Zakharia 5 Part 2 tentang “Kejahatan dan Kefasikan umat – Penglihatan ketujuh: perempuan dalam gantang” Seri Nabi Kecil

Penglihatan ketujuh: perempuan dalam gantang

Zakharia 5 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Dari ayat bacaan di atas, dapat kita bagi menjadi beberapa bagian, sebagai berikut:

1. Gantang melambangkan kejahatan dan kefasikan seluruh negeri

Zakharia 5:5-8

5 Tampillah malaikat yang berbicara dengan aku itu, katanya kepadaku: “Cobalah layangkan matamu dan lihatlah apa yang muncul itu!”

Lalu tanyaku: “Apa itu?”

Jawabnya: “Yang muncul itu sebuah gantang!” Lagi katanya: “Inilah kejahatan mereka di seluruh negeri!”

Lihat, tutup timah gantang itu telah terangkat, dan seorang perempuan duduk di dalamnya!

Kemudian berkatalah ia: “Itulah kefasikan!”

Lalu didorongnyalah perempuan itu kembali ke dalam gantang dan dibantingnyalah batu timah itu ke mulut gantang.

a. Zaman dan latar belakang penglihatan ini

Nabi Zakharia melayani bangsa Yehuda setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel sekitar tahun 520 SM. Walaupun bangsa itu sudah kembali ke tanah perjanjian dan sedang membangun kembali Bait Allah, keadaan rohani mereka belum sepenuhnya pulih. Masih terdapat berbagai kejahatan berupa ketidakjujuran, ketidaksetiaan kepada Allah, dan berbagai bentuk dosa yang tersembunyi di tengah masyarakat.

Dalam penglihatan sebelumnya, Nabi Zakharia melihat gulungan kitab yang terbang, yaitu lambang hukuman Allah terhadap pencuri dan orang yang bersumpah palsu. Penglihatan tentang gantang ini melanjutkan tema yang sama, yaitu bagaimana Allah akan menangani kejahatan yang masih ada di tengah umat-Nya.

b. Makna gantang dalam sejarah Alkitab

Gantang yang disebut dalam ayat ini merupakan wadah takaran untuk mengukur hasil pertanian atau barang dagangan. Dalam bahasa Ibrani digunakan kata אֵיפָה (ephah/efa), yaitu satuan ukuran yang umum dipakai dalam perdagangan pada zaman itu sekitar 22 liter.

Karena efa berkaitan erat dengan aktivitas jual beli, maka banyak penafsir melihat bahwa Allah sengaja memakai simbol berupa gantang ini untuk menunjukkan dosa yang telah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan hubungan antar sesama.

Pada masa para nabi, kecurangan dalam timbangan dan takaran merupakan salah satu dosa yang sering dikecam Allah. Oleh sebab itu, penggunaan sebuah gantang dalam penglihatan ini sangat mudah dipahami oleh orang Yehuda pada zaman Nabi Zakharia.

Dr. Joyce G. Baldwin, dalam Haggai, Zechariah, Malachi (Tyndale Old Testament Commentaries), Inter-Varsity Press, 1972, menjelaskan bahwa ephah merupakan simbol kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurut beliau, penglihatan ini menunjukkan bahwa kejahatan bukan hanya terjadi dalam tindakan besar yang terlihat jelas, tetapi telah masuk ke dalam aktivitas keseharian bangsa dan menjadi bagian dari budaya mereka.

Dr. Ralph L. Smith, dalam Micah–Malachi (Word Biblical Commentary), Word Books Publisher, 1984, menjelaskan bahwa ephah melambangkan ukuran penuh dosa bangsa itu. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Allah melihat seluruh kejahatan yang telah terkumpul dan tidak ada satu pun yang luput dari perhatian-Nya.

Dr. Eugene H. Merrill, Profesor Perjanjian Lama di Dallas Theological Seminary, dalam An Exegetical Commentary: Haggai, Zechariah, Malachi, Moody Press, 1994, menyatakan bahwa ephah merupakan lambang sistem kehidupan masyarakat yang telah dicemari dosa. Allah sedang menunjukkan bahwa kejahatan telah menyebar luas dan memengaruhi kehidupan bangsa secara menyeluruh.

Dr. John F. Walvoord dan Dr. Roy B. Zuck, dalam The Bible Knowledge Commentary: Old Testament, Victor Books, 1985, menjelaskan bahwa gantang tersebut menggambarkan keberdosaan bangsa yang sedang diukur dan dicatat oleh Allah. Tidak ada dosa yang tersembunyi dari penghakiman-Nya.

c. Kejahatan umat Allah sudah mencapai puncaknya

Ketika malaikat berkata, “Inilah kejahatan mereka di seluruh negeri“, fokus utama penglihatan bukan pada wadah itu sendiri, melainkan pada makna rohani yang dilambangkannya. Allah sedang memperlihatkan bahwa kejahatan telah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Kejahatan dan Dosa tidak lagi hanya dilakukan oleh beberapa orang tertentu, tetapi sudah menjadi sesuatu yang umum. Orang-orang mungkin masih beribadah, masih tinggal di tanah perjanjian, bahkan sedang membangun Bait Allah, tetapi hati banyak orang belum sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan, perbuatan mereka masih diliputi kejahatan.

Gantang juga bisa menunjukkan, bahwa Allah mengetahui kadar moral suatu bangsa, di mana manusia sering menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain, tetapi Allah menilai berdasarkan standar-Nya sendiri. Ketika kadar dosa dan kejahatan sudah tidak bisa ditolerir lagi, Allah bertindak pada waktu-Nya (Kairos).

f. Arti penglihatan dalam bentuk seorang perempuan

Dalam Zakharia 5, kefasikan digambarkan sebagai seorang perempuan bukan karena Alkitab menganggap perempuan lebih jahat daripada laki-laki. Sebagian besar penafsir menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan bahasa Ibrani yang digunakan dalam ayat tersebut. Kata “kefasikan” (הָרִשְׁעָה / ha-rish’ah) dalam bahasa Ibrani berbentuk feminin, sehingga dalam penglihatan Nabi Zakharia, kefasikan digambarkan sebagai seorang perempuan.

Selain itu, Alkitab memang sering menggambarkan sifat atau keadaan tertentu sebagai seorang perempuan. Misalnya, hikmat digambarkan sebagai perempuan dalam Kitab Amsal, demikian juga kebodohan. Karena itu, penggunaan tokoh perempuan dalam penglihatan ini merupakan cara penyampaian yang sudah dikenal dalam Alkitab dan bukan menunjuk kepada perempuan tertentu, atau karena bersifat diskriminasi Gender.

Jadi, fokus utama penglihatan ini bukanlah tentang perempuan, melainkan tentang tindakan Allah terhadap dosa. Allah melihat kejahatan yang ada di tengah umat-Nya, membatasinya, lalu menyingkirkannya. Penglihatan ini menjadi pengingat bahwa Allah menghendaki umat-Nya hidup dalam kekudusan dan tidak membiarkan kefasikan terus tinggal di tengah mereka.

2. Perempuan bersayap membawa pergi gantang

Zakharia 5:9-11

Lalu aku melayangkan mataku dan aku melihat: tampak tampil dua orang perempuan yang sayapnya didorong oleh angin. Adapun sayap mereka adalah sayap seperti burung ranggung. Mereka mengangkut gantang itu di antara bumi dan langit.

Bertanyalah aku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu: “Ke mana mereka membawa gantang itu?”

Jawabnya kepadaku: “Ke tanah Sinear, untuk mendirikan sebuah rumah bagi perempuan itu. Dan apabila itu selesai, maka mereka akan menempatkan dia di sana di tempat rumah itu didirikan.”

a. Latar belakang penglihatan

Penglihatan ini merupakan kelanjutan langsung dari penglihatan tentang gantang yang melambangkan kejahatan di seluruh negeri. Setelah Nabi Zakharia melihat seorang perempuan yang melambangkan kefasikan dimasukkan ke dalam gantang dan ditutup dengan tutup timah, ia kemudian melihat dua perempuan bersayap yang datang untuk mengangkut gantang tersebut ke tanah Sinear.

Rangkaian penglihatan ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya menyatakan keberadaan dosa, tetapi juga bertindak untuk menyingkirkan kejahatan dan kefasikan dari tengah umat-Nya.

b. Makna perempuan yang berada di dalam gantang

Pada ayat sebelumnya, malaikat secara langsung menyebut perempuan yang berada di dalam gantang sebagai “Kefasikan” atau “Kejahatan“. Karena itu, perempuan tersebut bukanlah seorang tokoh tertentu, melainkan lambang dari dosa yang telah berkembang di tengah bangsa Yehuda.

Penglihatan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan perempuan. Dalam dunia penglihatan para nabi, Allah sering menggunakan berbagai simbol untuk menyampaikan pesan rohani. Dalam konteks ini, perempuan di dalam gantang hanyalah gambaran yang dipakai untuk mewakili kefasikan yang sedang dihakimi Allah.

c. Dua perempuan bersayap

Kejahatan diangkut dua perempuan bersayap
Kejahatan diangkut dua perempuan bersayap

Nabi Zakharia melihat dua perempuan yang memiliki sayap seperti burung ranggung atau bangau. Sayap mereka didorong oleh angin sehingga mampu mengangkat gantang itu di antara bumi dan langit.

Dalam Perjanjian Lama, angin sering dikaitkan dengan kuasa dan pekerjaan Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa proses pemindahan kejahatan tersebut berada di bawah kendali Allah.

Dr. Joyce G. Baldwin, dalam Haggai, Zechariah, Malachi (Tyndale Old Testament Commentaries), Inter-Varsity Press, 1972, menjelaskan bahwa fokus utama penglihatan ini bukan pada identitas kedua perempuan itu, melainkan pada tindakan mereka yang membawa pergi kejahatan dari negeri Yehuda. Mereka berfungsi sebagai alat yang dipakai Allah untuk melaksanakan tujuan-Nya.

Dr. Eugene H. Merrill, Profesor Perjanjian Lama di Dallas Theological Seminary, dalam An Exegetical Commentary: Haggai, Zechariah, Malachi, Moody Press, 1994, menyatakan bahwa kedua perempuan tersebut menggambarkan agen yang ditetapkan Allah untuk memindahkan kefasikan dari tanah perjanjian menuju tempat yang telah ditentukan.

d. Gantang dibawa ke tanah Sinear

Simbol Kejahatan - Menara Babel
Simbol Kejahatan – Menara Babel

Tanah Sinear memiliki arti yang sangat penting dalam sejarah Alkitab. Sinear merupakan wilayah tempat berdirinya Babel kuno. Di wilayah inilah manusia membangun Menara Babel dan memberontak terhadap Allah sebagaimana dicatat dalam Kitab Kejadian 11. Kemudian wilayah yang sama berkembang menjadi pusat kekuasaan Babel yang berkali-kali digambarkan dalam Alkitab sebagai lambang kesombongan manusia, penyembahan berhala, dan perlawanan terhadap Allah.

Dr. Ralph L. Smith, dalam Micah–Malachi (Word Biblical Commentary), Word Books Publisher, 1984, menjelaskan bahwa penyebutan Sinear menghubungkan penglihatan ini dengan sejarah panjang pemberontakan manusia terhadap Allah yang dimulai sejak zaman Menara Babel.

Dr. John F. Walvoord dan Dr. Roy B. Zuck, dalam The Bible Knowledge Commentary: Old Testament, Victor Books, 1985, menjelaskan bahwa pemindahan kefasikan ke Sinear menunjukkan pemisahan antara umat Allah dan pusat kejahatan dunia yang dilambangkan oleh Babel.

e. Rumah didirikan bagi perempuan di Sinear

Malaikat menjelaskan bahwa sebuah rumah akan didirikan bagi perempuan itu di tanah Sinear. Setelah rumah tersebut selesai, perempuan itu akan ditempatkan di sana.

Banyak penafsir melihat bahwa gambaran ini menunjukkan bahwa kejahatan tidak lagi memiliki tempat di tengah umat Allah, melainkan dikembalikan ke wilayah yang menjadi pusatnya.

Dr. Charles Lee Feinberg, pengajar Perjanjian Lama di Talbot School of Theology, dalam God Remembers: A Study of Zechariah, Multnomah Press, 1965, menjelaskan bahwa rumah yang dibangun di Sinear menunjukkan adanya tempat khusus bagi sistem kefasikan yang terorganisasi. Allah sedang memisahkan kejahatan dari umat-Nya dan menempatkannya pada wilayah yang menjadi pusat pemberontakan terhadap-Nya.

3. Pemahaman yang dapat ditarik dari penglihatan ini

a. Pemulihan umat Allah dari segala kejahatan dan kefasikan

Penglihatan ini menyatakan bahwa Allah tidak membiarkan dosa tinggal selamanya di tengah umat-Nya. Allah mengetahui keberadaan kejahatan, membatasinya, lalu menyingkirkannya pada waktu yang telah ditetapkan-Nya.

Bangsa Yehuda yang baru kembali dari pembuangan membutuhkan kepastian bahwa Allah sedang membersihkan umat-Nya. Walaupun mereka masih memiliki banyak kelemahan, Allah tetap bekerja untuk memulihkan kekudusan umat pilihan-Nya.

Dari sudut pandang logika, penglihatan ini juga menunjukkan bahwa kejahatan memiliki kecenderungan untuk membangun sistemnya sendiri. Dosa tidak hanya muncul dalam tindakan individu, tetapi dapat berkembang menjadi budaya, kebiasaan, bahkan struktur yang memengaruhi banyak orang. Karena itu Allah tidak hanya menangani pelaku dosa, tetapi juga sumber dan pusat penyebarannya.

b. Hubungannya dengan karya keselamatan Tuhan Yesus Kristus

Yesus Kristus Juruselamat manusia
Yesus Kristus Juruselamat manusia

Penglihatan Nabi Zakharia tersebut di atas, memperlihatkan kepada kita semua, bahwa manusia tidak akan sanggup membersihkan dirinya sendiri dari dosa yang telah memenuhi hidupnya. Dalam kasus Bangsa Yehuda yang sudah terjebak dalam dosa dan kejahatan, mereka membutuhkan campur tangan Allah. 

Untuk itulah TUHAN Allah Semesta Alam, mengaruniakan Anak-Nya Yang Tunggal yaitu Tuhan Yesus datang untuk menanggung hukuman dosa yang tidak dapat ditanggung manusia. Jika dalam penglihatan Zakharia kejahatan dikumpulkan dan kemudian disingkirkan oleh Allah, maka di dalam Injil, Tuhan Yesus menyediakan jalan pengampunan bagi setiap orang yang bertobat dan percaya kepada-Nya.

Penglihatan ini menunjuk kepada karya Allah demi memisahkan umat-Nya dari kuasa dosa yang membuahkan kejahatan dan kefasikan. Apa yang digambarkan secara simbolis dalam penglihatan Nabi Zakharia digenapi secara sempurna melalui karya keselamatan oleh Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.

Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus membuka jalan bagi manusia untuk dibebaskan dari kuasa dosa yang berbuah kejahatan dan kefasikan. Pada akhirnya, Alkitab menggambarkan bahwa seluruh kejahatan dan kefasikan akan disingkirkan untuk selama-lamanya ketika Kerajaan Allah dinyatakan secara sempurna.

c. Refleksi bagi pembaca masa kini

Penglihatan ini mengingatkan kita, bahwa Allah tidak pernah kompromi dengan dosa dan kejahatan dalam bentuk apapun juga. Sering kali manusia merasa nyaman dengan dosa yang dianggap kecil, tetapi Allah melihat dampaknya yang jauh lebih besar daripada yang dapat dilihat manusia.

Dosa dan kejahatan pribadi yang dibiarkan terus-menerus akan berkembang menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi karakter. Karakter dapat menular kepada orang lain, sehingga akhirnya menjadi budaya di kalangan masyarakat. Budaya yang sarat dengan dosa dan kejahatan tersebut akhirnya merasuk ke dalam setiap keluarga, gereja, masyarakat, bahkan ‘diwariskan’ kepada generasi berikutnya.

Oleh karena itu, maka setiap orang percaya dipanggil Allah untuk membersihkan hidupnya. Seiring dengan penyucian diri itu, maka Roh Kudus akan menunjukkan sikap, kebiasaan, atau pola hidup berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian setiap orang diajar untuk menyerahkan segala kebiasaan, karakter, budaya yang penuh dengan kejahatan dan kefasikan kepada Tuhan untuk disingkirkan.

Penglihatan Nabi Zakharia memberikan pengharapan bahwa Allah tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga sanggup membebaskan umat-Nya dari kuasa dosa dan memulihkan mereka untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Demikianlah renungan firman Tuhan hari ini, semoga membawa berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.

Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

Matius 13:41

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *