Daniel 4 Part 2 tentang “Nebukadnezar melupakan ajaran Tuhan di masa lampau” seri Nabi Besar by Febrian

19 Februari 2026 – My Birthday – Retirement Day

Seorang yang resah setelah bermimpi – dibuat oleh Freepik.com

Daniel 4 Part 2 tentang “Nebukadnezar melupakan ajaran Tuhan di masa
lampau” seri Nabi Besar

Shaloom Bapak/Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Dalam
kesempatan ini, kita akan membahas firman Tuhan yang bertemakan didikan Allah
pada orang sombong. Semoga kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan
ini. Tuhan Yesus memberkati.

Daniel 4 <– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Dari ayat-ayat bacaan di atas, dapat kita perhatikan beberapa hal yang bisa
menjadi pelajaran bagi kita:

2. Raja Nebukadnezar lupa akan ajaran dan didikan Tuhan di masa lampau

Berikut adalah kesaksian raja Nebukadnezar yang ditulisnya sendiri kepada
segala bangsa di dunia, mengenai pengalamannya dididik oleh Allah terkait
kesombongannya dan keangkuhannya.

Daniel 4:4-37

Aku tinggal dengan sejahtera dalam istanaku dan hidup dengan
mewah. Tetapi pada suatu malam ketika aku sedang tidur, aku bermimpi
dan mendapat penglihatan yang sangat mencemaskan hatiku. Lalu kupanggil
para cerdik pandai yang ada di Babel untuk menerangkan kepadaku arti mimpi
itu. Tetapi ketika para peramal, ahli jampi, orang-orang berilmu dan
para ahli perbintangan itu datang dan kuceritakan mimpiku itu kepada mereka,
tidak seorang pun yang dapat menerangkan artinya. 

Dalam ayat bacaan di atas, terlihat sikap hati raja Nebukadnezar yang sedikit
mengherankan: tidak lama sebelumnya Nebukadnezar mengalami perjumpaan luar
biasa dengan Allah melalui Daniel, di mana ia akhirnya mengaku bahwa TUHAN
adalah Allah Yang Mahatinggi, yang berkuasa atas segala kerajaan manusia. Akan
tetapi, berselang beberapa lama, yaitu ketika menghadapi mimpi yang baru, raja
Nebukadnezar seperti lupa akan kejadian tersebut dan kembali kepada kebiasaan
lamanya
, yaitu memanggil para peramal, ahli jampi, orang-orang berilmu, dan
para ahli perbintangan, di mana orang-orang tersebut sudah terbukti tidak
mampu menyingkapkan rahasia Allah.

Di sinilah tampak kelemahan manusia yang begitu nyata, yaitu seberapapun
pengalaman rohani yang dahsyat ternyata tidak otomatis membuat orang tersebut
hidup dalam kesetiaan yang konsisten. Lihatlah raja Nebukadnezar yang seperti
lupa pada pelajaran Ilahi yang sudah ia terima. Ia bahkan pernah menyaksikan
langsung kuasa Allah yang Maha Dahsyat, tetapi hatinya belum sungguh-sungguh
tertambat kepada-Nya. Jadi sesungguhnya, pengakuan di bibir belum tentu
berakar dalam hati.

Kesimpulannya sederhana namun dalam: raja Nebukadnezar itu melupakan pesan
Allah yang telah dinyatakan melalui perbuatan-perbuatan ajaib yang dialaminya
bersama Daniel. Ia kembali mencari hikmat di tempat yang salah, padahal sumber
hikmat sejati sudah pernah berdiri di hadapannya. 

Sesungguhnya, kita juga mungkin sering seperti ini, lupa akan kebaikan dan
kedahsyatan Allah dalam kehidupan kita. Kita diizinkan Allah mengalami pahit
getirnya kehidupan, yang berujung pada kemenangan, mungkin pada saat itu kita
bertobat dan berbalik dari jalan kita yang salah. Penyebab pertobatan itu
adalah takut, bahwa kita akan mengalami lagi kejadian serupa. Namun, seiring
berjalan dengan waktu, kenyamanan, kedamaian dan keteraturan, menyebabkan kita
seringkali menjadi lupa akan kejadian yang lalu itu. Akhirnya persis seperti
perbuatan raja Nebukadnezar, pada waktu mengalami lagi dinamika kehidupan,
maka segera lupa akan apa yang telah kita alami di waktu sebelumnya. 

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu;

janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri;

akuilah Dia dalam segala lakumu,

maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Amsal 3:5-6 (TB)

Amin.


Tanggapan Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *