Zakharia 8 tentang “Puasa yang membawa kesukaan” seri Nabi Besar

By Febrian 09 Juni 2026 04:42 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas mengenai Puasa yang membawa kesukaan, sebagai lanjutan dari firman TUHAN dalam edisi sebelumnya. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan pengertian untuk dapat memahami firman-Nya tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Puasa yang membawa kesukaan

Zakharia 8 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat.

Seperti telah kita ketahui dalam edisi khotbah sebelumnya, yaitu Allah menegur kemunafikan orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan kejahatan. Dalam kesempatan ini, kita akan melihat bahwa Allah tidak hanya menegur umat-Nya namun juga akan memulihkan Sion dan menjadikan sesuatu yang sepertinya mustahil bagi manusia (Zakharia 8:6). Allah juga menyatakan bahwa akan ada masa puasa yang mendatangkan kesukaan bagi semua (Zakharia 8:19). Pada akhir pasal 8 ini, Allah melihat di masa depan, umat-Nya akan bertobat dan berniat untuk mencari-Nya demi melunakkan hati-Nya (Zakharia 8:22).

1. Allah merancangkan kedamaian

Jika kita perhatikan pasal 8 ini secara rinci dan merenungkan dalam hati kita, maka kita akan mengetahui sifat Allah kita, yaitu sesungguhnya Allah kita itu sangat mencintai ciptaan-Nya dan sangat ingin bersama-sama dengan mereka dalam kedamaian.

Suasana Indah
Suasana Indah yang Allah ciptakan

Digambarkan oleh Allah, bahwa Ia akan kembali ke Sion dan tinggal di Yerusalem. Di sana akan ada kedamaian yang digambarkan banyak orang yang hidup berumur panjang, sementara kanak-kanak bermain dengan bebas (Zakharia 8:5).  Saya teringat zaman kecil di kampung, ini adalah suasana yang sangat indah, di mana kedamaian dan sukacita terjadi hampir setiap hari. Setiap orang, tua muda tidak lagi memikirkan mereka itu kaya atau miskin, mereka semua bersukacita bersama. Inilah gambaran suasana yang Allah gambarkan di Yerusalem pada masa itu.

2. Allah akan mengumpulkan seluruh umat-Nya

Zakharia 8:7-8

Beginilah firman TUHAN semesta alam:

Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran.”

Allah berjanji pada umat-Nya, bahwa Ia akan menyelamatkan dan mengumpulkan mereka dari seluruh bumi, untuk menjadi umat-Nya yang akan hidup dalam kesetiaan dan kebenaran. Namun, jika kita lihat dalam sejarah Alkitab dan dunia, setelah masa Nabi Zakharia tidak ada peristiwa bahwa seluruh orang Israel dari berbagai penjuru bumi kembali secara serentak ke tanah Israel. Pemulangan umat Israel dari pembuangan di Babel yang terjadi pada waktu itu hanyalah sebagian kecil saja, bukan seluruh bangsa.

Para ahli Alkitab memahami nubuatan Zakharia mengenai pengumpulan seluruh umat Israel dari seluruh dunia bukanlah kejadian sejarah yang terjadi saat itu, melainkan janji masa depan tentang rencana besar Allah di akhir zaman yang belum sepenuhnya terwujud pada masa tersebut.

Jadi, sebetulnya jika kita perhatikan secara seksama, firman Tuhan ini berfokus pada perintah Allah untuk mempunyai sikap hidup yang benar seperti dalam firman-Nya:

Zakharia 8:16-17

Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan:

    1. Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan
    2. laksanakanlah hukum yang benar, yang
    3. mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu.
    4. Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan
    5. janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN.”

3. Masa Puasa yang membawa kesukaan

Zakharia 8:18-19

Datanglah firman TUHAN semesta alam kepadaku, bunyinya: “Beginilah firman TUHAN semesta alam:

Waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!”
Dari firman Tuhan tersebut di atas, sangat jelas kehendak Allah bagi umat-Nya: Puasa yang benar itu bukan soal makan atau minum, melainkan puasa yang membawa kegirangan dan sukacita. Perubahan waktu puasa menjadi masa perayaan bukanlah alasan bagi umat untuk hidup sembarangan. Sukacita tersebut harus diisi dengan perilaku yang mencerminkan karakter Allah, yaitu “kebenaran” (emet) dan “damai” (shalom). Itulah tanggapan yang diharapkan Allah dari umat-Nya.

4. Umat Allah saling mengajak untuk menghadap Allah

Zakharia 8:20-23 menceritakan sebuah janji Allah yang sangat indah tentang perubahan besar yang akan terjadi di masa depan. Jika sebelumnya bangsa-bangsa lain dipandang sebagai pihak luar, di masa depan mereka justru akan berbondong-bondong datang dengan kerendahan hati untuk mencari Tuhan. Mereka justru malahan saling mengajak penduduk kota lain dengan penuh semangat untuk pergi ke Yerusalem, tempat di mana mereka percaya bisa memohon perkenanan Tuhan Semesta Alam.

Banyak bangsa dari berbagai suku dan bahasa akan datang mencari Tuhan, karena mereka begitu rindu mengenal Allah yang disembah oleh bangsa Israel. Ini digambarkan bahwa ada sepuluh orang memegang kuat-kuat ujung jubah seorang Yahudi untuk memohon diizinkan pergi bersamanya. Mereka sangat ingin ikut serta dalam perjalanan, karena mereka telah mendengar kabar baik bahwa Allah benar-benar menyertai umat Israel. 

Dari ayat-ayat firman Tuhan di atas, kita juga dapat belajar bahwa ini sesungguhnya adalah cikal bakal penginjilan. Injil adalah Kabar Baik. Kabar baik itu adalah Imanuel, yaitu bahwa Allah beserta dengan manusia. Jadi magnet utama yang menarik bangsa-bangsa untuk datang bukanlah kehebatan Yerusalem atau bangsa Israel, melainkan adanya penyertaan Tuhan yang nyata dalam kehidupan umat Allah. Ketika bangsa-bangsa lain itu melihat bahwa kehidupan bangsa Israel diberkati dan disertai oleh Allah, maka hal itu akan memancarkan daya tarik yang kuat bagi orang lain untuk ikut mencari Tuhan.

Secara sederhana, nubuatan ini mengajarkan bahwa tujuan utama umat Allah adalah menjadi pembawa terang bagi dunia. Dengan berpuasa, Umat Tuhan diajar untuk mengendalikan diri mereka dan menjauhkan segala hawa nafsu serta berdoa dan beribadah kepada Allah secara bersungguh-sungguh. Berpuasa itu juga wajib memperhatikan sesama yang sedang berada dalam kondisi yang sulit, sakit, mungkin juga dalam keadaan yang putus asa. Itulah berpuasa yang sesungguhnya, seperti ada tertulis dalam Yesaya 58:6-11. Berpuasa bukan untuk dilihat orang lain bahwa kita hebat, atau lebih suci daripada orang lain.

Perintah Allah dalam Yesaya 58 di atas, yaitu untuk “membuka belenggu kelaliman”, adalah sebuah seruan untuk berhenti melakukan tindakan yang menindas sesama manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti kita tidak boleh lagi melakukan perbuatan yang membuat orang lain menderita atau kehilangan haknya, seperti memberikan beban kerja yang tidak wajar kepada bawahan, melakukan kecurangan dalam transaksi bisnis, atau membiarkan orang lain terikat dalam kesulitan ekonomi karena sikap egois kita. Membuka belenggu ini adalah tindakan nyata dalam memulihkan keadilan agar orang lain dapat hidup dengan lebih merdeka dan bermartabat.

Selain itu, pesan ini menegaskan bahwa ibadah yang sejati tidak cukup hanya dilakukan dengan ritual agama saja, melainkan harus dibuktikan melalui cara kita memperlakukan orang lain. Bagi Allah, puasa yang sungguh-sungguh bukan sekadar menahan lapar atau menunjukkan kesedihan secara lahiriah, tetapi harus diiringi dengan usaha untuk membebaskan mereka yang sedang tertindas atau terbebani. Dengan kata lain, hubungan kita dengan Allah akan dianggap benar jika kita juga berani bertindak untuk menolong sesama yang sedang mengalami ketidakadilan atau kesulitan hidup.

Kesimpulan:

Tujuan utama dari perintah ini adalah agar kita berhenti menjadi penyebab penderitaan bagi orang lain dan mulai menjadi saluran berkat bagi mereka. Ketika kita berani untuk melepaskan beban yang menindas sesama dan bersikap jujur dalam setiap tindakan, Allah berjanji bahwa kehidupan kita sendiri akan diberkati dan hubungan kita dengan-Nya akan semakin dekat. Jadi, membuka belenggu kelaliman adalah langkah konkret untuk mewujudkan kasih Allah di dunia, di mana kita secara aktif berupaya menciptakan suasana yang adil, damai, dan penuh kepedulian bagi orang-orang di sekitar kita.

Jadi kita tidak dipanggil untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan untuk hidup sedemikian rupa sehingga kehadiran Allah dalam hidup mereka menjadi nyata dan dirasakan oleh orang di sekelilingnya. Pada akhirnya, semua orang dari berbagai latar belakang diundang untuk bersatu dalam mencari Tuhan, karena kasih Allah memang disediakan bagi setiap bangsa yang mau mencari-Nya dengan tulus.

Zakharia 8 ini merangkum seluruh janji Allah tentang pemulihan bagi umat-Nya, di mana Yerusalem akan kembali dipenuhi kedamaian, tanah mereka akan diberkati, dan umat yang berserak akan dikumpulkan kembali. Pemulihan ini membawa dampak yang sangat besar, yaitu puasa penuh air mata yang selama ini dilakukan umat pada bulan tertentu, akan diubah oleh Allah menjadi masa perayaan yang penuh kegirangan dan sukacita. Perubahan dari duka menjadi sukacita ini, harus diiringi kehidupan yang benar, yaitu hidup jujur, menegakkan keadilan, menjaga perdamaian, dan membuang segala kefasikan. Hal itulah yang akan menjadi kesaksian bagi banyak bangsa hingga mereka berbondong-bondong ingin ikut mencari Tuhan Allah Israel, karena melihat penyertaan-Nya.

Melalui firman Tuhan kali ini, kita diajak untuk merenungkan ketulusan hidup kita dalam kehidupan sehari-hari dan dalam beribadah. Sukacita dan berkat dari Tuhan tidak akan mengalir jika kita hanya rajin menjalankan ritual keagamaan belaka, namun masih berbuat curang atau menyakiti orang lain. Setiap orang harus menyadari bahwa ibadah baru dipandang sebagai kebenaran dan dapat mendatangkan sukacita sejati, ketika orang tersebut sungguh-sungguh mempraktikkan kasih, keadilan, dan perdamaian kepada sesama manusia.

Kiranya firman Tuhan ini mengajar kita untuk hidup lebih baik lagi. Tuhan Yesus memberkati.

Siapa berpegang pada kebenaran yang sejati, menuju hidup, tetapi siapa mengejar kejahatan, menuju kematian.

Amsal 11:19

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *