
Edisi 5 tentang “Sejarah Pekabaran Injil: Dari Naskah ke Kanon Part 2” Seri Kitab Injil
By Febrian — 20 Agustus 2026 04:28 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Setelah kita mempelajari edisi sebelumnya yaitu bagaimana mulai dilakukannya proses pekabaran injil melalui tulisan, maka sekarang kita akan membahas proses pekabaran Injil dari Naskah ke Kanon. Kiranya kita bisa mendapat hikmat dan pengetahuan untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.
Sejarah Pekabaran Injil:
Dari Naskah ke Kanon (Part 2)(Perjalanan menuju Alkitab Perjanjian Baru)
IV. KITAB-KITAB YANG SEMPAT DIPERDEBATKAN
Sebagian besar dari 27 kitab Perjanjian Baru telah diterima secara luas oleh berbagai jemaat sejak masa yang relatif awal. Keempat Injil, Kisah Para Rasul, dan sebagian besar surat Paulus, misalnya, memiliki penerimaan yang kuat dalam tradisi gereja mula-mula. Namun, tidak semua kitab memperoleh tingkat penerimaan yang sama sejak awal. Beberapa tulisan mengalami perdebatan yang lebih panjang mengenai asal-usul, kepengarangan, penggunaan di berbagai jemaat, atau kesesuaiannya dengan tradisi iman yang telah diterima. Kitab-kitab tersebut adalah Surat Ibrani, Surat Yakobus, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Surat Yudas, serta Kitab Wahyu.
1. Surat Ibrani: Pengarang yang tidak diketahui
Surat Ibrani merupakan salah satu kitab yang paling menarik dalam persoalan kanon karena nama penulisnya tidak disebutkan di dalam surat tersebut. Pada masa awal, beberapa tokoh gereja menghubungkannya dengan Rasul Paulus, sedangkan sebagian lainnya tidak yakin mengenai siapa penulisnya. Perbedaan pendapat mengenai kepengarangan ini turut memengaruhi penerimaannya di beberapa wilayah. Meskipun demikian, Surat Ibrani akhirnya diterima secara luas karena isinya dianggap selaras dengan iman Kristen dan memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi rasuli. Dalam perkembangan selanjutnya, surat ini termasuk dalam daftar 27 kitab Perjanjian Baru yang dicantumkan oleh Athanasius pada tahun 367 M. (New Advent)
2. Surat Yakobus: Hubungan dengan Ajaran Rasul Paulus
Surat Yakobus juga mengalami perdebatan, salah satunya karena pernyataannya mengenai iman dan perbuatan yang sekilas tampak berbeda dengan ajaran Rasul Paulus mengenai pembenaran oleh iman. Rasul Paulus menegaskan bahwa manusia dibenarkan karena iman dan bukan karena melakukan hukum Taurat (Roma 3:28; Galatia 2:16), sedangkan Surat Yakobus mengatakan bahwa “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yakobus 2:24). Perbedaan ungkapan ini kemudian menimbulkan pertanyaan apakah keduanya mengajarkan hal yang bertentangan.
Namun, jika diperhatikan dalam konteks masing-masing, Rasul Paulus dan Surat Yakobus sebenarnya sedang menanggapi persoalan yang berbeda. Rasul Paulus menentang pemahaman bahwa seseorang dapat memperoleh pembenaran di hadapan Allah dengan mengandalkan perbuatan hukum Taurat. Sebaliknya, Surat Yakobus menegur orang yang mengaku memiliki iman tetapi tidak menunjukkan iman tersebut melalui perbuatan nyata dalam kehidupannya. Dengan kata lain, Rasul Paulus menekankan bahwa perbuatan bukan dasar seseorang dibenarkan, sedangkan Surat Yakobus menekankan bahwa iman yang benar tidak mungkin berhenti pada pengakuan tanpa menghasilkan perbuatan.
Perbedaan ini dapat dilihat dari penekanan masing-masing. Rasul Paulus berbicara tentang bagaimana seseorang memperoleh pembenaran di hadapan Allah, sedangkan Surat Yakobus berbicara tentang bagaimana iman yang benar dapat dikenali dalam kehidupan seseorang. Karena itu, ketika Surat Yakobus mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, yang dimaksud bukan bahwa manusia membeli keselamatan dengan perbuatannya, melainkan bahwa iman yang benar seharusnya menghasilkan kehidupan yang nyata dan dapat dilihat. Dengan pemahaman ini, pernyataan Rasul Paulus dan Surat Yakobus tidak harus dianggap sebagai pertentangan, melainkan sebagai dua penekanan yang berbeda mengenai hubungan antara iman dan perbuatan, konteksnya berbeda.
Perdebatan mengenai Surat Yakobus pada masa awal lebih berkaitan dengan penerimaan, peredaran, dan asal-usulnya di berbagai jemaat daripada semata-mata persoalan hubungan dengan ajaran Rasul Paulus. Pada awal abad keempat, Eusebius mencatat Surat Yakobus sebagai salah satu tulisan yang diperdebatkan, tetapi dikenal dan diakui oleh banyak orang.
3. Surat ke-2 Rasul Petrus: Penerimaan yang Lebih Lambat
Surat ke-2 Rasul Petrus merupakan salah satu kitab Perjanjian Baru yang mengalami perdebatan paling panjang mengenai kepengarangan dan status kanoniknya. Berbeda dengan Surat ke-1 Rasul Petrus yang sejak masa awal diterima secara luas dan digunakan oleh para penulis gereja terdahulu, kesaksian awal mengenai Surat ke-2 Rasul Petrus jauh lebih terbatas. Salah satu alasan utama munculnya keraguan adalah bahwa surat ini tidak banyak dikutip atau disebut secara jelas oleh penulis Kristen awal. Karena itu, gereja-gereja pada masa awal tidak segera mencapai kesepakatan mengenai apakah surat tersebut benar-benar berasal dari Rasul Petrus. (Bible.org)
Persoalan kepengarangan menjadi semakin penting karena Surat ke-2 Rasul Petrus sendiri menyatakan bahwa penulisnya adalah Simon Petrus, hamba dan rasul Tuhan Yesus Kristus (2 Petrus 1:1), bahkan menyebut dirinya sebagai saksi mata kemuliaan Tuhan Yesus (2 Petrus 1:16–18). Namun, beberapa pembaca pada masa awal mempertanyakan apakah surat tersebut benar-benar ditulis oleh Rasul Petrus. Salah satu alasan yang kemudian diperhatikan adalah perbedaan gaya bahasa dengan Surat ke-1 Rasul Petrus. Selain itu, terdapat perbedaan dalam pilihan kata dan cara penyampaian sehingga hubungan kepengarangan kedua surat tersebut menjadi bahan perdebatan. (Bible Gateway)
Kesaksian penting datang dari Origenes pada abad ketiga. Origenes menerima Surat ke-1 Rasul Petrus sebagai tulisan yang tidak diperdebatkan, tetapi mengenai Surat ke-2 Rasul Petrus ia menyatakan bahwa kepengarangannya masih dipersoalkan. Kesaksian ini menunjukkan bahwa pada sekitar awal hingga pertengahan abad ketiga, Surat ke-2 Rasul Petrus sudah dikenal dan dibaca, tetapi belum memiliki tingkat penerimaan yang sama dengan Surat ke-1 Rasul Petrus. Ada pula indikasi bahwa beberapa penulis Kristen awal mungkin mengenal atau menggunakan gagasan yang terdapat dalam surat tersebut, tetapi bukti bahwa mereka mengutipnya secara langsung sebagai tulisan Rasul Petrus tidak selalu dapat dipastikan. (Christianity Today)
Situasi tersebut terlihat jelas dalam catatan Eusebius dari Kaisarea pada awal abad keempat. Dalam Church History 3.25, Eusebius menempatkan Surat ke-2 Rasul Petrus di antara tulisan yang diperdebatkan tetapi tetap dikenal dan diakui oleh banyak orang. Eusebius tidak menempatkannya bersama kitab-kitab yang penerimaannya sudah tidak dipersoalkan, tetapi juga tidak menyamakannya dengan tulisan-tulisan yang dianggap palsu dan ditolak secara luas. Dengan demikian, posisi Surat ke-2 Rasul Petrus pada masa Eusebius berada di tengah: penggunaannya sudah cukup luas sehingga tidak dapat begitu saja diabaikan, tetapi sejarah penerimaan dan kepengarangannya masih menimbulkan pertanyaan. (Wikisource)
Hal ini menunjukkan bagaimana proses pengujian terhadap suatu tulisan berlangsung. Gereja tidak hanya melihat nama yang tercantum pada tulisan, tetapi juga mempertimbangkan apakah tulisan tersebut telah dikenal sejak masa awal, bagaimana penerimaannya di berbagai jemaat, apakah terdapat kesaksian dari penulis Kristen terdahulu, serta apakah isinya sesuai dengan iman yang telah diwariskan. Dalam kasus Surat ke-2 Rasul Petrus, lemahnya kesaksian awal membuat proses penerimaannya lebih lambat dibandingkan beberapa kitab lainnya. Namun, tulisan tersebut tetap digunakan dan dianggap bermanfaat oleh sebagian besar komunitas Kristen yang mengenalnya. (Wikisource)
Pada akhirnya, Surat ke-2 Rasul Petrus termasuk dalam daftar 27 kitab Perjanjian Baru yang diterima secara luas. Surat Paskah Athanasius pada tahun 367 M mencantumkannya bersama kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Dengan demikian, sejarah Surat ke-2 Rasul Petrus memperlihatkan bahwa sebuah kitab tidak selalu langsung diterima secara seragam oleh seluruh gereja. Ada tulisan yang sejak awal memperoleh penerimaan luas, sementara tulisan lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk diuji dan diterima. Justru proses tersebut memperlihatkan bahwa pengakuan kanon berlangsung melalui proses sejarah yang bertahap, bukan melalui satu keputusan yang dibuat secara tiba-tiba.
4. Surat ke-2 dan 3 Yohanes: Tulisan Pendek dan Identitas Penulis

Surat ke-2 dan 3 Yohanes mempunyai persoalan tersendiri dalam proses penerimaan kanon Perjanjian Baru. Berbeda dengan surat-surat Paulus yang biasanya menyebut nama penulisnya secara jelas, kedua surat ini diawali dengan sebutan ὁ πρεσβύτερος (ho presbyteros), yang berarti “penatua” atau “orang yang dituakan”. Penulis tidak menyebut dirinya “Rasul Yohanes”. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan: apakah “penatua” tersebut adalah Rasul Yohanes, atau seorang pemimpin gereja lain bernama Yohanes yang hidup di Asia Kecil?
Persoalan tersebut menjadi semakin menarik karena terdapat kesaksian awal mengenai kemungkinan adanya dua orang bernama Yohanes di wilayah Asia:
-
-
Rasul Yohanes disebut oleh Papias, Uskup Hierapolis, dalam sebuah daftar bersama Rasul Petrus, Rasul Yakobus, Rasul Andreas, Rasul Filipus, Rasul Tomas, dan Rasul Matius, yaitu para rasul dan murid Tuhan Yesus. Dalam bagian ini, Yohanes tampaknya ditempatkan di antara para rasul.
-
Namun, dalam bagian lain, Papias juga menyebut Aristion dan “penatua Yohanes” (ὁ πρεσβύτερος Ἰωάννης). Di sini Yohanes disebut secara berbeda dan ditempatkan di luar daftar para rasul. Eusebius, Uskup Kaisarea, yang mengutip kesaksian Papias, memperhatikan perbedaan tersebut dan berpendapat bahwa Papias sedang berbicara tentang dua orang bernama Yohanes. Eusebius bahkan menyebut adanya dua makam di Efesus yang pada zamannya sama-sama dikenal sebagai makam Yohanes.
-
Dari sinilah muncul persoalan yang bersejarah berkaitan dengan Surat ke-2 dan ke-3 Yohanes. Karena kedua surat tersebut menyebut penulisnya hanya sebagai “penatua”, sebagian penafsir pada zaman kemudian menghubungkannya dengan tokoh yang disebut Papias sebagai “penatua Yohanes”. Namun, hal ini tidak dapat dianggap sebagai fakta yang sudah pasti.
Irenaeus, Uskup Lyon, yang hidup lebih awal daripada Eusebius dan mempunyai hubungan dengan tradisi Asia melalui Polikarpus, Uskup Smirna, memahami tradisi Yohanes secara berbeda dan menghubungkan tradisi tersebut dengan Rasul Yohanes. Karena itu, identitas “penatua Yohanes” tetap menjadi salah satu persoalan sejarah yang tidak dapat diselesaikan hanya berdasarkan satu kesaksian.
Selain persoalan nama penulis, faktor lain yang memengaruhi penerimaan kedua surat ini adalah sifatnya yang sangat pendek dan khusus. Surat ke-2 Yohanes hanya terdiri dari 13 ayat, sedangkan Surat ke-3 Yohanes hanya 14 ayat. Keduanya juga tidak berbentuk surat kepada seluruh gereja secara umum. Surat ke-2 Yohanes ditujukan kepada “Ibu yang terpilih dan anak-anaknya”, sedangkan Surat ke-3 Yohanes ditujukan secara pribadi kepada Gayus. Isi yang sangat spesifik seperti ini membuat kedua surat tersebut kemungkinan tidak beredar seluas Injil Yohanes atau 1 Yohanes. Akibatnya, bukti mengenai penggunaannya oleh gereja-gereja awal juga lebih sedikit.
Hal tersebut tercermin dengan jelas dalam kesaksian Eusebius dari Kaisarea pada awal abad ke-4. Ketika mengelompokkan tulisan-tulisan Kristen awal, Eusebius membedakan antara tulisan yang diterima secara luas dan tulisan yang masih diperdebatkan. Ia memasukkan Surat ke-2 dan Surat ke-3 Yohanes ke dalam kelompok tulisan yang “diperdebatkan, tetapi diakui oleh banyak orang”. Eusebius secara khusus menyatakan bahwa masih terdapat pertanyaan apakah kedua surat tersebut berasal dari “penginjil” Yohanes atau dari orang lain yang mempunyai nama yang sama.
Namun, “diperdebatkan” tidak berarti bahwa kedua surat tersebut dianggap palsu atau tidak berguna. Istilah tersebut menggambarkan bahwa penerimaannya belum seragam di seluruh gereja. Bahkan sebelum Eusebius, Origen dari Aleksandria sudah mengetahui keberadaan Surat ke-2 dan Surat ke-3 Yohanes, tetapi mencatat bahwa tidak semua orang menerima keasliannya. Dionysius dari Aleksandria kemudian juga membahas persoalan bahwa penulis kedua surat tersebut tidak menyebut namanya sendiri, melainkan hanya menyebut dirinya “penatua”. Dengan demikian, perdebatan mengenai kedua surat ini bukan muncul tiba-tiba pada zaman Eusebius, tetapi merupakan bagian dari proses penilaian yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Ada pula alasan yang mendukung hubungan kedua surat ini dengan tradisi Yohanes. Kesamaan bahasa, gaya, dan gagasan antara Surat ke-2 Yohanes, Surat ke-3 Yohanes, dan Surat Pertama Yohanes sangat kuat. Ketiganya menggunakan sejumlah istilah dan pola pemikiran yang khas, terutama mengenai kebenaran, kasih, perintah, kehidupan dalam iman, serta bahaya ajaran yang menyimpang. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah Surat ke-2 dan Surat ke-3 Yohanes “muncul dari tradisi Yohanes”, melainkan lebih khusus lagi: siapakah Yohanes yang menjadi sumber langsung kedua surat tersebut? Pertanyaan inilah yang membuat kedua surat tersebut berbeda dari tulisan-tulisan yang sejak awal memiliki identitas penulis yang lebih mudah ditelusuri.
Dalam perkembangan berikutnya, kedudukan kedua surat tersebut semakin jelas. Athanasius, Uskup Aleksandria, dalam Festal Letter ke-39 pada tahun 367 M, mencantumkan tiga surat Yohanes sebagai bagian dari kitab-kitab Perjanjian Baru. Dengan demikian, Surat ke-2 dan Surat ke-3 Yohanes akhirnya berada dalam daftar yang sama dengan Surat Pertama Yohanes, keempat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus, dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya.
Perjalanan Surat ke-2 dan Surat ke-3 Yohanes memperlihatkan bahwa penerimaan sebuah tulisan sebagai bagian dari kanon tidak selalu berlangsung serentak di seluruh gereja. Kedua surat ini menghadapi pertanyaan mengenai identitas penulis, peredaran yang relatif terbatas, serta bentuknya yang sangat singkat dan bersifat pribadi. Namun, secara bertahap keduanya tetap diterima dalam tradisi gereja yang lebih luas. Karena itu, sejarah Surat ke-2 dan Surat ke-3 Yohanes menjadi contoh penting bahwa proses pembentukan kanon Perjanjian Baru berlangsung melalui pengenalan, penggunaan, penilaian, dan penerimaan yang berkembang dari satu generasi gereja ke generasi berikutnya.
5. Surat Yudas: Persoalan Penerimaan dan Penggunaan Sumber
Surat Yudas agak sulit diterima secara luas, berkaitan dengan identitas penulis, peredaran surat yang terbatas, serta penggunaan tradisi Yahudi di luar kumpulan kitab kanon lainnya. Eusebius, Uskup dari Kaisarea, pada awal abad ke-4 mengelompokkan Surat Yudas ke dalam tulisan masih menjadi perdebatan, sekalipun telah dikenal dan diterima oleh banyak gereja, bersama-sama dengan Surat Yakobus, Surat ke-2 Petrus, serta Surat ke-2 dan Surat ke-3 Yohanes.
Ada satu ayat yaitu Yudas 1:14–15, disebut bahwa Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, dan menyampaikan nubuat mengenai kedatangan Tuhan untuk melaksanakan penghakiman. Isi bagian tersebut mirip dengan tulisan dalam ayat 1 Henokh 1:9 (bagian dari karya Yahudi apokaliptik yang sekarang dikenal sebagai 1 Henokh). Jadi penelitian para ahli modern masih terus memperdebatkan apakah penulis kitab Yudas mengutip langsung teks 1 Henokh atau menggunakan tradisi Henokh yang telah beredar, dalam bentuk lain.
Hal lain yang menajdi masalah adalah, bahwa 1 Henokh tidak diterima sebagai bagian dari kanon Perjanjian Lama oleh sebagian besar gereja. Sehingga muncul pertanyaan, jika penulis Yudas betul mengutip 1 Henokh, kitab Yudas bisa dianggap sebagai Kitab Suci? Dalam dunia kuno, seorang penulis dapat menggunakan suatu sumber karena mengandung pernyataan yang dianggap benar, tanpa harus memberikan status kanonik kepada seluruh karya tersebut. Sebaliknya, kutipan Yudas terhadap 1 Henokh tidak dengan sendirinya memperkuat anggapan bahwa seluruh 1 Henokh dipandang sebagai Kitab Suci oleh penulis Yudas. Para peneliti juga membedakan antara penggunaan suatu sumber sebagai kesaksian yang dianggap benar dan pengakuan terhadap keseluruhan karya sebagai bagian dari kanon.
Menariknya, Yudas tampaknya menggunakan lebih dari satu tradisi yang berada di luar kitab-kitab Perjanjian Lama yang kemudian menjadi kanonik. Dalam Yudas 9 terdapat kisah mengenai Mikhael, penghulu malaikat, yang berselisih dengan Iblis mengenai tubuh Musa. Kisah tersebut mempunyai kemiripan dengan tradisi yang dikenal dari karya yang biasa disebut Assumption of Moses atau Testament of Moses, meskipun hubungan tekstualnya tidak dapat dipastikan sepenuhnya karena bagian yang relevan dari karya tersebut tidak lagi tersedia secara lengkap. Jadi, Yudas memberikan contoh penting tentang bagaimana penulis Kristen awal dapat menggunakan berbagai tradisi Yahudi yang dikenal oleh pembacanya untuk memperkuat argumentasi teologisnya.
Penggunaan tradisi tersebut justru membantu menjelaskan mengapa Surat Yudas menjadi menarik dalam sejarah kanon. Persoalan utamanya bukan sekadar apakah Yudas menggunakan sumber di luar Kitab Suci, melainkan bagaimana gereja kemudian menilai otoritas Surat Yudas itu sendiri. Terbatasnya kesaksian dan penggunaannya di berbagai gereja, lebih menyebabkan banyaknya keraguan terhadap kitab Yudas, daripada semata-mata karena kutipan dari 1 Henokh. Dengan kata lain, keberadaan kutipan dari karya non-kanonik tidak otomatis menjadi alasan utama bagi gereja mula-mula untuk menolak Yudas.
Pada akhir abad ke-4, kalangan para penulis Kristen semakin sering membahas hubungan kitab Yudas dengan 1 Henokh. Salah satunya adalah Hieronimus, seorang Imam dan Teolog, yang mengetahui bahwa sebagian orang menolak Surat Yudas karena surat tersebut menggunakan kitab Henokh, namun ia sendiri tetap menerima Surat Yudas sebagai bagian dari Kitab Suci. Sikap ini menunjukkan adanya pembedaan yang penting: gereja dapat menerima Surat Yudas sebagai bagian dari Kitab Suci, tanpa harus menerima kitab 1 Henokh sebagai kitab kanonik dengan Alkitab Perjanjian Lama.
Dengan demikian, sejarah Surat Yudas memperlihatkan kelayakan diakui sebagai Kitab Suci berdasarkan keseluruhan tulisan: asal-usulnya, kesesuaiannya dengan iman yang diterima gereja, penggunaannya dalam komunitas Kristen, serta penerimaan yang berkembang dari waktu ke waktu. Surat Yudas akhirnya diterima sebagai bagian dari Perjanjian Baru, sementara 1 Henokh tidak memperoleh kedudukan yang sama dalam sebagian besar tradisi gereja. Justru karena itu, Surat Yudas merupakan contoh yang sangat baik bahwa penggunaan sebuah sumber di luar kanon tidak dengan sendirinya menentukan status kanonik tulisan yang menggunakannya.
6. Kitab Wahyu: Diterima, tetapi Juga Diperdebatkan
Kitab Wahyu diterima oleh sejumlah gereja dan penulis Kristen awal sebagai tulisan yang memiliki otoritas dan dikaitkan dengan Rasul Yohanes, walaupun penerimaannya tidak seragam di semua wilayah gereja. Selain persoalan mengenai siapa sebenarnya Yohanes yang menulis kitab tersebut, bahasa apokaliptik yang sangat simbolis juga menimbulkan perbedaan penafsiran.
Kitab Wahyu menggunakan banyak penglihatan, angka, binatang, naga, tanduk, malaikat, dan gambaran tentang penghakiman akhir. Perbedaan dalam memahami simbol-simbol tersebut, terutama mengenai pemerintahan seribu tahun dalam Wahyu 20:1–6, kemudian turut memengaruhi cara berbagai kalangan Kristen memahami dan menilai kitab ini.
a. Kesaksian Awal: Yustinus Martir dan Irenaeus
Salah satu kesaksian awal yang penting berasal dari Yustinus Martir pada abad ke-2. Dalam karyanya Dialog dengan Trypho, Yustinus menyebut Kitab Wahyu dan menghubungkan penulisnya dengan Rasul Yohanes. Ia juga menggunakan bagian yang berkaitan dengan pemerintahan seribu tahun sebagaimana terdapat dalam Wahyu 20:1–6.
Kesaksian ini penting karena menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-2, Kitab Wahyu sudah dikenal dan digunakan dalam pembahasan iman Kristen. Pada akhir abad ke-2, Irenaeus, Uskup Lyon, juga menggunakan Kitab Wahyu secara luas dan mengaitkannya dengan Rasul Yohanes. Dengan demikian, terdapat kesaksian yang cukup awal bahwa Kitab Wahyu telah dihargai sebagai tulisan yang memiliki otoritas dalam sebagian gereja.
b. Fragmen Muratori: Wahyu Yohanes dan Wahyu Petrus
Kitab Wahyu juga tampaknya telah diterima di lingkungan gereja Roma pada masa yang relatif awal. Salah satu buktinya terdapat dalam Fragmen Muratori, sebuah daftar kitab Kristen kuno yang umumnya diperkirakan berasal dari akhir abad ke-2.
Dalam daftar tersebut, Wahyu Yohanes dicantumkan sebagai salah satu tulisan yang diterima. Menariknya, daftar yang sama juga menyebut Wahyu Petrus, tetapi memberikan catatan bahwa sebagian orang tidak menghendaki kitab tersebut dibacakan di gereja.
Perbedaan ini menarik karena menunjukkan bahwa sejak masa awal, gereja sudah mulai membedakan berbagai tulisan yang mengaku memiliki hubungan dengan para rasul. Tidak semua tulisan yang menggunakan nama seorang rasul otomatis memperoleh kedudukan yang sama. Gereja mempertimbangkan apakah sebuah tulisan layak dibacakan dan diterima oleh jemaat.
c. Perdebatan tentang Pemerintahan Seribu Tahun
Salah satu perdebatan yang kemudian muncul berkaitan dengan pemerintahan seribu tahun dalam Wahyu 20:1–6. Sebagian orang memahami bagian tersebut secara lebih harfiah dan mengharapkan adanya pemerintahan Kristus di bumi selama seribu tahun. Pandangan seperti ini kemudian dikenal sebagai chiliasme atau milenialisme.
Papias, Uskup Hierapolis, dan kemudian Irenaeus, Uskup Lyon, termasuk tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan penerimaan pandangan mengenai milenium tersebut. Namun, tidak semua pemimpin gereja menerima pemahaman yang sama. Sebagian menilai bahwa gambaran dalam Kitab Wahyu tidak seharusnya dipahami secara harfiah, melainkan secara simbolis.
Dengan demikian, perdebatan mengenai Kitab Wahyu bukan hanya menyangkut apakah kitab tersebut dapat diterima, tetapi juga menyangkut bagaimana isinya harus ditafsirkan. Perbedaan penafsiran terhadap simbol-simbol apokaliptik, khususnya mengenai pemerintahan seribu tahun, menjadi salah satu persoalan yang ikut memengaruhi penerimaan kitab tersebut di berbagai kalangan.
d. Dionisius dan Persoalan Penulis Kitab Wahyu
Salah satu kritik yang paling penting datang dari Dionisius, Uskup Aleksandria, pada abad ke-3. Dionisius tidak sekadar menolak Kitab Wahyu karena tidak menyukainya. Ia melakukan analisis terhadap bahasa dan gaya penulisannya.
Dionisius melihat adanya perbedaan yang cukup besar antara gaya bahasa Kitab Wahyu dengan Injil Yohanes dan 1 Yohanes. Berdasarkan perbedaan tersebut, ia meragukan bahwa ketiganya ditulis oleh orang yang sama. Ia bahkan berpendapat bahwa Kitab Wahyu mungkin ditulis oleh seorang Yohanes lain, bukan Rasul Yohanes.
Namun, hal yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa Dionisius tidak serta-merta menganggap Kitab Wahyu sebagai tulisan palsu atau tidak berharga. Ia mengakui bahwa banyak orang Kristen menghargai kitab tersebut. Kritiknya terutama berkaitan dengan persoalan kepengarangan dan penafsiran.
e. Eusebius: Diterima oleh Sebagian, Diperdebatkan oleh Sebagian
Eusebius, Uskup Kaisarea, yang menulis Sejarah Gereja pada awal abad ke-4, memberikan gambaran penting mengenai keadaan penerimaan Kitab Wahyu pada zamannya. Eusebius mencatat adanya perbedaan pendapat mengenai kitab tersebut.
Di satu sisi, Kitab Wahyu ditempatkan di antara tulisan yang diterima. Di sisi lain, Eusebius juga mencatat bahwa sebagian orang menolaknya, sedangkan sebagian lainnya memasukkannya bersama kitab-kitab yang diterima. Dengan demikian, Eusebius menunjukkan bahwa kedudukan Kitab Wahyu belum sepenuhnya seragam di semua wilayah gereja pada zamannya.
Eusebius juga mencatat kritik yang lebih keras dari beberapa pihak. Ada orang-orang yang menolak Kitab Wahyu dengan alasan bahwa kitab tersebut tidak berasal dari Rasul Yohanes. Mereka bahkan menghubungkannya dengan Cerinthus, seorang tokoh yang ajarannya dianggap menyimpang oleh gereja.
Namun, Eusebius juga mencatat bahwa pandangan tersebut bukanlah satu-satunya tradisi yang beredar. Kesaksian dari penulis Kristen sebelumnya, seperti Yustinus Martir dan Irenaeus, Uskup Lyon, justru memberikan dukungan terhadap hubungan Kitab Wahyu dengan Rasul Yohanes.
f. Dari Perdebatan Menuju Penerimaan yang Lebih Luas
Perjalanan Kitab Wahyu menunjukkan bahwa penerimaan kanon tidak berlangsung dengan pola yang sederhana. Sebuah kitab dapat sangat dihargai di satu wilayah, tetapi dipertanyakan di wilayah lain. Kitab Wahyu memiliki kesaksian awal yang cukup kuat, tetapi kemudian menghadapi perdebatan mengenai kepengarangan, penafsiran, dan penggunaannya dalam gereja.
Pada akhirnya, Kitab Wahyu tetap bertahan dalam kanon Perjanjian Baru. Athanasius, Uskup Aleksandria, dalam Festal Letter ke-39 pada tahun 367 M, mencantumkan Wahyu Yohanes bersama kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya dalam daftar 27 kitab.
Dengan demikian, pada abad ke-4 kedudukan Kitab Wahyu semakin menguat, meskipun perdebatan mengenai penulis dan penafsirannya tidak langsung berhenti.
g. Pelajaran dari Sejarah Kitab Wahyu
Sejarah Kitab Wahyu memberikan gambaran penting mengenai proses pembentukan kanon Perjanjian Baru. Penerimaan kanonik tidak berarti bahwa sebuah kitab tidak pernah diperdebatkan. Kitab Wahyu justru merupakan contoh bahwa sebuah tulisan dapat mengalami perdebatan panjang mengenai penulis, makna, dan penggunaannya, tetapi pada akhirnya tetap diterima sebagai bagian dari Kitab Suci.
Proses tersebut memperlihatkan bahwa gereja mula-mula tidak sekadar mengumpulkan tulisan secara sembarangan. Kesaksian sejarah, penggunaan dalam gereja, hubungan dengan tradisi rasuli, dan kesesuaian dengan iman yang telah diterima semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju penerimaan kanonik.
7. Daftar 27 Kitab Athanasius Tahun 367 M
Perkembangan penting terjadi pada tahun 367 M, ketika Athanasius, Uskup Aleksandria, mencantumkan dalam Festal Letter ke-39 daftar 27 kitab Perjanjian Baru yang sama dengan daftar yang digunakan sekarang. Daftar tersebut mencakup keempat Injil, Kisah Para Rasul, tujuh surat umum, empat belas surat Paulus termasuk Ibrani, dan Kitab Wahyu. Athanasius juga secara tegas membedakan kitab-kitab tersebut dari berbagai tulisan lain yang beredar dan tidak dianggap sebagai Kitab Suci. (New Advent)
Hal ini penting untuk dipahami secara tepat. Tahun 367 M bukan berarti pada tanggal tersebut gereja baru “menciptakan” kanon Perjanjian Baru. Daftar Athanasius merupakan bukti bahwa pada pertengahan abad keempat telah terdapat tingkat kesepakatan yang sangat kuat mengenai 27 kitab tersebut. Dengan demikian, perdebatan mengenai beberapa kitab tidak menunjukkan bahwa seluruh kanon masih belum dikenal, melainkan bahwa tingkat penerimaan masing-masing kitab berkembang secara bertahap sampai akhirnya mencapai kesepakatan yang lebih luas. (Cambridge University Press)
PENUTUP EDISI 5
Pada akhirnya, penerimaan terhadap 27 kitab Perjanjian Baru tidak bergantung pada satu faktor atau satu keputusan dalam suatu waktu tertentu. Gereja mempertimbangkan beberapa hal secara bersama-sama, antara lain hubungan tulisan dengan tradisi rasuli, kesesuaian ajarannya dengan iman yang telah diterima, penggunaan tulisan tersebut dalam kehidupan jemaat, serta kesaksian gereja-gereja lain mengenai penerimaannya. Karena itu, proses kanonisasi berlangsung secara bertahap dan tidak selalu seragam di semua wilayah.
Hal ini juga menjelaskan mengapa beberapa kitab seperti Surat Yakobus, Surat Yudas, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, serta Kitab Wahyu mengalami perdebatan lebih panjang dibandingkan kitab-kitab lain. Sebaliknya, tulisan-tulisan yang sejak awal digunakan secara luas dan diterima oleh banyak gereja memperoleh pengakuan yang lebih cepat. Dengan demikian, perbedaan dalam sejarah penerimaan tidak selalu berarti bahwa sebuah kitab dianggap salah, melainkan menunjukkan bahwa gereja membutuhkan waktu untuk memastikan kedudukan dan otoritasnya.
Karena itu, proses pembentukan kanon Perjanjian Baru lebih tepat dipahami sebagai proses mengenali dan menegaskan tulisan-tulisan yang dipandang membawa kesaksian iman rasuli, bukan sebagai proses menciptakan otoritas baru melalui keputusan satu orang atau satu konsili. Gereja tidak tiba-tiba menciptakan 27 kitab tersebut pada abad ke-4. Sebaliknya, penerimaan yang telah berlangsung selama beberapa generasi akhirnya semakin ditegaskan dalam daftar kanonik, hingga pada tahun 367 M Athanasius, Uskup Aleksandria, mencantumkan tepat 27 kitab yang sekarang dikenal sebagai Perjanjian Baru.
Dengan demikian, perjalanan dari naskah menuju kanon merupakan perjalanan yang panjang: tulisan dibuat, disalin, diedarkan, dibacakan, digunakan dalam jemaat, diperdebatkan, dibandingkan dengan tradisi rasuli, kemudian diterima secara semakin luas. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa bentuk Perjanjian Baru yang kita kenal sekarang merupakan hasil dari proses penerimaan yang berlangsung selama berabad-abad.
2 Timotius 3:16-17
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Kiranya Tuhan Yesus memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pemberitaan firman hari ini. Tuhan Yesus memberkati.
“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus.”
1 Yohanes 1:3
Amin.
Catatan penulis:
- Fokus dari bahasan dalam Edisi 4 ini, terbatas pada proses pengenalan dan penerimaan terhadap 27 kitab Perjanjian Baru, sebagai bagian dari Alkitab yang diakui resmi dan sah oleh agama Kristen Protestan. Sedangkan di Indonesia kita batasi versi terjemahan Alkitab yang kami pakai adalah ALKITAB (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) tahun 1974.
- Tulisan-tulisan seperti Injil Tomas dan Injil Petrus di atas sering disebut sebagai Apokrifa Perjanjian Baru. Perlu dibedakan dari istilah “Apokrifa” yang lebih umum dikenal masyarakat, di mana itu merujuk pada Apokrifa/Deuterokanonika Perjanjian Lama (seperti Tobit, Makabe, Kebijaksanaan Salomo dan lain-lain). Kitab-kitab tersebut diakui dan masuk dalam Alkitab Katolik dan Alkitab Ortodoks, tetapi tidak termasuk dalam Alkitab Protestan. Jadi mengingat tulisan Edisi 4 ini berfokus pada kanon Perjanjian Baru, pembahasan Apokrifa Perjanjian Lama akan kita bahas tersendiri pada kesempatan lain.
- Mungkin kita pernah mendengar tentang Dead Sea Scroll (Naskah-Naskah Laut Mati) yang ditemukan di gua-gua Qumran dekat Laut Mati Israel. Naskah-naskah tersebut adalah Naskah Perjanjian Lama yang merupakan tulisan komunitas Yahudi kuno, bukan naskah Perjanjian Baru atau Injil. Hal ini penting kita pahami perbedaannya, yaitu naskah Injil bukan berasal dari Naskah-naskah Laut Mati, melainkan dari naskah-naskah kuno para Rasul dan salinannya antara lain seperti dalam poin II.b. di atas. Penemuan Dead Sea Scroll tersebut juga sama pentingnya, karena memperlihatkan betapa telitinya tradisi penyalinan naskah suci dan cara mengawetkannya dari masa itu — sebuah budaya ketelitian yang juga mewarnai bagaimana caranya naskah-naskah Perjanjian Baru kemudian disalin dan dijaga oleh komunitas Kristen mula-mula.
