
Zakharia 3 tentang “Pengutusan Imam besar Yosua: Penglihatan ke-4 Zakharia” Seri Nabi Kecil
By Febrian 01 Juni 2026 03:50 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini kita akan membahas mengenai penglihatan ke-4 yang dialami oleh Nabi Zakharia mengenai Imam Besar Yosua. Kiranya Allah mengaruniakan kita hikmat dan pengetahuan-Nya supaya kita bisa memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Penglihatan ke empat: Pengutusan Imam besar Yosua
Sesuai dengan Pengantar Kitab Zakharia, maka kita tiba di Pasal 3 ini tentang Penglihatan ke-4 Zakharia:
Zakharia 3 <– Klik untuk membaca seluruh pasal
Dari ayat-ayat bacaan di atas, dapat kita pelajari beberapa hal, sebagai berikut:
1. Imam Besar Yosua didakwa Iblis
Zakharia 3:1
1 Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia.
Zakharia diberi penglihatan oleh malaikat, mengenai situasi di mana Imam Besar Yosua anak dari Yozadak (Lihat di sini), didakwa oleh Iblis.
Imam Besar Yosua yang dimaksud adalah Yosua bin Yozadak. Ia bukan Yosua pengganti Musa yang memimpin bangsa Israel memasuki Kanaan. Yosua ini adalah putra Yozadak dan cucu Seraya, imam besar terakhir sebelum kehancuran Yerusalem oleh Babel (1 Tawarikh 6:14-15). Setelah pembuangan Babel berakhir, Yosua bersama Zerubabel memimpin kelompok pertama orang Yahudi kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Allah (Ezra 3:2; Hagai 1:1).
Kata “mendakwa” dalam ayat ini sangat menarik. Nama “Iblis” berasal dari kata Ibrani *satan*, yang berarti “lawan” atau “pendakwa”. Gambaran ini mengingatkan kepada sidang surgawi dalam Kitab Ayub pasal 1–2, di mana Iblis tampil di hadapan Allah untuk menuduh Ayub. Gambaran serupa juga muncul dalam Kitab Wahyu 12:10 yang menyebut Iblis sebagai “pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.”
Posisi Iblis “di sebelah kanan” Yosua juga memiliki makna hukum. Dalam budaya Timur Dekat kuno, posisi di sebelah kanan terdakwa adalah tempat seorang penuntut atau pendakwa berdiri untuk mengajukan tuntutan hukum. Dengan demikian, penglihatan ini menggambarkan sebuah pengadilan ilahi di mana Yosua berdiri sebagai pihak yang dituduh.
Yang menarik, Yosua tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam ayat ini. Tidak ada pembelaan diri. Tidak ada bantahan terhadap dakwaan Iblis. Keheningan ini mengisyaratkan bahwa persoalannya bukan tentang kemampuan Yosua membela dirinya sendiri, melainkan tentang anugerah Allah yang akan bertindak bagi dia. Pada ayat-ayat berikutnya, Allah sendiri yang akan membungkam tuduhan Iblis.
Dari sudut pandang teologis, banyak penafsir melihat Yosua sebagai bayangan pelayanan Imam Besar yang lebih agung, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Nama Yosua (Yehoshua) dan Yesus (Yeshua) berasal dari akar nama yang sama dan berarti “TUHAN adalah keselamatan.” Namun ada perbedaan besar: Yosua dalam Zakharia 3 berdiri sebagai imam yang membutuhkan penyucian, sedangkan Tuhan Yesus adalah Imam Besar yang tanpa dosa dan menjadi pembela umat-Nya.
Dalam hal Iblis tampil sebagai pendakwa dalam Zakharia 3:1, maka Perjanjian Baru menyatakan bahwa Tuhan Yesus menjadi Pengantara bagi umat percaya (Ibrani 7:25) dan Pembela di hadapan Bapa (1 Yohanes 2:1). Karena itu, Zakharia 3:1 bukan hanya catatan tentang seorang imam besar yang didakwa. Ayat ini membuka sebuah gambaran besar mengenai keadaan manusia berdosa yang tidak mampu membela dirinya di hadapan Allah, tetapi yang akhirnya memperoleh pembenaran karena belas kasihan dan karya penyelamatan Allah sendiri.
Jadi sebetulnya ayat firman Tuhan di atas juga mengingatkan kita di dalam kehidupan zaman sekarang ini, iblis juga masih tetap sama menjadi pendakwa umat TUHAN. Jadi jangan pernah menyangka bahwa setelah kita percaya Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, maka selesai pendakwaan dari Iblis, malah sebaliknya, semakin gencar ia berusaha supaya kita menyangkali iman kita kepada Tuhan Yesus.
1 Petrus 5:8
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
2. Imam Besar Yosua dibela oleh TUHAN
Zakharia 3:2
2 Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: “TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?”
Penglihatan nabi Zakharia berlanjut dengan respons Malaikat TUHAN terhadap dakwaan tersebut. Sebagai catatan, adalah bahwa Iblis sama sekali tidak menyebutkan isi dakwaannya, sebaliknya fokus ayat berikutnya ini justru tertuju pada tindakan Allah yang membela Yosua. Malaikat TUHAN berkata, “TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis!” Kata “menghardik” menunjukkan teguran atau kecaman yang tegas terhadap pihak yang sedang melancarkan tuduhan.
Menariknya, Malaikat TUHAN tidak berdebat dengan Iblis mengenai benar atau salahnya dakwaan itu. Teks tidak mencatat adanya pembelaan hukum atau bantahan terhadap tuduhan tersebut. Sebaliknya, dasar pembelaan yang diberikan adalah tindakan Allah sendiri: “TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau!” Secara eksplisit, ayat ini menghubungkan pembelaan terhadap Yosua dengan fakta bahwa TUHAN telah memilih Yerusalem.
Yang dapat dipastikan dari teks adalah bahwa alasan utama penolakan terhadap dakwaan Iblis bukanlah karena Yosua terbukti tidak bersalah, melainkan karena TUHAN telah memilih Yerusalem. Kata “memilih” mengingatkan pembaca kepada tema pemilihan ilahi yang sering muncul dalam Perjanjian Lama. Misalnya, dalam Ulangan 7:6 dan Ulangan 14:2, bangsa Israel disebut sebagai umat yang dipilih TUHAN. Demikian pula Yerusalem berulang kali disebut sebagai kota yang dipilih TUHAN untuk menempatkan nama-Nya di sana (1 Raja-raja 11:36; 2 Tawarikh 6:6).
Ayat ini juga memuat ungkapan yang sangat kuat: “Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?” Secara harfiah, gambaran ini menunjuk kepada sepotong kayu yang hampir habis terbakar tetapi berhasil diselamatkan dari kobaran api.
Apa yang dimaksud dengan “puntung yang telah ditarik dari api“?
Yang dapat dipastikan adalah bahwa ini merupakan sebuah perumpamaan. Namun identitas pasti yang dimaksud oleh kata “dia” tidak dijelaskan secara eksplisit dalam ayat. Sebagian besar penafsir memahami bahwa kata tersebut merujuk kepada Yosua yang sedang berdiri di hadapan Malaikat TUHAN, karena Yosua adalah Imam Besar pada masa pasca-pembuangan.
Perumpamaan “puntung yang ditarik dari api” memiliki arti yang mirip dalam Amos 4:11. Di sana TUHAN berkata kepada Israel: “Kamu seperti sepotong kayu yang terbrandung yang telah ditarik dari api.” Karena itu, gambaran tersebut dalam Perjanjian Lama sering dipakai untuk menunjukkan seseorang atau suatu kelompok yang nyaris binasa tetapi diselamatkan oleh campur tangan Allah.
Dari sudut sejarah, Yosua memang hidup pada masa yang sangat dekat dengan berakhirnya pembuangan Babel. Ia termasuk generasi yang mengalami pemulihan setelah masa penghukuman yang berat. Fakta sejarah ini sesuai dengan gambaran seseorang yang telah lolos dari kebinasaan. Namun sekali lagi, ayat 3:2 sendiri tidak secara nyata menjelaskan bahwa “api” tersebut adalah pembuangan Babel, walaupun sangat mungkin seperti itu.
Para penafsir juga memperhatikan bahwa pembelaan terhadap Yosua berasal sepenuhnya dari inisiatif Allah.
Dr. Joyce G. Baldwin, *Haggai, Zechariah, Malachi* (Inter-Varsity Press, 1972), menekankan bahwa perhatian penglihatan ini bukan pertama-tama pada kelayakan Yosua, melainkan pada tindakan anugerah Allah yang memilih dan memulihkan.
Prof. Mark J. Boda, *The Book of Zechariah* (Eerdmans, 2016), melihat bahwa fokus adegan ini adalah penegasan kembali keputusan Allah untuk memulihkan umat-Nya meskipun mereka memiliki masa lalu yang penuh kegagalan.
Jadi Iblis datang sebagai pendakwa, sementara Malaikat TUHAN tidak menyoroti kebaikan atau pembelaan Yosua, melainkan menegaskan hak mutlak Allah untuk memilih, menyelamatkan dan mempertahankan orang yang telah Ia tarik keluar dari kebinasaan.
Artinya, bagi kita umat Kristen di zaman modern ini, pelajaran yang bisa kita ambil adalah, bahwa betapa sucinya kita harus hidup, mengingat orang yang taat dan saleh pun bisa didakwa oleh iblis dengan berbagai macam tuduhan. Jika tuduhan terhadap kita dapat dibuktikan, maka mungkin iblis mempunyai alasan untuk menghukum kita atas seizin Allah. Itu tentu akan membuat Allah sedih dan murka karena kita adalah umat yang disayangi-Nya.
3. Pengudusan dan pengutusan Imam Besar Yosua
Zakharia 3:2-7
2 Adapun Yosua mengenakan pakaian yang kotor, waktu dia berdiri di hadapan Malaikat itu, yang memberikan perintah kepada orang-orang yang melayaninya: “Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya.” Dan kepada Yosua ia berkata: “Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta.”
Kemudian ia berkata: “Taruhlah serban tahir pada kepalanya!” Maka mereka menaruh serban tahir pada kepalanya dan mengenakan pakaian kepadanya, sedang Malaikat TUHAN berdiri di situ. Lalu Malaikat TUHAN itu memberi jaminan kepada Yosua, katanya:
7 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Apabila engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan tugas yang Kuberikan kepadamu, maka engkau akan memerintah rumah-Ku dan mengurus pelataran-Ku, dan Aku akan mengizinkan engkau masuk ke antara mereka yang berdiri melayani di sini.
Ayat-ayat di atas merupakan kelanjutan dari penglihatan sebelumnya. Jika pada ayat 1-2 Imam Besar Yosua didakwa oleh Iblis, maka pada ayat 3-7 fokus penglihatan beralih kepada pemulihan dan peneguhan Yosua oleh Allah.
Hal pertama yang secara eksplisit dinyatakan teks adalah bahwa Yosua mengenakan pakaian yang kotor. Teks tidak menjelaskan jenis kotoran tersebut dan tidak menyebut dosa tertentu yang dilakukan Yosua. Namun ayat 4 memberikan petunjuk penting karena setelah pakaian itu ditanggalkan, Malaikat TUHAN telah menjauhkan kesalahan Yosua dari padanya, juga dikenakan pakaian pesta. Ingatlah kisah tentang Perjamuan Kawin, yang difirmankan oleh Tuhan Yesus sebagai berikut:
Matius 22:12
“Ia berkata kepadanya: Hai saudara, t bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.“
Karena itu, hubungan antara pakaian kotor dan kesalahan atau dosa memang dinyatakan oleh teks itu sendiri. Pakaian yang kotor berfungsi sebagai simbol keadaan Yosua yang memiliki kesalahan di hadapan Allah. Kelak akan diadakan Pesta Perjamuan Kawin Anak Domba, di mana semua yang hadir, wajib mengenakan Pakaian Pesta.
Banyak penafsir mencatat bahwa hal ini sangat kontras dengan tugas seorang imam besar. Menurut Taurat, imam besar harus mengenakan pakaian kudus ketika melayani di hadapan Allah (Keluaran 28). Karena itu, kemunculan Yosua dengan pakaian kotor dalam penglihatan ini menunjukkan bahwa ia tidak layak berdiri di hadapan Allah berdasarkan keadaannya sendiri. Namun perlu dicatat, teks tidak menjelaskan apakah kesalahan tersebut adalah dosa pribadi Yosua, keadaan bangsa Israel, atau keduanya. Berbagai penafsiran ada, tetapi ayat ini sendiri tidak memberikan rincian.
Dari ayat di atas, hal yang menjadi fokus kita adalah urutan peristiwanya, di mana Imam Yosua tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, Ia juga tidak sanggup mengganti pakaiannya sendiri. Ini membuktikan, setinggi dan sehebat apapun seseorang, dia akan mudah didakwa iblis karena tidak bisa menyucikan dirinya sendiri. Tindakan penyucian dan mengganti pakaian suci, sepenuhnya hanya dimungkinkan datang dari pihak Allah semata.
Perintah TUHAN diberikan kepada para pelayan surgawi:
Zakharia 3:4
“Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya.” Dan kepada Yosua ia berkata: “Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta“
Jadi TUHAN menetapkan pemulihan pelayanan Yosua dengan memberi pengampunan padanya. Bahwa, setelah pengampunan itu, pakaian kotornya ditanggalkan, dan Yosua dipakaikan “pakaian pesta”. Istilah yang digunakan untuk pakaian pesta dalam Zakharia 3:4 adalah מַחֲלָצוֹת yang memiliki transliterasi maḥălāṣôt dan berarti pakaian yang indah atau pakaian kebesaran yang melambangkan kehormatan serta status yang dipulihkan oleh Allah setelah kesalahan hamba-Nya diampuni. Teks tersebut mungkin tidak menjelaskan makna simboliknya secara rinci, namun jelas menunjukkan adanya perubahan status Yosua: dari berdosa menjadi diterima dan dianugerahi kehormatan.
Selanjutnya tidak hanya pakaian pesta, namun Imam Yosua dianugerahkan serban tahir untuk dikenakan di kepalanya. Penggunaan serban atau *mitsnepheth* dalam tradisi imamat Israel berakar dari perintah spesifik yang diberikan Allah kepada Musa untuk membedakan jabatan Imam Besar dari imam-imam lainnya, di mana serban tersebut berfungsi sebagai penutup kepala khusus yang menandai kekudusan jabatan.
Secara historis dan teologis, serban ini bukan sekadar penutup kepala biasa melainkan simbol ketaatan total dan dedikasi kepada Allah, yang diperkuat dengan lempengan emas bertuliskan *Qodesh layhwh* (Kudus bagi TUHAN) pada dahi Imam Besar, yang bertujuan untuk menanggung kesalahan yang mungkin terjadi dalam persembahan kudus umat Israel agar persembahan tersebut tetap diterima oleh TUHAN. Latar belakang penggunaan serban ini menegaskan peran mediasi Imam Besar sebagai perwakilan umat yang harus senantiasa berada dalam kondisi tahir dan terpisah dari kenajisan duniawi, sebagaimana ditegaskan dalam literatur biblika bahwa perlengkapan ini adalah bagian integral dari pakaian kemuliaan dan perhiasan untuk menjalankan tugas keimaman sesuai dengan ketetapan ilahi di Kemah Pertemuan.
Sesudah penyucian itu selesai, barulah muncul pengutusan. Malaikat TUHAN memberikan janji sekaligus syarat kepada Yosua:
Zakharia 3:7a
“Apabila engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan tugas yang Kuberikan kepadamu…”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa anugerah Allah tidak menghapus tuntutan ketaatan. Yosua telah dipulihkan, tetapi ia tetap dipanggil untuk hidup seturut kehendak Allah.
Janji yang diberikan terdiri dari beberapa bagian.
1. Janji Pertama dari TUHAN: “Engkau akan memerintah rumah-Ku.”
Dalam konteks Perjanjian Lama, “rumah-Ku” secara alami menunjuk kepada Bait Allah yang sedang dibangun kembali pada zaman Zakharia. Imam Yosua dikembalikan kepada jabatan kepemimpinannya di Bait Allah.
2. Janji ke dua dari TUHAN: “Mengurus pelataran-Ku.”
Ini menunjukkan tanggung jawab administratif dan liturgis dalam pelayanan Bait Allah.
3. Janji ke tiga dari TUHAN: “Aku akan mengizinkan engkau masuk ke antara mereka yang berdiri melayani di sini.”
Bagian ini termasuk yang paling banyak dibahas para penafsir. Yang dapat dipastikan adalah bahwa “mereka yang berdiri melayani di sini” dalam konteks penglihatan menunjuk kepada para pelayan surgawi yang hadir di sekitar takhta Allah. Banyak penafsir memahami janji ini sebagai hak istimewa untuk mendapat akses ke hadirat Allah. Namun bentuk dan cara akses tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut oleh teks.
Secara keseluruhan, ayat 3-7 memperlihatkan urutan yang sangat jelas:
- Allah memungut Yosua yang awalnya dalam keadaan tidak layak.
- Allah sendiri mengampuni segala dosa dan kesalahan Yosua.
- Allah mengenakan pakaian yang baru kepadanya.
- Allah memulihkan kedudukannya sebagai Imam Agung.
- Allah memulihkan tugas dan tanggung jawab pelayanan di Bait Allah.
- Allah menjanjikan persekutuan dan akses langsung ke hadirat-Nya, jika Yosua tetap hidup taat dan setia.
Urutan ini tidak berasal dari penafsiran teologis, melainkan dapat diamati langsung dari alur penglihatan yang dicatat oleh Nabi Zakharia. Yang menjadi pusat perhatian bukan kemampuan Yosua memperbaiki dirinya sendiri, melainkan tindakan Allah yang terlebih dahulu menyucikan, memulihkan, dan kemudian mengutusnya kembali untuk melayani.
Sebagai refleksi bagi kita di zaman sekarang, sudah jelas bahwa kehidupan kita tidak akan mungkin tidak bercacat cela di hadapan Allah. Buktinya bahya sekelas Imam Agung Yosua yang sudah banyak jasanya bagi Allah dan umat-Nya pun, masih dengan mudah didakwa oleh iblis karena tercatat berdosa dan bersalah. Jadi kita harus menyadari dosa dan kesalahan kita, akui semua di hadapan Allah, mohon ampun dan bertobatlah. Berbaliklah dari jalan yang jahat, ikutlah Kristus dengan memikul beban yang dianugerahkan-Nya bagi kita.
4. Yosua sebagai lambang Sang Tunas dari Allah
Zakharia 3:8-10
8 Dengarkanlah, hai imam besar Yosua! Engkau dan teman-temanmu yang duduk di hadapanmu–sungguh kamu merupakan suatu lambang. Sebab, sesungguhnya Aku akan mendatangkan hamba-Ku, yakni Sang Tunas.
Sebab sesungguhnya permata yang telah Kuserahkan kepada Yosua–satu permata yang bermata tujuh–sesungguhnya Aku akan mengukirkan ukiran di atasnya, demikianlah firman TUHAN semesta alam, dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja.
10Pada hari itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, setiap orang dari padamu akan mengundang temannya duduk di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara.”
Dalam Zakharia 3:8, Yosua dan rekan-rekan imamnya disebut sebagai tanda atau lambang. Ini berarti kehadiran mereka bukan sekadar urusan pekerjaan biasa, melainkan sebuah isyarat dari Tuhan tentang sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan.
Ralph L. Smith dalam bukunya yang berjudul Micah-Malachi (1984), pemulihan Yosua adalah gambaran awal dari rencana Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya melalui sosok yang disebut sebagai “Sang Tunas.” Sosok ini adalah keturunan raja Daud yang akan menjalankan peran sebagai Raja sekaligus Imam.
Pernyataan tentang “Sang Tunas” didasarkan langsung pada janji Tuhan di Perjanjian Lama. Tuhan berjanji akan membangkitkan seorang Raja dari garis keturunan Daud (Isai adalah ayah Daud) yang akan membawa kehidupan baru dan keadilan.
Yeremia 23:5
“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.”
Yesaya 11:1
“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”
Menyatukan Peran Raja dan Imam
Alkitab dengan jelas menubuatkan bahwa sosok bernama Tunas ini akan mendirikan Bait Tuhan, menerima keagungan, dan memerintah di atas takhta. Ia menyatukan kekuasaan seorang raja dan pelayanan seorang imam dalam kedamaian yang sempurna.
Zakharia 6:12-13
“Katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Inilah orang yang bernama Tunas. Ia akan bertunas dari tempatnya dan ia akan mendirikan bait TUHAN. Dialah yang akan mendirikan bait TUHAN, dan dialah yang akan mendapat keagungan dan akan duduk memerintah di atas takhtanya. Di sebelah kanannya akan ada seorang imam dan permufakatan damai akan ada di antara mereka berdua.”
Menyelesaikan Tugas Imam Sekali untuk Selamanya
Tuhan berjanji melalui Zakharia bahwa Ia akan menghapus dosa dalam satu hari. Perjanjian Baru membuktikan bahwa hal ini digenapi secara tuntas oleh Yesus Kristus. Imam-imam di masa lalu harus berkali-kali mempersembahkan korban hewan, tetapi Sang Tunas menyelesaikan semuanya hanya dengan satu kali pengorbanan di kayu salib.
Zakharia 3:9
“…dan Aku akan menghapuskan kesalahan negeri ini dalam satu hari saja.”
Ibrani 10:11-12
“Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah.”
Siapakah “Sang Tunas” Itu?
Istilah “Sang Tunas” adalah sebutan khusus bagi Mesias atau Juru Selamat yang dijanjikan Tuhan. Istilah ini melambangkan pertumbuhan, kesegaran, dan kehidupan baru yang muncul bahkan dari situasi yang tampak sudah mati atau berakhir. Dalam kitab Zakharia, Sang Tunas adalah hamba Allah yang akan menyatukan dua peran penting: sebagai Imam yang melayani Tuhan dan sebagai Raja yang memerintah. Inilah sosok yang akan menyelesaikan secara tuntas apa yang dulu hanya bisa dilakukan secara simbolis oleh para imam di masa lalu.
Permata dan Penghapusan Dosa
Ayat 9 menyebutkan tentang permata yang bermata tujuh. Angka tujuh di sini melambangkan pengawasan dan kuasa Allah yang sempurna di seluruh dunia. Permata ini adalah simbol kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya. Yang paling luar biasa adalah janji Tuhan untuk menghapuskan kesalahan seluruh negeri dalam satu hari saja. Jika dulu para imam harus berulang kali melakukan ritual kurban untuk dosa umat, tindakan Sang Tunas nanti akan bersifat sekali untuk selamanya. Joyce G. Baldwin dalam karyanya Haggai, Zechariah and Malachi (1972) menjelaskan bahwa ini adalah bayangan tentang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib yang menghapuskan dosa manusia secara tuntas.
Damai Sejahtera bagi Semua Orang
Ayat 10 menggambarkan orang-orang duduk dengan tenang di bawah pohon anggur dan pohon ara. Ini adalah gambaran tentang masa damai yang luar biasa di bawah pemerintahan Allah. Hasil dari karya Sang Tunas bukan sekadar perbaikan rumah ibadah, melainkan perubahan hati manusia yang membawa hubungan damai dan persekutuan yang harmonis antara sesama.
Sang Tunas adalah Yesus Kristus
Dalam iman Kristen, Sang Tunas dipahami secara utuh sebagai Yesus Kristus. Berikut adalah alasan mengapa Sang Tunas dikaitkan dengan-Nya:
- Penyatuan Peran Raja dan Imam: Dalam Zakharia 6:12-13, Sang Tunas akan mendirikan Bait Allah dan memerintah sebagai Raja sekaligus Imam. Yesus Kristus adalah penggenapan sempurna dari hal ini. Ia menjadi Imam Besar yang menghubungkan kita dengan Allah, sekaligus Raja di atas segala raja.
- Membangun Bait Allah yang Sejati: Sang Tunas membangun Bait Allah bukan dari batu atau kayu, melainkan Bait rohani, yaitu tubuh Kristus atau persekutuan umat percaya. Yesus sendiri mengatakan bahwa tubuh-Nya adalah Bait Allah yang akan dibangun kembali, yang artinya Dia menyatukan semua orang dari segala bangsa.
- Penebusan dalam Satu Hari: Janji menghapuskan kesalahan dalam satu hari merujuk pada peristiwa kematian Yesus di kayu salib. Pengorbanan-Nya sudah cukup dan tidak perlu diulang-ulang lagi untuk menghapus dosa kita.
- Keturunan Raja Daud: Sebutan Sang Tunas berkaitan erat dengan janji Tuhan bahwa Mesias akan lahir dari garis keturunan Raja Daud. Yesus Kristus secara sah adalah keturunan Daud yang membawa kehidupan baru melalui kebangkitan-Nya.
- Kedamaian yang Sempurna: Kedamaian yang digambarkan seperti orang duduk tenang di bawah pohon adalah gambaran Kerajaan Allah yang dibawa Yesus. Damai sejahtera ini mulai dirasakan di hati kita sekarang melalui Roh Kudus dan akan sempurna saat Yesus datang kembali.
Kesimpulan
Melalui semua nubuat ini, kita bisa melihat bahwa rencana Tuhan sangat luar biasa. Yosua hanyalah sebuah tanda sementara, sedangkan Sang Tunas—yaitu Yesus Kristus—adalah realitas kekal. Yesus adalah satu-satunya perantara yang menyatukan kuasa Tuhan dengan kasih-Nya, yang datang untuk menghapus dosa kita dan memberi kita damai sejahtera yang sejati.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Yohanes 3:16
Amin.
