
Zakharia 2 tentang “Persekutuan Allah dengan umat-Nya” seri Nabi Kecil
By Febrian 31 Mei 2026 04.10 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas mengenai kehendak Allah untuk mengadakan persekutuan dengan umat-Nya, dalam bentuk meniadakan pagar pembatas di bumi. Kiranya TUHAN memberikan kita hikmat, pengetahuan-Nya supaya kita dapat dengan mudah memahami firman-Nya tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Persekutuan Allah dengan manusia
Zakharia 2 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat
Di dalam pasal di atas, digambarkan penglihatan ketiga Nabi Zakharia yang diberikan pada masa pembangunan kembali Bait Suci setelah pembuangan Babel.
Jika penglihatan kedua (empat tanduk dan empat tukang) menegaskan bahwa musuh-musuh umat Allah akan dihancurkan, maka penglihatan ketiga ini berbicara tentang masa depan Yerusalem yang penuh kemuliaan, karena kehadiran TUHAN sendiri di tengah umat-Nya.
Mari kita pelajari ayat demi ayat dengan lebih detail:
1. Yerusalem diukur
Zakharia 2:1-2
Penglihatan ketiga: seorang yang memegang tali ukuranAku melayangkan mataku dan melihat: tampak seorang yang memegang tali pengukur. Lalu aku bertanya: “Ke manakah engkau ini pergi?” Maka ia menjawab aku: “Ke Yerusalem, untuk mengukurnya, untuk melihat berapa lebarnya dan panjangnya.”
Ketika Nabi Zakharia menerima penglihatan ini, keadaan Yerusalem masih sangat memprihatinkan. Kota itu pernah dihancurkan oleh pasukan Babel di bawah pemerintahan Nebukadnezar II pada tahun 586 SM. Tembok-temboknya runtuh, Bait Suci dibakar, dan sebagian besar penduduknya dibuang ke Babel. Sekitar tujuh puluh tahun kemudian, sebagian orang Yahudi mulai kembali ke tanah mereka, tetapi Yerusalem masih jauh dari keadaan kota yang makmur. Jumlah penduduk sedikit, pembangunan berjalan lambat, dan ancaman dari bangsa-bangsa sekitar masih terus ada.
Di tengah kondisi seperti itulah Zakharia melihat seorang yang memegang tali pengukur. Bagi orang-orang Yahudi yang baru kembali dari pembuangan, pemandangan ini sangat berarti. Dalam dunia kuno, mengukur suatu kota bukan sekadar menghitung panjang dan lebar wilayah. Pengukuran biasanya dilakukan sebelum pembangunan besar dimulai. Tindakan itu menunjukkan adanya rencana, kepemilikan, dan masa depan. Dengan kata lain, Allah sedang menyatakan bahwa Yerusalem belum selesai. Kota yang tampak kecil dan lemah itu masih berada dalam rancangan-Nya.
Dalam Alkitab, tindakan mengukur sering kali memiliki makna rohani yang lebih dalam daripada sekadar pekerjaan teknik. Ketika Nabi Yehezkiel menerima penglihatan tentang Bait Suci masa depan dalam pasal 40-48, seorang malaikat juga melakukan pengukuran secara rinci. Dalam kitab Wahyu pasal 11, Rasul Yohanes diperintahkan mengukur Bait Allah. Dalam banyak kasus, pengukuran melambangkan bahwa Allah mengenal, menetapkan, melindungi, dan memiliki apa yang diukur. Tidak ada bagian yang berada di luar perhatian-Nya.
Namun yang menarik dalam penglihatan ini adalah bahwa pengukuran itu pada akhirnya tidak menjadi fokus utama. Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa Yerusalem masa depan tidak dapat dibatasi oleh ukuran manusia. Pada saat itu orang mungkin bertanya, “Berapa besar kota yang akan dibangun?” Tetapi Allah memberikan jawaban yang jauh lebih besar daripada pertanyaan mereka. Yerusalem akan berkembang melampaui perkiraan manusia karena Allah sendiri yang akan menggenapi rencana-Nya.
Dr. Joyce G. Baldwin dalam “Haggai, Zechariah, Malachi: An Introduction and Commentary” (Inter-Varsity Press, 1972) menjelaskan, bahwa pengukuran ini menyampaikan pesan pengharapan kepada generasi pascapembuangan. Mereka melihat reruntuhan, tetapi Allah melihat sebuah kota yang dipulihkan. Mereka melihat kelemahan, tetapi Allah melihat masa depan yang penuh kemuliaan.
Dr. Charles Lee Feinberg dalam “God Remembers: A Study of Zechariah” (Multnomah Press, 1965) menekankan bahwa penglihatan ini menunjukkan kepastian rencana Allah. Menurutnya, tali pengukur menjadi simbol bahwa pemulihan Yerusalem bukan sekadar harapan manusia, melainkan proyek yang sudah ditetapkan oleh Allah sendiri. Apa yang Allah ukur, Allah juga akan bangun.
Jika dilihat dari sejarah yang lebih luas, penglihatan ini sangat luar biasa. Pada zaman Zakharia, Yerusalem hanyalah kota kecil yang baru mulai bangkit dari kehancuran. Namun beberapa abad kemudian kota itu kembali menjadi pusat kehidupan bangsa Yahudi. Lebih jauh lagi, dari kota inilah pelayanan Tuhan Yesus berlangsung, penyaliban dan kebangkitan terjadi, dan Injil kemudian diberitakan ke seluruh dunia. Dari sudut pandang sejarah penebusan, Yerusalem yang sedang diukur itu ternyata menjadi bagian dari rencana Allah yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami oleh generasi Zakharia.
Banyak penafsir juga melihat bahwa penglihatan ini tidak hanya berbicara tentang kota Yerusalem secara harfiah. Dalam terang Perjanjian Baru, Yerusalem sering menjadi gambaran umat Allah yang diperluas kepada segala bangsa. Karena itu beberapa teolog melihat bahwa pengukuran tersebut pada akhirnya menunjuk kepada pembangunan umat Allah secara rohani. Allah bukan hanya membangun sebuah kota, tetapi sedang membangun sebuah umat yang menjadi tempat kediaman-Nya.
Pesan yang paling kuat dari ayat ini adalah bahwa Allah bekerja berdasarkan rencana yang sudah Ia tetapkan, bahkan ketika manusia hanya melihat kehancuran. Orang-orang Yahudi melihat tembok yang runtuh dan jumlah penduduk yang sedikit. Allah melihat sebuah masa depan yang penuh harapan. Sebelum pemulihan terjadi, Allah terlebih dahulu menunjukkan bahwa Ia sudah memiliki ukuran, rancangan, dan tujuan yang jelas. Tidak ada bagian dari rencana-Nya yang dibiarkan berjalan secara kebetulan. Semua berada di bawah kendali-Nya.
Karena itu, tali pengukur dalam tangan orang yang dilihat Zakharia bukanlah alat konstruksi biasa. Itu adalah lambang bahwa Allah sedang merancang masa depan umat-Nya. Sebelum pembangunan terlihat oleh mata manusia, pembangunan itu sudah lebih dahulu ada dalam pikiran dan kehendak Allah.
2. Persekutuan Allah dengan manusia
Zakharia 2:3-5
Dan sementara malaikat yang berbicara dengan aku itu maju ke depan, majulah seorang malaikat lain mendekatinya, yang diberi perintah:
“Berlarilah, katakanlah kepada orang muda yang di sana itu, demikian:
Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya. Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.“
Ketika Nabi Zakharia menerima penglihatan ini, bangsa Yehuda baru saja kembali dari pembuangan Babel. Yerusalem masih dalam keadaan yang jauh dari kejayaannya pada zaman Raja Daud dan Raja Salomo. Tembok kota belum dibangun kembali, jumlah penduduk masih sedikit, dan kondisi ekonomi sangat lemah. Dari sudut pandang manusia, kota itu tampak rapuh dan mudah diserang oleh musuh. Karena itu, ketika seorang datang untuk mengukur Yerusalem, hal itu tampak masuk akal. Sebuah kota yang akan dibangun tentu harus diukur terlebih dahulu.
Namun tiba-tiba seorang malaikat lain datang membawa pesan yang mengejutkan. Yerusalem yang akan datang tidak akan dapat dibatasi oleh ukuran biasa. Kota itu akan dipenuhi manusia dan ternak dalam jumlah yang sangat besar sehingga tidak lagi dapat ditampung oleh batas-batas tembok tradisional. Ini merupakan janji pemulihan yang sangat besar bagi bangsa yang saat itu masih kecil dan lemah. Allah sedang mengatakan bahwa masa depan mereka jauh lebih besar daripada kondisi yang sedang mereka alami.
Dalam sejarah dunia kuno, tembok kota merupakan simbol keamanan yang sangat penting. Hampir semua kota besar memiliki benteng yang kuat. Kota-kota seperti Babel, Niniwe, Tirus, dan Yerikho terkenal karena sistem pertahanannya. Semakin tebal dan tinggi tembok suatu kota, semakin besar rasa aman penduduknya. Karena itu, ketika Allah berkata bahwa Yerusalem akan tinggal seperti padang terbuka tanpa dibatasi tembok biasa, pernyataan tersebut terdengar sangat tidak masuk akal bagi pendengar pertama. Sebuah kota tanpa tembok berarti kota yang rentan terhadap serangan.
Di sinilah letak inti dari penglihatan tersebut. Allah sedang mengajarkan bahwa keamanan sejati umat-Nya tidak berasal dari kekuatan manusia. Mereka tidak boleh menaruh pengharapan utama pada batu, benteng, tentara, atau strategi politik. TUHAN sendiri berfirman bahwa Dia akan menjadi tembok berapi di sekeliling Yerusalem. Gambaran “tembok berapi” mengingatkan pembaca Alkitab kepada perjalanan bangsa Israel di padang gurun ketika Allah hadir dalam tiang api pada malam hari untuk melindungi dan memimpin umat-Nya. Api juga sering melambangkan kekudusan, kuasa, dan kehadiran Allah yang tidak dapat ditembus oleh musuh.
Dr. Joyce G. Baldwin dalam “Haggai, Zechariah, Malachi: An Introduction and Commentary” (Inter-Varsity Press, 1972) menjelaskan bahwa penglihatan ini mengarahkan perhatian umat dari keamanan fisik kepada keamanan yang berasal dari kehadiran Allah. Fokusnya bukan lagi pada tembok yang terlihat, melainkan pada Allah yang tidak terlihat tetapi hadir secara nyata di tengah umat-Nya.
Dr. Ralph L. Smith dalam “Micah-Malachi” (Word Biblical Commentary, Word Books, 1984) menjelaskan bahwa janji ini merupakan koreksi terhadap kecenderungan manusia yang selalu mencari rasa aman melalui kekuatan lahiriah. Menurut beliau, Allah sedang mengajar bangsa Yehuda bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh ukuran kota atau kekuatan militer, tetapi oleh hubungan perjanjian mereka dengan TUHAN.
Lebih jauh lagi, Allah tidak hanya berjanji menjadi tembok berapi di luar kota. Ia juga berfirman, “Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.” Ini adalah bagian yang sangat penting. Perlindungan Allah berada di luar, tetapi kemuliaan Allah berada di dalam. Dengan kata lain, Allah bukan hanya menjaga umat-Nya dari ancaman luar, tetapi juga hadir di tengah-tengah mereka. Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Allah pernah memenuhi Kemah Suci dan kemudian memenuhi Bait Suci pada zaman Raja Salomo. Kehadiran kemuliaan Allah merupakan tanda bahwa Allah berdiam bersama umat-Nya.
Dr. Meredith G. Kline dalam “Glory in Our Midst: A Biblical-Theological Reading of Zechariah’s Night Visions” (Wipf and Stock Publishers, 2001) menjelaskan bahwa penglihatan ini mengarah kepada kerajaan Mesias yang akan datang. Yerusalem yang dipenuhi penduduk dari berbagai bangsa dan dijaga langsung oleh Allah menjadi gambaran umat Allah yang diperluas melalui kedatangan Tuhan Yesus Kristus.
Hal ini terlihat jelas dalam Perjanjian Baru. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Allah benar-benar hadir di tengah manusia. Kemudian melalui Roh Kudus, Allah berdiam dalam kehidupan umat percaya. Gambaran ini mencapai puncaknya dalam kitab Wahyu ketika Yerusalem Baru digambarkan sebagai kota yang tidak memerlukan bait suci khusus karena Allah sendiri hadir di tengah umat-Nya. Dengan demikian, janji tentang “kemuliaan di dalamnya” memiliki penggenapan yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan kembali kota Yerusalem pada zaman Zakharia.
Jika diperhatikan secara keseluruhan, penglihatan ini menyampaikan sebuah prinsip rohani yang sangat penting. Manusia cenderung mengukur keamanan berdasarkan apa yang dapat dilihat: uang, kekuasaan, jabatan, jaringan politik, atau kekuatan fisik. Namun Allah menunjukkan bahwa perlindungan terbesar justru berasal dari kehadiran-Nya sendiri. Yerusalem tidak akan menjadi besar karena temboknya tinggi. Yerusalem menjadi besar karena Allah tinggal di sana.
Bagi para pendengar Nabi Zakharia yang hidup di tengah reruntuhan pascapembuangan, pesan ini memberikan pengharapan yang luar biasa. Mereka mungkin melihat kota yang kecil dan lemah, tetapi Allah melihat sebuah kota yang penuh kehidupan, dipenuhi umat, dijaga oleh kuasa-Nya, dan dipenuhi kemuliaan-Nya. Apa yang tampak mustahil di mata manusia sudah berada dalam rencana Allah. Karena itu fokus penglihatan ini bukanlah ukuran Yerusalem, melainkan kebesaran Allah yang akan tinggal di tengah umat-Nya dan menjadikan mereka aman, makmur, dan penuh kemuliaan.
3. Panggilan Allah untuk kembali kepada-Nya
Zakharia 2:6-7
Orang-orang buangan dipanggil pulang
Ayo, ayo, larilah dari Tanah Utara, demikianlah firman TUHAN; sebab ke arah keempat mata angin Aku telah menyerakkan kamu, demikianlah firman TUHAN.
Ayo, luputkanlah dirimu ke Sion, hai, penduduk Babel!
Ketika Nabi Zakharia menyampaikan nubuat ini, sebagian orang Yahudi memang telah kembali ke Yehuda setelah keluarnya dekrit Raja Koresh Agung pada tahun 538 SM yang mengizinkan bangsa-bangsa buangan pulang ke tanah asal mereka. Namun kenyataannya, jumlah yang kembali hanya sebagian kecil dari seluruh komunitas Yahudi yang tinggal di wilayah Kekaisaran Persia. Banyak orang Yahudi memilih tetap tinggal di Babel dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka telah membangun rumah, mengembangkan usaha, memiliki tanah, dan menjalani kehidupan yang relatif stabil di negeri pembuangan.
Dari sudut pandang manusia, keputusan mereka cukup masuk akal. Kembali ke Yehuda berarti menghadapi banyak kesulitan. Kota Yerusalem masih berupa reruntuhan, ekonomi sangat lemah, ancaman musuh masih ada, dan kehidupan di sana jauh lebih berat dibandingkan kehidupan yang telah mereka bangun selama puluhan tahun di Babel. Karena itu, ketika TUHAN berseru, “Ayo, ayo, larilah dari Tanah Utara,” panggilan tersebut bukan sekadar ajakan pindah tempat tinggal. Allah sedang memanggil umat-Nya untuk meninggalkan zona nyaman mereka dan kembali kepada persekutuan Allah dengan umat-Nya.
Menariknya, Babel disebut sebagai “Tanah Utara”, meskipun secara geografis Babel berada di sebelah timur Yerusalem. Dalam bahasa nubuat Perjanjian Lama, musuh-musuh yang menyerang Israel hampir selalu datang melalui jalur utara karena kondisi geografis wilayah tersebut. Oleh sebab itu, “Tanah Utara” menjadi istilah simbolis yang mengingatkan bangsa Israel pada tempat pembuangan, penindasan, dan keterasingan dari tanah perjanjian.
Secara historis, pembuangan Babel merupakan salah satu peristiwa paling traumatis dalam sejarah Israel. Pada tahun 586 SM, Yerusalem dihancurkan, Bait Suci dibakar, dan banyak penduduk dibawa ke Babel. Namun selama hampir tujuh puluh tahun hidup di negeri asing, sebagian orang Yahudi mulai beradaptasi. Anak-anak lahir di Babel, keluarga berkembang di Babel, dan kehidupan baru terbentuk di sana. Akibatnya, bagi sebagian orang, Babel yang awalnya merupakan tempat hukuman perlahan berubah menjadi tempat kenyamanan.
Di sinilah pesan nubuat Zakharia menjadi sangat dalam. Allah memahami bahwa bahaya terbesar bagi umat-Nya bukan hanya penderitaan, tetapi juga kenyamanan yang membuat mereka melupakan panggilan-Nya. Selama masa pembuangan, orang-orang Yahudi sering merindukan Yerusalem. Namun setelah kehidupan mereka menjadi mapan di Babel, sebagian kehilangan kerinduan tersebut. Karena itu Allah memanggil mereka untuk keluar.
Dr. Joyce G. Baldwin dalam “Haggai, Zechariah, Malachi: An Introduction and Commentary” (Inter-Varsity Press, 1972) menjelaskan bahwa panggilan ini merupakan undangan untuk mengambil bagian dalam karya pemulihan yang sedang Allah kerjakan. Mereka yang tetap tinggal di Babel berisiko kehilangan berkat yang berhubungan dengan pemulihan Yerusalem dan pembangunan kembali kehidupan perjanjian dengan Allah.
Dr. Carol L. Meyers dan Dr. Eric M. Meyers dalam “Zechariah 1–8” (Anchor Bible, Doubleday, 1987) mencatat bahwa seruan “Ayo, ayo” dalam bahasa Ibrani memiliki nada mendesak. Ini bukan sekadar saran, melainkan panggilan yang membutuhkan respons segera. Allah tidak ingin umat-Nya menunda-nunda keputusan untuk kembali kepada-Nya.
Lebih jauh lagi, banyak teolog melihat bahwa Babel dalam Alkitab sering menjadi simbol dunia yang menentang Allah. Sejak peristiwa Menara Babel dalam Kitab Kejadian hingga gambaran Babel dalam Kitab Wahyu, kota ini melambangkan sistem manusia yang membangun kehidupan tanpa ketergantungan kepada Allah. Karena itu, ketika Allah memanggil umat-Nya keluar dari Babel, maknanya bukan hanya geografis tetapi juga rohani.
Dr. Charles Lee Feinberg dalam “God Remembers: A Study of Zechariah” (Multnomah Press, 1965) menjelaskan bahwa seruan ini menggambarkan prinsip yang terus berlaku dalam kehidupan umat Allah. Allah selalu memanggil umat-Nya untuk memisahkan diri dari nilai-nilai dunia yang menjauhkan mereka dari kehendak-Nya dan kembali hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya.
Dalam terang Perjanjian Baru, panggilan ini memiliki makna yang semakin luas. Allah tidak sekadar memanggil manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi memanggil mereka keluar dari kehidupan lama menuju kehidupan baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Sebagaimana orang-orang Yahudi harus meninggalkan kenyamanan Babel untuk masuk ke dalam rencana Allah, demikian juga setiap orang percaya dipanggil meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi ketaatan kepada Tuhan.
Yang menarik adalah bukannya Allah berfirman, “Tinggallah di sana dan nikmatilah hidupmu.” melainkan sebaliknya, Allah berkata, “Larilah.” Pernyataan Allah tersebut menggambarkan suatu urgensi, di mana Babel yang tampak aman menurut pandangan mereka, sebenarnya bukan tujuan akhir menurut Allah. Tempat yang nyaman belum tentu merupakan tempat yang sesuai dengan kehendak Allah. Kadang-kadang manusia dapat begitu menikmati kenyamanan sementara, hingga akhirnya melupakan panggilan yang lebih besar yang telah Allah sediakan.
Jadi makna terdalam dari ayat ini adalah bahwa Allah tidak pernah berhenti memanggil umat-Nya untuk mengadakan persekutuan illahi dengan diri-Nya. Panggilan tersebut bukan sekadar keluar dari suatu wilayah geografis, tetapi keluar dari keterikatan yang membuat hati menjauh dari Tuhan. Allah sedang mengumpulkan kembali umat-Nya untuk mengambil bagian dalam rencana pemulihan-Nya. Karena itu, seruan “Ayo, ayo, larilah dari Tanah Utara” pada dasarnya adalah panggilan kasih dari Allah yang menghendaki agar umat-Nya tidak menetap dalam tempat yang bukan merupakan tujuan akhir yang telah Ia tetapkan bagi mereka.
4. Umat Allah bagaikan biji mata-Nya
Zakharia 2:8-9
Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya–:
“Sesungguhnya Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka.
Maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku.
Ayat-ayat di atas, merupakan salah satu pernyataan kasih dan perlindungan Allah yang paling kuat dalam seluruh Kitab Zakharia. Setelah memanggil umat-Nya keluar dari Babel, Allah memberikan jaminan bahwa Ia tidak melupakan segala penderitaan yang telah mereka alami selama masa pembuangan. Bangsa-bangsa yang menjarah, menindas, dan mempermalukan Israel mungkin mengira bahwa mereka bertindak tanpa konsekuensi, tetapi Allah menyatakan bahwa setiap tindakan terhadap umat-Nya berada dalam pengamatan-Nya.
Ungkapan “biji mata-Nya” memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam bahasa Ibrani, istilah yang digunakan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “bola mata” atau “anak mata.” Ini adalah bagian mata yang paling sensitif dan paling dijaga oleh tubuh manusia. Secara naluriah, ketika ada sesuatu yang mendekati mata, kelopak mata akan segera menutup untuk melindunginya. Gambaran ini dipakai Allah untuk menunjukkan betapa berharganya umat-Nya di hadapan-Nya. Allah tidak mengatakan bahwa umat-Nya hanyalah milik-Nya, tetapi Ia menggambarkan mereka sebagai sesuatu yang sangat dekat, sangat berharga, dan sangat dilindungi.
Ungkapan serupa juga muncul dalam Ulangan 32:10 ketika Allah menggambarkan pemeliharaan-Nya atas Israel di padang gurun. Pemazmur juga memakai bahasa yang sama dalam Mazmur 17:8 ketika berdoa, “Peliharalah aku seperti biji mata.” Ini menunjukkan bahwa konsep tersebut sudah lama menjadi bagian dari pemahaman Israel mengenai kasih Allah yang istimewa terhadap umat perjanjian-Nya.
Jika dilihat dari sejarah Alkitab, pernyataan ini diberikan kepada bangsa yang baru saja mengalami salah satu masa paling gelap dalam sejarah mereka. Yerusalem telah dihancurkan, Bait Suci dibakar, dan ribuan orang dibawa ke pembuangan. Dari sudut pandang manusia, keadaan itu dapat menimbulkan pertanyaan: Apakah Allah masih peduli kepada umat-Nya? Apakah Allah telah meninggalkan mereka? Melalui nubuat ini, Allah memberikan jawaban yang tegas. Sekalipun Ia mengizinkan disiplin terjadi karena dosa mereka, kasih-Nya kepada umat perjanjian tidak pernah berakhir.
Di sini terdapat perbedaan penting antara penghukuman Allah dan penindasan bangsa-bangsa. Allah memang memakai Babel sebagai alat untuk menghukum Yehuda karena ketidaktaatan mereka. Namun bangsa-bangsa itu melampaui batas dan bertindak dengan kesombongan, kekejaman, serta kebencian. Karena itulah Allah kemudian berbalik menghakimi mereka. Mereka mengira sedang menyerang bangsa yang lemah, padahal sebenarnya mereka sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga bagi Allah.
Dr. Ralph L. Smith dalam “Micah-Malachi” (Word Biblical Commentary, Word Books, 1984) menjelaskan bahwa istilah “biji mata” menegaskan hubungan perjanjian yang sangat dekat antara Allah dan umat-Nya. Kasih Allah terhadap umat-Nya bukanlah kasih yang jauh ataupun tidak bersifat pribadi, melainkan justru penuh kasih yang hidup dan penuh dengan persekutuan dengan Allah. Apa yang dialami umat-Nya diperhatikan oleh Allah secara pribadi.
Dr. Joyce G. Baldwin dalam “Haggai, Zechariah, Malachi: An Introduction and Commentary” (Inter-Varsity Press, 1972) menafsirkan bagian ini sebagai jaminan bahwa Allah tidak bersikap netral terhadap perlakuan bangsa-bangsa terhadap umat-Nya. Ia adalah Hakim yang akan bertindak pada waktu-Nya sendiri untuk membela mereka yang menjadi milik-Nya di dalam persekutuan yang kekal.
Janji pada ayat 9 semakin memperkuat hal tersebut. Allah berkata bahwa Ia akan menggerakkan tangan-Nya terhadap bangsa-bangsa yang menjarah Israel. Dalam Alkitab, “tangan Allah” sering melambangkan kuasa-Nya yang aktif dalam sejarah. Artinya, Allah tidak hanya mengetahui penderitaan umat-Nya, tetapi Ia juga akan bertindak. Bangsa-bangsa yang dahulu berkuasa akan mengalami pembalikan keadaan. Mereka yang pernah menjadi penindas akan kehilangan kekuasaan mereka.
Jika dilihat dari sejarah dunia, nubuat ini memang menemukan penggenapannya. Kekaisaran Babel yang tampak tidak terkalahkan akhirnya jatuh ke tangan Persia. Kemudian Persia digantikan oleh Yunani, dan Yunani digantikan oleh Romawi. Kerajaan-kerajaan besar yang pernah membanggakan kekuatan mereka satu per satu berlalu dari panggung sejarah. Sebaliknya, bangsa Israel yang tampak kecil dan lemah tetap bertahan sebagai bagian dari rencana penebusan Allah. Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan manusia bersifat sementara, sedangkan rencana Allah tetap berlangsung.
Banyak penafsir juga melihat bahwa prinsip ini meluas kepada umat Allah dalam segala zaman. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menunjukkan hubungan yang sangat erat antara diri-Nya dan umat-Nya. Ketika Saulus menganiaya orang-orang percaya, Tuhan Yesus menegurnya dengan berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Tuhan Yesus tidak berkata, “Mengapa engkau menganiaya pengikut-Ku?” tetapi “menganiaya Aku.” Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan mengidentifikasikan diri-Nya dengan umat-Nya secara sangat pribadi.
Makna terdalam dari ayat ini adalah bahwa Allah tidak pernah bersikap acuh terhadap penderitaan umat-Nya. Kadang-kadang manusia merasa bahwa ketidakadilan berlangsung terlalu lama dan para penindas tampak tidak tersentuh. Namun Zakharia mengingatkan bahwa Allah melihat semuanya. Tidak ada air mata yang luput dari perhatian-Nya dan tidak ada tindakan kejahatan yang akan terlewat dari penghakiman-Nya. Mereka yang menjadi milik Allah berada di bawah perlindungan-Nya yang khusus.
Karena itu, ungkapan “biji mata-Nya” bukan sekadar kiasan yang indah. Ungkapan itu merupakan deklarasi kasih perjanjian Allah yang sangat mendalam. Allah mengasihi umat-Nya sedemikian rupa sehingga penderitaan mereka menyentuh hati-Nya, dan serangan terhadap mereka dianggap sebagai serangan terhadap sesuatu yang paling berharga di hadapan-Nya. Ini menjadi sumber penghiburan besar bagi umat Allah di setiap zaman bahwa mereka tidak pernah berjalan sendirian, sebab Allah sendiri memperhatikan, membela, dan memelihara mereka.
5. Umat Allah bagaikan biji mata-Nya
Zakharia 2:10-12
Bersorak-sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab sesungguhnya Aku datang dan diam di tengah-tengahmu, demikianlah firman TUHAN; 2:11 dan banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN pada waktu itu dan akan menjadi umat-Ku dan Aku akan diam di tengah-tengahmu.“
Maka engkau akan mengetahui, bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu. 2:12 Dan TUHAN akan mengambil Yehuda sebagai milik-Nya di tanah yang kudus, dan Ia akan memilih Yerusalem pula.
Bagian ayat 10-12 merupakan salah satu nubuat Mesianik yang sangat penting. TUHAN berjanji: “Aku datang dan diam di tengah-tengahmu.” Pernyataan ini melampaui situasi pascapembuangan.
Dalam sejarah Israel, kehadiran Allah dinyatakan melalui Kemah Suci dan Bait Suci. Namun nubuat ini mencapai penggenapan yang lebih besar ketika Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia. Rasul Yohanes menulis dalam Injil Yohanes 1:14 bahwa Firman itu “menjadi manusia dan diam di antara kita.” Kata “diam” di sini secara harfiah berarti “berkemah” atau “bertabernakel.” Dengan demikian, maka kehadiran Allah yang dijanjikan dalam Zakharia menemukan penggenapan utamanya dalam inkarnasi Tuhan Yesus.
Lebih jauh lagi, di dalam ayat 11 dikatakan, bahwa “banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN.” ini adalah nubuat tentang masuknya bangsa-bangsa bukan Yahudi ke dalam umat Allah. Penggenapannya terlihat dalam pelayanan Injil setelah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, ketika keselamatan diberitakan kepada segala bangsa.
Dr. Meredith G. Kline dalam *Glory in Our Midst: A Biblical-Theological Reading of Zechariah’s Night Visions* (Wipf and Stock Publishers, 2001) menafsirkan bagian ini sebagai gambaran perluasan kerajaan Mesias yang melampaui batas etnis Israel dan mencakup bangsa-bangsa di seluruh dunia.
6. Umat Allah bagaikan biji mata-Nya
Zakharia 2:13
Berdiam dirilah, hai segala makhluk, di hadapan TUHAN, sebab Ia telah bangkit dari tempat kediaman-Nya yang kudus.
Ayat terakhir, ayat 13, menjadi penutup yang sangat agung, di mana setelah semua janji kemuliaan, perlindungan, dan keselamatan disampaikan, tanggapan yang tepat dari umat Allah, adalah diam dalam kekaguman dan hormat di hadapan Allah yang sedang bertindak.
Umat Israel wajib menyadari bahwa TUHAN telah bangkit untuk menggenapi rencana-Nya. Secara keseluruhan, penglihatan Nabi Zakharia yang ke tiga ini mengajarkan, bahwa masa depan umat Allah tidak ditentukan oleh kekuatan manusia, tembok pertahanan, atau kondisi politik. Keamanan dan kemuliaan sejati berasal dari kehadiran TUHAN sendiri. Nubuat ini menunjuk kepada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang tinggal di tengah umat-Nya, mengumpulkan bangsa-bangsa kepada Allah, dan membangun umat Allah yang baru sebagai bait rohani tempat Allah berdiam untuk selama-lamanya.
Perintah untuk “berdiam diri” bukan berarti sekadar tidak berbicara. Dalam bahasa Ibrani, ungkapan ini mengandung makna berhenti dari segala keberatan, ketakutan, keraguan, dan kesombongan di hadapan Allah yang sedang bertindak. Ini adalah panggilan agar manusia menyadari keterbatasannya ketika berhadapan dengan Allah yang Mahakuasa. Selama ini bangsa-bangsa mungkin merasa kuat, para penguasa mungkin merasa dapat menentukan arah sejarah, dan umat Allah mungkin merasa masa depan mereka suram. Namun ketika Allah bangkit untuk melaksanakan kehendak-Nya, semua suara manusia menjadi tidak berarti dibandingkan kuasa-Nya.
Dalam sejarah Alkitab, seruan seperti ini muncul pada saat-saat penting ketika Allah menyatakan diri-Nya sebagai Hakim dan Raja atas seluruh bumi. Nabi Habakuk menulis, “Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” (Habakuk 2:20). Demikian pula ketika Allah hendak bertindak, manusia dipanggil untuk menghentikan segala kesibukan dan memperhatikan pekerjaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa berdiam diri di hadapan Allah bukanlah sikap pasif, melainkan sikap iman yang mengakui bahwa Allah memegang kendali atas sejarah.
Jika dilihat dari konteks sejarah nabi Zakharia, pesan ini sangat menghibur, mengingat Bangsa Yehuda yang baru kembali dari pembuangan hidup dalam keadaan yang penuh ketidakpastian. Mereka tidak memiliki tentara besar, tidak memiliki kerajaan yang kuat, dan masih berada di bawah kekuasaan Persia. Dari sudut pandang politik, mereka hanyalah kelompok kecil yang lemah. Namun, pada saat itu Allah mengingatkan, bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh kekuatan politik dunia, melainkan oleh tindakan Allah sendiri. Karena itu mereka tidak perlu panik terhadap keadaan yang mereka hadapi. Mereka dipanggil untuk percaya bahwa Allah sedang bekerja.
Dr. Joyce G. Baldwin dalam “Haggai, Zechariah, Malachi: An Introduction and Commentary” (Inter-Varsity Press, 1972) menjelaskan bahwa ayat ini merupakan puncak dari seluruh penglihatan. Setelah Allah menyatakan rencana-Nya, tidak ada lagi ruang bagi keraguan. Seluruh bumi dipanggil untuk mengakui kedaulatan-Nya dan menantikan penggenapan firman-Nya.
Dr. Mark J. Boda dalam “The Book of Zechariah” (New International Commentary on the Old Testament, William B. Eerdmans Publishing Company, 2016) menafsirkan ayat ini sebagai sebuah deklarasi bahwa Allah sedang bergerak memasuki panggung sejarah untuk menggenapi tujuan penebusan-Nya. Karena itu bangsa-bangsa dan umat-Nya sendiri harus berhenti memandang kepada kekuatan manusia dan mulai memandang kepada tindakan Allah.
Kata-kata “Ia telah bangkit dari tempat kediaman-Nya yang kudus” juga sangat penting. Tentu saja Allah tidak pernah benar-benar tidur atau tidak aktif. Namun bahasa ini menggambarkan Allah yang kini bertindak secara nyata dalam sejarah. Bagi manusia, kadang-kadang Allah tampak diam ketika ketidakadilan terjadi. Tetapi Alkitab berulang kali mengajarkan bahwa ada saatnya Allah bangkit untuk menyatakan kuasa, keadilan, dan keselamatan-Nya. Ketika saat itu tiba, tidak ada kekuatan manusia yang dapat menghalangi-Nya.
Banyak teolog melihat bahwa ayat ini juga mengandung dimensi mesianik. Seluruh rangkaian penglihatan ketiga berbicara tentang Allah yang datang dan diam di tengah umat-Nya, tentang bangsa-bangsa yang akan bergabung kepada TUHAN, dan tentang Yerusalem yang dipenuhi kemuliaan Allah. Semua tema ini menemukan penggenapan yang lebih besar dalam kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Melalui inkarnasi, Allah benar-benar datang dan tinggal di tengah manusia. Melalui karya salib dan kebangkitan-Nya, bangsa-bangsa dibukakan jalan untuk menjadi umat Allah. Dan melalui Roh Kudus, Allah membangun umat-Nya menjadi bait rohani tempat Ia berdiam.
Dr. Meredith G. Kline dalam “Glory in Our Midst: A Biblical-Theological Reading of Zechariah’s Night Visions” (Wipf and Stock Publishers, 2001) menjelaskan bahwa penutup ini mengarahkan pandangan pembaca kepada kemenangan akhir kerajaan Allah. Apa yang pada zaman Zakharia masih berupa janji, pada akhirnya akan mencapai kepenuhannya ketika Allah memerintah sepenuhnya atas ciptaan-Nya.
Jika seluruh penglihatan ketiga dirangkum, maka pesan utamanya sangat jelas. Yerusalem tidak akan dipulihkan karena kecerdasan manusia. Umat Allah tidak akan aman karena kekuatan militer. Bangsa-bangsa tidak akan datang karena daya tarik politik Yerusalem. Semua itu terjadi karena Allah sendiri hadir di tengah umat-Nya. Kehadiran Allah adalah sumber perlindungan, kemuliaan, pertumbuhan, dan pengharapan mereka.
Karena itu, ayat terakhir ini mengajak setiap pembaca untuk memandang melampaui keadaan yang terlihat. Ketika Allah telah berbicara dan berjanji, sikap yang benar bukanlah ketakutan atau keraguan, melainkan tunduk dengan hormat di hadapan-Nya. Dunia terus berubah, kerajaan-kerajaan manusia terus datang dan pergi, tetapi rencana Allah tetap berlangsung. Ia sedang mengumpulkan umat-Nya, menggenapi janji-Nya, dan membangun kerajaan-Nya melalui Tuhan Yesus Kristus. Di hadapan Allah yang demikian besar, respons yang paling tepat adalah berdiam diri dalam penyembahan, iman, dan pengharapan.
Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus.
1 Yohanes 1:3
Amin.
