
Edisi 9 – Rahasia Menang Terhadap Depresi ( The Secret of Overcoming Depression): Kasih Setia Allah Sebagai Sumber Harapan – Seri Renungan Pagi
By Febrian 14 September 2026 04:20 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Setelah kita merenungkan tentang Hati yang Gembira adalah Obat, pagi ini kita diajak untuk menyelami rahasia kesehatan jiwa dan tubuh melalui pendekatan kepada Allah. Namun sebelum mulai saya ingin menyatakan bahwa Artikel ini bukan pengganti konsultasi medis/psikologis. Jika Anda punya pikiran menyakiti diri, segera hubungi layanan darurat/IGD terdekat, atau layanan krisis resmi di wilayah Anda. Di Indonesia, Anda dapat menghubungi Kemenkes SEJIWA: 119 ext. 8 atau LISA Helpline: 0811-177-177-1. For other regions, visit Befrienders Worldwide or IASP Crisis Centres.
Kiranya kita diberi kekuatan untuk menyerahkan segala beban dan menerima sukacita yang sejati. Tuhan Yesus memberkati.
Kasih Setia Allah Sebagai Sumber Harapan
(Menang Terhadap Depresi)
Mazmur 143:8
TB © LAI 1974 Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.
I. Pengantar
Mazmur 143 adalah salah satu dari 7 Mazmur Pertobatan (Penitential Psalms) yang dipakai di berbagai Gereja sebagai rangkaian doa pengakuan dosa. Dalam pasal ini, raja Daud memohon pertolongan Tuhan dan minta diajar Tuhan, agar terbebas dari kesedihan, kesusahan dan ketakutannya, serta diberi petunjuk jalan mana yang harus ditempuhnya.
Raja Daud terhimpit berdoa dalam keadaan dikejar-kejar musuhnya, hingga merasa bagaikan orang mati yang berada dalam gelap. Semangatnya lesu karena jiwanya terpukul. Namun pada Mazmur 143:8, raja Daud mulai bangkit dan berharap bahwa Tuhan menganugerahkan kasih setia-Nya pada waktu pagi, serta memberi tahu jalan mana yang harus ditempuhnya. Inilah teladan yang perlu kita ambil dari raja Daud, bahwa dalam kesesakan, ketakutan dan keputusasaannya, ia tetap menggantungkan harapannya pada Tuhan semata.
Mari kita pelajari kondisi kecemasan seperti apa yang sesungguhnya banyak terjadi di dalam kehidupan kita, sehingga kita perlu mendalaminya lebih lanjut.
II. Depresi dan Gejala Kecemasan yang Menyertainya
1. Serangan Kecemasan Berlebihan
Bayangkan raja Daud yang berada dalam kecemasan, ketakutan dan kesedihan hingga hilang semangat hidupnya, ia hanya berharap kepada Tuhan, bahwa di pagi hari berikutnya, Tuhan memberikan kasih setia-Nya berupa pertolongan dan kelepasan. Gambarannya mungkin seperti ini:
Ada seseorang yang sedang hiking atau trekking di hutan yang baru pertama kali ia jalani. Sementara mendaki gunung dan menembus hutan, ia penuh sukacita serta diliputi rasa penasaran untuk melihat sunrise di puncak gunung. Tanpa diduga sebelumnya, ternyata ia bertemu dengan binatang buas yang siap menyerangnya. Ia berbalik jalan dan berlari sekuat tenaga dengan harapan tidak terkejar. Sementara berlari ia terus-menerus berusaha mengingat jalan mana yang baru saja dilewatinya. Hingga akhirnya ia melihat ada suatu gua tempat ia dapat berlindung. Baru sedikit merasa tenang karena dapat berlindung, ternyata dari dalam gua terdengar suara binatang buas menggeram. Ia kemudian lari lagi sejadi-jadinya.
Mungkin keadaan tersebut terlalu didramatisasi dan tetap sulit untuk membayangkan perasaan orang itu. Akan tetapi begitulah mungkin yang dialami Raja Daud mungkin yang waktu itu dikejar-kejar Raja Saul dan pasukannya, atau sewaktu dikejar Absalom, putra kandungnya sendiri. Hatinya diliputi kesedihan, ketakutan, dan kemarahan yang bercampur aduk. Namun, ada satu pelajaran yang bisa kita ambil di sini, yaitu raja Daud tetap mengharap pertolongan dari Tuhan, yaitu sewaktu terbit matahari pagi, turun pulalah Kasih Setia Tuhan berupa pertolongan baginya.
Demikian pula bagi kita di zaman sekarang ini, menurut statistik, semakin banyak orang yang terkena penyakit gangguan kejiwaan mirip yang dialami raja Daud itu, yaitu depresi. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan suasana hati, yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam dan hilangnya minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai.
Seseorang diduga mengalami depresi jika selama minimal dua minggu mengalami setidaknya lima gejala depresi, yang mencakup perasaan sedih mendalam atau hilangnya minat/kesenangan, ditambah perubahan tidur, nafsu makan, energi, konsentrasi, atau munculnya pikiran untuk menyakiti diri. Depresi dapat dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Pada wanita, depresi sering dikaitkan dengan perubahan hormon, misalnya saat menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, atau masa menopause. Meskipun demikian, alasan pasti mengapa depresi lebih sering terjadi pada wanita masih terus diteliti.
Penting untuk dipahami bahwa depresi bukan sekadar perasaan sedih sementara, melainkan gangguan mental yang dapat berdampak serius pada kesehatan penderitanya. Jika dibiarkan dan tidak ditangani, depresi dapat mengganggu hubungan sosial, menurunkan kualitas hidup, bahkan dapat berujung pada percobaan menyakiti diri sendiri.
2. Gejala Depresi
Gejala depresi bisa bersifat ringan hingga berat. Secara umum, keluhan yang dialami penderita depresi meliputi:
-
- Merasa sedih berkepanjangan, hampa, sampai putus harapan
- Kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai
- Kecemasan atau kekhawatiran berlebihan
- Emosi tidak stabil, mudah marah, atau frustrasi, bahkan terhadap hal-hal kecil
- Selalu merasa lelah atau tidak berenergi sehingga tugas kecil pun terasa sangat berat
- Hilang nafsu makan sampai menyebabkan berat badan turun, atau malah nafsu makan bertambah
- Keluhan fisik tanpa sebab jelas, seperti pusing, nyeri otot, atau gangguan pencernaan
- Sulit berkonsentrasi, serta kesulitan membuat keputusan atau mudah lupa
- Gangguan tidur, yang bisa berupa insomnia atau justru sering tidur
⚠️ Perhatian: Apabila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, ini merupakan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera. Jangan hadapi sendiri. Hubungi layanan darurat, IGD terdekat, atau layanan krisis resmi di wilayah Anda (di Indonesia: Kemenkes SEJIWA 119 ext. 8 atau LISA Helpline 0811-177-177-1).
3. Penyebab dan Faktor Risiko Depresi
Penyebab depresi masih dalam penelitian, tetapi kondisi ini diduga berhubungan dengan faktor genetik, perubahan zat kimia di otak, dan hormon.
Selain itu, beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi:
-
Pengalaman traumatis atau tekanan batin berkepanjangan – Misalnya kekerasan fisik, pelecehan, kehilangan orang terdekat, atau kesulitan ekonomi.
-
Riwayat keluarga – Memiliki keluarga dekat yang mengalami depresi atau gangguan bipolar dapat meningkatkan risiko.
-
Pola kepribadian tertentu – Misalnya harga diri rendah, kecenderungan menyalahkan diri sendiri, atau terlalu bergantung pada orang lain.
-
Pola pikir yang tidak sehat – Misalnya menolak atau menekan emosi negatif secara terus-menerus. (Catatan: “toxic positivity” adalah istilah populer, bukan diagnosis. Menekan emosi negatif secara terus-menerus bukanlah tanda kedewasaan rohani; mengakui perasaan yang sulit di hadapan Tuhan adalah bagian dari kejujuran iman, bdk. Mazmur 42:6; 62:9.)
-
Perubahan besar dalam hidup – Misalnya pensiun, kehilangan pekerjaan, perceraian, atau perubahan peran sosial yang drastis. (Catatan: “post power syndrome” bukan diagnosis resmi; cukup disebut sebagai salah satu contoh perubahan peran.)
-
Penyakit kronis atau serius – Misalnya kanker, stroke, atau HIV/AIDS. (Catatan: prosopagnosia—kesulitan mengenali wajah—adalah kondisi neurologis, bukan faktor risiko depresi yang lazim. Sebaiknya dihapus dari daftar ini.)
-
Standar hidup yang terlalu tinggi – Misalnya sulit menerima kegagalan atau merasa harus selalu sempurna. (Catatan: “duck syndrome” adalah istilah populer, bukan diagnosis resmi.)
-
Ketergantungan alkohol atau narkoba – Misalnya sebagai upaya melarikan diri dari masalah.
-
Konsumsi obat tertentu – Misalnya obat tidur atau obat tekanan darah, yang pada sebagian orang dapat memengaruhi suasana hati.
(Catatan: jangan menghentikan obat apa pun tanpa konsultasi dokter.) -
Riwayat gangguan mental lain – Misalnya gangguan kecemasan atau gangguan makan.
-
Pola makan yang buruk – Misalnya diet tidak seimbang atau kekurangan vitamin dan mineral.
4. Solusi dan penanggulangan secara kedokteran
Penanganan terhadap depresi mencakup psikoterapi, obat-obatan, atau terapi kejut listrik. Dokter akan memilih dari metode pengobatan tersebut berdasarkan kondisi pasien. Berikut ini adalah penjelasannya:
- Psikoterapi – Psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT), merupakan salah satu metode pengobatan utama untuk depresi. Terapi ini melibatkan sesi tatap muka antara pasien dengan psikolog atau psikiater untuk membicarakan perasaan, pikiran, dan pola perilaku yang dialami pasien. Melalui psikoterapi, diharapkan pasien dapat mengenali pola pikir negatif yang memicu depresi. Mengembangkan cara berpikir yang lebih sehat, dan meningkatkan kemampuan mengatasi stres serta masalah sehari-hari.
- Pemberian obat-obatan – Dokter juga dapat memberikan obat antidepresan untuk membantu mengatasi gejala depresi. Antidepresan bekerja dengan cara menyeimbangkan zat kimia dalam otak yang mengatur perasaan. Berikut ini adalah contoh jenis antidepresan yang umum diresepkan; pemilihan obat dan dosis sepenuhnya merupakan kewenangan dokter. Beberapa jenis obat antidepresan yang dapat diresepkan oleh dokter adalah: SSRI, seperti fluoxetine; SNRIs, contohnya duloxetine dan venlafaxine; Antidepresan trisiklik (TCA), misalnya amitriptyline; Antidepresan tetrasiklik, misalnya maprotiline; Antidepresan atipikal, seperti mirtazapine; Obat antidepresan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk bekerja dan meredakan gejala depresi. Umumnya, obat ini harus dikonsumsi selama beberapa bulan tergantung kebutuhan, dan penting untuk diingat bahwa jangan menambah, mengurangi, atau menghentikan konsumsi obat antidepresan tanpa anjuran dokter. Jika diperlukan, dokter dapat mempertimbangkan untuk mengubah dosis, sesuai dengan kondisi pasien dan responsnya terhadap terapi. Adapun pengurangan dosis harus dilakukan secara bertahap. Berhenti mengonsumsi obat secara tiba-tiba dapat menyebabkan gejala depresi muncul kembali atau malah memperburuk keluhan.
- ECT & TMS – ECT (Electroconvulsive therapy) atau TMS (Transcranial Magnetic Stimulation) dapat disarankan oleh dokter untuk diterapkan pada pasien, apabila metode sebelumnya belum efektif meredakan depresi, atau pada kondisi tertentu yang membutuhkan penanganan cepat (misalnya depresi berat dengan risiko bunuh diri tinggi, depresi dengan gejala psikotik, atau katatonia). Kedua metode tersebut dapat membantu menstabilkan suasana hati dan mengurangi gejala depresi. Perlu diketahui bahwa ECT dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan memori jangka pendek dan kebingungan sementara, sedangkan TMS umumnya menimbulkan efek samping ringan seperti sakit kepala dan ketidaknyamanan pada kulit kepala. Dokter akan menjelaskan manfaat dan risiko sebelum tindakan dilakukan.
- Dukungan Keluarga dan Lingkungan Komunitas – Selain pengobatan medis, dukungan keluarga, komunitas yang baik dan mendukung, pola hidup sehat, dan pengelolaan stres, juga sangat penting untuk mempercepat pemulihan. Pada kasus depresi berat atau ketika pasien memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri, perawatan di rumah sakit biasanya diperlukan agar kondisi pasien lebih terpantau dan tetap aman.
III. Kesembuhan dari Allah
1. Kesembuhan melalui Iman dan Terapi Kedokteran
Tuhan Allah kita bisa saja menyembuhkan seseorang yang terkena Depresi atau Gangguan Kecemasan lain, dengan cara mempertemukannya dengan Dokter atau Tenaga Medis yang ditunjuk-Nya. Dokter dan Tenaga Medis diperkenankan Tuhan menjadi saluran kesembuhan bagi orang yang terkena serangan kecemasan seperti itu. Proses terapi dan pengobatan dokter bisa saja telah melalui pengujian ilmiah yang panjang, namun keterbukaan dan keterlibatan pasien juga sangat menentukan kesembuhan, walaupun bukan satu-satunya faktor. Jika pengobatan belum berhasil, itu tidak otomatis berarti pasien kurang terbuka, kurang beriman, atau kurang berusaha.
Dalam ilmu kesehatan mental, ada yang namanya konsep therapeutic alliance, yaitu hubungan kerja sama dan kepercayaan antara pasien dan tenaga kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas relasi terapeutik berhubungan yang bermakna dengan hasil psikoterapi. Pada pasien dengan depresi, kualitas hubungan terapeutik juga ditemukan berkaitan dengan hasil pengobatan yang lebih baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses penyembuhan bukan hanya persoalan mengenai obat apa yang diberikan atau metode terapi apa yang digunakan. Keterlibatan pasien, hubungan yang baik dengan tenaga kesehatan, harapan terhadap terapi, serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan juga merupakan bagian penting dari perjalanan pemulihan.
Jadi dalam perspektif iman, kesadaran batin seseorang untuk datang kepada Tuhan dan memohon pertolongan memiliki tempat yang penting. Doa merupakan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan dan pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan-Nya. Namun, doa tidak harus dipertentangkan dengan pengobatan. Justru, seseorang dapat berdoa memohon kesembuhan sambil menerima dengan rendah hati pertolongan yang Tuhan berikan melalui berbagai sarana.
Penelitian mengenai placebo (zat atau tindakan tanpa kandungan medis aktif yang diberikan untuk memicu perbaikan kondisi pasien melalui kekuatan keyakinan dan harapan) dan nocebo (kondisi ketika seseorang merasakan sakit atau efek samping negatif akibat keyakinan atau pikiran negatif, padahal zat atau pengobatan yang diterima sebenarnya tidak berbahaya atau tidak memiliki kandungan aktif yang menyebabkan efek tersebut), juga menunjukkan bahwa harapan dan ekspektasi seseorang dapat memengaruhi pengalaman serta responsnya terhadap intervensi kesehatan. Hal ini bukan berarti bahwa depresi atau gangguan kecemasan hanyalah “ada di dalam pikiran”. Sebaliknya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor psikologis, konteks pengobatan, harapan, dan berbagai mekanisme psikobiologis dapat berinteraksi dengan proses penyembuhan.
Dalam konteks kerohanian, sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara religiusitas—yaitu tingkat ketaatan dan penghayatan seseorang terhadap ajaran agama dalam keyakinan, ibadah, dan perilaku sehari-hari—serta spiritualitas—yaitu kesadaran batin dalam menemukan makna hidup dan keterhubungan dengan Tuhan, sesama, diri, dan alam—dengan kondisi kesehatan mental yang lebih baik pada sebagian orang. Namun, temuan tersebut tidak berarti bahwa religiusitas atau spiritualitas secara langsung menyebabkan seseorang sembuh dari depresi atau gangguan kecemasan. Perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian ini bersifat observasional, sehingga hubungan yang ditemukan adalah korelasi, bukan kausalitas. Pengaruhnya dapat berbeda pada setiap individu, dan dalam keadaan tertentu, pergumulan religius atau spiritual yang berat justru dapat berkaitan dengan kondisi psikologis yang lebih buruk.
Oleh sebab itu, kita perlu berhati-hati untuk tidak mengatakan bahwa seseorang yang berdoa pasti akan sembuh secara medis, atau sebaliknya, bahwa seseorang yang belum mengalami kesembuhan berarti kurang beriman. Kesimpulan seperti itu tidak dapat dibenarkan hanya berdasarkan evidence ilmiah dan berpotensi menambah beban psikologis maupun spiritual bagi orang yang sedang mengalami penderitaan.
Yang lebih tepat adalah memahami bahwa, dalam perspektif iman, Tuhan merupakan sumber pengharapan dan pertolongan. Pada saat yang sama, pertolongan tersebut dapat hadir melalui berbagai sarana, termasuk dokter, psikolog, obat-obatan, psikoterapi, keluarga, dan komunitas. Dengan demikian, iman kepada Tuhan dan upaya memperoleh pertolongan profesional tidak perlu dipertentangkan, tetapi dapat berjalan bersama dalam proses pemulihan seseorang.
2. Iman dan Terapi Kedokteran Tidak Perlu Dipertentangkan
Proses terapi dan pengobatan dokter dapat saja telah melalui penelitian ilmiah yang panjang dan memiliki evidence yang kuat. Namun, keberhasilan pengobatan juga dipengaruhi oleh keterlibatan pasien dalam proses tersebut. Karena itu, seseorang yang sedang menjalani pengobatan perlu memiliki keterbukaan untuk menerima pertolongan, kemauan untuk bekerja sama dengan tenaga kesehatan, serta kesediaan untuk menjalani proses terapi dengan tekun.
Dalam bahasa iman, kita dapat mengatakan bahwa orang tersebut membuka dirinya terhadap pertolongan Tuhan. Ia datang kepada Tuhan dalam doa, tetapi pada saat yang sama ia juga bersedia menerima pertolongan yang Tuhan hadirkan melalui manusia dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, berdoa kepada Tuhan dan pergi kepada dokter bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan. Seseorang dapat melakukan keduanya. Ia dapat memohon kesembuhan kepada Tuhan sambil menjalani pengobatan dengan sungguh-sungguh.
Kesembuhan dari Tuhan tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang terjadi secara ajaib dan seketika. Kesembuhan dapat pula berlangsung melalui sebuah proses yang panjang: melalui dokter yang tepat, obat yang tepat, psikoterapi yang tepat, dukungan keluarga, perubahan pola hidup, lingkungan yang sehat, dan ketekunan orang tersebut dalam menjalani proses pemulihan. Bahkan, apabila kita melihatnya dari sudut pandang iman, kita tidak perlu memisahkan semua hal tersebut dari karya Tuhan. Kita dapat memandang ilmu pengetahuan, tenaga kesehatan, dan berbagai bentuk pertolongan yang tersedia sebagai bagian dari pemeliharaan Tuhan terhadap manusia.
3. Kesembuhan sebagai Sebuah Proses
Karena itu, pernyataan bahwa “proses kesembuhan dimulai dari permohonan kepada Tuhan untuk disembuhkan” dapat dipahami terutama sebagai sebuah pernyataan iman. Ia bukan berarti bahwa doa menggantikan pengobatan medis, melainkan bahwa orang percaya menempatkan seluruh proses pemulihannya di hadapan Tuhan. Doa bukanlah syarat yang harus dipenuhi sebelum kesembuhan datang, melainkan ungkapan penyerahan diri yang menyertai langkah-langkah pemulihan.
Dari sana, ia dapat melangkah dengan iman: berdoa, mencari pertolongan profesional, menjalani terapi, meminum obat sesuai petunjuk dokter, menerima dukungan orang-orang terdekat, dan terus berusaha menjalani kehidupannya dengan baik.
Dengan demikian, kita tidak perlu mempertentangkan “kesembuhan dari Tuhan” dengan “kesembuhan melalui dokter”. Bagi orang percaya, keduanya dapat ditempatkan dalam satu kerangka pemahaman: Tuhan adalah sumber pertolongan, sedangkan dokter, psikolog, tenaga medis, ilmu pengetahuan, dan berbagai sarana lainnya dapat menjadi alat yang dipakai-Nya dalam perjalanan pemulihan.
Pada akhirnya, orang yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan tidak perlu merasa bahwa ia harus memilih antara beriman dan berobat. Ia dapat melakukan keduanya. Ia dapat berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon pertolongan dan kesembuhan kepada Tuhan, sekaligus dengan rendah hati menerima pertolongan melalui ilmu pengetahuan dan tenaga kesehatan yang tersedia.
4. Mengapa Tidak Semua Orang yang Berdoa Disembuhkan Langsung?
Berbagai penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara kualitas relasi proses pengobatan dan hasil psikoterapi, keterlibatan dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, serta harapan dan ekspektasi, berhubungan dengan respons terhadap intervensi kesehatan. Penelitian mengenai religiusitas dan spiritualitas juga menunjukkan bahwa dimensi spiritual dapat memiliki hubungan dengan kesehatan mental, meskipun pengaruhnya berbeda-beda pada setiap individu.
Kesembuhan ilahi secara ajaib dapat terjadi, demikian pula kesembuhan melalui pengobatan medis. Namun, kita perlu berhati-hati: temuan-temuan penelitian tidak membuktikan bahwa doa secara langsung menggantikan pengobatan medis, atau bahwa setiap orang yang berdoa pasti mengalami kesembuhan. Doa dan pengobatan medis tidak perlu dipertentangkan; keduanya dapat dipandang sebagai sarana yang dipakai Allah dalam kasih-Nya. Bukti-bukti itu justru menolong kita melihat manusia secara utuh: bukan hanya sebagai tubuh yang harus diobati, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki pikiran, emosi, harapan, relasi, dan—bagi orang percaya—kehidupan spiritual.
5. Datanglah kepada Allah Sebagai Sumber Harapan
Maleakhi 4:2 Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.
Matius 11:28-29 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Mazmur 118:5 Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan.Lukas 9:11 Akan tetapi orang banyak mengetahuinya, lalu mengikuti Dia. Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan.
Matius 19:2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.
Matius 8:7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.
Lukas 14:4 Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.
Lukas 6:19 Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Yer 30:17 Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, sebab mereka telah menyebutkan engkau: orang buangan, yakni sisa yang tiada seorangpun menanyakannya.
IV. Renungan
- Bagaimana keadaan Anda sekarang, apakah merasa dalam tekanan mental? Mungkin Anda sedang menghadapi masalah yang berat, sakit penyakit, kecelakaan, musibah, bencana alam atau kejadian lain yang menyebabkan Anda merasa di depan ada jalan buntu? Apa yang sudah Anda lakukan dalam menghadapi keadaan tersebut?
- Apakah Anda pernah terlibat dalam pengobatan medis untuk kejiwaan? Bagaimana progres pengobatan yang dilakukan, apakah menunjukkan keadaan yang meningkat?
- Bagaimana Anda memahami kehadiran Tuhan di tengah pergumulan ini? Apakah ada momen di mana Anda merasakan penghiburan-Nya, meskipun keadaan belum berubah? Atau apa menurut Anda penyebab semuanya terjadi?
- Bagaimana firman Tuhan Mazmur 143:8 berbicara bagi Anda? Benarkah Allah itu memberi pengharapan yang sejati bagi orang yang berharap pada-Nya?
V. Doa
Ya Tuhan Allah Maha Kuasa yang bertakhta atas Alam Semesta. Hambamu menghadap saat ini dalam keadaan yang kurang baik. Batin hamba menderita dan penuh dengan kesedihan. Seperti doa Raja Daud yang memohon pertolongan, demikian pula hambamu ini memohon pertolongan dari-Mu ya Allah. Mohon kiranya segera bertindak ya Allah, kirimkanlah penghiburan-Mu bagi kami yang menderita ini.
Kiranya Allah mengabulkan permohonan kami ini. Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.
TUHAN adalah bagianku,’ kata jiwaku,
oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
TUHAN adalah baik bagi orang
yang berharap kepada-Nya,
bagi jiwa yang mencari Dia.
Adalah baik bagi seorang berdiam diri
dan menanti pertolongan TUHAN.
Ratapan 3:24–26
Amin.
Referensi Ilmiah
- Flückiger, C., Del Re, A. C., Wampold, B. E., & Horvath, A. O. (2018). The Alliance in Adult Psychotherapy: A Meta-Analytic Synthesis. Psychotherapy.
- Webb, C. A., DeRubeis, R. J., & Barber, J. P. (2010). Therapeutic Alliance in Cognitive-Behavioral Therapy for Depression: A Systematic Review and Meta-Analysis. Journal of Consulting and Clinical Psychology.
- Kelley, J. M., Kraft-Todd, G., Schapira, L., Kossowsky, J., & Riess, H. (2014). The Influence of the Patient-Clinician Relationship on Healthcare Outcomes: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. PLOS ONE.
- Gonçalves, J. P. B., Lucchetti, G., Menezes, P. R., & Vallada, H. (2015). Religious and Spiritual Interventions in Mental Health Care: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Clinical Trials. Psychological Medicine.
- Braam, A. W., et al. (2019). Religion and depression: A systematic review and meta-analysis. Journal of Affective Disorders.
Catatan: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis, konsultasi, psikoterapi, atau pengobatan dari tenaga kesehatan profesional. Doa dan iman dapat berjalan bersama dengan pertolongan medis, bukan menggantikannya.
Catatan Pastoral: Jika artikel ini membangkitkan luka, keputusasaan, atau pikiran untuk menyakiti diri, jangan hadapi sendiri. Bicarakan dengan pendeta, konselor, atau tenaga kesehatan mental yang tepercaya. Anda tidak sendirian.

