dan segenap hati, seperti melayani Tuhan sendiri (Kolose 3:23-24), serta menggembalakan jemaat dengan sukarela, bukan karena terpaksa (1 Petrus 5:2).

4. Membiarkan ibadah menjadi tidak kudus (Maleakhi 1:7-8).

Para imam mengetahui bahwa korban itu tidak layak, tetapi mereka tetap membiarkannya dipersembahkan. Mereka gagal menjaga kekudusan rumah Allah.

Manifestasi pada zaman sekarang terlihat ketika pemimpin gereja mengetahui adanya dosa yang nyata di lingkungan pelayanan, tetapi membiarkannya demi menjaga nama baik organisasi, mempertahankan jabatan, atau menghindari konflik. Berbagai laporan investigasi gereja di berbagai negara menunjukkan bahwa penutupan kasus pelecehan seksual atau penyalahgunaan wewenang oleh pemimpin rohani memang pernah terjadi.

Tuhan Yesus mengajarkan pentingnya menegur saudara yang berbuat dosa (Matius 18:15-17). Rasul Paulus juga memerintahkan agar dosa yang terus dilakukan ditegur di depan semua orang supaya menjadi peringatan bagi yang lain (1 Timotius 5:20).

5. Menipu Allah melalui persembahan yang tidak tulus (Maleakhi 1:14).

Seseorang memiliki hewan jantan yang baik, tetapi yang dipersembahkan justru yang cacat. Para imam membiarkan penipuan itu berlangsung di mezbah TUHAN.

Cinta uang
Cinta uang

Manifestasi pada zaman sekarang terlihat ketika seorang pelayan Tuhan berkhotbah tentang pengorbanan dan kekudusan, tetapi dalam kehidupan pribadi justru menyalahgunakan persembahan, memanipulasi laporan keuangan, atau menggunakan dana pelayanan untuk kepentingan pribadi. Berbagai kasus seperti ini telah diproses secara hukum di banyak negara.

Firman Tuhan mengajarkan agar setiap pelayan Tuhan dapat dipercaya dalam perkara yang kecil maupun yang besar (Lukas 16:10-12). Rasul Paulus juga mengingatkan agar pelayan Tuhan menjauhkan diri dari cinta akan uang dan memelihara hati nurani yang bersih (1 Timotius 6:10-11; 2 Korintus 8:20-21).

Jika kita simpulkan firman Tuhan kali ini, bahwa tidak sembarangan Allah mengurapi seseorang menjadi Imam bagi bangsanya. Seorang imam adalah orang yang berhubungan langsung dengan Allah, maka dari itu syaratnya ia harus keturunan Lewi, pikirannya lurus, hatinya kudus dan hatinya tulus, serta taat kepada Allah yang mengurapinya. Ia menjadi perantara antara umat dengan TUHAN, Allah Semesta Alam. 

Demikianlah firman Tuhan ini, disampaikan semoga kita semua diberi hikmat dan pengetahuan oleh Tuhan Yesus Kristus, sehingga dapat dengan jelas dan mudah memahaminya. 

Tuhan Yesus memberkati.

Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam. 

Maleakhi 2:7

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *