
Zakharia 7 tentang “Kemunafikan Puasa Yang Palsu” Seri Nabi Kecil
By Febrian – 08 Juni 2026 04:12 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita akan membahas mengenai Kemunafikan umat yang melakukan Puasa yang Palsu. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan pengertian-Nya agar dapat memahami maksud firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Kemunafikan Puasa Yang Palsu
Zakharia 7 <– Klik di sini untuk membaca ayat.
Sesuai dengan Kerangka Pokok Pikiran Kitab Zakharia yang telah dibahas sebelumnya, maka kali ini kita akan membahas mengenai Umat Allah yang melakukan Puasa palsu dalam kemunafikan mereka.
Berikut adalah uraiannya:
1. Para tawanan bertanya mengenai puasa yang telah ditetapkan
Zakharia 7:1
Pada tahun yang keempat zaman raja Darius datanglah firman TUHAN kepada Zakharia, pada tanggal empat bulan kesembilan, yakni bulan Kislew.
Pasal ini ditulis sekitar tahun 520 Sebelum Masehi, hampir dua tahun setelah firman terakhir sebelumnya yang diterima oleh Zakharia. Saat itu bangsa Israel kembali ke Yerusalem setelah lama di pembuangan, dan mereka sudah mulai membangun rumah Tuhan lagi.
Zakharia 7:2-3
Adapun penduduk Betel telah mengutus Sarezer dan Regem-Melekh serta orang-orangnya untuk melunakkan hati TUHAN, untuk menanyakan kepada para imam dari rumah TUHAN semesta alam dan kepada nabi, demikian: “Haruskah kami sekalian menangis dan berpantang dalam bulan yang kelima seperti yang telah kami lakukan bertahun-tahun lamanya?”
Saat itu ada kebiasaan berpuasa setiap bulan ke-5 dan ke-7 untuk mengenang hancurnya kota Yerusalem. Namun, ada satu kekeliruan yang dilakukan: Para pemimpin dari Betel yang datang bertanya kepada para imam dan nabi, adalah cerminan bahwa bangsa Israel hanya menjalankan puasa sebagai rutinitas tahunan.
2. Jawaban TUHAN atas pertanyaan umat-Nya
Zakharia 7:4-7
Maka datanglah firman TUHAN semesta alam kepadaku, bunyinya:
“Katakanlah kepada seluruh rakyat negeri dan kepada para imam, demikian: Ketika kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang kelima dan yang ketujuh selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku? Dan ketika kamu makan dan ketika kamu minum, bukankah kamu makan dan minum untuk dirimu sendiri? Bukankah ini firman yang telah disampaikan TUHAN dengan perantaraan para nabi yang dahulu, ketika Yerusalem dengan kota-kota yang di sekelilingnya masih didiami orang dan masih sentosa dan Tanah Negeb dan Daerah Bukit masih didiami?”
TUHAN Allah Semesta Alam, melihat bahwa hati mereka tidak berubah, yaitu mereka berpuasa dengan kemunafikan dan dilakukan untuk diri sendiri, bukan untuk Tuhan. Saat mereka makan dan minum, itu juga hanya untuk kesenangan sendiri. Di sisi lain, mereka lupa melakukan hal-hal yang benar: menegakkan keadilan, menunjukkan kesetiaan, dan mengasihi sesama. Mereka juga masih berbuat kejahatan dengan menindas para janda, anak yatim, pendatang, dan orang miskin. Leluhur mereka dulu juga begitu, sehingga Tuhan menyerakkan mereka ke berbagai bangsa. Sekarang generasi baru masih mengulangi kesalahan yang sama.
3. Perintah Allah terkait Puasa
Zakharia 7:8-10
Firman TUHAN datang kepada Zakharia, bunyinya:
“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing! Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing.”
Pesan Allah:
- Tegakkan hukum yang benar
- Tunjukkan kesetiaan dan kasih sayang
- Jangan menindas orang lemah
- Jangan merancangkan kefasikan
4. Hati bangsa yang keras bagaikan batu amril
Zakharia 7:11-13
Tetapi mereka tidak mau menghiraukan, dilintangkannya bahunya untuk melawan dan ditulikannya telinganya supaya jangan mendengar. Mereka membuat hati mereka keras seperti batu amril, supaya jangan mendengar pengajaran dan firman yang disampaikan TUHAN semesta alam melalui roh-Nya dengan perantaraan para nabi yang dahulu. Oleh sebab itu datang murka yang hebat dari pada TUHAN.
“Seperti mereka tidak mendengarkan pada waktu dipanggil, demikianlah Aku tidak mendengarkan pada waktu mereka memanggil, firman TUHAN semesta alam.
Allah yang telah berada di masa depan sebetulnya sudah mengetahui perbuatan-perbuatan yang akan dilakukan bangsa Israel, termasuk dampak dari perbuatan mereka. Namun, Allah sendiri menilai umat-Nya memiliki hati yang keras bagaikan “batu amril” atau batu asah yang sangat keras. Hati umat Allah itu sangat keras, berapa kali pun ditegur Allah, mereka tetap tidak mau bertobat dan berbalik dari kesalahan dan dosa-dosa mereka.
Teguran tentang kekerasan hati ini sebenarnya sudah berlangsung sangat lama, jauh sebelum zaman nabi Zakharia. Pertama, pada zaman Musa, Allah sudah menegur bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk (Ulangan 9:6 dan Ulangan 9:13). Musa juga memperingatkan mereka bahwa bukan karena jasa mereka, melainkan karena kasih setia Tuhan, namun mereka tetap keras kepala.
Kemudian pada zaman hakim-hakim, terjadi siklus berulang: umat berdosa, Tuhan menghukum, mereka berseru minta tolong, Tuhan mengutus hakim untuk menyelamatkan, lalu setelah selamat mereka kembali berbuat dosa (Hakim-hakim 2:17-19). Ini menunjukkan hati yang keras dan cepat melupakan Tuhan.
Pada zaman kerajaan Israel dan Yehuda, Tuhan terus mengutus nabi-nabi seperti Elia, Elisa, Yesaya, dan banyak lagi. Tetapi umat tetap menegarkan tengkuk seperti nenek moyang mereka (2 Raja-raja 17:13-14). Mereka bahkan mengolok-olok utusan Allah dan menghina firman-Nya (2 Tawarikh 36:16).
Nabi Yesaya juga menegur bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk dan keras hati (Yesaya 48:4). Nabi Yeremia, yang hidup sekitar seratus tahun sebelum Zakharia, berkali-kali menegur bahwa umat tidak mau mendengarkan, tidak mau memperhatikan, dan menegarkan tengkuknya (Yeremia 7:25-26 dan Yeremia 17:23). Yeremia juga mencatat bahwa Tuhan sudah terus menerus mengutus para nabi, tetapi umat justru semakin jahat dari pada nenek moyang mereka (Yeremia 19:15).
Nabi Yehezkiel, yang juga hidup di masa pembuangan, dengan tegas mengatakan bahwa segenap kaum Israel adalah bangsa yang keras kepala dan tegar hati (Yehezkiel 2:3-4 dan Yehezkiel 3:7). Tuhan sendiri yang menyebut mereka demikian.
Sebelum Zakharia, ada juga nabi-nabi kecil seperti Hosea yang menyebut Israel sebagai lembu yang suka menanduk dan bandel (Hosea 4:16). Amos menegur karena mereka menolak hukum Tuhan (Amos 2:4). Mikha mencatat bahwa para pemimpin membenci keadilan dan membengkokkan yang lurus (Mikha 3:1-4). Zefanya mengatakan bahwa mereka sudah busuk dan tidak mau menerima teguran (Zefanya 1:12 dan Zefanya 3:1-2). Bahkan Hagai, yang sezaman dengan Zakharia, mencatat bahwa mereka lebih sibuk membangun rumah sendiri daripada rumah Tuhan (Hagai 1:2-4).
Jadi jika dihitung secara kasar, sudah lebih dari tiga puluh kali teguran tercatat dalam kitab-kitab sebelum Zakharia. Bahkan kitab Nehemia, yang menceritakan masa setelah pembuangan, menyimpulkan bahwa Tuhan sudah panjang sabar dan memberi peringatan melalui Roh-Nya dengan perantaraan nabi-nabi, tetapi umat tidak mau mendengar (Nehemia 9:30).
Inilah yang menyebabkan Allah bertindak tegas. Karena mereka tidak mendengarkan ketika dipanggil, maka ketika mereka berseru, Allah pun tidak mendengarkan. Mereka diterbangkan seperti angin badai ke antara bangsa-bangsa yang tidak mereka kenal, dan tanah mereka menjadi sunyi sepi (Zakharia 7:13-14).
Teguran hati yang keras ini sudah diberikan Allah bertahun-tahun, berulang kali, dengan sabar, tetapi umat pilihan-Nya memilih untuk menutup telinga dan mengeraskan hati seperti batu amril yang tidak bisa ditembus oleh firman Tuhan.
5. Hukuman Allah karena kefasikan umat-Nya
Zakharia 7:14
Oleh sebab itu Aku meniupkan mereka seperti angin badai ke antara segala bangsa yang tidak dikenal mereka, dan sesudahnya tanah itu menjadi sunyi sepi, sehingga tidak ada yang lalu lalang di sana; demikianlah mereka membuat negeri yang indah itu menjadi tempat yang sunyi sepi.”

Ayat ini adalah puncak dari hukuman Allah atas umat-Nya yang sudah berkali-kali menolak firman-Nya. Ungkapan “Aku meniupkan mereka seperti angin badai ke antara segala bangsa yang tidak dikenal mereka” menggambarkan pembuangan yang dahsyat. Angin badai melambangkan kuasa Allah yang menghamburkan umat ke segala penjuru, bukan karena Allah menghendaki mereka tersesat, tetapi karena mereka sudah memilih untuk tidak mendengar. Kata “tidak dikenal” menekankan bahwa mereka akan pergi ke negeri asing yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, tanpa perlindungan dan tanpa rumah.
Akibat selanjutnya: “tanah itu menjadi sunyi sepi, sehingga tidak ada yang lalu lalang di sana.” Tanah yang dahulu subur dan indah, yang disebut sebagai negeri yang indah (tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu), menjadi sunyi sepi karena penduduknya diusir. Ironisnya, frasa “demikianlah mereka membuat negeri yang indah itu menjadi tempat yang sunyi sepi” menunjukkan bahwa kehancuran itu sebenarnya adalah buah dari perbuatan mereka sendiri. Bukan Allah yang membuatnya sunyi tanpa alasan, tetapi dosa dan kekerasan hati merekalah yang menarik hukuman itu.

Jika dikaitkan dengan pembahasan sebelumnya tentang Zakharia 7:12-13, di mana hati mereka keras seperti batu amril sehingga tidak mau mendengar teguran, maka ayat 14 adalah dampak dari penolakan itu. Mereka sudah dipanggil berkali-kali, tetapi tidak mau menjawab. Maka ketika mereka dalam kesesakan berseru kepada Tuhan, Tuhan juga tidak mendengarkan (ayat 13). Hukuman bukanlah balas dendam, melainkan penyerahan diri kepada pilihan mereka sendiri: jika mereka tidak mau hidup di negeri yang indah dengan taat kepada Tuhan, maka mereka akan hidup di negeri asing tanpa kehadiran Tuhan. Keheningan dan kesunyian tanah itu menjadi saksi bisu bahwa kemuliaan Tuhan sudah pergi.
Dari sini kita belajar bahwa hati yang terus menerus dikeraskan dan teguran yang diabaikan pada akhirnya akan membawa pada kehancuran diri sendiri. Tuhan itu panjang sabar, tetapi kesabaran-Nya tidak tak terbatas bagi mereka yang secara sengaja menutup telinga. Bagi pembaca saat ini, ayat ini mengingatkan bahwa ibadah tanpa ketaatan, puasa tanpa keadilan, dan ritual tanpa perubahan hati hanya akan membawa kepada kekosongan. Jangan sampai kita menjadi seperti generasi yang membuat negeri yang indah menjadi sunyi sepi karena kesombongan dan ketidakpedulian terhadap firman Tuhan.
Ada beberapa tujuan disampaikannya rangkaian firman Allah di atas:
- Mengingatkan bahwa puasa tanpa hati yang tulus tidak berarti apa-apa bagi Tuhan.
- Mengajarkan bahwa ibadah sejati bukan hanya soal ritual, tetapi juga soal perbuatan adil dan penuh kasih kepada sesama.
- Agar bangsa Israel tidak mengulangi dosa nenek moyang yang keras kepala dan menolak firman Tuhan.
- Mengembalikan fokus kepada inti ibadah: hidup yang benar di hadapan Tuhan dan manusia.
Jadi bagi kita di zaman sekarang, apa artinya firman Tuhan ini?
Mungkin kita juga melakukan kegiatan rohani (puasa, doa, ibadah) hanya karena kebiasaan atau supaya terlihat saleh, atau bahkan punya tujuan lain, misalnya mencari berkat Allah, mencari jodoh, ingin terlihat suci, dsb.
Padahal sesungguhnya, Tuhan melihat hati kita yang paling dalam, yaitu motivasi kita. Puasa yang benar bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melunakkan hati terhadap orang yang lemah.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah selama kita berpuasa, kita sudah meringankan beban orang yang sedang dalam kesusahan? Ataukah kita berpuasa demi meminta sesuatu yang kita inginkan belaka? Hati-hati motivasi kita jangan sampai keliru.
Jangan sampai kegiatan rohani kita hanya topeng, sementara hati kita tetap keras dan egois. Tuhan lebih senang kita berbuat adil dan mengasihi sesama daripada sekadar berpuasa untuk ritual keagamaan belaka.
Kesimpulan
Firman Tuhan kali ini mengajarkan pada kita, bahwa Tuhan menolak segala bentuk ibadah yang penuh kemunafikan khususnya berpuasa tanpa motivasi untuk Tuhan.
Pertanyaan tentang “haruskah kami berpuasa?” dijawab Tuhan dengan teguran: “Untuk siapa kamu berpuasa?”
Intinya, Tuhan ingin kita taat dan berlaku adil, bukan sekadar menjalankan ritual. Sejarah sudah membuktikan bahwa mereka yang menutup telinga dari firman Tuhan dan mengeraskan hati akan mengalami kehancuran. Karena itu, marilah kita mendengar firman Tuhan dan melakukannya dalam tindakan nyata setiap hari.
“Melakukan keadilan dan kebenaran lebih berkenan kepada TUHAN dari pada korban.”
— Amsal 21:3 —
Amin.
