KISAH PARA RASUL [TB-LAI]

Para Rasul mengabarkan Kabar Baik Injil ke segala penjuru dunia agar setiap orang menjadi murid Kristus.

Daftar Isi

PASAL 1

Pembukaan dan Tujuan Kitab (Ayat 1-2)

Lukas memulai kitab ini dengan salam kepada Theofilus, dan mengingatkan bahwa Injil sebelumnya telah mencatat semua yang Yesus lakukan dan ajarkan, mulai dari awal pelayanan-Nya sampai pada hari Ia terangkat ke surga. Ayat ini menegaskan bahwa Kisah Para Rasul adalah kelanjutan langsung dari Injil Lukas, yang kini beralih dari karya Yesus di bumi menjadi karya Yesus melalui Roh Kudus di dalam gereja.

Perintah Terakhir Yesus dan Janji Roh Kudus (Ayat 3-5)

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan diri-Nya hidup kepada para rasul selama empat puluh hari dengan banyak tanda yang meyakinkan. Selama masa itu, Ia berbicara tentang kerajaan Allah dan memberi perintah tegas agar para murid tidak meninggalkan Yerusalem, tetapi menantikan janji Bapa, yaitu baptisan dengan Roh Kudus. Yesus menjelaskan bahwa Yohanes membaptis dengan air, tetapi mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus tidak lama lagi.

Kenaikan Yesus ke Surga dan Amanat Agung (Ayat 6-8)

Ketika berkumpul, para murid bertanya apakah saat itu Israel akan dipulihkan sebagai kerajaan. Yesus menjawab dengan tegas bahwa waktu dan masa bukanlah hak mereka untuk mengetahui, tetapi mereka akan menerima kuasa ketika Roh Kudus turun ke atas mereka. Kuasa itu diberikan bukan untuk kepentingan politik, melainkan untuk menjadi saksi Yesus secara bertahap, mulai dari Yerusalem, ke seluruh Yudea dan Samaria, hingga ke ujung bumi.

Kenaikan ke Surga dan Janji Kedatangan Kembali (Ayat 9-11)

Setelah memberi perintah itu, Yesus diangkat ke surga di depan mata mereka, dan awan menutupi Dia sehingga mereka tidak lagi melihat-Nya. Saat mereka masih menatap ke langit, dua orang berpakaian putih tiba-tiba berdiri di dekat mereka dan menegur, bahwa mereka tidak perlu berdiri memandang ke langit. Kedua malaikat itu menyatakan dengan pasti bahwa Yesus yang terangkat ke surga akan kembali dengan cara yang sama, yaitu turun dari surga secara nyata dan terbuka.

Kembali ke Yerusalem dan Doa Bersama (Ayat 12-14)

Para rasul pulang ke Yerusalem dari Bukit Zaitun, yang jaraknya hanya sekitar satu perjalanan Sabat. Mereka masuk ke ruang atas tempat mereka biasa tinggal, dan nama kesebelas rasul disebutkan secara lengkap. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa, bersama dengan beberapa perempuan, Maria ibu Yesus, dan saudara-saudara Yesus. Kebersamaan ini menunjukkan kesatuan dan kesiapan rohani jemaat sebelum pencurahan Roh Kudus.

Penggantian Yudas Iskariot dengan Matias (Ayat 15-26)

Pada masa itu, Petrus berdiri di tengah-tengah kumpulan orang percaya yang berjumlah sekitar seratus dua puluh orang. Ia mengingatkan bahwa nas dalam Kitab Mazmur tentang pengkhianatan Yudas harus digenapi. Yudas, yang menjadi pemimpin bagi mereka yang menangkap Yesus, telah mati dengan cara mengenaskan. Petrus mengusulkan agar dipilih seorang pengganti dari antara mereka yang telah menyertai Yesus sejak pembaptisan Yohanes sampai kenaikan-Nya, untuk menjadi saksi kebangkitan bersama para rasul lainnya. Dua nama diajukan, yaitu Yusuf Barsabas dan Matias. Seluruh jemaat berdoa memohon petunjuk Tuhan, lalu membuang undi, dan undi jatuh pada Matias, sehingga ia diterima sebagai rasul ke-12 menggantikan Yudas. Pasal ini ditutup dengan tertibnya kepemimpinan gereja yang sudah lengkap, menunggu pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

PASAL 2

Turunnya Roh Kudus pada Hari Pentakosta (Ayat 1-4)

Ketika hari Pentakosta tiba, semua orang percaya berkumpul dengan sehati di satu tempat. Tiba-tiba terdengar bunyi dari langit seperti tiupan angin kencang yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk. Lalu tampak kepada mereka lidah-lidah seperti api yang bertebaran dan hinggap di atas masing-masing orang. Mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, sesuai dengan apa yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Peristiwa ini menandai kelahiran gereja dan penggenapan janji Yesus tentang kuasa Roh Kudus.

Reaksi Orang Banyak dan Kebingungan Mereka (Ayat 5-13)

Di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari berbagai bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar suara itu, banyak orang datang berkumpul dan heran, karena masing-masing mendengar para rasul berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Mereka terheran-heran dan bertanya-tanya, bukankah semua orang yang berbicara itu orang Galilea? Namun mereka mendengar pemberitaan tentang perbuatan-perbuatan besar Allah dalam bahasa masing-masing. Sebagian orang menjadi bingung dan bertanya apa artinya semua ini, tetapi yang lain mengejek dan mengatakan bahwa para rasul sedang mabuk anggur manis.

Khotbah Petrus: Penjelasan tentang Roh Kudus (Ayat 14-21)

Petrus berdiri bersama kesebelas rasul lainnya dan berseru dengan suara nyaring kepada orang banyak. Ia menegaskan bahwa mereka tidak mabuk, karena hari masih pagi, tetapi inilah yang dinubuatkan oleh nabi Yoel: bahwa pada hari-hari terakhir Allah akan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia, sehingga anak-anak mereka akan bernubuat, orang-orang muda mendapat penglihatan, dan orang-orang tua bermimpi. Petrus menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah awal dari zaman Roh Kudus yang dijanjikan, dan setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

Khotbah Petrus: Kesaksian tentang Yesus Kristus (Ayat 22-36)

Petrus melanjutkan dengan bersaksi bahwa Yesus dari Nazaret adalah seorang yang telah ditunjukkan Allah kepada mereka dengan mujizat dan tanda-tanda. Namun Yesus diserahkan menurut rencana Allah dan mereka menyalibkan-Nya dengan tangan orang fasik. Tetapi Allah membangkitkan-Nya dari kematian, karena maut tidak mungkin menahan-Nya. Petrus mengutip Mazmur Daud untuk membuktikan bahwa kebangkitan Kristus sudah dinubuatkan. Ia dengan tegas menyatakan bahwa Yesus yang disalibkan itu telah diangkat menjadi Tuhan dan Kristus oleh Allah. Buktinya adalah pencurahan Roh Kudus yang mereka saksikan pada hari itu.

Tanggapan Pendengar dan Seruan untuk Bertobat (Ayat 37-41)

Ketika orang banyak mendengar perkataan Petrus, hati mereka terharu dan mereka bertanya kepada para rasul apa yang harus mereka perbuat. Petrus menjawab agar mereka bertobat dan memberi diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa, maka mereka akan menerima karunia Roh Kudus. Janji itu berlaku bagi mereka, anak-anak mereka, dan semua orang yang masih jauh, yaitu setiap orang yang dipanggil oleh Tuhan. Petrus terus bersaksi dan menasihati mereka dengan banyak perkataan, lalu mereka yang menerima perkataannya memberi diri dibaptis, dan pada hari itu jumlah murid bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Kehidupan Gereja Mula-Mula yang Bersatu (Ayat 42-47)

Orang-orang percaya bertekun dalam pengajaran para rasul, dalam persekutuan, dalam pemecahan roti, dan dalam doa-doa. Mereka semua merasa takut dan banyak mujizat serta tanda terjadi melalui para rasul. Semua orang percaya tinggal bersama dan memiliki segala sesuatu secara bersama-sama, menjual harta milik mereka dan membagi-bagikannya kepada semua sesuai dengan keperluan setiap orang. Setiap hari mereka berkumpul di Bait Allah dengan sehati dan memecahkan roti di rumah masing-masing, lalu makan bersama dengan sukacita dan tulus hati. Mereka memuji Allah dan disukai oleh semua orang, dan setiap hari Tuhan menambahkan kepada mereka orang-orang yang diselamatkan.

PASAL 3

Penyembuhan Orang Lumpuh di Pintu Gerbang Bait Allah (Ayat 1-10)

Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah pada waktu doa, yaitu pukul tiga sore. Di pintu gerbang yang disebut Pintu Gerbang Indah, ada seorang laki-laki lumpuh sejak lahir yang setiap hari diletakkan di sana untuk meminta sedekah kepada orang-orang yang masuk ke Bait Allah. Ketika ia melihat Petrus dan Yohanes hendak masuk, ia meminta sedekah kepada mereka. Tetapi Petrus memandang dia dengan tegas bersama Yohanes, lalu berkata, “Lihatlah kepada kami.” Orang itu menatap mereka dengan harapan mendapat sesuatu. Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah.” Petrus memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kaki dan pergelangan kakinya menjadi kuat, sehingga ia melompat berdiri dan berjalan, lalu masuk ke Bait Allah sambil berjalan, melompat-lompat, dan memuji Allah. Seluruh orang banyak melihat dia berjalan dan memuji Allah, dan mereka mengenali dia sebagai orang yang biasa duduk meminta sedekah di Pintu Gerbang Indah. Mereka pun heran dan takjub atas apa yang terjadi padanya.

Khotbah Petrus di Serambi Salomo (Ayat 11-16)

Orang yang disembuhkan itu tetap berpegang pada Petrus dan Yohanes, dan semua orang yang terheran-heran berkerumun di sekeliling mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Melihat hal itu, Petrus berkata kepada orang banyak bahwa mereka tidak perlu heran seolah-olah kuasa atau kesalehan mereka sendiri yang membuat orang itu berjalan. Petrus menjelaskan bahwa Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, yaitu Allah nenek moyang mereka, telah memuliakan Yesus, Hamba-Nya, yang telah mereka serahkan dan sangkal di hadapan Pilatus, padahal Pilatus berpendapat untuk melepaskan-Nya. Mereka menolak Yang Kudus dan Benar, dan meminta seorang pembunuh dibebaskan bagi mereka, serta membunuh Pengarang hidup. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan hal itu disaksikan oleh para rasul. Petrus menegaskan bahwa karena iman akan nama Yesus, nama itu telah menguatkan orang yang mereka lihat dan kenal, dan iman yang datang dari Yesus telah menyembuhkan dia di depan mata mereka semua.

Seruan untuk Bertobat dan Kembali kepada Allah (Ayat 17-21)

Petrus mengakui bahwa mereka dan pemimpin-pemimpin mereka telah bertindak karena ketidaktahuan, sama seperti nenek moyang mereka. Namun dengan cara ini Allah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya melalui semua nabi, yaitu bahwa Mesias harus menderita. Karena itu Petrus menyerukan mereka untuk bertobat dan berbalik kepada Allah, supaya dosa-dosa mereka dihapuskan. Dengan demikian akan datang masa kelegaan dari hadirat Tuhan, dan Allah akan mengutus Yesus, yaitu Mesias yang telah ditetapkan bagi mereka. Yesus harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang telah difirmankan Allah sejak zaman dahulu melalui mulut nabi-nabi-Nya yang kudus.

Penggenapan Nubuat tentang Nabi dan Berkat bagi Semua Bangsa (Ayat 22-26)

Petrus mengutip perkataan Musa yang menyatakan bahwa Tuhan akan membangkitkan seorang nabi seperti Musa dari antara saudara-saudara mereka, dan mereka harus mendengarkan segala yang dikatakan nabi itu. Setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu akan dimusnahkan dari umat-Nya. Semua nabi yang pernah berbicara sejak Samuel dan sesudahnya telah memberitakan hari-hari ini. Petrus menegaskan bahwa mereka adalah keturunan para nabi dan menerima perjanjian yang dibuat Allah dengan nenek moyang mereka, ketika Allah berfirman kepada Abraham bahwa semua kaum di bumi akan diberkati melalui keturunannya. Maka bagi mereka itulah Allah terlebih dahulu membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya untuk memberkati mereka dengan membalikkan setiap orang dari kejahatan mereka.

PASAL 4

Penangkapan Petrus dan Yohanes oleh Pemimpin Agama (Ayat 1-4)

Ketika Petrus dan Yohanes masih berbicara kepada orang banyak, mereka didatangi oleh imam-imam, kepala penjaga Bait Allah, dan orang-orang Saduki. Mereka sangat kesal karena Petrus dan Yohanes mengajar orang banyak dan memberitakan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Para pemimpin agama itu menangkap Petrus dan Yohanes, lalu membawa mereka ke dalam tahanan sampai hari esok, karena hari sudah petang. Namun banyak orang yang mendengar pemberitaan itu menjadi percaya, sehingga jumlah laki-laki yang percaya bertambah menjadi sekitar lima ribu orang.

Petrus dan Yohanes Dihadapkan di Depan Mahkamah Agama (Ayat 5-12)

Keesokan harinya, para pemimpin agama, tua-tua, dan ahli Taurat berkumpul di Yerusalem. Mereka terdiri dari Hanas, Imam Besar, dan Kayafas, serta keluarga imam besar lainnya. Petrus dan Yohanes dibawa ke hadapan mereka dan ditanya dengan kuasa apa atau dalam nama siapa mereka melakukan penyembuhan itu. Petrus yang dipenuhi Roh Kudus menjawab dengan berani bahwa jika mereka ditanyai tentang perbuatan baik kepada orang lumpuh, maka harus diketahui bahwa orang ini disembuhkan dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah mereka salibkan tetapi dibangkitkan Allah dari antara orang mati. Petrus menegaskan bahwa Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan tetapi telah menjadi batu penjuru, dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun selain Yesus, karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia untuk diselamatkan.

Keberanian Petrus dan Yohanes di Hadapan Mahkamah (Ayat 13-22)

Para pemimpin agama melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan menyadari bahwa mereka adalah orang biasa yang tidak terpelajar, tetapi mereka heran karena mengenal bahwa mereka pernah bersama dengan Yesus. Mereka tidak dapat menyangkal mukjizat yang terjadi karena orang yang disembuhkan itu berdiri di hadapan mereka dengan nyata. Setelah berunding, mereka memerintahkan Petrus dan Yohanes keluar dari ruang sidang, lalu bertukar pikiran tentang apa yang harus dilakukan. Mereka takut karena mukjizat itu sudah dikenal oleh seluruh penduduk Yerusalem, sehingga mereka tidak dapat menyangkalnya. Mereka memutuskan untuk mengancam Petrus dan Yohanes agar tidak berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab dengan tegas bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia, dan mereka tidak dapat berhenti menceritakan apa yang telah mereka lihat dan dengar. Mahkamah semakin mengancam mereka, tetapi akhirnya melepaskan mereka karena tidak menemukan alasan untuk menghukum, dan semua orang memuliakan Allah atas apa yang terjadi, karena mukjizat penyembuhan itu terjadi pada seorang yang berumur lebih dari empat puluh tahun.

Doa Jemaat Memohon Keberanian (Ayat 23-31)

Setelah dilepaskan, Petrus dan Yohanes kembali kepada saudara-saudara mereka dan melaporkan semua yang dikatakan oleh para imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Mendengar laporan itu, semua jemaat bersama-sama mengangkat suara kepada Allah dan berdoa dengan sehati. Mereka mengakui Tuhan sebagai Pencipta langit, bumi, laut, dan segala isinya, dan mengutip Mazmur Daud tentang pemberontakan bangsa-bangsa melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Mereka mengakui bahwa Herodes, Pontius Pilatus, bangsa-bangsa lain, dan umat Israel telah bersekutu melawan Yesus, tetapi semua itu terjadi sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Mereka memohon kepada Allah agar memandang ancaman-ancaman itu dan memberikan keberanian kepada hamba-hamba-Nya untuk memberitakan firman-Nya, serta menyatakan kuasa-Nya dengan mujizat, tanda, dan heran dalam nama Yesus yang kudus. Ketika mereka selesai berdoa, tempat mereka berkumpul berguncang, dan mereka semua dipenuhi Roh Kudus, lalu memberitakan firman Allah dengan berani.

Kehidupan Jemaat yang Bersatu dan Saling Berbagi (Ayat 32-37)

Semua orang percaya hidup dengan sehati dan sepikir, dan tidak seorang pun mengatakan bahwa sesuatu yang dimilikinya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu mereka miliki bersama. Para rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dengan kuasa yang besar, dan semua orang menerima kasih karunia yang melimpah. Tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka, karena semua pemilik tanah atau rumah menjual harta mereka, lalu membawa hasil penjualan itu dan meletakkannya di depan kaki para rasul. Hasil itu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Sebagai contoh, Yusuf yang disebut Barnabas oleh para rasul, yang berarti anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus, menjual ladang miliknya dan membawa uangnya untuk diletakkan di depan kaki para rasul.

PASAL 5

Kebohongan Ananias dan Safira serta Hukuman Mati (Ayat 1-11)

Seorang laki-laki bernama Ananias bersama istrinya Safira menjual sebidang tanah. Dengan persetujuan istrinya, ia menahan sebagian hasil penjualan untuk dirinya sendiri, dan membawa sebagian lainnya untuk diletakkan di depan kaki para rasul. Petrus menegurnya dengan keras, mengatakan bahwa ia tidak dibohongi oleh manusia melainkan oleh Allah. Ananias mendengar perkataan itu lalu rebah dan mati. Ketika orang muda datang dan membungkus mayatnya, mereka mengusungnya keluar lalu menguburkannya. Tiga jam kemudian Safira datang tanpa mengetahui apa yang telah terjadi. Petrus bertanya kepadanya apakah tanah itu dijual dengan harga sekian, dan Safira menjawab bahwa memang demikian. Petrus menegurnya karena mereka telah bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan, dan ia menyatakan bahwa langkah kaki orang-orang yang mengubur suaminya sudah di depan pintu. Seketika itu juga Safira rebah di depan kaki Petrus dan mati. Orang-orang muda itu masuk dan mendapati dia mati, lalu mengusungnya keluar dan menguburkannya di sisi suaminya. Peristiwa ini menimbulkan ketakutan yang besar di seluruh jemaat dan semua orang yang mendengarnya.

Mukjizat-Mukjizat yang Dilakukan oleh Para Rasul (Ayat 12-16)

Oleh tangan para rasul terjadi banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak, dan mereka semua berkumpul dengan sehati di Serambi Salomo. Tetapi tidak seorang pun dari orang lain yang berani menggabungkan diri kepada mereka, namun orang banyak sangat menghormati mereka. Semakin banyak orang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga orang-orang sakit dibawa ke luar ke jalan dan diletakkan di atas tempat tidur dan tilam, supaya ketika Petrus lewat setidaknya bayangannya akan menimpa beberapa dari mereka. Juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang dengan membawa orang-orang sakit dan orang-orang yang dirasuk roh jahat, dan mereka semua disembuhkan.

Penangkapan Para Rasul oleh Mahkamah Agama (Ayat 17-26)

Imam besar dan semua pengikutnya yang termasuk golongan Saduki bertindak karena iri hati. Mereka menangkap para rasul dan memasukkan mereka ke dalam penjara umum. Tetapi pada malam hari, seorang malaikat Tuhan membuka pintu penjara dan membawa mereka keluar, lalu berkata agar mereka pergi ke Bait Allah dan memberitakan semua firman kehidupan itu kepada orang banyak. Keesokan paginya para rasul sudah berada di Bait Allah dan mengajar, sesuai dengan perintah malaikat itu. Imam besar dan pengikutnya mengumpulkan Mahkamah Agama, lalu menyuruh orang ke penjara untuk menghadapkan para rasul. Tetapi para petugas tidak menemukan mereka di penjara, sehingga mereka kembali dan melaporkan bahwa pintu penjara terkunci dengan kuat dan para penjaga berdiri di depan, tetapi di dalam tidak ada seorang pun. Setelah mendengar laporan itu, kepala penjaga Bait Allah dan para imam besar menjadi bingung dan tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian datanglah seseorang yang memberitahu bahwa para rasul itu sedang berdiri di Bait Allah dan mengajar orang banyak. Maka kepala penjaga bersama petugasnya pergi dan membawa mereka, tetapi tidak dengan kekerasan karena takut dilempari batu oleh orang banyak.

Petrus Membela Iman di Hadapan Mahkamah (Ayat 27-32)

Para rasul dihadapkan ke sidang Mahkamah Agama, dan Imam Besar menanyai mereka dengan keras, karena mereka sama sekali tidak menaati larangan untuk mengajar dalam nama Yesus, dan justru memberitakan ajaran itu ke seluruh Yerusalem serta mempersalahkan mereka atas darah Yesus. Petrus dan para rasul menjawab dengan tegas bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang mereka telah membangkitkan Yesus, yang telah mereka bunuh dengan cara menggantungkan-Nya pada kayu salib. Yesus telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, untuk memberikan pertobatan dan pengampunan dosa kepada Israel. Petrus menyatakan bahwa para rasul adalah saksi dari segala peristiwa itu, dan demikian juga Roh Kudus yang diberikan Allah kepada semua orang yang taat kepada-Nya.

Nasihat Gamaliel dan Pembebasan Para Rasul (Ayat 33-42)

Ketika Mahkamah mendengar perkataan itu, mereka sangat marah dan bermaksud untuk membunuh para rasul. Tetapi seorang Farisi bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang dihormati seluruh rakyat, berdiri di tengah-tengah sidang dan memerintahkan agar para rasul dibawa ke luar sebentar. Ia memberi nasihat kepada Mahkamah agar berhati-hati dalam bertindak terhadap orang-orang ini. Gamaliel mengingatkan tentang Theudas dan Yudas dari Galilea yang muncul dengan pengikut-pengikutnya tetapi akhirnya binasa dan pengikutnya tercerai-berai. Ia menyatakan bahwa jika rencana dan perbuatan para rasul berasal dari manusia, maka itu akan lenyap, tetapi jika berasal dari Allah, maka mereka tidak akan dapat melenyapkannya, dan justru mereka akan berperang melawan Allah. Nasihat itu diterima oleh Mahkamah, lalu mereka memanggil para rasul dan menyuruh mereka dicambuk, kemudian melarang mereka berbicara dalam nama Yesus, lalu melepaskan mereka. Para rasul keluar dari sidang dengan sukacita, karena mereka dianggap layak menderita penghinaan demi nama Yesus. Mereka tidak berhenti mengajar dan memberitakan kabar baik tentang Yesus sebagai Mesias, baik di Bait Allah maupun di rumah-rumah orang setiap hari.

PASAL 6

Munculnya Perselisihan tentang Pelayanan Janda-Janda (Ayat 1)

Pada masa itu, ketika jumlah murid semakin bertambah, timbullah persungutan di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani melawan orang-orang Ibrani, karena janda-janda mereka diabaikan dalam pembagian bantuan makanan sehari-hari. Masalah ini muncul karena perbedaan latar belakang budaya dan bahasa di antara jemaat yang terus berkembang pesat.

Pemilihan Tujuh Diaken untuk Melayani (Ayat 2-6)

Kedua belas rasul memanggil semua murid berkumpul dan menyatakan bahwa tidak pantas bagi mereka untuk meninggalkan pemberitaan firman Allah hanya demi melayani meja. Mereka mengusulkan agar jemaat memilih tujuh orang yang memiliki reputasi baik, dipenuhi Roh Kudus, dan berhikmat untuk ditugaskan dalam pelayanan ini. Dengan demikian, para rasul dapat bertekun dalam doa dan pelayanan firman. Usul itu menyenangkan seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas, dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Ketujuh orang itu dihadapkan kepada para rasul, yang berdoa dan menumpangkan tangan ke atas mereka.

Pertumbuhan Jemaat yang Semakin Pesat (Ayat 7)

Firman Allah terus menyebar dengan pesat, dan jumlah murid di Yerusalem bertambah sangat banyak. Bahkan sejumlah besar imam pun menjadi taat kepada iman kristiani. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah internal gereja justru membuka jalan bagi perluasan Injil yang lebih luas.

Kesaksian Stefanus dan Perlawanan dari Sinagoga Orang-Orang Bebas (Ayat 8-10)

Stefanus, yang penuh dengan kasih karunia dan kuasa, melakukan mujizat-mujizat dan tanda-tanda besar di antara orang banyak. Beberapa orang dari Sinagoga yang disebut Sinagoga Orang-Orang Bebas, termasuk orang-orang dari Kirene, Aleksandria, Kilikia, dan Asia, bangkit untuk berdebat dengan Stefanus. Namun mereka tidak dapat menahan hikmat dan Roh yang berbicara melalui dia, karena Stefanus berbicara dengan penuh kuasa dan pengertian yang mendalam tentang Kitab Suci.

Fitnah dan Penangkapan Stefanus (Ayat 11-14)

Karena tidak mampu mengalahkan Stefanus dalam perdebatan, mereka menghasut beberapa orang untuk mengajukan tuduhan palsu bahwa Stefanus telah menghujat Musa dan Allah. Mereka memanipulasi orang banyak, para tua-tua, dan ahli-ahli Taurat untuk menangkap Stefanus, lalu membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Saksi-saksi palsu dihadirkan yang mengatakan bahwa Stefanus terus-menerus mengucapkan perkataan penghujatan terhadap tempat kudus dan hukum Taurat, karena mereka mendengar Stefanus mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret akan merobohkan tempat ini dan mengubah kebiasaan yang diwariskan oleh Musa.

Wajah Stefanus yang Bercahaya di Hadapan Mahkamah (Ayat 15)

Ketika semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama memandang Stefanus dengan tajam, mereka melihat wajahnya seperti wajah seorang malaikat. Cahaya kemuliaan Tuhan tampak memancar dari dirinya, menunjukkan bahwa Stefanus dipenuhi dengan Roh Kudus dan berdiri di bawah perlindungan ilahi, meskipun ia sedang menghadapi tuduhan-tuduhan berat yang akan membawanya pada kematian.

PASAL 7

Pembukaan Stefanus dan Pertanyaan Imam Besar (Ayat 1)

Imam Besar bertanya kepada Stefanus apakah tuduhan-tuduhan yang diajukan para saksi palsu itu benar. Stefanus diberi kesempatan untuk membela diri di hadapan seluruh Mahkamah Agama, dan ia memulai pembelaannya dengan menelusuri sejarah keselamatan umat Allah.

Kesaksian tentang Abraham dan Para Bapa Leluhur (Ayat 2-8)

Stefanus memulai pembelaannya dengan menceritakan panggilan Allah kepada Abraham di tanah Mesopotamia. Allah memerintahkan Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke tanah yang akan ditunjukkan-Nya, yaitu tanah Kanaan. Allah berjanji memberikan tanah itu kepada Abraham dan keturunannya, meskipun pada waktu itu Abraham belum memiliki anak. Allah juga menubuatkan bahwa keturunannya akan menjadi pendatang di tanah asing dan diperbudak selama empat ratus tahun, tetapi akhirnya mereka akan keluar dan beribadah kepada Allah di tempat ini. Stefanus menegaskan bahwa Allah setia pada janji-Nya, dan Abraham menjadi bapa bangsa Israel melalui Ishak, Yakub, dan kedua belas anak Yakub yang menjadi leluhur umat Israel.

Kisah Yusuf dan Penyelamatan Allah (Ayat 9-16)

Stefanus melanjutkan dengan menceritakan tentang Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya ke Mesir karena iri hati. Namun Allah menyertai Yusuf dan memberinya hikmat di hadapan Firaun, sehingga Yusuf diangkat menjadi penguasa atas seluruh Mesir. Ketika terjadi kelaparan besar di tanah Kanaan, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk membeli gandum, dan pada akhirnya Yusuf menyatakan jati dirinya serta menyelamatkan keluarganya. Dengan demikian seluruh keluarga Yakub, yang berjumlah tujuh puluh lima jiwa, datang ke Mesir dan menetap di sana. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah tetap memelihara umat-Nya meskipun mereka menghadapi penolakan dan penderitaan.

Penindasan di Mesir dan Panggilan Musa (Ayat 17-29)

Setelah Yakub dan saudara-saudaranya meninggal, umat Israel berkembang pesat di Mesir, sehingga Firaun yang baru mulai menindas mereka dan memerintahkan agar bayi-bayi laki-laki dibuang. Pada masa itulah Musa lahir, seorang anak yang sangat elok, dan ia dipelihara di rumah Firaun selama empat puluh tahun. Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan menjadi berkuasa dalam perkataan dan perbuatan. Ketika Musa berumur empat puluh tahun, ia berniat mengunjungi saudara-saudaranya, orang Israel, dan melihat seorang Israel ditindas oleh orang Mesir, maka Musa membela saudaranya dan membunuh orang Mesir itu. Musa menyangka saudara-saudaranya akan mengerti bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka justru menolaknya. Musa melarikan diri ke tanah Midian, dan di sana ia menjadi orang asing serta memperanakkan dua anak laki-laki.

Musa Dipanggil di Semak Belukar yang Menyala (Ayat 30-38)

Setelah empat puluh tahun berlalu di Midian, seorang malaikat menampakkan diri kepada Musa di padang gurun dekat Gunung Sinai dalam nyala api semak belukar. Musa terkejut dan mendekati semak itu, lalu suara Tuhan berkata kepadanya bahwa ia harus melepaskan kasutnya karena tempat itu adalah tanah kudus. Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, dan berkata bahwa Ia telah melihat penderitaan umat-Nya di Mesir dan mengutus Musa untuk memimpin mereka keluar. Musa memimpin umat Israel keluar dari Mesir dengan kuasa dan mujizat, dan di padang gurun Musa menerima firman-hayat untuk disampaikan kepada mereka. Musa juga menyatakan bahwa Allah akan membangkitkan seorang nabi seperti dia dari antara saudara-saudara mereka, yaitu Yesus Kristus.

Pemberontakan Israel di Padang Gurun (Ayat 39-43)

Stefanus menegur bangsa Israel karena nenek moyang mereka tidak mau taat kepada Musa, tetapi menolaknya dan dalam hati mereka berpaling kembali ke Mesir. Mereka berkata kepada Harun untuk membuat allah-allah yang dapat berjalan di depan mereka, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Musa. Mereka membuat patung anak lembu dan mempersembahkan korban kepada berhala itu, lalu bersukacita atas buatan tangan mereka sendiri. Karena itu Allah berpaling dari mereka dan menyerahkan mereka untuk beribadah kepada bala tentara langit, sesuai dengan nubuat para nabi yang menyatakan bahwa mereka akan dibawa ke pembuangan ke Babel.

Kemah Suci dan Bait Allah dalam Sejarah Israel (Ayat 44-50)

Stefanus menjelaskan bahwa kemah suci, yang menjadi saksi perjanjian Allah, dibuat di padang gurun sesuai dengan pola yang ditunjukkan kepada Musa. Kemah itu dibawa masuk ke tanah Kanaan dan tetap ada sampai zaman Daud. Daud mendapat perkenan di hadapan Allah dan meminta untuk mendirikan tempat kediaman bagi Allah, tetapi Salomolah yang membangun Bait Allah. Stefanus menegaskan bahwa Allah yang Mahatinggi tidak diam di dalam rumah buatan tangan manusia, seperti yang dikatakan nabi Yesaya bahwa langit adalah takhta Allah dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya, sehingga tidak ada rumah buatan manusia yang dapat menampung-Nya.

Tuduhan Keras Stefanus terhadap Mahkamah Agama (Ayat 51-53)

Setelah menelusuri sejarah, Stefanus dengan berani menuduh para pemimpin agama sebagai orang-orang yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan Roh Kudus, sama seperti nenek moyang mereka yang selalu menolak para nabi. Ia menyatakan bahwa mereka telah mengkhianati dan membunuh Yesus, yaitu Dia yang benar dan adil, yang telah dinubuatkan oleh para nabi dan didatangkan oleh Allah. Stefanus menegaskan bahwa mereka menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat, tetapi mereka tidak menaatinya sama sekali.

Kemartiran Stefanus dan Penglihatan tentang Yesus (Ayat 54-60)

Ketika Mahkamah mendengar kata-kata Stefanus, mereka sangat marah dan menggertakkan gigi. Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah serta Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Ia berseru bahwa ia melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. Mendengar itu, mereka berteriak dengan suara keras, menutup telinga mereka, dan serentak menyerbu Stefanus, lalu menyeretnya ke luar kota dan melemparinya dengan batu. Saksi-saksi itu meletakkan jubah mereka di dekat kaki seorang muda bernama Saulus. Sementara mereka melempari Stefanus dengan batu, Stefanus berdoa memohon kepada Tuhan Yesus untuk menerima rohnya, lalu ia berlutut dan berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Setelah berkata demikian, ia meninggal dalam damai dengan pengampunan di hati.

PASAL 8

Penganiayaan Terhadap Jemaat di Yerusalem (Ayat 1-3)

Setelah kematian Stefanus, muncullah penganiayaan besar-besaran terhadap jemaat di Yerusalem. Semua orang percaya, kecuali para rasul, tersebar ke seluruh wilayah Yudea dan Samaria. Saulus menyetujui pembunuhan Stefanus, dan ia mulai menganiaya jemaat dengan keras. Ia memasuki rumah demi rumah, menyeret laki-laki dan perempuan, lalu menyerahkan mereka ke dalam penjara. Penganiayaan ini justru menjadi alat Allah untuk menyebarkan Injil ke luar Yerusalem.

Filipus Memberitakan Injil di Samaria (Ayat 4-8)

Mereka yang tersebar itu pergi ke mana-mana sambil memberitakan firman Allah. Filipus, salah satu dari tujuh diaken, pergi ke kota Samaria dan memberitakan Kristus kepada orang-orang di sana. Orang banyak memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan Filipus, karena mereka mendengar dan melihat tanda-tanda yang diadakannya. Banyak orang yang kerasukan roh jahat dikeluarkan dengan teriakan nyaring, dan banyak orang lumpuh serta timpang disembuhkan. Sukacita yang besar meliputi seluruh kota Samaria, karena Injil membawa pembebasan dan pemulihan bagi mereka.

Simon si Tukang Sihir dan Kuasa Allah (Ayat 9-13)

Di kota itu ada seorang bernama Simon yang telah lama melakukan sihir dan memukau orang banyak, sehingga mereka menganggapnya sebagai orang yang mempunyai kuasa besar dari Allah. Simon telah mempesona mereka dengan sihirnya selama bertahun-tahun. Namun ketika mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Kerajaan Allah dan nama Yesus Kristus, mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. Simon sendiri juga percaya dan dibaptis, lalu ia selalu mengikuti Filipus dan takjub melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi.

Petrus dan Yohanes Datang untuk Mendoakan Orang Samaria (Ayat 14-17)

Ketika para rasul di Yerusalem mendengar bahwa orang Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke Samaria untuk mengonfirmasi pekerjaan Allah. Kedua rasul itu tiba dan berdoa bagi orang-orang percaya di sana, supaya mereka menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus belum turun ke atas seorang pun dari mereka, mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Setelah Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan ke atas mereka, mereka menerima Roh Kudus. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kesatuan gereja tetap terjaga antara orang Yahudi dan Samaria, dan bahwa penerimaan Roh Kudus ditegaskan melalui otoritas para rasul.

Simon Menawarkan Uang untuk Kuasa Roh Kudus (Ayat 18-25)

Simon melihat bahwa Roh Kudus diberikan melalui penumpangan tangan para rasul, lalu ia menawarkan uang kepada mereka dan berkata, “Berikanlah kepadaku kuasa itu juga, supaya setiap orang yang kutumpangi tangannya akan menerima Roh Kudus.” Petrus menegurnya dengan keras, “Binasalah kiranya uangmu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa karunia Allah dapat dibeli dengan uang.” Petrus berkata bahwa Simon tidak mendapat bagian dalam perkara ini karena hatinya tidak lurus di hadapan Allah, dan ia harus bertobat dari kejahatannya serta memohon kepada Tuhan agar niat hatinya diampuni. Simon meminta Petrus dan Yohanes untuk mendoakannya, agar tidak ada yang menimpanya. Setelah bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, Petrus dan Yohanes kembali ke Yerusalem sambil memberitakan Injil di banyak desa Samaria dalam perjalanan pulang.

Filipus dan Sida-Sida Etiopia (Ayat 26-35)

Seorang malaikat Tuhan berkata kepada Filipus untuk pergi ke jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza, yaitu jalan yang sepi. Filipus bangkit dan pergi, dan di sana ia bertemu dengan seorang sida-sida Etiopia, seorang pejabat tinggi dari istri Ratu Kandake, yang bertanggung jawab atas seluruh perbendaharaan Etiopia. Orang itu telah datang ke Yerusalem untuk beribadah, dan dalam perjalanan pulang ia duduk di dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. Roh Kudus menyuruh Filipus mendekati kereta itu dan bergabung dengan orang itu. Filipus bertanya apakah ia mengerti apa yang dibacanya, dan sida-sida itu menjawab, “Bagaimana aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Bagian Kitab Suci yang dibacanya adalah tentang domba yang dibawa ke pembantaian dan anak domba yang tidak membuka mulutnya. Sida-sida itu bertanya kepada Filipus apakah nabi Yesaya berbicara tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain. Filipus mulai berbicara dan memberitakan Injil Yesus kepadanya, mulai dari nas itu.

Pembaptisan Sida-Sida Etiopia (Ayat 36-40)

Dalam perjalanan mereka tiba di suatu tempat yang berair, dan sida-sida itu berkata, “Lihat, ada air. Apakah halangannya jika aku dibaptis?” Filipus menjawab, “Jika engkau percaya dengan segenap hatimu, engkau dapat.” Sida-sida itu berkata, “Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” Lalu ia memerintahkan kereta berhenti, dan keduanya turun ke dalam air, lalu Filipus membaptis sida-sida itu. Ketika mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba menawan Filipus, dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi, tetapi ia meneruskan perjalanan dengan sukacita. Sementara itu Filipus muncul di Asdod dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Injil melampaui batas-batas ras dan budaya, dan bahwa setiap orang yang percaya dapat menerima keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus.

PASAL 9

Pertobatan Saulus di Jalan Damsyik (Ayat 1-9)

Saulus masih bernapas dengan ancaman dan pembunuhan terhadap murid-murid Tuhan. Ia pergi kepada Imam Besar dan meminta surat kuasa untuk dibawa ke sinagoga-sinagoga di Damsyik, supaya jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. Dalam perjalanannya, ketika ia sudah dekat dengan Damsyik, tiba-tiba cahaya dari langit menyinari sekelilingnya. Ia jatuh ke tanah dan mendengar suara berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Saulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Jawab suara itu, “Akulah Yesus yang kauaniaya. Bangunlah dan masuklah ke kota, di sana akan dikatakan kepadamu apa yang harus kauperbuat.” Orang-orang yang menyertai Saulus terdiam, karena mereka mendengar suara tetapi tidak melihat siapa pun. Saulus bangun dari tanah dan membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa, sehingga mereka menuntun dia masuk ke Damsyik. Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat, dan ia tidak makan dan tidak minum.

Ananias Dipanggil untuk Menumpangkan Tangan atas Saulus (Ayat 10-19)

Di Damsyik ada seorang murid bernama Ananias, dan Tuhan memanggilnya dalam suatu penglihatan. Ananias menjawab, “Ini aku, Tuhan.” Tuhan berkata kepadanya untuk pergi ke jalan yang bernama Jalan Lurus dan menanyakan di rumah Yudas tentang seorang bernama Saulus dari Tarsus, karena saat itu Saulus sedang berdoa. Dalam penglihatan ia melihat seorang bernama Ananias datang dan menumpangkan tangan ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi. Ananias menjawab bahwa ia telah mendengar tentang orang itu, betapa banyak kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus di Yerusalem. Tetapi Tuhan berkata, “Pergilah, karena orang ini adalah alat pilihan-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja, dan orang-orang Israel. Aku akan menunjukkan kepadanya betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Ananias pergi dan masuk ke rumah itu, lalu menumpangkan tangannya ke atas Saulus sambil berkata, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus yang menampakkan diri kepadamu di jalan yang kau lalui, mengutus aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga selaput gugur dari matanya dan ia dapat melihat lagi, lalu ia bangun dan dibaptis. Setelah makan dan minum, ia menjadi kuat. Saulus tinggal beberapa hari bersama murid-murid di Damsyik.

Saulus Memberitakan Yesus di Damsyik (Ayat 20-25)

Segera Saulus mulai memberitakan Yesus di sinagoga-sinagoga, bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengarnya menjadi heran dan berkata, “Bukankah orang ini yang di Yerusalem membinasakan orang-orang yang memanggil nama ini? Dan bukankah ia datang ke sini untuk menangkap mereka dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Namun Saulus semakin lama semakin kuat dan membungkam orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Setelah beberapa waktu, orang-orang Yahudi merencanakan untuk membunuh Saulus, tetapi rencana mereka diketahui olehnya. Mereka mengawal pintu-pintu gerbang siang dan malam untuk membunuh dia. Namun murid-murid mengambil Saulus pada malam hari dan menurunkannya dari tembok kota dengan keranjang.

Saulus di Yerusalem dan Pertemuannya dengan Para Rasul (Ayat 26-31)

Setelah tiba di Yerusalem, Saulus berusaha untuk bergabung dengan murid-murid, tetapi mereka semua takut kepadanya karena mereka tidak percaya bahwa ia benar-benar seorang murid. Namun Barnabas menerima dia dan membawanya kepada para rasul. Barnabas menceritakan bagaimana Saulus telah melihat Tuhan di jalan dan bahwa Tuhan telah berbicara kepadanya, serta bagaimana ia telah memberitakan Injil dengan berani di Damsyik. Saulus tetap tinggal bersama mereka dan pergi ke mana-mana di Yerusalem, dengan berani berkhotbah dalam nama Tuhan. Ia berbicara dan berdebat dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka berusaha membunuh dia. Ketika saudara-saudara mengetahuinya, mereka membawa Saulus ke Kaisarea dan menyuruhnya berangkat ke Tarsus. Selama waktu itu, jemaat di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria hidup dalam damai, bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, dan dipenuhi dengan penghiburan Roh Kudus, sementara jumlah mereka terus bertambah.

Petrus Menyembuhkan Eneas di Lida (Ayat 32-35)

Ketika Petrus berkeliling mengunjungi semua orang percaya, ia datang kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di sana ia menemukan seorang bernama Eneas, yang telah terbaring di tempat tidur selama delapan tahun karena lumpuh. Petrus berkata kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau. Bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga Eneas bangun. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan. Mukjizat ini semakin memperkuat iman jemaat dan membawa banyak orang bertobat.

Petrus Membangkitkan Tabita dari Kematian di Yope (Ayat 36-43)

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita, yang dalam bahasa Yunani disebut Dorkas. Ia selalu berbuat baik dan memberi sedekah. Pada waktu itu ia sakit dan meninggal, lalu tubuhnya dimandikan dan dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, dan murid-murid mendengar bahwa Petrus ada di sana, mereka mengutus dua orang kepadanya dengan permintaan agar ia segera datang ke Yope. Petrus berangkat bersama mereka, dan ketika tiba, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda berdiri dekat Petrus sambil menangis dan menunjukkan kepadanya jubah dan pakaian yang dibuat Dorkas selama ia masih hidup. Petrus menyuruh semua orang keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Tabita membuka matanya, dan ketika melihat Petrus, ia bangun dan duduk. Petrus memegang tangannya dan membangunkannya, lalu memanggil orang-orang kudus dan janda-janda, dan memperlihatkan Tabita hidup kembali kepada mereka. Peristiwa ini tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. Petrus tinggal beberapa hari di Yope di rumah Simon, seorang penyamak kulit.

PASAL 10

Kornelius, Seorang Prajurit yang Saleh (Ayat 1-8)

Di Kaisarea ada seorang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan Italia. Ia saleh dan takut akan Allah bersama seluruh keluarganya. Ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan selalu berdoa kepada Allah. Pada suatu hari, kira-kira pukul tiga sore, ia melihat dalam suatu penglihatan dengan jelas seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya, “Kornelius!” Ia menatap malaikat itu dengan ketakutan dan bertanya, “Ada apa, Tuhan?” Malaikat itu menjawab bahwa doa dan sedekahnya telah naik ke hadapan Allah sebagai persembahan yang mengingatkan Allah. Ia diperintahkan untuk mengutus beberapa orang ke Yope dan memanggil Simon yang disebut Petrus, yang tinggal di rumah Simon sang penyamak kulit di tepi laut. Setelah malaikat itu pergi, Kornelius memanggil dua orang hambanya dan seorang prajurit yang saleh, lalu menjelaskan semuanya kepada mereka dan mengutus mereka ke Yope.

Penglihatan Petrus tentang Binatang yang Halal dan Tidak Halal (Ayat 9-16)

Keesokan harinya, ketika mereka berjalan dan sudah dekat dengan kota Yope, Petrus naik ke atap rumah untuk berdoa pada waktu tengah hari. Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, ia berada dalam keadaan terpaku dan melihat suatu penglihatan: langit terbuka dan suatu benda turun ke atasnya, seperti kain lebar yang diikat pada keempat sudutnya dan diturunkan ke bumi. Di dalamnya terdapat berbagai macam binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung-burung. Lalu terdengar suara kepadanya, “Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab, “Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan najis.” Suara itu berkata lagi kepadanya, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga kali, lalu benda itu segera diangkat kembali ke langit.

Petrus Pergi ke Kaisarea Bersama Utusan Kornelius (Ayat 17-23)

Petrus sangat bertanya-tanya dalam hatinya tentang apa arti penglihatan yang telah dilihatnya itu. Sementara itu, orang-orang yang diutus Kornelius telah bertanya-tanya dan tiba di depan pintu rumah Simon. Mereka memanggil dan bertanya apakah Simon yang disebut Petrus tinggal di situ. Ketika Petrus masih merenungkan penglihatan itu, Roh Kudus berkata kepadanya, “Ada tiga orang mencari engkau. Bangunlah, turunlah dan pergilah dengan mereka tanpa bimbang, sebab Aku yang mengutus mereka.” Petrus turun dan menemui orang-orang itu, lalu berkata, “Akulah yang kamu cari. Apakah maksud kedatangan kamu?” Mereka menjawab bahwa Kornelius, seorang perwira yang saleh dan takut akan Allah, telah diperingatkan oleh seorang malaikat kudus untuk memanggil Petrus ke rumahnya, agar ia dapat mendengar perkataan Petrus. Petrus mempersilakan mereka masuk dan bermalam di situ. Keesokan harinya ia berangkat bersama mereka, dan beberapa saudara dari Yope menyertainya.

Kornelius Menyambut Petrus di Kaisarea (Ayat 24-33)

Pada hari berikutnya, Petrus tiba di Kaisarea dan Kornelius telah menunggu mereka bersama sanak saudara dan sahabat-sahabatnya yang telah dikumpulkannya. Ketika Petrus masuk, Kornelius menyambutnya dan tersungkur di depan kakinya sambil menyembahnya. Tetapi Petrus mengangkat dia dan berkata, “Bangunlah, aku pun manusia biasa.” Petrus masuk ke dalam rumah dan melihat banyak orang berkumpul. Ia berkata kepada mereka, “Kamu tahu betapa terlarangnya bagi seorang Yahudi untuk bergaul atau mengunjungi orang yang bukan Yahudi. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut siapa pun najis atau haram. Karena itu, ketika aku dipanggil, aku datang tanpa membantah. Karena itu aku bertanya: untuk apakah kamu memanggil aku?” Kornelius menjawab bahwa empat hari yang lalu, pada waktu yang sama, ia sedang berdoa di rumahnya, dan tiba-tiba seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pakaian yang berkilauan, yang berkata agar ia mengutus orang ke Yope untuk memanggil Simon Petrus. Kornelius berkata, “Sekarang kami semua telah hadir di hadapan Allah untuk mendengarkan semua yang diperintahkan Allah kepadamu.”

Khotbah Petrus di Rumah Kornelius (Ayat 34-43)

Petrus mulai berbicara dan berkata, “Sesungguhnya aku mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Allah dan mengerjakan kebenaran, berkenan kepada-Nya.” Ia memberitakan firman yang disampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu kabar baik tentang damai sejahtera melalui Yesus Kristus, yang adalah Tuhan atas semua orang. Petrus menceritakan tentang pelayanan Yesus di seluruh Yudea, yang dimulai dari Galilea setelah baptisan Yohanes, tentang bagaimana Allah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus dan kuasa, sehingga Ia berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis. Petrus bersaksi bahwa Yesus telah disalibkan dan dibunuh, tetapi Allah membangkitkan Dia pada hari yang ketiga, dan Allah telah menunjukkan Dia secara nyata kepada para saksi yang telah dipilih sebelumnya, yaitu kepada para rasul yang makan dan minum bersama Dia setelah kebangkitan-Nya. Petrus menyatakan bahwa Yesus telah memerintahkan mereka untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa, dan bahwa semua nabi bersaksi bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus akan menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya.

Roh Kudus Dicurahkan atas Orang-Orang Bukan Yahudi (Ayat 44-48)

Sementara Petrus masih berbicara, Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan firman itu. Orang-orang percaya dari golongan Yahudi yang menyertai Petrus menjadi heran, karena karunia Roh Kudus dicurahkan juga kepada bangsa-bangsa lain. Mereka mendengar orang-orang itu berbicara dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Petrus berkata, “Dapatkah seseorang menolak air untuk membaptis orang-orang ini, yang telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia memerintahkan mereka untuk dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Setelah itu mereka meminta Petrus untuk tinggal beberapa hari bersama mereka. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah gereja, karena secara resmi Injil diterima oleh orang-orang bukan Yahudi tanpa harus menjadi Yahudi terlebih dahulu.

PASAL 11

Kritik dari Para Rasul dan Saudara di Yudea (Ayat 1-3)

Para rasul dan saudara-saudara di seluruh Yudea mendengar bahwa bangsa-bangsa lain juga telah menerima firman Allah. Ketika Petrus kembali ke Yerusalem, orang-orang dari golongan bersunat berselisih dengan dia dan menuduhnya, karena ia telah pergi ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama mereka. Tuduhan ini menunjukkan bahwa masih ada ketegangan antara orang Yahudi yang percaya dan orang bukan Yahudi, dan bahwa pemahaman tentang keselamatan yang terbuka bagi semua bangsa belum sepenuhnya diterima oleh semua orang.

Petrus Menjelaskan Penglihatannya dan Pertemuannya dengan Kornelius (Ayat 4-17)

Petrus mulai menjelaskan dengan teratur segala sesuatu yang telah terjadi. Ia menceritakan tentang penglihatan di kota Yope, ketika suatu benda seperti kain lebar turun dari langit berisi binatang-binatang, dan suara berkata kepadanya untuk menyembelih dan memakan, tetapi ia menolak karena binatang itu haram. Suara itu berkata, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal itu terjadi tiga kali. Pada saat yang sama, tiga orang dari Kaisarea datang kepadanya dan menyuruhnya pergi ke rumah Kornelius. Enam saudara dari Yope menyertainya, dan mereka masuk ke rumah Kornelius, yang menceritakan bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di rumahnya dan berkata agar ia memanggil Petrus untuk mendengar perkataan yang menyelamatkan. Petrus menyimpulkan bahwa ketika ia mulai berbicara, Roh Kudus turun ke atas mereka sama seperti pada hari Pentakosta, dan ia teringat akan perkataan Tuhan Yesus bahwa Yohanes membaptis dengan air, tetapi mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus. Petrus menyatakan, “Jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka seperti kepada kita, siapa aku sehingga aku dapat menghalang-halangi Allah?”

Tanggapan Jemaat di Yerusalem (Ayat 18)

Setelah mendengar penjelasan Petrus, mereka semua menjadi tenang dan memuliakan Allah, lalu berkata, “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah memberikan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Tanggapan ini menunjukkan bahwa jemaat di Yerusalem akhirnya menerima keputusan Allah untuk membuka pintu keselamatan bagi semua orang tanpa kecuali, dan mereka mengakui bahwa pertobatan adalah anugerah Allah bagi semua bangsa.

Jemaat di Antiokhia dan Pemberitaan Injil kepada Orang-Orang Yunani (Ayat 19-21)

Sementara itu, mereka yang tersebar karena penganiayaan yang terjadi setelah kematian Stefanus telah pergi sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia, tetapi mereka hanya memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi saja. Namun beberapa orang dari Siprus dan Kirene, ketika mereka tiba di Antiokhia, mulai berbicara juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Yesus sebagai Tuhan. Kuasa Tuhan menyertai mereka, dan sejumlah besar orang percaya dan berbalik kepada Tuhan. Ini adalah langkah besar berikutnya setelah peristiwa Kornelius, karena orang-orang bukan Yahudi di Antiokhia menerima Injil secara langsung tanpa harus terlebih dahulu menjadi proselit Yahudi.

Barnabas dan Saulus di Antiokhia (Ayat 22-26)

Ketika kabar tentang hal itu sampai ke telinga jemaat di Yerusalem, mereka mengutus Barnabas ke Antiokhia. Setelah Barnabas tiba dan melihat kasih karunia Allah, ia bersukacita dan menasihati mereka semua untuk tetap setia kepada Tuhan dengan segenap hati, karena Barnabas adalah orang baik yang penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah besar orang dibawa kepada Tuhan. Barnabas pergi ke Tarsus untuk mencari Saulus, dan setelah bertemu dengannya, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama di Antiokhia selama satu tahun penuh dan mengajar banyak orang, sehingga murid-murid pertama kali disebut Kristen di Antiokhia. Nama ini menandakan bahwa pengikut Yesus mulai diidentifikasi sebagai kelompok yang terpisah dan dikenal secara luas.

Barnabas dan Saulus Membawa Bantuan untuk Yudea (Ayat 27-30)

Pada waktu itu, beberapa nabi datang dari Yerusalem ke Antiokhia. Salah seorang di antara mereka bernama Agabus, yang oleh Roh Kudus bernubuat bahwa akan ada kelaparan besar di seluruh dunia, dan hal itu terjadi pada zaman Kaisar Klaudius. Murid-murid di Antiokhia memutuskan untuk mengumpulkan bantuan bagi saudara-saudara yang tinggal di Yudea, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka melakukannya dan mengirimkannya kepada para tua-tua melalui Barnabas dan Saulus. Tindakan ini menunjukkan kesatuan dan solidaritas di antara jemaat yang berbeda latar belakang, serta kepedulian orang-orang percaya dari Antiokhia terhadap saudara-saudara mereka di Yerusalem yang akan mengalami masa sulit.

PASAL 12

Penganiayaan Raja Herodes dan Kemartiran Yakobus (Ayat 1-4)

Pada waktu itu Raja Herodes Agripa I mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika Herodes melihat bahwa tindakan itu menyenangkan hati orang-orang Yahudi, ia melanjutkan dengan menangkap Petrus juga. Penangkapan itu terjadi pada hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah menangkap Petrus, Herodes memasukkannya ke dalam penjara dan menyerahkannya kepada empat regu prajurit, masing-masing terdiri dari empat orang, untuk menjaganya. Herodes bermaksud untuk menghadapkan Petrus kepada orang banyak setelah Paskah, dengan harapan dapat menyenangkan orang-orang Yahudi lebih lagi.

Petrus Ditahan di Penjara dan Jemaat Berdoa (Ayat 5)

Petrus ditahan dengan kuat di dalam penjara, tetapi jemaat dengan tekun dan sungguh-sungguh berdoa kepada Allah untuk dia sepanjang malam. Doa jemaat menjadi senjata utama mereka dalam menghadapi penganiayaan yang tampaknya tidak tertahankan, karena mereka menyadari bahwa hanya campur tangan Allah yang dapat menyelamatkan Petrus dari tangan Herodes.

Pembebasan Petrus Secara Ajaib oleh Malaikat (Ayat 6-11)

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkan Petrus, Petrus tidur di antara dua prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, dan para penjaga di depan pintu menjaga penjara. Tiba-tiba seorang malaikat Tuhan berdiri di dekatnya dan cahaya terang memenuhi ruangan itu. Malaikat itu menepuk pinggang Petrus dan membangunkannya, lalu berkata, “Bangunlah segera!” Rantai itu pun terlepas dari tangannya. Malaikat itu menyuruh Petrus memakai ikat pinggang dan sepatunya, lalu mengenakan jubahnya dan mengikuti dia. Petrus keluar dan mengikuti malaikat itu, tetapi ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, karena ia mengira bahwa ia melihat suatu penglihatan. Mereka melewati penjagaan pertama dan kedua, lalu sampai ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota, dan pintu itu terbuka dengan sendirinya. Setelah mereka melewati satu jalan, tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Petrus tersadar dan berkata, “Sekarang aku benar-benar tahu bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan melepaskan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan oleh orang Yahudi.”

Petrus Menemui Jemaat di Rumah Maria (Ayat 12-17)

Petrus menyadari keadaannya, lalu pergi ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut Markus, di mana banyak orang berkumpul dan sedang berdoa. Ia mengetuk pintu gerbang, dan seorang hamba perempuan bernama Rode keluar untuk menjawab. Ketika Rode mengenali suara Petrus, ia sangat girang sehingga tidak membukakan pintu, tetapi berlari masuk ke dalam dan memberitahu bahwa Petrus berdiri di depan pintu. Mereka berkata kepadanya, “Engkau gila!” tetapi Rode terus menerus menegaskan bahwa itu benar. Mereka berkata, “Itu malaikatnya.” Petrus terus mengetuk, dan ketika mereka membuka pintu dan melihat dia, mereka sangat terkejut. Petrus memberi isyarat dengan tangannya agar mereka diam, lalu menceritakan bagaimana Tuhan membawanya keluar dari penjara. Ia berkata, “Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan saudara-saudara yang lain.” Kemudian ia pergi ke tempat lain untuk menyembunyikan diri dari kejaran Herodes.

Kematian Herodes Agripa I (Ayat 18-23)

Pada keesokan harinya, terjadi kegemparan besar di antara para prajurit tentang apa yang telah terjadi pada Petrus. Herodes menyuruh mencari Petrus, tetapi tidak ditemukan, lalu ia memeriksa para penjaga dan memerintahkan mereka untuk dihukum mati. Herodes pergi dari Yudea ke Kaisarea dan tinggal di sana. Herodes sangat marah terhadap orang-orang Tirus dan Sidon, tetapi mereka berhasil berdamai dengan dia melalui Blastus, saudara raja, karena mereka bergantung pada daerah raja untuk mendapatkan makanan. Pada hari yang telah ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, duduk di atas kursi pengadilan, dan berpidato di hadapan mereka. Orang banyak berteriak, “Ini suara allah dan bukan suara manusia!” Saat itu juga malaikat Tuhan menghajar Herodes karena ia tidak memberi hormat kepada Allah, dan ia mati dimakan cacing-cacing. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah adalah Hakim yang adil dan tidak membiarkan kesombongan manusia tidak dihukum.

Pertumbuhan Jemaat dan Pelayanan Barnabas serta Saulus (Ayat 24-25)

Firman Allah terus berkembang dan berlipat ganda, menunjukkan bahwa kuasa Allah tidak dapat dihalangi oleh penganiayaan atau kematian para pemimpin. Setelah menyelesaikan tugas pelayanan mereka, Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem ke Antiokhia, dan mereka membawa Yohanes yang disebut Markus bersama mereka. Kembalinya mereka menandakan kelanjutan misi pengabaran Injil ke dunia yang lebih luas, dengan Markus yang akan menjadi rekan kerja mereka dalam perjalanan misi berikutnya.

PASAL 13

Pentahbisan Barnabas dan Saulus untuk Misi (Ayat 1-3)

Di jemaat Antiokhia terdapat beberapa nabi dan pengajar, yaitu Barnabas, Simeon yang disebut Niger, Lukius orang Kirene, Menahem yang dibesarkan bersama Herodes raja wilayah, dan Saulus. Pada suatu hari, ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, Roh Kudus berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Setelah berpuasa dan berdoa, mereka menumpangkan tangan ke atas Barnabas dan Saulus, lalu melepas mereka. Peristiwa ini menandai dimulainya perjalanan misi pertama yang terorganisir dari gereja Antiokhia, yang menjadi pusat misi bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi.

Pelayanan di Siprus dan Pertemuan dengan Elimas (Ayat 4-12)

Barnabas dan Saulus, yang diutus oleh Roh Kudus, pergi ke Seleukia dan dari sana berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis, mereka memberitakan firman Allah di sinagoga-sinagoga orang Yahudi, dengan Yohanes Markus sebagai pembantu mereka. Mereka menjelajahi seluruh pulau itu sampai ke Pafos, di mana mereka bertemu dengan seorang tukang sihir Yahudi bernama Elimas, yang merupakan seorang nabi palsu dan penasihat gubernur Sergius Paulus, seorang yang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus karena ia ingin mendengar firman Allah. Namun Elimas menentang mereka dan berusaha membelokkan gubernur dari iman. Saulus, yang juga disebut Paulus, dipenuhi Roh Kudus, memandang Elimas dan berkata bahwa ia adalah anak iblis yang penuh tipu muslihat, dan bahwa tangan Tuhan akan menimpa dia sehingga ia menjadi buta untuk sementara waktu. Seketika itu juga Elimas menjadi buta dan meraba-raba mencari penuntun. Melihat kejadian itu, gubernur menjadi percaya karena ia takjub akan pengajaran tentang Tuhan. Peristiwa ini menunjukkan kuasa Roh Kudus yang mengalahkan sihir dan tipu daya, serta mengukuhkan otoritas Paulus sebagai rasul bagi bangsa-bangsa lain.

Paulus dan Barnabas di Antiokhia Pisidia (Ayat 13-16)

Paulus dan Barnabas berlayar dari Pafos ke Perga di Pamfilia, tetapi Yohanes Markus meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem. Mereka melanjutkan perjalanan ke Antiokhia di Pisidia dan masuk ke sinagoga pada hari Sabat, lalu duduk. Setelah pembacaan hukum Taurat dan kitab para nabi, para pemimpin sinagoga mengirim pesan kepada mereka, “Saudara-saudara, jika kamu ada perkataan untuk menasihati orang banyak ini, katakanlah.” Paulus berdiri, memberi isyarat dengan tangannya, dan mulai berbicara kepada orang banyak yang berkumpul, yang terdiri dari orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah.

Khotbah Paulus di Sinagoga Antiokhia (Ayat 17-41)

Paulus memulai khotbahnya dengan menelusuri sejarah Israel: Allah memilih nenek moyang mereka, membesarkan umat di Mesir, dan membawa mereka keluar dengan tangan yang ditinggikan. Selama empat puluh tahun di padang gurun, Allah sabar menanggung mereka, lalu menghancurkan tujuh bangsa di tanah Kanaan dan memberikan tanah itu sebagai milik pusaka. Setelah itu, Allah memberikan hakim-hakim sampai nabi Samuel, lalu bangsa Israel meminta seorang raja, dan Allah memberikan Saul bin Kish dari suku Benyamin selama empat puluh tahun. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja, yang tentangnya Allah berkata bahwa ia telah menemukan Daud, anak Isai, seorang yang berkenan di hati-Nya. Dari keturunan Daud, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi Israel, yaitu Yesus, sesuai dengan janji-Nya. Yohanes Pembaptis telah mempersiapkan jalan dengan memberitakan baptisan pertobatan kepada seluruh umat Israel. Paulus menegaskan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang dijanjikan, dan bahwa melalui Yesus, pengampunan dosa diberitakan kepada mereka, dan semua orang yang percaya kepada-Nya dibenarkan dari segala sesuatu yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum Taurat Musa. Paulus memperingatkan agar mereka tidak meremehkan firman Allah, seperti yang dinubuatkan oleh Habakuk, bahwa orang-orang yang meremehkan akan binasa.

Tanggapan Orang Yahudi dan Orang Bukan Yahudi (Ayat 42-49)

Ketika Paulus dan Barnabas keluar dari sinagoga, orang-orang meminta agar mereka berbicara tentang hal-hal ini pada hari Sabat berikutnya. Banyak orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah mengikuti mereka, dan Paulus serta Barnabas menasihati mereka untuk tetap tinggal dalam kasih karunia Allah. Pada hari Sabat berikutnya, hampir seluruh kota berkumpul untuk mendengar firman Allah. Melihat orang banyak itu, orang-orang Yahudi menjadi penuh iri hati dan menghujat serta menentang apa yang dikatakan Paulus. Paulus dan Barnabas dengan berani berkata, “Kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi karena kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk hidup yang kekal, maka kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang diperintahkan Tuhan kepada kami: Aku telah menempatkan engkau sebagai terang bagi bangsa-bangsa lain, supaya engkau menjadi keselamatan sampai ke ujung bumi.” Mendengar itu, orang-orang bukan Yahudi bersukacita dan memuliakan firman Tuhan, dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya. Firman Tuhan tersebar di seluruh daerah itu.

Penganiayaan dan Pengusiran dari Antiokhia Pisidia (Ayat 50-52)

Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar kota, sehingga mereka menganiaya Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu. Paulus dan Barnabas mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai tanda peringatan terhadap mereka, lalu pergi ke Ikonium. Murid-murid di Antiokhia tetap dipenuhi dengan sukacita dan Roh Kudus, meskipun mereka ditinggalkan oleh para rasul, karena kuasa Roh Kudus memelihara iman mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil tidak pernah berhenti meskipun menghadapi penolakan dan penganiayaan, dan bahwa sukacita Roh Kudus menguatkan orang-orang percaya di tengah-tengah pencobaan.

PASAL 14

Pelayanan di Ikonium dan Perlawanan Orang Yahudi (Ayat 1-5)

Paulus dan Barnabas pergi ke Ikonium dan masuk ke sinagoga orang Yahudi, di mana mereka berbicara sedemikian rupa sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan Yunani menjadi percaya. Namun orang-orang Yahudi yang tidak percaya menghasut orang-orang bukan Yahudi dan mempengaruhi pikiran mereka terhadap saudara-saudara. Paulus dan Barnabas tinggal cukup lama di sana dan dengan berani memberitakan firman Tuhan, yang menguatkan pemberitaan mereka dengan memberikan tanda-tanda dan mujizat-mujizat melalui tangan mereka. Orang banyak di kota itu terpecah: sebagian memihak orang Yahudi dan sebagian lagi memihak para rasul. Ketika orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama para pemimpin mereka bermaksud untuk menganiaya dan melempari Paulus dan Barnabas dengan batu, mereka mengetahui hal itu dan melarikan diri ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe, serta daerah sekitarnya.

Penyembuhan Orang Lumpuh di Listra (Ayat 6-10)

Di Listra duduk seorang laki-laki yang lemah kakinya, lumpuh sejak lahir dan tidak pernah dapat berjalan. Ia mendengar Paulus berbicara, dan Paulus menatap dia dengan tajam serta melihat bahwa ia memiliki iman untuk disembuhkan. Paulus berseru dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Orang itu melompat berdiri dan mulai berjalan. Mukjizat ini membawa kegemparan besar di antara orang-orang Listra, yang kemudian mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun dari surga.

Kesalahan Orang Listra yang Menganggap Paulus dan Barnabas sebagai Dewa (Ayat 11-18)

Ketika orang banyak melihat apa yang telah dilakukan Paulus, mereka berseru dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia!” Mereka menyebut Barnabas sebagai Zeus dan Paulus sebagai Hermes, karena Paulus yang berbicara. Imam dari kuil Zeus di depan kota membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang dan hendak mempersembahkan korban bersama orang banyak. Mendengar hal itu, Barnabas dan Paulus merobek pakaian mereka dan berlari ke tengah-tengah orang banyak sambil berseru bahwa mereka adalah manusia biasa seperti mereka. Mereka menyatakan bahwa mereka datang untuk memberitakan kabar baik, yaitu agar orang banyak berbalik dari berhala-berhala yang sia-sia kepada Allah yang hidup, yang menciptakan langit, bumi, laut, dan segala isinya. Mereka menegaskan bahwa Allah membiarkan semua bangsa menempuh jalannya masing-masing, tetapi Ia tetap menyatakan diri-Nya dengan berbuat baik, memberi hujan dari langit dan musim-musim yang subur, serta memenuhi hati mereka dengan makanan dan sukacita. Meskipun demikian, mereka hampir tidak dapat mencegah orang banyak untuk mempersembahkan korban kepada mereka.

Penganiayaan Paulus di Listra dan Pelarian ke Derbe (Ayat 19-20)

Tetapi orang-orang Yahudi datang dari Antiokhia dan Ikonium, lalu menghasut orang banyak sehingga mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka mengira bahwa Paulus telah mati. Namun ketika murid-murid berdiri mengelilingi Paulus, ia bangun dan masuk ke dalam kota. Keesokan harinya ia berangkat bersama Barnabas ke Derbe. Penganiayaan ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil selalu menghadapi risiko besar, tetapi kuasa Allah memulihkan Paulus untuk melanjutkan pelayanannya.

Penguatan Jemaat-Jemaat dan Penetapan Penatua (Ayat 21-23)

Setelah memberitakan Injil di Derbe dan menjadikan banyak orang murid, Paulus dan Barnabas kembali ke Listra, Ikonium, dan Antiokhia, untuk menguatkan hati murid-murid dan menasihati mereka supaya mereka tetap bertekun dalam iman. Mereka berkata, “Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Di setiap jemaat, mereka menetapkan penatua-penatua dengan berdoa dan berpuasa, lalu menyerahkan mereka kepada Tuhan yang telah mereka percayai. Tindakan ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan rohani dan penggembalaan bagi jemaat yang baru terbentuk.

Kembali ke Antiokhia dan Laporan Perjalanan Misi (Ayat 24-28)

Mereka melanjutkan perjalanan melalui Pisidia dan tiba di Pamfilia. Setelah memberitakan firman di Perga, mereka pergi ke Atalia, lalu berlayar ke Antiokhia di Siria, yaitu tempat mereka diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Setiba di sana, mereka mengumpulkan seluruh jemaat dan menceritakan segala sesuatu yang telah Allah lakukan melalui mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain untuk percaya. Mereka tinggal cukup lama di Antiokhia bersama murid-murid, memberikan kesaksian tentang kuasa Allah yang meluas kepada semua bangsa.

PASAL 15

Perselisihan tentang Sunat dan Hukum Taurat (Ayat 1-5)

Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara bahwa jika mereka tidak disunat menurut adat istiadat Musa, mereka tidak dapat diselamatkan. Hal ini menimbulkan perselisihan dan perdebatan yang sengit antara Paulus dan Barnabas dengan mereka. Akhirnya, jemaat memutuskan agar Paulus, Barnabas, dan beberapa orang lainnya pergi ke Yerusalem untuk membicarakan masalah ini dengan para rasul dan penatua. Dalam perjalanan, mereka melaporkan pertobatan bangsa-bangsa lain dan membuat sukacita besar bagi semua saudara. Namun di Yerusalem, beberapa orang dari golongan Farisi yang telah percaya bangkit dan berkata bahwa orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan menuruti hukum Taurat Musa.

Sidang di Yerusalem dan Kesaksian Petrus (Ayat 6-11)

Para rasul dan penatua berkumpul untuk mempertimbangkan masalah ini. Setelah perdebatan yang panjang, Petrus berdiri dan berkata bahwa Allah telah memilih dia untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, dan Allah yang mengenal hati manusia telah memberikan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada orang Yahudi. Petrus menegaskan bahwa Allah tidak membedakan orang Yahudi dan bukan Yahudi, karena Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Ia berkata bahwa mereka tidak perlu membebankan kuk yang tidak dapat dipikul oleh nenek moyang mereka maupun oleh mereka sendiri, karena keselamatan hanya oleh kasih karunia Tuhan Yesus, sama seperti mereka.

Kesaksian Paulus dan Barnabas (Ayat 12)

Seluruh sidang menjadi diam dan mendengarkan Paulus serta Barnabas, yang menceritakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang telah Allah lakukan melalui mereka di antara bangsa-bangsa lain. Kesaksian mereka semakin menguatkan bahwa Allah bekerja secara nyata di antara orang-orang bukan Yahudi tanpa memerlukan sunat atau hukum Taurat sebagai syarat keselamatan.

Keputusan Yakobus dan Surat Edaran (Ayat 13-21)

Setelah mereka diam, Yakobus berbicara dan menegaskan bahwa Allah telah mengunjungi bangsa-bangsa lain untuk mengambil dari antara mereka suatu umat bagi nama-Nya. Hal ini sesuai dengan nubuat para nabi, seperti yang tertulis dalam Kitab Amos bahwa Allah akan membangun kembali kemah Daud yang telah runtuh, agar sisa-sisa umat manusia dan semua bangsa yang disebut dengan nama-Nya mencari Tuhan. Yakobus memberikan keputusan bahwa mereka tidak boleh menyusahkan orang-orang yang berbalik kepada Allah dari bangsa-bangsa lain, tetapi cukup menulis surat agar mereka menjauhkan diri dari makanan yang dicemarkan berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang dicekik, dan dari darah. Keputusan ini dianggap bijaksana dan sesuai dengan Roh Kudus, serta menghormati hukum Taurat yang tetap berlaku bagi orang Yahudi.

Pengiriman Surat dan Utusan ke Antiokhia (Ayat 22-29)

Para rasul, penatua, dan seluruh jemaat memutuskan untuk memilih beberapa orang dari antara mereka untuk dikirim ke Antiokhia bersama Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas, yang adalah pemimpin di antara saudara-saudara. Mereka membawa surat yang berisi keputusan sidang, yang menyatakan bahwa Roh Kudus dan mereka sendiri tidak membebankan kewajiban apa pun kepada orang-orang bukan Yahudi selain hal-hal yang perlu, yaitu menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang dicekik, dan dari percabulan. Jika mereka menjauhkan diri dari hal-hal itu, mereka berbuat baik.

Penerimaan Surat dan Sukacita di Antiokhia (Ayat 30-35)

Setelah diutus, mereka tiba di Antiokhia dan mengumpulkan seluruh jemaat, lalu menyerahkan surat itu. Ketika surat itu dibacakan, semua orang bersukacita karena penghiburannya. Yudas dan Silas, yang juga adalah nabi, menguatkan dan meneguhkan hati saudara-saudara dengan banyak nasihat. Setelah beberapa waktu, mereka diutus kembali dengan damai kepada saudara-saudara yang mengutus mereka, tetapi Paulus dan Barnabas tetap tinggal di Antiokhia dan mengajar serta memberitakan firman Tuhan bersama banyak orang lainnya.

Perselisihan Paulus dan Barnabas tentang Markus (Ayat 36-41)

Beberapa hari kemudian, Paulus berkata kepada Barnabas, “Marilah kita kembali mengunjungi saudara-saudara di setiap kota di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat bagaimana keadaan mereka.” Barnabas ingin membawa Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus tidak mau karena Markus telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak ikut dalam pekerjaan mereka. Terjadilah perselisihan yang tajam di antara mereka, sehingga mereka berpisah. Barnabas membawa Markus dan berlayar ke Siprus, sedangkan Paulus memilih Silas dan pergi, setelah diserahkan oleh saudara-saudara kepada kasih karunia Tuhan. Paulus berjalan melalui Siria dan Kilikia sambil menguatkan jemaat-jemaat. Perpisahan ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi perbedaan pendapat, Allah tetap memakai kedua pasang pelayan untuk meluaskan Injil melalui jalur yang berbeda.

PASAL 16

Paulus Memilih Timotius dan Perjalanan ke Makedonia (Ayat 1-5)

Paulus tiba di Derbe dan Listra, dan di sana ada seorang murid bernama Timotius, anak seorang perempuan Yahudi yang percaya, sedangkan ayahnya adalah orang Yunani. Timotius dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan Ikonium. Paulus ingin membawa Timotius dalam perjalanan, lalu ia menyunat dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, karena mereka semua tahu bahwa ayahnya adalah orang Yunani. Dalam perjalanan mereka, Paulus dan Timotius menyampaikan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan oleh para rasul dan penatua di Yerusalem, dan jemaat-jemaat dikuatkan dalam iman dan bertambah jumlahnya setiap hari.

Penglihatan Paulus tentang Orang Makedonia (Ayat 6-10)

Mereka berjalan melalui wilayah Frigia dan Galatia karena dicegah oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil di Asia. Ketika mereka sampai di Misia, mereka berusaha pergi ke Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Mereka melewati Misia dan tiba di Troas. Pada malam hari, Paulus mendapat suatu penglihatan: seorang Makedonia berdiri dan memohon kepadanya, “Datanglah ke Makedonia dan tolonglah kami!” Setelah melihat penglihatan itu, mereka segera berusaha untuk pergi ke Makedonia, karena mereka yakin bahwa Allah telah memanggil mereka untuk memberitakan Injil di sana.

Pelayanan di Filipi dan Pertobatan Lidia (Ayat 11-15)

Mereka berlayar dari Troas langsung ke Samotrake, lalu ke Neapolis, dan dari sana mereka pergi ke Filipi, yaitu kota utama di Makedonia dan sebuah koloni Romawi. Di sana mereka tinggal beberapa hari. Pada hari Sabat, mereka pergi ke luar kota ke tepi sungai, di mana mereka menduga ada tempat doa. Mereka duduk dan berbicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di sana. Seorang perempuan bernama Lidia, seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira yang beribadah kepada Allah, mendengar perkataan Paulus, dan Tuhan membuka hatinya sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan Paulus. Ia dan seisi rumahnya dibaptis, lalu ia meminta Paulus dan teman-temannya untuk tinggal di rumahnya, dan ia mendesak mereka sampai mereka setuju.

Paulus dan Silas Dilemparkan ke Penjara (Ayat 16-24)

Pada suatu hari ketika Paulus pergi ke tempat doa, seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung bertemu dengan mereka. Ia memberikan banyak keuntungan kepada tuannya dengan tenungannya. Ia mengikuti Paulus dan berseru, “Orang-orang ini adalah hamba-hamba Allah Yang Mahatinggi, yang memberitakan jalan keselamatan kepada kamu.” Hal itu dilakukannya beberapa hari. Paulus merasa terganggu, lalu berpaling dan berkata kepada roh itu, “Aku menyuruh engkau dalam nama Yesus Kristus untuk keluar dari dia!” Seketika itu juga roh itu keluar. Ketika tuannya melihat bahwa harapan untuk mendapat keuntungan telah hilang, mereka menangkap Paulus dan Silas dan menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa. Mereka menuduh Paulus dan Silas mengacaukan kota dan mengajarkan adat istiadat yang tidak boleh diterima oleh orang Romawi. Orang banyak bangkit melawan mereka, dan penguasa memerintahkan agar pakaian mereka dikoyakkan dan mereka dipukul dengan tongkat. Setelah dipukul banyak kali, mereka dilemparkan ke dalam penjara, dan kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh, lalu memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling dalam dan memasung kaki mereka dalam pasungan kayu.

Paulus dan Silas Memuji Tuhan di Penjara dan Pembebasan Ajaib (Ayat 25-34)

Kira-kira tengah malam, Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah, dan semua orang tahanan mendengarkan mereka. Tiba-tiba terjadi gempa bumi yang besar, sehingga pondasi penjara berguncang, dan seketika itu juga semua pintu terbuka serta semua belenggu terlepas. Kepala penjara terbangun dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, lalu ia menghunus pedang dan hendak membunuh diri karena mengira semua tahanan telah lari. Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semua masih ada di sini!” Kepala penjara meminta lampu dan berlari masuk, lalu tersungkur di hadapan Paulus dan Silas. Ia membawa mereka keluar dan bertanya, “Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat supaya aku selamat?” Jawab mereka, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, maka engkau dan seisi rumahmu akan selamat.” Mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang di rumahnya. Pada malam itu juga kepala penjara membasuh luka mereka, dan ia serta seisi rumahnya dibaptis. Ia membawa Paulus dan Silas ke rumahnya, menyediakan makanan, dan ia bersukacita karena telah percaya kepada Allah bersama seluruh keluarganya.

Paulus Menuntut Haknya sebagai Warga Negara Romawi (Ayat 35-40)

Keesokan harinya, penguasa kota mengirim petugas-petugas untuk mengatakan kepada kepala penjara, “Lepaskan orang-orang itu!” Kepala penjara menyampaikan pesan itu kepada Paulus, tetapi Paulus berkata kepada petugas itu, “Mereka telah memukul kami di muka umum tanpa diadili, padahal kami adalah warga negara Romawi, dan mereka melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengusir kami secara diam-diam? Tidak! Biarlah mereka sendiri datang dan membawa kami keluar.” Petugas itu melaporkan perkataan Paulus kepada penguasa, dan mereka menjadi takut ketika mendengar bahwa Paulus dan Silas adalah orang Romawi. Mereka datang dan membujuk mereka, lalu membawa mereka keluar dan meminta mereka meninggalkan kota. Paulus dan Silas keluar dari penjara dan pergi ke rumah Lidia, lalu mereka bertemu dengan saudara-saudara dan menghibur mereka, kemudian mereka pergi.

PASAL 17

Paulus dan Silas di Tesalonika (Ayat 1-4)

Paulus dan Silas melewati Amfipolis dan Apolonia, lalu tiba di Tesalonika, di mana ada sinagoga orang Yahudi. Menurut kebiasaannya, Paulus masuk ke sinagoga dan selama tiga hari Sabat berturut-turut membicarakan dengan mereka tentang Kitab Suci. Ia membuka dan menjelaskan bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Yesus adalah Mesias yang dimaksud. Beberapa orang Yahudi menjadi percaya dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas, juga sejumlah besar orang Yunani yang takut akan Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. Pemberitaan ini membawa pertumbuhan jemaat yang signifikan di kota strategis ini.

Perlawanan dari Orang Yahudi yang Tidak Percaya (Ayat 5-9)

Orang-orang Yahudi yang tidak percaya menjadi iri hati dan mengumpulkan beberapa orang jahat dari antara orang-orang yang berjalan di pasar, lalu membentuk kerumunan dan mengacaukan kota. Mereka menyerbu rumah Yason untuk membawa Paulus dan Silas ke hadapan orang banyak, tetapi tidak menemukan mereka di sana. Mereka menyeret Yason dan beberapa saudara ke hadapan penguasa kota sambil berteriak, “Orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia telah datang ke sini, dan Yason menerima mereka. Mereka semua bertindak melawan ketetapan-ketetapan Kaisar, dengan mengatakan bahwa ada seorang raja lain, yaitu Yesus.” Penguasa kota dan orang banyak menjadi gelisah, lalu mereka mengambil jaminan dari Yason dan saudara-saudara lainnya, kemudian melepaskan mereka. Tuduhan politik ini menjadi pola serangan yang sering digunakan terhadap pemberita Injil, karena mereka dituduh mengancam kestabilan kekaisaran.

Paulus dan Silas di Berea (Ayat 10-15)

Pada malam hari, saudara-saudara segera menyuruh Paulus dan Silas pergi ke Berea. Setibanya di sana, mereka pergi ke sinagoga orang Yahudi. Orang-orang Yahudi di Berea lebih baik hatinya daripada orang-orang di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah semua yang diajarkan itu benar. Banyak di antara mereka menjadi percaya, dan tidak sedikit dari perempuan-perempuan terkemuka serta laki-laki Yunani. Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika mengetahui bahwa Paulus juga memberitakan firman Allah di Berea, mereka datang ke sana dan menghasut orang banyak. Saudara-saudara segera menyuruh Paulus pergi ke pantai, tetapi Silas dan Timotius tetap tinggal di Berea. Beberapa orang mengantar Paulus sampai ke Atena, lalu mereka kembali dengan pesan agar Silas dan Timotius segera menyusul Paulus.

Paulus di Atena dan Pemberitaan di Areopagus (Ayat 16-21)

Sementara Paulus menunggu Silas dan Timotius di Atena, ia sangat sedih melihat kota itu penuh dengan patung-patung berhala. Ia berbicara di sinagoga dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, serta di pasar setiap hari dengan orang-orang yang ditemuinya. Beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa berdebat dengan dia. Ada yang bertanya, “Apakah yang hendak dikatakan oleh si pembual ini?” Yang lain berkata, “Ia kelihatannya pemberita tentang dewa-dewa asing,” karena Paulus memberitakan Yesus dan kebangkitan. Mereka membawa Paulus ke Areopagus dan berkata, “Bolehkah kami tahu apakah ajaran baru yang kauajarkan ini? Engkau membawa perkara-perkara yang aneh ke telinga kami. Karena itu kami ingin tahu apa artinya semua ini.” Orang-orang Atena dan orang asing yang tinggal di sana tidak menggunakan waktu untuk hal lain selain membicarakan atau mendengarkan hal-hal baru.

Khotbah Paulus di Areopagus (Ayat 22-31)

Paulus berdiri di tengah-tengah Areopagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, dalam segala hal aku melihat bahwa kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan dan memperhatikan tempat-tempat pemujaanmu, aku menemukan sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Paulus menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan dunia dan segala isinya tidak diam di dalam kuil buatan tangan manusia, dan Ia tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan sesuatu. Dari satu orang Allah menjadikan semua bangsa di bumi dan menentukan waktu serta batas tempat tinggal mereka, supaya mereka mencari Dia dan dapat menemukan-Nya, karena Ia tidak jauh dari setiap orang. Paulus mengutip penyair mereka, “Sebab kita ini dari keturunan Allah.” Karena itu, kita tidak boleh menganggap bahwa Allah sama dengan emas, perak, atau batu yang diukir. Paulus menyerukan agar semua orang bertobat, karena Allah telah menetapkan suatu hari untuk menghakimi dunia dengan adil melalui seorang yang telah ditentukan-Nya, dan Ia telah memberi bukti kepada semua orang dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.

Tanggapan Orang Atena dan Beberapa Orang yang Percaya (Ayat 32-34)

Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, ada yang mengejek, tetapi yang lain berkata, “Kami akan mendengar engkau lagi tentang hal ini.” Paulus keluar dari tengah-tengah mereka. Namun beberapa orang bergabung dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya adalah Dionisius, anggota Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, serta orang-orang lain bersama mereka. Meskipun hanya sedikit yang bertobat di Atena, namun keberadaan mereka menunjukkan bahwa Injil menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk para intelektual dan pemimpin kota.

PASAL 18

Saya akan memberikan penjelasan Kisah Para Rasul pasal 19 sesuai permintaan Anda. Berikut adalah output dalam format HTML untuk Gutenberg Classic Editor. —

Paulus Menemui Murid-Murid di Efesus dan Baptisan Roh Kudus (Ayat 1-7)

Ketika Apolos berada di Korintus, Paulus berkeliling melalui daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di sana ia menemukan beberapa murid dan bertanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” Mereka menjawab, “Kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Paulus bertanya lagi, “Dengan baptisan apakah kamu dibaptis?” Mereka menjawab, “Dengan baptisan Yohanes.” Paulus menjelaskan bahwa Yohanes membaptis dengan baptisan pertobatan dan memberitahu mereka untuk percaya kepada Dia yang datang kemudian, yaitu Yesus. Setelah mendengar itu, mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian Paulus menumpangkan tangan ke atas mereka, dan Roh Kudus turun ke atas mereka, sehingga mereka berbicara dalam bahasa roh dan bernubuat. Jumlah mereka semua kira-kira dua belas orang.

Paulus Mengajar di Sinagoga dan di Sekolah Tiranus (Ayat 8-10)

Paulus masuk ke sinagoga dan berbicara dengan berani selama tiga bulan, berdebat dan meyakinkan orang-orang tentang Kerajaan Allah. Namun ada beberapa orang yang keras hati dan tidak percaya, lalu mereka menghujat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-murid, lalu mengajar setiap hari di sekolah Tiranus. Hal itu berlangsung selama dua tahun, sehingga semua penduduk Asia, baik orang Yahudi maupun Yunani, mendengar firman Tuhan.

Mukjizat-Mukjizat Luar Biasa melalui Paulus (Ayat 11-12)

Allah melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa melalui tangan Paulus, sehingga sapu tangan dan kain yang pernah dipakai Paulus dibawa kepada orang-orang sakit, dan penyakit mereka lenyap serta roh-roh jahat keluar dari mereka. Kuasa Allah dinyatakan secara nyata melalui Paulus, sehingga nama Tuhan Yesus semakin dimuliakan di seluruh Efesus.

Tujuh Anak Skewa dan Kekalahan Roh Jahat (Ayat 13-17)

Beberapa pengelana Yahudi, yaitu tujuh anak laki-laki dari seorang imam kepala bernama Skewa, mencoba mengusir roh jahat dengan menyebut nama Tuhan Yesus. Mereka berkata, “Kami menyuruh engkau dalam nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.” Tetapi roh jahat itu menjawab, “Yesus aku kenal, dan Paulus aku tahu, tetapi kamu, siapakah kamu?” Orang yang dirasuk roh jahat itu menerkam mereka dan mengalahkan mereka, sehingga mereka melarikan diri dari rumah itu dengan telanjang dan terluka. Peristiwa itu diketahui oleh semua orang di Efesus, baik Yahudi maupun Yunani, dan ketakutan meliputi mereka, sehingga nama Tuhan Yesus semakin diagungkan.

Pertobatan dan Pembakaran Buku-Buku Sihir (Ayat 18-20)

Banyak orang yang telah percaya datang mengakui perbuatan mereka dan menceritakannya secara terbuka. Di antara mereka, banyak juga yang pernah melakukan sihir mengumpulkan buku-buku mereka dan membakarnya di depan umum. Jumlah harga buku-buku itu ditaksir lima puluh ribu uang perak. Dengan demikian firman Tuhan terus berkembang dengan kuat dan berkuasa.

Rencana Paulus untuk Pergi ke Yerusalem dan Roma (Ayat 21-22)

Setelah peristiwa itu, Paulus bertekad dalam roh untuk pergi ke Yerusalem setelah melewati Makedonia dan Akhaya. Ia berkata, “Setelah aku berada di sana, aku harus melihat Roma juga.” Ia mengirim dua orang pembantunya, yaitu Timotius dan Erastus, ke Makedonia, sementara ia sendiri tinggal beberapa lama lagi di Asia.

Kerusuhan di Efesus yang Dipicu oleh Demetrius (Ayat 23-29)

Pada waktu itu, timbul keributan besar karena Jalan Tuhan. Seorang tukang perak bernama Demetrius, yang membuat kuil-kuilan dewi Artemis dan mendatangkan penghasilan yang tidak sedikit bagi para perajin, mengumpulkan mereka dan berkata bahwa Paulus telah membujuk banyak orang untuk meninggalkan pemujaan dewi Artemis. Ia berkata bahwa kemakmuran mereka terancam dan kuil dewi besar Artemis akan dihina. Mendengar itu, mereka menjadi sangat marah dan berteriak, “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” Seluruh kota menjadi kacau, dan mereka menangkap Gayus serta Aristarkhus, dua orang Makedonia yang ikut dalam perjalanan Paulus, lalu menyeret mereka ke teater.

Paulus Ingin Masuk ke Teater tetapi Dicegah (Ayat 30-31)

Paulus ingin masuk ke hadapan orang banyak, tetapi murid-murid tidak mengizinkannya. Beberapa pejabat Asia yang bersahabat dengan Paulus juga mengirim pesan kepadanya agar ia tidak pergi ke teater karena akan sangat berbahaya baginya.

Alexandria dan Pembubaran Kerumunan oleh Panitera Kota (Ayat 32-34)

Sementara itu, orang banyak berteriak-teriak dengan tidak beraturan, dan sebagian besar tidak tahu mengapa mereka berkumpul. Ketika orang-orang Yahudi mendorong Aleksander ke depan, ia memberi isyarat dengan tangannya dan hendak memberikan penjelasan kepada orang banyak, tetapi setelah mereka mengetahui bahwa ia adalah orang Yahudi, mereka berteriak bersama-sama selama kira-kira dua jam, “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!”

Panitera Kota Menenangkan Kerumunan dan Membubarkan Mereka (Ayat 35-41)

Panitera kota akhirnya berhasil menenangkan orang banyak dan berkata bahwa semua orang tahu bahwa kota Efesus adalah pemelihara kuil dewi Artemis dan patungnya yang turun dari langit. Ia mengatakan bahwa Gayus dan Aristarkhus tidak merampok kuil atau menghujat dewi mereka. Ia menyarankan agar mereka membawa tuduhan mereka ke pengadilan resmi, dan jika ada masalah lain, itu harus diselesaikan dalam sidang rakyat yang sah. Ia memperingatkan bahwa mereka berada dalam bahaya dituduh sebagai pemberontak karena kerusuhan yang tidak beralasan ini. Setelah itu, ia membubarkan kerumunan itu.

PASAL 19

Saya akan memberikan penjelasan Kisah Para Rasul pasal 19 sesuai permintaan Anda. Berikut adalah output dalam format HTML untuk Gutenberg Classic Editor. —

Paulus Menemui Murid-Murid di Efesus dan Baptisan Roh Kudus (Ayat 1-7)

Ketika Apolos berada di Korintus, Paulus berkeliling melalui daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di sana ia menemukan beberapa murid dan bertanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” Mereka menjawab, “Kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Paulus bertanya lagi, “Dengan baptisan apakah kamu dibaptis?” Mereka menjawab, “Dengan baptisan Yohanes.” Paulus menjelaskan bahwa Yohanes membaptis dengan baptisan pertobatan dan memberitahu mereka untuk percaya kepada Dia yang datang kemudian, yaitu Yesus. Setelah mendengar itu, mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian Paulus menumpangkan tangan ke atas mereka, dan Roh Kudus turun ke atas mereka, sehingga mereka berbicara dalam bahasa roh dan bernubuat. Jumlah mereka semua kira-kira dua belas orang.

Paulus Mengajar di Sinagoga dan di Sekolah Tiranus (Ayat 8-10)

Paulus masuk ke sinagoga dan berbicara dengan berani selama tiga bulan, berdebat dan meyakinkan orang-orang tentang Kerajaan Allah. Namun ada beberapa orang yang keras hati dan tidak percaya, lalu mereka menghujat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-murid, lalu mengajar setiap hari di sekolah Tiranus. Hal itu berlangsung selama dua tahun, sehingga semua penduduk Asia, baik orang Yahudi maupun Yunani, mendengar firman Tuhan.

Mukjizat-Mukjizat Luar Biasa melalui Paulus (Ayat 11-12)

Allah melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa melalui tangan Paulus, sehingga sapu tangan dan kain yang pernah dipakai Paulus dibawa kepada orang-orang sakit, dan penyakit mereka lenyap serta roh-roh jahat keluar dari mereka. Kuasa Allah dinyatakan secara nyata melalui Paulus, sehingga nama Tuhan Yesus semakin dimuliakan di seluruh Efesus.

Tujuh Anak Skewa dan Kekalahan Roh Jahat (Ayat 13-17)

Beberapa pengelana Yahudi, yaitu tujuh anak laki-laki dari seorang imam kepala bernama Skewa, mencoba mengusir roh jahat dengan menyebut nama Tuhan Yesus. Mereka berkata, “Kami menyuruh engkau dalam nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.” Tetapi roh jahat itu menjawab, “Yesus aku kenal, dan Paulus aku tahu, tetapi kamu, siapakah kamu?” Orang yang dirasuk roh jahat itu menerkam mereka dan mengalahkan mereka, sehingga mereka melarikan diri dari rumah itu dengan telanjang dan terluka. Peristiwa itu diketahui oleh semua orang di Efesus, baik Yahudi maupun Yunani, dan ketakutan meliputi mereka, sehingga nama Tuhan Yesus semakin diagungkan.

Pertobatan dan Pembakaran Buku-Buku Sihir (Ayat 18-20)

Banyak orang yang telah percaya datang mengakui perbuatan mereka dan menceritakannya secara terbuka. Di antara mereka, banyak juga yang pernah melakukan sihir mengumpulkan buku-buku mereka dan membakarnya di depan umum. Jumlah harga buku-buku itu ditaksir lima puluh ribu uang perak. Dengan demikian firman Tuhan terus berkembang dengan kuat dan berkuasa.

Rencana Paulus untuk Pergi ke Yerusalem dan Roma (Ayat 21-22)

Setelah peristiwa itu, Paulus bertekad dalam roh untuk pergi ke Yerusalem setelah melewati Makedonia dan Akhaya. Ia berkata, “Setelah aku berada di sana, aku harus melihat Roma juga.” Ia mengirim dua orang pembantunya, yaitu Timotius dan Erastus, ke Makedonia, sementara ia sendiri tinggal beberapa lama lagi di Asia.

Kerusuhan di Efesus yang Dipicu oleh Demetrius (Ayat 23-29)

Pada waktu itu, timbul keributan besar karena Jalan Tuhan. Seorang tukang perak bernama Demetrius, yang membuat kuil-kuilan dewi Artemis dan mendatangkan penghasilan yang tidak sedikit bagi para perajin, mengumpulkan mereka dan berkata bahwa Paulus telah membujuk banyak orang untuk meninggalkan pemujaan dewi Artemis. Ia berkata bahwa kemakmuran mereka terancam dan kuil dewi besar Artemis akan dihina. Mendengar itu, mereka menjadi sangat marah dan berteriak, “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” Seluruh kota menjadi kacau, dan mereka menangkap Gayus serta Aristarkhus, dua orang Makedonia yang ikut dalam perjalanan Paulus, lalu menyeret mereka ke teater.

Paulus Ingin Masuk ke Teater tetapi Dicegah (Ayat 30-31)

Paulus ingin masuk ke hadapan orang banyak, tetapi murid-murid tidak mengizinkannya. Beberapa pejabat Asia yang bersahabat dengan Paulus juga mengirim pesan kepadanya agar ia tidak pergi ke teater karena akan sangat berbahaya baginya.

Alexandria dan Pembubaran Kerumunan oleh Panitera Kota (Ayat 32-34)

Sementara itu, orang banyak berteriak-teriak dengan tidak beraturan, dan sebagian besar tidak tahu mengapa mereka berkumpul. Ketika orang-orang Yahudi mendorong Aleksander ke depan, ia memberi isyarat dengan tangannya dan hendak memberikan penjelasan kepada orang banyak, tetapi setelah mereka mengetahui bahwa ia adalah orang Yahudi, mereka berteriak bersama-sama selama kira-kira dua jam, “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!”

Panitera Kota Menenangkan Kerumunan dan Membubarkan Mereka (Ayat 35-41)

Panitera kota akhirnya berhasil menenangkan orang banyak dan berkata bahwa semua orang tahu bahwa kota Efesus adalah pemelihara kuil dewi Artemis dan patungnya yang turun dari langit. Ia mengatakan bahwa Gayus dan Aristarkhus tidak merampok kuil atau menghujat dewi mereka. Ia menyarankan agar mereka membawa tuduhan mereka ke pengadilan resmi, dan jika ada masalah lain, itu harus diselesaikan dalam sidang rakyat yang sah. Ia memperingatkan bahwa mereka berada dalam bahaya dituduh sebagai pemberontak karena kerusuhan yang tidak beralasan ini. Setelah itu, ia membubarkan kerumunan itu.

PASAL 20

Paulus Berkeliling di Makedonia dan Yunani (Ayat 1-6)

Setelah kerusuhan di Efesus mereda, Paulus memanggil murid-murid dan menguatkan hati mereka, lalu ia berpamitan dan berangkat ke Makedonia. Ia berjalan melalui daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di sana, kemudian tiba di Yunani. Ia tinggal di sana selama tiga bulan. Ketika ia hendak berlayar ke Siria, ia mengubah rencana dan kembali melalui Makedonia karena orang-orang Yahudi merencanakan sesuatu terhadapnya. Ia ditemani oleh Sopater dari Berea, Aristarkhus dan Sekundus dari Tesalonika, Gayus dari Derbe, serta Timotius, dan juga Tikhikus serta Trofimus dari Asia. Mereka berangkat lebih dulu dan menunggu Paulus di Troas, sementara Paulus sendiri tinggal beberapa hari di Filipi sebelum berlayar ke Troas.

Perjalanan ke Troas dan Perjamuan Malam (Ayat 7-12)

Pada hari pertama minggu, ketika murid-murid berkumpul untuk memecahkan roti, Paulus berbicara kepada mereka karena ia akan berangkat keesokan harinya. Ia memperpanjang pembicaraan sampai tengah malam. Di ruang atas ada seorang muda bernama Eutikhus, yang duduk di jendela dan tertidur lelap karena Paulus berbicara sangat panjang. Ia jatuh dari tingkat ketiga dan terangkat mati. Paulus turun ke bawah, merebahkan diri di atas pemuda itu, dan memeluknya sambil berkata, “Jangan ribut, sebab ia masih hidup.” Setelah itu, Paulus kembali ke atas, memecahkan roti dan makan, lalu berbicara lagi sampai fajar. Mereka membawa pemuda itu hidup-hidup, dan semua orang sangat terhibur.

Perjalanan dari Troas ke Miletus (Ayat 13-16)

Paulus memutuskan untuk berjalan kaki ke Asos, sementara kami pergi lebih dulu dengan kapal dan menjemputnya di sana. Setelah bertemu, ia naik ke kapal dan kami berlayar ke Metilene. Keesokan harinya, kami berlayar dari situ dan tiba di Kios, lalu ke Samos, dan ke Miletus keesokan harinya. Paulus telah memutuskan untuk tidak singgah di Efesus karena ia ingin segera tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta, jika mungkin.

Nasihat Perpisahan Paulus kepada Penatua-Penatua Efesus (Ayat 17-27)

Dari Miletus, Paulus mengirim pesan ke Efesus dan memanggil penatua-penatua jemaat untuk datang kepadanya. Ketika mereka tiba, Paulus berkata bahwa mereka tahu bagaimana ia hidup di tengah-tengah mereka sejak hari pertama ia tiba di Asia, melayani Tuhan dengan rendah hati dan dengan banyak air mata, menghadapi pencobaan dari orang-orang Yahudi. Ia tidak pernah ragu untuk memberitakan segala yang berguna bagi mereka dan mengajar mereka di muka umum dan dari rumah ke rumah. Ia bersaksi kepada orang Yahudi dan Yunani tentang pertobatan kepada Allah dan iman kepada Tuhan Yesus. Sekarang ia pergi ke Yerusalem dengan paksa oleh Roh, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya di sana, kecuali bahwa Roh Kudus telah memberi kesaksian di setiap kota bahwa penjara dan penderitaan menantinya. Namun ia tidak menganggap nyawanya berharga, asalkan ia dapat menyelesaikan tugas pelayanannya dan memberitakan Injil kasih karunia Allah. Ia menyatakan bahwa mereka tidak akan melihat wajahnya lagi, dan ia bersih dari darah semua orang karena ia tidak pernah ragu untuk memberitakan seluruh kehendak Allah.

Peringatan Paulus tentang Penggembalaan Jemaat (Ayat 28-31)

Paulus memperingatkan para penatua untuk menjaga diri mereka sendiri dan seluruh kawanan yang telah dipercayakan kepada mereka oleh Roh Kudus, sebagai gembala untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Ia menegaskan bahwa setelah kepergiannya, serigala-serigala ganas akan masuk dan tidak menyayangkan kawanan itu, dan bahkan dari antara mereka sendiri akan muncul orang-orang yang membawa ajaran sesat untuk menarik murid-murid mengikuti mereka. Karena itu, ia mengingatkan mereka untuk berjaga-jaga, mengingat bagaimana selama tiga tahun ia siang dan malam tidak henti-hentinya menasihati setiap orang dengan air mata.

Doa dan Perpisahan yang Mengharukan (Ayat 32-38)

Paulus menyerahkan mereka kepada Allah dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang dapat membangun mereka dan memberikan warisan di antara semua orang yang dikuduskan. Ia tidak pernah menginginkan perak, emas, atau pakaian dari siapa pun, dan ia sendiri bekerja dengan tangannya untuk memenuhi kebutuhannya serta kebutuhan teman-temannya. Ia mengingatkan mereka akan perkataan Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Setelah berkata demikian, ia berlutut dan berdoa bersama mereka semua. Mereka semua menangis dengan sedih dan memeluk Paulus dengan erat. Mereka sangat bersedih karena perkataannya bahwa mereka tidak akan melihat wajahnya lagi, lalu mereka mengantarnya ke kapal.

PASAL 21

Perjalanan Paulus ke Tirus dan Nubuat tentang Penderitaannya (Ayat 1-6)

Kami berlayar dengan sedih hati setelah berpisah dari para penatua Efesus dan berlayar langsung ke Kos, lalu ke Rodos, dan dari situ ke Patara. Di Patara, kami menemukan kapal yang hendak menyeberang ke Fenisia, lalu naik dan berlayar. Kami melihat Siprus di sebelah kiri dan terus berlayar ke Siria, lalu mendarat di Tirus, karena kapal harus membongkar muatannya di sana. Kami mencari murid-murid di Tirus dan tinggal tujuh hari lamanya. Murid-murid itu dengan pimpinan Roh berkata kepada Paulus agar ia tidak pergi ke Yerusalem. Namun ketika akhirnya kami harus berangkat, mereka semua, bersama istri dan anak-anak mereka, mengantar kami ke luar kota. Kami berlutut di pantai dan berdoa, lalu saling berpamitan. Kami naik ke kapal, dan mereka kembali ke rumah mereka.

Paulus di Kaisarea dan Nubuat Agabus (Ayat 7-14)

Kami menyelesaikan pelayaran dari Tirus dan tiba di Ptolemais, di mana kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari bersama mereka. Keesokan harinya, kami pergi ke Kaisarea dan masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil yang merupakan salah satu dari tujuh diaken, dan tinggal bersamanya. Filipus memiliki empat anak perempuan yang masih perawan dan bernubuat. Kami tinggal beberapa hari di sana, lalu datanglah seorang nabi bernama Agabus dari Yudea. Ia mengambil ikat pinggang Paulus, mengikat tangan dan kakinya sendiri, lalu berkata, “Demikianlah firman Roh Kudus: Orang yang memiliki ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke tangan bangsa-bangsa lain.” Mendengar itu, kami semua dan penduduk setempat memohon kepada Paulus agar ia tidak pergi ke Yerusalem. Tetapi Paulus menjawab, “Mengapa kamu menangis dan mematahkan hatiku? Aku siap bukan hanya untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem demi nama Tuhan Yesus.” Karena ia tidak dapat diyakinkan, kami berdiam diri dan berkata, “Kiranya kehendak Tuhan terjadi.”

Kedatangan Paulus di Yerusalem dan Pertemuannya dengan Yakobus (Ayat 15-19)

Setelah beberapa hari, kami bersiap-siap dan berangkat ke Yerusalem. Beberapa murid dari Kaisarea pergi bersama kami dan membawa kami ke rumah seorang murid tua bernama Mnason, yang berasal dari Siprus, untuk menjadi tuan rumah kami. Keesokan harinya, Paulus pergi bersama kami menemui Yakobus, dan semua penatua hadir di sana. Paulus memberi salam kepada mereka dan menceritakan satu per satu apa yang telah Allah lakukan di antara bangsa-bangsa lain melalui pelayanannya.

Nasihat Para Penatua tentang Orang Yahudi yang Telah Percaya (Ayat 20-26)

Mendengar laporan Paulus, mereka memuliakan Allah dan berkata kepadanya, “Saudara, engkau melihat berapa banyaknya orang Yahudi yang telah percaya, dan mereka semua sangat giat memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka telah mendengar tentang engkau bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk meninggalkan hukum Musa, dan mengatakan agar mereka tidak menyunatkan anak-anak mereka serta tidak hidup menurut adat istiadat Yahudi. Apa yang harus dilakukan? Sebab tentu mereka akan mendengar bahwa engkau telah datang.” Mereka menyarankan agar Paulus mengikuti upacara pentahiran bersama empat orang yang bernazar dan menanggung biaya mereka, supaya semua orang tahu bahwa segala yang telah didengar tentang Paulus tidak benar, tetapi ia tetap hidup menurut hukum Taurat. Paulus setuju, lalu keesokan harinya ia pergi ke Bait Allah dan menyatakan kepada imam tentang berakhirnya masa pentahiran mereka.

Paulus Ditangkap di Bait Allah (Ayat 27-30)

Ketika tujuh hari itu hampir berakhir, orang-orang Yahudi dari Asia melihat Paulus di Bait Allah dan menghasut seluruh orang banyak, lalu menangkapnya. Mereka berteriak bahwa Paulus mengajar semua orang untuk menentang bangsa Yahudi, hukum Taurat, dan tempat ini, serta membawa orang-orang Yunani ke Bait Allah dan menajiskannya. Mereka telah melihat Trofimus dari Efesus bersama Paulus di kota dan menyangka bahwa ia telah dibawa Paulus ke Bait Allah. Seluruh kota menjadi kacau, dan orang banyak berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah, dan segera pintu-pintu gerbang ditutup.

Paulus Diselamatkan oleh Komandan Pasukan Romawi (Ayat 31-36)

Ketika mereka berusaha membunuh Paulus, sampailah kabar kepada kepala pasukan Romawi bahwa seluruh Yerusalem gempar. Kepala pasukan segera membawa prajurit dan perwira dan berlari ke bawah untuk menghadapi orang banyak. Ketika orang banyak melihat kepala pasukan dan prajurit-prajurit, mereka berhenti memukul Paulus. Kepala pasukan mendekati Paulus, menangkapnya, dan memerintahkan agar ia dibelenggu dengan dua rantai. Ia bertanya siapa Paulus dan apa yang telah dilakukannya, tetapi di antara orang banyak itu ada yang meneriakkan tuduhan yang berbeda-beda. Karena tidak dapat mengetahui kebenaran karena keributan itu, ia memerintahkan agar Paulus dibawa ke benteng. Ketika Paulus sampai di tangga, ia harus diangkat oleh prajurit karena orang banyak sangat kuat dan berteriak, “Enyahkan dia!”

Paulus Meminta Izin untuk Berbicara kepada Orang Banyak (Ayat 37-40)

Ketika Paulus hendak dibawa masuk ke benteng, ia bertanya kepada kepala pasukan apakah ia boleh mengatakan sesuatu kepadanya. Kepala pasukan terkejut dan bertanya apakah Paulus dapat berbahasa Yunani, karena ia mengira Paulus adalah orang Mesir yang sebelumnya telah memimpin empat ribu orang pembunuh ke padang gurun. Paulus menjawab bahwa ia adalah orang Yahudi dari Tarsus di Kilikia, warga negara dari kota yang terkenal. Ia memohon izin untuk berbicara kepada orang banyak. Setelah diizinkan, Paulus berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada orang banyak. Ketika mereka sudah diam, ia mulai berbicara dalam bahasa Ibrani.

PASAL 22

Pembelaan Paulus di Hadapan Orang Banyak (Ayat 1-5)

Paulus berkata kepada orang banyak dalam bahasa Ibrani, “Saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah pembelaanku ini terhadap kamu.” Ketika mereka mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani, mereka menjadi lebih tenang. Paulus memperkenalkan dirinya sebagai orang Yahudi yang lahir di Tarsus, tetapi dibesarkan di Yerusalem dan dididik di bawah Gamaliel dengan teliti tentang hukum nenek moyang, sehingga ia adalah seorang yang giat bagi Allah sama seperti mereka semua. Ia mengakui bahwa ia pernah menganiaya Jalan Tuhan sampai mati, menangkap laki-laki dan perempuan dan menyerahkan mereka ke dalam penjara, dan Imam Besar serta Majelis Tua dapat menjadi saksi atas hal itu. Dari mereka ia menerima surat kuasa untuk pergi ke Damsyik dan membawa orang-orang yang percaya ke Yerusalem untuk dihukum.

Kesaksian Paulus tentang Pertemuannya dengan Yesus di Jalan Damsyik (Ayat 6-11)

Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika hari sudah menjelang tengah hari, tiba-tiba cahaya yang sangat terang dari langit menyinari sekeliling Paulus. Ia jatuh ke tanah dan mendengar suara berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Paulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Jawab suara itu, “Akulah Yesus dari Nazaret yang kauaniaya.” Orang-orang yang menyertai Paulus melihat cahaya itu, tetapi tidak mendengar suara Dia yang berbicara. Paulus bertanya, “Tuhan, apa yang harus aku perbuat?” Tuhan menjawab, “Bangunlah dan pergilah ke Damsyik, dan di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.” Karena cahaya yang menyilaukan itu, Paulus tidak dapat melihat, sehingga ia dituntun oleh tangan ke Damsyik oleh teman-temannya.

Ananias Dipanggil untuk Memulihkan Penglihatan Paulus (Ayat 12-16)

Seorang bernama Ananias, seorang yang saleh menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi di Damsyik, datang kepada Paulus dan berdiri di dekatnya. Ia berkata, “Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan lihatlah!” Seketika itu juga Paulus dapat melihat dan menatap Ananias. Ananias berkata bahwa Allah nenek moyang mereka telah memilih Paulus untuk mengetahui kehendak-Nya, melihat Yang Benar, dan mendengar suara dari mulut-Nya, karena Paulus akan menjadi saksi bagi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang telah dilihat dan didengarnya. Ananias mendesak Paulus untuk segera dibaptis dan menghapus dosa-dosanya dengan berseru kepada nama Tuhan.

Panggilan Paulus untuk Menjadi Saksi bagi Bangsa-Bangsa Lain (Ayat 17-21)

Setelah kembali ke Yerusalem dan berdoa di Bait Allah, Paulus berada dalam keadaan terpaku dan melihat Tuhan berkata kepadanya, “Segeralah, tinggalkan Yerusalem dengan segera, karena mereka tidak akan menerima kesaksianmu tentang Aku.” Paulus menjawab bahwa ia pernah memenjarakan dan memukuli orang-orang yang percaya kepada-Nya di sinagoga-sinagoga, dan ia menyetujui kematian Stefanus. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Pergilah, karena Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain.”

Kerusuhan Orang Banyak Menolak Paulus (Ayat 22-24)

Orang banyak mendengarkan Paulus sampai ia berkata tentang bangsa-bangsa lain. Pada saat itu, mereka berteriak dengan suara nyaring, “Enyahkan orang ini dari bumi, sebab ia tidak layak hidup!” Mereka berteriak-teriak, melemparkan jubah mereka, dan menghamburkan debu ke udara. Kepala pasukan Romawi memerintahkan agar Paulus dibawa ke dalam benteng dan disiksa dengan cambuk untuk mengetahui mengapa orang banyak berteriak demikian terhadapnya.

Paulus Menyatakan Haknya sebagai Warga Negara Romawi (Ayat 25-29)

Ketika mereka merentangkan Paulus untuk dicambuk, ia berkata kepada perwira yang berdiri di dekatnya, “Apakah kamu diizinkan mencambuk seorang warga negara Romawi yang belum diadili?” Mendengar itu, perwira itu melapor kepada kepala pasukan, “Apa yang akan engkau lakukan? Orang ini adalah warga negara Romawi.” Kepala pasukan mendatangi Paulus dan bertanya apakah ia benar-benar warga negara Romawi. Paulus menjawab, “Ya.” Kepala pasukan berkata bahwa ia sendiri memperoleh hak itu dengan membayar banyak uang, tetapi Paulus menyatakan bahwa ia telah menjadi warga negara sejak lahir. Mereka yang hendak menyiksanya segera mundur, dan kepala pasukan menjadi takut karena Paulus adalah warga negara Romawi dan telah dibelenggu.

Paulus Dihadapkan kepada Mahkamah Agama (Ayat 30)

Keesokan harinya, kepala pasukan ingin mengetahui dengan pasti tuduhan apa yang diajukan orang-orang Yahudi terhadap Paulus. Ia membuka belenggu Paulus dan memerintahkan para imam kepala serta seluruh Mahkamah Agama untuk berkumpul. Ia membawa Paulus ke hadapan mereka dan menghadapkannya kepada semua anggota Mahkamah.

PASAL 23

Paulus di Hadapan Mahkamah Agama (Ayat 1-5)

Paulus memandang Mahkamah Agama dengan tajam dan berkata, “Saudara-saudara, sampai hari ini aku hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.” Imam Besar Ananias memerintahkan orang-orang yang berdiri di dekat Paulus untuk menampar mulutnya. Paulus berkata kepadanya, “Allah akan memukul engkau, hai tembok yang dikapur putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, tetapi engkau sendiri melanggar hukum Taurat dengan menyuruh aku dipukul.” Orang-orang yang berdiri di dekatnya berkata, “Engkau mengejek Imam Besar Allah?” Paulus menjawab, “Aku tidak tahu, saudara-saudara, bahwa ia adalah Imam Besar, karena ada tertulis: Janganlah engkau berbicara jahat tentang pemimpin bangsamu.”

Paulus Memecah Belah Mahkamah dengan Perbedaan Ajaran (Ayat 6-10)

Paulus mengetahui bahwa sebagian dari Mahkamah adalah orang Saduki dan sebagian lagi orang Farisi, lalu ia berseru dengan suara nyaring, “Saudara-saudara, aku adalah orang Farisi, anak seorang Farisi. Aku diadili karena pengharapan akan kebangkitan orang mati.” Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang Farisi dan orang Saduki, karena orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan, malaikat, dan roh, tetapi orang Farisi percaya akan semuanya itu. Terjadilah keributan yang besar, dan beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi bangkit dan berkata, “Kami tidak mendapati sesuatu yang jahat pada orang ini. Bagaimana jika roh atau malaikat telah berbicara kepadanya?” Perpecahan itu semakin hebat, sehingga kepala pasukan takut Paulus akan dikoyak-koyak oleh mereka, lalu ia memerintahkan prajurit untuk turun dan merebut Paulus dari tengah-tengah mereka serta membawanya ke benteng.

Penglihatan Paulus tentang Perlindungan Allah (Ayat 11)

Pada malam berikutnya, Tuhan berdiri di dekat Paulus dan berkata, “Kuatkanlah hatimu! Sebab seperti engkau telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian juga engkau harus bersaksi di Roma.” Penglihatan ini memberikan kepastian kepada Paulus bahwa ia akan selamat dan mencapai tujuannya untuk memberitakan Injil di Roma.

Komplotan untuk Membunuh Paulus (Ayat 12-15)

Pada siang hari, beberapa orang Yahudi mengadakan komplotan dan bersumpah dengan kutukan bahwa mereka tidak akan makan atau minum sebelum membunuh Paulus. Lebih dari empat puluh orang terlibat dalam komplotan ini. Mereka pergi kepada imam-imam kepala dan tua-tua dan berkata, “Kami telah bersumpah dengan kutukan untuk tidak makan atau minum sebelum kami membunuh Paulus. Karena itu, beritahukanlah kepada kepala pasukan untuk membawa Paulus ke hadapan kamu seolah-olah kamu hendak memeriksa perkaranya dengan lebih teliti, dan kami sudah siap untuk membunuh dia sebelum ia sampai ke tempatmu.”

Keponakan Paulus Melaporkan Komplotan kepada Kepala Pasukan (Ayat 16-22)

Keponakan Paulus, anak saudara perempuannya, mendengar tentang komplotan itu, lalu ia pergi ke benteng dan memberitahukannya kepada Paulus. Paulus memanggil salah seorang perwira dan berkata, “Bawa anak muda ini kepada kepala pasukan, karena ia ada sesuatu yang perlu diberitahukan.” Perwira itu membawanya kepada kepala pasukan, dan kepala pasukan bertanya apa yang ingin diberitahukannya. Keponakan Paulus menceritakan seluruh komplotan yang telah diatur oleh orang-orang Yahudi untuk membunuh Paulus. Kepala pasukan melepaskan anak muda itu dengan perintah agar ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia telah melaporkan hal ini.

Paulus Dikirim ke Gubernur Feliks di Kaisarea (Ayat 23-30)

Kepala pasukan memanggil dua orang perwira dan berkata, “Siapkan dua ratus prajurit, tujuh puluh orang berkuda, dan dua ratus orang bersenjata lembing untuk berangkat ke Kaisarea pada pukul sembilan malam. Sediakan juga kuda untuk Paulus dan bawalah dia dengan selamat kepada gubernur Feliks.” Ia menulis surat yang berisi bahwa Paulus telah ditangkap dan hampir dibunuh oleh orang-orang Yahudi, tetapi ia menyelamatkannya karena ia adalah warga negara Romawi. Ia menyatakan bahwa tuduhan-tuduhan terhadap Paulus berkaitan dengan perselisihan tentang hukum Taurat mereka, tetapi tidak ada alasan untuk dihukum mati atau dipenjarakan. Karena adanya komplotan untuk membunuh Paulus, ia mengirimnya kepada gubernur untuk diadili.

Paulus Tiba di Kaisarea dan Diserahkan kepada Feliks (Ayat 31-35)

Para prajurit membawa Paulus ke Antipatris pada malam hari, dan keesokan harinya mereka kembali ke benteng, sementara orang-orang berkuda membawa Paulus ke Kaisarea. Setibanya di sana, mereka menyerahkan surat kepada gubernur dan menghadapkan Paulus kepadanya. Gubernur membaca surat itu dan bertanya dari provinsi mana Paulus berasal, lalu mengetahui bahwa ia berasal dari Kilikia. Ia berkata, “Aku akan memeriksamu setelah para penuduhmu tiba di sini.” Ia memerintahkan agar Paulus ditahan di istana Herodes.

PASAL 24

Pengaduan Tertulus dan Para Penuduh di Hadapan Feliks (Ayat 1-9)

Lima hari kemudian, Imam Besar Ananias datang ke Kaisarea bersama beberapa tua-tua dan seorang pengacara bernama Tertulus. Mereka menghadap gubernur Feliks untuk mengajukan tuduhan terhadap Paulus. Setelah Paulus dipanggil, Tertulus mulai menuduhnya dengan berkata bahwa Paulus adalah seorang pengacau yang menimbulkan kerusuhan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia, pemimpin dari sekte Nazaret, dan bahwa ia mencoba menajiskan Bait Allah. Orang-orang Yahudi yang hadir mendukung tuduhan itu dan mengatakan bahwa semua tuduhan itu benar.

Pembelaan Paulus di Hadapan Feliks (Ayat 10-21)

Paulus memberi isyarat dengan tangannya dan memulai pembelaannya di hadapan gubernur yang telah bertahun-tahun menjadi hakim bagi bangsa Yahudi. Ia berkata bahwa ia dapat dengan sukacita memberi pembelaan, karena Feliks mengetahui kebiasaan dan perselisihan orang Yahudi. Ia membantah tuduhan bahwa ia telah menimbulkan kerusuhan, dan ia menyatakan bahwa baru dua belas hari sejak ia pergi ke Yerusalem untuk beribadah, dan ia tidak dijumpai sedang mengajar atau berdebat di Bait Allah, di sinagoga, atau di kota. Ia mengakui bahwa menurut Jalan yang mereka sebut sekte, ia beribadah kepada Allah nenek moyangnya dengan percaya kepada segala sesuatu yang tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi. Ia menegaskan bahwa ia memiliki pengharapan yang sama dengan mereka, yaitu bahwa akan ada kebangkitan orang mati, baik orang benar maupun orang berdosa. Karena itu ia berusaha selalu untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia. Ia menyatakan bahwa ia datang untuk membawa sedekah bagi bangsanya dan untuk mempersembahkan persembahan, dan dalam keadaan itulah ia didapati di Bait Allah, bukan dengan orang banyak atau keributan. Ia menantang mereka yang hadir untuk mengatakan kesalahan apa yang ditemukan pada dirinya ketika ia dihadapkan di Mahkamah Agama, kecuali tentang satu kalimat yang ia serukan, yaitu tentang kebangkitan orang mati.

Keputusan Feliks untuk Menangguhkan Sidang (Ayat 22-23)

Feliks, yang mengetahui dengan teliti tentang Jalan Tuhan, menangguhkan sidang dan berkata bahwa ia akan memutuskan perkara itu setelah kepala pasukan Lisias datang. Ia memerintahkan perwira untuk menjaga Paulus dengan tahanan yang ringan, tidak melarang teman-temannya untuk melayani atau mengunjunginya.

Paulus dan Percakapannya dengan Feliks dan Drusila (Ayat 24-27)

Beberapa hari kemudian, Feliks datang bersama istrinya Drusila, yang adalah seorang Yahudi, dan memanggil Paulus untuk mendengar tentang iman kepada Kristus. Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman yang akan datang. Feliks menjadi takut dan berkata, “Pergilah dulu sekarang, dan jika ada waktu yang tepat, aku akan memanggil engkau lagi.” Ia juga berharap bahwa Paulus akan memberikan uang kepadanya, sehingga ia sering memanggil Paulus dan berbicara dengannya. Setelah dua tahun berlalu, Feliks digantikan oleh Porkius Festus. Karena Feliks ingin menyenangkan hati orang-orang Yahudi, ia membiarkan Paulus tetap dalam penjara.

PASAL 25

Festus Menjadi Gubernur dan Orang Yahudi Mengajukan Tuduhan (Ayat 1-5)

Tiga hari setelah Festus tiba di provinsi itu, ia berangkat dari Kaisarea ke Yerusalem. Imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Yahudi mengajukan tuduhan terhadap Paulus dan meminta agar Paulus dibawa ke Yerusalem, karena mereka telah merencanakan untuk membunuh Paulus dalam perjalanan. Festus menjawab bahwa Paulus ditahan di Kaisarea dan ia sendiri akan segera kembali ke sana. Ia menyuruh mereka yang berwenang untuk pergi ke Kaisarea bersama-sama dan mengajukan tuduhan jika ada kesalahan pada orang itu.

Paulus Diadili di Hadapan Festus (Ayat 6-12)

Festus tinggal di Yerusalem tidak lebih dari delapan atau sepuluh hari, lalu ia turun ke Kaisarea. Keesokan harinya ia duduk di kursi pengadilan dan memerintahkan Paulus dihadapkan. Orang-orang Yahudi yang datang dari Yerusalem berdiri mengelilingi Paulus dan mengajukan banyak tuduhan berat yang tidak dapat mereka buktikan. Paulus membela diri bahwa ia tidak bersalah terhadap hukum Taurat, Bait Allah, atau Kaisar. Festus ingin menyenangkan hati orang Yahudi, lalu bertanya kepada Paulus, “Apakah engkau mau pergi ke Yerusalem untuk diadili di hadapanku di sana?” Tetapi Paulus menjawab, “Aku sekarang berdiri di hadapan pengadilan Kaisar dan harus diadili di sini. Aku tidak berbuat salah terhadap orang Yahudi, seperti yang engkau ketahui dengan baik. Jika aku bersalah dan layak dihukum mati, aku tidak menolak untuk mati. Tetapi jika tuduhan mereka tidak benar, tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan aku kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!” Festus berunding dengan para penasihatnya, lalu menjawab, “Engkau telah naik banding kepada Kaisar, maka engkau akan pergi menghadap Kaisar.”

Raja Agripa dan Bernike Berkunjung ke Kaisarea (Ayat 13-22)

Beberapa hari kemudian, Raja Agripa dan Bernike tiba di Kaisarea untuk memberi salam kepada Festus. Karena mereka tinggal beberapa hari di sana, Festus menyampaikan perkara Paulus kepada Agripa. Ia menjelaskan bahwa ada seorang tahanan yang ditinggalkan Feliks, dan ketika ia berada di Yerusalem, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi mengajukan tuntutan agar ia dihukum. Festus menyatakan bahwa Paulus tidak bersalah atas tuduhan yang diajukan, tetapi Paulus naik banding kepada Kaisar. Agripa berkata kepada Festus, “Aku ingin mendengar orang itu sendiri.” Festus menjawab, “Besok engkau akan mendengarnya.”

Paulus Dihadapkan di Hadapan Agripa dan Bernike (Ayat 23-27)

Keesokan harinya, Agripa dan Bernike datang dengan kebesaran dan kemegahan, bersama dengan para perwira dan orang-orang terkemuka di kota itu. Festus memerintahkan agar Paulus dihadapkan. Festus berkata bahwa Paulus telah ditinggalkan sebagai tahanan, dan ketika ia berada di Yerusalem, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menuntut hukuman mati baginya. Tetapi Festus menyatakan bahwa Paulus tidak melakukan sesuatu yang layak dihukum mati, dan karena ia naik banding kepada Kaisar, ia memutuskan untuk mengirimnya. Namun Festus tidak memiliki sesuatu yang pasti untuk ditulis kepada Kaisar, sehingga ia membawa Paulus ke hadapan Agripa, terutama setelah pemeriksaan, supaya ia dapat memperoleh bahan untuk ditulis. Festus menyatakan bahwa tidak masuk akal untuk mengirim seorang tahanan tanpa menyatakan tuduhan terhadapnya.

PASAL 26

Paulus Memberi Salam dan Memulai Pembelaannya di Hadapan Agripa (Ayat 1-3)

Agripa berkata kepada Paulus, “Engkau diberi kesempatan untuk berbicara untuk membela dirimu.” Paulus mengulurkan tangannya dan memulai pembelaannya. Ia merasa berbahagia karena dapat membela diri di hadapan Agripa, terutama karena Agripa mengetahui segala kebiasaan dan perselisihan orang Yahudi. Ia meminta Agripa untuk mendengarkannya dengan sabar.

Kehidupan Paulus Sebelum Bertobat (Ayat 4-11)

Paulus menceritakan kehidupannya sejak muda di Yerusalem, yang diketahui oleh semua orang Yahudi. Mereka mengenalnya sejak awal dan dapat bersaksi bahwa ia hidup sebagai orang Farisi menurut ajaran yang paling keras dalam agama mereka. Ia mengakui bahwa ia pernah menganggap dirinya wajib untuk bertindak keras melawan nama Yesus dari Nazaret, dan ia melakukannya di Yerusalem dengan memenjarakan banyak orang kudus dan menyetujui pembunuhan mereka. Ia juga menganiaya mereka di berbagai sinagoga dan berusaha memaksa mereka untuk menghujat, dan dalam kemarahannya yang meluap-luap, ia bahkan menganiaya mereka sampai ke kota-kota asing.

Pertobatan Paulus di Jalan Damsyik (Ayat 12-18)

Dalam perjalanan ke Damsyik dengan kuasa dan wewenang dari imam-imam kepala, pada tengah hari, Paulus melihat cahaya dari langit yang lebih terang dari sinar matahari menyinari dirinya dan teman-temannya. Mereka semua jatuh ke tanah, dan Paulus mendengar suara dalam bahasa Ibrani yang berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.” Paulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Tuhan menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya. Bangunlah dan berdiri di atas kakimu, sebab Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau sebagai pelayan dan saksi tentang apa yang telah kaulihat dan apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu. Aku akan melepaskan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain, dan Aku mengutus engkau untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, sehingga mereka menerima pengampunan dosa dan bagian di antara mereka yang dikuduskan oleh iman kepada-Ku.”

Ketaatan Paulus pada Panggilan Surgawi (Ayat 19-23)

Paulus menyatakan bahwa ia tidak tidak taat kepada penglihatan surgawi itu, tetapi ia memberitakan pertobatan kepada Allah dan iman kepada Kristus kepada orang-orang di Damsyik, Yerusalem, seluruh Yudea, dan kepada bangsa-bangsa lain. Karena itulah orang-orang Yahudi menangkapnya di Bait Allah dan berusaha membunuhnya. Namun Allah telah menolongnya sampai hari ini, sehingga ia dapat berdiri dan memberi kesaksian kepada semua orang, baik kecil maupun besar, dengan mengatakan tidak lain dari apa yang dinubuatkan oleh para nabi dan Musa, yaitu bahwa Mesias harus menderita dan sebagai orang pertama yang bangkit dari antara orang mati, Ia akan memberitakan terang kepada bangsa Yahudi dan kepada bangsa-bangsa lain.

Tanggapan Festus dan Agripa terhadap Pembelaan Paulus (Ayat 24-29)

Ketika Paulus berbicara dengan cara ini, Festus berseru dengan suara nyaring, “Engkau gila, Paulus! Pengetahuanmu yang banyak itu membuatmu gila!” Tetapi Paulus menjawab, “Aku tidak gila, Festus yang mulia, tetapi aku mengatakan kata-kata yang benar dan masuk akal. Raja Agripa mengetahui hal-hal ini, karena itu aku berbicara dengan berani kepadanya. Aku yakin tidak ada dari semuanya ini yang tersembunyi darinya, karena peristiwa ini tidak terjadi di sudut-sudut yang tersembunyi.” Paulus bertanya kepada Agripa, “Percayakah engkau kepada para nabi, raja Agripa? Aku tahu bahwa engkau percaya.” Agripa menjawab, “Hampir-hampir engkau meyakinkan aku menjadi orang Kristen!” Paulus berkata, “Aku berdoa kepada Allah, baik hampir maupun seluruhnya, bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang yang mendengarku pada hari ini, menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.”

Keputusan Agripa dan Festus bahwa Paulus Tidak Bersalah (Ayat 30-32)

Raja Agripa, gubernur Festus, Bernike, dan semua orang yang duduk bersama mereka bangkit, lalu setelah mereka meninggalkan ruangan, mereka berbicara satu sama lain dan berkata, “Orang ini tidak melakukan sesuatu yang layak dihukum mati atau dipenjarakan.” Agripa berkata kepada Festus, “Orang ini dapat dibebaskan jika ia tidak naik banding kepada Kaisar.”

PASAL 27

Paulus Berlayar ke Roma (Ayat 1-8)

Setelah diputuskan bahwa Paulus akan berlayar ke Italia, ia diserahkan kepada seorang perwira bernama Yulius dari pasukan Kaisar. Paulus dan beberapa tahanan lain naik ke kapal dari Adramitium yang hendak berlayar ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Asia. Aristarkhus, seorang Makedonia dari Tesalonika, ikut bersama Paulus. Keesokan harinya, mereka berlabuh di Sidon, dan Yulius memperlakukan Paulus dengan baik serta mengizinkannya mengunjungi teman-temannya untuk mendapat perawatan. Dari Sidon, mereka berlayar ke Siprus karena angin bertiup melawan, lalu melintasi laut di dekat Kilikia dan Pamfilia, dan tiba di Mira di Likia. Di sana, perwira itu menemukan kapal dari Aleksandria yang hendak berlayar ke Italia dan menaikkan mereka ke kapal itu. Mereka berlayar perlahan-lahan selama beberapa hari dan dengan susah payah mencapai Knidus. Karena angin tidak mengizinkan, mereka berlayar ke selatan Kreta di dekat Salmon. Mereka menyusuri pantai Kreta dengan susah payah dan tiba di sebuah tempat bernama Pelabuhan Indah, dekat kota Lasea.

Peringatan Paulus tentang Bahaya Pelayaran (Ayat 9-12)

Karena banyak waktu telah berlalu dan pelayaran sudah berbahaya karena hari raya puasa telah lewat, Paulus memperingatkan mereka bahwa pelayaran akan membawa kerugian besar, bukan hanya terhadap muatan dan kapal, tetapi juga terhadap nyawa mereka. Namun perwira itu lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda daripada kepada perkataan Paulus. Pelabuhan itu tidak nyaman untuk menghabiskan musim dingin, sehingga sebagian besar memutuskan untuk berlayar dari situ dan berusaha mencapai Feniks, sebuah pelabuhan di Kreta yang menghadap ke barat laut dan barat daya, untuk menghabiskan musim dingin di sana.

Badai Besar di Laut dan Keputusasaan Awak Kapal (Ayat 13-20)

Ketika angin selatan bertiup lembut, mereka menyangka tujuannya telah tercapai, lalu mereka mengangkat sauh dan berlayar di sepanjang pantai Kreta. Namun tidak lama kemudian, angin badai yang disebut Eurakilo menerpa pulau itu. Kapal itu terseret dan tidak dapat berlayar melawan angin, sehingga mereka menyerah dan membiarkan kapal itu terbawa. Mereka berlindung di sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan dengan susah payah mereka dapat menguasai sekoci. Mereka menarik sekoci itu ke atas dan mengikat kapal dengan tali untuk memperkuatnya. Karena takut terdampar di pasir beting, mereka menurunkan layar dan membiarkan kapal terus hanyut. Keesokan harinya, karena badai yang sangat hebat, mereka membuang muatan kapal. Pada hari ketiga, mereka membuang alat-alat kapal dengan tangan mereka sendiri. Setelah beberapa hari tanpa melihat matahari atau bintang, dan badai yang terus-menerus mengamuk, akhirnya semua harapan untuk selamat mulai hilang.

Penghiburan dan Janji Paulus kepada Awak Kapal (Ayat 21-26)

Karena mereka sudah lama tidak makan, Paulus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata bahwa seharusnya mereka mendengarkan nasihatnya untuk tidak berlayar dari Kreta, sehingga mereka dapat terhindar dari kerugian dan kerusakan ini. Namun ia menasihati mereka untuk tetap berani, karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan kehilangan nyawa, hanya kapal yang akan hilang. Sebab pada malam itu, seorang malaikat dari Allah yang ia sembah berdiri di dekatnya dan berkata bahwa Paulus harus menghadap Kaisar, dan Allah telah memberikan semua orang yang berlayar bersamanya kepadanya. Karena itu ia meminta mereka untuk berani, karena ia percaya kepada Allah bahwa segala sesuatu akan terjadi seperti yang dikatakan kepadanya. Namun mereka harus terdampar di suatu pulau.

Usaha Awak Kapal untuk Menyelamatkan Diri dan Nasihat Paulus (Ayat 27-38)

Pada malam keempat belas, ketika kapal sedang hanyut di Laut Adria, sekitar tengah malam, para pelaut menduga bahwa mereka telah mendekati daratan. Mereka mengukur kedalaman dan menemukan dua puluh depa, lalu sedikit kemudian mereka mengukur lagi dan menemukan lima belas depa. Karena takut terdampar di karang, mereka menurunkan empat sauh dari buritan dan berdoa agar hari segera terang. Beberapa pelaut mencoba melarikan diri dari kapal dengan menurunkan sekoci, tetapi Paulus berkata kepada perwira dan prajurit bahwa jika mereka tidak tinggal di kapal, mereka tidak akan selamat. Kemudian para prajurit memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut. Sebelum fajar, Paulus mendesak semua orang untuk makan, karena selama empat belas hari mereka telah menunggu tanpa makan. Ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua orang, memecah-mecahkannya, dan mulai makan. Semua orang menjadi kuat dan juga mulai makan. Jumlah semua orang di kapal itu adalah dua ratus tujuh puluh enam jiwa. Setelah kenyang, mereka meringankan kapal dengan membuang gandum ke laut.

Karamnya Kapal dan Keselamatan Semua Orang (Ayat 39-44)

Ketika hari siang, mereka tidak mengenali daratan itu, tetapi mereka melihat sebuah teluk dengan pantai berpasir dan

PASAL 28

Paulus dan Kawan-Kawan di Pulau Malta (Ayat 1-6)

Setelah selamat tiba di darat, mereka mengetahui bahwa pulau itu bernama Malta. Penduduk setempat menunjukkan keramahan yang luar biasa kepada mereka, karena mereka menyalakan api dan menjemput mereka semua, karena hari mulai hujan dan dingin. Paulus mengumpulkan seikat ranting dan meletakkannya di atas api, tetapi seekor ular berbisa keluar karena panasnya dan menggigit tangannya. Ketika penduduk melihat ular itu tergantung pada tangan Paulus, mereka berkata satu sama lain, “Pasti orang ini adalah seorang pembunuh, karena ia telah selamat dari laut, tetapi Keadilan tidak mengizinkannya hidup.” Namun Paulus mengguncangkan ular itu ke dalam api dan tidak menderita apa-apa. Mereka mengharapkan bahwa ia akan bengkak atau jatuh mati, tetapi setelah menunggu lama dan melihat bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, mereka berubah pikiran dan berkata bahwa ia adalah dewa.

Paulus Menyembuhkan Banyak Orang di Malta (Ayat 7-10)

Di daerah sekitar pulau itu ada tanah milik kepala pulau bernama Publius, yang menyambut Paulus dan kawan-kawannya dengan ramah dan memberi mereka tumpangan selama tiga hari. Ayah Publius terbaring sakit karena demam dan disentri. Paulus masuk ke rumahnya, berdoa, menumpangkan tangan ke atasnya, dan menyembuhkannya. Setelah itu, orang-orang lain di pulau yang sakit juga datang dan disembuhkan. Mereka memberi Paulus dan kawan-kawannya banyak kehormatan, dan ketika mereka hendak berlayar, mereka membawa semua yang diperlukan bagi mereka.

Perjalanan Paulus dari Malta ke Roma (Ayat 11-16)

Setelah tiga bulan, mereka berlayar dengan kapal Aleksandria yang musim dingin di pulau itu, yang memakai lambang Dioskuri. Mereka singgah di Sirakusa dan tinggal tiga hari di sana, lalu berlayar ke Regium. Keesokan harinya, angin selatan bertiup, dan pada hari kedua mereka tiba di Putioli. Di sana mereka menemukan saudara-saudara dan diundang untuk tinggal tujuh hari bersama mereka, lalu mereka pergi ke Roma. Saudara-saudara dari Roma mendengar tentang kedatangan Paulus dan datang menyambut mereka sampai ke Pasar Apius dan Rumah Tiga Kedai. Ketika Paulus melihat mereka, ia mengucap syukur kepada Allah dan menjadi kuat. Setelah tiba di Roma, Paulus diizinkan tinggal di rumahnya sendiri dengan seorang prajurit yang menjaganya.

Paulus Bertemu dengan Pemimpin-Pemimpin Yahudi di Roma (Ayat 17-22)

Tiga hari kemudian, Paulus memanggil pemimpin-pemimpin Yahudi dan berkata kepada mereka, “Saudara-saudara, walaupun aku tidak melakukan sesuatu yang melawan bangsa kita atau adat istiadat nenek moyang kita, aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang Romawi. Setelah mereka memeriksa aku, mereka ingin membebaskan aku karena tidak ada alasan untuk menghukum mati aku. Tetapi orang-orang Yahudi menentangnya, sehingga aku terpaksa naik banding kepada Kaisar, bukan karena aku memiliki sesuatu untuk dituduhkan terhadap bangsaku. Karena itu, aku meminta untuk melihat dan berbicara dengan kamu, sebab karena pengharapan Israel, aku terbelenggu dengan rantai ini.” Mereka menjawab bahwa mereka tidak menerima surat dari Yudea tentang dia, dan tidak ada saudara yang datang melaporkan atau mengatakan sesuatu yang jahat tentang dia. Mereka ingin mendengar pandangan Paulus tentang sekte ini, karena mereka mengetahui bahwa di mana-mana sekte ini ditentang.

Kesaksian Paulus kepada Orang Yahudi di Roma dan Tanggapan Mereka (Ayat 23-29)

Mereka menetapkan suatu hari untuk Paulus, dan banyak orang datang ke tempat penginapannya. Paulus memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus dari hukum Taurat dan kitab para nabi, dari pagi sampai sore. Ada yang percaya dengan apa yang dikatakannya, ada pula yang tidak percaya. Mereka tidak sepakat dan pergi, setelah Paulus mengatakan satu perkataan ini, “Tepatlah Roh Kudus yang berbicara kepada nenek moyangmu melalui nabi Yesaya, ketika Ia berkata: Pergilah kepada bangsa ini dan katakanlah: Kamu akan mendengar dengan telinga, tetapi tidak mengerti; kamu akan melihat dengan mata, tetapi tidak melihat. Sebab hati bangsa ini telah menebal, telinga mereka berat untuk mendengar, dan mata mereka telah mereka pejamkan, supaya mereka tidak melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, mengerti dengan hati dan berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Paulus menyatakan bahwa keselamatan Allah telah dikirim kepada bangsa-bangsa lain, dan mereka akan mendengarnya. Setelah itu, orang-orang Yahudi pergi dengan perdebatan yang sengit di antara mereka.

Paulus Mengajar di Roma dengan Penuh Keberanian (Ayat 30-31)

Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri, dan ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus dengan penuh keberanian dan tanpa rintangan apa pun.

PENUTUP

Demikianlah secara singkat rangkaian firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul. Kiranya Tuhan Yesus memberikan kita hikmat dan pengetahuan agar dapat memahami firman Tuhan tersebut.
Tuhan Yesus Memberkati.

Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

Kisah Para Rasul 2:38

Amin.