Maleakhi 2 part 3 tentang ”Rahasia memahami Kesabaran Allah terhadap orang fasik – The secret to understanding God’s patience towards the wicked” Seri Nabi Kecil

By Febrian 13 Juli 2026 04:07 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam edisi sebelumnya telah kita bahas mengenai rahasia hidup setia dalam perkawinan, sementara itu kali ini kita akan membahas mengenai rahasia memahami kesabaran Allah terhadap orang fasik. Kiranya kita diberi hikmat dan pengetahuan, agar dapat memahami firman Tuhan tersebut di atas. 

Tuhan Yesus memberkati.

Rahasia memahami Kesabaran Allah terhadap orang fasik 

Maleakhi 2:17

Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu.

Tetapi kamu berkata:
“Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?”

Dengan cara kamu menyangka:
“Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?”

Di dalam ayat bacaan di atas, mengandung beberapa pokok pikiran, sebagai berikut:

1. Orang baik hidup susah dan cepat mati, orang jahat hidup kaya raya, sukses dan panjang umur 

Maleakhi 2:17 menunjukkan bahwa Allah menjadi kecewa atau “susah”, karena pikiran umat-Nya yang menyangka Allah tidak menghukum orang fasik. Apa latar belakang mereka hingga berpikir seperti demikian?

Koruptor
Orang jahat seolah hidup sukses

Pada saat itu, bangsa Israel mungkin melihat banyak orang jahat yang terus hidup panjang umur dengan nasib baik, kaya raya, sukses, beruntung, sementara orang yang dengan sabar berusaha hidup benar justru hidup sulit, menderita, miskin, dan mengalami berbagai kegagalan. Karena keadaan itu, mereka mulai tidak sabar dan berkata bahwa orang yang berbuat jahat tetap dianggap baik oleh Tuhan, atau bahkan mempertanyakan apakah Allah masih adil. Bagi mereka, seolah-olah Tuhan tidak lagi membedakan antara yang benar dan yang salah. Ucapan-ucapan seperti ini membuat mereka kehilangan rasa hormat kepada Allah dan meragukan karakter-Nya.

Suatu ketika saya menghadiri acara penghiburan kematian seorang sahabat. Ada beberapa orang yang berkata, “Dia orang yang hidupnya baik, makanya dia cepat dipanggil Tuhan. Makanya jangan hidup kelewat baik.” Ini mungkin adalah seloroh saja, namun sesungguhnya menggambarkan paradigma yang mungkin juga berangkat dari fakta bahwa – barangkali atau kebetulan – memang banyak orang yang murah hati, ramah terhadap siapapun, rendah hati, jujur, penuh kasih, meninggal di usia relatif muda. Namun, di sisi lain, ada juga orang yang perbuatannya menyakitkan dan merugikan orang lain, namun terus menerus hidup hingga usia lanjut. Tidak fair ya?

Hal seperti di ataslah yang mendasari umat Israel mengatakan, “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan”?  Pandangan sinis umat Israel kala itu mungkin tidak berbeda jauh dari pandangan banyak orang di masa kini, yaitu mereka yang sudah kehilangan kesabaran, mempertanyakan sikap Allah yang seolah diam melihat berbagai kejahatan. Koruptor semakin kaya, pengusaha kejam semakin berjaya, sementara orang miskin jumlahnya semakin bertambah. Orang yang mulutnya pedas dan menyakitkan, kariernya moncer dan bisa menduduki posisi yang gemilang, sebaliknya orang yang baik hati, jujur dan ramah, tetap saja di bawah dan ‘tidak terpakai’.

Jika kita perdalam latar belakang kejadian dalam kitab Maleakhi di atas, ada beberapa fakta sejarah yang memperkuat pandangan bangsa Israel yang merasa Allah seolah-olah diam ketika orang jahat berhasil. Bangsa Israel sempat lama berada di tanah asing dalam tanah pembuangan di Babel. Setelah Allah mengembalikan mereka dari sana, mereka berharap kehidupan di tanah kelahiran mereka, akan segera dipulihkan kembali seperti janji para nabi. Namun, kenyataannya berbeda sama sekali yaitu bahwa mereka masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Persia.

Wilayah tempat tinggal mereka adalah salah satu bagian dari kerajaan itu, dan mereka tidak memiliki raja dari keturunan Daud. Di sisi lain, keadaan ekonomi masih sangat sulit, hasil panen tidak selalu baik. Di sinilah mereka melihat seolah terjadi ketidakadilan, yaitu bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah hidup lebih kuat. Harapan mereka tentang pemulihan ilahi sama sekali belum terwujud sepenuhnya. Keadaan ini membuat sebagian orang mulai mempertanyakan apakah Allah benar-benar masih ada menjaga umat-Nya.

Di dalam kitab Maleakhi sendiri terlihat, bahwa umat Israel mulai kehilangan semangat rohani karena merasa tidak melihat campur tangan Allah. Dampaknya yaitu antara lain, mereka mempersembahkan korban yang cacat (Maleakhi 1:7-8), para imam melayani dengan sikap yang asal-asalan (Maleakhi 1:12-13), banyak orang tidak setia dalam pernikahan (Maleakhi 2:10-16), dan akhirnya mereka berkata, “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN,”. Ucapan “Di manakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17). menunjukkan bahwa mereka melihat orang-orang yang hidup jahat tidak segera menerima hukuman, sehingga mereka menyimpulkan bahwa Allah membiarkan ketidakadilan terjadi.

Sebetulnya pandangan umat yang meragukan Allah seperti ini, juga muncul di bagian lain dalam Alkitab Perjanjian Lama. Pemazmur pernah mengaku bingung ketika melihat orang fasik hidup tenang, kaya, sehat, dan tidak mengalami kesulitan seperti orang lain (Mazmur 73:3-12). Nabi Habakuk juga berseru kepada Allah karena melihat kekerasan, kejahatan, dan ketidakadilan terus berlangsung tanpa hukuman yang segera (Habakuk 1:2-4). Bahkan Nabi Yeremia bertanya mengapa jalan hidup orang fasik selalu berhasil sementara orang yang setia mengalami penderitaan (Yeremia 12:1). Hal ini menunjukkan bahwa pergumulan melihat orang jahat berjaya bukan hanya dialami oleh umat pada zaman Maleakhi, tetapi juga menjadi pergumulan yang berulang dalam sejarah Israel.

Jadi latar belakang tersebut, seolah menjadi ‘excuses’ bagi umat Israel di zaman itu untuk memiliki keraguan akan Allah Yang Adil. Mereka tidak pernah memiliki pemahaman yang benar tentang keadilan Allah. Jadi apa sesungguhnya latar belakang Allah bersikap seperti itu?

2. Rahasia Allah diam: sabar menanti orang fasik untuk bertobat 

Tuhan Yesus mengampuni
Allah dalam kesabaran-Nya menanti pertobatan orang berdosa

TUHAN Allah Yang Maha Pengasih dan Panjang Sabar, bukanlah Allah Yang tidak adil dan tutup mata seperti yang dituduhkan oleh umat Israel masa itu. Sifat dasar Allah adalah Kasih, segala sesuatu dilakukan-Nya dengan kesabaran, demi menyelamatkan umat-Nya dari kebinasaan. Dalam pandangan kesabaran Allah Yang Maha Kuasa, orang fasik yang selalu berbuat jahat, adalah juga ciptaan yang sangat disayangi-Nya, sama dengan orang yang berbuat kebaikan dan kebenaran.

Jadi, bukan berarti jika Tuhan diam itu berarti menyetujui kejahatan, namun itu adalah wujud Kasih Allah yang begitu sabar memberi kesempatan kepada umat manusia untuk bertobat dan berbalik dari jalan mereka yang jahat. Sekalipun perbuatan mereka pantasnya tidak layak untuk dimaafkan, namun Allah tetap memberi kesempatan untuk bertobat. Itulah Allah yang Maha Kasih dan Penyayang yang berfirman demikian:

Yeh 33:11

Katakanlah kepada mereka:
Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

2 Petrus 3:9

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Ingatkah kita sewaktu Tuhan Yesus di dunia, dengan siapa Ia duduk maka bersama? Lihat Luk 7:36; Mat 9:10; Mrk 2:15.

Lukas 5:32

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Pesan utama dari firman Allah di atas, adalah bahwa kita jangan pernah sekali-kali menilai Allah berdasarkan pikiran kita yang sempit ini. Jangan sampai kita juga langsung berpikir bahwa Tuhan tidak adil, ketika melihat orang ketika orang benar mengalami penderitaan, sementara orang jahat semakin kaya dan selalu tampak berhasil. Firman ini mengingatkan bahwa keadilan dan kesabaran Allah tidak bisa diukur oleh pikiran manusia.

Firman Tuhan kali ini mengajak kita untuk introspeksi atau memeriksa diri sendiri, daripada sibuk mempertanyakan tindakan Tuhan. Memang diakui bahwa sifat dasar manusia paling cepat menyalahkan pihak lain, daripada mengakui bahwa kita sendiri juga banyak salah dan sesungguhnya membutuhkan kasih karunia dan pengampunan- dari Allah. Di sinilah kehendak Allah bahwa umat-Nya memiliki kerendahhatian, ketulusan percaya kepada-Nya daam iman, serta bertahan hidup dalam kebenaran sekalipun keadaan di sekitar tampak tidak sesuai dengan harapan.

Ketika Allah berfirman, “Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu,” bukan berarti Ia menjadi lelah dan tidak sabar seperti manusia. Namun, arti sesungguhnya adalah, bahwa sikap hati umat Israel yang kehilangan kesabaran dan terus-menerus meragukan keadilan Allah sambil mengabaikan dosanya sendiri, membuat Allah tidak berkenan terhadap mereka. Umat Israel lebih sibuk menilai Tuhan daripada introspeksi untuk memeriksa kehidupan mereka. Umat Israel ingin Allah segera menghukum orang lain, tetapi tidak menyadari bahwa mereka sendiri juga telah hidup tidak setia kepada-Nya.

Bagian terakhir ayat ini, “Di manakah Allah yang menghukum?” menunjukkan bahwa mereka dengan tidak sabar, mulai mempertanyakan apakah Tuhan memang betul-betul menindak pelaku kejahatan. Mereka menyangka Allah diam tidak peduli, karena terlihat bahwa orang-orang fasik tersebut tidak kunjung menerima hukuman. Inilah sifat dasar manusia, maunya menghakimi dan tidak mau berusaha memahami jauh ke dalam, yaitu berusaha memahami alasan di balik sikap Allah tersebut.

Amsal 11:10

Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.

Matius 7:4-5

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Matius 7:3

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Lukas 6:41

Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Seseorang yang memiliki kedewasaan dalam Iman, bukan hanya percaya ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi juga tetap percaya dalam kesabaran ketika keadilan Tuhan belum terlihat. Kita dipanggil untuk menjaga perkataan, pikiran, dan sikap hati agar tidak menjadi orang yang terus-menerus mempertanyakan kebaikan Allah karena dipengaruhi oleh keadaan sementara.

Maka sekarang, hindarilah perkataan, “Di manakah Allah yang menghukum?” gantilah dengan pertanyaan, “Apakah hidupku sudah berkenan di hadapan-Nya?” Di saat kita beriman kepada Allah, maka Roh Kudus-Nya akan memberi kita hikmat dan pemahaman utuh mengenai sifat Allah, sehingga kita akan memiliki kesabaran dan hidup dalam damai sejahtera. Hiduplah tetap setia dan taat menjalani kehidupan dengan sabar dan memiliki keyakinan teguh bahwa Allah selalu adil, selalu benar, dan tidak pernah gagal menepati janji-Nya.

2. Roh Kudus mengajar kita dengan sabar untuk memiliki pemahaman tentang Allah

Roh Kudus
Mintalah Roh Kudus memenuhi hati dan jiwa kita

Banyak orang begitu kesal dan tidak bisa sabar, ketika melihat orang yang berbuat kejahatan namun semakin kaya dan sukses, sementara dirinya sendiri tidak. Berangkat dari iri hati dan kecemburuan, akhirnya karena kehilangan kesabaran maka mulutnya mulai memfitnah, menjelekkan, bahkan akhirnya juga protes terhadap Allah. Inilah kenyataan yang banyak terjadi hingga di zaman sekarang ini.

Orang selalu merasa lebih benar daripada orang lain, kemudian menyalahkan Allah yang seolah tutup mata terhadap apa yang sedang terjadi. Inilah cikal bakal lahirnya suatu aliran yang menyebut dirinya Agnostik atau orang-orang yang tidak lagi peduli tentang Allah. Mereka mengatakan bahwa tidak cukup bukti di alam semesta ini bahwa memang Allah itu ada. Kalau Allah itu ada, maka tidak akan ada kejahatan, tidak ada kemiskinan, tidak ada orang sakit dsb. Itulah kenyataan yang terjadi zaman ini. 

Jika kita kembali pada sikap bangsa Israel yang dengan tidak sabar meragukan keadilan Allah, itu cerminan bahwa mereka sesungguhnya tidak mengenal siapa Allah yang sesungguhnya. Setiap orang yang memandang Allah dengan kapasitasnya sebagai manusia kemudian dengan berani menyatakan penilainnya terhadap TUHAN Allah Semesta Alam, bagaikan seekor semut kecil yang berusaha memahami cara berfikir seorang manusia. Dimensi berfikir yang berbeda, kapasitas hati juga berbeda. Tidak mungkin manusia seorang diri bisa memahami Allah. Mari kita coba pahami bagaimana rahasia memahami cara pandang Allah.

Banyak orang yang mungkin sudah beragama Kristen Protestan, tetapi sesungguhnya mereka belum mengenal Allah secara pribadi. Hal ini dimungkinkan karena mereka belum mengenal Roh Kudus yang adalah wakil Tuhan Yesus di dunia ini. Berikut kejadian yang mirip dengan kasus bangsa Israel dalam kitab Maleakhi di atas.

Kisah Para Rasul 19:1-2

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.

Roh Kudus adalah Penghibur yang menggantikan Tuhan Yesus waktu Ia naik ke Surga. Ia akan membimbing setiap orang berjalan dalam kebenaran. Ia juga menjadi penghibur. Dengan Roh Kudus kita bisa memahami kesabaran Allah terhadap orang fasik, dengan memberi ‘Grace Period’ atau ‘Masa Tenggang’ demi mereka bisa bertobat dan diselamatkan. Pemahaman tentang Allah hanya bisa terjadi jika kehidupan seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Yoh 15:26

Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

Roh Kudus bersaksi tentang Tuhan Yesus. Tanpa Roh Kudus, kehidupan seseorang pasti akan menuju kehancuran. Ia tidak akan memiliki terang dalam hidupnya, yang mengarah pada kegelapan. Seseorang yang hidup dalam kebenaran, tidak akan sanggup membedakan mana yang benar dan yang salah. Demikianlah orang Israel di zaman Maleakhi itu, mereka tidak sanggup memahami kesabaran Allah yang sangat mencintai setiap orang dan ingin mereka semua bertobat, bukannya binasa.

Roh Kudus itu Allah yang dalam keberadaan-Nya akan berkenan hadir memberikan segala pengajaran-Nya bagi orang yang meminta kepada TUHAN Allah Yang Maha Kuasa.

Lukas 11:13

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Melalui ayat di atas Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya, bahwa Allah adalah Bapa yang baik dan dapat dipercaya. Tuhan Yesus membandingkan orang tua di dunia yang meskipun tidak sempurna, tetap berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya, maka terlebih lagi Allah yang sempurna. Karena itu, Tuhan Yesus mendorong setiap orang percaya untuk mohon kepada Allah agar Roh Kudus diutus kepadanya, dengan keyakinan dan berdoa kepada-Nya.

Pemberian yang paling berharga yang Allah janjikan bukan terutama kekayaan, kesuksesan, atau kemudahan hidup, melainkan Roh Kudus. Roh Kudus hadir untuk menolong orang percaya mengenal Allah lebih dalam, memahami firman-Nya, memberi kekuatan untuk melawan dosa, menghibur saat menghadapi kesulitan, dan memimpin hidup sesuai kehendak Tuhan. Dengan memberikan Roh Kudus, Allah sebenarnya memberikan kehadiran-Nya sendiri yang terus menyertai umat-Nya.

Ungkapan “kepada mereka yang meminta kepada-Nya” menunjukkan bahwa Allah menghendaki hubungan yang dekat dengan anak-anak-Nya. Meminta Roh Kudus bukan berarti Allah enggan memberi, tetapi menunjukkan sikap hati yang bergantung, percaya, dan rindu dipimpin oleh-Nya setiap hari. Ayat ini mengajak orang percaya untuk terus datang kepada Allah dalam doa, karena Ia senang memberikan apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Roma 8:27

Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

Roma 8:27 menjelaskan bahwa Allah mengenal isi hati manusia dengan sempurna. Tidak ada pergumulan, kelemahan, atau doa yang tersembunyi di hadapan-Nya. Ketika orang percaya tidak tahu bagaimana harus berdoa atau tidak mampu mengungkapkan isi hatinya, Roh Kudus bekerja di dalam dirinya. Roh Kudus memahami kebutuhan terdalam orang percaya dan menyampaikan permohonan kepada Allah sesuai dengan kehendak-Nya.

Ayat ini tidak berarti Roh Kudus harus memberi tahu Allah sesuatu yang belum diketahui-Nya. Sebaliknya, karena Allah Bapa dan Roh Kudus memiliki satu kehendak, doa yang dinaikkan oleh Roh Kudus selalu sejalan dengan rencana Allah yang sempurna. Dengan demikian, orang percaya dapat memiliki keyakinan bahwa meskipun doanya terbatas atau tidak sempurna, Roh Kudus menolong sehingga doa itu selaras dengan kehendak Allah.

Bagi kehidupan sehari-hari, ayat ini memberikan penghiburan. Ada saat-saat ketika seseorang begitu sedih, bingung, atau lelah sehingga tidak sanggup berdoa dengan kata-kata. Dalam keadaan seperti itu, Roh Kudus tetap bekerja sebagai Penolong yang memahami isi hati dan membawa pergumulan orang percaya kepada Allah. Karena itu, orang percaya tidak perlu takut ketika merasa tidak tahu harus berdoa apa, sebab Allah mengetahui hati mereka dan Roh Kudus senantiasa menolong mereka sesuai dengan kehendak-Nya.

Penutup

Dalam kondisi yang tidak menguntungkan, mungkin seseorang terdorong untuk menjadi tidak sabaran dan mudah emosi. Dampak yang sering terjadi adalah bahwa orang tersebut bukannya berusaha mencari jalan keluar, malahan ia mencari-cari kesalahan orang lain dan seolah-olah mau semua orang disekitarnya turut merasakan kesusahannya. Inilah saat di mana seseorang biasanya kehilangan juga kepercayaan dan imannya kepada Allah. Di saat itulah orang tersebut membutuhkan Roh Penghibur yang sebetulnya tidak pernah jauh dari dirinya. Roh Kudus yang diutus oleh Tuhan Yesus, akan memberikan penghiburan dan membimbing setiap orang menuju kebenaran yang sejati. Pemahaman akan Allah dan kesabaran-Nya juga berasal dari hikmat dan pengetahuan dari Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus tidak seorang pun bisa memahami kebenaran Allah secara utuh.

Mari kita mohon Tuhan Yesus untuk mengaruniakan Roh Kudus bagi kita agar kehidupan kita diterangi oleh firman-Nya saat ini. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Tetapi buah Roh ialah:
kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,
kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Galatia 5:22-23

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *