Edisi 11 – Mencari Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya – Seri Renungan Pagi

By Febrian 17 September 2026 04:12 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Setelah kita merenungkan Tuhan Menopang Tangan Orang Benar pagi ini kita diajak untuk melihat bagaimana __. Kiranya kita diberi hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut.
Tuhan Yesus memberkati.


Mencari Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya
(Menyingkap Rahasia “Carilah Dahulu Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya”)

Matius 6:33 <– Klik di sini untuk membaca seluruh pasal [TB-LAI © 1974]
Tetapi, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
[TB2 © LAI 2023]


I. Pengantar

Matius 6 merupakan bagian dari rangkaian Khotbah di Bukit yang disampaikan Tuhan Yesus. Matius 6:33-34 sendiri merupakan bagian dari satu kesatuan ajaran Tuhan Yesus dalam Matius 6:19-34, yang pada intinya mengingatkan agar kita tidak menjadikan harta dan kebutuhan hidup sebagai pusat kehidupan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita mengumpulkan harta di sorga, karena di mana harta kita berada, di situ juga hati dan perhatian kita berada.

Tuhan Yesus memperingatkan para murid-Nya untuk tidak mengabdi kepada Mamon, yaitu kekayaan atau harta duniawi yang dijadikan sumber keamanan, tujuan hidup, atau objek pengabdian sehingga mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah. Karena itu, Tuhan Yesus juga mengajar mereka agar tidak hidup dalam kekhawatiran mengenai kebutuhan hidup, melainkan harus mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dengan percaya kepada pemeliharaan Allah atas kehidupan kita. Hari Esok sudah dijamin oleh Allah, pikirkan apa yang mau kita kerjakan buat Tuhan hari ini.

Tuhan Yesus memberikan perintah yang jelas kepada murid-murid-Nya dan para pembaca Injil di segala zaman, untuk menjadikan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya sebagai prioritas utama dalam hidup. Bukan berarti kebutuhan hidup tidak perlu dicari atau dipikirkan, tetapi kebutuhan hidup tidak boleh menjadi pencarian yang terutama. Bapa yang di surga mengetahui bahwa manusia memerlukan semuanya itu. Karena itu, Tuhan Yesus mengajarkan agar manusia terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dengan percaya bahwa kebutuhan hidupnya akan ditambahkan oleh Bapa.


II. Mencari Kerajaan Allah

Mari kita sekarang definisikan pengertian tentang Kerajaan Allah (the kingdom of God):

Kerajaan Allah adalah pemerintahan dan kekuasaan Allah yang dinyatakan dalam kehidupan manusia. Kerajaan Allah mencakup hubungan manusia dengan Allah, pengakuan akan kedaulatan-Nya, serta kehidupan yang dijalani sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika seseorang menempatkan dirinya di bawah pemerintahan Allah sebagai Rajanya dan hidup menurut kehendak-Nya, maka ia sudah hidup di dalam Kerajaan Allah. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, murid-murid Tuhan Yesus diajar untuk menempatkan kehendak dan maksud Allah sebagai prioritas utama dalam hidup, dengan percaya bahwa Bapa yang di surga mengetahui dan memelihara kebutuhan hidup mereka.

Kerajaan Allah telah hadir di tengah manusia melalui kedatangan Tuhan Yesus Kristus ke dunia. Melalui pelayanan-Nya, pemberitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke surga, karya penyelamatan dan pemerintahan Allah dinyatakan di dunia. Namun, Kerajaan Allah belum dinyatakan dalam kepenuhannya. Kepenuhan itu akan terwujud pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, ketika segala sesuatu akan berada di bawah pemerintahan Allah. Setelah penghakiman terakhir, langit dan bumi yang sekarang akan berlalu dan Allah akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru. Pada saat itulah Allah akan tinggal bersama-sama dengan umat-Nya untuk selama-lamanya.

Kehidupan di dalam Kerajaan Allah bukan berarti bebas dari penderitaan atau krisis, melainkan bagaimana seseorang merespons pergumulan berat tersebut dengan tetap menempatkan kedaulatan, iman, dan kehendak Allah di atas segalanya.

Berikut contoh kasus bagaimana seseorang yang “telah menemukan” Kerajaan Allah:

    • KASUS 1: Seorang ibu rumah tangga ditinggal oleh suaminya demi wanita lain tanpa memiliki uang sepeser pun. Sesaat ia kalut, di tengah kesulitan keuangan yang mencekik, ia mengambil waktu untuk berdiam diri dan mendekatkan diri pada Allah, memohon jalan keluar. Kemudian ia pun memilih untuk tidak larut dalam kepahitan atau dendam, melainkan bangkit dan mulai mencari nafkah halal. Harta benda apapun yang masih ia miliki, dijualnya dan dengan hidup dalam keprihatinan, ia berjuang menafkahi anak-anaknya. Ibu itu menolak putus asa dan mengambil jalan pintas yang tidak bermoral.
      Di sisi lain Ibu itu tetap tetap mengajarkan anak-anaknya untuk mengampuni ayah mereka, sebab Allah Maha Kasih dan ia menanamkan ajaran untuk tetap percaya bahwa Allah pasti memelihara mereka.
      Ini adalah suatu bukti, bahwa sang Ibu telah menemukan hakikat dari Kerajaan Allah dalam kehidupannya.
    • KASUS 2: Seorang Pria yang memiliki usaha, namun tertipu oleh rekan bisnisnya, hingga seluruh hartanya habis untuk membayar utang bank dan para supplier. Orang itu tetap memilih bertanggung jawab atas utang itu sepenuhnya, daripada melarikan diri atau mencari uang haram untuk menutup utang. Ia mendatangi para kreditur dengan jujur, menceritakan masalahnya dan berjanji tetap akan bertanggung jawab dengan bekerja ekstra keras untuk mengangsur pembayaran kewajibannya. Dalam keadaan prihatin seperti itu Ia mengajak keluarganya untuk hidup sederhana, serta mau menerima semua yang terjadi dengan bergandeng tangan bersama, demi terus menantikan pemulihan dari Tuhan.
      Ini adalah suatu bukti, bahwa orang tersebut telah menemukan hakikat dari Kerajaan Allah dalam kehidupannya.
    • KASUS 3: Seorang pelajar sekolah menengah atas sudah belajar sungguh-sungguh untuk mengikuti suatu ujian penting, namun apa daya ia mengalami suatu kecelakaan yang menyebabkan ia gagal ikut ujian. Anak tersebut sangat terpukul pada awalnya, namun dengan dukungan dari keluarganya, kemudian ia akhirnya disadarkan dan mulai bangkit kembali. Dengan rendah hati, akhirnya ia bisa menerima kondisinya tersebut sebagai bagian dari proses pendidikan dari Allah. Ia menolak untuk putus asa karena menyadari bahwa nilai dirinya di mata Allah tidak ditentukan oleh kesuksesan ujian tersebut, melainkan oleh kesetiaannya dalam berusaha dan berjalan bersama Allah.
      Ini adalah suatu bukti, bahwa keluarga yang takut akan Allah dapat memberikan dukungan agar anggota keluarganya dapat menemukan hakikat dari Kerajaan Allah dalam kehidupannya.
    • KASUS 4: Satu keluarga terpaksa harus kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta kekayaannya akibat tertimpa bencana alam. Mereka yang tadinya serba kecukupan, sekarang terpaksa harus hidup prihatin seadanya, di tenda penampungan. Mereka sangat terpukul dan merasa tertekan pada awalnya, namun dengan dukungan dari saudara-saudara seiman dalam Gereja setempat, pada akhirnya mereka tidak lagi larut dalam kesedihan yang merusak diri. Sebaliknya, keluarga itu dapat kembali bangkit, bahkan rela aktif membantu sesama pengungsi yang lebih lemah. Keluarga ini dapat memancarkan kedamaian Kristus dari dalam diri mereka bagi orang lain, karena telah dapat mengetahui bahwa sesungguhnya hidup mereka tidak bergantung pada harta duniawi, melainkan sepenuhnya bergantung pada kasih Allah.
      Ini adalah suatu bukti, bahwa Gereja Allah yang berisi jemaat yang takut akan Allah, dapat secara pro-aktif memberikan dukungan bagi pihak lain yang berada dalam keadaan sulit serta dalam kemalangan, demi mereka dapat menemukan hakikat dari Kerajaan Allah dalam kehidupannya.
    • KASUS 5: Ada seorang pekerja harian suatu hari menjadi korban tabrak lari hingga mengalami cacat fisik dan kehilangan pekerjaan. Ia sangat marah dan dendam kepada penabraknya, serta kemudian menjadi rendah diri dan akhirnya putus asa. Namun, kemudian seiring dengan dukungan dari keluarga, rekan sejawat dan jemaat Gereja setempat, ia kembali memiliki secercah harapan bahwa hidupnya tidak berakhir di situ. Ia kemudian bangkit dan membuang semua “racun” dalam dirinya, berupa rasa benci atau dendam kepada pelaku. Ia bertobat kepada Allah dan mohon dipulihkan oleh-Nya. Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi yang tiba-tiba menimpanya, ia kemudian belajar memulihkan kehidupannya dengan cara hidup yang baru sesuai kondisi fisiknya. Dengan ketekunan dan semangat, ia memulai usaha sambil terus mengucap syukur atas kehidupan yang masih Allah percayakan kepadanya.
      Ini adalah suatu bukti, bahwa Keluarga, Rekan dan Gereja yang berisi jemaat yang takut akan Allah, dapat secara pro-aktif memberikan dukungan bagi pihak lain yang berada dalam keadaan yang kurang beruntung, demi mereka dapat menemukan hakikat dari Kerajaan Allah dalam kehidupannya.

III. Mencari Kebenaran Allah

Secara umum, Kebenaran Allah (God’s Righteousness) dapat dipahami sebagai kebenaran/keadilan yang berasal dari Allah dan yang sejalan dengan kehendak-Nya. Pertanyaan yang banyak diajukan, “Jadi, apa sesungguhnya ‘kehendak Allah’ itu?” Kehendak Allah itu adalah setiap orang taat kepada seluruh perintah Allah. Jadi jika firman Tuhan Yesus di atas, mengatakan “carilah segala kebenaran-Nya”maka itu maknanya adalah pahamilah seluruh perintah Allah bagi manusia dan taatilah. Jadikan itu fokus hidup kita, bukan fokus pada memenuhi segala kebutuhan hidup kita, apalagi memuaskan hawa nafsu kedagingan.

Matius 6:33 memanggil murid-murid Yesus untuk mencari lebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, lalu segala sesuatu yang lain akan ditambahkan. ‘Mencari kebenaran-Nya’ sering dipahami hanya sebagai usaha ‘menjadi benar’ secara moral, tetapi makna sesungguhnya masih jauh lebih dalam. Kebenaran Allah dalam Alkitab bukan sekadar target standar moral dari Allah yang harus diikuti manusia, melainkan berupa kesetiaan Allah untuk menyelamatkan, memulihkan, dan menegakkan apa yang benar di tengah dunia yang sudah rusak. ‘Mencari kebenaran-Nya’ berarti mencari dan memahami cara kerja Allah, selalu tunduk pada pemerintahan Allah, serta mempercayai bahwa Dia sedang mengerjakan sesuatu (sekalipun tindakan-Nya tidak terlihat atau tidak sesuai dengan logika).

Mari sejenak kita flashback ke kejadian dalam Perjanjian Lama, tentang Nabi Elia yang diutus Allah datang kepada seorang Janda miskin di Sarfat. Baca detail ayatnya 1 Raja-raja 17:1-24. Kisah Elia tersebut memperlihatkan bahwa kebenaran Allah sering bekerja secara natural. Elia menegur Ahab dan menubuatkan tidak akan ada hujan, bisa jadi itu menyulus murka dari Ahab kepadanya. Allah bukannya melindungi Elia dengan malaikat berpedang api atau semacamnya, melainkan Elia malah disembunyikan di dekat sungai Kerit, serta memerintahkan burung gagak memberi dia makan.

Lalu ketika sungai itu kering, Allah juga bukannya membuat mata air ajaib buat Elia minum, melainkan menyuruh Elia pergi ke Sarfat ke rumah seorang janda miskin. Dengan sedikit ‘drama’ dengan Janda itu, akhirnya Elia bisa makan. Di sini Allah bekerja dengan menunjukkan mukjizat-Nya, yaitu tepung dan minyak tidak habis-habis sesuai kebutuhan mereka.

Kisahnya belum selesai, ternyata ada drama anak si janda miskin itu tiba-tiba meninggal. Respons dari si Ibu adalah mempertanyakan kedatangan Elia apakah untuk menunjukkan dosanya dengan hukuman anaknya dibuat mati. Secara manusiawi sikapnya ini masuk akal. Reaksi Elia mendengar perkataan ibu itu juga manusiawi. Saya rasa Elia sebagai manusia biasa, juga ketakutan akan kejadian itu, terlihat dalam isi doanya, “Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?” Ia bahkan mempertanyakan kenapa Allah membunuh anak janda itu. Jika kejadian ini tidak berlanjut, maka semua seperti ‘nol besar’. “Apa yang terjadi di sini? Si Ibu sudah berbaik hati mau menampung Elia, memberi makan. Allah sudah menunjukkan mukjizat. Tapi kenapa anaknya mati?

Jika kejadiannya berhenti sampai di situ, maka rancangan Allah tidak akan dapat dipahami Elia dan semua pembaca kejadian tersebut. Mengapa Elia harus bersembunyi, bukan dilindungi secara terbuka? Mengapa air sungai harus habis, bukan dipelihara secara ajaib? Mengapa Elia harus pergi kepada janda miskin, bukan berkebun dengan hujan lokal? 

Di sinilah pentingnya memahami Kebenaran Allah dalam kehidupan ini. Manusia kebanyakan hidup dalam Chronos, yaitu waktu bumi yang diukur dengan jam, kalender, jadi setiap orang pasti punya keinginan untuk dapat segera melihat hasil pekerjaannya. Namun berbeda dengan Allah yang bekerja dalam Kairos, waktu yang ditetapkan-Nya untuk maksud-maksud tertentu. Elia tinggal di sungai Kerit sampai airnya kering. Ia baru diutus ke Sarfat setelah tidak ada jalan lain.

Dalam 1 Raja-raja 17:22 TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali. Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: “Ini anakmu, ia sudah hidup!” Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.” 

Akhir dari kisah itu memperlihatkan apa yang sesungguhnya sedang dibangun. Perempuan itu berkata kepada Elia, sekarang aku tahu bahwa engkau abdi Allah dan firman Tuhan yang kauucapkan itu adalah benar. Ia tidak hanya mendapat anaknya kembali, pada akhirnya mengetahui seperti apa Kebenaran Allah. Bisa jadi waktu Allah mengadakan mukjizat air dan tepung tidak habis-habis, sang ibu dalam hatinya masih belum percaya bahwa itu pekerjaan Allah. Itulah Kairos, waktu-Nya yang tidak bisa kita pahami, Allah menyatakan Kebenaran-Nya bagi seseorang. Ia akhirnya mendapat pengenalan akan Allah yang hidup.

Bagi Elia sendiri, ia tidak hanya mendapat makanan, namun juga diteguhkan bahwa Allah memeliharanya dengan cara yang tidak terduga. Janda itu tidak hanya menjadi alat untuk memberi makan nabi, melainkan juga menjadi penerima belas kasih Allah. Melalui kisah ini, kebenaran Allah tidak dinyatakan dalam pembuktian diri yang megah, tetapi bentuk yang tersembunyi, yaitu dalam mukjizat yang tepat pada waktunya. Mungkin ini melampaui logika manusia dan dalam kairos yang tidak selalu sama dengan chronos manusia.

Dalam Matius 6:33, Tuhan Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa pergumulan. Ia menjanjikan bahwa mereka yang mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya akan menemukan bahwa Bapa yang di surga itu setia. Kisah Elia dan janda di Sarfat menunjukkan bahwa kesetiaan Allah ditunjukkan-Nya melalui burung gagak, melalui sungai yang mengering, melalui tepung yang tidak habis, melalui anak yang dibangkitkan, dan melalui pengakuan iman seorang perempuan asing. Kebenaran Allah tidak selalu datang dengan gemuruh. Seringkali bahkan datang dalam keheningan, dalam penantian, serta dalam cara-cara yang baru dipahami setelah semuanya berlalu.

Jadi dapat kita simpulkan, bahwa mencari ‘kebenaran-Nya’ dapat diartikan sebagai belajar melihat pekerjaan Allah di dalam kejadian-kejadian biasa. Juga tidak lupa bersyukur jika mukjizat dinyatakan, serta untuk tetap percaya walaupun kondisi yang kita hadapi belum dapat kita pahami. Mencari ‘kebenaran-Nya’ bukan berarti mengejar berkat, tetapi mengejar pemahaman akan bentuk pemerintahan Allah, bagaimana cara kerja Allah, dan seperti apa kehendak Allah dalam hidup kita.


IV. Renungan

  1. Sudahkah Anda mengetahui apa itu Kerajaan Allah dan apa Kebenaran-Nya?
  2. Jika berada dalam persimpangan jalan, harus memutuskan suatu perkara, bagaimana kita mengetahui yang mana yang sesuai dengan kehendak Allah?
  3. Bagaimana cara Anda dapat mengetahui bahwa Allah sedang bekerja dalam kehidupan Anda?
  4. Sanggupkan Anda percaya bahwa Allah itu baik, jika mengalami kemalangan, musibah, perbuatan jahat dsb?
  5. Bagaimana cara kita membuat prioritas dalam hidup kita? Apa kaitan dengan firman Tuhan hari ini?

V. Doa

Tuhan Yesus kami bersyukur atas segala kebaikan Tuhan dalam kehidupan kami. Pada saat ini kami mohon untuk terus diajar lebih dalam lagi untuk paham caranya meletakkan prioritas pada mengenal Kerajaan Allah dan segala Kebenaran-Mu, dalam keseharian kami. Biarlah kehendakmu yang jadi dan bukan kehendak kami.

Terima kasih Tuhan. Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.


Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN
dan percayalah kepada-Nya,
dan Ia akan bertindak

Mazmur 37:5

Amin.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *