Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita bersama akan merenungkan mengenai Kutukan Allah yang dinyatakan dalam penglihatan Nabi Zakharia tentang sebuah gulungan kitab yang terbang. Semoga Tuhan Yesus memberi kita pemahaman dan hikmat untuk dapat memahami firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Penglihatan ke enam: kutukan Allah dalam gulungan kitab yang terbang
Zakharia 5 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Dari ayat bacaan di atas, dapat kita pelajari beberapa hal mengenai kutuk Allah, sebagai berikut:
1. Penglihatan gulungan kitab yang terbang berisi kutukan Allah
Zakharia 5:1-2
1Aku melayangkan mataku pula, maka aku melihat: tampak sebuah gulungan kitab yang terbang. Berkatalah ia kepadaku: “Apa yang engkau lihat?”
Jawabku: “Aku melihat sebuah gulungan kitab yang terbang; panjangnya dua puluh hasta dan lebarnya sepuluh hasta.”
Nabi Zakharia melihat sebuah gulungan kitab yang terbang. Pada zaman kuno, gulungan kitab merupakan media penulisan yang digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen penting, termasuk kitab-kitab Taurat. Karena itu, kemunculan gulungan kitab dalam penglihatan ini menunjukkan bahwa Allah sedang menyatakan suatu pesan yang memiliki otoritas dan makna yang sangat penting.
Gulungan itu berukuran dua puluh hasta panjangnya dan sepuluh hasta lebarnya (sekitar 10,4 meter × 5,2 meter). Ukuran tersebut sangat besar sehingga langsung menarik perhatian. Besarnya ukuran gulungan itu menunjukkan bahwa pesan yang dibawanya bukan sesuatu yang tersembunyi, melainkan sesuatu yang akan dinyatakan secara terbuka kepada umat.
Beberapa penafsir Yahudi kuno menghubungkan ukuran gulungan itu dengan ukuran serambi Bait Suci (1 Raja-raja 6:3), sehingga mereka berpendapat bahwa gulungan tersebut secara simbolis berasal dari hadirat Allah. Namun Zakharia 5:1-4 sendiri tidak secara khusus menyatakan bahwa gulungan itu keluar dari Ruang Mahakudus atau dari hadapan Shekinah. Hal itu merupakan kesimpulan penafsiran, bukan pernyataan langsung teks.
2. Gulungan kitab terbang itu berisi sumpah serapah
Zakharia 5:3
Lalu ia berkata kepadaku: “Inilah sumpah serapah yang keluar menimpa seluruh negeri; sebab menurut sumpah serapah itu setiap pencuri di sini masih bebas dari hukuman, dan setiap orang yang bersumpah palsu di sini juga masih bebas dari hukuman.
Jika kita terjemahkan kata per kata, maka seperti ini maknanya:
a. Sumpah Serapah (ay.3a)
Gulungan kitab itu berisi “sumpah serapah” atau dalam bahasa Ibrani הָאָלָה (ha’alah), yang secara harfiah berarti ‘kutuk’ atau ‘sumpah kutukan’ (the curse atau the oath of curse). Jika kita pelajari dalam Perjanjian Lama, maka kata ini bukan berarti makian atau kata-kata kasar seperti dalam bahasa Indonesia, melainkan lebih mirip dengan “sanksi/hukuman atas pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah“. Istilah yang sama juga muncul dalam perjanjian antara Allah dan umat Israel, di mana ketaatan mendatangkan berkat, sebaliknya pelanggaran mendatangkan kutuk. Silakan baca di sinilengkapnya.
Dalam sejarah Alkitab, konsep sanksi terhadap perjanjian ini, paling jelas terlihat dalam Ulangan 27–28. Sebelum bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, Nabi Musa menyampaikan bahwa ketaatan kepada Allah akan menghasilkan berkat, sedangkan ketidaktaatan akan mendatangkan berbagai kutukan. Dengan demikian, ketika Nabi Zakharia melihat gulungan yang berisi ha’alah, para pendengar Yahudi pada zamannya kemungkinan langsung mengingat kutuk-kutuk perjanjian yang telah dinyatakan dalam Taurat. Penglihatan ini menjadi peringatan bahwa Allah masih memegang umat-Nya pada standar kekudusan yang sama seperti yang telah dinyatakan melalui Taurat.”
Menurut teolog Reformed terkenal, Dr. John Calvin, gulungan itu melambangkan kesaksian hukum Allah yang terus-menerus menuduh orang-orang yang hidup dalam dosa. Dr. Calvin menekankan bahwa penghakiman Allah kelihatan seperti tertunda, namun sesungguhnya firman-Nya tidak pernah kehilangan kuasa untuk menuntut pertanggungjawaban dari manusia. Dalam tulisannya, yaitu dalam Commentaries on the Twelve Minor Prophets (diterbitkan pasca kematiannya berdasarkan edisi 1559), Dr. Calvin menjelaskan bahwa gulungan tersebut menunjukkan bahwa hukuman Allah telah ditetapkan dan pada waktunya akan segera dilaksanakan.
Pandangan serupa dikemukakan oleh Dr. Joyce G. Baldwin dalam Haggai, Zechariah, Malachi (Tyndale Old Testament Commentaries, 1972). Dr. Baldwin menjelaskan bahwa “gulungan terbang” itu merupakan simbol firman Allah yang akan terus melaksanakan penghakiman-Nya. Menurut Dr.Baldwin, kutuk yang tertulis dalam gulungan bukan sekadar ancaman, melainkan keputusan ilahi yang sudah dijatuhkan dan sedang bergerak dalam mencapai sasarannya.
Sementara itu, teolog lainnya, yaitu Dr. Mark J. Boda menyoroti hubungan erat antara Zakharia 5 dan tradisi perjanjian dalam Taurat. Dalam The Book of Zechariah (New International Commentary on the Old Testament, 2016), Dr. Boda menjelaskan, bahwa gulungan tersebut berfungsi seperti “dokumen perjanjian” yang berisi pasal berupa “sanksi hukum” terhadap pelanggar perjanjian. Karena itu, penglihatan ini bukan sekadar nubuat tentang hukuman, melainkan penegasan bahwa Allah tetap konsisten untuk menegakkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian-Nya.
Melalui penglihatan ini, Nabi Zakharia mengingatkan bahwa Allah bukan hanya Allah yang memberikan janji pemulihan kepada umat-Nya setelah pembuangan, tetapi juga Allah yang tetap menuntut pertobatan dan ketaatan. Kasih karunia dan penghakiman berjalan berdampingan. Pemulihan yang sejati tidak hanya ditandai dengan dibangunnya kembali Bait Suci, tetapi juga dengan dibersihkannya kehidupan umat dari dosa dan ketidakjujuran.”
b. Pencuri dan Orang yang bersumpah palsu (ay.3b)
Penipu dan pencuri akan terkena kutuk Allah
Selanjutnya malaikat menjelaskan bahwa gulungan itu ditujukan kepada ‘setiap pencuri’ dan ‘setiap orang yang bersumpah palsu’. Namun bagian yang paling sulit diterjemahkan terdapat pada kata Ibrani נִקָּה (niqqah), yang muncul pada akhir kedua frasa tersebut. Kata ini berasal dari akar kata נקה (naqah), yang secara umum berarti ‘menjadi bersih‘, ‘dibebaskan‘, ‘dinyatakan tidak bersalah‘, atau ‘dilepaskan dari hukuman‘. Karena itulah beberapa terjemahan, termasuk TB-LAI, menerjemahkannya sebagai ‘masih bebas dari hukuman‘.”
Jika dibaca secara harfiah, ayat ini seolah-olah mengatakan bahwa para pencuri dan pemberi sumpah palsu masih lolos dari hukuman Allah. Hal ini sesuai dengan kenyataan yang sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang melakukan kejahatan, memperoleh keuntungan dari ketidakjujurannya, bahkan tampak hidup tenang tanpa mengalami konsekuensi apa pun. Keadaan seperti ini sering menimbulkan pertanyaan di hati umat Tuhan: mengapa Allah tampaknya diam terhadap kejahatan?“
Namun para penafsir Alkitab menyadari, bahwa arti akta seperti itu akan menimbulkan kontradiksi ketika dihubungkan dengan ayat berikutnya (Zakharia 5:4). Dalam ayat tersebut, Allah justru menyatakan bahwa kutuk itu akan masukke rumah pencuri dan orang yang bersumpah palsu untuk menghancurkannya. Karena alasan inilah banyak penerjemah modern memahami niqqah bukan dalam arti ‘dibebaskan dari hukuman’, melainkan ‘dibersihkan‘, ‘disingkirkan‘, atau ‘dilenyapkan’ dari negeri.”
Berikut adalah penjelasan dari para ahli:
Dr. David J. Clark dan Dr. Howard A. Hatton, dalam buku “A Handbook on the Books of Haggai, Zechariah, and Malachi (2002), menjelaskan bahwa meskipun secara umum kata kerja tersebut berarti “tidak dihukum,” hal itu sangat bertentangan dengan konteks hukuman kehancuran pada ayat ke-4. Oleh karena itu, mereka mendukung terjemahan yang bermakna “dibersihkan” (cleaned out)atau “disingkirkan” (purged)dari negeri tersebut.
Dr. Joyce G. Baldwin, dalam tafsirannya “Haggai, Zechariah, Malachi” (1972), mengatakan bahwa jika “niqqah” diterjemahkan sebagai “tidak dihukum” akan merusak logika nubuat Zakharia 5:4. Untuk menjaga konsistensi teologis, Dr. Baldwin menegaskan bahwa istilah tersebut harus dipahami dalam arti “dibersihkan habis-habisan” atau “dilenyapkan,” merujuk pada pembersihan komunitas dari orang-orang fasik.
Pandangan ini juga didukung oleh Dr. Thomas E. McComiskey dalam karyanya “The Minor Prophets: An Exegetical and Expository Commentary, Vol. 3” (1998). yang menegaskan bahwa “niqqah” tidak dapat berarti “dibebaskan dari hukuman” dalam konteks ini, karena seluruh penglihatan tersebut bertujuan untuk menunjukkan bagaimana Allah bertindak untuk menyingkirkan kejahatan dari tengah-tengah umat-Nya.
Secara akademis, para penafsir ini sepakat bahwa dalam sastra nabi-nabi yang berkaitan dengan murka ilahi, kata tersebut mengadopsi arti “dikosongkan” atau “disapu bersih,” yang selaras dengan pesan bahwa Allah tidak akan membiarkan dosa tetap ada tanpa penghakiman.
Karena itu, terlepas dari perbedaan penerjemahan kata niqqah, pesan utama ayat ini tetap sama, yaitu Allah mengetahui setiap pencurian dan setiap sumpah palsu yang dilakukan manusia. Jika untuk sementara waktu para pelakunya tampak tidak dihukum, hal itu bukan berarti Allah mengabaikan dosa mereka. Penglihatan ini justru menegaskan bahwa Allah telah menetapkan waktunya sendiri untuk menyingkapkan dan menghakimi setiap pelanggaran. Tidak ada dosa yang akan luput dari perhatian-Nya, dan tidak ada ketidakadilan yang akan berlangsung selamanya.”
3. Hukuman sesuai Kutuk Allah
Hukuman Allah sesuai Kutuk-Nya
Zakharia 5:4
Aku telah menyuruhnya keluar, demikianlah firman TUHAN semesta alam, supaya itu masuk ke dalam rumah pencuri dan ke dalam rumah orang yang bersumpah palsu demi nama-Ku, dan supaya itu bermalam di dalam rumah mereka dan memusnahkannya, baik kayunya maupun batu-batunya.”
Kutukan itu berupa vonis hukuman Allah yang serupa dengan yang tertulis dalam:
Yesaya24:6Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi, dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap,dan manusia akan tinggal sedikit.
Yesaya 34:2Sebab TUHAN murka atas segala bangsa, dan hati-Nya panas atas segenap tentara mereka. Ia telah mengkhususkan mereka untuk ditumpasdan menyerahkan mereka untuk dibantai.
Yesaya 43:28Jadi Aku terpaksa menajiskan pemimpin-pemimpin tempat kudus, dan terpaksa menyerahkan Yakub untuk ditumpas dan Israel untuk dinista.”
Maleakhi 3:9Kamu telah kena kutuk,tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!
Maleakhi 4:6 Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknyadan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukulbumi sehingga musnah.
Bagian akhir penglihatan Nabi Zakharia tersebut di atas, memberikan penegasan yang tajam mengenai pesan asli dari “sumpah serapah” atau “kutuk Allah” terhadap dosa. Hukuman ini tidak berupa ‘sanksi pasif’ yang menunggu manusia berbuat salah dulu baru dihukum, melainkan sebagai ketetapan ilahi yang sangat aktif.
Firman TUHAN tentang kutuk itu: “Aku telah menyuruhnya keluar“ dan “supaya itu masuk“ membuktikan bahwa firman penghukuman Allah bergerak secara dinamis untuk melacak dan menemukan kejahatan, bahkan hingga ke tempat persembunyian yang paling dalam, yaitu di dalam rumah seseorang.
Lebih jauh lagi, hukuman tersebut dikatakan akan “bermalam di dalam rumah mereka“. Ini merupakan betapa intensifnya hukuman tersebut. Kutuk Allah tidak hanya lewat atau memberikan dampak sesaat saja, melainkan menetap dan meruntuhkan kehidupan si pelanggar dari dalam.
Jadi dapat kita pahami, bahwa target dari kutuk Allah tersebut adalah kehancuran total, yang digambarkan dengan firman Allah “memusnahkannya, baik kayunya maupun batu-batunya“. Dalam konteks kehidupan kuno, rumah yang dibangun dari kayu dan batu adalah simbol keamanan, perlindungan, dan hasil jerih payah. Bagi pencuri dan orang yang bersumpah palsu, rumah tersebut kemungkinan besar dibangun atau dipelihara dari hasil kejahatan dan penipuan mereka. Sehingga dalam hal ini, Tuhan hendak memperingatkan umat-Nya, bahwa segala hal yang dibangun di atas fondasi dosa, kebohongan, dan kekejaman terhadap sesama, tidak akan bertahan.
Hukuman Allah akan membongkar setiap struktur keamanan palsu tersebut hingga ke dasar-dasarnya. Tidak ada harta hasil kejahatan yang bisa memberikan perlindungan ketika Allah memutuskan untuk melaksanakan kutukan-Nya.
Karakteristik hukuman dalam Zakharia ini memiliki keselarasan yang utuh dengan nubuat nabi-nabi lainnya, yang menunjukkan konsistensi keadilan Allah:
Hukuman Allah sesuai kutuk-Nya bersifat Absolut: Seperti yang dicatat dalam Yesaya 24:6 (lihat atas) dan Yesaya 34:2, kutuk Allah tidak pandang bulu dan memiliki jangkauan yang luas. Kesucian Allah tidak dapat menoleransi kecemaran, sehingga “sumpah serapah akan memakan bumi” dan bangsa-bangsa yang berkeras dalam pemberontakan akan ditumpas. Apa yang terjadi secara personal di dalam “rumah pencuri” pada akhirnya beresonansi dengan penghakiman Allah pada skala global dan nasional.
Tidak Ada Pengecualian Status:Yesaya 43:27 memperlihatkan bahwa bahkan tempat kudus dan para pemimpin agama pun tidak kebal terhadap hukuman ini jika mereka berbuat dosa. Status sebagai umat pilihan (“Yakub”) tidak membatalkan keadilan Allah.
Akar Dosa dan Penipuan:Maleakhi 3:9 mempertegas mengapa kutuk itu datang. Sama seperti pencuri dalam Zakharia yang mengambil apa yang bukan haknya, bangsa Israel dalam masa Maleakhi “menipu” Allah (dalam hal persepuluhan dan persembahan). Kutuk senantiasa membayangi setiap tindakan penipuan terhadap ketetapan Allah.
Meski peringatan tentang sumpah serapah dan kutuk ini terdengar sangat mengerikan, tujuannya selalu berpusat pada anugerah dan pertobatan. Hal ini dikunci dengan indah pada Maleakhi 4:6. Allah memberikan peringatan keras supaya umat menyadari betapa seriusnya dosa di hadapan-Nya, sehingga hati mereka berbalik.
Penglihatan “gulungan kutuk terbang” ini menyadarkan umat agar tidak bermain-main dengan dosa tersembunyi. Kekudusan hidup bukanlah sekadar ritual di luar rumah, melainkan harus dimulai dari dalam hati dan di dalam rumah tangga. Umat dipanggil untuk hidup dalam integritas penuh, memastikan bahwa rumah, keluarga, dan segala harta yang dimiliki dibangun di atas fondasi ketaatan yang tulus kepada Tuhan, bukan dari hasil kejahatan yang memancing kehancuran ilahi.
Ingatlah akan kekudusan hidup yang dituntut oleh Allah dalam hidup setiap manusia:
Imamat 19:2: “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka:Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.“
1 Petrus 1:15-16: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Ibrani 12:14: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.”
2 Timotius 2:21: “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”
Kekudusan agar terbebas dari Kutuk Allah
Demikianlah firman TUHAN pada kesempatan ini, semoga kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahaminya. Tuhan Yesus memberkati.
“Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan untuk hidup dalam kekudusan.”