
Zakharia 4 tentang “Penglihatan kelima: kandil emas yang berhiaskan dua pohon zaitun” Seri Nabi Kecil
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai penglihatan ke lima Nabi Zakharia, yaitu tentang kandil emas yang berhiaskan dua pohon zaitun. Kiranya Tuhan memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Penglihatan ke lima: kandil emas
Zakharia 4 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Zakharia 4:1-14
1 Datanglah kembali malaikat yang berbicara dengan aku itu, lalu dibangunkannyalah aku seperti seorang yang dibangunkan dari tidurnya. Maka berkatalah ia kepadaku: “Apa yang engkau lihat?”
2b Jawabku: “Aku melihat: tampak sebuah kandil, dari emas seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kandil itu ada tujuh pelitanya dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada di bagian atasnya itu. Dan pohon zaitun ada terukir padanya, satu di sebelah kanan tempat minyak itu dan satu di sebelah kirinya.”
4 Lalu berbicaralah aku, kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu: “Apakah arti semuanya ini, tuanku?”
5 Maka berbicaralah malaikat yang berbicara dengan aku itu, katanya kepadaku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?”
5c Jawabku: “Tidak, tuanku!”
6 Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam. Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. Ia akan mengangkat batu utama, sedang orang bersorak: Bagus! Bagus sekali batu itu!”
8 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, demikian: “Tangan Zerubabel telah meletakkan dasar Rumah ini, dan tangannya juga akan menyelesaikannya. Maka kamu akan mengetahui, bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu. Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. Yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi.”
11 Lalu berbicaralah aku kepadanya: “Apakah arti kedua pohon zaitun yang di sebelah kanan dan di sebelah kiri kandil ini?” Untuk kedua kalinya berbicaralah aku kepadanya: “Apakah arti kedua dahan pohon zaitun yang di samping kedua pipa emas yang menyalurkan cairan emas dari atasnya itu?”
13 Ia menjawab aku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?” Jawabku: “Tidak, tuanku!”
14 Lalu ia berkata: “Inilah kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi!”
Zakharia 4:1-14 merupakan penglihatan ke lima Nabi Zakharia. Jika pada pasal sebelumnya Imam Besar Yosua menjadi pusat perhatian sebagai lambang pemulihan kehidupan rohani umat, maka dalam pasal ini fokus beralih kepada Zerubabel, pemimpin sipil Yehuda yang memimpin pembangunan kembali Bait Allah setelah pembuangan.
Pada masa itu, bangsa Yehuda sedang menghadapi banyak hambatan, kekurangan sumber daya, dan semangat yang mulai melemah. Dalam keadaan itulah Tuhan memberikan penglihatan tentang kandil emas dan dua pohon zaitun, demi menyatakan bahwa pekerjaan-Nya akan berhasil bukan karena kemampuan manusia, melainkan karena kuasa Roh-Nya.
Kandil emas dengan tujuh pelita mengingatkan pada kaki dian di Kemah Suci dan Bait Allah. Dalam Alkitab, terang sering melambangkan kehadiran Allah, kesaksian umat-Nya, dan pekerjaan Roh Kudus. Yang menarik dalam penglihatan ini adalah kandil tersebut memperoleh pasokan minyak secara terus-menerus dari dua pohon zaitun. Artinya terang itu tidak bergantung pada usaha manusia untuk mengisi minyak, melainkan dipelihara langsung oleh Allah sendiri. Gambaran ini menunjukkan bahwa keberlangsungan umat Allah tidak bergantung pada kekuatan manusia, tetapi pada pemeliharaan Roh Kudus yang tidak pernah habis.
Ketika Nabi Zakharia bertanya tentang arti penglihatan itu, malaikat tidak langsung menjelaskan semua simbolnya. Sebaliknya, ia menyampaikan inti pesan Allah kepada Zerubabel: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku.” Ayat ini menjadi pusat teologis seluruh pasal. Masalah utama yang dihadapi bangsa itu bukanlah kurangnya tenaga kerja atau dana pembangunan, melainkan kebutuhan akan ketergantungan kepada Allah. Melalui penglihatan Zakharia ini, Tuhan menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan Bait Allah tidak akan ditentukan oleh kemampuan politik, militer, atau ekonomi, tetapi oleh pekerjaan Roh Allah.
Dalam Penglihatan tersebut, pernyataan mengenai “gunung yang besar” kemungkinan melambangkan berbagai hambatan yang tampak mustahil diatasi. Secara historis, pembangunan Bait Allah memang sempat terhenti karena tekanan politik dan perlawanan musuh. Namun Tuhan menyatakan dalam penglihatan itu, bahwa gunung itu akan menjadi tanah rata di hadapan Zerubabel. Dengan kata lain, segala penghalang yang tampak besar di mata manusia tidak berarti apa-apa di hadapan kuasa Allah.
Ucapan bahwa Zerubabel akan mengangkat “batu utama” menunjukkan bahwa proyek yang telah dimulai akan diselesaikan. Tangan yang meletakkan dasar Bait Allah juga akan menyelesaikannya. Ini merupakan jaminan ilahi bahwa pekerjaan yang berasal dari Allah tidak akan gagal. Secara historis nubuat penglihatan ini benar-benar digenapi ketika pembangunan Bait Allah selesai beberapa tahun kemudian sebagaimana dicatat dalam Kitab Ezra.
Mengenai siapa Zerubabel, dapat dipelajari dalam tulisan yang lampau berjudul: Kembali dari Pembuangan di Babel – Seri Silsilah Yesus Kristus – Matius 1 Part 24

Setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan Babel, pembangunan Bait Allah menghadapi berbagai hambatan. Semangat rakyat mulai melemah, sumber daya sangat terbatas, dan tantangan dari luar maupun dari dalam terus muncul. Dalam keadaan itulah TUHAN memberikan penglihatan ini kepada Nabi Zakharia untuk menguatkan Zerubabel, gubernur Yehuda yang memimpin pembangunan kembali Bait Allah.
Di tengah penglihatan tentang kaki dian emas, wadah minyak, dan dua pohon zaitun, inti pesan TUHAN dinyatakan dengan sangat jelas dalam ayat 6: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku.” Dalam bahasa Ibrani, kata “keperkasaan” menunjuk kepada kekuatan militer atau sumber daya manusia yang besar, sedangkan “kekuatan” menunjuk kepada kemampuan pribadi, kecakapan, atau daya manusia. Dengan demikian, TUHAN sedang menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan Bait Allah tidak akan ditentukan oleh jumlah pekerja, kekayaan, pengaruh politik, ataupun kemampuan kepemimpinan Zerubabel. Semua itu mempunyai tempatnya masing-masing, tetapi bukan faktor utama yang menentukan keberhasilan pekerjaan Allah.
Prinsip ini menjadi tema besar yang berulang kali muncul di seluruh Alkitab. Ketika TUHAN bekerja, Ia sering memakai sarana yang secara manusia tampak kecil, lemah, dan tidak mengesankan. TUHAN memilih seorang gembala muda seperti Daud untuk mengalahkan Goliat. TUHAN memakai dua belas murid sederhana untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Pada akhirnya keselamatan manusia pun tidak datang melalui kekuatan manusia, melainkan melalui karya Roh Kudus yang mengarahkan seluruh rencana penebusan kepada Tuhan Yesus Kristus.
Kalimat berikutnya memperlihatkan janji TUHAN yang luar biasa: “Siapakah engkau, gunung yang besar?” Gunung dalam bahasa para nabi sering menjadi lambang hambatan yang tampaknya mustahil

dipindahkan. Dalam konteks Zerubabel, gunung itu dapat menggambarkan perlawanan bangsa-bangsa sekitar, kekurangan dana, kondisi ekonomi yang sulit, maupun keputusasaan rakyat. Namun TUHAN berkata bahwa gunung besar itu akan menjadi tanah rata. Dengan kata lain, apa yang tampak mustahil di mata manusia bukanlah masalah bagi Allah yang berdaulat atas segala sesuatu.
Penglihatan ini tidak mengajarkan bahwa orang percaya tidak perlu bekerja keras. Zerubabel tetap harus memimpin, merencanakan, mengatur, dan membangun, namun keberhasilannya tidak berasal dari dirinya sendiri. Ia hanyalah alat di tangan TUHAN. Di balik setiap batu yang dipasang dan setiap kemajuan yang terjadi, Roh Allah sedang bekerja menggenapi rencana-Nya.
Bagian selanjutnya berbicara tentang batu utama yang akan diangkat sambil diiringi sorak-sorai: “Bagus! Bagus sekali batu itu!” Batu utama kemungkinan menunjuk pada batu penutup atau batu puncak yang dipasang ketika pembangunan selesai. Gambaran ini menegaskan bahwa pekerjaan yang telah dimulai tidak akan berhenti di tengah jalan. TUHAN bukan hanya memerintahkan pembangunan itu dimulai, tetapi juga menjamin penyelesaiannya.
Janji yang sama ditegaskan kembali dalam ayat 9: “Tangan Zerubabel telah meletakkan dasar Rumah ini, dan tangannya juga akan menyelesaikannya.” Perkataan ini sangat penting karena pada saat itu pembangunan tampaknya berjalan lambat dan penuh ketidakpastian. TUHAN tidak hanya berbicara mengenai harapan, melainkan memberikan kepastian ilahi. Apa yang telah dimulai oleh TUHAN akan diselesaikan oleh TUHAN.
Prinsip ini kemudian berkembang menjadi salah satu tema penting dalam Perjanjian Baru. Allah yang memulai pekerjaan keselamatan juga akan menyempurnakannya. Sebagaimana Zerubabel menyelesaikan pembangunan Bait Allah jasmani, demikian pula Tuhan Yesus Kristus menyelesaikan seluruh karya penebusan yang dipercayakan Bapa kepada-Nya. Tidak ada satu pun rencana Allah yang gagal karena kelemahan manusia.
Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam perikop ini adalah pertanyaan retoris: “Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil?” Pada masa itu banyak orang tua masih mengingat kemegahan Bait Suci Salomo sebelum dihancurkan Babel. Jika dibandingkan dengan kemegahan masa lalu, pembangunan yang dipimpin Zerubabel tampak kecil dan sederhana. Sebagian orang mungkin kecewa dan menganggap usaha itu tidak berarti.
Namun TUHAN melihatnya secara berbeda. Allah tidak mengukur suatu pekerjaan berdasarkan ukuran lahiriah atau kesan manusia. Yang penting adalah apakah pekerjaan itu berada dalam kehendak-Nya. Apa yang kecil di mata manusia sering kali menjadi awal dari sesuatu yang besar dalam rencana Allah. Benih yang kecil dapat menjadi pohon yang besar. Sekelompok kecil orang percaya dapat menjadi sarana kebangunan rohani. Sebuah langkah ketaatan yang sederhana dapat menghasilkan dampak yang jauh melampaui apa yang dapat dilihat manusia.
Ayat 10 ditutup dengan gambaran yang menarik tentang “mata TUHAN yang menjelajah seluruh bumi.” Angka tujuh dalam Alkitab sering melambangkan kesempurnaan atau kelengkapan. Gambaran ini tidak berarti TUHAN secara harfiah memiliki tujuh mata, melainkan menunjukkan pengetahuan-Nya yang sempurna dan pengawasan-Nya yang tidak terbatas. Tidak ada bagian bumi yang luput dari perhatian-Nya. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan demi nama-Nya yang tidak diketahui-Nya.
Dalam terang Perjanjian Baru, penglihatan ini juga mengarahkan perhatian kepada Tuhan Yesus Kristus. Bait Allah yang sedang dibangun pada zaman Zerubabel hanyalah bayangan dari pekerjaan yang lebih besar. Tuhan Yesus datang untuk membangun umat-Nya sebagai bait rohani Allah. Jika pembangunan Bait Allah pada zaman Zerubabel bergantung pada Roh TUHAN, maka pertumbuhan Gereja dan kehidupan rohani orang percaya pada masa kini juga hanya dapat terjadi oleh karya Roh Kudus.
Keseluruhan perikop ini mengajarkan bahwa Allah sering bekerja melalui awal yang kecil, sarana yang sederhana, dan orang-orang yang tampaknya tidak memiliki kekuatan besar. Namun ketika Roh Allah bekerja, gunung menjadi tanah rata, pekerjaan yang belum selesai mencapai penyelesaiannya, dan apa yang dipandang remeh oleh manusia berubah menjadi alat kemuliaan Allah. Oleh sebab itu, pusat perhatian perikop ini bukanlah kemampuan Zerubabel, melainkan kesetiaan TUHAN yang menyertai dan menggenapi setiap pekerjaan yang berasal dari-Nya.
Melalui penglihatan tersebut, pada Zakharia 4:10 ada pelajaran yang sangat penting: “Siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil?” Sebagian orang mungkin kecewa karena Bait Allah yang sedang dibangun tampak jauh lebih sederhana dibandingkan Bait Salomo yang megah. Namun Allah tidak memandang pekerjaan-Nya berdasarkan ukuran manusia. Apa yang tampak kecil pada awalnya dapat menjadi bagian dari rencana besar Allah. Prinsip ini terlihat berulang kali dalam seluruh Alkitab, termasuk kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem yang sederhana tetapi membawa keselamatan bagi dunia.
Ungkapan dalam penglihatan itu , “yang tujuh ini adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi” umumnya dipahami sebagai simbol pengetahuan dan pengawasan Allah yang sempurna. Tidak ada bagian bumi yang luput dari perhatian-Nya. Allah mengetahui keadaan umat-Nya, kesulitan yang mereka hadapi, dan perkembangan pekerjaan yang sedang mereka kerjakan.
Bagian terakhir penglihatan menjelaskan dua pohon zaitun dan dua cabangnya. Malaikat menyebut mereka sebagai “kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi.” Dalam konteks sejarah pasca-pembuangan, mayoritas penafsir memahami kedua tokoh ini sebagai Imam Besar Yosua dan Zerubabel. Keduanya mewakili dua jabatan utama dalam Israel: imam dan raja/pemimpin pemerintahan. Melalui kedua orang inilah Allah menyalurkan pemeliharaan dan pekerjaan-Nya bagi umat.
Beberapa teolog terkemuka melihat makna penglihatan itu lebih dari suatu konteks sejarah:
Dr. Joyce G. Baldwin dalam Haggai, Zechariah, Malachi (Tyndale Old Testament Commentaries, Inter-Varsity Press, 1972) menjelaskan bahwa dalam penglihatan itu, gambaran 2 tokoh yaitu Yosua dan Zerubabel merupakan alat yang dipakai Allah untuk memelihara kehidupan umat melalui kuasa Roh-Nya.
Prof. Mark J. Boda dalam The Book of Zechariah (New International Commentary on the Old Testament, Eerdmans, 2016) melihat dalam penglihatan itu, gambaran kedua tokoh tersebut sebagai penyatuan fungsi imam dan raja yang nantinya mencapai puncaknya dalam Mesias.
Dari sudut pandang kekristenan, pasal mengenai penglihatan Zakharia ke lima ini, memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan Yesus Kristus. Dalam Perjanjian Lama jabatan imam dan raja terpisah, tetapi dalam diri Tuhan Yesus kedua jabatan itu dipersatukan secara sempurna. Ia adalah Imam Besar Agung sekaligus Raja yang memerintah untuk selama-lamanya. Karena itu, banyak penafsir melihat bahwa dalam penglihatan Zakharia, Yosua dan Zerubabel sebagai bayangan yang mengarah kepada Kristus. Selain itu, tema “bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku” juga menemukan penggenapan yang indah dalam pelayanan Tuhan Yesus dan kelahiran Gereja melalui pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.
Keseluruhan penglihatan ini menyampaikan satu pesan utama: pekerjaan Allah tidak bergantung pada kemampuan manusia, tetapi pada kuasa Roh Allah. Hambatan yang besar dapat diratakan, pekerjaan yang dimulai Allah akan diselesaikan-Nya, dan apa yang tampak kecil di mata manusia dapat menjadi bagian dari rencana keselamatan yang besar. Kandil tetap menyala karena minyak terus mengalir dari sumber yang disediakan Allah sendiri. Demikian pula umat Tuhan dipanggil untuk hidup dan melayani bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi dengan bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus yang memelihara dan menguatkan mereka.
Refleksi bagi kehidupan kita di masa kini, adalah bahwa dalam segala perkara, entah itu kesenangan, sukacita, damai sejahtera, ataupun sebaliknya dalam kesusahan dan penderitaan, hidup kita harus menyadari bahwa ada “pohon zaitun” Allah yang selalu mengalirkan aliran-aliran berkat bagi kehidupan kita. Tidak ada satu kuasa pun yang sesungguhnya dapat mengatur jalannya masa depan kita, namun Allah sanggup mengendalikan dan memegangnya. Kuncinya adalah kita wajib menjadi domba Kristus yang senantiasa mengandalkan-Nya sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan keselamatan kita.

supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
1 Korintus 2:5
Amin.
