
Maleakhi 1 tentang “Kasih Allah yang menakjubkan bagi umat-Nya – God’s amazing love for His people” Seri Nabi Kecil”
By Febrian 07 Juli 2026 04.14 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus, pada kesempatan sebelumnya, kita telah mengetahui kerangka besar nubuat Nabi Maleakhi dalam edisi Pengantar Kitab Maleakhi (Pasal 1-4) “Kedahsyatan Allah menjajikan Perjanjian Baru – God Amazingly promises the New Testament”Seri Nabi Kecil. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai kekecewaan Allah terhadap umat Israel yang tidak mengasihi bahkan tidak menghormati-Nya. Kiranya kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut.
Tuhan Yesus memberkati.
Kasih Allah yang menakjubkan bagi umat-Nya
Maleakhi 1 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Dari seluruh ayat dalam pasal tersebut, kita perhatikan ada dua pokok pikiran sebagai berikut:
1. TUHAN mengasihi umat-Nya yang meragukan kasih-Nya [Part 1]
Maleakhi 1:2-5
2 “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?”
“Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.”
Apabila Edom berkata: “Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu,”
maka beginilah firman TUHAN semesta alam: “Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya.”
5 Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: “TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel.”
Allah menyatakan bahwa Ia mengasihi umat-Nya itu, tetapi mereka malahan mempertanyakan, dengan apa Allah mengasihi mereka. Dari jawaban mereka, diketahui bahwa berarti hingga saat itu bangsa Yehuda tidak merasakan kasih Allah terhadap mereka. Mengapa demikian? Jadi untuk memahami perasaan mereka, mungkin kita harus melihat ke belakang dulu sejenak, mari kita lihat situasi dan kondisi yang sedang dihadapi bangsa Yehuda waktu itu.
Umat yang bertanya dalam Maleakhi 1:2 di atas, “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?“, adalah umat Yehuda yang telah kembali dari pembuangan Babel dan tinggal di Provinsi Yehud di bawah pemerintahan Kekaisaran Persia. Saat itu mereka telah memiliki Bait Suci yang Kedua (selesai dibangun tahun 516 SM), mereka juga sudah mempersembahkan korban di sana, sudah menjalankan ibadah keagamaan. Jadi, mereka sesungguhnya bukan bangsa yang tidak mengenal TUHAN. Namun mengapa mereka mempertanyakan kasih Tuhan?
Masalah mereka bukan tidak mengenal TUHAN, melainkan mereka mulai meragukan kasih dan kesetiaan TUHAN. Mereka membandingkan kenyataan hidup dengan harapan mereka. Ketika kembali dari pembuangan, mereka berharap zaman kemuliaan seperti pada masa Raja Daud dan Raja Salomo akan segera terwuud kembali. Namun kenyataannya ternyata berbeda, yaitu mereka masih tetap menjadi wilayah jajahan Persia, di mana ekonomi mereka tetap lemah, hasil pertanian sering mengecewakan, mereka tidak memiliki raja keturunan Daud yang memerintah, dan otomatis kemuliaan mereka sebagai suatu bangsa seperti dulu tetap tidak bisa terwujud.
Karena itulah muncul pertanyaan yang bernada sinis, “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?“ Pertanyaan ini diutarakan bukan karena mereka tidak tahu TUHAN Allah Semesta Alam, melainkan karena mereka kecewa dan berpendapat jika TUHAN memang mengasihi mereka, pasti keingingan mereka sudah terwujud daro dulu. Sehingga ketika pada kenyataannya yang mereka lihat adalah penderitaan, kesusahan, penjajahan atau hal yang lain, yang dialami saat itu, maka mereka meragukan bahwa Allah mengasihi mereka.
Kita lihat berikutnya, bahwa jawaban TUHAN sungguh di luar dugaan, ternyata TUHAN mengajak mereka melihat kontras dari suatu keadaan yang sama sekali tidak mereka sadari saat itu. TUHAN mengingatkan mereka, ““Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.“
Maksud firman Allah adalah, bahwa bukti kasih-Nya bukan berwujud hanya dalam bentuk suatu kemakmuran, kekayaan, kelimpahan belaka, melainkan pada fakta bahwa Allah tetap memelihara keturunan Yakub sebagai umat perjanjian-Nya dan tidak memusnahkan mereka. Sementara Edom (keturunan Esau) telah mengalami kehancuran, sedangkan umat Yehuda masih dipelihara, diizinkan kembali ke tanah perjanjian, dan tetap memiliki hubungan perjanjian dengan TUHAN. Inilah perbedaan dimensi sudut pandang, antara Allah dengan manusia.
Dengan demikian, inti firman Allah dalam Maleakhi 1 ini, bukanlah bahwa umat Yehuda ditegur karena tidak mengenal TUHAN, melainkan bahwa mereka telah kehilangan rasa syukur dan mulai mengukur kasih TUHAN hanya dari kondisi hidup mereka. Dampak dari kekeliruan mereka melihat kasih TUHAN tersebut, tercermin dalam ibadah mereka yang dilakukan secara asal-asalan, bahkan tidak menghormati Allah.
Inilah pesan firman Tuhan, yaitu keraguan terhadap kasih Allah menghasilkan berkurangnya penghormatan kepada Allah dalam penyembahan. Ini menjadi tema utama dari seluruh Maleakhi 1.
Barangkali kita umat percaya yang membaca renungan ini, dapat melakukan telaah ke dalam (introspeksi diri). Bagaimana sikap hati kita dalam melihat keadaan yang kita alami. Apakah hanya di kulit saja seperti umat Yehuda di atas, yaitu merasa Allah mengasihi kita jika kita mengalami hidup yang berkelimpahan, sukes, dihormati, kaya raya dsb? Atau kita mau belajar menghitung berapa banyak kasih Allah yang sebetulnya telah kita alami sepanjang hidup kita hingga hari ini.
Mari kita coba belajar dari teladan yang tecermin dalam hidup Rasul Paulus:
Rasul Paulus mengalami berbagai penderitaan: dipenjarakan, dicambuk, dianiaya, mengalami kelaparan, bahkan kapal yang ditumpanginya karam. Namun, ia tidak pernah menyimpulkan bahwa Allah telah berhenti mengasihinya. Sebaliknya, ia tetap percaya bahwa tidak ada satu pun keadaan yang dapat memisahkannya dari kasih Allah.
Roma 8:35
Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
Roma 8:37-39
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Inilah sikap hati yang wajib kita teladani, yaitu memandang Allah secara utuh, bukan memandang pemberian-Nya. Belajarlah dewasa di dalam Tuhan, bukan seperti kanak-kanak rohani yang masih memikirkan diri sendiri, bukan Misi Ilahi dalam diri kita.
Efesus 2:10
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Kasih Allah tidak dapat diukur hanya dari keadaan hidup yang sedang kita alami. Umat Yehuda gagal melihat bahwa mereka masih hidup karena pemeliharaan dan kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya, sehingga mereka lebih berfokus pada apa yang belum mereka miliki daripada pada kasih karunia yang telah mereka terima. Sebaliknya, Rasul Paulus mengajarkan bahwa dasar keyakinan orang percaya bukanlah kelimpahan, keberhasilan, atau bebas dari penderitaan, melainkan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.
Jika Allah telah rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal demi menyelamatkan kita, maka tidak ada alasan untuk meragukan kasih-Nya hanya karena kita sedang menghadapi kesulitan. Karena itu, marilah kita belajar memandang hidup dari sudut pandang Allah, yaitu dengan hati yang penuh syukur, tetap setia, dan percaya bahwa kasih-Nya tidak pernah berubah dalam segala keadaan.
Kiranya kita diberi hikmat dan pemahaman oleh Tuhan Yesus Kristus, dalam Roh Kudus-Nya hingga kita bisa mengerti apa pesan Allah bagi kita.
Tuhan Yesus memberkati.
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Roma 8:32
Amin.
