Zakharia 9 Part 1 tentang “Hukuman Allah atas bangsa-bangsa yang mengkhianati Allah” seri Nabi Besar

By Febrian 10 Juni 2026 04:15 AM

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Kitab Zakharia pasal 9-14 berisi rangkaian thema firman Tuhan tentang nubuatan kedatangan Mesias yaitu Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia. Edisi khotbah kali ini akan mengawali firman Tuhan dari Zakharia 9 (Part 1), tentang “Hukuman Allah atas bangsa-bangsa yang mengkhianati Allah“. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan pengertian untuk dapat memahami firman-Nya tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

Kitab nabi Zakharia pasal 9 s/d 14 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

RANGKAIAN NUBUAT-NUBUAT TENTANG KEDATANGAN MESIAS

Hukuman Allah atas bangsa-bangsa yang mengkhianati Allah

Zakharia 9 <– Klik di sini untuk membaca seluruh pasal.

Dalam Edisi Khotbah Zakharia 9 Part 1 ini, kita akan membahas beberapa thema khotbah sebagai berikut: 

1. Firman Allah adalah Roh yang bergerak dengan penuh kuasa

Zakharia 9:1a

Ucapan Ilahi. Firman TUHAN datang atas negeri Hadrakh dan berhenti di Damsyik.

Ditinjau dari struktur-nya, kalimat ini menunjukkan pola pergerakan secara geografis, yaitu Firman TUHAN tersebut bergerak (datang) dan kemudian menetap (berhenti). Penggunaan dua kata kerja tersebut (datang dan berhenti/menetap) menunjukkan bahwa firman TUHAN, adalah Roh Yang berkuasa penuh dan bergerak dengan tujuan yang pasti dan bukan sekadar perkataan biasa.

Yesaya 55:10-11

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Ayat firman Tuhan di atas, menekankan bahwa firman Tuhan itu bergerak, bekerja dan melaksanakan suatu tugas yang pasti akan terlaksana sempurna. Firman itu berasal dari Allah dan akan kembali lagi kepada-Nya tidak akan dengan sia-sia, melainkan pasti berhasil. Jadi, dalam kesempatan ini, saya menitipkan pesan pribadi saya bagi kita semua: perkatakanlah firman Allah dengan berhati-hati dan sungguh-sungguh, jangan dengan sembarangan. Karena Firman Allah itu adalah Roh yang berasal dari Allah sendiri, bukan sekadar perkataan biasa, tidak boleh dengan sembarangan kita ucapkan.

Jika seseorang hendak membahas firman Tuhan, hendaknya bereskan terlebih dahulu hubungan kita dengan Allah. Introspeksi ke dalam diri terlebih dahulu: Akui segala kesalahan dan dosa kita, bertobatlah serta hiduplah dalam kekudusan. Luruskan motivasi membahas firman Tuhan, yaitu dengan hati yang tulus ingin memuliakan Allah, jangan dengan motivasi tersembunyi yang tidak benar.  

Allah berfirman tentang kota Damsyik (Damaskus/Damaśyq (דמשק), dalam bahasa Aram kuno) ibu kota dari Syria (Suriah) yang berada di Negeri Hadrakh (Itu adalah negara-kota dan wilayah Aram yang terletak di Suriah bagian utara, di selatan Aleppo dan di sebelah utara Hamat – kemungkinan terkait dengan situs arkeologi modern Tell Afis).

2. Aram dan Israel kepunyaan Allah

Zakharia 9:1b

Versi Terjemahan Baru Edisi 1 – LAI:

Sebab kepunyaan Tuhanlah kota-kota Aram serta segala suku Israel; juga Hamat yang berbatas kepadanya, pula Tirus dan Sidon, sekalipun mereka sangat bijaksana.

Versi New English Testament:

The eyes of all humanity, especially of the tribes of Israel, are toward the Lord, as are those of Hamath also, which adjoins Damascus, and Tyre and Sidon, though they consider themselves to be very wise.

Dari kedua terjemahan tersebut dapat kita lihat makna yang saling melengkapi, di mana pengertian secara sederhananya adalah, bahwa Allah melihat bahwa seluruh suku bangsa Israel memandang (taat) kepada Allah, juga termasuk penduduk daerah Hamat. Daerah Hamat itu berbatasan dengan Tirus (Lebanon) dan Sidon, namun kota-kota ini tidak mau memandang kepada Allah, bahkan membanggakan diri dengan merasa sangat bijaksana. 

3. Murka Allah atas Tirus dan Sidon

Zakharia 9:3

Tirus mendirikan tembok benteng bagi dirinya dan menimbun perak seperti debu dan emas seperti lumpur di jalan. Namun sesungguhnya, Tuhan akan membuatnya miskin dan akan melontarkan kekuatannya ke dalam laut, dan kota itu sendiri akan habis dimakan api.

Jika kita hubungkan dengan sejarah pada masa itu, maka dapat kita ketahui penggenapan firman TUHAN tersebut, yaitu Tirus betul-betul telah dihancurkan. Mari kita lihat kejadiannya dalam sejarah:

Kaisar Aleksander Agung dari Makedonia (Yunani Utara) telah menang besar melawan Raja Persia di pertempuran Issus pada tahun 333 SM. Kaisar Aleksander Agung mulai bergerak maju untuk menguasai wilayah-wilayah di sepanjang pesisir Laut Tengah, untuk melumpuhkan semua pangkalan laut milik Persia agar tidak lagi mengganggu jalur pasukannya ketika ia bergerak lebih jauh ke wilayah selatan dan timur kekaisaran Persia.

Penyerangan kota Tirus oleh Aleksander Agung pada tahun 332 SM adalah salah satu aksi militer yang paling luar biasa dalam sejarah kuno. Tirus adalah kota pelabuhan yang sangat kaya dan kuat karena lokasinya berada di sebuah pulau yang berjarak sekitar satu kilometer dari daratan. Penduduk Tirus merasa sangat aman karena mereka punya tembok pertahanan setinggi kira-kira 15 meter yang langsung berbatasan dengan laut. Karena merasa tak terkalahkan, mereka menolak untuk menyerah kepada Aleksander, bahkan mereka menghina utusan Aleksander dan membunuh orang-orang Makedonia yang datang ke kota mereka.

Aleksander yang tidak terima dengan perlawanan itu memutuskan untuk mengepung Tirus. Karena dia tidak memiliki angkatan laut yang cukup kuat untuk menyerang dari laut, dia membuat keputusan yang sangat berani yaitu membangun jalan raya buatan di atas laut (menguruk laut) dari daratan menuju pulau Tirus. Pasukannya mulai mengumpulkan batu, tanah, dan sisa-sisa reruntuhan dari kota “Tirus Tua” di daratan untuk menimbun laut. Pekerjaan ini sangat berat karena dilakukan di bawah hujanan panah dan serangan dari atas tembok kota Tirus.

Setelah jalan itu mulai mendekati pulau, penduduk Tirus mulai melakukan perlawanan yang lebih sengit. Mereka menembakkan panah api dan membuat berbagai jebakan untuk menghancurkan alat-alat perang milik Aleksander. Bahkan, mereka pernah menggunakan kapal khusus yang diisi dengan material mudah terbakar untuk menabrak jalan yang sedang dibangun, yang menyebabkan kerusakan besar dan membuat para pekerja Aleksander kocar-kacir. Aleksander pun menyadari bahwa membangun jalan saja tidak cukup, sehingga dia harus mengumpulkan armada kapal dari berbagai kota sekutu di Siprus dan Fenisia untuk mengepung kota itu dari sisi laut.

Setelah memiliki armada kapal yang cukup, Aleksander akhirnya bisa mengepung pulau Tirus dari segala arah. Dia memasang alat-alat perang raksasa di atas kapal-kapalnya untuk terus-menerus memukuli tembok pertahanan kota. Pengepungan dan penyerangan Tirus dilakukan terus menerus tanpa henti, sejak bulan Januari 332 SM. 

Hingga pada bulan Juli 332 SM, tentara Kaisar Aleksander sukses menjebol salah satu bagian tembok di sisi selatan, sehingga seluruh pasukan pun menyerbu masuk dengan penuh amarah. Hal itu sempat mengalami perlawanan sengit dari pasukan Tirus di dalam kota, namun akhirnya pasukan Kaisar Alexander menang hingga diteruskan dengan pembersihan total seluruh penduduk kota itu. Sekitar 8.000 penduduk tewas dalam pertempuran dan pembantaian setelah kota itu jebol.

Setelah mengalahkan kota itu, Kaisar Aleksander tidak berhenti di situ saja, melainkan ia juga memerintahkan agar 2.000 pria dewasa lainnya disalibkan di sepanjang pantai, sebagai peringatan bagi kerajaan lain agar tidak melawannya. Sisanya, sebanyak 30.000 orang termasuk wanita dan anak-anak, dijual menjadi budak. Kota Tirus yang dulunya megah dan merasa tidak bisa tersentuh akhirnya hancur total dan kekayaan mereka dijarah habis oleh pasukan Aleksander.

4. Murka Allah atas Gaza, Ekron dan Askelon

Zakaria 9:5 

Askelon akan melihatnya, lalu takut; juga Gaza, lalu gemetar sangat; Ekron pun, sebab harapannya sudah kandas. Dari Gaza raja akan binasa dan Askelon tidak akan didiami lagi. 

Askelon adalah kota pelabuhan yang sangat penting dan merupakan salah satu dari lima kota utama yang disebut sebagai Pentapolis, yaitu Askelon, Gaza, Asdod, Ekron, dan Gat (Filistin). Selama ini, mereka adalah musuh bebuyutan Israel dan dikenal sangat sombong karena mengandalkan kekuatan militer serta pertahanan kota mereka yang kokoh.

Dalam Zakharia 9:5, Askelon disebut ketakutan setelah melihat apa yang terjadi pada Tirus. Alasan mengapa mereka begitu takut adalah karena mereka tahu bahwa nasib mereka akan sama. Askelon dan Gaza adalah satu paket dalam sistem pertahanan Filistin. Ketika Tirus yang jauh lebih kuat saja bisa hancur oleh pasukan Aleksander, penduduk Askelon sadar bahwa tidak ada gunanya lagi bagi mereka untuk melawan.

Maksud dari kalimat “Askelon tidak akan didiami lagi” bukan berarti kotanya langsung hilang dari peta, melainkan peran kota itu sebagai kekuatan besar yang independen benar-benar tamat. Setelah ditaklukkan oleh Aleksander, identitas asli mereka sebagai bangsa Filistin perlahan-lahan hilang karena budaya Yunani masuk dan menguasai semuanya. Harapan mereka yang dulunya menggantungkan diri pada kekuatan militer dan sekutu kota-kota Filistin akhirnya hancur total karena mereka tidak lagi punya kekuasaan politik untuk mengatur diri sendiri.

Setelah Tirus jatuh, Aleksander melanjutkan perjalanannya ke arah selatan menuju Gaza. Sama seperti Tirus, Gaza adalah benteng yang sangat kuat dan berdiri di atas bukit curam. Aleksander menggunakan alat-alat perang yang sebelumnya dipakai di Tirus untuk menghancurkan tembok pertahanan Gaza. Meski dia sendiri sempat terluka saat memimpin serangan, Gaza akhirnya tetap jatuh ke tangannya. Seperti yang terjadi di Tirus, nasib raja dan penduduk Gaza juga sangat buruk, banyak yang tewas dalam pertempuran tersebut. Jika dikaitkan dengan firman TUHAN “Dari Gaza raja akan binasa, kejadian tersebut seperti berkaitan langsung sebagai penggenapannya.

Berbeda dengan dua kota tadi, Yerusalem justru punya nasib yang jauh lebih baik. Ketika pasukan Aleksander sampai di sana, dia tidak menghancurkan kota itu sama sekali. Berdasarkan catatan sejarah, para pemimpin di Yerusalem menyambutnya dengan baik. Aleksander bahkan menunjukkan rasa hormat dan membiarkan kota itu tetap utuh, sehingga tidak ada kehancuran di Yerusalem seperti yang dialami kota-kota lain dalam perjalanannya. Maka firman TUHAN, “Sebab kepunyaan Tuhanlah kota-kota Aram serta segala suku Israel“, telah digenapi.

Setelah Gaza jatuh, jalan menuju Mesir jadi terbuka lebar. Aleksander masuk ke sana tanpa harus berperang lagi karena dia dianggap sebagai orang yang membebaskan mereka dari penjajahan Persia. Di sana, dia kemudian diakui sebagai penguasa baru dan mendirikan kota besar yang diberi nama Aleksandria. Seluruh rangkaian kejadian ini memperlihatkan betapa kuat dan kejamnya usaha Aleksander untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi rencananya di sepanjang wilayah tersebut.

Apa yang terjadi dalam sejarah tersebut sangat cocok dengan nubuatan di Zakharia 9:1-2. Di sana tertulis bahwa firman Tuhan akan datang atas negeri Hadrakh dan berhenti di Damsyik, lalu berlanjut ke kota Hamat yang letaknya dekat dengan sana. Secara sejarah, rute yang dilewati pasukan Aleksander memang persis seperti yang tertulis: dia bergerak dari arah utara ke selatan, menaklukkan wilayah-wilayah yang disebutkan dalam nubuatan tersebut satu demi satu.

Istilah “firman Tuhan datang” dan “berhenti” di dalam nubuatan itu sebenarnya menggambarkan bagaimana hukuman Tuhan sedang berjalan melalui tangan Aleksander. Teks itu menegaskan bahwa tidak ada kota yang bisa merasa aman hanya karena mereka merasa kuat atau punya pertahanan yang hebat. Kota-kota yang dulu sangat sombong dan percaya diri akhirnya harus tunduk di bawah kekuatan pasukan Aleksander yang bergerak dari utara.

Yang paling jelas dari hubungan ini adalah bagaimana nubuatan tersebut dengan tepat menggambarkan alur pergerakan yang terjadi dalam kenyataan sejarah. Firman Tuhan yang “datang” dan “berhenti” di wilayah-wilayah itu seolah sedang memetakan jalur yang akan dilewati oleh sang penakluk. Ini membuktikan bahwa apa yang dilihat orang sebagai sekadar pergerakan pasukan militer yang haus kekuasaan, sebenarnya adalah bagian dari rencana Tuhan yang sedang menjalankan kehendak-Nya atas bangsa-bangsa di wilayah tersebut.

Zakharia sudah memberitahukan jauh-jauh hari bahwa akan ada kekuatan besar yang bergerak menyapu wilayah tersebut sebagai bentuk penghakiman. Ketika Aleksander benar-benar datang dan menaklukkan daerah-daerah tersebut, hal itu menjadi bukti nyata bahwa Tuhan memang berdaulat dan memegang kendali penuh atas sejarah serta nasib bangsa-bangsa yang sombong. Aleksander hanyalah alat, sementara Tuhan adalah pihak yang mengatur jalannya sejarah.

5. Murka Allah atas Filistin dan Allah memusnahkan kenajisan

Zakharia 9:6-8

Di Asdod akan diam keturunan campuran, dan kebanggaan orang Filistin akan Kulenyapkan. Aku akan melenyapkan darah dari mulutnya dan kejijikan dari antara giginya, dan yang tinggal dari merekapun akan menjadi kepunyaan Allah kita. Mereka akan dianggap seperti suatu kaum di Yehuda, dan orang Ekron seperti orang Yebus. Aku berkemah dekat rumah-Ku sebagai pengawal terhadap mereka yang lalu-lalang; tidak akan ada lagi penindas mendatanginya, sebab sekarang Aku sendiri telah mengindahkannya.

Setelah menaklukkan Gaza, pasukan Aleksander Agung benar-benar melanjutkan perjalanannya menuju Mesir dan kemudian terus ke arah timur. Dalam sejarah, wilayah Asdod dan kota-kota Filistin lainnya memang jatuh ke bawah kendali kekaisaran baru yang dibawa Aleksander. Seperti yang tertulis di ayat 6, “kebanggaan orang Filistin akan Kulenyapkan“, benar-benar terjadi karena sistem pemerintahan dan kekuasaan mereka sebagai bangsa yang merdeka musnah total setelah wilayah tersebut dikuasai oleh budaya dan pemerintahan Yunani yang baru, tidak ada lagi kemerdekaan mereka.

Perubahan di Asdod di Israel menjadi bukti nyata dari kalimat “Di Asdod akan diam keturunan campuran“. Setelah penaklukan itu, banyak orang Yunani dan tentara dari berbagai latar belakang mulai menetap di sana, sehingga penduduk aslinya bercampur dengan para pendatang baru. Identitas asli orang Filistin yang dulunya sangat keras melawan Israel pelan-pelan terkikis dan tidak ada lagi yang tersisa dari kebanggaan etnis mereka yang dulu sering menjadi ancaman bagi Yehuda.

Penggenapan Zakharia 9:7 “Aku akan melenyapkan darah dari mulutnya dan kejijikan dari antara giginya”, mengandung Arti bahwa Allah akan menghilangkan segala kenajisan. Secara teologis, ungkapan ini menggambarkan tindakan Allah yang memurnikan bangsa-bangsa tersebut dari praktik-praktik yang najis di hadapan-Nya. Fokus utama ayat ini bukan pada perubahan budaya tertentu, melainkan pada karya Allah yang mengubah dan membawa mereka mendekat kepada-Nya.” Inilah yang dimaksud dengan “melenyapkan darah dari mulutnya“. Mereka yang tersisa dari bangsa ini kemudian justru dibawa masuk ke dalam komunitas yang lebih luas, sehingga mereka diperlakukan setara dengan kaum di Yehuda, sama seperti sejarah bangsa Yebus yang dulunya musuh Daud tetapi akhirnya menjadi bagian dari Yerusalem.

Dalam Zakharia 9:8, “Mereka akan dianggap seperti suatu kaum di Yehuda, dan orang Ekron seperti orang Yebus“, digambarkan penerimaan Tuhan yang sangat luar biasa terhadap bangsa-bangsa yang dulunya adalah musuh. Maksudnya, sisa-sisa dari bangsa Filistin, termasuk orang Ekron, tidak lagi dipandang sebagai orang asing atau musuh yang harus disingkirkan. Mereka akan diterima sebagai bagian dari umat Tuhan dan memperoleh tempat di dalam komunitas perjanjian-Nya.

Penyebutan “orang Yebus” sebagai perumpamaan bagi orang Ekron memiliki sejarah khusus. Orang Yebus adalah penduduk asli Yerusalem sebelum Daud menaklukkan kota itu. Setelah kalah, orang Yebus tidak dibasmi, melainkan dibiarkan tinggal, berasimilasi, dan akhirnya menjadi bagian dari penduduk Yerusalem yang menyembah Tuhan. Contoh paling terkenal adalah Arauna, seorang Yebus yang tanahnya dibeli Daud untuk membangun mezbah bagi Tuhan.

Jadi, makna intinya adalah Tuhan sedang menunjukkan anugerah-Nya yang melampaui batas etnis. Musuh yang dulunya sangat dibenci dan dianggap najis, kini dimurnikan dan diterima sepenuhnya. Mereka diberikan status yang sama dengan kaum Yehuda dan diberikan tempat di dalam komunitas umat Tuhan, persis seperti orang Yebus yang dulunya dianggap orang luar namun akhirnya hidup sebagai bagian dari Yerusalem.

6. Perlindungan Allah atas umat-Nya

Zakharia 9:8

Aku berkemah dekat rumah-Ku sebagai pengawal terhadap mereka yang lalu-lalang; tidak akan ada lagi penindas mendatanginya, sebab sekarang Aku sendiri telah mengindahkannya.”

Tuhan berjanji akan berkemah di dekat rumah-Nya sebagai pengawal. Secara pembuktian sejarah, ini terlihat pada saat Aleksander Agung melintasi daerah Yerusalem. Bukannya mereka menghancurkan kota itu seperti yang dia lakukan pada Tirus atau Gaza, malahan justru masuk ke dalam kota dengan damai dan memberikan penghormatan kepada imam besar di Bait Allah. Allah menunjukkan perlindungan-Nya atas Yerusalem, menjaga agar tidak ada penindas yang menginjak-injak rumah ibadah-Nya saat pasukan besar sedang melintas dan menaklukkan banyak wilayah di sekitarnya.

Seluruh rangkaian sejarah ini menunjukkan bahwa meskipun Aleksander terlihat sedang menjalankan ambisi pribadinya, di balik semua itu, Tuhan sedang menjalankan rencana-Nya sendiri. Tuhan membersihkan wilayah tersebut dari praktik-praktik yang tidak berkenan, menghentikan dominasi musuh lama, dan secara ajaib melindungi pusat ibadah umat-Nya di Yerusalem. Aleksander hanyalah alat yang lewat, sementara Tuhanlah yang tetap menjadi penjaga yang mengindahkan rumah-Nya sendiri.

Kesimpulan akhir dari Zakharia 9:1-8 menunjukkan bahwa Tuhan memegang kendali penuh atas segala peristiwa di dunia ini, baik yang tercatat dalam sejarah maupun yang tidak. Kita dapat melihat bagaimana Allah mengendalikan kekuatan besar seperti pasukan Aleksander Agung yang dapat bergerak menguasai dan meruntuhkan bangsa-bangsa yang angkuh.

Semua itu terjadi bukan karena kebetulan atau semata-mata karena kehebatan strategi militer pemimpinnya, melainkan karena Tuhan memakai ambisi manusia sebagai alat untuk menjalankan keputusan-Nya. Melalui peristiwa tersebut, Tuhan membersihkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan secara ajaib tetap melindungi Yerusalem sebagai pusat ibadah umat-Nya agar tidak ikut dihancurkan. Lebih dari sekadar memberikan hukuman, tujuan akhir dari kuasa Tuhan adalah memperbarui hidup bangsa-bangsa tersebut agar mereka dapat berbalik dan diterima menjadi bagian dari umat-Nya.

Refleksi bagi kehidupan sehari-hari adalah mengenai rasa aman dan ketenangan hati di tengah situasi dunia yang tidak menentu. Sering kali timbul rasa cemas saat melihat pergolakan politik, perubahan ekonomi, atau kekuatan-kekuatan besar di dunia yang tampak begitu mendominasi dan menakutkan. Keadaan ini dapat dibandingkan dengan ketakutan bangsa-bangsa pada masa lampau ketika melihat kekuatan militer besar bergerak melintasi wilayah mereka. Namun, kisah ini mengingatkan bahwa semua kekuatan dunia itu sifatnya hanya sementara dan akan berlalu, sedangkan Tuhan tetap menjadi pelindung yang abadi bagi kehidupan kita.

Selain itu, kita diajak untuk memeriksa kembali di mana kita meletakkan rasa aman dan hal apa yang kita banggakan saat ini. Kota Tirus hancur meskipun mereka merasa sangat aman di balik benteng laut dan tumpukan kekayaan mereka. Pelajaran berharga bagi kita adalah untuk tidak bersandar pada materi, jabatan, atau kepintaran manusiawi yang bisa hilang dalam sekejap. Alih-alih mengandalkan hal-hal tersebut, kita diundang untuk berserah penuh kepada Tuhan yang berjanji akan selalu menjaga, melindungi, dan menuntun hati kita agar tetap berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

TUHAN semesta alam telah bersumpah, firman-Nya: “Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana

Yesaya 14:24

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *