
Zakharia 14 Part 2 tentang “TUHAN adalah Raja yang berkuasa atas seluruh bumi – Remarkably God is The Kings all over the world” Seri Nabi Kecil
By Febrian 02 Juli 2026 04:20 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Seperti yang telah kita pelajari di edisi sebelumnya, yaitu “Allah dengan penuh kuasa berperang demi umat-Nya“,maka kali ini kita akan lanjutkan dengan pembahasan mengenai Tuhan adalah Raja yang berkuasa atas seluruh bumi.
Zakharia 14 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
TUHAN adalah Raja yang berkuasa atas seluruh bumi
Zakharia 14:4-11
4 Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur.
Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan.5 Maka tertutuplah lembah gunung-gunung-Ku, sebab lembah gunung itu akan menyentuh sisinya; dan kamu akan melarikan diri seperti kamu pernah melarikan diri oleh karena gempa bumi pada zaman Uzia, raja Yehuda.
Lalu TUHAN, Allahku, akan datang, dan semua orang kudus bersama-sama Dia.6 Maka pada waktu itu tidak akan ada lagi udara dingin atau keadaan beku, 7 tetapi akan ada satu hari–hari itu diketahui oleh TUHAN–dengan tidak ada pergantian siang dan malam, dan malampun menjadi siang.
8 Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem; setengahnya mengalir ke laut timur, dan setengah lagi mengalir ke laut barat; hal itu akan terus berlangsung dalam musim panas dan dalam musim dingin.
9 Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya.
10 Seluruh negeri ini akan berubah menjadi seperti Araba-Yordan, dari Geba sampai ke Rimon di sebelah selatan Yerusalem. Tetapi kota itu akan menjulang tinggi dan tetap tinggal di tempatnya, dari pintu gerbang Benyamin sampai ke tempat pintu gerbang yang dahulu, yakni sampai ke pintu gerbang Sudut, dan dari menara Hananeel sampai ke tempat pemerasan anggur raja.
11 Orang akan menetap di dalamnya, sebab penumpasan tidak akan ada lagi, dan Yerusalem akan tetap aman.
Mari kita lihat situasi dan kondisi yang digambarkan Nabi Zakharia:
1. Gambaran visual dan Situasi Geografis Asli (Zaman Nabi Zakharia / Sejarah Kuno)
Untuk menggambarkan secara visual kejadian ini, kita harus berdiri secara imajinatif di Yerusalem pada abad ke-6 SM (zaman Zakharia) atau merujuk pada kondisi geografis abad ke-8 SM (zaman Uzia).
Yerusalem kuno adalah kota benteng yang berada di atas pegunungan Yudea, dengan ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut, inilah mengapa dikatakan, “Tetapi kota itu akan menjulang tinggi dan tetap tinggal di tempatnya…”.
Di sebelah timurnya, terdapat Lembah Kidron yang curam, dan di seberang lembah itu berdiri Bukit Zaitun. Bukit Zaitun sebenarnya adalah sebuah punggungan bukit (ridge) yang lebih tinggi dari kota Yerusalem, membentang dari utara ke selatan, dan secara fisik “menghalangi” pandangan serta akses langsung dari timur. Secara militer, Bukit Zaitun adalah titik strategis yang berbahaya; jika musuh berkuasa atas Bukit Zaitun, mereka bisa dengan mudah menyerang atau mengepung Yerusalem dari atas.

2. Latar Belakang Nama-Nama Tempat
- Bukit Zaitun: Punggungan batu kapur di sebelah timur Yerusalem, dipisahkan oleh Lembah Kidron.
- Gempa bumi pada zaman Uzia: Merujuk pada peristiwa sejarah nyata sekitar tahun 760 SM (dicatat dalam Amos 1:1). Gempa ini sangat dahsyat hingga meninggalkan lapisan geologis yang terdeteksi di situs-situs arkeologi Israel dan Yehuda, menjadi tolok ukur ketakutan dan kehancuran massal bagi masyarakat kala itu.
- Araba-Yordan: Lembah retakan besar (Rift Valley) yang membentang rata dari utara ke selatan, termasuk area sekitar Sungai Yordan dan Laut Mati. Karakteristiknya adalah dataran rendah, gersang, dan jauh di bawah permukaan laut.
- Geba: Kota di sebelah utara Yerusalem (sekitar 8 km), yang menurut catatan sejarah, adalah merupakan batas utara wilayah kekuasaan Yehuda.
- Rimon (En-Rimon): Lokasi di sebelah selatan (sekitar 50 km dari Yerusalem), menandai batas selatan wilayah Yehuda.
- Laut Timur: Laut Mati.
- Laut Barat: Laut Tengah (Laut Mediterania).
- Pintu Gerbang Benyamin: Terletak di sisi utara tembok kota.
- Pintu Gerbang yang dahulu / Pertama: Kemungkinan gerbang di sisi barat atau utara (batas lama kota).
- Pintu Gerbang Sudut: Terletak di sisi barat laut kota.
- Menara Hananeel: Menara benteng di sisi utara/timur laut kota.
- Pemerasan anggur raja: Lokasi di sisi selatan/tenggara, dekat Lembah Kidron.
3. Gambaran Visual dari firman Tuhan: Before and After
BEFORE (Kondisi Sebelum Kejadian):
Yerusalem adalah kota yang terletak di bukit di wilayah kekuasaan Yehuda, namun bukan yang paling tinggi, sehingga rentan terhadap pengepungan. Bukit Zaitun terletak tepat di sebelah timur Kota Tua Yerusalem dan dipisahkan oleh Lembah Kidron, bukit ini dapat dipakai sebagai tempat bagi musuh dengan mudah mengawasi dan mengancam keamanan kota. Topografi wilayah kekuasaan Yehuda berbukit-bukit, dengan batas utara di Geba dan selatan di Rimon. Pasokan Air kota Yerusalem bergantung pada hujan musiman dan mata air lokal (seperti Gihon). Siang dan malam berganti secara normal, dengan musim dingin yang membawa udara dingin dan beku.
THE EVENT (Kejadian Inti – Zakharia 14:4-6):
Zakharia menggambarkan TUHAN Allah yang berkuasa atas seluruh Alam Semesta berkenan turun dari Surga. Digambarkan dengan kuasa Allah yang ajaib kaki-Nya berjejak di Bukit Zaitun, hingga bukit batu kapur yang kokoh itu terbelah dua dari timur ke barat. Terjadi pergeseran tanah yang sedemikian dahsyatnya, menyebabkan separuh bukit bergeser drastis ke utara, separuh lagi ke selatan, hingga berkuasa menciptakan celah/lembah baru yang sangat lebar dan dalam.
Perubahan topografi ini memicu gempa dahsyat, yang digambarkan seperti yang terjadi pada zaman raja Uzia berkuasa. Gempa bumi itu adalah salah satu peristiwa geologis paling dahsyat, yang tercatat dalam sejarah kuno Timur Tengah. Terjadi sekitar sekitar tahun 760 SM, pada masa saat Raja Uzia berkuasa di Kerajaan Yehuda. Peristiwa ini begitu monumental dan membekas di ingatan (traumatis) sehingga menjadi tolok ukur penanggalan, seperti yang dinyatakan dalam Amos 1:1 , “Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa, tentang Israel pada zaman Uzia, raja Yehuda, dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas, raja Israel, dua tahun sebelum gempa bumi.“
Bukti sejarah dari penggalian batuan bersejarah (arkeologis) yang ditemukan di berbagai situs di Israel dan Yordania, seperti Yerusalem, Hazor, Lakhis, dan Gezer, menunjukkan adanya lapisan bukti reruntuhan dan kehancuran kota yang jelas dan serentak. Lapisan ini menunjukkan terdiri dari reruntuhan tembok yang runtuh ke dalam, tiang-tiang yang patah, dan pergeseran tanah yang signifikan.
Di Yerusalem, penggalian di area Kota Daud dan bukit Bait Suci telah mengungkap bukti adanya tembok kota yang miring dan runtuh akibat goncangan hebat yang tiba-tiba. Kerusakan ini tidak menunjukkan tanda-tanda perang atau kebakaran, yang memperkuat teori bahwa ini adalah bencana alam murni.
Seorang ilmuwan Yunani kuno bernama Yosefus Flavius, menulis hasil penelitiannya yang berjudul Antiquities of the Jews (Antiquitates Iudaicae), Buku 9, Bab 10, ayat 4, tahun 70 M, dengan rincian kejadian sejarah tambahan, yaitu bahwa gempa terjadi pada saat Raja Uzia berkuasa di Yehuda. Berdasarkan catatan para rabi Yahudi (rabinik) dan tradisi Yahudi kuno, Raja Uzia dengan waktu itu bertindak angkuh dan sok berkuasa dengan masuk ke Ruang Mahakudus Bait Suci, untuk mempersembahkan ukupan. Ini merupakan suatu pelanggaran berat akan firman Allah, karena kegiatan itu hanya diperbolehkan bagi imam (2 Tawarikh 26:16).
Berikut adalah teks yang terkait kejadian itu, dalam bahasa Yunani (Koine) asli dikutip dari buku tersebut, :
Teks asli (Yunani):
καὶ ὁ ναὸς ἐσχίσθη καὶ ἡ τοῦ ἡλίου ἀκτὶς ἐξέλαμψεν ἐπὶ τὸ πρόσωπον τοῦ βασιλέως, καὶ εὐθέως ἡ λέπρα αὐτῷ ἐπεφύη, καὶ πρὸ τῆς πόλεως ἐν τῷ λεγομένῳ Ἔρωγι ὁ ναὸς τοῦ ὄρους τῆς δύσεως ἀπερράγη τοῦ ὄρους τῆς δύσεως, καὶ ἐκυλίθησαν τὰ μέρη τοῦ ὄρους καὶ ἀπεφράγησαν αἱ ὁδοί.
Terjemahan bebas :
Dan bait suci terbelah, dan sinar matahari menyinari wajah raja, dan seketika kusta tumbuh padanya, dan di depan kota di tempat yang disebut Erogi, bagian dari gunung di sebelah barat runtuh, dan bongkahan gunung itu terguling dan jalan-jalan tertutup.
Dahsyatnya gempa zaman Uzia ini tertanam kuat dalam ingatan bangsa Israel, dan menjadikannya simbol penghakiman ilahi dan kekuasaan Tuhan atas alam. Hal ini terlihat jelas dalam referensi nubuatan Zakharia berabad-abad kemudian, yang menggunakan gempa bumi tersebut sebagai perbandingan untuk menunjukkan kedahsyatan peristiwa nubuat akhir zaman (eskatologis) yang akan datang, yaitu terbelahnya Bukit Zaitun. Dengan merujuk pada gempa bumi pada zaman raja Uzia berkuasa atas Yehuda,” Zakharia membangkitkan kembali ingatan tentang peristiwa yang mengerikan dan tak terlupakan itu untuk menegaskan betapa besarnya kuasa yang akan dilepaskan pada masa itu.
AFTER (Kondisi Setelah Kejadian – Zakharia 14:8-11):
Peta topografi seluruh wilayah Yehuda terbalik. Seluruh daratan dari Geba (utara) hingga Rimon (selatan) mengalami penurunan akibat perubahan besar pada permukaan bumi (tektonik), berubah menjadi dataran rendah yang gersang dan datar persis seperti Lembah Araba-Yordan. Namun, Yerusalem tidak ikut turun. Kota itu justru tetap berada di posisinya sementara tanah di sekitarnya amblas, menjadikannya sebuah dataran tinggi (plato) yang menjulang sangat tinggi di atas lembah retakan yang mengelilinginya. Hanya suatu kuasa supranatural Ilahi saja yang memungkinkan ini terjadi.
Kejadian berikutnya, adalah bahwa dari puncak Yerusalem yang sekarang menjulang tinggi itu, mengalir suatu sungai raksasa (“air kehidupan“) yang kemudian membelah dua: setengahnya mengalir turun ke barat menuju Laut Tengah, setengah lagi ke timur menuju Laut Mati. Adapun sungai tersebut mengalir terus sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Diketahui bahwa di daerah Timur Tengah, debit aliran sungai sangat terpengaruh dengan musim, tidak mungkin sama di sepanjang tahun.
Kemudian digambarkan pula, terjadi perubahan batas-batas kota Yerusalem yang meluas secara fisik dan struktural. Batas tersebut membentang dari pintu gerbang utara (Benyamin/Hananeel), memutar ke barat (Sudut), hingga ke selatan (Pemerasan anggur raja). Kota Yerusalem baru itu menjadi bagaikan benteng raksasa yang tak tersentuh.
4. Situasi yang terjadi menurut pandangan ilmiah
Jika kita menganalisis situasi yang digambarkan dalam ayat-ayat ini murni dari sudut pandang keadaan fisik, topografi, dan kondisi alam, memang betul terjadi beberapa perubahan mendasar yang mungkin agak sulit diterima terkait dengan hukum alam dan teori fisika:
a. Topografi yang terbalik (inversion) dan Keamanan Militer yang tercipta [Zakharia 14:10-11]
Situasi geografis asli [before] Yerusalem sangat rentan karena dikelilingi oleh bukit-bukit yang sama tingginya atau lebih tinggi (seperti Bukit Zaitun). Dalam teks ini, terjadi perubahan bentuk permukaan tanah (topografi) [after], di mana perubahannya adalah tanah di sekitarnya (seluruh wilayah Yehuda dari Geba ke Rimon) “diratakan” menjadi lembah retakan (seperti Araba – Yordan yang rata). Yerusalem, ternyata tetap berada di tempatnya semula, sehingga secara otomatis menjadi berada di sebuah “meja” yang menjadi benteng alam yang menjulang tinggi, dikelilingi oleh jurang/lembah raksasa.
Kondisi after: Jika dipandang dari sudut topografi, Yerusalem terlihat menjadi mustahil untuk diserang atau dikepung oleh tentara musuh di zaman tahun Zakharia bernubuat. Ini menjelaskan secara logis mengapa Zakharia 14:11 menyatakan “Orang akan menetap di dalamnya, sebab penumpasan tidak akan ada lagi, dan Yerusalem akan tetap aman. Ancaman tentara musuh dari arah timur (Bukit Zaitun) akan kehilangan kuasanya secara permanen karena bukit itu terbelah dan menjadi lembah.
c. Terjadinya perubahan aliran air (Anomali Hidrologi) [Zakharia 14:8]

Secara geografis, Yerusalem berada di punggungan bukit setinggi 750 m hingga 780 meter di atas permukaan laut (dpl). Secara umum, air biasanya akan mengalir ke lembah di sekitarnya. Namun dalam keadaan yang baru tersebut, Yerusalem menjadi titik tertinggi. Dinggambarkan dalam firman Tuhan, bahwa “air kehidupan” yang mengalir dari titik tertinggi ini membelah dua arah (Barat ke Mediterania, Timur ke Laut Mati).
Ini adalah sebuah sistem aliran air yang secara fisik bertentangan dengan hukum alam (ilmu hidrology) dan tidak mungkin terjadi oleh proses alamiah. Yerusalem terletak di punggung pegunungan Yudea dengan ketinggian rata-rata sekitar 750 dpl, di mana posisi ini menempatkan Yerusalem di sebuah dataran tinggi yang membagi aliran air alami. Ke arah timur, tanah menurun drastis menuju Lembah Yordan dan Laut Mati yang berada di ketinggian sekitar 430 meter di bawah permukaan laut, yang menjadikannya titik terendah di bumi. Ke arah barat, tanah menurun menuju dataran pantai Laut Tengah yang berada di permukaan laut atau 0 meter.
Secara hukum alam, air dari Yerusalem seharusnya hanya mengalir ke arah barat atau timur sesuai dengan arah lereng bukit, dan air tidak berkuasa mengalir ke kedua arah secara bersamaan dari satu sumber pusat dengan debit konstan, terutama karena adanya penghalang gunung dan perbedaan elevasi yang ekstrem. Secara aturan alam, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang paling rendah mengikuti tarikan gravitasi.
Masalahnya adalah perbedaan ketinggian yang sangat ekstrem di wilayah tersebut. Secara hukum alam, air tidak berkuasa memilih untuk membagi diri secara sama rata dari satu sumber pusat di pusat kota Yerusalem secara terus-menerus karena air akan selalu memilih jalur yang paling mudah dan paling rendah. Jika Yerusalem adalah punggung bukit, air biasanya akan mengalir ke sungai-sungai kecil di lembah terdekat, bukan membelah diri menjadi dua aliran besar yang konsisten.
Selain itu, terdapat faktor penghalang berupa gunung dan lembah yang berliku-liku di antara Yerusalem dan laut, sehingga air tidak akan berkuasa mengalir lurus menembus gunung atau menanjak naik melewati perbukitan.
Mengenai debit konstan, air alami di daerah tersebut sangat bergantung pada musim, namun nubuatan tersebut menyatakan air mengalir terus dalam musim panas dan musim dingin tanpa dipengaruhi oleh iklim dan besarnya (intensitas) curah hujan.
Oleh karena itu, aliran air yang membelah diri dari Yerusalem ke dua laut yang berbeda dari titik yang menjulang tinggi merupakan peristiwa (fenomena) ajaib yang melawan hukum geofisika.
Dalam gambaran nubuatan Zakharia, terjadi perubahan topografi di mana wilayah Geba di sebelah utara yang berada pada ketinggian sekitar 700 meter dan Rimon di sebelah selatan yang berada pada ketinggian sekitar 600 meter, diratakan menjadi dataran rendah seperti Araba-Yordan.
Perubahan ini menciptakan situasi unik di mana kota Yerusalem yang tadinya berada di ketinggian menengah, justru menjadi satu-satunya titik yang menjulang tinggi, seolah-olah menjadi puncak gunung yang terisolasi di tengah dataran datar. Keberadaan sumber air kehidupan di titik setinggi ini yang mampu mengalirkan air melintasi perbedaan elevasi curam menuju Laut Mati di timur dan Laut Tengah di barat tanpa dipengaruhi oleh musim, secara fisik tidak dimungkinkan oleh proses hidrologi normal.
c. Perubahan kondisi langit dan alam sekitar (Atmosferik dan Kosmik) (Zakharia 14:6-7)
Ayat tersebut menyebut hilangnya udara dingin/beku, dan satu hari di mana tidak ada pergantian siang-malam, malam menjadi siang. Ini menggambarkan siklus bumi yang normal akan berubah total. Hilangnya “udara dingin dan beku” menunjukkan perubahan iklim mikro (atmosferik) yang menghilangkan musim dingin yang biasanya mematikan atau menghambat pertanian/perjalanan.
Kondisi “malam menjadi siang” menggambarkan sebuah penerangan (iluminasi) konstan. Baik ini disebabkan oleh hilangnya kuasa dari peredaran matahari/bulan, atau terjadi suatu fenomena ajaib di langit (atmosferik/lensing cahaya) yang luar biasa. Situasi tersebut menciptakan lingkungan tanpa kegelapan, di mana secara psikologis dan fisik menghilangkan kerentanan terhadap serangan malam hari.
d. Perluasan dan perubahan Wilayah (Zakharia 14:9-10)
Ayat-ayat tersebut menyebutkan batas-batas kota dari Pintu Gerbang Benyamin, Menara Hananeel, Pintu Gerbang Sudut, hingga Pemerasan Anggur Raja. Gambaran ini bukan sekadar perbaikan tembok, melainkan penentuan ulang batas area kekuasaan (yurisdiksi) dan batas fisik kota.
Penamaan titik-titik utama (ekstrem) yaitu Utara, Barat dan Selatan, menunjukkan bahwa Yerusalem tidak lagi berupa kota kecil yang padat di dalam tembok sempit, melainkan sebuah wilayah kota besar atau wilayah suci yang sangat luas, yang secara fisik digambarkan dengan jelas oleh titik-titik batas (landmark) yang baru dan kokoh. Ini berarti dibutuhkan suatu kuasa yang dahsyat dalam pendudukan daerah-daerah baru tersebut.
Teks Zakharia 14:4-11 menggambarkan adanya suatu kuasa supranatural ilahi yang dapat menciptakan suatu perubahan (transformasi), yang jika ditinjau dari pandangan ilmu bumi dan hukum fisika alam (geofisika) dan ilmu perbintangan (kosmologi) adalah suatu fenomena yang sulit diterima.
Situasi ajaib yang terjadi tersebut [after] meliputi perombakan total peta geografi Timur Tengah kuno: punggungan bukit di timur hancur menjadi lembah, seluruh wilayah Yehuda amblas menjadi dataran rendah, sementara Yerusalem terangkat menjadi seperti benteng alam yang sulit ditembus, disuplai oleh sumber air ajaib dari puncaknya, dan disinari oleh cahaya konstan tanpa siklus siang-malam.
Renungan bagi kita

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tarik kesimpulan, bahwa nubuat nabi dalam Zakharia 14:4-11 berbicara tentang campur tangan TUHAN pada akhir zaman. Firman ini wajib diterima tanpa menggunakan logika manusia yang berdasarkan ilmu pengetahuan manusia, karena yang bekerja di sini adalah kuasa supranatural ilahi yang melampaui segala kuasa yang bekerja di alam semesta. Di sinilah setiap orang yang membaca firman Tuhan tersebut, wajib menerimanya berdasarkan iman yang teguh, bahwa TUHAN, Allah berkuasa melakukan segala perkara ajaib seperti apapun.
Secara langsung, bagian ini menggambarkan kemenangan TUHAN, pemulihan Yerusalem, dan pemerintahan-Nya atas seluruh bumi. Namun, di balik gambaran nubuatan itu terdapat pelajaran rohani yang sangat relevan bagi kehidupan orang percaya saat ini:
- Tetap beriman sekalipun seolah tidak ada jalan keluar – orang percaya diajar untuk menggantungkan harapan kepada TUHAN, bukan kepada keadaan. Ketika Yerusalem berada dalam keadaan yang tampaknya mustahil, TUHAN sendiri turun tangan. Ini mengingatkan bahwa ketika jalan keluar tidak terlihat, pertolongan TUHAN tetap dapat datang dengan cara yang tidak pernah diperkirakan manusia. Kesetiaan kepada TUHAN tidak boleh bergantung pada keadaan yang sedang baik atau buruk.
- Tuhan pasti menyelamatkan kita – Bukit Zaitun terbelah dan menjadi rata, menggambarkan keamanan yang dijanjikan Allah. Percayalah bahwa TUHAN sedang menyediakan jalan keselamatan bagi umat-Nya. Tidak ada penghalang yang terlalu besar bagi kuasa TUHAN. Dalam kehidupan sehari-hari, besarnya masalah keluarga, gangguan kesehatan, pekerjaan tidak lancar, maupun masa depan yang tidak jelas, tidak akan pernah lebih besar daripada kuasa Allah.
- Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam terang TUHAN Zakharia 14:6-7 menggambarkan suatu hari yang berbeda dari segala hari yang telah ada. Pada waktu itu terang tetap ada meskipun seharusnya sudah malam. Hari-hari tidak lagi akan ada kegelapan yang mengganggu.
Secara rohani, hal tersebut mengajarkan, bahwa terang TUHAN tidak bergantung pada hukum alam. Sekalipun hidup mungkin sudah memasuki masa “senja”, TUHAN tetap mampu memberikan terang, pengharapan, dan arah. - Allah menyediakan Air Kehidupan yang mengalir tanpa henti – TUHAN berkuasa menyediakan sumber air kehidupan bagi semua orang. Air yang hidup mengalir dari Yerusalem ke timur dan ke barat tanpa berhenti, baik musim panas maupun musim dingin. Gambaran ini mengajarkan bahwa orang yang hidup di dalam TUHAN seharusnya terus menjadi saluran kasih, penghiburan, dan kebenaran, bukan hanya ketika keadaan sedang baik, tetapi juga ketika sedang mengalami kesulitan.
- Allah berkuasa atas alam semesta – Tujuan akhir kehidupan setiap orang percaya adalah mengakui kedaulatan TUHAN yang berkuasa atas alam semesta. Zakharia 14:9 menyatakan, bahwa TUHAN akan menjadi Raja yang berkuasa atas seluruh bumi. Jadi sejak saat ini, setiap keputusan, pekerjaan, pelayanan, dan rencana hidup seharusnya tunduk kepada kuasa pemerintahan Allah. Kekristenan bukan hanya menantikan Kerajaan Allah pada masa depan, tetapi juga hidup di bawah pemerintahan-Nya pada masa kini.
- Allah memberikan rasa aman sejati – TUHAN Allah menghendaki umat-Nya hidup dengan rasa aman di dalam Dia. Zakharia 14:11 menyatakan bahwa Yerusalem akan didiami dengan tenteram dan tidak akan lagi mengalami penghukuman. Sesungguhnya, damai sejati bukan berasal dari segala yang ada di dunia, melainkan berasal dari kepastian bahwa hidup berada di dalam tangan TUHAN. Damai itu tetap dapat dinikmati bahkan ketika dunia sedang dipenuhi ketidakpastian seperti saat ini.
Jika seluruh bagian ini dirangkum, maka pesan utama firman Allah bagi kita, adalah bahwa orang percaya dipanggil untuk hidup dengan pengharapan yang teguh karena TUHAN berkuasa untuk bertindak, membuka jalan, memberi kehidupan, memerintah dengan adil, dan pada akhirnya membawa umat-Nya kepada damai yang kekal.
Jika di antara kita mungkin ada yang memasuki masa pensiun, maka bagian ini juga memberikan penghiburan yang kuat. Masa depan tidak ditentukan oleh perubahan usia, pekerjaan, atau keadaan ekonomi, melainkan oleh TUHAN yang memegang sejarah. Jika TUHAN sanggup membelah gunung, mengalirkan air kehidupan, dan memerintah seluruh bumi, maka Ia juga sanggup memimpin setiap langkah kehidupan umat-Nya sampai tujuan akhir, yaitu hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya.
Demikianlah firman Tuhan, kiranya kita memperoleh kekuatan dari-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban;
Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.
Mazmur 77:14
Amin.
