Zefanya 3 tentang “Waspadalah: 4 Dosa utama yang mendatangkan Hukuman Allah” Seri Nabi Kecil

By Febrian 24 Mei 2026 04:11 AM

Shaloom, Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Terkait dengan khotbah edisi kemarin (Zefanya 2), tentang dosa dan kejahatan Yehuda dan bangsa-bangsa, maka saat ini kita akan membahas mengenai 4 Dosa utama yang mendatangkan Hukuman Allah, yang adalah wujud kasih-Nya. Semoga Tuhan memberikan kita hikmat dan pengertian-Nya, agar kita dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

4 Dosa utama yang mendatangkan Hukuman Allah

Zefanya 3 <– klik di sini untuk membaca seluruh ayat.

Terkait dengan ayat bahasan di atas, kita dapat menerima pesan Allah sebagai berikut:

Teguran Allah dalam ayat bacaan di atas adalah salah satu bagian paling keras dalam kitab nabi-nabi kecil, yaitu langsung menunjuk Yerusalem sendiri, kota umat pilihan TUHAN. Ini menunjukkan bahwa status sebagai umat pilihan tidak otomatis membuat suatu bangsa aman dari penghakiman Allah. Ketika Dosa utama dilakukan terus-menerus tanpa pertobatan, maka kekudusan Allah justru menuntut hukuman yang lebih berat.

Terdapat 4 Dosa utama yang mendatangkan Hukuman Allah, yaitu tidak mau mendengarkan teguran, tidak mempedulikan ancaman hukuman, tidak percaya kepada TUHAN dan terakhir tidak mau datang mendekat kepada Allah.

Mari kita bahas satu per satu, sebagai berikut:

1. Menolak teguran Allah

Zefanya 3:1-2 memperlihatkan akar masalah Yerusalem, di mana dosa utama yaitu mereka menolak teguran Allah. Jadi masalah mereka bukan sekadar moral yang rusak, tetapi kepatuhan kepada perintah Allah. Yerusalem masih memiliki Bait Allah, Imam, Nabi, dan masih menjalankan Ritual Ibadah, tetapi sesungguhnya di mata Allah, hati mereka sangat jauh dari-Nya.

Sesungguhnya Allah sudah sangat panjang sabar terhadap dosa utama Yehuda dan Yerusalem. Sejak zaman Musa, TUHAN telah berulang kali memperingatkan bangsa Israel agar tidak meninggalkan perjanjian-Nya. Dalam Ulangan 28, Allah bahkan sudah memberitahukan jauh sebelumnya bahwa apabila mereka tidak taat, maka kutuk, peperangan, pembuangan, dan kehancuran akan datang atas mereka. Tetapi sejarah Israel memperlihatkan bahwa mereka terus mengulangi dosa utama yang sama.

Pada zaman hakim-hakim, bangsa itu berulang kali meninggalkan TUHAN dan menyembah Baal serta para berhala Kanaan. Kitab Hakim-hakim mencatat pola yang terus berulang: bangsa itu jatuh dalam dosa utama, dihukum, lalu berseru kepada TUHAN, kemudian TUHAN membangkitkan hakim untuk menyelamatkan mereka. Tetapi sesudah itu mereka kembali berbuat jahat. Hakim-hakim 2:19 berkata:

Hakim-hakim 2:19

“Tetapi apabila hakim itu mati, mereka berbuat lebih jahat dari nenek moyang mereka dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya. Mereka tidak menghentikan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu.”

Memasuki zaman kerajaan, dosa itu tidak berhenti. Walaupun Allah mengangkat raja-raja seperti Daud dan Hizkia yang takut akan TUHAN, sebagian besar raja Yehuda dan Israel justru membawa bangsa itu makin jauh dari Allah. Raja Manasye menjadi salah satu contoh paling mengerikan. Dalam 2 Raja-raja 21 dicatat bahwa ia melakukan dosa utama dengan mendirikan mezbah-mezbah berhala di dalam Bait Allah, melakukan sihir, mempersembahkan anaknya sendiri dalam api, dan menyesatkan Yehuda sehingga lebih jahat daripada bangsa-bangsa kafir yang telah dimusnahkan TUHAN sebelumnya.

2 Raja-raja 21:9

“Tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Manasye telah menyesatkan mereka, sehingga mereka melakukan yang lebih jahat dari bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel.”

Yang luar biasa adalah kesabaran Allah terhadap dosa utama tidak berhenti di situ. Allah terus mengirim nabi-nabi-Nya untuk memperingatkan mereka akan dosa utama itu:

    • Nabi Yesaya berseru kepada Yehuda agar bertobat dari dosa utama mereka – nabi malah dibunuh dengan digergaji pada masa Raja Manasye.
    • Nabi Yeremia menangis memperingatkan kehancuran Yerusalem – nabi malah dihina, dipukul, dimasukkan ke dalam lobang lumpur, dan dianggap pengkhianat bangsa.
    • Nabi Mikha menegur dosa utama para pemimpin yang memeras rakyat.
    • Nabi Habakuk bergumul melihat kejahatan dan dosa utama Yehuda.
    • Nabi Zefanya sendiri diutus pada zaman Raja Yosia untuk memperingatkan bahwa Hari TUHAN sudah dekat. Bertobat dari dosa utama mereka.

Dalam Nehemia 9:26 bangsa Israel sendiri mengakui dosa utama nenek moyang mereka:

Nehemia 9:26

“Tetapi mereka bersikap durhaka dan memberontak terhadap Engkau. Mereka melemparkan Taurat-Mu ke belakang badan mereka dan membunuh nabi-nabi-Mu yang memperingatkan mereka supaya kembali kepada-Mu. Dan mereka melakukan nista yang besar.”

Yang paling menyedihkan adalah mereka masih merasa diri umat Tuhan karena memiliki Bait Allah. Mereka berpikir bahwa keberadaan Bait Allah otomatis menjamin perlindungan Allah, walaupun hidup mereka penuh dosa, termasuk dosa utama mereka. Melalui Nabi Yeremia, TUHAN menegur pemikiran palsu itu.

Yeremia 7:4

“Jangan percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN!”

Mereka rajin beribadah, tetapi hidup mereka masih penuh dosa utama berupa ketidakadilan, penyembahan berhala, penindasan, dan kenajisan. Allah melihat ibadah mereka sebagai sesuatu yang munafik. Dalam Yesaya 1, TUHAN bahkan berkata bahwa Ia muak terhadap korban dan perayaan mereka karena masih melakukan dosa utama mereka dengan tangan mereka penuh darah.

Yesaya 1:15

Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mata-Ku dari padamu; bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarnya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

Inilah yang membuat Yerusalem penuh dosa utama di mata Allah. Mereka bukan bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Mereka mengetahui hukum Taurat, mendengar nabi-nabi, melihat karya Allah sepanjang sejarah, bahkan memiliki Bait Allah di tengah mereka. Tetapi mereka terus menolak teguran demi teguran yang adalah dosa utama. Kesabaran Allah sesungguhnya sudah luar biasa panjang. Selama ratusan tahun Allah memperingatkan, mendisiplin, menegur, dan memanggil mereka kembali. Tetapi hati mereka semakin keras.

2. Kekejaman dan ketidakadilan

Zefanya 3:3-4 menunjukkan kerusakan total yang adalah dosa utama dari para pemimpin bangsa:

    • Para Pemuka disebut seperti singa yang mengaum, artinya mereka memakai kekuasaan untuk memangsa rakyat.
    • Para Hakim, disebut bagaikan serigala malam yang rakus, yang tidak menyisakan apa pun sampai pagi.
    • Para Nabi disebut ceroboh dan pengkhianat.
    • Para Imam menajiskan yang kudus dan memperkosa Taurat.

Ini adalah gambaran bangsa yang rusak dari atas sampai bawah. Yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran justru menjadi sumber kebusukan rohani, sarat dengan dosa utama.

Kerusakan rohani melakukan dosa utama di kalangan bangsa Yehuda pada zaman Zefanya, bukan hanya terjadi di kalangan rakyat biasa, tetapi sudah menjalar sampai kepada seluruh lapisan pemimpin bangsa. Inilah yang membuat keadaan Yerusalem sangat mengerikan di mata Allah. Orang-orang yang seharusnya menjaga keadilan, mengajarkan Taurat, dan menuntun umat kepada kekudusan justru menjadi pelaku utama kejahatan dan dosa utama. Dari istana kerajaan, ruang pengadilan, mimbar para nabi, sampai pelataran Bait Allah, semuanya telah tercemar.

Zefanya menyebut para pemuka seperti singa yang mengaum. Singa adalah lambang kekuatan dan kekuasaan, tetapi di sini kekuatan itu dipakai untuk memangsa rakyat sendiri. Para pemimpin Yehuda memakai jabatan bukan untuk melindungi umat, melainkan untuk memperkaya diri dan menindas orang lemah. Nabi Mikha hidup tidak jauh dari zaman itu dan menggambarkan keadaan yang sangat mirip. Perbuatan mereka sarat dengan dosa utama.

Mikha 3:1-3

“Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan, hai kamu yang membenci kebaikan dan yang mencintai kejahatan? Kamu yang merenggut kulit tubuh bangsaku dan daging dari tulang-tulangnya? Ya, kamu memakan daging bangsaku, dan menguliti kulit tubuh mereka; tulang-tulang mereka kamu patah-patahkan, dan kamu cincang seperti daging dalam kuali dan seperti daging dalam belanga.”

Bahasa yang dipakai Nabi Mikha sangat keras karena melakukan dosa utama berupa penindasan para pemimpin memang sudah begitu kejam. Rakyat miskin diperas melalui pajak, suap, dan perampasan tanah. Orang kaya dan berkuasa hidup mewah, sementara rakyat kecil menderita. Nabi Yesaya juga menegur para pemimpin Yehuda karena mereka membela penjahat demi suap dan mengabaikan hak orang miskin, yang termasuk juga dosa utama.

Yesaya 1:23

Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekutu dengan pencuri; semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka.

Nabi Zefanya juga menyebut para hakim seperti serigala malam yang tidak meninggalkan apa pun sampai pagi. Gambaran ini menunjukkan dosa utama berupa kerakusan yang tanpa belas kasihan. Seorang hakim seharusnya menegakkan keadilan, tetapi para hakim Yehuda justru menjadikan hukum sebagai alat mencari keuntungan. Mereka menjual keputusan kepada orang yang memberi suap paling besar.

Nabi Amos menggambarkan bagaimana hukum diputarbalikkan demi kepentingan orang kaya dan berkuasa.

Amos 5:12

Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menyesakkan orang benar, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.”

Pintu gerbang kota pada zaman itu adalah tempat pengadilan dilaksanakan. Jadi orang miskin praktis tidak lagi memiliki perlindungan hukum. Mereka dikalahkan oleh sistem yang sudah rusak total.

3. Mengikuti Nabi Palsu

Zefanya 3:4

Banyak nabi pada masa itu bukan lagi menyampaikan firman TUHAN, tetapi menyampaikan pesan yang menyenangkan telinga manusia. Mereka berkata “damai” ketika sebenarnya penghakiman Allah sudah dekat. Keadaan para nabi juga sangat memprihatinkan. Nabi Zefanya menyebut mereka ceroboh dan pengkhianat.

Nabi Yeremia berulang kali bertarung melawan nabi-nabi palsu semacam ini.

Yeremia 6:13-14

Sebab dari yang kecil sampai yang besar, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam, semuanya melakukan tipu. Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandang ringan, katanya: Damai! Damai! Tetapi tidak ada damai.”

Nabi-nabi palsu membuat bangsa itu merasa aman dalam dosa mereka. Mereka tidak lagi berbicara tentang pertobatan, kekudusan, dan hukuman Allah. Mereka lebih memilih menjaga popularitas dan keuntungan pribadi. Dalam Yehezkiel 13, TUHAN bahkan menyebut mereka seperti orang yang menutupi tembok rapuh dengan kapur putih, sehingga tampak kuat padahal sebenarnya siap runtuh kapan saja.

Para imam pun tidak lebih baik. Mereka menajiskan yang kudus dan memperkosa Taurat. Imam seharusnya menjadi pengajar hukum Allah dan penjaga kekudusan Bait Allah. Tetapi pada kenyataannya mereka justru ikut mencemarkan ibadah.

Pada masa Raja Manasye, mezbah-mezbah berhala didirikan di dalam Bait Allah sendiri. Penyembahan kepada dewa-dewa asing masuk ke tempat yang seharusnya kudus bagi TUHAN. Dalam Yehezkiel 8, nabi Yehezkiel bahkan diperlihatkan penglihatan tentang kekejian yang dilakukan para pemimpin dan imam di dalam Bait Allah: penyembahan berhala dilakukan diam-diam di ruang-ruang kudus.

Yehezkiel 8:16

“Lalu dibawa-Nya aku ke pelataran dalam rumah TUHAN dan sungguh, di pintu masuk bait TUHAN, antara balai Bait Suci dan mezbah, ada kira-kira dua puluh lima orang, yang membelakangi bait TUHAN dan menghadapkan mukanya ke sebelah timur; mereka sujud menyembah matahari di sebelah timur.”

Ini adalah puncak kemerosotan rohani Yehuda. Mereka tidak lagi sekadar berdosa di luar Bait Allah, tetapi membawa kekejian itu masuk ke dalam rumah TUHAN sendiri.

Karena itulah Allah berkata melalui Nabi Hosea bahwa tidak ada lagi kesetiaan dan pengenalan akan Allah di negeri itu.

Hosea 4:1-2

“Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai dakwaan terhadap penduduk negeri ini: Tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini. Hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah.”

Keadaan ini menunjukkan bahwa kerusakan rohani suatu bangsa sering dimulai dari kerusakan para pemimpinnya. Ketika pemimpin kehilangan takut akan Allah, maka keadilan akan hancur, kebenaran diperdagangkan, ibadah menjadi munafik, dan rakyat akhirnya ikut terseret ke dalam dosa.

Namun yang sangat luar biasa adalah Allah masih terus mengutus nabi-nabi-Nya untuk memperingatkan mereka. Selama puluhan bahkan ratusan tahun, TUHAN tidak langsung menghancurkan Yehuda. Ia memberi kesempatan demi kesempatan untuk bertobat. Tetapi para pemimpin itu terus mengeraskan hati mereka.

4. Tidak tahu malu

Zefanya 3:5

Dari ayat di atas, dapat kita lihat bahwa di tengah-tengah semua perbuatan jahat umat-Nya, Allah tidak berbuat kelaliman, bahkan Ia masing tetap setia menyatakan hukum-Nya setiap pagi. Hal tersebut menggambarkan perbedaan dimensi standar yang luar biasa, Allah bukanlah manusia, jalan-Nya sangat tinggi.

Mungkin juga banyak orang sering membaca Perjanjian Lama dan melihat bahwa Allah itu seolah kejam, mudah murka, gampang menghukum, tetapi sesungguhnya para pembaca lupa bahwa dimensi pemikiran Allah sangat jauh di atas dimensi pemikiran manusia. Allah tetap menghendaki umat-Nya bebalik dari jalan mereka yang salah, kembali ke jalan yang benar dan terus berbuat kebajikan.

Akan tetapi dari ayat bacaan di atas, tetap saja orang fasik tidak tahu malu. Hati nurani mereka sudah tumpul.

Yeremia 3:3

Sebab itu dirus hujan tertahan dan hujan pada akhir musim tidak datang. Tetapi dahimu adalah dahi perempuan sundal, engkau tidak mengenal malu.

Mari kita coba melihat ke dalam diri kita masing-masing. Jangan-jangan hingga kini, kita belum sadar, bahwa sesungguhnya mungkin kita juga sedang “tidak tahu malu” di hadapan Allah. Allah setia namun kita tetap berbuat kejahatan di hadapan-Nya.

Demikianlah kita mengetahui bahwa ada 4 Dosa utama yang mendatangkan murka Allah. Renungkan dan sadarilah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Seringkali kita juga tidak sadar melakukan salah satu atau bahkan seluruhnya dari 4 dosa utama yang mendatangkan murka Allah tersebut.

Nabi mengatakan dalam Zefanya 3:6-7 , bahwa Allah sesungguhnya sudah memberi peringatan melalui kehancuran bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa di sekitar Yehuda dihancurkan supaya Yerusalem belajar takut kepada TUHAN. Tetapi justru bukannya mereka ketakutan dan bertobat, sebaliknya mereka “makin giat menjadikan busuk perbuatan mereka”. Ini salah satu ciri hati yang keras: hukuman tidak lagi menghasilkan pertobatan, tetapi malah membuat manusia makin tenggelam dalam dosa.

Mungkin kita juga pernah melihat orang-orang yang kelakuannya seperti itu. Orang tersebut melihat ada orang lain yang tertangkap tangan melakukan korupsi, sehingga menerima hukuman yang sangat menakutkan dari hakim. Setelah menyaksikan itu, bukannya introspeksi, kemudian menjadi sadar, bertobat dan tidak berbuat jahat lagi, melainkan menjadi lebih licik lagi, untuk mencari cara supaya tidak tertangkap.

Atau kita mungkin pernah mendengar, bahwa dari kecil seseorang pun sudah dengan mudahnya berbuat jahat. Seorang anak SMA bermain game online di HP nya, ia bermain sangat dalam hingga terjerumus ke dalam game yang berbayar dan akhirnya uang jajannya habis. Bukannya ia sadar dan bertobat, ia malah mencuri ambil kartu kredit ayahnya, dan singkat kata menghancurkan keluarganya sendiri.

Ada pula seorang ibu rumah tangga, di mana suaminya bukan orang berpunya, namun ia sangat kecanduan belanja online dan bermain judi online. Awalnya ia mempergunakan uang belanjanya untuk itu, lama kelamaan, ia mulai mengakses Pinjaman Online ilegal, yang akhirnya menjerumuskan keluarganya ke dalam lubang utang yang tidak berdasar.

Dosa utama seperti di atas, sangat banyak terjadi di berbagai kalangan masyarakat. Inilah yang disebut penyakit masyarakat yang harus kita berantas bersama-sama.

Jika kita perhatikan, Zefanya 3:8 merupakan puncak penghakiman TUHAN, di mana Ia akan mengumpulkan bangsa-bangsa untuk menerima murka-Nya. Firman Allah, “api cemburu-Ku,” menggambarkan kekudusan Allah yang tidak dapat berkompromi dengan penyembahan berhala dan pemberontakan manusia. Ini bukan sekadar luapan emosi Allah, melainkan murka-Nya yang bernyala-nyala karena kecemburuan ilahi—Allah tidak rela umat kesayangan-Nya direbut oleh kuasa kegelapan, sebab dengan melakukan dosa utama umat itu sendiri telah membuka pintu bagi kuasa tersebut untuk masuk dan menghancurkan hidup mereka.

Beberapa orang ahli Theologia terkemuka dunia, melihat bahwa bagian ini juga memiliki dimensi nubuat mengenai akhir zaman. Pengumpulan bangsa-bangsa dan pencurahan murka Allah sering dipahami sebagai bayangan penghakiman dunia ini pada Hari TUHAN yang akan datang. Berikut pandangan tersebut:

Dr. Alec Motyer, theolog dan pakar Perjanjian Lama dari Trinity College Bristol, dalam bukunya The Minor Prophets: An Exegetical and Expository Commentary (Baker Academic, 1998), menjelaskan bahwa dosa terbesar Yerusalem bukan sekadar ketidaktaatan sosial, tetapi penolakan terhadap hadirat Allah sendiri. Motyer menekankan bahwa umat kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan.

Dr. O. Palmer Robertson, theolog Reformed dan profesor Perjanjian Lama dari Reformed Theological Seminary, dalam The Books of Nahum, Habakkuk and Zephaniah (Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1990), menjelaskan bahwa gambaran para pemimpin sebagai singa dan serigala menunjukkan pemerintahan yang berubah menjadi predator terhadap rakyatnya sendiri. Para pemimpin tidak lagi melindungi umat perjanjian, tetapi justru memangsa mereka.

Rev. Matthew Henry, pendeta dan penafsir Alkitab Puritan terkenal, dalam Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible (1706), menyoroti kesabaran Allah pada ayat 5–7. Menurutnya, Allah terus memberi terang “pagi demi pagi”, tetapi manusia yang keras hati justru makin giat dalam dosa. Tanpa pertobatan sejati, bahkan peringatan ilahi sekalipun tidak akan mengubah hati manusia.

Pada akhirnya, nubuatan yang disampaikan Nabi Zefanya itu terbukti dilaksanakan Allah pada masa-masa berikutnya:

Penghakiman Allah benar-benar datang, yaitu Yerusalem akhirnya jatuh ke tangan Babel pada tahun 586 SM. Raja, pemuka, imam, dan rakyat dibuang ke negeri asing. Bait Allah dihancurkan. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah tidak memandang muka. Bahkan umat pilihan sekalipun akan dihakimi apabila terus hidup dalam pemberontakan dan ketidakadilan.

Bagian ini juga menjadi peringatan yang sangat serius bagi setiap generasi. Jabatan rohani, pelayanan, kedudukan, dan aktivitas keagamaan tidak otomatis membuat seseorang benar di hadapan Allah. Tuhan melihat hati, integritas, dan kesetiaan kepada firman-Nya. Ketika pemimpin rohani mulai mencari keuntungan diri sendiri dan tidak lagi takut akan Allah, maka kebusukan rohani perlahan akan menghancurkan seluruh umat.

Refleksi dalam kehidupan kita

Yerusalem hancur karena moral pemimpin-pemimpinnya yang sudah rusak, serta sikap umatnya yang terang-terangan menolak Allah. Akan tetapi Allah juga yang dengan Kasih-Nya yang tidak terukur, telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus, untuk turun ke dunia sebagai Raja yang adil, Hakim yang benar, Imam yang kudus, dan Nabi yang setia.

Semua jabatan yang gagal di Yerusalem dipenuhi secara sempurna di dalam Kristus. Penghakiman Allah atas dosa akhirnya dicurahkan kepada Kristus di kayu salib bagi semua orang di dunia. Jadi bagi mereka yang percaya akan pengorbanan-Nya dan mau menyerahkan hidup kepada-Nya, akan diselamatkan dari murka Allah. Akan tetapi bagi orang yang menolak-Nya, niscaya Hari TUHAN di akhir zaman akan tetap akan datang bagi mereka.

Kesimpulan dan renungan:

Kegagalan yang fatal adalah tidak mengetahui dosa-dosa yang paling berbahaya dalam hidup kita. Mari kita renungkan apakah kita melakukan 4 Dosa utama yang mendatangkan Hukuman Allah?  Waspadalah, jangan melakukan ini: Menolak teguran Allah, berlaku kejam dan tidak adil, menjadi atau mengikuti Nabi Palsu serta Berbuat dosa tapi tidak tahu malu.

Sering kali kesalahan kita bukanlah melakukan dosa secara terang-terangan, melainkan perlahan kita membiarkan hati kita tidak lagi peka akan teguran Tuhan. Atau mungkin, seseorang sangat aktif dalam kegiatan rohani di Gereja, namun sesungguhnya dalam kesehariannya ia tidak takut akan Allah. Ketika hati sudah tidak lagi merasa malu merancangkan dosa dan melakukannya, itulah tanda bahaya rohani yang sudah serius.

Renungan tentang nubuat Nabi Zefanya hari ini, mengingatkan kita bahwa Allah itu panjang sabar, namun kekudusan-Nya tidak bisa berkompromi dengan dosa. Hari TUHAN itu pasti datang, setiap orang dipanggil untuk hidup dalam pertobatan dan hidup dalam kesetiaan kepada Kristus.

“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,
agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.”

Kisah Para Rasul 3:19-20

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *