Daniel 3 tentang “Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam Dapur Api” Seri Nabi Besar by Febrian

16 Februari 2026

Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam perapian yang menyala-nyala.

Image created by ChatGPT

Daniel 3 tentang “Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam Dapur Api” Seri Nabi
Besar

Shaloom Bapak Ibu Saudara/i yang terkasih dalam Kristus Yesus. Dalam
kesempatan ini kita akan merenungkan bersama mengenai Sadrakh, Mesakh, dan
Abednego yang dilempar ke Dapur Api karena imannya kepada Allah. Semoga
kita semua bisa mendapat berkat dari firman Tuhan tersebut. Tuhan Yesus
memberkati.

Daniel 3
<– Klik di sini untuk membaca seluruh ayat

Ayat bacaan Daniel 3 tersebut di atas, adalah suatu kisah yang sangat
terkenal dan saya setengah yakin, Bapak/Ibu Saudara/i sekalian sudah
pernah mendengar kisah ini sejak di Sekolah Minggu. Namun, apakah kita
semua menyadari ada beberapa hal yang perlu kita perdalam lagi di sini?

1. Nebukadnezar mudah menjadi Sombong dan lupa diri

Daniel 3:1-7

Perapian yang menyala-nyala


Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh
hasta
(27,43 meter)
dan lebarnya enam hasta 
(2,74 meter) yang didirikannya di dataran Dura (arti kata: “tembok”) di wilayah Babel (daerah negara Irak)

Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja,
para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara,
para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri
pentahbisan patung yang telah didirikannya itu. Lalu berkumpullah para
wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para
bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk
menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar
itu. 

Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: 

“Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa,
suku bangsa dan bahasa: demi kamu mendengar bunyi sangkakala,
seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis
bunyi-bunyian, maka haruslah kamu
sujud menyembah patung yang telah didirikan raja
Nebukadnezar itu; siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan
seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!” 

Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling,
kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka
sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan
menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar
itu. 

Di sini kita melihat, bahwa Raja Nebukadnezar membuat patung dan memerintahkan seluruh rakyatnya menyembah
patung tersebut. Dengan menyembah patung dirinya, sama dengan raja mau
disebut sebagai allah yang layak disembah. 
Menurut Bapak/Ibu Saudara/i, apakah ia tidak tahu bahwa itu keliru?
Apakah ia tidak kenal ada Allah yang sungguh-sungguh berkuasa dan tidak
boleh disaingi oleh yang lainnya?
 

Sebenarnya, Raja Nebukadnezar sudah tahu itu karena ia sudah pernah menyaksikan kedahsyatan Allahnya bangsa Israel sebelum peristiwa
dapur api di Daniel 3 ini. Hal ini terjadi pada
Daniel 2, yaitu ketika Daniel menafsirkan mimpi sang raja tentang patung besar
yang hancur oleh sebuah batu, ia pun mengakui bahwa Allahnya bangsa
Israel itu adalah Allah yang hidup dan berkuasa.

Bukti Nebukadnezar Sudah Mengenal Allah:

1. Pengakuan Raja (Daniel 2:47):
Raja berkata kepada Daniel bahwa Allahnya Daniel adalah Allah yang di
atas segala allah dan Yang Berkuasa atas segala raja.

2. Tindakan Raja:
Nebukadnezar memberikan kedudukan tinggi kepada Daniel dan sujud
menghormati Daniel sebagai nabi Tuhan.

Mengapa Raja Tetap Membuat Patung Emas di Daniel 3?

Meskipun sudah pernah takjub, ada beberapa faktor yang membuat raja
kembali berulah. Secara Kesombongan (Pride), di Daniel 2 ia
diberitahu bahwa dialah “kepala emas”. Di Daniel 3, ia justru membuat
seluruh patung dari emas sebagai simbol bahwa kerajaannya tidak
akan pernah berakhir. Selain itu, pengenalannya di Daniel 2 hanyalah
sebatas Allah sebagai “Pemberi Rahasia”. Melalui peristiwa dapur api di
Daniel 3, ia baru benar-benar mengenal Allah sebagai
“Penyelamat” yang berkuasa melepaskan hamba-Nya dari maut secara
fisik.

Perbedaan Respon Raja:

  • Setelah Daniel 2: Raja mengakui hikmat Allah yang mampu
    menyingkapkan rahasia.
  • Setelah Daniel 3: Raja mengeluarkan dekrit resmi yang melarang
    siapapun menghina Allah Israel (Daniel 3:29).

Raja Nebukadnezar yang sudah mengenal Allah berubah lagi menjadi orang
yang seperti tidak mengenal Allah, karena
tertutup oleh kesombongan dan haus penghormatan. Jadi terlihat jelas, bahwa kesombongan inilah yang menjadi cikal bakal
pintu masuk dosa bagi seseorang.

Amsal 16:18

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului
kejatuhan.

Jadi pelajaran yang bisa kita ambil di sini, adalah bahwa kita harus
menyadari bahwa kesombongan adalah dosa yang sangat akrab dan dekat dengan
setiap manusia. Dosa ini tidak memerlukan usaha apapun, mudah sekali
dilakukan dan bisa dilakukan oleh siapapun di dunia ini. Tidak perlu jadi
kaya raya atau jadi orang hebat, orang yang tidak punya apapun di dunia
tetap saja bisa sombong. Bahkan pernah saya membaca ada tulisan, “Biar
miskin asal sombong”. Mungkin lucu terdengarnya, tapi sebetulnya itu
mewakili jiwa sebagian besar umat manusia. 

Alkitab mencatat banyak tokoh dan bangsa yang jatuh karena merasa diri
mereka setara atau lebih hebat dari Tuhan.

A. Kejatuhan Lucifer (Yesaya 14:12-15)

​Ini dianggap sebagai asal-usul dosa kesombongan. Bintang Timur (Lucifer)
ingin meninggikan takhtanya di atas bintang-bintang Allah dan hendak
menyamai Yang Mahatinggi. Akibatnya, ia dicampakkan ke dunia orang mati.

B. Menara Babel (Kejadian 11:1-9)

​Manusia ingin mencari nama bagi diri mereka sendiri dengan membangun
menara yang puncaknya sampai ke langit. Mereka tidak ingin tersebar sesuai
perintah Tuhan. Tuhan mengacaukan bahasa mereka sebagai hukuman atas
keangkuhan kolektif tersebut.

C. Raja Firaun (Keluaran 5-14)

​Firaun dengan sombong bertanya,
“Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya…?” (Kel.
5:2). Kesombongan dan kekerasan hatinya membawa Mesir pada sepuluh tulah
dan kehancuran pasukannya di Laut Teberau.

D. Raja Nebukadnezar (Daniel 4)

​Seperti yang baru saja kita bahas di Daniel 3, puncaknya ada di pasal 4.
Saat ia memamerkan kemegahan Babel sebagai hasil kuasanya sendiri,
seketika itu juga ia menjadi gila dan hidup seperti binatang di padang
selama tujuh masa sampai ia mengakui kedaulatan Tuhan.

E. Raja Herodes (Kisah Para Rasul 12:21-23)

​Herodes menerima pujian rakyat yang menyebut suaranya sebagai “suara
allah dan bukan suara manusia.” Karena ia tidak memberi hormat kepada
Allah, malaikat Tuhan menamparnya, dan ia mati dimakan cacing-cacing.

F. Sifat “Sombong Rohani” di Perjanjian Baru

Bahkan Tuhan ​Yesus sendiri pun, beberapa kali menegur kesombongan yang
tersembunyi di balik jubah keagamaan:

  • Perumpamaan Orang Farisi dan Pemungut Cukai (Lukas 18:9-14):
    Orang Farisi merasa diri lebih suci dan merendahkan orang lain. Yesus
    menegaskan bahwa siapa yang meninggikan diri akan direndahkan.
  • Laodikia (Wahyu 3:17): Jemaat yang merasa kaya dan tidak
    kekurangan apa pun, padahal di mata Tuhan mereka melarat, malang,
    miskin, buta, dan telanjang.

2. Kesetiaan pada Allah tanpa syarat apapun

Daniel 3:8-18

Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi.
Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: 

“Ya raja, kekallah hidup tuanku! Tuanku raja telah mengeluarkan titah,
bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi,
rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud
menyembah patung emas itu, dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah,
akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Ada beberapa orang
Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah
Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak
mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang
telah tuanku dirikan
.”

Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk
membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu
dibawa menghadap raja, berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: 

“Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja
dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika
kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi,
rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah
menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu
akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala.
Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” 

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: 

style=”color: #990000; font-style: italic; text-align: justify;” >
“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika
Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan
kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya
raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya
raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.

Kesetiaan Iman Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah salah satu standar
iman tertinggi yang dicatat dalam Alkitab. Ini bukan sekadar iman “agar
ditolong” (faith for deliverance), tetapi iman “walaupun tidak ditolong”
(even if not faith). Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai kualitas
iman mereka:

1. Iman yang tunduk pada Kedaulatan Allah

Mereka mengakui bahwa Allah sanggup melepaskan mereka, namun mereka juga
tunduk pada hak kedaulatan Allah untuk menentukan hasil akhirnya. Hal
ini selaras dengan Ayub 13:15, di mana seseorang tetap
mempertahankan jalan hidupnya di hadapan Tuhan meskipun nyawanya
terancam.

Ilustrasi: Seperti seorang anak yang percaya penuh pada ayahnya; ia tahu
ayahnya mampu memberikan apa saja, tetapi ia tetap menghormati keputusan
ayahnya jika berkata “tidak”, tanpa mengurangi rasa percayanya.

2. Takut akan Allah yang teruji

Mereka bisa tetap tenang karena bagi mereka, ketidaksetiaan kepada Tuhan
jauh lebih menakutkan daripada api. Sesuai dengan Matius 10:28,
mereka tidak takut kepada yang hanya bisa membunuh tubuh, melainkan
takut (hormat) kepada Dia yang berkuasa atas jiwa.

Contoh: Mereka memahami prinsip dalam Filipi 1:21, bahwa hidup
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Jika selamat, Tuhan
dimuliakan; jika mati, mereka bersama Tuhan.

3. Kasih Tanpa Syarat (Agapé)

Iman mereka tidak bersifat transaksional. Mereka tidak menyembah Allah
karena mengharapkan upah keselamatan fisik, melainkan karena Allah layak
disembah dalam kondisi apa pun. Iman ini serupa dengan yang ditulis
dalam
Habakuk 3:17-18, yang tetap bersorak bagi Tuhan sekalipun
segalanya gagal. Perhatikan sikap mereka yang tidak membenci raja
Nebukadnezar, mereka tetap menghormati raja yang telah memerintahkan
pembunuhan atas mereka.

Ilustrasi: Seperti persahabatan sejati yang tidak akan berkhianat hanya
karena keadaan sedang sulit. Mereka sudah memutuskan untuk setia sebelum
sampai di depan perapian.

4. Kekudusan sebagai Prioritas Tertinggi

Bagi mereka, perintah utama untuk tidak menyembah allah lain (Keluaran 20:3-5) adalah harga mati. Itu adalah standar kekudusan pertama dari Allah.
Penyembahan berhala itu sama dengan perzinaan rohani yang sangat dibenci
oleh Allah. Jadi itulah yang diserang oleh kuasa kegelapan. Dalam
Wahyu 12:11 disebutkan bahwa kemenangan diperoleh karena mereka
tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. Kompromi dengan dosa
dianggap sebagai kekalahan rohani yang lebih buruk daripada kematian.
Jadi taat di sini bukanlah taat bodoh yang tidak mengerti, tetapi sadar
bahwa standar kekekalan Surgawi, membutuhkan Kekudusan hidup yang
mutlak.


3. Pengawalan Allah atas hamba-hamba-Nya

Daniel 3:19-24

Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap
Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu
dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya
untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke
dalam perapian yang menyala-nyala itu. Lalu diikatlah ketiga orang itu,
dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan
dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Karena titah raja itu
keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api
itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan
Abednego itu ke atas. Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan
Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.

Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera;
berkatalah ia kepada para menterinya: 

“Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam
api itu?” 

Jawab mereka kepada raja: 

“Benar, ya raja!”Katanya: 

“Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di
tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu
rupanya seperti anak dewa!” Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian
yang bernyala-nyala itu; 

berkatalah ia: 

“Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi,
keluarlah dan datanglah ke mari!” 

Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. Dan para wakil
raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul;
mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu,
bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah
apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.

Jika kita perhatikan setelah dibuang ke dalam dapur api yang menyala 7
kali lebih panas dari biasanya, Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak mati
melainkan “hidup” dan berjalan-jalan di dalam api itu. Mereka tidak lagi
ber-tiga, melainkan ber-empat. Siapa tokoh yang disebut seperti “anak
Dewa” itu?

Berikut adalah para tokoh teologia yang memberi pandangan mereka tentang
“anak dewa itu”:

Hippolytus of Rome, Bapa Gereja, Commentary on Daniel [204
M].

Menegaskan bahwa sosok keempat adalah penampakan nyata Anak Allah yang
menjaga hamba-Nya.

Matthew Henry, Komentator Alkitab,
Exposition of the Old and New Testaments [1706].

Menjelaskan bahwa Firman yang Kekal (Yesus) hadir secara nyata dalam
rupa manusia sebagai kawan dalam penderitaan.

John Gill, D.D. (Doctor of Divinity),
Exposition of the Entire Bible [1763].

Mengidentifikasikan sosok tersebut sebagai Mesias dalam wujud
“Malaikat Perjanjian” yang hadir menghibur para martir.

C.H. Spurgeon, Pangeran Pengkhotbah,
Consolation in the Furnace [1865].

Menekankan bahwa Kristus memberikan kehadiran-Nya yang paling manis
justru saat umat-Nya berada di tengah api pencobaan.


Data di atas murni pandangan para teolog terkenal masa lampau, sama sekali
bukan kreasi atau hasil analisis saya, namun jika kita renungkan mengenai
kehadiran Kristus di dapur api memang memiliki akar sejarah dan teologi
yang sangat kuat dalam tradisi iman Kristen.

Yesus Kristus bukanlah manusia yang mati, bangkit dan mati lagi. Ia naik
ke Surga dan kembali kepada Allah Bapa di Surga. Ia sesungguhnya tidak
terikat waktu, bukan hanya ada di perjanjian baru, melainkan sudah ada
sebelum dunia ini dijadikan. Jadi, pandangan saya Pribadi, bahwa Kristus
mau menunjukkan penghargaan-Nya bagi orang yang rela mengorbankan diri
buat menjaga ketaatannya pada Allah. 

Mari kita lihat kisah Stephanus yang mati di depan Saulus:

Kisah Para Rasul 7:54-60

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu,
sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan
gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit,
lalu melihat kemuliaan Allah dan
Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan
Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak
menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan
saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang
bernama Saulus. Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya
Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara
nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan
dengan perkataan itu meninggallah ia
.

Ini adalah kisah nyata bahwa Tuhan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.
Saya tidak mau berasumsi mengenai posisi duduk atau berdiri itu maknanya
apa, tetapi jika kita renungkan, berdiri itu sebetulnya adalah wujud dari
penghargaan seseorang terhadap orang lainnya. Bisa jadi pada waktu
Stefanus disiksa dan mau mati itu, Tuhan Yesus memberikan penghargaan-Nya
dan siap menyambut Stefanus di Surga. 

Jadi sebetulnya bukan tidak mungkin Tuhan Yesus Kristus yang adalah
pemilik dari kita manusia, khusus datang kepada Sadrakh, Mesakh dan
Abednego saat itu. Ia menjadi pelindung dan penyelamat mereka. 

4. Nebukadnezar disandarkan kembali akan Kemuliaan Allah

Daniel 2:46-49

Lalu sujudlah raja Nebukadnezar serta menyembah Daniel; juga
dititahkannya mempersembahkan korban dan bau-bauan
kepadanya. 

Berkatalah raja kepada Daniel: 

“Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan
Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia,
sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.” 

Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian
yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah
Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel. Atas permintaan
Daniel, raja menyerahkan pemerintahan wilayah Babel itu kepada
Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang Daniel sendiri tinggal di istana raja.

Jika kita mundur ke
Daniel 2, maka bisa kita ingat betapa raja Nebukadnezar sangat bersyukur atas
peringatan yang diberikan Allah melalui mimpinya. Apa yang diceritakan
oleh Daniel, seolah menjadikan raja seseorang yang disandarkan bahwa di
Sorga ada Allah yang mengetahui isi hati dan rancangan apa yang ada pada
setiap manusia. Ia sendiri juga yang memberikan penghargaan kepada
Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Namun, coba kita lihat apa yang dilakukan
terhadap mereka di atas. Inilah perbuatan kuasa kegelapan yang memakai
kroni-kroninya jahat bawahan raja. 

Akan tetapi Allah mengetahui Kesalehan dan keteguhan iman dari Sadrakh,
Mesakh dan Abednego, hingga seolah-olah terlihat Allah begitu “tega”
membiarkan mereka dihukum mati seperti itu. Namun, apa yang dilihat
manusia bukan yang dilihat Allah, masa depan seseorang ada di dalam
tangan-Nya. Allah mau raja dan kroni-kroninya menyaksikan kedahsyatan
Allah.

Daniel 3:25-30

Berkatalah Nebukadnezar: 

Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang
telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang
menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah
allah manapun kecuali Allah mereka. 

Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku
bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap
Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya
akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang
dapat melepaskan secara demikian itu.” 

Lalu
raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego
di wilayah Babel.

Akan tetapi, pada
Daniel 3
ini, kita ketahui bahwa raja Nebukadnezar lupa akan hal itu, ia bahkan
mendirikan patung dan meminta seluruh rakyatnya menyembah patungnya
itu. 

Barangkali di dalam lingkungan pemerintahan kerajaan Babel, banyak orang
yang ingin berbuat jahat tetapi takut melakukannya, mengingat ada Daniel
di Istana dan teman-temannya di beberapa wilayah kerajaan yang ditempatkan
Allah untuk menjaga agar tidak ada yang melakukan kejahatan. Maka
oknum-oknum tersebut mencari akal, untuk menjebak mereka agar mereka dapat
disingkirkan secara “legal”. Jadi kejadian yang menimpa Sadrakh, Mesakh
dan Abednego (Nama asli mereka: Hananya, Misael dan
Azarya), adalah merupakan puncak dari kejahatan yang dilakukan raja
Nebukadnezar dan kroni-kroninya pada saat itu. Raja dimanfaatkan dengan
kesombongan yang ada di dalam hatinya, demi menyingkirkan Sadrakh, Mesakh
dan Abednego. 

Di sini sekali lagi kita menyaksikan, betapa rancangan Allah tidak dapat
dipatahkan oleh akal bulus manusia. Sesuatu yang ajaib Allah lakukan demi
mematahkan segala daya upaya kuasa kegelapan yang bekerja dalam diri raja
dan kroni-kroninya, hingga akhirnya raja Nebukadnezar mengakui tidak ada
allah lain yang seperti Allah, setelah menyaksikan dengan mata kepalanya
sendiri, perbuatan-Nya yang ajaib.

Sikap raja Nebukadnezar bisa jadi adalah juga sikap kita sebagai manusia
yang mudah sekali dihasut dan dipengaruhi oleh perkataan dari kuasa
kegelapan. Mungkin sepanjang hidup kita sudah sering menyaksikan kuasa
Allah bekerja dalam hidup kita, namun seringkali kita justru mengingkari
pemahaman kita akan Allah tersebut, dengan kembali terhasut untuk jatuh ke
dalam dosa. 

Perhatikan di sini, bahwa pintu masuk kekalahan raja Nebukadnezar adalah
dari kesombongan. Jadi kita juga harus waspada, bahwa ada pintu-pintu
masuk dalam diri kita yang harus kita “jaga” sekuat tenaga dengan pimpinan
dari Roh Kudus Allah. Seringkali Roh Kudus Allah sudah mengingatkan kita
dengan cara-Nya agar kita tidak tergoda oleh bujuk rayu kuasa kegelapan,
namun hawa nafsu kedagingan tidak kita kendalikan, hingga akhirnya kita
hangus oleh karenanya.

Hari ini bukan kebetulan jika kita mendengar firman Tuhan ini. Mari kita
sadari, bahwa Allah mau kita sungguh-sungguh hidup dalam ketaatan akan
firman yang telah kita dengar, dengan sekuat tenaga bukan setengah hati,
mengingat godaan dan rayuan itu bisa mengalahkan iman kita.

Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang
fasik, adalah dosa.
 

Amsal 21:4

Amin.


Tanggapan Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *