
Sejarah Pekabaran Injil (Part 1) – Seri Kitab Injil
By Febrian – 09 Agustus 2026 04:00 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas mengenai sejarah pekabaran Injil di segala tempat di seluruh dunia, sehingga di zaman sekarang ini, kita dapat membaca Injil dan kitab-kitab lainnya dengan mudah. Semoga Tuhan Yesus Kristus memberikan kita hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami dengan jelas. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.
Sejarah Pekabaran Injil (Part 1)- Bagaimana Injil Menyebar dari Yerusalem ke Seluruh Dunia?
Para saksi mata Tuhan Yesus Kristus dan orang-orang yang menyelidiki pelayanan Tuhan Yesus Kristus dan para murid-Nya semasa hidup, belum menulis apa pun selama sekitar 15 hingga 20 tahun pertama setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Surga. Bahkan Injil yang paling awal yaitu Injil Markus, baru ditulis sekitar tahun 65–70 M, sekitar 35–40 tahun setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Sebetulnya banyak tulisan lain justru mendahului Injil yang berisi pencatatan terkait kekristenan di berbagai tempat.
Mengapa Injil tidak langsung ditulis? Apakah para rasul lalai? Atau adakah alasan yang lebih dalam—alasan historis, sosiologis, dan teologis—yang justru menunjukkan bahwa “penundaan” ini bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari cara Allah bekerja dalam sejarah? Karena mengalami jeda sekian lamanya, apakah cerita tentang Tuhan Yesus menjadi ‘terdistorsi’?
Mari kita menyelami dunia abad pertama, di mana Injil bukanlah buku, melainkan suara yang hidup.
1. Yerusalem: Titik Awal Pemberitaan
Setelah kenaikan Tuhan Yesus dan peristiwa Pantekosta, Kabar Baik Tuhan Yesus tidak langsung tersebar dalam bentuk Alkitab seperti yang kita kenal sekarang.
Pada tahap pertama, Injil diberitakan terutama secara lisan oleh para rasul dan murid-murid Tuhan Yesus. Mereka pergi dari satu tempat ke tempat lain, memberitakan tentang kehidupan, kematian, kebangkitan, dan keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus.
Kitab-kitab Injil baru ditulis beberapa puluh tahun kemudian. Setelah ditulis, naskah tersebut juga tidak dicetak seperti buku pada zaman modern. Naskah diperbanyak dengan cara disalin dengan tangan. Salinan kemudian dibawa ke jemaat-jemaat lain dan dibacakan dalam pertemuan jemaat. Dengan demikian, Pekabaran Injil berlangsung melalui dua jalur yang berjalan bersama: pemberitaan lisan dan Pekabaran tulisan.
Sekitar tahun 30 M, setelah kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus, Yerusalem menjadi pusat pertama pemberitaan Injil. Para rasul tetap berada di Yerusalem dan memberitakan bahwa Tuhan Yesus yang telah disalibkan telah dibangkitkan Allah.
Jika kita mempelajari Kisah Para Rasul pasal 2, dapat kita perhatikan bagaimana Rasul Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta. Banyak orang mendengar pemberitaan tersebut dan kemudian menjadi pengikut Tuhan Yesus. Dari Yerusalem, berita itu mulai menyebar ke daerah-daerah sekitarnya.
Pada tahap ini belum ada Injil Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes dalam bentuk kitab seperti sekarang. Para rasul memberitakan berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar, dan alami sendiri bersama Tuhan Yesus.
2. Yudea dan Samaria: Perluasan Pertama
Penganiayaan terhadap jemaat di Yerusalem menyebabkan banyak orang percaya meninggalkan kota tersebut. Namun mereka tidak berhenti memberitakan Injil. Justru melalui perpindahan mereka, berita tentang Tuhan Yesus semakin luas.
Dalam Kisah Para Rasul 8 tercatat pelayanan dari seorang rasul yaitu Filipus di daerah Samaria. Setelah itu Rasul Petrus dan Rasul Yohanes datang untuk menguatkan orang-orang yang telah menerima pemberitaan tentang Tuhan Yesus.
Ini merupakan tahap yang sangat penting karena pemberitaan mulai keluar dari lingkungan Yerusalem dan memasuki wilayah yang secara sosial dan keagamaan mempunyai hubungan yang rumit dengan orang Yahudi.
3. Fenisia, Siprus, dan Antiokhia
Kisah Para Rasul 11:19 mencatat bahwa orang-orang percaya yang tersebar karena penganiayaan pergi sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia.
Antiokhia kemudian menjadi salah satu pusat Kekristenan yang paling penting. Di kota inilah para murid Tuhan Yesus untuk pertama kalinya disebut orang Kristen, menurut Kisah Para Rasul 11:26. Kota ini mempunyai posisi yang sangat strategis karena merupakan kota besar dalam jaringan perdagangan dan perjalanan Kekaisaran Romawi. Dari kota inilah kemudian Rasul Paulus dan Barnabas berangkat melakukan perjalanan misi.
4. Siprus dan Asia Kecil
Sekitar pertengahan abad pertama, Rasul Paulus dan Barnabas melakukan perjalanan misi yang pertama. Mereka pergi ke Siprus dan kemudian menuju wilayah Asia Kecil, yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah Turki.
| Wilayah | Peranan |
|---|---|
| Siprus | Tempat pemberitaan Injil dalam perjalanan misi pertama Rasul Paulus dan Barnabas. |
| Perga | Salah satu kota yang dikunjungi dalam perjalanan menuju wilayah pedalaman Asia Kecil. |
| Antiokhia Pisidia | Rasul Paulus memberitakan Tuhan Yesus di sinagoge dan kepada masyarakat setempat. |
| Ikonium | Terbentuk komunitas pengikut Tuhan Yesus. |
| Listra | Rasul Paulus memberitakan Injil dan mengalami penolakan serta penganiayaan. |
| Derbe | Tempat pemberitaan dan pembentukan murid-murid baru. |
Jaringan jemaat yang terbentuk di wilayah ini kemudian menjadi bagian penting dari Pekabaran Kekristenan di Asia Kecil.
5. Makedonia: Injil Masuk ke Eropa
Dalam perjalanan misi berikutnya, Rasul Paulus memasuki Makedonia. Kisah Para Rasul 16 menggambarkan bagaimana pemberitaan Injil sampai ke Filipi. Dari sana, pemberitaan Injil kemudian bergerak ke daerah Tesalonika, Berea, Atena, dan Korintus, di mana kota-kota tersebut berada dalam jaringan utama Kekaisaran Romawi, sehingga tantangan cukup berat.
| Kota | Keterangan |
|---|---|
| Filipi | Salah satu jemaat pertama yang didirikan Rasul Paulus di wilayah Makedonia. |
| Tesalonika | Menjadi komunitas Kristen penting di Makedonia. |
| Berea | Masyarakat menerima pemberitaan dan memeriksa Kitab Suci. |
| Atena | Rasul Paulus memberitakan Allah kepada masyarakat yang memiliki latar belakang filsafat Yunani. |
| Korintus | Menjadi salah satu pusat Kekristenan penting dan kemudian menerima beberapa surat Rasul Paulus. |
Peristiwa ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa Pekabaran Injil tidak hanya berlangsung di antara orang Yahudi. Injil mulai masuk secara sistematis ke dunia Yunani-Romawi.
6. Efesus dan Provinsi Asia
Efesus kemudian menjadi salah satu pusat pelayanan Rasul Paulus yang paling penting. Kisah Para Rasul 19:10 menyatakan bahwa selama pelayanan Rasul Paulus di Efesus, penduduk di seluruh wilayah Asia mendengar firman Tuhan.
Yang dimaksud dengan “Asia” pada saat itu bukan seluruh benua Asia seperti pengertian modern. Yang dimaksud adalah Provinsi Asia dalam Kekaisaran Romawi, yang sebagian besar berada di wilayah barat Turki sekarang. Dari Efesus, pemberitaan dapat bergerak melalui kota-kota lain. Pada akhir abad pertama, Kitab Wahyu menunjukkan bahwa sudah terdapat jemaat di Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia.
7. Roma: Pusat Kekaisaran Romawi
Pada sekitar tahun 50-an Masehi, jemaat Kristen di Roma sudah ada. Hal ini sangat menarik karena ketika Rasul Paulus menulis Surat Roma, ia bukan pendiri pertama jemaat tersebut. Kita tidak mengetahui dengan pasti siapa yang pertama membawa Injil ke Roma. Kemungkinan terdapat beberapa orang yang telah mendengar pemberitaan tentang Tuhan Yesus di wilayah timur Kekaisaran Romawi dan kemudian membawa iman tersebut ke Roma.
Sekitar tahun 60 M, Rasul Paulus sendiri tiba di Roma sebagai tahanan. Dari Roma, jaringan Kekristenan kemudian semakin berkembang ke berbagai wilayah Kekaisaran Romawi.
8. Mesir dan Alexandria
Tradisi gereja mula-mula menghubungkan Markus dengan Alexandria di Mesir. Menurut tradisi tersebut, Markus membawa pemberitaan Injil ke Alexandria dan menjadi tokoh penting dalam pembentukan gereja di sana. Di sini kita perlu membedakan antara tradisi gereja dan bukti sejarah langsung, yaitu peranan Markus di Alexandria merupakan tradisi yang sangat tua, tetapi rincian perjalanan Markus tidak dapat dibuktikan dengan tingkat kepastian yang sama seperti perjalanan Rasul Paulus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul. Namun yang jelas, adalah bahwa Alexandria kemudian menjadi salah satu pusat Kekristenan dan pemikiran Kristen terbesar di dunia kuno.
9. Suriah dan Mesopotamia
Selain jalur yang bergerak ke barat melalui Asia Kecil dan Yunani, Kekristenan juga berkembang ke arah timur, menuju wilayah Suriah dan Mesopotamia.
Edessa menjadi salah satu pusat penting Kekristenan berbahasa Suryani. Tradisi kemudian menghubungkan perkembangan Kekristenan di wilayah tersebut dengan Rasul Tomas dan tokoh bernama Addai atau Thaddeus. Namun untuk bagian ini kita harus berhati-hati. Tradisi tentang Rasul Tomas mempunyai sejarah yang panjang, tetapi rincian perjalanan Rasul Tomas ke berbagai wilayah timur tidak mempunyai bukti langsung yang sama kuatnya dengan perjalanan Rasul Paulus yang dicatat dalam sumber abad pertama.
10. Afrika Utara
Kekristenan kemudian berkembang dengan sangat kuat di Afrika Utara, terutama di wilayah Kartago. Memang dapat dikatakan, kita tidak memiliki bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa satu rasul tertentu menginjili seluruh Afrika Utara. Yang lebih masuk di akal adalah bahwa, perkembangan tersebut merupakan hasil dari banyak hamba Tuhan yang melakukan perjalanan misi, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil berdagang, atau mengadakan kunjungan kepada komunitas Kristen lainnya, dan lain sebagainya.
Pada abad kedua dan ketiga, Afrika Utara bahkan menghasilkan tokoh-tokoh Kristen besar seperti Tertullianus dan Cyprianus.
11. India dan Tradisi Rasul Tomas
Tradisi Kristen India menghubungkan kedatangan Injil ke India dengan Rasul Tomas. Tradisi ini sangat kuat dalam Gereja Mar Thoma dan gereja-gereja yang menggunakan tradisi Siria.Namun secara sejarah, kita perlu membedakan antara tradisi gereja dan bukti dokumenter. Bukti mengenai perjalanan Rasul Tomas ke India tidak sekuat bukti mengenai perjalanan Rasul Paulus di wilayah Mediterania. Yang mungkin lebih mendekati kepastian, adalah bahwa komunitas Kristen berbahasa Siria memang berkembang di India pada masa awal, serta tradisi mengenai Rasul Tomas menjadi bagian yang sangat penting dari identitas komunitas Kristen India.
12. Bagaimana Kitab Injil Itu Sendiri Menyebar?
Setelah Injil Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes ditulis, Pekabarannya berlangsung dengan cara yang berbeda dari zaman sekarang. Pada masa itu belum ada mesin cetak. Tidak ada percetakan dan tidak ada produksi massal buku. Setiap salinan harus dibuat dengan tangan.
Proses Pekabaran kitab Injil, kira-kira seperti ini:
| Tahap | Proses |
|---|---|
| 1 | Sebuah Injil ditulis oleh penulisnya atau melalui seorang juru tulis. |
| 2 | Naskah tersebut diterima oleh sebuah komunitas Kristen. |
| 3 | Naskah disalin dengan tangan. |
| 4 | Salinan dibawa atau dikirim ke jemaat lain. |
| 5 | Injil dibacakan dalam pertemuan jemaat. |
| 6 | Pengajar menjelaskan isi yang telah dibacakan. |
| 7 | Jemaat mengingat dan mengajarkan kembali isinya. |
| 8 | Jemaat tersebut dapat membuat salinan baru untuk komunitas lain. |
Dengan demikian, satu naskah dapat menghasilkan beberapa salinan. Masing-masing salinan kemudian dapat menghasilkan salinan berikutnya. Pekabaran ini dapat digambarkan seperti sebuah pohon yang terus bercabang.
13. Mengapa Satu Kitab Dapat Didengar Banyak Orang?
Pada masyarakat abad pertama, kemampuan membaca tidak dimiliki oleh semua orang. Karena itu, sebuah kitab tidak harus dimiliki secara pribadi oleh setiap orang. Satu orang yang mampu membaca dapat membacakan kitab tersebut kepada seluruh jemaat. Puluhan atau bahkan lebih banyak orang dapat mendengarkan pada saat yang sama. Hal ini menjelaskan mengapa rendahnya tingkat literasi tidak otomatis menjadi penghalang besar bagi Pekabaran Injil.
Alur pemberitaan Injil adalah sebagai berikut:
Naskah tertulis → dibacakan → didengar jemaat → dijelaskan → diingat → diajarkan kembali → dibawa ke tempat lain.
Dengan demikian, tulisan dan tradisi lisan tidak saling bertentangan. Keduanya bekerja bersama.
14. Surat Rasul Paulus Menunjukkan Pola tersebut
Surat-surat Rasul Paulus memberikan bukti yang sangat jelas mengenai cara tulisan Kristen beredar. Dalam Kolose 4:16, Rasul Paulus meminta agar surat yang dibacakan di satu jemaat juga dibaca di jemaat lain. Ini menunjukkan bahwa satu surat tidak dimaksudkan hanya untuk dibaca oleh satu orang.
Dalam 1 Tesalonika 5:27, Rasul Paulus bahkan meminta agar suratnya dibacakan kepada seluruh saudara seiman.
Wahyu 1:3 juga memperlihatkan pola yang sama: ada orang yang membacakan, sementara orang-orang lain mendengarkan. Jadi sebetulnya sejak awal, kekristenan sudah mempunyai pola “membaca untuk didengar bersama”.
15. Kapan Empat Injil Mulai Dikenal Bersama?
Markus umumnya dipandang oleh banyak ahli sebagai Injil yang paling awal, kemungkinan ditulis sekitar tahun 65–75 M. Matius dan Lukas kemungkinan muncul sekitar tahun 70–90 M, sedangkan Yohanes kemungkinan sekitar tahun 90-an M. Tanggal-tanggal tersebut merupakan perkiraan dan masih menjadi bahan perdebatan akademis.
Yang penting adalah bahwa Injil tidak muncul sebagai satu buku sekaligus. Keempatnya muncul dalam lingkungan dan waktu yang berbeda, kemudian beredar melalui jaringan jemaat.
Pada akhir abad pertama dan awal abad kedua, keempat Injil tersebut semakin dikenal di berbagai komunitas Kristen.
16. Kesaksian Irenaeus Sekitar Tahun 180 M
Salah satu bukti penting berasal dari Irenaeus, seorang pemimpin gereja di Lyon, Gaul, (ibu kota Galicia Romawi) yang menulis sekitar tahun 180 M.
Dalam karyanya “Against Heresies“, Irenaeus menyebut empat Injil dan menghubungkannya dengan Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Hal ini termasuk menjadi tonggak sejarah yang sangat penting, karena menunjukkan bahwa sekitar satu setengah abad setelah pelayanan Tuhan Yesus, empat Injil tersebut sudah dikenal sebagai kesatuan tulisan terpenting dalam perkembangan gereja.
17. Kronologis Pekabaran Injil ke berbagai daerah
| Periode | Wilayah | Tokoh atau kelompok penting | Keterangan |
|---|---|---|---|
| ± 30 M | Yerusalem | Para rasul | Pusat awal pemberitaan setelah kebangkitan Tuhan Yesus. |
| ± 30–40 M | Yudea dan Samaria | Rasul Petrus, Rasul Yohanes, Filipus | Injil mulai keluar dari Yerusalem. |
| ± 35–45 M | Fenisia, Siprus, Antiokhia | Orang-orang percaya yang tersebar | Antiokhia berkembang menjadi pusat misi. |
| ± 46–48 M | Siprus dan Asia Kecil | Rasul Paulus dan Barnabas | Perjalanan misi pertama. |
| ± 49–52 M | Makedonia dan Yunani | Rasul Paulus dan rekan-rekan | Filipi, Tesalonika, Berea, Atena, Korintus. |
| ± 52–57 M | Efesus dan Provinsi Asia | Rasul Paulus dan rekan-rekan | Efesus menjadi pusat pemberitaan yang sangat penting. |
| ± 50–60 M | Roma | Komunitas Kristen awal; kemudian Rasul Paulus | Jemaat sudah ada sebelum Rasul Paulus tiba. |
| ± 60–100 M | Mesir | Tradisi menghubungkan dengan Markus | Alexandria kemudian menjadi pusat Kekristenan besar. |
| ± 60–100 M | Suriah dan Mesopotamia | Tradisi menghubungkan dengan Rasul Tomas dan Addai | Berkembang tradisi Kekristenan berbahasa Suryani. |
| ± 70–100 M | Asia Kecil | Rasul Yohanes dan komunitas Asia | Tujuh jemaat disebut dalam Kitab Wahyu. |
| Abad I–II | Afrika Utara | Berbagai komunitas Kristen | Kemudian berkembang kuat di Kartago. |
| Abad I–II | India | Tradisi Rasul Tomas | Tradisi sangat kuat, tetapi rincian sejarahnya masih diperdebatkan. |
18. Jadi, Siapa Sebenarnya yang Menyebarkan Injil?
Kita tidak boleh membayangkan bahwa hanya dua belas rasul yang berjalan ke seluruh dunia dan mendirikan semua jemaat. Para rasul memang mempunyai peranan yang sangat penting sebagai saksi dan pemberita pertama, tetapi Pekabaran selanjutnya dilakukan oleh banyak orang. Ada penginjil, guru, anggota keluarga, pedagang, pelancong, orang yang berpindah kota, dan orang-orang biasa yang telah percaya kepada Tuhan Yesus. Sebagian nama mereka bahkan tidak pernah dicatat dalam sejarah. Karena itu, Pekabaran Kekristenan merupakan pekerjaan jaringan manusia yang sangat luas. Seorang percaya mendengar Injil di satu kota, kemudian membawanya ke kota lain. Dari kota kedua, orang lain membawanya lebih jauh lagi.
19. Mengapa Injil Dapat Menyebar Begitu Luas?
Dalam hal Injil begitu cepat menyebar begitu luas, perlu diperhatikan bahwa ada beberapa faktor yang sangat membantu Pekabaran Injil
-
- Kekaisaran Romawi memiliki jaringan jalan yang luas – Perjalanan antarkota menjadi jauh lebih mudah dibandingkan banyak periode sebelumnya.
- Laut Tengah menjadi jalur komunikasi dan perdagangan yang sangat penting – Kota-kota besar di sekeliling Laut Tengah saling terhubung.
- Bahasa Yunani Koine digunakan secara luas di bagian timur Kekaisaran Romawi – Hal ini membantu komunikasi lintas daerah.
- Komunitas Yahudi sudah tersebar di berbagai kota di luar Palestina – Karena itu, para pemberita Injil sering menemukan komunitas Yahudi dan sinagoge sebagai tempat awal untuk menyampaikan berita tentang Tuhan Yesus.
- Setelah Injil ditulis, naskah tersebut dapat disalin dan dikirim ke jemaat lain – Satu tulisan dapat digunakan oleh banyak orang melalui pembacaan bersama.
Penutup
Pekabaran Injil tidak terlaksana dengan satu metode saja. Pada awalnya, Kabar Baik terutama bergerak melalui kesaksian lisan para rasul dan murid-murid Tuhan Yesus. Kemudian terbentuk jemaat-jemaat di berbagai kota. Selanjutnya Surat-surat rasul mulai beredar. Baru setelah itu, kitab-kitab Injil ditulis dan disalin dengan tangan, untuk kemudian dibacakan di hadapan para jemaat.
Jalur utamanya dapat diringkas sebagai berikut:
Yerusalem → Yudea dan Samaria → Antiokhia → Siprus → Asia Kecil → Makedonia → Yunani → Roma → Mediterania Barat.
Sementara itu berkembang pula jalur lain:
Yerusalem → Suriah → Mesopotamia → Persia → India.
Dan jalur selatan:
Yerusalem → Mesir → Alexandria → Afrika Utara.
Namun tidak semua bagian dari jalur tersebut dapat dibuktikan dengan tingkat kepastian yang sama. Perjalanan Rasul Paulus mempunyai bukti Perjanjian Baru yang sangat kuat. Sementara hubungan Markus dengan Alexandria dan Rasul Tomas dengan India terutama diketahui melalui tradisi gereja awal dan bukti-bukti yang berkembang kemudian.
Yang paling penting, Pekabaran Injil tidak dapat dipahami hanya sebagai Pekabaran sebuah buku. Pada awalnya yang menyebar adalah kesaksian tentang Tuhan Yesus. Kemudian kesaksian itu dipelihara melalui pemberitaan lisan, pengajaran, surat-surat, dan akhirnya kitab-kitab Injil. Ketika kitab-kitab tersebut disalin dan dibacakan di berbagai jemaat, berita yang semula berasal dari Yerusalem mulai menjangkau dunia Mediterania dan kemudian wilayah-wilayah yang semakin jauh.
Dengan demikian, sejarah Pekabaran Injil sebenarnya merupakan proses bertahap:
peristiwa → kesaksian para saksi mata → pemberitaan lisan → pembentukan jemaat → surat dan catatan tertulis → penulisan Injil → penyalinan manuskrip → pembacaan di jemaat → Pekabaran ke wilayah lain.
Kesimpulannya, Pekabaran Injil dari Yerusalem ke berbagai penjuru dunia berlangsung secara bertahap melalui kesaksian para rasul, pemberitaan lisan, pembentukan jemaat, penulisan dan penyalinan kitab-kitab, serta penyebaran oleh banyak orang percaya melalui jaringan perjalanan dan komunikasi dunia kuno. Tugas kita di zaman ini adalah meneruskan pemberitaan firman Allah Yang Hidup dengan bersaksi melalui perkataan dan perbuatan kita yang memuliakan Allah.
Kiranya Tuhan Yesus memberikan hikmat dan pengetahuan-Nya agar kita dapat memahami pemberitaan firman hari ini. Tuhan Yesus memberkati.
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2 Timotius 4:2
Amin.
