
Zakharia 13 Part 1 tentang “Allah menguduskan umat-Nya – 4 Amazing God’s Refinement of Judah” Seri Nabi Kecil
By Febrian 24 Juni 2026 03:45 AM
Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam khotbah sebelumnya kita membahas mengenai Ratapan Pertobatan, sedangkan kali ini kita akan membahas mengenai Allah menguduskan umat-Nya. Semoga Allah juga menguduskan hati kita, serta memberi kita hikmat dan pengetahuan-Nya untuk dapat memahami firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus memberkati.
Allah menguduskan umat-Nya
Zakharia 13 <– Klik di sini untuk membaca ayat
Dari ayat bacaan kita hari ini, ada beberapa hal yang dapat menjadi pelajaran buat kita:
1. Allah menguduskan umat-Nya dengan membuka sumber mata air kehidupan
Zakharia 13:1
“Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.

Membahas ayat di atas, saya merasa perlu kita kembali ke sumber asli kitab Zakharia. Berikut ini adalah teks Ibrani Masoretik (Masoretic Text) untuk Zakharia 13:1:
בַּיּוֹם הַהוּא יִהְיֶה מָקוֹר נִפְתָּח לְבֵית דָּוִיד וּלְיֹשְׁבֵי יְרוּשָׁלִָם לְחַטַּאת וּלְנִדָּה
Transliterasi:
Bayyôm hahû yihyeh māqôr niftāḥ leveit Dāvid ûleyōshevei Yerûshālaim leḥaṭṭā’t ûleniddāh.
Sekarang kita uraikan kata demi kata:
| Ibrani | Transliterasi | Arti |
|---|---|---|
| בַּיּוֹם | bayyôm | pada hari |
| הַהוּא | hahû | itu |
| יִהְיֶה | yihyeh | akan ada / akan menjadi |
| מָקוֹר | māqôr | mata air, sumber air, pancuran |
| נִפְתָּח | niftāḥ | yang dibuka, terbuka |
| לְבֵית | leveit | bagi rumah / keluarga |
| דָּוִיד | Dāvid | Daud |
| וּלְיֹשְׁבֵי | ûleyōshevei | dan bagi para penduduk |
| יְרוּשָׁלִָם | Yerûshālaim | Yerusalem |
| לְחַטַּאת | leḥaṭṭā’t | untuk dosa |
| וּלְנִדָּה | ûleniddāh | dan untuk kecemaran / kenajisan |
Beberapa catatan penting:
a. מָקוֹר (māqôr) berasal dari kata mata air, sumber air, pancuran lebih jelas daripada hanya “sumber” seperti yang tertulis dalam Versi Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1974 (TB-LAI).
b. לְחַטַּאת (leḥaṭṭā’t) berasal dari kata חַטָּאת (ḥaṭṭā’t) yang dapat berarti: dosa, kesalahan. Dalam ayat ini mayoritas ahli Ibrani memahami maknanya sebagai dosa itu sendiri.
c. נִדָּה (niddāh) adalah istilah yang sering dipakai dalam Taurat untuk kenajisan ritual, keadaan najis yang menyebabkan seseorang tidak layak mendekat kepada Allah, atau kecemaran moral dan rohani. Arti kata ini lebih luas daripada sekadar “najis”, melainkan menunjuk kepada segala bentuk pencemaran yang memisahkan manusia dari hadirat Allah.
Seperti telah kita ketahui dari firman Allah, bahwa kekudusan itu adalah syarat bagi setiap manusia untuk dapat mendekat kepada Allah dan menghadap ke hadirat-Nya. Tanpa kekudusan tidak seorangpun dapat melihat Allah. Apalagi dalam kasus kita telah hidup dalam dosa dan berlaku jahat di hadapan-Nya. Sementara sesungguhnya Allah ingin kita, buatan tangan-Nya, tetap berada dekat dengan-Nya senantiasa. Allah tidak pernah mau kita jauh dari-Nya karena jika demikian, maka iblis dengan mudah akan mendakwa kita dan berusaha memohon kepada Allah untuk menghukum kita.
Demikianlah Allah membuka sumber mata air kehidupan yang membasuh dan menguduskan kita semua.
Yohanes 7:38
Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.
2. Allah menguduskan umat-Nya dengan melenyapkan nabi dan berhala
Zakharia 13:2
2 Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan melenyapkan nama-nama berhala dari negeri itu, sehingga orang tidak menyebutnya lagi. Juga para nabi dan roh najis akan Kusingkirkan dari negeri itu.
”Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah Tuhan , Allahmu.
TUHAN semesta alam berjanji akan menguduskan umat-Nya, dengan cara menghapus berhala dan nabi palsu dari Yehuda dan dihilangkan dari pikiran seluruh umat yang masih tersisa. Segala bentuk penyembahan berhala itu sungguh telah masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan dalam masyarakat, sehingga mereka sendiri tidak sanggup melepaskan diri dari ketergantungan mereka kepada penyembahan itu.
Hosea 5:4
Perbuatan-perbuatan mereka tidak mengizinkan mereka berbalik kepada Allah mereka, sebab roh perzinahan ada di antara mereka, dan mereka tidak mengenal TUHAN. [TB-LAI]
Kejahatan yang dilakukan oleh orang Israel menyebabkan mereka tak dapat kembali kepada Allah mereka. Mereka sudah dicengkeram oleh penyembahan berhala, sehingga mereka tidak lagi mempedulikan TUHAN. [BIMK-LAI]
Their wicked deeds do not allow them to return to their God; because a spirit of idolatrycontrols their heart,and they do not acknowledge the Lord. [NET Bible]
Kuasa kegelapan bekerja seperti belenggu yang mengikat dengan kuat, sehingga setiap orang yang telah tertipu dan mengikuti penyembahan berhala atau mempercayai nubuat palsu para nabi palsu, tidak akan sanggup melepaskan dirinya dari cengkeraman kuasa kegelapan tersebut. Seperti yang dikatakan nabi Hosea tersebut, maka Allah mengetahui hal tersebut, hingga akhirnya Allah berinisiatif melepaskan mereka dari belenggu jahat itu, dan menguduskan umat-Nya.
Alkitab mengajarkan bahwa nabi palsu tidak dikenali dari penampilannya, kepandaiannya berbicara, atau banyaknya pengikut yang dimilikinya, melainkan dari kesetiaannya kepada firman Allah. Seorang nabi palsu dapat berbicara dengan meyakinkan, bahkan melakukan tanda-tanda yang mengagumkan, tetapi jika ia mengajak orang menjauh dari TUHAN atau mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan firman-Nya, ia bukan berasal dari Allah (Ulangan 13:1-5).
Salah satu ciri utama nabi palsu adalah mengaku berbicara atas nama TUHAN, padahal TUHAN tidak pernah mengutus atau berfirman kepadanya. Nabi Yeremia berkali-kali menyampaikan teguran Allah terhadap orang-orang yang bernubuat berdasarkan pikiran dan khayalan mereka sendiri, lalu mengatasnamakan TUHAN. Mereka lebih mengutamakan perkataan yang menyenangkan hati manusia daripada menyampaikan kebenaran yang dikehendaki Allah (Yeremia 23:16-22).
Alkitab juga memberikan ujian yang sangat jelas terhadap seorang nabi. Bila seseorang bernubuat atas nama TUHAN, tetapi apa yang dinubuatkannya tidak terjadi, maka ia bukan nabi yang diutus oleh TUHAN (Ulangan 18:20-22). Oleh sebab itu, setiap nubuat harus diuji dan tidak boleh diterima begitu saja hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan atau disertai pengalaman rohani tertentu.
Selain ajarannya, kehidupan seorang nabi juga menjadi ukuran. Nabi palsu biasanya hidup dalam dosa, membenarkan kejahatan, mencari keuntungan pribadi, atau memakai pelayanan untuk meninggikan dirinya sendiri. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa seorang nabi dikenal dari buah kehidupannya, bukan hanya dari perkataannya. Bahkan ada orang yang dapat bernubuat dan melakukan mujizat dalam nama Tuhan Yesus, tetapi pada akhirnya ditolak karena tidak hidup dalam ketaatan kepada Allah (Matius 7:15-23). Orang yang taat kepada Allah akan terlihat dari kehidupannya yang senantiasa menguduskan dirinya. Seseorang dapat menguduskan dirinya dengan datang kepada Tuhan Yesus dan mohon untuk disucikan dari segala dosanya.
Karena itu, Alkitab mengajarkan agar setiap orang percaya tidak mudah mempercayai setiap orang yang mengaku sebagai nabi, rasul, atau pembawa wahyu dari Allah. Sebaliknya, setiap ajaran, nubuat, dan kehidupan pelayannya harus diuji berdasarkan firman Allah. Kebenaran Alkitab tetap menjadi ukuran tertinggi untuk membedakan antara nabi sejati dan nabi palsu.
Di zaman sekarang ini, tanpa disadari orang masih banyak menyembah berhala dalam kesehariannya. Berhala mungkin saja berbentuk kepercayaan pada suatu Dewa yang diwujudkan berbentuk patung atau jimat. Ada juga yang berbentuk kepercayaan terhadap ramalan bintang atau astrologi. Ada orang yang percaya dalam satu minggu ada hari-hari sialnya, sehingga ia akan takut melakukan aktivitas di hari tersebut. Ada juga orang yang dengan terang-terangan meminta petunjuk pada “orang pintar” untuk mencari sesuatu yang hilang.
Allah membenci Penyembahan berhala, ada juga yang sifatnya mencandu dan mengikat. Apa perbuatan itu? Perzinahan, percabulan sama dengan orang yang menyembah berhala. Itu perbuatan terkutuk yang menyebabkan seseorang yang sudah peraya pada Kristus Yesus, menajiskan lagi “pakaian putih” yang telah diberikan padanya. Banyak sekali orang Kristen yang bahkan sudah melayani Tuhan di Gereja, akhirnya gugur imannya karena dosa ini. Apa firman Tuhan mengenai hal ini?
Hosea 5:4 (TB)
Perbuatan-perbuatan mereka tidak mengizinkan mereka berbalik kepada Allah mereka, sebab roh perzinahan ada di antara mereka, dan mereka tidak mengenal Tuhan .Imamat 20:7 (TB)
Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah Tuhan , Allahmu.
3. Allah menguduskan umat-Nya dengan pemulihan keluarga
Zakharia 13:3
3 Dan apabila seseorang masih tampil sebagai nabi, maka ayahnya dan ibunya, yang telah memperanakkan dia, akan berkata kepadanya:
Janganlah engkau hidup lagi, sebab yang kaukatakan demi nama TUHAN itu adalah dusta!
Lalu ayahnya dan ibunya, yang telah memperanakkan dia, akan menikam dia pada waktu ia bernubuat.

Gambaran dari firman Tuhan di atas, kita lihat sebagai suatu situasi yang telah berbalik arah, dari situasi di mana tadinya orangtua tidak lagi memiliki keberanian atau kuasa atas anaknya yang berbuat kelaliman, setelah Allah menguduskan umat-Nya, maka orangtua kembali meluruskan kebenaran. Seorang kepala Keluarga yang bertindak sebagi Imam keluarganya, wajib hidup dalam kekudusan dan juga menguduskan keluarganya.
Mari kita lihat pandangan para teolog terkemuka dunia tentang ayat tersebut:
Dr. John Calvin (1509-1564) – Commentaries on the Twelve Minor Prophets (diterbitkan pasca wafat, terjemahan Inggris oleh Calvin Translation Society, 1846), Dr. Calvin menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan perubahan hati umat yang begitu radikal sehingga kesetiaan kepada Allah yang menguduskan, lebih kuat daripada ikatan keluarga. Menurut beliau, orang tua dalam ayat ini menjadi lambang bahwa tidak ada lagi toleransi terhadap nabi palsu. Fokusnya bukan pada kekejaman orang tua, melainkan pada kesungguhan umat dalam menolak penyesatan rohani. Calvin melihat ayat ini sebagai penggenapan prinsip Taurat dalam Ulangan 13, yaitu bahwa orang yang mengajak umat meninggalkan Allah tidak boleh dilindungi sekalipun ia anggota keluarga.
Prof. Carl Friedrich Keil, D.D. (1807-1888) dan Prof. Franz Delitzsch, D.D. (1813-1890) – Dalam Biblical Commentary on the Old Testament, T&T Clark, 1866-1891, Keil dan Delitzsch menafsirkan ayat ini sebagai gambaran pembersihan rohani Israel pada masa pemulihan yang akan datang. Mereka menekankan bahwa penyembahan berhala dan nubuat palsu adalah dua bentuk utama pemberontakan terhadap Allah. Karena itu Zakharia menggambarkan suatu zaman ketika nabi palsu tidak lagi dihormati, bahkan keluarganya sendiri akan menolak dia. Mereka menghubungkan ayat ini langsung dengan Ulangan 13:6-10 dan Ulangan 18:20.
Albert Barnes (1798-1870) – Dalam Notes on the Old Testament: Zechariah, Barnes menjelaskan bahwa orang tua menusuk anaknya bukan karena kebencian pribadi, tetapi karena ketaatan kepada hukum Allah. Menurut Barnes, Zakharia sedang menggambarkan betapa besar kebencian umat terhadap penyesatan rohani pada masa itu. Bahkan hubungan keluarga tidak boleh mengalahkan kesetiaan kepada kebenaran Allah.
Rev. Joseph Benson (1749-1821) – Dalam Benson Commentary, Benson menegaskan bahwa ucapan “Engkau tidak boleh hidup” bukanlah vonis pribadi dari orang tua, melainkan pengulangan prinsip hukum Musa mengenai nabi palsu. Ayat ini menggambarkan bahwa bahkan orang tua yang paling mengasihi anaknya tidak akan membela dusta yang diucapkan atas nama TUHAN.
Dr. E. W. Hengstenberg (1802-1869) – Dalam Christology of the Old Testament dan tulisan-tulisannya mengenai nabi-nabi kecil, Hengstenberg melihat ayat ini sebagai gambaran kemenangan kekudusan Allah atas segala bentuk kompromi. Ia tidak memandang ayat ini terutama sebagai instruksi hukum pidana, melainkan sebagai gambaran profetis tentang betapa menjijikkannya nabi palsu di mata umat yang telah dipulihkan Allah.
Keluarga adalah lembaga yang didirikan dan oleh Allah sendiri yang menguduskannya. Tentu saja lembaga itu memiliki tugas yang sangat berat yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tugas utama lembaga keluarga itu, adalah membawa Nama TUHAN, Allah Semesta Alam, untuk dimuliakan dan diabadikan turun temurun hingga keturunan berikut-berikutnya. Allah memerintahkan manusia pertama untuk menguduskan keluarganya, beranak cucu dan mengolah dunia ini dengan baik.
Namun demikian, kuasa kegelapan yang juga memiliki misi tersendiri, tidak akan membiarkan umat Allah bekerja dengan baik. Iblis dan pengikut-pengikutnya berusahan keras untuk memecah belah dan menghancurkan lembaga keluarga dengan cara-cara yang tidak mereka sadari.
Dari firman TUHAN di atas, dapat kita saksikan bahwa orangtua pada awalnya tidak memiliki kuasa lagi untuk mengingatkan anaknya yang telah menjadi nabi palsu. Orang yang telah dirasuk kuasa kegelapan, akan melupakan dan tidak mau menuruti lagi perkataan orangtuanya. Namun, Allah telah memiliki rancangan yang agung, yaitu menguduskan umat-Nya melalu pemulihan keluarga. Orangtua akan diberi kuasa dan hati untuk memberikan nasihat dan teguran kepada anaknya yang mengimpang dari firman Tuhan. Demikan pula anaknya yang sudah salah jalan, akan berbalik kepada perkataan orangtuanya.
Maleakhi 4:6
Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.
4. Allah menguduskan umat-Nya dengan keberanian untuk berkata jujur
Zakharia 13:4-6
4 Pada waktu itu para nabi masing-masing akan mendapat malu oleh karena penglihatannya sebagai nabi, dan tidak ada lagi dari mereka yang mengenakan jubah berbulu untuk berbohong; 5 tetapi masing-masing akan berkata:
Aku ini bukan seorang nabi, melainkan seorang pengusaha tanah, sebab tanah adalah harta kepunyaanku sejak kecil.
6 Dan apabila ada orang bertanya kepadanya: Bekas luka apakah yang ada pada badanmu ini?, lalu ia akan menjawab:
Itulah luka yang kudapat di rumah sahabat-sahabatku!”
Sedemikian besar kasih Allah sehingga Ia berjanji akan menguduskan umat kesayangan-Nya. Allah menguduskan umat-Nya dengan mengembalikan keberanian orang-orang yang tadinya mengaku dirinya nabi namun mengatakan nubuat palsu untuk berkata jujur. Hanya TUHAN Allah saja yang sanggup menguduskan dan mengembalikan kekuatan roh mereka untuk tidak lagi menyesatkan orang.
Penyesatan dengan mengatakan dirinya nabi dan rasul, juga terjadi di zaman sekarang ini. Semakin banyak orang yang dengan pandainya berbicara, menyesatkan banyak orang dengan berkata bahwa ia utusan Allah, berbahasa lain yang sebetulnya bukan bahasa Roh, mengatakan ia pernah dibawa ke Surga, dsb.
Dalam sejarah gereja mula-mula, beberapa tokoh mengaku menerima wahyu baru dari Allah dengan otoritas yang setara atau bahkan melampaui para rasul. Salah satu contoh terkenal adalah Montanus pada abad ke-2. Ia mengaku berbicara langsung di bawah inspirasi Roh Kudus dan menyampaikan nubuat-nubuat baru. Gereja akhirnya menolak gerakan ini karena dianggap memberikan otoritas berlebihan kepada wahyu baru di luar kesaksian para rasul.

Pada zaman modern, ada sejumlah pemimpin gereja yang secara terbuka menyebut diri mereka “rasul” atau “nabi”. Misalnya ada seorang profesor misiologi (saya tidak sebut nama) yang mempopulerkan konsep bahwa Allah sedang memulihkan jabatan rasul dan nabi pada masa kini, melalui gerakan yang dikenal sebagai reformasi kerasulan yang baru. Dalam pandangan ini, “rasul” bukan berarti setara dengan dua belas rasul Perjanjian Baru, tetapi pemimpin Gereja yang menerima panggilan khusus untuk memimpin dan memperluas pekerjaan Kerajaan Allah.
Selain itu ada tokoh-tokoh lain yang juga secara terbuka mengajarkan keberadaan nabi-nabi modern dalam gereja. Ada pula banyak pelayanan di Afrika, Amerika Latin, Korea Selatan, dan Amerika Serikat yang menggunakan gelar “Prophet” atau “Apostle” sebagai jabatan resmi pelayanan. Biasanya pemimpin gereja seperti ini hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta yang jumlahnya sangat spektakuler. Jujur saya tidak mengatakan mereka adalah sesat, namun
Namun di sisi lain, banyak teolog Injili dan Reformed menolak klaim tersebut. Tokoh seperti John MacArthur berpendapat bahwa jabatan rasul dalam arti Perjanjian Baru berakhir bersama generasi para rasul pertama. Demikian pula banyak gereja berpendapat bahwa tidak ada lagi nabi yang menerima wahyu normatif untuk seluruh gereja sebagaimana para nabi dan rasul dalam Kitab Suci.
Di Indonesia sendiri, pernah pula ada pemimpin gereja yang memakai gelar “Rasul” atau “Nabi”. Fenomena ini memang ada, meskipun tidak diterima secara universal oleh semua denominasi. Sebagian gereja menerima penggunaan gelar tersebut, sebagian lain menganggapnya tidak alkitabiah atau berpotensi menimbulkan penyalahgunaan otoritas.
Yang menarik jika dikaitkan dengan Zakharia 13:3 adalah bahwa ayat itu tidak mengecam seseorang hanya karena memakai gelar nabi. Yang dikecam adalah orang yang bernubuat dusta atas nama TUHAN. Jadi pertanyaan utamanya bukan “apakah seseorang menyebut dirinya nabi atau rasul?”, melainkan “apakah ajarannya benar, setia kepada Firman Allah, dan dapat diuji?” Manusia memang gemar menambahkan gelar. Kadang gelarnya lebih panjang daripada isi khotbahnya. Alkitab justru mengarahkan perhatian kepada kebenaran pesan yang disampaikan, bukan kemegahan gelar yang dipakai.
Demikianlah kita sekarang mengetahui bahwa Allah dalam kemuliaan-Nya tidak berkenan akan penyembahan berhala dan nubuat para nabi palsu. Allah akan menguduskan umat-Nya dan mengembalikan kita semua ke dalam pelukan kasih-Nya yang abadi.
Semoga kita semua mendapat berkat dari firman Tuhan di atas, Tuhan Yesus memberkati.
Dan Aku akan menyatakan nama-Ku yang kudus di tengah-tengah umat-Ku Israel dan Aku tidak lagi membiarkan nama-Ku yang kudus dinajiskan, sehingga bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Yang Mahakudus di Israel.
Yehezkiel 39:7
Amin.
